Kontestasi Etnis Dalam Percaturan Politik Indonesia

Salma Qotrunada A. K.

  1. Pendahuluan

Berbicara mengenai etnis memang tidak akan ada habisnya, apalagi ranah etnis tersebut begitu luas cakupannya memasuki berbagai ranah kehidupan sosial masyarakat termasuk dalam lingkup perpolitikan karena faktor etnis merupakan aspek penting dalam praktik perpolitikan Indonesia. Sejalan dengan hal tersebut, Abdillah pernah mengungkapkan dalam pertemuan Asosiasi Ilmuwan Politik Internasional di Wina tahun 1994 bahwa, keberadaan politik tersebut bukan hal yang baru yang merupakan suatu perlawanan pada semangat pluralisme yang menentang penyeragaman dalam modernisasi. Kemudian dilanjut mengacu setelahnya pada buku yang ditulis Abdillah, kekerasan dalam interaksi etnis sangat jelas pada kancah perpolitikan menyangkut berbagai aspek karena adanya keadaan negara yang memang negara multietnik dan hal ini menjadi problematika tersendiri dewasa ini (Abdillah, 2002). Sukamto juga mengatakan bahwa, baik secara langsung maupun tidak langsung adanya politik etnisitas tersebut akan memunculkan suatu perubahan sosial masyarakat (Sukamto, 2010). Mietzner dalam tulisannya, Indonesia’s 2014 Elections: How Jokowi Won and Democracy Survived, mengatakan bahwa isu etnis telah menjadi faktor penguat politiasi identitas yang digunakan untuk membangun citra negatif lawan oleh para elite politik (Mietzner, 2014). Hal senada juga diungkapkan oleh Kristinus bahwa sejak dilaksanakan pada tahun 1999, identitas etnik kembali diperdebatkan publik karena hal tersebut juga berkaitan dengan adanya politik kekuasaan (Kristinus, 2011).

            Sejauh ini dari studi-studi literatur yang telah ada sebelumnya, persoalan ini setidaknya lebih menekankan pada tiga hal. Pertama, keberadaan unsur ini memunculkan banyak sekali permasalahan politik baik dalam ruang lingkup lokal maupun skala nasional. Hal itu dijelaskan dalam beberapa penelitian lainnya, maraknya isu etnis dan agama dalam menyongsong pemilu 2019 yang dibuktikan melalui gejolak pasca Pilpres tahun 2014 dan Pemilihan Gubernur Jakarta pada tahun 2017 (Herdiansah, Junaidi, & Ismiati, 2017). Kemudian pada Pemilihan Gubernur Maluku Utara 2013 bisa dikatakan bahwa hal tersebut merupakan realitas politik yang dikonstruksi secara sadar untuk mengeksistensikan semangat etnis dalam meraih dukungan politik dari kelompoknya (Salim, 2015). Kedua, adanya kekuatan etnosentrisme dalam diri etnis tersebut yang sering kali melanggar tatanan demokrasi (Sarumpaet, 2012). Selain itu, adanya kekuatan primordialisme yang berujung pada basis tertentu, seperti yang bisa dilihat pada pengaruh politik terkait etnis terutama pada etnis Tionghoa dan etnis Arab dalam putaran Pemilu Gubernur DKI Jakarta pada tahun 2017 (Nasrudin & Nurdin, 2018). Ketiga, timbulnya bentuk lain yakni diskriminasi dan marjinalisasi karena perebutan posisi strategis berujung pada konflik kekerasan seperti yang terjadi antara etnis Melayu dan etnis Dayak (Buchari dalam M.K.D. Sweinstani & R.U. Hasanah, n.d.). Dari studi tersebut belum ada penelitian mendalam yang menjawab permasalahan kontestasi etnis secara rinci dengan melihat sudut pandang lain di tengah kehidupan bermasyarakat. Untuk memahami konteks tersebut sangat dibutuhkan studi mikro karena studi-studi terkait umumnya lebih memotret masalah yang lebih makro.

            Tujuan penulisan ini untuk melengkapi kekurangan dari studi yang ada sebelumnya dengan meneliti secara lebih rinci akan kontestasi etnis dengan setidaknya menjawab tiga pertanyaan yaitu : (1) bagaimana peran sesungguhnya eksistensi kelompok etnis di dalam dinamika perpolitikan (2) bagaimana akibat dari relevansi keterlibatan etnis jika melihat kondisi di tengah arus globalisasi seperti sekarang (3) bagaimana keberadaan kontestasi etnis dapat memberikan pengaruh besar bagi kehidupan sosial dan kaitannya dengan aspek lainnya. Ketiga pertanyaan ini diharapkan akan mampu menjelaskan kontestasi etnis secara lebih mendalam mengenai apa saja pengaruhnya dalam lingkaran masyarakat sosial untuk melengkapi studi-studi yang sudah ada sebelumnya. Dan dalam tulisan ini sekiranya mampu lebih menjawab pertanyaan-pertanyaan lain yang mungkin belum terlalu dijelaskan secara rinci pada studi literatur sebelumnya sehingga dapat dijadikan sebagai bahan literasi yang erat kaitannya kehidupan masyarakat secara luas meskipun dipegang oleh suatu kepentingan tertentu, tetapi akan mempengaruhi secara keseluruhan.dinamika dari masyarakat tersebut.

Berdasarkan setidaknya tiga rumusan masalah tadi dengan demikian jelas bahwa ranah perpolitikan Indonesia juga tidak terlepas dengan adanya kontribusi etnis yang sangat berpengaruh di dalamnya. Untuk itu, tulisan ini didasarkan pada suatu argumen bahwa kontestasi etnis dalam perpolitikan merupakan suatu permasalahan kultural kompleks dalam ranah sosial masyarakat. Pertama, keberadaan etnis merupakan suatu aspek yang mestinya ada di tengah kondisi negara itu sendiri tergolong multikultural karena memiliki keragaman masyarakat yang tiap daerah satu dengan daerah yang lainnya memiliki banyak perbedaan secara tatanan sosial masyarakat tersebut. Kedua, adanya dominasi dari suatu kelompok juga akan mempengaruhi jalannya suatu kepentingan tertentu karena berkaitan dengan memperebutkan sebuah kekuasaan. Ketiga, perdebatan etnis dalam ranah perpolitikan tentunya menimbulkan gejolak tersendiri bagi tiap-tiap kelompok yang berada di lingkungan masyarakat itu sendiri. Namun, hal tersebut bisa dikatakan lumrah karena memang merupakan sebuah konsekuensi dari adanya unsur keberagaman masyarakat seperti yang sudah dijelaskan di atas.

  • Studi Literatur
    • Multikulturalisme

Multikulturalisme adalah sistem kepercayaan dan perilaku yang membujuk dan menghargai keberadaan semua keberagaman kelompok dalam masyarakat, mengakui dan menghargai perbedaan sosio-budaya mereka, dan mendorong serta memungkinkan kontribusi berkelanjutan untuk mewujudkan konteks budaya yang merangkul semua orang yang terlibat dalam organisasi atau masyarakat (Rosado, 1997). Fattah Hanurawan dan Peter Waterworth meyatakan bahwa multikulturalisme ialah kebijakan sosial yang didasarkan pada prinsip pemeliharaan budaya dan rasa hormat menghormati di antara semua kelompok budaya dalam masyarakat (Hanurawan & Waterworth, 1997). Robert Longley juga memberikan pendapatnya bahwa multikulturalisme adalah cara di mana masyarakat berurusan dengan keanekaragaman budaya, baik pada tingkatan nasional maupun dalam masyarakat. (Longley, 2019). Sejalan dengan itu, Clara M. Chu, dkk.  juga memberikan definisi bahwa multikulturalisme adalah keberadaan bersama dari keragaman budaya, di mana budaya mencakup kelompok ras, agama, atau kelompok budaya dan dimanifestasikan dalam bentuk perilaku, asumsi budaya dan nilai, pola pikir, dan gaya komunikasi (Chu, dkk., 2005).

Bikku Parekh mengategorikan konsep multikulturalisme dalam tiga bagian pokok : pertama, perbedaan subkultur di mana individu atau kelompok masyarakat hidup dengan kebiasaan dan cara pandang berbeda dengan komunitas besar dengan sistem nilai atau budaya yang pada umumnya berlaku; kedua, perbedaan dalam perspektif di mana ndividu atau kelompok dengan perspektif kritis terhadap mainstream nilai atau budaya mapan yang dianut oleh mayoritas masyarakat; ketiga, perbedaan komunalitas yakni di mana tedapat individu atau kelompok yang hidup dengan gaya hidup genuine sesuai dengan identitas komunal mereka (Parekh, 2000). Selain itu terdapat tiga komponen multikulturalisme yakni, adanya kebudayaan, adanya pluralitas kebudayaan, dan adanya cara tertentu merespons pluralitas tersebut (Parekh, 2000). Keragaman struktur budaya menjadikan multikulturalisme terbagi menjadi lima model bentuk, yaitu multikulturalisme isolasionis, multikulturalisme akomodatif, multikulturalisme otonomi, dan multikulturalisme kritikal atau interaktif, dan multikulturalisme kosmopolitan (Parekh, 2000). Heywood (2007) membagi multikulturalisme menjadi dua bentuk, yaitu bentuk multikulturalisme deskriptif dan bentuk multikulturalisme normatif.

  • Kelompok

Menurut Mulyana (2007), mendefinisikan bahwa kelompok adalah sekumpulan orang yang berinteraksi mempunyai tujuan bersama satu dengan lainnya untuk mencapai tujuan bersama, mengenal satu sama lain, dan memandang mereka sebagai bagian dari mereka. Kemudian De Vito juga menyatakan bahwa kelompok merupakan kumpulan perorangan relatif kecil yang masing-masing berhubungan dengan tujuan yang sama dan memiliki derajat organisasi tertentu (De Vito, 2002). Definisi kelompok menurut Slamet (2003) adalah dua atau lebih orang yang berhimpun atas dasar adanya kesamaan-kesamaan yang berinteraksi melalui pola atau struktur tertentu guna mencapai suatu tujuan bersama dalam kurun waktu relatif panjang. Kemudian ada definisi lain bahwa kelompok adalah kumpulan dua orang atau lebih yang secara intensif dan teratur berinteraksi satu sama lain untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan (Syamsu dkk., 1999). Sejalan dengan itu, Syamsu dkk. (1999) mengutip pendapat Gerungan (2004) menyatakan kelompok merupakan suatu kesatuan sosial yang terdiri dari dua orang atau lebih individu yang saling berinteraksi cukup intensif dan teratur, sehingga di antara individu tersebut terdapat pembagian tugas, struktur, norma-norma tertentu yang khas. Pendapat lain seperti Koentjaraningrat (1990) dalam Soekanto (2009) menyatakan bahwa suatu kelompok merupakan suatu masyarakat kecil yang saling berinteraksi antar individu yang diatur adat istiadat dan sistem norma tertentu secara kontinu serta ada rasa identitas yang mempersatukannya.

Saleh (2012) dalam Saleh (2015) menyatakan bahwa variasi bentuk-bentuk kelompok dapat dijumpai dalam masyarakat, kelompok tersebut memiliki ukuran yang satu dengan yang lain secara intensif dan teratur selalu mengadakan interaksi atau hubungan untuk mecapai tujuan bersama yang ditetapkan dan antar hubungan itu bersifat sebuah struktur. Dalam bukunya, Soerjono Soekanto (2009) menuliskan  beberapa persyaratan mengenai kelompok yakni (1) adanya kesadaran setiap anggota bahwa ia merupakan bagian dari kelompok tersebut, (2) adanya hubungan timbal balik antar anggota satu dengan yang lainnya, (3) adanya suatu faktor yang dimiliki bersama hingga hubungannya semakin mengerat, (4) berstruktur, berkaidah, dan mempunyai pola perilaku, (5) bersistem dan berproses. Bruce Tuckman (1965) memberikan model pembentukan kelompok dengan terdapat lima tahapan, pada tahap pertama atau forming terjadi pembentukan dan pemberian tugas, pada tahapan kedua atau storming mulai dikembangkannya ide-ide yang berhubungan dengan tugas, tahapan ketiga atau norming yaitu adanya kesepakatan dan konsensus kelompok, tahapan keempat atau performing di mana terjadi penyelesaian pekerjaan, tahapan terakhir atau adjourning and trasforming di mana proyek berakhir dan membubarkan diri.

  • Kekuasaan

Kekuasaan adalah kesempatan seseorang atau sekelompok orang untuk menyadarkan akan kemauannya sekaligus menerapkan tindakan perlawanan dari orang atau golongan tertentu (Weber, 1982). Menurut Meriam Budiharjo kekuasaan ialah kemampuan seseorang atau sekelompok manusia untuk mempengaruhi tingkah laku orang lain sehingga tingkah lakunya tadi menjadi sesuai dengan keinginan atau tujuan orang yang memiliki kekuasaan (Budiharjo, 2008). Strausz-Hupe memberi definisi bahwa kekuasaan adalah kemampuan untuk memaksakan kemauan pada orang lain (Strausz-Hupe, 1956). Kemudian Harold D. Laswell dan Abraham Kaplan (1950) juga menyatakan hal sama bahwa kekuasaan ialah suatu hubungan di mana seseorang atau kelompok orang dapat menentukan tindakan seseorang atau kelompok lain dengan maksud agar sesuai tujuan dengan pihak pertama. Demikian pula dikatakan oleh C. Wright Mills (1956) bahwa kekuasaan itu ialah suatu dominasi di mana kemampuan untuk melaksanakan dan melakukan kemauan meskipun terdapat orang lain menentang. Menurut R. J. Mokken dkk (1974) juga menambahkan bahwa kekuasaan merupakan kemampuan dari pelaku untuk menerapkan secara mutlak atau mengubah alternatif-alternaifnya dalam bertindak atau memilih yang tersedia untuk pelaku-pelaku lain. Talcot Parson juga memberikan definisinya akan kekuasaan, di mana kekuasaan adalah kemampuan umum untuk menjamin pelaksanaan dari berbagai kewajiban yang mengikat oleh unit-unit organisasi kolektif dalam suatu sistem yang merupakan kewajiban diakui dengan acuan pada pencapaian tujuan-tujuan kolektif dan bila terjadi pengingkaran kewajiban tadi akan dikenai sanksi negatif (Parson, 1957)

Seperti yang dikatakan Amitai Etziomi (1961) bahwa sumber dan bentuk kekuasaan itu ada dua yakni, kekuasaan jabatan dan kekuasaan pribadi yang perbedaannya terletak pada kemampuannya. Robert M. Mac Iver (1954) dalam Moeis (2008) juga memberikan keterangan mengenai bentuk-bentuk kekuasaan bahwa kekuasaan selalu berarti suatu sistem berlapis-lapis yang bertingkat (hierarkis) yang kemudian dirumuskan dalam tiga pola umum. Pertama tipe kasta sebagai garis pemisah yang tegas dan kaku yang terdiri dari bangsawan, birokrat, dan buruk. Kedua, tipe oligarkis yang memiliki garis pemisah tegas, akan tetapi dasar pembedaan kelas sosial lebih ditekankan oleh kebudayaan masyarakat walaupun masih memuat unsur pewarisan kedudukan menurut kelahiran (ascribed status) namun peluang anggota masyarakat masih ada melalui mobilitas vertikal pada warganya. Ketiga, tipe demokratis menunjuk pada kenyataan adanya garis pemisah antar lapisan sosial yang sifatnya mobilitas sekali, status kelahirannya tidak terlalu menentukan, lebih menekankan pada orientasi kemampuan dan terkadang faktor keberuntungan untuk memperoleh kedudukannya seperti dalam partai politik. Pembagian kekuasaan juga sering dijadikan acuan dalam studi kekuasaan yang terbagi dalam tiga macam wewenang, yaitu tradisional, kharismatik, dan rasional-legal (Weber, 1982).

  • Metode

Bahasan mengenai dinamika politik cukup menarik untuk dibahas, karena merupakan bagian dari dinamika masyarakat yang tidak bisa dipisahkan dari suatu kesatuan Negara demokrasi ini. Apalagi mengingat masyarakat Indonesia dikenal dengan beragamnya pandangan hidup akan kebudayaan yang berbeda-beda. Keberadaan etnis yang memasuki cakrawala perpolitikan di Indonesia memang merupakan suatu hal yang lumrah terjadi dalam masyarakat multikultural. Tulisan ini berangkat dari anggapan bahwa keterlibatan etnis ini memicu perdebatan untuk terciptanya suatu Negara yang berdemokrasi. Anggapan tersebut mengacu pada perdebatan kasus yang cukup fenomenal beberapa waktu yang lalu, yaitu potret Pilkada Jakarta yang mengekspos dinamika etnis dalam perpolitikan yang menjadi suatu bentuk keterlibatan etnis dalam demokrasi era modernisasi sekarang. Perdebatan kontroversial tersebut tidak hanya memicu pada kontestasi lokal saja, tetapi mengarah pada kontestasi nasional dalam era modernisasi yang berujung pada permasalahan baru dengan menyangkut etnis sebagai subjeknya.

Penelitian ini bersifat kualitatif dengan menggunakan pendekatan etnografi kritis mengenai nilai-nilai budaya yang ada di masyarakat sebagai suatu tatanan nilai yang berlaku dan juga mengandalkan beberapa studi kasus yang sudah ada sebelumnya untuk memberikan gambaran lebih rinci. Hasil dari data tersebut berupa hasil deskriptif yang dimulai dengan penjabaran bagaimana sejarah persoalan keterlibatan etnis di dinamika perpolitikan, contoh kasus keterlibatan kelompok etnis di Indonesia, kemudian berkaitan dengan adanya dominasi dan politik perebutan kekuasaan, dan pengaruhnya dalam realitas kehidupan masyarakat kini. Dalam memperoleh data-data studi penelitian dari pertanyaan tersebut penulis menggunakan data-data sekunder yang diperoleh melalui hasil-hasil studi pustaka yang sudah ada sebelumnya dengan beberapa kajian dari buku, e-book, jurnal, maupun menggunakan sarana media internet. Selain itu, dibutuhkan analisis beberapa kasus yang berkaitan dengan keberadaan etnis dalam perpolitikan untuk memperkuat hasil dari penelitian ini yang didapatkan dari beberapa jurnal dari peneliti lainnya. Data penelitian ini juga menggunakan buku dan e-book sebagai acuan untuk mengolah data, serta referensi dari media internet sebagai pelengkap data.

  • Hasil
    • Peran Kelompok Etnis dalam Perpolitikan

Sebagai suatu Negara yang dikenal dengan masyarakat multietnik, aspek etnis merupakan aspek yang terus ada memberikan pengaruhnya dalam peranan di dunia politik dan tidak bisa dipungkiri memiliki kecenderungan dinamika yang lebih kompleks jika dibandingkan dengan Negara lain yang homogen. Perubahan tersebut dimulai setelah era Orde Baru berakhir di mana terjadi perubahan dari politik sentralistik beralih pada politik demokratis. Kondisi tersebut sangat memberikan peluang bagi setiap masyarakat untuk melakukan kebebasan berpolitik pada tingkat lokal. Dalam hal ini partisipasi tersebut diwujudkan dalam praktik pemilu di tiap daerah atau dikenal dengan nama pilkada. Ironisnya, rata-rata potret Pilkada di Indonesia menunjukkan persamaan gejala yang mengarah pada persaingan tiap-tiap elite politik dalam memperebutkan kekuasaan. Praktik kontribusi etnis tersebut juga dapat dilihat melalui beberapa contoh yang terjadi di Indonesia, sebut saja representasi politik lokal yang terjadi di Kalimantan Barat, kedua etnis tersebut yakni Etnis Dayak dan Etnis Melayu, yang semakin hari menjadi persaingan lebih terbuka (Kristianus, 2016). Sedangkan dalam masyarakat Gayo sendiri, terpecah menjadi dua paroh, yakni Belah Uken dan Belah Toa, perdebatan mengenai politik ini cenderung mengarah pada adanya legitimasi politik dalam meraih kekuasaan (Saradi, dkk., 2018).

Dalam konteks pergulatan dinamika politik Sumatera Utara juga terjadi hal yang sama berkaitan dengan kekuasaan (Sarumpaet, 2012). Realitas tersebut juga terlihat pada praktik pilkada Jakarta beberapa waktu lalu yang cukup kontroversial, keterlibatan antara dua kelompok etnis besar yang berada di ibu kota ini menimbulkan polemik tersendiri yang diprakarsai oleh kelompok politik tersebut. Dalam hal ini Koentjaraningrat (1990) dalam Soekanto (2000) menyatakan bahwa para kelompok terdapat interaksi antar individu dalam kelompok yang diatur secara kontinu dalam adat istiadat dan serta ada rasa identitas yang mempersatukannya. Identitas yang dimaksud ialah etnis sebagai suatu faktor pemersatu dalam suatu kepentingan. Eksistensi kelompok etnis di Indonesia memang sudah ada keberadaannya jauh sebelum digulirkannya era Orde Baru, bahkan jauh sebelum Negara Kesatuan ini berdiri karena Indonesia sendiri terbentuk dari kesadaran tiap-tiap kelompok etnis. Kesadaran akan persamaan yang mengidentikkan sesuatu dalam konteks tersebut merupakan bagian dari solidaritas yang ada dalam suatu kelompok. Keberadaan solidaritas tersebut juga sering dijadikan suatu kelompok untuk menaklukkan kelompok lain atau dalam hal ini digunakan sebagai perebutan kekuasaan yang memunculkan terjadinya politik identitas etnis.

  • Etnis, Politik, dan Globalisasi

Menyongsong era modernisasi kini di mana praktik demokrasi kian digalakkan justru tidak membuat keterlibatan etnis semakin melemah. Praktik partisipasi etnis tersebut merupakan bentuk dari representasi keterwakilan dari wujud demokrasi yang ada di Indonesia dalam politik modernisasi kini. Pada dasarnya bentuk dari terciptanya kesuksesan praktik demokrasi tersebut dipengaruhi oleh partisipasi politik. Akan tetapi, partisipasi etnis dalam politik mengalami fokus yang berbeda dengan adanya pemanfaatan kepentingan-kepentingan di kalangan masyarakat. Keterlibatan etnis dikatakan juga sebagai suatu perlawanan pada semangat pluralisme terhadap adanya penyeragaman yang digunakan dalam demokrasi oleh para kaum elite politik dalam perebutan kursi kekuasaan. Kekuasaan tersebut berupa dominasi di mana seseorang atau sekelompok memiliki kemampuan untuk melaksanakan dan melakukan kemauan meskipun terdapat pertentangan di dalamnya (C. Wright Mills, 1956). Karena itu, kedudukan para pelaku politik tersebut diukur dari dimensi kekuasaan yang akan melemahkan suatu kelompok.

Pada representasi etnis dalam politik yang terdapat dalam Pilkada Jakarta tersebut telah menjadi kasus fenomenal era modernisasi demokrasi kini karena keterlibatan sentimen etnis di dalamnya. Adanya kedua kubu besar yang saling berlawanan merupakan suatu bentuk potret dari primordialisme (Nasrudin & Nurdin, 2018). Munculnya semangat primordial ini tidak terlepas dari pengaruh elite penguasanya dengan memanfaatkan etnis dalam kepentingannya. Pada potret Pilkada di Pasaman Sumatera Barat juga ditemui hal yang sama di mana keberadaan etnis oleh para elite politik dijadikan kandidat mewakili suatu kelompok dengan memanfaatkan isu etnis secara baik sehingga tercipta primordialisme serta berdampak pada kekisruhan dan kericuhan dalam kehidupan masyarakat (Yandra, 2017). Kubu-kubu mendapatkan dukungan dari para pendukungnya dalam memperkuat basis politiknya, dengan calon gubernur Ahok sebagai representasi etnis Tionghoa, dan Anies Baswedan sebagai potret perwakilan dari etnis Arab. Isu tersebut kemudian memunculkan permasalahan sentiment etnisitas lain yang tidak kalah fenomenal yakni munculnya isu Pribumi dan Non Pribumi. Terlebih lagi, menjelang Pemilu Presiden Tahun 2019, sentimen etnis ini kembali lagi mencuat di publik bahkan kian memanas. Seperti Pilkada sebelumnya, kedua etnis tersebut kembali tersoroti karena keberadaan etnis yang dilihat semakin berkembang dan mendominasi.

  • Keberadaan dan Pengaruhnya

Tiap-tiap kelompok etnis memiliki nilai-nilai tersendiri dalam realitas bermasyarakat sebagai identitas miliknya. Akan tetapi, identitas tersebut sering digunakan sebagai alat politik dalam memperoleh kekuasaan. Keberadaan persoalan kekuasaan tersebut telah memberikan gejolak terutama kaitannya dalam hal pengaruh politik mengenai terjadinya suatu konflik masyarakat. Adanya praktik dominasi yang memaksa suatu etnis menimbulkan berbagai konflik yang tidak hanya berkaitan dengan kekerasan saja. Pengaruh tersebut sebagai bentuk dari konsekuensi dari dominasi yang digunakan para kalangan elite politik sebagai alat politik untuk memperoleh kekuasaan sehingga bentuk tersebut diwujudkan dengan adanya diskriminasi dan marjinalisasi yang terjadi pada kelompok etnis lainnya. Kecenderungan ini menyebabkan terjadinya perubahan yang mengancam keberadaan demokrasi suatu Negara. Persoalan tersebut memberikan kemungkinan yang dapat terjadi jika keberlangsungan demokrasi masih akan berjalan, tetapi lebih mengarah pada terciptanya disintegrasi sosial.

Kasus Pilkada Jakarta menjadi percontohan bagaimana isu etnisitas memberikan pengaruh dalam dinamika ruang yang ada. Para elite politik mempergunakan isu identitas secara berlebihan untuk membangkitkan emosional masyarakat dan isu tersebut dijadikan alat untuk mempertajam perbedaan-perbedaan yang cukup sensitif dalam Negara dengan masyarakat yang multietnik ini terutama menyangkut perbedaan etnis sehingga terciptanya marjinalisasi etnis. Apalagi dengan menggunakan pengaruh digitalisasi pada era modernisasi ini semakin mempermudah akses untuk memperluas isu-isu tersebut. Persoalan tersebut akan menimbulkan polarisasi yang memicu perasaan eksklusif antara kelompok etnis yang satu dan dengan yang lainnya. Fenomena tersebut memberikan ruang untuk membangkitkan jati diri kelompok dengan perwujudan adanya diskriminasi dan marjinalisasi kelompok. Pada kasus Pilkada Jakarta tersebut polarisasi etnis berlanjut sangat panjang hingga menyongsong perhelatan akbar Pemilu Presiden yang menuai protes dan kritik keras sehingga menimbulkan perpecahan di tengah masyarakat sebagai bentuk respons perwujudan ketidakadilan yang ada dalam suatu etnis. Justru saat identitas ini dipergunakan dengan mengedepankan nilai-nilai persatuan dan kesatuan dalam koridor yang wajar, keterlibatan etnis tidak lagi dipandang sebagai kenegatifan politik identitas etnis. Akan tetapi, sejauh ini yang terjadi para elite politik masih mempergunakan menghalalkan segala cara yaitu dengan kelompok etnis sebagai suatu identitas untuk memperjuangkan diri secara politik demi kekuatan memperebutkan kepentingan yang mendasarinya.

  • Pembahasan

Tidak bisa dipungkiri adanya multikulturalisme memang dibuktikan dengan keberagaman budaya yang tiap-tiap daerah akan berbeda pula di mana  tradisi dan adat istiadat yang ada dalam masyarakatnya. Mengacu pada definisi Chu, dkk. (2005), adanya keberagaman budaya yang kemudian dimanifestasikan dalam bentuk perilaku, asumsi budaya dan nilai, pola pikir, dan gaya komunikasi. Adanya kemajemukan dalam tiap-tiap etnis tersebut tentunya memberikan pandangan berbeda saat terjun ke dinamika kehidupan seperti kancah politik. Sedangkan menurut Ananta, dkk. (2004) dalam studi Nawawi, dkk (2012), menyetujui jika bahasan etnis masih menjadi salah satu isu utama dalam kontestasi perpolitikan di Indonesia. Terlebih jika mengacu pada digulirkannya kebebasan berpolitik di era setelah Orde Baru ini, peranan etnis semakin meluas pada ranah lokal masyarakat yang dibuktikannya dengan adanya praktik Pilkada. Senada dengan hal tersebut juga dikemukakan oleh Max Weber dalam Sarumpaet (2012) bahwa, terjadinya politik etnis merupakan perwujudan dari sekelompok manusia yang menghormati suatu pandangan serta berpegang teguh pada kepercayaan bahwa kesamaan asal menjadi alasan terciptanya suatu komunitas. Adanya kesamaan identitastersebut akan membentuk kelompok-kelompok yang ada dalam masyarakat. Bisa dikatakan kelompok etnis tersebut terbentuk dengan adanya kesadaran akan identitas yang mengangkat rasa solidaritasnya. Namun, kondisi tersebut juga menimbulkan kuatnya akar primordialisme yang melekat dalam tiap-tiap kelompok.

Dinamika etnis dalam era perpolitikan modern kini mungkin memiliki orientasi fokus yang sudah berbeda pula. Perlahan tetapi pasti, pandangan etnis juga mengalami perubahan jika ditinjau dari beberapa contoh kasus yang ada di Indonesia seperti fakta yang sudah ditulis dalam pembahasan sebelumnya. Dinamika transisi tersebut sangat terlihat jelas pada proses demokrasi di era global ini di mana pengaruh modernisasi tak terelakkan telah membuat bentuk perlawanan baru dari kalangan etnis. Seperti yang diketahui bahwa, keikutsertaan etnis dalam politik ini juga dijadikan sebagai sumber daya alat politik oleh para elit politik untuk memperkuat basis dalam mendapatkan dukungan dan kekuatan politik (Yandra, 2017). Elite politik lokal tersebut sengaja memanfaatkan kelompok sebagai bentuk mobilisasi jaringan dalam dorongan mencari dukungan suara dan memenangkan persaingan (Sarumpaet, 2012). Para elite politik tersebut memanfaatkan masyarakat karena kinerja partai politik yang sudah tidak lagi menjadi representasi dan wadah terciptanya pertarungan politik karena kemerosotan kinerjanya. Adanya faktor kuatnya etnosentrisme yang telah dipergunakan para aktor politik ini menjadikan identitas kelompok etnis sebagai dukungan sehingga tarikan keterlibatan etnis akan semakin kuat (Sarumpaet, 2012)

Bahasan mengenai realitas etnis dan politik merupakan suatu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan lagi pada saat ini memang benar, karena politik telah melekat dalam sendi-sendi tatanan kehidupan masyarakat. Sejalan dengan hal tersebut, Sukamto (2010) yang menyatakan jika keterlibatan etnis tersebut dapat menimbulkan perubahan sosial. Pendefinisian tersebut merujuk pada keberadaan etnis yang juga memberikan berbagai pengaruh lain dalam keberlangsungan kehidupan bermasyarakat. Sebagaimana juga disebutkan oleh Nasrudin & Nurdin (2018), baik secara langsung maupun tidak langsung adanya politik identitas etnis tersebut akan melahirkan perubahan sosial termasuk pembentukan, penamaan, dan penggunaan identitas. Sebenarnya konsekuensi dari adanya keberadaan etnis dalam politik era demokrasi ini menimbulkan akibat yang berbeda akan menjurus pada dua pilihan yakni integrasi atau disintegrasi. Asumsi tersebut sebagai dari buntut dari adanya keinginan untuk berkuasa sehingga tercipta suatu persaingan dengan menghalalkan segala cara, konsekuensi politik ini lebih mengarah pada disintegrasi. Definisi disintegrasi sendiri menurut Webster’s New Encyclopedic Dictionary (1996) dalam Longgo (2017) merupakan perpecahan suatu bangsa menjadi bagian-bagian yang saling terpisah  dalam hal ini perpecahan timbul karena salah satunya pengaruh dipengaruhi oleh hilangnya persatuan dan keutuhan.

Dalam konteks kontestasi politik di Indonesia sendiri, terutama kasus Pilkada Jakarta Tahun 2017 yang cukup memberi perhatian banyak mata publik, ini membuktikan bahwa kontestasi tersebut tidak hanya terdapat dalam Pilkada saja, tetapi merembet pada kontestasi nasional yang mengancam keberlangsungan kehidupan masyarakat. Peranan media yang juga diberi dukungan dibaliknya oleh para elite politik membuat sentiment etnis ini begitu kuat akan diskriminasi yang ada. Sebagai upaya preventif dalam mencegahnya nilai-nilai penting yang ada di dalam kehidupan masyarakat seperti nilai toleransi, nilai menghormati dan saling menghargai seharusnya dijunjung tinggi dalam keterlibatan etnis dalam perpolitikan.

  • Kesimpulan

Dari penjelasan yang dimuat di atas dapat disimpulkan bahwa, praktik partisipasi etnis dalam politik di Indonesia semakin hari kian kompleks didukung dengan adanya modernisasi dalam ranah perpolitikan. Keberadaan kelompok etnis karena adanya kesadaran persamaan yang melekat antar individu dalam hal itu bisa dikatakan sebagai identitas etnis. Identitas tersebut dalam suatu kelompok dijadikan alat pemersatu dengan kelompok-kelompok lainnya. Persoalan yang sering kali diperdebatkan ialah adanya suatu keinginan untuk mencapai kepentingan yang acap kali menghalalkan segala sesuatu yang akan merusaknya. Sebagai Negara demokrasi adanya kelompok-kelompok etnis tersebut dijadikan suatu aspek penting mengenai persatuan dan kesatuan. Proses demokrasi yang tidak bisa berjalan dengan baik tersebut menimbulkan sejumlah perdebatan yang salah satunya disebabkan karena prakarsa para elite politik yang saling berebut dominasi dalam hal perebutan kekuasaan. Dalam hal tersebut, etnis justru dijadikan sebagai alat politik dalam basis pengumpulan dukungan suara dan massa yang menjerumuskan pada gejolak-gejolak sosial yang mengarah pada disintegrasi suatu bangsa. Keberadaan digitalisasi pada era modernisasi dimanfaatkan secara baik juga oleh para aktor politik untuk mempengaruhi kelompok-kelompok etnis sehingga konflik menjadi suatu yang tidak bisa terhindarkan. Dalam kehidupan bermasyarakat yang multietnik ini, keterlibatan etnis dalam politik demokrasi seharusnya dilakukan dengan mengedepankan etnis sebagai alat pemersatu bukan sebagai alat perebutan kekuasaan. Oleh karena itu, meskipun sulit mengubah persoalan tersebut karena memang politik sangat erat dengan perebutan kepentingan, tetapi tindakan tersebut sangat penting untuk diterapkan. Segala hal yang terkait dengan fenomena tersebut selalu dikaitkan dengan hal negatif yang mendorong terciptanya disintegrasi, sebagai tindakan preventif nilai penting toleransi dan saling menghormati sangat diperlukan di dalamnya.

Dari tulisan ini pula, penulis berusaha menegaskan perdebatan-perdebatan mengenai keterlibatan etnis dalam politik Indonesia sebagai studi kasus Pilkada yang ada terutama bahasan mengenai Pilkada Jakarta yang erat dengan relevansi sekarang. Di mana poin pentingnya menitik beratkan pada persoalan etnis yang dianggap sebagai subjek pemicu kontestasi tersebut bagaikan dua pisau bermata ganda. Terlebih dengan adanya kemunculan konflik kepentingan yang terjadi di kalangan elite penguasa menjadikan etnis sebagai basis kekuatan yang menimbulkan gejolak dalam diri masyarakat sehingga keterlibatan etnis dianggap sebagai faktor pemicu padahal jika dilihat keterlibatan etnis bisa dijadikan sarana pemersatu.  Terakhir, tulisan ini bertumpu pada keterlibatan etnis merupakan suatu dinamika kompleks kultural sebagai bentuk lazimnya kebebasan berpolitik pada era modernisasi kini. Tulisan ini memuat pustaka-pustaka ini cukup membantu dalam memberikan kontribusi meskipun penulisan ini sedikit mengalami keterbatasan pencarian data wawancara narasumber terkait. Setidaknya tulisan ini sudah memberikan gambaran studi lebih rinci mengenai kompleksitas keikutsertaan etnis pada dinamika politik sekarang. Untuk itu, kedepannya ini dapat dikembangkan lebih lanjut dengan kajian yang lebih menyeluruh dan mendalam.

DAFTAR PUSTAKA

Abdillah, U. (2002). Politik Identitas Etnis : Pergulatan Tanda Tanpa Identitas. Magelang: Indonesia Tera.

Buchari, S. A. (n.d). “Politik Identitas Etnis Dayak pada Pilkada Gubernur Kalimantan” dalam Integrasi Nasional dan Ekslusionaris Identitas dalam Pilkada 2017 : Studi Kasus Pilkada Maluku Utara, DKI Jakarta, dan Kalimantan Barat. Jurnal Bawaslu Tahun 2017, Vol. 3 No. 2, 185-198.

Budiharjo, M. (2008). Dasar-Dasar Ilmu Politik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Chu, C. M., Nikonorova, E., & Pyper, J. (2005). Defining Multiculturalism. IFLA.

De Vito, J. A. (2002). The Interpersonal Communication Book (7th Edition). New York: Harper Collins.

Etzioni, A. (1961). A Comparative Analysis of Complex Organization. Free Press of Glencoe.

Gerungan. (2004). Psikologi Sosial. Bandung: Refika Aditama.

Hanurawan, F., & Waterworth, P. (1997). Multicultural Perspectives in Indonesia Social Studies Education Curriculum. The Journal of Education.

Herdiansah, A. G., Junaidi, & Ismiati, H. (2017). Pembelahan Ideologi, Kontestasi Pemilu, dan Ancaman Keamanan Nasional : Spektrum Politik Indonesia Pasca 2014. Jurnal Wacana Politik, 2 (1).

Heywood, A. (2007). Political Ideologies (4th Edition). Palgrave Mc Millan.

Kristianus. (2011). Nasionalisme Etnik di Kalimantan Barat. Jurnal Masyarakat Indonesia, Vol. XXXVII (No. 2), 147-175.

Kristianus. (2016). Politik dan Strategi Budaya Etnik dalam Pilkada Serentak di Kalimantan Barat. Retrived  May 25, 2020, from journal.unnes.ac.id

Politik Indonesia : Indonesian Political Science Review I.

Lasswell, H. D., & Kaplan, A. (1950). Power and Society. New Heaven: Yale Universitas Press 1950.

Longgo, Y. (2017). Ancaman Disintegrasi Bangsa Melalui Pemanfaatan Media Sosial dalam

            Transformasi Sosial menuju Masyarakat Informasi tang Beretika dan Demokratis.

            Prosiding Seminar Nasional FHISIP-UT 2017.

Longley, R. (2019, June 18). What Is Multiculturalism? Definition, Theories, and Examples. Retrieved April 19, 2020, from ThoughtCo: https://www.thoughtco.com/what-is-multiculturalism-4689285

Mietzner, M. (2014). Indonesia’s 2014 Elections : How Jokowi Won and Democracy Survived. Journal of Democracy, 25 (4), 111-125.

Mills, C. W. (1956). The Power Elite. Oxford University Press.

Moeis, S. (2008). Struktur Sosial : Kekuasaan, Wewenang, dan Kepemimpinan. Bandung: FPIPS.

Mokken, R. J. (1974). Power and Influence as Political Phenomena. University of Amsterdam.

Mulyana, D. (2007). Ilmu Komunikasi : Suatu Pengantar. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Nasrudin, J., & Nurdin, A. (2018). Politik Identitas dan Representasi Politik : Studi Kasus pada Pilkada DKI Periode 2018-2022. Hanifiya : Jurnal Studi Agama-Agama, Vol. 1 No. 1.

Nawawi, M., Anriani, H. B., & Ilyas. (2012). Dinamika Etnisitas dan Konflik Politik pada

Pemilukada. Jurnal Kebudayaan dan Politik, Vol. 25, No. 3, Juli-September 2012, 223-232.

Parekh, B. (2000). Rethingking Multiculturalism : Cultural Diversity and Political Theory. Cambridge: Harvard University Press.

Parson, T. (1957). The Distribution of Power in American Society. World Politics, Hal. 139.

Rosardo, C. (1997). Toward a Definition of Multiculturalism. Change in Human System.

Saleh, A. (2015). Pengertian, Batasan, dan Bentuk Kelompok.

Salim, K. (2015). Politik Identitas di Maluku Utara. Jurnal Kajian Politik dan Masalah Pembangunan, Vol. 11 No. 02.

Saradi, W., Kinseng, R. A., & Sjaf, S. (2018). Praktik Politik Identitas dalam Dinamika Politik

            Lokal   Masyarakat Gayo. Sodality : Jurnal Sosiologi Pedesaan, Vol 6 No. 1.

Sarumpaet, B. (2012). Politik Identitas Etnis dalam Kontestasi Politik Lokal. Jurnal Kewarganegaraan, Vol. 19 No. 02.

Slamet, M. (2003). Membentuk Pola Perilaku Manusia Pembangunan. Bogor: IPB Press.

Soekanto, S. (2009). Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Strausz-Hupe, R. (1956). Power and Community.

Sukamto. (2010). Politik Identitas (Suatu Kajian Awal dalam Kerangka dan Interaksi “Lokalitas dan Globalisasi”). Jurnal Sejarah dan Budaya Universitas Malang.

Syamsu, S., Yusril, M., & Suwarto, F. (1999). Dinamika dan Kepemimpinan : Sebuah Pengantar. Yogyakarta: Universitas Atmajaya.

Tuckman, B. W. (1965). Developmental Sequence in Small Groups. Physchological Bulletin.

Weber, M. (1982). Wirtschaft und Gesellschaft. Tubingen Mohr.

Yandra, A. (2017).  Politik Etnisitas dalam Pemilu Kada : Studi Kasus dalam Pelaksanaan

            Pemilu Kada Bupati dan Wakil Bupati di Pasaman Sumatera Barat.

Penulis

Salma Qotrunnada

Etnis Superior Ciptaan Media Massa

Maria Michelle Angelica

Photo by Mike from Pexels

  1. Introduction

Manusia tidak dapat hidup tanpa komunikasi. Selagi komunikasi masih berlangsung, maka media –yang menurut KBBI daring menjadi alat (sarana) komunikasi seperti koran, majalah, radio, televisi, film, poster, dan spanduk, akan terus dibutuhkan dan digunakan manusia. Bahkan kini media semakin berkembang, kini sudah ada sosial media, aplikasi layanan pesan pribadi (chat) yang digunakan hampir seluruh manusia di dunia. Ada pula media massa yang sangat berperan dalam keseharian manusia terutama dalam penyampaian informasi. Pada hakikatnya, media massa harus menyajikan informasi yang jujur, jernih, dan sesuai fakta sesungguhnya. Namun realitanya media massa justru merekonstruksi realitas sosial karena alasan teknis, ekonomis, dan ideologis (Suryadi, 2011), misalnya mempertajam kesenjangan antaretnis. Padahal pada dasarnya semua etnis memiliki derajat yang sama, hanya saja manusia menciptakan hierarki –produk imajinasi manusia (Harhari, 2017:161). Dalam media massa, etnis di daerah terpencil kerap kali dilekatkan dalam kata “primitif” seolah takkan pernah maju dan berlaku sebaliknya. Hal ini menjadi sangat berbahaya jika media terus memoles adanya etnis superior dan etnis inferior sehingga bagi “superior” merasa yang paling memiliki segalanya dan “inferior” akan terus berada di bawah bayang-bayang superior dan terbelakang. Tulisan ini ingin membedah bagaimana media menciptakan “etnis inferior” dan “etnis superior” kepada masyarakat.

Sejauh ini penelitian tentang penampilan etnis dalam media telah dilakukan dengan tiga kecenderungan. Pertama, kecenderungan diteliti tentang penampilan kaum kulit hitam sebagai kaum primitif dan kulit putih lebih maju atau rasisme-tanpa-sadar lainnya pada film (Hobson, 2008;  Gallagher,1982; Glenn et.al, 2007; Hughey:2009), hal ini dapat terlihat dari bagaimana kaum kulit hitam umumnya mendapat peran dengan karakter yang berada di kelas bawah, tidak teredukasi, primitif. Berbanding terbalik dengan peran kaum kulit putih. Jikalau pun ditayangkan sebaliknya, film tersebut akan memunculkan kaum kulit hitam yang “magic” atau tidak pada umumnya. Ada pula yang meneliti tentang tayangan televisi yang tidak sengaja menunjukkan sikap rasisme (Muslich, 2008). Kedua, kecenderungan diteliti tentang kekuatan media massa membangun opini serta mengubah perilaku masyarakat  (Sanborn, et al., 2013; Suryadi,2011; Muslich,2008), media memiliki kekuatan yang besar dalam kehidupan masyarakat karena seringkali masyarakat hanya melihat dunia yang luas dari media yang sempit dan menampilkan dunia sesuai dengan perspektif media sendiri. Sehingga semakin mudah untuk media menciptakan opini masyarakat. Ketiga, kecenderungan diteliti tentang tata bahasa “Etnik”, “rasial”, dan “tribal” yang kerap kali malah menciptakan rasisme (Krishnamaurthy, 2013). Sudah sangat banyak penelitian mengenai media massa menampilkan kaum kulit hitam di Amerika, namun sangat sedikit yang melakukan penelitian mengenai bagaimana rasisme media massa Indonesia pada etnis lainnya terutama di pendalaman Indonesia.

Tulisan ini ingin melengkapi kekurangan dari studi-studi mengenai penampilan etnis dalam media yang sudah ada dengan manganalisis cara media massa menampilkan etnis-etnis suku pedalaman, kemudian memperhatikan efek yang ditimbulkan pada masyarakat yang menikmatinya. Sejalan dengan itu, dirumuskan tiga pertanyaan: (a) Bagaimana media massa menampilkan etnis?; (b) Bagaimana rasisme (secara sadar atau pun tidak sadar oleh media) memengaruhi pemikiran masyarakat mengenai etnis dan suku?; (c) Bagaimana rasisme (secara sadar atau pun tidak sadar oleh media) memengaruhi para pemilik etnis dan suku yang menjadi korban rasisme media?

Tulisan ini didasarkan pada tiga konsep sebagai berikut; (a) etnosentrisme adalah aksi menghakimi budaya lain dan percaya bahwa nilai-nilai serta standard dari kultur milik sendiri merupakan superior –terutama dalam hal seperti bahasa, kebiasaan, agama, dan adat (McCornack et al., 2017). Etnosentrisme atau antroposentris ini juga dapat terlihat dari antropolog menyusun berbagai kebudayaan ke dalam tingkatan derajat berdasarkan kebudayaan yang sudah mengalami kemajuan seperti monoteisme, teknologi canggih, dan sejarah perkembangan lainnya. Klasifikasi etnosentris “primitif” juga digunakan oleh para antropolog seperti Sir Edward Burnett Tylor dalam Primitive Culture (1871) dan Franz Boas dalam The Mind of Primitive Man (1911). (b) minority group atau kelompok minoritas merupakan sekelompok orang yang karena secara fisik atau kultural mereka, menjadi diasingkan dari lainnya dalam bagaimana mereka hidup dan perlakuan yang tidak adil (Wirth, 1945). Kelompok minoritas dapat dilihat dalam lima karakteristik, (1) merasa didiskriminasi dan dikesampingkan, (2) secara fisik dan atau kultural membedakan mereka dan ditolak oleh kelompok dominan, (3) perasaan yang sama dan beban bersama, (4) secara sosial membentuk “peraturan” tentang siapa yang memiliki dan siapa yang tidak termasuk status minoritas, (5) kecenderungan untuk menikah dengan kelompok etnis yang sama (Feagin, 1984). (c) Media massa memiliki berbagai kekuatan sosial seperti salah satunya sebagai persuasi dan mobilisasi pada masyarakat, intinya media massa memiliki efektivitas tinggi dalam komunikasi di masyarakat, juga cepat, fleksibel, dan sangat mudah direncanakan dan dikontrol (McQuail, 1977).

  • Literature Review
    • Etnosentrisme

Etnosentrisme memiliki pengertian konsep yang berbeda-beda dan membingungkan. Tajfel (1983) memandang etnosentrisme sebagai konsep utama yang kemudian meliputi berbagai konsep lainnya.  Sutherland (2002) menyatakan bahwa etnosentrisme merupakan cara untuk melihat dunia melalui kaca mata personal yang mana telah terpengaruh pada sikap pribadi, genetik, keluarga/hubungan, dan media. Hammond & Axelord (2006) memandang etnosentrisme sebagai sikap melihat kelompok sendiri (in-group) superior dan menjadi standar umum, dan kelompok lainnya (out-group) hina dan inferior. Bizumic et al. (2009) merekonseptualisasikan etnosentrisme sebagai bentuk sikap yang mengandung perasaan yang kuat akan segala etnis terpusat dari kelompok etnisnya dan perasaan kepentingan etnis sendiri. Menurut para penulis ini, perasaan ini terjadi ketika suatu kelompok etnis merasa lebih penting daripada kelompok lainnya dan kelompok etnis tersebut lebih penting daripada individual yang ada di kelompok etnis tersebut –yang kemudian akan berdampak pada beberapa efek buruk. Kemudian pada akhirnya etnosentrisme akan membawa kepada beberapa efek jangka panjang dan pendek, yaitu berbagai diskriminasi dan kebiasaan pengorbanan diri (Bizumic et al., 2010), berbagai jenis perasaan personal dan kelompok bahwa dirinya atau kelompoknya menjadi pusat segalanya, dan akibat hal tersebut akan terjadi reaksi dan perlakuan yang berbeda (Howle & Bizumic, 2011; Sutherland, 2002). Penelitian juga membuktikan bahwa etnosentrisme menjadi salah satu faktor pada dampak buruk bagi kelompok lainnya atau out-group, karena indivusi yang sangat otoriter lebih kejam dan agresif (Christie, 1993). Meski terdapat dampak negatif, etnosentrisme juga membawa dampak positif pada beberapa bidang seperti keperawatan, dalam Journal of Transcultural Nursing, Sutherland (2002) menyatakan bahwa etnosentrisme membawa nilai yang berbeda dalam melihat orang lain sehingga orang tersebut menjadi unik. Ia pun menyatakan etnosentrisme tidak boleh dihilangkan karena menurutnya etnosentrisme justru membuat budaya tersebut tetap hidup. Dalam hal lainnya, Hammond & Axelrod (2006) mengatakan bahwa etnosentrisme menjadi mekanisme yang efektif dalam mempertahankan kerja sama.

Menurut Perreault & Bourhis (1999), etnosentrisme merupakan salah satu dari kombinasi otoritarisme dan in-group yang kuat yang kemudian dapat menjadi dasar untuk melihat fenomena intergroup lainnya seperti sikap/kebiasaan intergrup, black-sheep effect, dan sikap kejam dan diskriminasi lainnya.  Bizumic, et al. membagi etnosentrisme ke dalam 6 aspek, yaitu: 1) Preferensi, yaitu kecenderungan untuk menyukai dan lebih memilih etnis sendiri daripada kelompok lainnya atau out-group; 2) Superioritas, yaitu rasa percaya bahwa kelompok etnis sendiri lebih baik dan superior daripada kelompok lainnya, terlihat dari moralitas, sejarah, spiritualitas, ekonomi, dan lainnya; 3) Kemurnian (Purity), keinginan untuk menjaga kemurnian dari kelompok sendiri dengan menolak terjadi kawin campur dengan kelompok lainnya atau out-group; 4) Eksploitasi, mengekspresikan bentuk mementingkan diri sendiri dimana kelompok etnis sendiri adalah yang paling penting sehingga sedikit ataupun sama sekali tidak menaruh perasaan pada etnis lainnya sehingga dianggap sah untuk mencuri, membunuh, membudakkan kelompok lainnya –dan menurut para penulis ini, hal ini berbeda dengan out-group negativity yang kerap kali disamakan dengan konsep etnosentrisme; 5) Kohesi kelompok, integrasi, persatuan, dan kerja sama yang tinggi harus meresap dalam kelompok etnis sendiri, ada pula perasaan bahwa kepentingan kelompok didahulukan daripada kepentingan individual kelompok; 6) Kesetiaan, menunjukkan rasa setia dan dedikasi tinggi kepada kelompok etnis sendiri, hal ini bisa mengakibatkan para anggota kelompok etnis tanpa pikir panjang rela berkorban nyawa demi kelompok sendiri. Keenam aspek ini dapat dimasukkan ke dalam dua bentuk, yaitu intergroup expression, dimana kelompok sendiri lebih penting daripada kelompok lainnya, terdapat aspek preferensi, superioritas, kemurnian, dan eksploitasi. Kemudian ada pula intragroup expression, dimana kelompok sendiri lebih penting daripada anggota individu dalam kelompok tersebut, terdapat aspek kesetiaan dan kohesi kelompok.

  • Kelompok minoritas

Kelompok minoritasdikenalkan di Amerika Serikat oleh Donald Young (1937), menurutnya kelompok minoritas merupakan kelompok yang populasinya dibedakan dari “elemen” dominan seperti perbedaan biologis ras atau ciri-ciri budaya alien, atau kombinasi keduanya. Wagley dan Harris (1964) menyebutkan terdapat lima hal yang dapat dilihat dalam kelompok minoritas, salah satunya ialah kesadaran diri terikat pada “sifat-sifat khusus” sehingga membawa kekurangan “khusus”. Nibert (1996) melihat bahwa Young menggunakan diksi “alien” dan Wagley & Harris menggunakan diksi “khusus” untuk menunjukkan perbedaan yang jelas bahwa kelompok minoritas sangat berbeda dengan kelompok mayoritas. Sedangkan dalam Wood, et al (1996) dinyatakan melalui kutipan Moscovici, bahwa minoritas didefinisikan sebagai kelompok atau individual yang dikesampingkan atau mendapati posisi antinomik. Definisi ini tidak jauh berbeda dengan yang dinyatakan Norman R. Yetman (1985) namun lebih spesifik bahwa posisi kelompok inferior adalah mereka yang kepentingannya tidak secara efektif terwakilkan dalam politik, ekonomi, dan institusi sosial dalam masyarakat. Sedangkan definisi yang cukup umum dalam bidang sosiologi, Louis Wirth (1945) dalam essay The Problem of Minority Group menyatakan bahwa kelompok minoritas merupakan sekelompok orang yang karena secara fisik atau kultural menjadi diasingkan dari lainnya, seperti dari bagaimana mereka hidup dan perlakuan yang tidak adil. Deadalus (1961) melalui penelitiannya pada kelompok etnis dalam kehidupan Amerika menyebutkan bahwa minoritas bisa kehilangan kekhasannya ketika melihat etnis lain sebagai standar. Secara umum, kelompok minoritas selalu menempati posisi yang tidak menguntungkan dalam masyarakat daripada kelompok dominan, baik dalam bidang ekonomi (misal jabatan), sosial (bahan ejekan, kekerasan, penghinaan), serta politik (perlindungan hukum yang tidak seimbang).

Kelompok minoritasini dapat dibagi ke dalam beberapa kasus, yaitu 1) Gender and sexually minorities, istilah ini digunakan oleh peneliti kesehatan masyarakat untuk menjelaskan kelompok individual yang melakukan seks dengan sesama jenis namun tidak teridentifikasi ke dalam LGBTQ, seperti intersex people, transgender people or gender-nonconforming, dan lainnya. Di bebrapa tempat, seperti di Indonesia yang belum melegalkan LGBTQ, orang-orang LGBTQ termasuk ke dalam kelompok minoritas; 2) Disabilitas, disabilitas ialah orang-orang yang memiliki cacat baik panca indera maupun bagian badan aktif lainnya. Menurut Human Rights Act 1998 di Inggris, terlihat barulah muncul kepedulian kepada para disabilitas. Disabilitas ini termasuk ke dalam kelompok minoritas karena kerap kali dirugikan dalam teknologi dan institusi sosial yang lebih banyak didesain untuk kelompok dominan; 3) Perempuan, pada masyarakat pada umumnya, laki-laki dan perempuan tidaklah setara. Seringkali wanita masih kesulitan untuk mendapatkan pendidikan, menjadi korban kekerasan, dan kesulitan mendapat kesempatan yang sama dalam ekonomi[1]; 4) Kelompok minoritas tidak disengaja, ialah mereka yang sejak lahir terbawa ke dalam masyarakat berlawanan dengan keinginan mereka, contoh masyarakat Afrika-Amerika di Amerika Serikat. Mereka kemudian akan mengalami kesulitan dalam mendapatkan sekolah (Oqbu & Simons, 1998); 5) Minoritas disengaja, merupakan para imigran yang pindah ke negara baru dengan harapan masa depan yang lebih baik daripada negara asalnya; 6) Berumur/tua, beberapa menganggap kelompok rentan ini termasuk ke dalam kelompok minoritas karena seringkali dikesampingkan/diabaikan serta didiskriminasi. Namun menurut Palmore (1978) ia menyatakan hal tersebut makin lama akan tidak relevan lagi karena kini mulai memasuki era age irrelevant. Terjadi perbedaan pendapat, seperti menyatakan bahwa pengertian minorities group oleh Wirth kerap kali mendekati pengertian dari oppressed groups. Senada dengan lainnya, Mayers (1984) menyatakan kelompok minoritas  ini bukan label umum untuk orang yang didiskriminasi, kelompok minoritas lebih kepada kekuatan tidak adil tanpa landasan yang jelas, sedangkan orang dalam kelompok yang menjadi target kolektif diskriminasi lebih cocok disebut sebagai kelompok tertindas atau oppressed groups. Menurut Nibert (1996), ia lebih menyukai mengubah kata “majority/minority” dengan “dominant/subordinate” karena menurutnya 1) terjadi pelebaran konsep kelompok etnis sehingga lebih dapat melihat kelompok tertindas lainnya dan lebih leluasa menganalisis yang lebih luas; 2) dapat mengetahui kekuatan yang tidak seimbang sehingga menciptakan penindasan pada sekelompok orang. Namun Nibert tidak menyimpulkan harus menggunakan majority/minority atau dominant/subordinate, ia hanya menekankan bahwa lebih baik merujuk kepada orang yang paling memiliki keuntungan yaitu “majority group” atau “dominant group”

  • Media Massa dan Efeknya

Media massa didefinisikan sebagai alat untuk membawa pesan dari komunikator kepada khalayak ramai (Ceuleans & Fauconnier, 1979). Dalam pengertian umum, media massa dapat terlihat pada media elektronik yaitu radio, televisi, film, dan rekaman musik; dan media cetak yaitu koran, majalah, dan literatur modern –dimana semua ini menjadi artefak, pengalaman, praktik, dan proses (Spitulnik, 1993). Menurut Tomi Ahonem dalam bukunya Mobile as 7th of the Mass Media, merumuskan 7 media massa sebagai berikut, sesuai dengan urutan ditemukan dan diperkenalkannya kepada publik: 1) Media Cetak, yaitu buku, koran, majalah, pamflet, dan lain-lain, pertama kali pada akhir 1400-an; 2) Rekaman, yaitu rekaman, kaset, CD, DVD, cartidges, pertama kali pada akhir 1800-an; 3) Sinema, yaitu film, lalu kemudian animasi sekitar tahun 1900; 4) Radio, sekitar tahun 1910; 5) Televisi, sekitar tahun 1950; 6) Internet, sekitar tahun 1990; 7) Telepon seluler, sekitar tahun 2000. Menurut undang-undang negara Indonesia, pada pasal 3 UU No. 40 tahun 1999, pers –lembaga sosial yang melakukan kegiatan jurnalistik media massa- memiliki fungsi sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, dan kontrol sosial; pada poin ke dua dijelaskan sebagai lembaga ekonomi. Shaw & Martin (1992) menjelaskan salah satu fungsi utama dari media massa adalah untuk meningkatkan konsensus kelompok dalam sistem sosial yang lebih luas dengan menyediakan pilihan isu agenda yang lebih menarik daripada hanya mempelajari secara historis dan dinyatakan dari berbagai aspek seperti gender, ras, usia, tingkat pendidikan, atau tingkat ekonomi. Dalam fungsi sosial, media massa berfungsi untuk menghubungkan masa lalu dengan masa kini masyarakat dan diperhitungkan melalui perbedaan masa lalu dengan yang sekarang (Luhman, 2000). Sedangkan menurut Hall (1992) media massa lebih bertanggung jawab untuk menyediakan dasar dimana kelompok mengkonstruksi “citra” kehidupan, makna, praktik, dan nilai-nilai kelompok dan kelas lain; dan menyediakan gambar, representasi dan ide-ide dari semua bagian terpisah menjadi mampu dipahami secara utuh keseluruhan.

Media massa memiliki peran penting dalam membentuk persepsi publik dalam berbagai isu penting (Lorimer & Scannel, 1994), menggambarkan kepercayaan, nilai, kebiasaan, dan interpretasi bagaimana melihat dunia (Vipond, 2000; Spitulnik, 1993). Diperjelas bahwa media massa memiliki kekuatan dalam membawa kebudayaan masyarakat (Spitulnik, 1993). Media tidak mengatakan secara langsung bagaimana orang-orang harus berpikir seperti apa, tetapi ia mengatakan orang-orang harus memikirkan tentang apa (Mc Combs, 1977). Dalam Anthropology and Mass Media, Spitulnik mengatakan bahwa media dikendarai secara ekonomi dan politik, terhubung dengan pengembangan sains dan teknologi, dan terikat erat dengan kegunaan bahasanya. Finnegan & Viswanath (1997) mengidentifikasi efek utama dari media massa ke dalam tiga poin: 1) The Knowledge Gap, media massa memengaruhi kesenjangan pengetahuan; 2) Agenda Setting, orang-orang terpengaruhi dalam bagaimana mereka memikirkan suatu isu,melalui cara media memandang suatu isu. Sedangkan media sendiri kerap kali juga dapat terpengaruhi oleh kepentingan politik dan agenda publik. Agenda-setting dapat efektif dimasukkan ke dalam media massa karena hal ini berkaitan dengan fungsi berita dan jurnalistik sebagai komunikasi massa (McCombs, 1977). Menurut J. J Davis, agenda publik didasarkan dari bagaimana media massa menyorot risiko secara terperinci, dan bagaimana tingkat “kemarahan” dan “ancaman” publik diprovokasi media; 3) Cultication of Perceptions, merupakan bagaimana media mengekspos memengaruhi bentuk pemikiran audiens. Meski demikian, hal ini tak hanya dipengaruhi media seorang, melainkan juga dapat dipengaruhi dari sosioekonomi audiens tersebut.

  • Methods

Media massa di Indonesia sangat terlihat jelas sebagai media jakartasentris[2], bahkan mayoritas kantor media nasional berpusat di Jakarta. Tidak mengherankan jika banyak kantor media nasional, termasuk stasiun televisi, menjadikan Jakarta sebagai titik tolak melihat segala peristiwa dan kejadian. Salah satu media massa yang sempat tersohor acaranya adalah tayangan “Primitive Runaway” oleh PT. Televisi Transformasi Indonesia (TRANS TV). Tayangan tersebut menayangkan bintang hiburan televisi ibukota, biasanya berdua laki-laki dan perempuan, mendatangi kebudayaan-kebudayaan yang ada di Indonesia yang umumnya belum banyak diketahui umum. Dari judul tayangan “Primitive” sendiri sudah menimbulkan kecaman dari banyak pihak terutama Remotivi dan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) karena dianggap sebagai bentuk diskriminasi suku. Ditambah, isi dari tayangannya sangat melecehkan suku adat tersebut dan tidak beretika[3]. Menanggapi itu Trans TV menyampaikan permohonan maaf tertulis kepada AMAN dan mengganti namanya menjadi “Ethnic Runaway”. Meski sudah berganti nama, konsep yang diusung masih sama sehingga kesenjangan antarsuku ini diperlihatkan dengan jelas dan seolah semakin memoles hadirnya etnis superior dan etnis inferior. Beberapa episode Ethnic Runaway telah diposting di youtube.

EthnicRunawayjuga memiliki akun media sosial, halaman facebook, yang dibentuk sejak Ethnic Runaway hadir di televisi. Akun tersebut aktif mem-posting kegiatan crew Ethnic Runaway, informasi jadwal tayangan acara Ethnic Runaway, dan beberapa kali menanyakan pendapat kepada para penontonnya. Akun yang diikuti oleh 13.244 pengguna facebook ini sudah tidak aktif, dapat terlihat dari postingan terakhirnya pada 8 Februari 2015. Walau demikian, masih dapat terlihat dari postingan lawas dan komentar-komentar para penontonnya. Melalui akun tersebut, dapat terlihat reaksi penonton akan tayangan tersebut dan beberapa kali terlihat juga pendapat para penonton akan hal apa yang mereka rasa telah dapatkan dari tayangan tersebut.

Selain tayangan televisi EthnicRunaway, ada pula produksi Surya Citra Televisi (SCTV) yaitu FTV (Film Televisi). FTV ini umumnya bercerita tentang kisah percintaan dan kerap kali melekatkan kesenjangan sosial-ekonomi pada etnis tertentu melalui karakter yang dibawakan tokoh dan cerita. Beberapa episode FTV lawas juga telah ditayangkan di youtube. Peneliti akan meneliti melalui lima tayangan FTV[4] yaitu, “Gara-Gara Gino”, “Mercy Milik Joko”, “Ada Cinta di Kampung Kambing”, “Putri Manja Masuk Desa”, dan “Cintaku antara Jogja – Jakarta”

Tulisan ini akan menggunakan metode observasi melalui kanal youtube untuk melihat tayangan Ethnic Runaway dan FTV untuk dijadikan sumber (primer/sekunder) serta menggunakan sosial media facebook dari “Ethnic Runaway” sebagai sumber untuk mencari tahu reaksi dan tanggapan penonton Ethnic Runaway atas tontonan tersebut. Melalui tayangan di kanal youtube, penulis akan menganalisa melalui perbuatan dan perkataan host dari beberapa episode Ethnic Runaway serta kemasan tayangan tersebut secara umum. Sedangkan untuk tayangan FTV, penulis akan menganalisa cerita dan karakter dari tokoh pada beberapa episode tayangan FTV yang memiliki unsur etnis di dalam ceritanya. Pada facebook, penulis akan menganalisa komentar para penonton melalui kolom komentar dan menganalisa postingan dari admin Ethnic Runaway.

  • Results
    • Tayangan Ethnic Runaway

Ethnic Runaway merupakan tayangan reality show yang menayangkan artis, sebagai pembawa acara, masuk ke suku-suku pedalaman dan hidup disana selama beberapa hari (kira-kira tidak lebih dari seminggu) dan mengikuti kegiatan sehari-harinya. Ethnic Runaway ini berjaya selama kurang lebih dari tahun 2011 hingga 2015. Berdasarkan laman facebook Ethnic Runaway di bagian “about/tentang” tertulis tujuan tayangan Ethnic Runaway adalah untuk mempertunjukan kebudayaan dan keberadaan suatu Suku di Pedalaman Nusantara dan Luar Negri (dalam jangka waktu yang lama). Dalam postingan facebook yang lain, pada tanggal 27 Maret 2013 saat Ethnic Runaway masuk nominasi Panasonic Gobel Awards 2013, admin menyatakan Ethnic Runaway sebagai program “yang mengenalkan kearifan suku bangsa dan adat masyarakat indonesia”; pada Hari Kebangkitan Nasional (20 Mei 2012), admin menyatakan Ethnic Runaway sebagai “(tempat untuk) belajar berbagai budaya dan adat istiadat dari suku-suku di Indonesia”. Secara umum Ethnic Runaway dapat dikatakan sebagai tayangan yang bertujuan memperkenalkan suku-suku bangsa di Indonesia kepada para penonton.

Artis yang diundang Ethnic Runaway selalu berganti-ganti di setiap episode dan tak tanggung-tanggung, artis yang dipilih selalu artis papan atas ibukota. Artis-artis ini lahir dari berbagai tempat, namun berdomisili di Jakarta sehingga umumnya mereka membawa budaya Jakarta saat mendatangi suku-suku tersebut. Artis-artis ini sangat baik mengekspresikan perasaan mereka saat masuk dan mengikuti kegiatan para anggota suku di depan orang suku dan juga kamera pada pemirsa. Pada tayangan Ethnic Runaway episode Suku Buton Sempa Sempa[5] yang dibawakan oleh Samuel Rizal dan Alexandra Gottardo, ada adegan dimana Samuel Rizal harus mengambil kotoran kambing dengan tangan untuk kemudian ditaruh di galian tanah. Samuel Rizal dengan muka merasa sangat jijik awalnya menolak dengan keras dan mengeluh, “Gak ada sekop atau apa gitu untuk naburin?” lalu setelah paksaan dari La Ama (bapak), Samuel pun melakukannya sambil menjelaskan kepada penonton dengan nada sarkasme bahwa harus mengambil kotoran kambing dengan tangan.  Masih dalam episode yang sama, saat mereka makan bersama dengan rasa makanan yang tidak enak pun Samuel menunjukkan rasa jijik. Ekspresi jijik yang diekspresikan di depan kamera dan depan orang suku oleh pembawa acara tidak hanya terjadi di satu episode, tapi juga episode lainnya seperti episode Suku Kalende, Suku Praigoli, Suku Lom.

Pada episode Suku Samboi (NTB) dengan pembawa acara Rio Dewanto dan Lia Waode, Lia sebagai perempuan seharusnya mengenakan Rimpu. Rimpu merupakan sarung yang menutup badan, hidung, dan mulut. Namun karena beberapa kali Lia merasa pengap atau tidak nyaman, tanpa berpikir panjang Lia melepaskan Rimpunya bagian mulut dan hidung. Berkali-kali juga Lia dimarahi oleh orang suku karena hal tersebut dilarang dan dapat dikenakan sanksi adat namun sepertinya hal tersebut tidak Lia gubris karena tetap dilakukan berkali-kali bahkan di depan orang sukunya langsung.

Selain ekspresi dan perbuatan, pembawa acara Ethnic Runaway juga mengucapkan beberapa kalimat yang tampaknya memperlebar kesenjangan antara pembawa acara dengan orang suku.  Dalam episode Suku Kalende[6] bersama pembawa acara Rini Yulianti, saat adegan makan malam bersama dengan sayur pucuk rotan, Rini menunjukkan ekspresi, seperti pembawa acara Ethnic Runaway pada umumnya, jijik  karena pahitnya rasa sayur pucuk rotan itu kemudian tak lama muncul musik latar bernuansa sedih dan memprihatinkan dengan narasi, “Biarpun pucuk rotannya pahit, melihat Naina, Mauma, dan Yanti yang begitu menikmati hidangan malam ini membuat aku jadi terharu. Ditengah keterbatasan mereka, mereka tidak sedikitpun mengeluh, malah sebaliknya…”. Lalu kamera fokus ke muka Rini yang melihat Mauma (bapak) dengan raut muka sedih.

 Perbandingan yang dibawa oleh pembawa acara Ethnic Runaway, yang entah dibandingkan dengan siapa, juga tampak pada ucapan, “…(orang Suku Kalende) mampu memanfaatkan benda di sekeliling mereka. Gak kayak kita yang sedikit-sedikit beli”. Ada kata “kita” yang merujuk pada identitas tertentu, mungkin identitas si artis tersebut, pastinya tidak jelas identitas siapa. Jika pada episode ini ada identitas yang dimunculkan namun tidak secara eksplisit identitas apa, pada episode episode Suku Pongok oleh pembawa acara Five V dan Kiwil[7], diperjelas identitas perbandingannya adalah Jakarta. Terlihat dari beberapa kalimat,“Ooo… Itu cupang. Vi,” kata Kiwil pada Five. “Kalau di Jakarta namanya kerang. Di sini namanya cupang.” Atau ada pula dalam episode Suku Karampuang oleh Stuart Collin dan Ryana Desa, mereka menertawakan saat menemukan nama makanan berbeda dengan yang ia ketahui, “Kalau di Jakarta, kita kan ngomongnya dodol ya,” kata Ryana kepada pemirsa. “Kok di sini dodor sih, hahaha.”

Para pembawa acara juga seringkali menunjukkan dengan kontras sekali bahwa mereka dengan orang suku ini sangat berbeda, misalnya pada episode Suku Kalende, Rini duduk dengan mengangkat satu kaki sedangkan orang Suku Kalende duduk bersila. Semua pembawa acara Etnic Runaway yang peneliti amati selalu menggunakan perilaku dan gaya bicara Jakarta seperti ucapan kata “gue” yang mungkin tidak dituturkan di daerah lain. Para pembawa acara ini juga selalu mempermasalahkan bahasa asli tersebut karena tidak mengerti.

Lalu acara ini akan diakhiri dengan narasi “indahnya keberagaman Indonesia”, “mengerti kesederhanaan”, “bahagia dan kehangatan dalam kesederhanaan”, “semakin mencintai budaya Indonesia”. Narasi penutup di setiap episode selalu dengan narasi yang hampir sama yaitu  mengangkat nasionalisme dan nilai kesederhanaan.

  • Komentar penonton pada laman facebook Ethnic Runaway

Antusiasme audiens dari Ethnic Runaway ini dapat terlihat dari laman facebook Ethnic Runaway yang memiliki banyak pengikut dan di setiap postingan banyak komentar seperti “ditunggu ya tayangannya”, “gak sabar menonton”, dan bentuk antusiasme lainnya. Namun selain antusiasme yang muncul di facebook, penulis pun menemukan jejak digital hasil konstruksi pandangan masyarakat terhadap suku pedalaman dan kebudayaannya akibat tayangan Ethnic Runaway.

Dalam postingan Ethnic Runaway pada 4 Desember 2011 menginformasikan tayangan episode Suku Saiboklo, Mentawai, Sumatera Barat telah dimulai. Ada akun bernama “Aulin Love Physics” berkomentar, “sukunya masih belum berpakaian dengan baik ya?”. Ada juga dari postingan yang berbeda berkomentar, “terharu dengan cara berpakaian disana”.

Kolom komentar facebook Ethnic Runaway tak kalah ramai dengan usulan-usulan artis pembawa acara agar acara berikutnya lebih menarik dan seru dengan artis tersebut. Pada postingan informasi tayangan banyak penonton yang lebih fokus pada artis pembawa acara daripada suku yang didatangi, seperti komentar “asik (nama artis), pasti jadi seru”, “wah (nama artis) sexy banget”, “gak sabar ada (nama artis). Pasti nonton”. Hal tersebut tidak mengagetkan karena dari pihak admin Ethnic Runaway pun memang meng-highlight suatu episode dengan aksi artis, misalnya pada postingan “Aksi Selebritis Selebritis Wanita saat bersama Suku Pedalaman …”, “Apa yg terjadi bila Rini Yulianti ditaksir pemuda asli Suku Kalende ? Dan bagaimana kisah Rini Yulianti bertemu dengan Teman Baru Bule saat perjalananya ke Desa Wabou ?”, “Apa yang akan dilakukan lagi oleh Tarra Budiman & Kelly Tandiono di Suku Abui P. Alor, NTT”,  “…saksikan keseruan Dwi Andhika & Chinta Penelope di Suku Nggella, Ende, Nusa Tenggara Timur…”. Terpampang jelas bahwa subjek utama dari tayangan ini adalah artis sedangkan orang suku dan kebudayaannya hanya objek.

Penonton juga semakin melirik tayangan Ethnic Runaway jika tayangan tersebut semakin menunjukkan ke-primitif-an suatu suku. Terlihat dari komentar di facebook yang meminta penayangan yang semakin “aneh” atau lebih primitif. Misalnya dari “Rulyyana Adhellya” berkomentar “…kalau bisa yang lebih keplosok’a bngt…” pada postingan tanggal 29 Januari 2013. Ada pula dari “Asep Taupik” pada postingan tanggal 15 Januari 2012 berkomentar, “sekali2 ke afrika! Banyak suku primitifnya + banyak hewan2”.

Para penonton Ethnic Runaway banyak berkomentar di kanal facebook bahwa mereka merasa bersyukur karena melalui tayangan yang dinilai menambah wawasan, inspiratif, dan berkualitas ini membuat mereka menjadi lebih mengenal berbagai suku budaya di Indonesia dan merasa semakin bangga dengan Indonesia yang kaya ini. Misalnya komentar milik Wulanto Gendut, “jam tayng di tambah donx ……!!! agar masyarakat indonesia lebih mngenal budaya lokal……????ckarang kan banyak sekali serbuan budaya asing…..!!!jngan smpai generasi kita tidak tau akan budaya kita sendiri….!!!!ethnic runaway forever……”. Ada pula dari akun Bintang Galuh Banten, “…acara ini lebih banyak manfa’atnya daripada sinetron yang hanya fatamorgana. Acara ini lebih mendidik rakyat indonesia, karena akan mengenal literatur dan adat istiadat budaya…”. Ulfiah Sari juga menambahkan bahwa banyak penggemar suku dan kebudayaan Indonesia dan merasa dapat memetik banyak pelajaran dari tayangan suku-suku pedalaman.

  • FTV Produk SCTV

FTV ini memiliki rating yang tinggi, berarti banyak penonton yang menontonnya. Bentuk tayangan FTV secara umum menampilkan dua etnis, yaitu orang di luar Jakarta dan orang Jakarta. Orang yang dari luar Jakarta (memiliki medhok jawa ataupun sunda) selalu mendapat peran sebagai bawahan dari orang Jakarta (terlihat dari kata “gue”, “elo”, dan pengambilan gambar kota Jakarta seperti patung selamat datang di bundaran HI dan gedung-gedung berlokasi di Jakarta). Anak kota Jakarta yang tumbuh dan besar di Jakarta selalu ditunjukkan sebagai anak yang manja, egois, tidak tahu diri, serta memiliki harta yang banyak (ekonomi sangat baik). Misalnya pada FTV “Putri Manja Masuk Desa” pada menit 30:03, dikatakan “Apa semua orang Jakarta kaya kamu ya ga bisa menjaga perasaan orang lain”.Sedangkan di luar Jakarta selalu digambarkan dengan kondisi ekonomi yang kurang dan sederhana. Keduanya ini selalu bersinggungan dan dibanding-bandingkan, bisa membandingkan Jakarta dengan orang luar Jakarta seperti dialog berupa, “aku selalu dijodohkan dengan orang kampung”, “kampungan”, atau juga membandingkan orang luar Jakarta dengan Jakarta, “pemuda jawa yang baik, bukan pemuda kota yang punya aturan” ucap Joko pada FTV “Mercy Milik Joko”.

Meski kedua etnis ini menggunakan bahasa Indonesia, FTV mencoba membedakan orang kota Jakarta dengan orang luar Jakarta dengan nada berbicara dan cara berpakaian. Sekalipun aktor yang bermain tidak biasa nada bicara medok, maka akan dipaksakan medok cenderung dibuat-buat seperti FTV “Mercy Milik Joko”, tokoh Joko yang dimainkan oleh Kiki Farrel, aktor Indonesia yang lahir di Jakarta ini harus memerankan tokoh beretnis Jawa maka ditunjukan dengan nada medok yang (sayangnya sangat terlihat) dibuat-buat dan sebetulnya tidak cocok. Untuk pakaian orang Jakarta umumnya mahal, glamor, dan sangat kebaratan. Sedangkan pakaian orang di luar jakarta menggunakan pakaian adat atau pakaian sederhana namun terkesan lusuh.

Pada FTV Cintaku Antara Jogja – Jakarta, Titan (tokoh Titan merupakan orang Jakarta) membantu Upik (digambarkan sebagai orang Yogyakarta, medok dan lugu) mencari cintanya yang dulu sempat hilang. Titan mengubah penampilan Upik dalam berpakaian dan juga cara bicara,“…yang penting sekarang, lu harus ubah cara omong lu. Penting itu” kata Titan kepada Upik untuk membuat Upik terlihat lebih memukau. Cara bicara Upik pun diubah dari yang medok menjadi tidak.

  • Discussion
    • Tampilan Etnis dalam Media Massa

Ethnic Runaway secara jelas memperlihatkan dua kebudayaan yang berbeda, yang pertama kebudayaan di kota besar Jakarta dan kebudayaan kedua adalah kebudayaan-kebudayaan para suku yang didatangi ini. Benturan kebudayaan dalam waktu singkat ini semakin mengontraskan perbedaan sekalipun citra yang ditayangkan adalah “perbedaan tidak menjadi penghalang” dengan cara para pembawa acaramenggunakan pakaian atau mengikuti kehidupan sehari-hari para orang suku serta jargon-jargon Ethnic Runaway yang secara umum menyatakan untuk menghapus dinding perbedaan antarsuku. Namun jika dicermati lebih lanjut, tayangan tersebut malah memperlebar dan menebalkan dinding perbedaan antarsuku melalui sikap yang dilakukan oleh para pembawa acara Ethnic Runaway yang notabene adalah artis papan atas ibukota.

Franz Boas (1887) dalam penelitiannya menyatakan bahwa peradaban bukanlah sesuatu yang absolut, melainkan sesuatu yang relatif. Maksudnya, kebudayaan satu dengan kebudayaan lainnya pasti berbeda dan tidak dapat dinilai baik, buruk, benar, salah, tepat, ataupun keliru karena kebudayaan itu berdasar pada apa yang dipercayai orang dalam kebudayaan tersebut. Namun dalam Ethnic Runaway ini mereka secara tidak langsung menilai kebudayaan melalui ucapan, perilaku, dan ekspresi pembawa acara. Bahkan dalam beberapa adegan muncul sikap “kebudayaan yang kotor dan jijik”.

Pembawa acara seolah lupa akan peribahasa “di mana bumi itu dipijak, di situ langit dijunjung” atau ucapan dari St. Agustine, “When in Rome, do as the Roman do” yang berarti kita harus menghormati, mengikuti, dan mematuhi aturan yang ada di tempat kita tinggal/kunjungi serta berperilaku selayaknya orang disana. Mereka tetap berperilaku selayaknya orang Jakarta di wilayah orang suku tersebut. Selain tetap membawa identitas kejakartaannya, tampak juga sikap tak acuh pada aturan adat berkali-kali menunjukkan rasa tidak hormat dan melecehkan aturan adat yang ada serta hadirnya perasaan “peraturan tidak jelas dan tidak penting”.

Ethnic Runaway secara umum merupakan tayangan televisi reality show memperkenalkan suku-suku adat di Indonesia, namun yang terjadi seringkali tayangan ini dikemas seperti reality show “ubah nasib” atau acara televisi membantu orang miskin dengan kata-kata seperti, “keterbatasan”, “kita dan mereka”. Perlu dipertanyakan apa definisi dari “keterbatasan” yang dimaksud? Menurut KBBI, keterbatasan berarti keadaan terbatas. Ucapan “Keterbatasan” ini muncul dalam episode Suku Kalende oleh pembawa acara Rini, keadaan Suku Kalende seperti apa yang ingin disampaikan Rini? Peneliti tidak dapat berhipotesis keadaan yang dimaksud Rini adalah pembangunan, kesehatan, pendidikan, ataupun SDM (Sumber Daya Manusia) karena frame yang ditayangkan saat itu adalah saat makan malam. Maka kemungkinan “keadaan” yang dimaksud Rini adalah pangan. Dalam penelitian mengenai kemiskinan masyarakat kawasan hutan pada Suku Kalende (2013), dijelaskan kemiskinan yang dirasakan Suku Kalende adalah ekonomi akibat dari tidak meratanya fasilitas berupa layanan kesehatan dan pendidikan sehingga Suku Kalende tidak dapat memenuhi kebutuhan dasarnya. Jika hal tersebut yang ingin dimaksud Ethnic Runaway, maka mereka gagal menyampaikan pesannya sebab jelas pesan yang sampai pada penonton adalah “makanan menjijikan”. Padahal kuliner rotan menjadi makanan khas di beberapa daerah seperti Sumatera yang disebut sebagai Pakkat atau pucuk rotan[8] dan Kalimantan (disebutkan diperkenalkan oleh suku dayak) yang disebut sebagai Umbut Rotan atau tunas rotan yang masih muda[9].

Kemudian dengan kata “kita” yang disampaikan pembawa acara kerap kali tidak jelas merujuk kepada siapa. Trans TV sebagai media nasional secara logis akan ditonton oleh seluruh masyarakat di Indonesia, di mana pun itu, tak hanya di Jabodetabek atau kota-kota besar lainnya saja. Namun tampaknya kata “kita” yang dimaksud hanya merujuk kepada orang-orang Jabodetabek dan yang berada di kota-kota besar, sebab di beberapa daerah (bukan di kota besar). Misalnya dalam perkataan Rini, “…gak kayak kita yang sedikit-sedikit beli”, “kita” ini jelas merujuk ke orang kota saja karena di beberapa daerah masih memanfaatkan benda di sekeliling mereka dan tidak sedikit-sedikit beli karena mereka masih mampu mendapatkannya sendiri.

Apapun yang artis-artis atau pembawa acara ini bawakan, selalu menjadikan kota Jakarta sebagai titik tolak perbandingan kebudayaan apapun yang mereka rasakan selama di wilayah suku tersebut. Hal ini jelas menumbuhkan rasa etnis “superior” karena titik tolak kelayakan adalah orang Jakarta.

Secara umum, peneliti menemukan bahwa Ethnic Runaway membungkus rasa kejijikan, ketidakhormatan, keterasingan terhadap suku terasing dengan embel-embel “cinta keberagaman”, “mencintai kebudayaan Indonesia”, “perbedaan yang indah”.

FTV (Film Televisi) produk SCTV pun melakukan hal yang sama pula, hanya saja mereka tidak membingkai suku-suku pedalaman ke dalam stigma tertentu, melainkan menempelkan stigma pada orang-orang di luar kota Jakarta. Penulis sedikit bingung menulisnya dengan sebutan “etnis” karena kenyataannya yang FTV berikan tak hanya stigma pada etnis saja melainkan geografis wilayah. Melalui lima FTV yang penulis teliti, kelima-lima nya tersebut melekatkan kesenjangan sosial-ekonomi pada etnis jawa dan sunda dengan orang Jakarta. Etnis jawa dan sunda (atau orang luar kota Jakarta) kerapkali dijadikan bawahan dari orang Jakarta, dan orang di luar Jakarta akan dilekatkan dengan unsur-unsur kuno, lusuh, dan lugu. FTV menyempitkan bingkai kebudayaan jawa dan sunda hanya ke dalam pakaian dan nada bicara. Bahkan terkadang etnis yang ditampilkan ini kurang merepresentasikan budaya itu sendiri. Kebudayaan jawa yaitu penggunaan bahasa jawa dan dengan nada medok juga secara terang-terangan ditunjukkan sebagai bentuk “kemunduruan”, terlihat dari adegan saat tokoh ingin terlihat cantik dan elegan, yang diubah tak hanya cara berpakaian tetapi juga nada bicara dan cara berbicara. Hal ini dapat menumbuhkan pandangan bahwa nada medok sebagai nada yang “membuat tidak terlihat elegan/cantik”.

  • Rasisme Media Memengaruhi Pandangan Masyarakat Umum

Sadar ataupun tidak, media-media seperti Trans TV dan SCTV yang disiarkan secara nasional ini akan membentuk persepsi publik selaras dengan pandangan media terhadap suatu hal (Vipond, 2000; Spitulnik, 1993), termasuk tayangan-tayangan yang secara tidak langsung mendiskriminasi ras atau etnis, seperti yang terjadi di Ethnic Runaway dan FTV. Bukti terpengaruhnya persepsi publik dari hadirnya tayangan televisi seperti Ethnic Runaway dan FTV diperlihatkan dalam laman facebook Ethnic Runaway, saat para penonton mengomentari postingan dari admin Ethnic Runaway. Melalui laman facebook, peneliti menemukan ada tiga hal yang muncul, yaitu penilaian “baik” dan “buruk” suatu kebudayaan, pembelajaran tanpa penghargaan kebudayaan, dan kegiatan suku pedalaman dijadikan tontonan hiburan.

Budaya berpakaian daerah tidak dipandang sebagai wujud dari kebudayaan, melainkan sebagai wujud keterbelakangan karena tidak mengenakan pakaian seperti kaus, celana. Komentar dari penonton Ethnic Runaway (“sukunya masih belum berpakaian dengan baik ya?”) itu juga dapat diketahui adanya pandangan dalam masyarakat bahwa pakaian yang “baik” adalah kaus, kemeja, celana sedangkan di luar dari hal tersebut akan dianggap sebagai “tidak baik”.  Padahal, seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, suatu budaya tidak memiliki “baik” atau “tidak baik” jika tidak dibandingkan dengan budaya lainnya.

Para penonton Ethnic Runaway juga kerap kali lebih berfokus pada artis pembawa acara dibandingkan orang suku itu sendiri. Padahal seharusnya orang suku yang menjadi subjek utama dalam tayangan ini malah menjadi objek, sedangkan artis pembawa acara menjadi subjek utama tayangan. Orang suku menjadi objek “permainan” dari subjek utama (artis) dan sebagai objek tontonan atau “atraksi” bagi para penontonnya. Hal ini kurang lebih seperti Kebun Binatang Manusia (Human Zoos) pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20 yang populer di Eropa dan Amerika. Kebun Binatang Manusia ini adalah pertunjukan manusia “primitif”  (anggota suku asli Afrika, Asia, dan Amerika Selatan) dalam kandang layaknya kebun binatang [10]. Dampaknya dari kebun binatang manusia ini, para suku asli tersebut terdiskriminasi di masyarakat umum sehingga susah mendapat pekerjaan dan terus dibentuk (oleh pegawai kebun binatang manusia) semakin primitif untuk daya tarik masyarakat. Ethnic Runaway pun dirasa melakukan hal yang sama, hanya saja dalam medium yang berbeda.

Masih sama seperti Kebun Binatang Manusia, para penonton Ethnic Runaway merasa lebih tertarik jika semakin dipertunjukan sisi primitif suatu suku dan yang semakin terasing, terlihat dari bagaimana mereka merespon dan memberi rekomendasi suku, kata-kata yang diusung adalah “lebih pelosok” atau “primitif”. Mungkin saja jika kemudian Ethnic Runaway memperkenalkan Suku Sunda atau Suku Betawi, akan banyak penonton yang kecewa karena apa yang penonton harapkan, “sisi primitifnya” (primitif dalam pengertian masing-masing penonton), tidak penonton temukan. Padahal, Etnis Sunda dan Etnis Betawi juga masih bagian dari suku bangsa Indonesia kan? Dan masih sejalan dengan visi tayangan ini.

Penonton menyatakan Ethnic Runaway sebagai “tayang edukasi” pun perlu dipertanyakan, edukasi seperti apa yang akhirnya sampai ke penonton? Bisa jadi penonton mendapat pengetahuan nama-nama suku, kegiatan-kegiatan kebudayaan di dalamnya, namun tidak dengan penghargaan kebudayaan. Lebih buruk lagi, adanya anggapan bahwa etnis para penonton ini superior dan para orang suku pedalaman yang akan selalu menjadi objek tontonan saja atau sebagai etnis inferior.

Penulis lahir, tumbuh, dan berkembang di Jakarta dan tentu saja tayangan seperti Ethnic Runaway (sejak 2011, berarti penulis berumur 10 tahun) dan FTV menjadi tontonan penulis. Apa yang sekarang penulis sadari adalah, penulis juga seringkali menganggap Jakarta sebagai titik tolak segalanya, menganggap orang di luar Jakarta sebagai wilayah-wilayah yang kumuh, terbelakang, dan tidak semodern di Jakarta. Pernah sewaktu-waktu penulis berkenalan dengan teman dari banten, yang kemudian penulis tanyakan adalah apakah mereka sudah memiliki transportasi atau tidak, padahal banten yang dimaksud adalah banten kota dan di pedesaan pun sudah ada. Tanpa sadar, penulis pun juga menjadi hasil konstruksi media terhadap pandangan suku dan etnis.

  • Rasisme Media Memengaruhi Korban Rasisme Tersebut

Tayangan rasisme-secara-tidak-sadar oleh media tentu memengaruhi korban rasisme. Seperti yang sudah disampaikan di atas tentang Kebun Binatang Manusia, para penonton akan semakin tertarik jika objek tontonan semakin terasing dan primitif sehingga industri, dalam konteks ini adalah industri media massa terutama televisi, akan terus membingkai suku pedalaman dengan kebudayaan primitif karena hal tersebut dianggap sebagai “daya tarik” masyarakat. Artikel Mongabay pernah menyatakan bahwa Ethnic Runaway edisi Suku Polahi di tahun 2012, Gorontalo, dimana dalam tayangan tersebut orang Suku Polahi telanjang dan hanya memakai pelepah daun dinilai rekayasa media/di-setting sebab Verrianto Madjowa, peneliti Gorontalo, mengatakan bahwa di tahun 1997 orang Suku Polahi sudah mengenakan pakaian[11]. Artikel yang sama juga menceritakan saat Carnival Danau Limboto 2014, dihadirkan Suku Polahi dengan bertelanjang dada dan dedaunan yang menghiasi kepala mereka, pendamping mengatakan bahwa mereka ini adalah suku primitif, memang berpakaian seperti ini. “Primitif” yang dibawakan pun menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat setempat sekalipun tidak sesuai dengan yang mereka bayangkan. Namun ternyata di tengah-tengah karnaval mereka kepanasan, anak-anak kecil juga menangis karena kehausan dan tidak kuat dengan sinar matahari, sehingga akhirnya berteduh di pohon dan diberi alas kaki oleh para pendamping serta anak kecil ini diberi minuman kemasan oleh ibunya. Apakah benar Suku Polahi tidak berpakaian dan hanya menggunakan daun seperti itu? Penulis merasa tidak demikian. Akibat media mencari massa penonton, para suku-suku pedalaman ini menjadi “korban”. Mereka (orang suku) dijadikan objek atraksi, dan jika tidak seprimitif seperti yang diharapkan, “objek atraksi” ini akan diubah sedemikian rupa agar menjadi primitif yang menarik. Ya, terjadi eksploitasi dan diskriminasi suku.

Stigma yang dikonstruksi media massa tidak hanya suku pedalaman, tetapi juga etnis. FTV selalu menciptakan dua karakter: orang Jakarta dan orang di luar Jakarta. Orang Jakarta selalu digambarkan dengan sifat glamor, kaya, sombong, manja dan sifat sebaliknya untuk orang di luar Jakarta yang umumnya dicirikan melalui nada bicara medok dan busana baju adat; juga etnis jawa dan sunda selalu menjadi bawahan orang jakarta. Setiap saya pergi ke desa untuk live-in (saat sekolah) dan TPL kemarin, banyak warga setempat ketika tahu saya berasal dari Jakarta akan dikaitkan dengan kaya dan manja, lalu mulai membandingkan diri mereka sendiri yang miskin dan tidak memiliki apa-apa. Pada akhirnya, mereka yang berada di luar Jakarta, yang bahkan bukan suku terpelosok, akan terus merasa berada di bawah bayang-bayang Jakarta yang dianggap sebagai superior. Selain itu orang di luar Jakarta ini juga akan mencoba untuk berbicara seperti orang Jakarta (tidak medok dan menggunakan ‘lo’ ‘gue’) dan berpakaian seperti orang Jakarta karena anggapan keren dan tidak kuno.

  • Conclusion

Media massa “gratisan” seperti TV nasional Trans TV dan SCTV akan mencoba berbagai cara untuk meningkatkan ratingnya tanpa perlu mengeluarkan pemikiran kritis (karena ingin tayangan instan) dan tanpa pengeluaran terlalu banyak, maka ada “daya tarik” cuma-cuma yang harus mereka munculkan. Salah satu daya tariknya adalah aksi primitif dari suku-suku. Sedangkan dalam FTV, crew mempermudah pembuatan naskah dengan menciptakan karakter yang sama dalam setiap pembuatan film hingga munculah beberapa stigma kepada para etnis. Stigma yang hadir sebetulnya sudah ada di masyarakat sejak lama, stigma itulah yang ditunjukkan dan semakin dipoles. Hingga pada akhirnya media massa, terutama media hiburan, akan menampilkan suku dan etnis sesuai dengan tujuan utama para industri media yaitu mendapat penonton dalam jumlah yang banyak agar usahanya dapat bertahan. Diskriminasi seperti yang dilakukan Ethnic Runaway sendiri tidak disadari mayoritas penontonnya karena adanya narasi-narasi seolah membenarkan diskriminasi itu seperti, “sekalipun tidak seperti kita…”, “bersyukur” dan ditutup dengan semangat nasionalisme

Umumnya media yang berpusat di kota Jakarta ini akan membandingkan segala nilai dan kebudayaan dengan nilai dan kebudayaan di kota Jakarta hingga lahirlah penilaian kebudayaan oleh masyarakat umum. Sayangnya sikap selalu membandingkan dengan kota Jakarta, penampilan primitif, stigma, diskriminasi, dan rasisme dalam media hiburan ini memengaruhi pemikiran masyarakat terhadap etnis dan suku pedalaman. Masyarakat akan mulai membandingkan suatu etnis dan kebudayaan suku dengan titik tolak media, yaitu kota Jakarta. Kota Jakarta menjadi superior dibandingkan wilayah di luar Jakarta, karena nilai kebenaran terletak di kebudayaan kota Jakarta. Meski demikian, penulis tidak menyimpulkan pandangan masyarakat terhadap Jakarta dan kota di luar Jakarta terutama suku dan etnis di pedalaman hasil murni konstruksi media, nyatanya masih banyak faktor eksternal lainnya seperti politik, ekonomi, sosial, dan historis sehingga terbentuknya pandangan tersebut. Hanya saja yang penulis tekankan adalah kesenjangan yang sudah ada ini dipoles secara berkala oleh media sehingga tugas media yang seharusnya menampilkan fakta dan informasi sesungguhnya terabaikan. Akibatnya para korban diskriminasi media ini akan terus terdiskriminasi, tereksploitasi, mendapat stigma oleh masyarakat umum, dan terus merasa di bawah bayang-bayang superior, yaitu Kota Jakarta.

Penelitian ini memiliki kekurangan yaitu tidak memerhatikan faktor eksternal lainnya seperti faktor historis, ekonomi, politik, dan sosial hingga terciptanya stigma dalam masyarakat dan pandangan “Jakarta” sebagai kota superior. Peneliti juga tidak memerhatikan faktor internal dari media massa seperti kewajiban untuk mempertahankan popularitas dan kurangnya biaya produksi yang didapatkan. Penelitian lanjutan dapat meninjau melalui faktor internal dan eksternal yang terabaikan dari penelitian ini.


[1] Women, U. N. (2018). Annual Report 2017–2018

[2] Lihat laporan penelitian yang dibuat Remotivi dan FIKOM Universitas Padjajaran melalui Melipat Indonesia Dalam Berita Televisi: Kritik dan Sentralisasi Penyiaran (2014)

[3] Indah Wulandari. “Trans TV Meminta Maaf Atas Tayangan “Primitive Runaway”. Remotivi. 29 Desember 2010. http://www.remotivi.or.id/kabar/138/trans-tv-meminta-maaf-atas-tayangan- diakses pada 12 Mei 2020.

[4] Gara Gara Gino https://www.youtube.com/watch?v=VlfzXoAvpul;

Mercy Milik Joko https://www.youtube.com/watch?v=Z-OHbeCbc1c;

Ada Cinta di Kampung Kambing https://www.youtube.com/watch?v=UmPmpbP9GhY;

Putri Manja Masuk Desa https://www.youtube.com/watch?v=9mpmVtXBf10;

Cintaku Antara Jogja – Jakarta https://www.youtube.com/watch?v=6QPYmZnex30 

[5] Lihat https://www.youtube.com/watch?v=pB9BQ4-B1lw&t=521s

[6] Lihat https://www.youtube.com/watch?v=cHFObA2AFHU&t=147s

[7] Merupakan hasil analisis Remotivi, tayangan tidak ditemukan di kanal youtube. https://www.remotivi.or.id/amatan/159/Ethnic-Runaway:-Mencintai-Indonesia-dengan-Jijik-(Bagian-I) Diakses pada 18 Mei 2020

[8] Tidak ditemukan informasi makanan khas Suku Kalende. Hanya menemukan Pakkat sebagai makanan khas menu berbuka di daerah Sumatera https://kumparan.com/sumutnews/pakkat-pucuk-rotan-muda-pemulih-stamina-saat-berpuasa-1r7CZWqbFz2/full Diakses pada 18 Mei 2020

[9] http://www.getborneo.com/umbut-rotan-makanan-unik-kalimantan/ diakses pada 18 Mei 2020

[10] Akhmad Muawal Hasan. “Kebun Binatang Manusia: Jejak Kelam Rasisme di Eropa & Amerika”. Tirto. 24 September 2018 https://tirto.id/kebun-binatang-manusia-jejak-kelam-rasisme-di-eropa-amerika-c11V diakses pada 18 Mei 2020

[11] Lihat Fotonya https://www.mongabay.co.id/2014/12/16/beginilah-perlakuan-pada-komunitas-polahi-di-gorontalo/ diakses pada 18 Mei 2020

Penulis

Maria Michelle Angelica – Biasa dipanggil sayang. Lahir pada Friday the 13th bulan 4. Punya hobi menyimpan kenangan berupa tulisan, foto, gambar, dan masa lalu. Punya bintang biri-biri. Hidup di dunia penuh ilusi-fiksi dan paradoks. Punya situs blog dari SD eh tapi dibajak ketika SMA jadi bermigrasi ke jangandibajak.wordpress.com, isinya kadang bisa dibilang sampah.

Jelajah Rasa Di Negeri Van Oranje

Raditya Baswara

            Bicara tentang kuliner Belanda, kira-kira apa yang terbesit dalam pikiran? Mungkin tidak jauh-jauh dari berbagai olahan kentang, produk susu, roti, sayur-mayur hingga buah-buahan. Komposisi tersebut tampak serupa dengan makanan di berbagai negara Eropa yang lain dengan mengutamakan nilai kesehatan di atas segalanya. Meski begitu, orang Indonesia mengenal makanan Belanda dari beberapa kudapan yang sering mereka makan sedari kecil, misalnya kastengel, kroket, kue sus hingga klapertart. Banyak orang kemudian bertanya-tanya, makanan jenis apa yang menjadi sebuah sajian kuliner otentik asli dari Belanda? Hal tersebut tidak bisa dipisahkan dari serangkaian proses historis yang panjang dalam membentuk cita rasa, yang secara kultural dikendalikan oleh kondisi sosial. Selama berabad-abad, budaya makan orang Belanda memang terkena pengaruh asing, terutama dari beberapa negara jajahannya yang mengakibatkan lahirnya kuliner campuran dalam perkembangannya. Sejarah kolonial dan arus imigrasi mampu membawa angin segar untuk menambah kekayaan dalam identitas rasa mereka. Budaya kuliner orang Belanda diimplementasikan dalam cerminan kehidupan keseharian mereka, namun hal tersebut di masa kini mulai sedikit tergerus dengan kehadiran berbagai makanan dari negara asing yang mulai “membludak”.

Selayang Pandang tentang Negeri Kincir Angin

Belanda adalah negara kecil di Eropa yang berbatasan dengan Jerman dan juga Belgia dengan luas 12,850 m2 yang menjadikannya sebagai negara berpopulasi cukup padat. Belanda juga terkenal akan keterbukaannya terhadap pengaruh luar dan hingga sekarang telah bertransformasi menjadi negara industrial modern (Gousdblom, 1968:5). Selain terkenal akan sistem pengairan dan pembangkit listrik mereka, sudah sejak lama Belanda unggul dalam bidang perdagangan, Dilihat dari sisi historis, munculnya VOC dan berbagai kongsi dagang mampu menjadikan sebuah citra kekayaan dan kekuatan tersendiri, terutama dalam hal identitas bangsa.

            Pekerjaan para penduduknya pun sangat beragam, mulai dari sektor agraria (pertanian, perkebunan dan perikanan), industri serta jasa-jasa (pemerintah, pendidikan, perdagangan, perusahaan ekonomi, jasa medis hingga angkutan). Dalam bidang perkembangan kuliner, sektor agraria memegang peran yang penting sebab produk-produk unggul yang dihasilkan sangat berpengaruh dalam pertumbuhan ekonomi dan kehidupan sehari-hari orang Belanda itu sendiri. Ternak sapi dikenal sebagai salah satu bidang dalam sektor agraria yang paling produktif, karena mampu menghasilkan berbagai olahan susu yang unggul seperti keju (kaas), mentega dan yogurt. Selain sapi, beberapa hewan unggas seperti sapi dan babi juga cukup populer untuk dikembangkan. Dari sektor pertanian, gandum (sebagai bahan dasar roti), kentang dan gula bit merupakan produk unggulnya. Sementara itu, perkebunan tomat dan beberapa buah-buahan lainnya juga ikut dikembangkan. Dari sektor perikanan, terdapat hasil tangkapan seperti kerrang, tiram dan udang (populer di daerah Oosterschelde), namun yang menjadi komoditas terpenting adalah ikan laut. Salah satu ikan laut yang populer dan kerap kali menjadi santapan orang Belanda adalah ikan hering (haring) yang diasinkan dan dimakan dalam keadaan mentah. Ikan ini seringkali dijual di pasar-pasar ikan dekat pelabuhan (Snoek, 1987:40, 53-55).

Menilik Sejarah Rasa

Mencari tahu asal mula penciptaan kuliner di Belanda terbilang cukup sulit, sebab tidak banyak dokumentasi yang dapat ditemukan. Menurut Karin Engelbrecht, seorang editor dan penulis tentang makanan Belanda, banyaknya pengaruh asing membuat makanan Belanda memiliki diversitas yang cukup signifikan. Para bangsa Kristen awal memberikan pengaruh mereka dalam bentuk budaya roti, salah satunya adalah krakelingen yang hingga sekarang menjadi salah satu makanan utama orang Belanda. Bangsa Romawi memberikan kontribusinya dalam memberikan rasa asin, gurih dan pedas dengan menggunakan lada hitan dan putih, rempah herbal, serta garam. Setelah Columbus melakukan kontak dengan Eropa setelah menemukan Amerika di tahun 1492, terjadi pertukaran produk-produk agrikultural yang intensif. Dari sini mulailah masuk tomat, kentang, kacang hijau, cabai, jagung, tembakau dan coklat.

            Di abad pertengahan, perkembangan kuliner di Belanda mulai membuahkan hasil yang signifikan, khususnya di dapur-dapur para aristokrat. Sebuah buku resep masakan tertua di tahun 1514 berhasil ditemukan dengan judul Een notabel boecxken van cokeryen (buku masakan paling terkemuka) yang ditulis oleh Thomas van der Noot di Brussel. Buku ini memberikan penggambaran mengenai tradisi gastronomi Belanda yang ternyata memiliki pengaruh dari Jerman, Inggris dan Perancis. Mulai dari sini, masa keemasan kuliner Belanda mulai terjadi yang ditandai dengan eksperimentasi bahan masakan menggunakan daging, minyak olive, rempah, sayuran, keju, kacang, wine hingga beraneka macam kudapan manis. Tentu saja, hanya para golongan elite atau pejabat pemerintah yang mampu menikmatinya. Sementara itu, golongan rendah tidak dapat menikmati hasil kerja keras mereka, malahan hanya dapat mengkonsumsi roti, kentang dan sayur.             Memasuki abad ke 17, perusahaan dagang multinasional Hindia Belanda atau VOC (Verenigde Oost-Indische Compagnie) berhasil menjadikan Belanda sebuah imperium yang kuat, meliputi beberapa daerah koloninya. Dengan pusatnya di Batavia, VOC berhasil menjalin hubungan dagang dengan India, Sumatera, Borneo, Maluku dan Jawa. Hal tersebut dibuktikan dengan masuknya produk-produk agraria ke negeri Belanda seperti kopi, gula, teh, beras, pala, cengkeh, kayu manis dan lainnya. Meski begitu, persediaan rempah-rempah tersebut hanya diperuntukkan oleh golongan elite saja, sebab harganya yang sangat mahal. Setelah VOC mengalami kebangkrutan, barang-barang tersebut dapat dikonsumsi oleh hampir seluruh masyarakat. Meski terdapat beragam jenis rempah yang masuk, namun makanan Belanda tetap mempertahankan nilai utamanya yaitu sederhana dan bergizi.

Belanda dan Makanannya

Secara umum, karakteristik kuliner tradisional Belanda sangatlah sederhana dengan proses memasak yang terhitung cepat. Masakan yang diciptakan dimaksudkan untuk menjaga tubuh dan pikiran tetap sehat. Komposisinya meliputi jumlah karbohidrat dan lemak yang tinggi dengan dilengkapi asupan dari produk-produk susu. Meskipun di era global seperti sekarang terdapat beberapa adaptasi yang dilakukan dengan masuknya berbagai makanan internasional serta pengaruh rempah-rempah Asia, namun itu semua disesuaikan dengan lidah orang Belanda itu sendiri dengan tetap mengutamakan nilai kesederhanaan sebagai simbol warisan kuliner mereka (Keasberry:2014).

            Menurut Jose van Mil dalam artikelnya yang berjudul Dutch Treat, budaya makan orang Belanda sebenarnya dipenuhi dengan aspek kebersamaan, baik dengan keluarga, kerabat atau teman-teman. Sarapan ala orang Belanda dilakukan secara bersama di rumah dengan menu wajibnya boterhammen (roti lapis) dan biskuit. Isiannya bisa berupa yang manis maupun gurih. Isian manisnya seperti hagelslag (potongan coklat), appelstroop (sirup apel) dan selai kacang. Sementara itu, isian gurihnya meliputi keju, sosis, ham, serta telur. Sarapan bisa ditemani dengan segelas susu, teh, maupun kopi. Sekarang ini, beberapa anak-anak lebih menyukai makanan seperti sereal dan buah-buahan yang lebih instan dan cepat. Memasuki jam makan siang, makanan yang biasa dimakan terbilang cukup sederhana. Roti tangkap dengan isian keju dan sedikit mentega susu ditemani sedikit buah. Beberapa pilihan makan siang ala Belanda meliputi, broodje bal (semacam bakso daging), sup maupun salad. Sebelum makan malam tiba, beberapa orang Belanda khususnya pria menyukai borreltje atau minuman beralkohol yang meliputi bir, vodka, gin, wine dan whisky. Biasanya ditemani dengan kudapan ringan seperti keripik kentang, kacang, keju dan sosis. Ketika makan malam tiba, lagi-lagi mereka biasanya menikmati bersama di rumah yang diawali dengan erwtensoep atau sup kacang yang berisi bawang bombay, wortel, sosis dan ham. Menu utamanya bisa berupa stamppotten, yaitu olahan berbahan dasar kentang yang ditumbuk dengan isian daun kale, sosis serta ham ataupun hutspot yang merupakan rebusan campuran kentang tumbuk, wortel dan disertai daging. Sebagai makanan penutup, mereka menyukai appeltaart (pie apel), pannenkoeken (panekuk dengan tambahan buah dan kayu manis) serta poffertjes (bahan dasarnya mirip seperti panekuk, namun berbentuk seperti bola dan diberikan taburan gula halus). Secara umum, kaum perempuan masih memegang peran penting di dalam kehidupan kuliner rumah tangga, dari mulai berbelanja di pasar hingga memasak di dapur. Tiga kombinasi bahan utama wajib yang harus ada di meja makan meliputi kentang, sayuran dan daging karena dianggap sangat cocok untuk kesehatan.

Sentuhan Indonesia dalam Kuliner Belanda

Belanda dan Indonesia memang menjalin suatu hubungan yang spesial, selain karena adanya faktor historis dimana Indonesia pernah menjadi salah satu daerah koloni Belanda, namun jauh dari itu beberapa pengaruh dari negeri rempah tersebut mampu melekat dalam kehidupan orang Belanda hingga sekarang, khususnya dalam ranah kuliner. Jika ditarik garis ke belakang, keunggulan VOC di kala itu dalam menjalin hubungan dagang dengan beberapa daerah di Indonesia memang membawa banyak aspek positif, khususnya dalam membawa berbagai macam jenis rempah ke tanah Belanda yang secara tidak langsung mampu membentuk selera mereka. Para perempuan Belanda yang kembali pulang setelah masa kolonial telah usai membawa pula berbagai buku masak Hindia (Indishe keuken) untuk diperkenalkan. Beberapa karya buku resep yang terkenal antara lain Kokki Bitja karya Cornelia, Indische Kookboek karya Gerardina Gallas Haak-Bastiaanse hingga Groot Niuw Volledig Indish Kookboek karya gastronom terkemuka awal abad ke-20 Catenius-van der Meijden, Rupanya, budaya menulis resep di Belanda dipengaruhi oleh tradisi gastronomi di Perancis. Secara tidak langsung, penyebaran buku masak ala Indonesia tersebut juga mempengaruhi terbentuknya ciptaan kuliner baru di Belanda, walaupun tidak dapat dipungkiri bahwa perkembangan restoran Indonesia di Belanda juga cukup pesat (Rahman, 2018:45).             Beberapa contoh bentuk kuliner Belanda yang dipengaruhi cita rasa Indonesia antara lain, Satekroket yang merupakan sebuah jajanan pinggir jalan layaknya kroket pada umumnya (kentang dan daging cincang yang dibalur tepung lalu digoreng), namun diberikan bumbu saus kacang di dalamnya. Lalu, ada Nasibal yang merupakan kudapan ringan dan dapat diperoleh dari mesin penjual otomatis di jalanan, konsepnya sama seperti kroket namun isian di dalamnya adalah nasi goreng. Bamischijf, merupakan jajanan ringan yang seringkali dijumpai di supermarket karena termasuk makanan beku dan terbuat dari bakmi goreng yang dilumuri tepung kemudian di goreng kering. Terakhir adalah Rijsttafel yang cukup banyak dapat ditemui di kota-kota besar Belanda. Ini merupakan suatu jamuan makan yang diciptakan Belanda ketika masa kolonial, namun tetap dilestarikan hingga sekarang. Budaya makan ini di adaptasi dari cara makan orang Padang yang memiliki beragam menu di atas meja makan. Meskipun sebutannya dalam Belanda yang berarti “nasi diatas meja”, namun seluruh makanannya meliputi kuliner Indonesia yang lengkap, termasuk sambal, kudapan ringan, sayur, daging hingga kerupuk. Tidak heran, hingga sekarang cita rasa kuliner Indonesia masih membekas di hati para orang Belanda.

Kuliner Sebagai Identitas Kultural Orang Belanda

Setelah berjalannya waktu, terjadi perkembangan yang signifikan terhadap gaya hidup kuliner di Belanda, khususnya ketika beragam makanan asing masuk. Budaya makan pun mengalami perubahan yang di dasari atas  faktor sosial, politik dan ekonomi. Sekitar tahun 1930an, beberapa imigran dari Cina mulai tinggal di Belanda dan membuka restoran Cina disana. Setelah Perang Dunia II usai dalam rentang waktu di tahun 1940 sampai 1950, terjadi arus imigrasi yang begitu besar dari orang Indonesia ke Belanda (Salzman, 1986:615). Tidak lama setelah itu, disusul pula imigrasi dari negara Yugoslavia, Polandia dan Yunani yang menjadi pekerja tambang batu bara. Sekitar tahun 1960an, orang Italia, Spanyol dan Portugal mulai masuk Belanda untuk bekerja dalam bida perindustrian. Tidak lama setelah itu, masuk pula para orang Turki dan Maroko yang pada saat yang sama turut membawa pengaruh kuliner mereka. Kondisi ini mampu menjadikan suatu revolusi kuliner di Belanda, karena dalam rentang waktu yang begitu cepat berbagai negara tumpah ruah hidup disini dengan membawa budaya mereka masing-masing, khususnya kuliner ke dalamnya.

            Di masa kini, terlebih setelah era globalisasi memuncak tidak sulit menemukan restoran-restoran dari negara lain di Belanda misalnya, Italia, Meksiko, Jepang, Thailand, Vietnam, Cina, Turki hingga Suriname. Lantas, apa hubungannya dengan makanan tradisional Belanda itu sendiri? Menurut seorang antropolog bernama Zdzislaw Mach dalam observasinya terkait dengan makanan Belanda, restoran yang secara formal menyajikan makanan otentik Belanda terhitung sangat jarang, bahkan jumlahnya sedikit. Hal tersebut diakibatkan karena makanan tradisional tersebut dapat ditemukan dalam keluarga atau keseharian orang Belanda sebagai bentuk warisan budaya makan. Hal itu pula yang menjadikannya sebuah bentuk preservasi kuliner dengan cara mewariskan resep secara turun temurun di dalam keluarga. Rata-rata hampir semua orang Belanda mengetahui bagaimana memasak makanan tradisional mereka karena telah menjadi konsumsi sehari-hari, sehingga jarang untuk ada di restoran.

            Kebiasaan “makan di luar” pada awalnya memang tidak begitu populer, sebab mereka akan melakukan hal tersebut pada hari-hari atau perayaan tertentu saja, selebihnya pasti akan menghabiskan waktu bersama dengan keluarga (Van Mil, 2004:104). Setelah beragam restoran asing mulai menjalar, kebiasaan ini mulai dilakukan secara cukup sering. Dampak jangka dekatnya memang tidak begitu terlihat, namun jika dilihat secara menyeluruh untuk ke depan fenomena ini bisa saja mengancam eksistensi dan pengembangan makanan tradisional Belanda itu sendiri, akibat serbuan restoran mancanegara yang cukup besar sebagai akibat dari budaya massa kuliner internasional yang mulai menjamur di berbagai daerah.             Khazanah kuliner tradisional Belanda dapat dikatakan memiliki diversitas yang tinggi serta varian jenis yang beragam pula. Hal tersebut bisa dilihat dari serangkaian proses sejarah yang menarik dan menjadi titik temu peleburan pengaruh-pengaruh asing di kuliner Belanda, sehingga mampu merekonstruksi cita rasa yang tersaji. Diversitas ini mampu menjadikannya hal yang positif dalam memperkuat identitas kultural dan menjadi bukti bahwa Belanda secara umum dapat menerima pengaruh-pengaruh asing, namun jika hal tersebut tidak dijaga malah akan mengancam keberlangsungan dan kelestarian makanan-makanan otentik tersebut. Terlebih, masuknya beragam makanan asing yang menjadikan seakan akar makanan Belanda telah hilang ditelan bumi. Butuh kesadaran berbagai pihak, khususnya masyarakat Belanda sendiri untuk dapat mengangat warisan kulinernya menjadi hal yang patut dibanggakan atau malah sejajar dengan gempuran kuliner asing tersebut. Dengan bantuan media dan komunitas-komunitas pecinta kuliner lokal, menurut saya makanan tradisional Belanda akan bertahan sampai kapanpun dengan cerita-cerita menariknya yang siap untuk dibagikan dan diteruskan dari generasi ke generasi. Tidak lupa, sebuah kata yang diucapkan ketika sebuah makanan telah tersampaikan, eet smakelijk! (selamat menikmati!)

Referensi

Engelbrecht, K. (2019, March 22). Dutch Food: What Is a Typical Dutch Meal? Retrieved from The Sprice Eats: https://www.thespruceeats.com/what-is-a-typical-dutch-meal-1128383

Engelbrecht, K. (2019, July 29). Exploring Dutch Food: Culinary Influences on the Dutch Kitchen. Retrieved from The Spruce Eats.

Engelbrecht, K. (2019, April 12). Exploring Dutch Food: The History of Dutch Food. Retrieved from The Spruce Eats: https://www.thespruceeats.com/the-history-of-dutch-food-1128376

Goudsblom, J. (1968). Dutch Society. New York: Random House.

Keasberry, J. (2014, October 22). News: Indo Dutch Food Culture. Retrieved from Cooking with Keasberry (Dutch Indonesian Heritage Cuisine): https://keasberry.com/news/indo-dutch-food-culture-101/

Mach, Z. (1986). The Dilemma of Dutch Food — Some Observations. Etnofoor, 109-112.

Mil, J. v. (2004). Dutch Treat. Gastronomica, 4, 100-104.

Rahman, F. (2018). Kuliner Sebagai Identitas Keindonesiaan. Jurnal Sejarah, 2, 43-63.

Salzman, C. (1986). Continuity and Change in the Culinary History of the Netherlands, 1945-75. Journal of Contemporary History, 21.

Setyorini, T. (2015, September 3). gaya: Ini 5 makanan Belanda yang terpengaruh kuliner Indonesia. Retrieved from merdeka : https://www.merdeka.com/gaya/ini-5-makanan-belanda-yang-terpengaruh-kuliner-indonesia.html

Snoek, K. (1987). Nederland Leren Keren (Mengenal Masyarakat Belanda). Jakarta: Djembatan.

Hibriditas Kebudayaan dalam Konteks Keindonesiaan

Abiyyi Yahya Hakim

Kebudayaan kontemporer telah mengarahkan kebudayaan itu sendiri kepada dekonstruksi. Piliang (2009) dalam Retakan-retakan Kebudayaan mengulas diskursus tersebut. Sebutnya, ada persoalan tentang batas identitas dalam kebudayaan, yang mengarah kepada kecenderungan percampuran, persilangan, dan hibridisasi kebudayaan. Sebagaimana permulaan mata kuliah Multikulturalisme, identitas sebagai dasar menjadi penentu segala sikap terhadap budaya, yang dihadapkan pada budaya lainnya, juga individu yang dihadapkan pada banyak individu lainnya.

Selalu terjadi persoalan ketika ada perubahan baru, dalam konteks ini contohnya kecenderungan percampuran, persilangan, dan hibridisasi kebudayaan yang kemudian merusak tatanan batas (limit) dan tapal batas (border) yang telah lama dianggap kokoh. Maka untuk menganggap hal ini bukan sebuah hal baru, kita perlu melihat lebih jauh bagaimana sebenarnya kebudayaan yang kita anggap kokoh itu merupakan hasil percampuran pada masa lampau. Namun tidak disangkal juga terdapat batas (limit) dalam kemampuan melihat ke belakang (masa lampau).

Hibriditas budaya sebagai produk di antara kebudayaan mainstream, seperti disebutkan Humaedi (2013), biasanya terjadi karena hubungan sosial atau perkawinan silang budaya. Hibriditas tersebut kemudian diwujudkan dalam praktik kebudayaan masyarakat, seperti bahasa, upacara siklus kehidupan, dan pandangan hidup. Dan Humaedi membahas hal tersebut pada konteks masyarakat Cirebon. Kebudayaan Cirebon telah dikenal sebagai hibridisasi antara budaya Jawa dan Sunda. Disebabkan oleh geografisnya yang berada di persimpangan interaksi Jawa dan Sunda, Cirebon lahir sebagai budaya hibrida tersendiri.

Contoh pada kebudayaan Cirebon tentu hanya satu di antara banyak kasus persimpangan kebudayaan, seperti Melayu Pasisi di Sibolga yang berbeda dengan mainstream Batak maupun Melayu, masyarakat Enrekang di persimpangan Bugis dan Toraja, bahkan Betawi sebagai masyarakat diartikan sebagai penduduk Batavia, di mana ketika itu (abad ke-17) sudah menjadi wilayah heterogen. Kemudian heterogenitas makin marak pada era globalisasi ini, dengan mobilitas dan akses informasi yang nyaris tak terhingga.

Sebenarnya jika ingin melihat lagi dunia yang lebih luas dan jauh, sebagaimana seringkali menjadi pembahasan di kuliah Multikulturalisme, masyarakat di negara Barat atau wilayah yang lebih heterogen sudah menghadapi percampuran atau hibriditas yang lebih lama dan luas. Perkawinan antarbudaya sudah lebih maklum dilihat. Third culture kids yang dihadapi sudah tidak lagi sebagai hasil persilangan antaretnis, namun antarnegara.

Tentu kita tidak bisa melakukan generalisasi dengan penglihatan kita terhadap masyarakat Barat sebatas perkawinan pada selebritas yang kita kenal. Bukan tidak ada di antara mereka (masyarakat Barat) yang menikah dengan orang di negaranya. Cara ini kita pakai untuk melihat konteks keindonesiaan di mana perkawinan antarbudaya sudah marak di antara perbedaan etnis atau suku, yang menghasilkan jawaban pada pertanyaan, “Bapak saya orang Jawa, ibu saya orang Minang, saya sih lahir di Bandung,” dibandingkan jawaban tegas, “Saya orang Jawa.” Namun bukan berarti pada masyarakat dengan mobilitas rendah masih sedikit adanya percampuran budaya.

Konteks keindonesiaan yang dibicarakan dalam tulisan ini mengarahkan cara pandang kepada konsep batas (limit) dalam multikulturalisme di Indonesia yang disesuaikan dengan daerahnya. Seperti kita melihat heterogenitas di Jakarta yang akan melihat interaksi masyarakat dari seluruh Indonesia; kemudian di Maluku tentang adanya keseimbangan jumlah muslim dan penganut Kristen; atau bahkan di Aceh di mana muslim sangat menjadi mayoritas (98,2% hasil SP 2010), mungkin intensitas interaksi masyarakatnya dengan liyan (the others) lebih sedikit.

Maka konteks keindonesiaan pada multikulturalisme berbicara tentang perbedaan tingkat keragaman di masing-masing daerah di Indonesia, dan berdasar pada demografi. Karena itu kemudian kita akan memahami survei dari Setara Institute yang menghasilkan Singkawang, Salatiga, dan Pematang Siantar sebagai tiga kota paling toleran (2018). Sedangkan Tanjung Balai, Banda Aceh, dan Jakarta (83% muslim, SP 2010) sebagai tiga dengan skor terendah.

Tentu demografi bukan menjadi faktor tunggal dalam tingkat toleransi masyarakatnya, hanya saja kita dapat memperkirakan ‘keterbiasaan’ masyarakatnya untuk berinteraksi dengan liyan. Seperti, bagaimana batas keterbukaan orang Indonesia terhadap keragaman agama? Selain konstruksi kenegaraan yang menerima 6 agama serta penghayat kepercayaan, demografi tersebut menggambarkan agama dan kepercayaan masyarakat Indonesia, yang mungkin pada konteks India akan ada keragaman terhadap Sikh, atau dalam masyarakat Arab ada dikotomi Sunni dan Syiah.

Melihat pengalaman demografi seiring dengan membuka pikiran mengenai keragaman akan mengarahkan kepada penentuan sikap atau kebijakan yang lebih kontekstual sesuai dengan keadaan. Bahwa melihat keragaman dan menerapkan cara pandang multikulturalisme di Jakarta akan berbeda dengan di Aceh, sebagaimana multikulturalisme di Indonesia akan berbeda dengan di Malaysia. Kemudian, masih bisa ditarik lebih luas lagi kepada dikotomi Timur dan Barat pada tingkat global.

Supaya kembali lagi pada awal pembahasan mengenai kebudayaan kontemporer dan keruntuhan batas (limit) dan tapal batas (border), Piliang (2009) mengatakan bahwa persoalan tersebut (limit dan border) merupakan isu sentral dalam perdebatan mengenai kebudayaan kontemporer, dan akan menentukan perkembangannya di masa datang. Maka kemudian dasar demografi yang dijelaskan di atas akan terus bergerak dikarenakan mobilitas masyarakat. Kekokohan demografi akan terbarui lagi seiring waktu (hasil SP 2020 belum keluar, dan segala perubahan lainnya).

Sesuai dengan pertanyaan Piliang (2009) mengenai keterbatasan dan ketakberhinggaan, di antara keduanya apakah memiliki batas, atau malah sangat tak terhingga? Pada penjelasan mengenai hibridisasi budaya yang terjadi tidak hanya baru-baru ini, menghasilkan cara pandang kita yang tidak bisa menentukan siapa yang benar-benar ‘asli’, sebagai pemilik gen tanpa hibridisasi atau pemukim asli suatu geografis. Namun apakah fenomena tersebut mengarah kepada tak terhingga, sehingga kebudayaan itu benar-benar dinamis dan tanpa batas, sehingga yang perlu kita bicarakan hanya fleksibilitas budaya, bukan kebertahanan budaya?

Seperti dikatakan Humaedi (2013) soal pemahaman mengenai hibriditas budaya, kita akan memahami bahwa budaya hibrida adalah suatu produk di antara budaya mainstream. Budaya hibrida ditempatkan seakan menjadi budaya marginal, seperti konteks Cirebon yang berada di antara budaya mainstream Sunda dan Jawa Koek dan Jawa Reang. Jawa ‘pinggiran’ ini kemudian akan menjadi budaya marginal juga ketika dihadapkan pada konsentris Jawa Tengahan dan Yogyakarta. Untuk kemudian bisa kita lihat lagi menjadi setiap budaya daerah bisa menjadi marginal pada konteksnya ketika dihadapkan dengan konsentris dan dominasi yang lebih besar.

Kemampuan melihat kasus kepada konteks yang lebih luas dan besar tersebut juga pengaruh dari globalisasi. Kita jadi melihat kemungkinan budaya Cirebon akan menjadi mainstream pula ketika mulai muncul masyarakat yang tidak ‘benar-benar’ Cirebon. Orang Jakarta pun sekarang tidak lagi orang Betawi, bahkan dihadapkan pada sebagian yang merupakan hibrida Indonesia dengan negeri luar. Semua ini menjadi fenomena yang sangat kompleks.

Konsep Robertson (2001) cukup menarik, yang mengatakan produk akhir dari globalisasi budaya adalah campuran kompleks antara homogenisasi budaya global dan heterogenisasi budaya lokal. Konsep ini merupakan skenario hibridisasi dari tiga skenario (the Three H scenarios) yang ditawarkan oleh Larasati (2018). Maka dari sini disimpulkan hibriditas—juga globalisasi, adalah suatu kompleksitas. Tidak menutup kemungkinan budaya hibrida individu malah akan menjadi budaya mainstream di masa depan. Tetapi apakah itu berarti akan meruntuhkan budaya geografis?

Pembicaraan mulai mengarah kepada ketakterbatasan (borderlessness). Globalisasi memang telah menawarkan ketakterbatasan akses mobilitas dan informasi, namun yang perlu dipahami lagi adalah jangkauan akses tersebut yang berbeda pada tiap konteks. Inilah yang kemudian membatasi konsep keragaman. Seperti konsep di atas, bahwa campuran antara keseragaman dan keberagaman telah menjadi hasil dari globalisasi. Dan bisa jadi kita tidak bisa menyeragamkan pandangan mengenai keberagaman itu karena keduanya bercampur pada konteksnya masing-masing.

Maka apakah kita akan berbicara tentang perluasan wawasan yang tak terbatas, seperti ketika kuliah terakhir Multikulturalisme mengenai seandainya budaya bumi dihadapkan oleh budaya di luarnya dan menuntut interaksi serta toleransi lagi. Secara konteks, kita belum menghadapi itu. Sebagaimana masyarakat bermobilitas dan interaksi rendah belum menghadapi hibriditas antarbudaya. Namun secara keterbukaan pikiran, mungkin hal ini akan kontekstual pada waktunya.

Kembali lagi pada kuliah Multikulturalisme, sebuah ruang diskusi yang sangat terbuka. Keterbukaan ini tidak sekadar melihat keragaman identitas peserta kuliah, namun juga adanya keragaman pemikiran. Itulah mengapa cara Dr. Suzie Handajani menggiring diskusi dalam kuliah seringkali berkisar pada diskusi pemikiran dan pengalaman para peserta kuliah. Diawali dengan pertanyaan identitas, penyadaran realita keragaman, dan pembukaan pikiran, pada akhirnya kuliah disimpulkan dengan pertanyaan retorika, pertanyaan yang tidak akan dijawab saat ini juga, namun untuk dipikirkan bersama. Pada akhirnya, jika multikulturalisme adalah tentang cara pandang, maka pandangan ini akan diterapkan menjadi sikap. Yaitu tentang bagaimana sikap kita menghadapi hibriditas atau percampuran. Sikap ini bisa kita terapkan dengan keterbukaan pikiran. Secara konteks, bisa jadi kita belum menghadapi keragaman tanpa batas—dan adakah ketakterbatasan itu? Namun secara keterbukaan pikiran, pikiran kita bisa dibuka melayang jauh, membayangkan ketakterbatasan.

Referensi

Humaedi, M. Alie. 2013. “Budaya Hibrida Masyarakat Cirebon” dalam Jurnal Humaniora Vol. 25 No. 3. Jakarta: LIPI

Larasati, Dinda. 2018. “Globalisasi Budaya dan Identitas: Pengaruh dan Eksistensi Hallyu (Korean-Wave) versus Westernisasi di Indonesia” dalam Jurnal Hubungan Internasional Tahun XI No. 1.

Piliang, Yasraf Amir. 2009. “Retakan-retakan Kebudayaan: Antara Keterbatasan dan Ketakberhingaan” dalam Jurnal Melintas Vol. 25 No. 1. Bandung: Institut Teknologi Bandung Robertson, R. (2001). “Globalization Theory 2000+: Major Problematics” in G. Ritzer, B. Smart (Eds), Handbook of Social Theory (pp. 458-471). London: SAGE Publications

Penulis

Mahasiswa antropologi, suka membaca dan menulis, sambil menyajikan hasil foto apik. Meminati agama, lingkungan, dan budaya. Seorang penyeduh kopi rumahan, akan senang bercerita sambil ngopi. Tulisan pribadi ada di abiyyiyh.blogspot.com, laman foto bisa dilihat di Instagram @abiyyi_yh, dan kita bisa kenal di mana saja.

Tiara Putri Ramadanti

Photo by SevenStorm JUHASZIMRUS from Pexels

Sebelum menelisik lebih dalam, mari cari tahu bersama tentang apa itu Biennale Jogja. Biennale Jogja (BJ) adalah salah satu acuan utama dalam meninjau perkembangan seni rupa Indonesia. Sejarah kegiatan seni rupa dapat ditelusuri sejak penyelenggaraannya yang pertama pada 1988 di Yogyakarta. Selama lebih dari dua dasawarsa, rangkaian pameran BJ telah memberikan dampak pada munculnya karya-karya, sosok seniman dan wacana yang mewarnai perkembangan seni rupa kontemporer di Indonesia dan Yogyakarta khususnya.

Biennale Jogja diselenggarakan oleh Yayasan Biennale Jogja yang berdiri pada 23 Agustus 2010 dengan misi untuk menginisiasi dan memfasilitasi berbagai upaya mendapatkan konsep strategis perencanaan kota yang berbasis seni-budaya, penyempurnaan blue print kultural kota masa depan sebagai ruang hidup bersama yang adil dan demokratis. YBY juga berfokus pada pengembangan dan pengelolaan kekayaan budaya sebagai upaya untuk membangun dan mengoptimalkan seluruh potensi kreativitas dari manusia-manusia pencipta karya budaya maupun pemanfaatan seluruh aset budaya yang telah ada di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.

Melihat begitu kompleksnya fokus YBY dalam mengelola acara Biennale ini, tentu saja tidak terlepas dari bantuan pihak lain. Adil dan demokratis—katanya. Membaca adanya kata “Demokratis” dalam narasi misi Yayasan Biennale Jogja langsung mengarahkan saya berpikir tentang bentuk demokratis seperti apa yang dimaksud. Apakah keterlibatan masyarakat atau bantuan dari pihak lain yang sudah saya singgung di awal cukup mampu membuatnya pantas disebut demokratis?—mungkin, namun jika membahas tentang bagian yang Adil, nampaknya agak sukar. Saya berusaha merangkum perspektif yang dihasilkan dari kunjungan pribadi saya ke tiga instalasi seni Biennale di adakan. Taman Budaya Yogyakarta, Jogja National Museum, dan Kampung Ketandan agaknya mampu menunjukkan bahwa acara sebesar Biennale Jogja XV Equator #5 ini tidak terlepas dari peran volunteer. Terdapat 55 Penjaga Pameran, 15 LO Seniman Asean, 6 LO Seniman Indonesia, 10 Media / Penulis / Merchandise, dan 8 Hospitality yang tersebar di berbagai lokasi instalasi seni Biennale diadakan. Lalu bagaimana bisa gambaran patron klien muncul dalam bidang seni semacam ini? Jangan salah—ada sistem kerja yang menunjukkan lakon patron klien berperan penting.

Hubungan Patron-Klien

Istilah ‘patron’  berasal dari ungkapan bahasa Spanyol yang secara etimologis berarti ‘seseorang yang memiliki kekuasaan (power), status, wewenang dan pengaruh’,  sedangkan klien berarti ‘bawahan’  atau orang yang diperintah dan yang disuruh (Usman, 2004:132). Teori ini hadir untuk menjelaskan bahwa di dalam sebuah interaksi sosial—termasuk pameran karya seni, masing-masing aktor melakukan hubungan timbal balik. Hubungan ini dilakukan baik secara vertikal (satu aktor kedudukannya lebih tinggi) maupun secara horizontal (masing-masing aktor kedudukannya sama). Dalam persoalan patron-klien dalam Biennale ini, menurut saya merujuk kepada hubungan patron-klien yang bersifat vertikal antara si kurator dan volunteer.

Dalam memahami hubungan patron klien, ada satu hal penting yang mendasari hubungan ini. Hubungan patron kilen berawal dari adanya pemberian barang atau jasa dalam berbagai bentuk yang sangat berguna atau diperlukan oleh salah satu pihak, sementara bagi pihak yang menerima barang atau jasa tersebut berkewajiban untuk membalas barang tersebut (Scott: 1992, 91-91, dalam Pahrudin: 2009). Dalam patron klien, hubungan dibangun tidak berdasarkan pemaksaan atau kekerasan. Hubungan ini identik terjadi dalam bentuk hubungan pertemanan atau hubungan yang sama-sama menguntungkan (simbiosis mutualisme).

Padahal jika diperhatikan secara lebih mendalam mengenai hubungan patron-klien akan ditemukan sebuah kenyataan bahwa bukankah hubungan tersebut tidak akan terjadi kalau masing-masing pihak yang terlibat tidak diuntungkan. Atau dalam ungkapan lain dapat dikatakan bahwa hubungan semacam ini dapat terus berlangsung dalam kurun waktu yang lama karena para pelaku yang terlibat di dalamnya mendapatkan keuntungan. Dalam buku yang di tulis oleh Heddy Shri Ahimsa-Putra, saya juga mendapatkan penjelasan mengenai hubungan patron-klien yang nampaknya juga saya temukan dalam pameran Biennale ini. Dari beberapa penjelasan mengenai hubungan patron-klien, menurut saya penjelasan dari James C. Scott adalah yang paling sesuai dengan konteks tulisan ini, ia mengatakan bahwa hubungan patron-klien adalah

“… a special case of dyadic (two person) ties, involving a largely instrumental friendship in which an individual of higher socioeconomic status (patron) uses his own influence and resources to provide protection or benefits or both, for a person of a lower status (client) who for his part reciprocates by offering general support and assistance, including personal services, to the patron” (1972: 92)

Agar hubungan ini dapat berjalan dengan mulus, diperlukan adanya unsur-unsur tertentu di dalamnya. Unsur pertama adalah bahwa apa yang diberikan oleh satu pihak adalah sesuatu yang berharga di mata pihak yang lain, entah pemberian itu berupa barang ataupun jasa dan bisa berbagai ragam bentuknya. Dengan pemberian ini pihak penerima merasa mempunyai kewajiban untuk membalasnya, sehingga terjadi hubungan timbal-balik, yang merupakan unsur kedua dalam relasi patron-klien.

Adanya unsur timbal-balik inilah, kata Scott, yang membedakannya dengan hubungan yang bersifat pemaksaan (coercion) atau hubungan karena adanya wewenang formal (formal authority). Selain itu hubungan patronase ini juga perlu didukung oleh norma-norma dalam masyarakat yang memungkinkan pihak yang lebih rendah kedudukannya (dalam hal ini adalah si volunteer sebagai klien) melakukan penawaran, artinya bilamana salah satu pihak merasa bahwa pihak lain tidak memberi seperti apa yang diharapkannya, dia dapat menarik diri dari hubungan tersebut tanpa terkena sanksi samasekali. Lebih jauh Scott juga mengemukakan bahwa hubungan patronase ini mempunyai ciri-ciri tertentu yang membedakannya dengan hubungan sosial lain. Pertama, yaitu terdapatnya ketidaksamaan (inequality) dalam pertukaran; kedua, adanya sifat tatap-muka (face-to-face character), dan ketiga adalah sifatnya yang luwes dan meluas (diffuse flexibility).

“… there is an imbalance in exchange between the two partners which expresses and reflects the disparity in their relative wealth, power and status. A client, in this sense, is someone who has entered an equal exchange relation in which he is unable to reciprocate fully. A debt of obligation binds him to the patron.” (1972:93)

Letak Patron-Klien Dalam Biennale

Acara Biennale yang bertaraf internasional ini tentu saja membutuhkan banyak bantuan dari pihak lain. Selain ada pendukung utama, mitra media, dan venue, Biennale juga tidak bisa menghiraukan peran para volunteer terhadap kesuksesan acara ini. Sempat saya sebutkan di awal, terdapat 55 Penjaga Pameran, 15 LO Seniman Asean, 6 LO Seniman Indonesia, 10 Media / Penulis / Merchandise, dan 8 Hospitality yang tersebar di berbagai lokasi instalasi seni Biennale diadakan. Dalam perihal ini, saya akan membahas representasi patron-klien antara tim kurator Biennale dengan volunteer divisi exhibition guide atau penjaga pameran sesuai dengan hasil wawancara atau perbincangan dengan beberapa exhibition guide pada kunjungan ketiga saya di Biennale JNM.

Exhibition guides and demonstrators help to educate visitors about a particular place or object. It is their role to bring to life a certain scenario or item, and to put it into the relevant context (Creative & Cultural Skills, 2019).

Mari kita sebut saja si exhibition guide berfungsi sebagai muka dari pameran itu sendiri. Pasalnya banyak pengunjung yang tidak segan-segan mengajukan beberapa pertanyaan kepada exhibition guide dengan harapan mendapatkan penjelasan tentang suatu karya yang ia tanyakan. Melalui jawaban yang dilontarkan oleh si exhibition guide, akan nampak seberapa luas informasi yang dimilikinya terkait karya yang sedang dipamerkan—cukup krusial ya.

Untuk bisa ikut andil dalam acara Biennale ini khususnya menjadi seorang exhibition guide tentu telah melalui sistem seleksi hingga memasuki tahap lolos. Pada tahapan seleksi ini, representasi patron-klien belum terlihat, gambaran relasi ini nampak ketika muncul nama-nama yang sudah pasti menjadi volunteer dalam acara Biennale ini.

Jangan lupa, di dalam patron klien hubungan dibangun tidak berdasarkan pemaksaan atau kekerasan. Sehingga volunteer bebas ingin masuk ke dalam divisi kerja apapun, asalkan sesuai dengan persyaratan yang ada untuk lanjut ke tahap berikutnya. Hubungan ini identik terjadi dalam bentuk hubungan pertemanan atau hubungan yang sama-sama menguntungkan.

Saling menguntungkan—mungkin itulah kata yang sesuai untuk menggambarkan relasi yang satu ini. Volunteer dan tim kurator sama-sama diuntungkan dalam simbiosis mutualisme yang ada. Pasalnya tim kurator yang hanya beranggotakan tiga orang yaitu Arham Rahman, Akiq AW, dan Penwadee Manont mustahil bisa melakukan semua urusan mulai dari menjadi penjaga pameran, LO seniman, media, penulisan, merchandise, hingga hospitality tanpa bantuan dari volunteer.

Lalu apa yang didapatkan Volunteer khususnya Exhibition Guide? Sebagaimana yang kita ketahui, unsur pertama dalam relasi patron-klien ini adalah apa yang diberikan oleh satu pihak adalah sesuatu yang berharga di mata pihak yang lain. Mengacu pada pernyataan tadi, tentu saja pihak kurator Biennale sudah melakukan penawaran tentang sesuatu yang berharga kepada volunteer hingga si volunteer tersebut rela mengikuti tahapan seleksi sampai dinyatakan lolos.

Uang sebagai gaji?—tak hanya sebatas materi, beberapa exhibition guide yang sempat saya wawancarai mengaku bahwa dengan menjadi volunteer dalam acara Biennale ini banyak pengalaman dan pembelajaran yang diambil. Memperluas relasi dalam acara bertaraf internasional juga sempat terucap. Selain itu, ternyata ada kesamaan jawaban dari kedua narasumber saya, mereka berdua sama-sama mahasiswa tingkat akhir dan merasa dengan menjadi seorang volunteer di divisi exhibition guide mampu mengisi waktu luangnya.

Unsur yang tak kalah penting dari sebuah pemberian barang berharga adalah adanya rasa timbal-balik yang juga berperan besar dalam hubungan patron-klien antara tim kurator dan volunteer. Adanya unsur timbal-balik inilah, kata Scott, yang membedakannya dengan hubungan yang bersifat pemaksaan (coercion) atau hubungan karena adanya wewenang formal (formal authority).

Memang hubungan timbal-balik yang berjalan terus dengan lancar akan menimbulkan rasa simpati (affection) antar kedua belah pihak, yang selanjutnya membangkitkan rasa saling percaya dan rasa dekat. Menurut pengakuan narasumber saya, Agung—pria yang sedang berkuliah semester lima di Universitas Sanata Dharma itu kerap kali berkoordinasi dengan tim produksi, walaupun posisinya dalam acara Biennale ini adalah sebagai exhibition guide, karena relasi yang terjalin dengan baik dan berjalan lancar maka muncul rasa saling percaya dan rasa dekat di antara mereka, hingga akhirnya Agung dipercaya untuk menjadi koordinator volunteer di Jogja National Museum. Meskipun begitu, peran Agung sebagai koordinator volunteer di JNM sering diremehkan oleh rekan sedivisinya, menurutnya hal itu terjadi karena posisi mereka yang sama-sama berasal dari ke-volunteer-an.Menurut saya hal ini justru memperkuat stigma adanya keterikatan antara patron dan klien tidak bisa dilakukan melalui sebuah perantara.

Dengan adanya rasa saling percaya ini seorang klien (volunteer) dapat mengharapkan bahwa si patron (kurator) akan membantunya jika dia mengalami kesulitan, sebaliknya si patron juga dapat mengharapkan dukungan dari klien apabila suatu saat dia memerlukannya. Pasti kita sudah tidak asing lagi dengan istilah “Close Recruitment”. Menurut saya hubungan yang bisa dihasilkan ketika event Biennale selesai adalah pihak penyelenggara (YBY) akan mudah merangkul lagi para volunteer baru untuk acara selanjutnya dengan melakukan Close Recruitment terhadap volunteer lama yang dianggap layak untuk diajak bekerja sama lagi. Hubungan ini tentunya bisa dibilang saling menguntungkan sesuai dengan prinsip relasi patron-klien.

Dengan demikian walaupun hubungan ini bersifat instrumental, di mana kedua belah pihak memperhitungkan untung-rugi dari hubungan tersebut bagi mereka, namun ini tidak berarti bahwa relasi tersebut netral sama sekali. Unsur rasa masih terlibat juga di dalamnya. Adanya sifat tatap-muka dalam hubungan ini, serta terbatasnya sumber daya si patron (kurator), membuat jumlah hubungan yang dapat digiatkannya menjadi hubungan patronase lebih terbatas pula. Berikut, saya mencoba untuk mengilustrasikan hubungan patron-klien yang ada di antara kurator dan volunteer.

Kinerja Exhibition Guide

Meskipun sudah terikat dalam relasi patron-klien, tidak jarang ada beberapa exhibition guide yang menurut saya tidak menunjukkan performa terbaiknya. Saya sudah mengunjungi instalasi Biennale di tiga lokasi, yaitu Taman Budaya Yogyakarta, Jogja National Museum, dan Kampung Ketandan. Masing-masing dari instalasi seni tersebut menghadirkan peran exhibition guide yang berbeda-beda, bermula ketika saya mengunjungi JNM untuk pertama kalinya, respon exhibition guide yang ada di sana tidak patut di acungi jempol, kecuali penjaga daftar hadir yang menyiratkan senyum tipis kepada saya dan beberapa teman lainnya. Namun semakin saya meyusuri setiap ruangan, kehadiran exhibition guide itu semakin kabur—tidak jelas. Bahkan ada yang asyik mengobrol dengan kawannya di depan instalasi tanpa peduli akan kehadiran pengunjung.

Berlanjut dengan kunjungan saya di Taman Budaya Yogyakarta—sama saja, bahkan di sini mereka duduk mengelilingi meja kotak dan mengobrol bersama, hanya tersisa satu wanita penjaga daftar hadir yang siap menyambut kami di awal gerbang. Sampai akhirnya ada seorang pria yang mengahampiri kami dan menawarkan beberapa lagu lawas untuk diputar dan dinyanyikan bersama agaknya tempat karaoke—menurut saya ini cukup membantu, ya walaupun ia tidak menjelaskan apa makna instalasi seni ini tapi setidaknya sudah merespon kehadiran pengunjung.

Berbeda ketika saya mengunjungi instalasi seni Khonkaen Manifesto’s di Kampung Ketandan, ibaratnya ada dua sisi yang ditampilkan oleh exhibition guide di sini. Terdapat dua wanita, yang satu menyambut kami dengan kalimat khas yang selalu diucapkan penjaga daftar hadir—“Mari kak, diisi dulu daftar hadirnya”—terdengar familiar. Sedangkan yang satu—tertidur pulas di bawah meja. Apakah sebuah kesalahan mengunjungi instalasi seni di siang hari? Sehingga fenomena yang saya dapatkan adalah sepasang exhibition guide yang bertugas secara pincang? Yang satu tersenyum menyambut kami, sedangkan satu lainnya sibuk merengganggkan otot tegangnya. Tepat sekali—Biennale mengangkat tema “Pinggiran” dalam setiap instalasi seninya, dan si exhibition guide yang tertidur saat jam kerja di bawah meja beralaskan banner putih itu nampaknya juga sedang merepresentasikan kata “Pinggiran”. Melalui tiga kunjungan saya di atas, bisa saya asumsikan bahwa klien (volunteer) dalam relasi patron-klien ini tidak selalu sesuai berada pada posisi dan kewajiban yang seharusnya dijalankan, selain itu tidak ada pengawasan dari pihak patron (kurator) terhadap kinerja klien-nya. Dengan keadaan yang semacam itu, akan sulit bagi kita untuk menemukan benang merah posisi kesalahan berada. Ya benar—meskipun apa yang ditawarkan oleh patron dan klien bisa saling menguntungkan, tetap saja kinerja model begini tidak akan optimal.

Elegy 9: The Ghost of the Sea

Ketika kata memiliki kekuatan untuk mempengaruhi persepsi

Jika yang Anda pikirkan adalah sebuah vagina dilengkapi dengan lubang senggama, selamat—Anda tidak sendiri, dan selamat lagi—Anda salah.

Berawal ketika saya sibuk mencari ruangan yang berpendingin untuk menurunkan suhu tubuh yang kian memanas, saya menemukan tanda 18+ yang mengarahkan saya untuk masuk ke dalam sebuah ruangan berpintu kain putih—untungnya memiliki pendingin. Sembari menikmati suhu dingin di sana, saya mencoba melihat  dan memaknai balon yang mirip gurita putih itu, mencoba menghubungkannya dengan tanda 18+ serta kalimat “Untuk pengunjung di atas 18 tahun”. Biasanya tanda semacam itu diperuntukkan sesuatu yang mengandung konten seksualitas—terdapat lubang di antara labia mayora, saya mengasumsikannya sebagai representasi sebuah vagina dengan lubang senggama yang sengaja diperlihatkan. Pantas saja terdapat tanda 18+ sebelum pintu masuk, ternyata konteks yang berusaha diangkat adalah mengenai organ reproduksi wanita.

Dua kali berkunjung dan memasuki instalasi tersebut saya masih bertahan dengan asumsi yang sama—representasi vagina. Asumsi itu tidak bertahan lama sampai ketika saya berkunjung ke JNM untuk yang ketiga kalinya sebagai kuliah lapangan apresiasi seni. Dari kunjungan ketiga itulah fakta baru mulai terungkap.

Di bantu oleh Agung, exhibition guide yang dengan sabarnya menjelaskan setiap detail suatu karya seni dan berusaha semaksimal mungkin untuk menjawab pertanyaan yang kami ajukan. Agung yang sekaligus narasumber saya ini cukup luwes dalam memberikan penjelasan, ia terlihat begitu paham tentang karya seni yang ditampilkan, bahkan ia sempat mewakili sang patron (kurator) yang datang terlambat, Arham Rahman yang seharusnya menjadi tour guide rombongan kami.

Banyak informasi baru yang saya dapatkan dalam kunjungan ketiga saya ini, berbeda pada kunjungan pertama dan kedua, saya kurang beruntung untuk mendapatkan jasa pelayanan dari seorang exhibition guide seperti yang Agung lakukan. Salah satu informasi terbaru yang saya dapatkan adalah mengenai sebuah karya seniman dari Manila, Nerisa Del Carmen Guevara yang dinamai Elegy 9: The Ghost of the Sea.

Karya ini menarik perhatian saya karena ada makna yang baru bisa saya tangkap pada kunjungan ketiga sekaligus terakhir kemarin. Elegy 9: Ghost of the Sea (hantu laut) bermain-main dengan idiom dalam bahasa Inggris yang berbunyi “the elephant in the room” untuk mewakili permasalahan yang telah diketahui oleh orang banyak tapi enggan dibicarakan. Ruang metaforis ini, ruang antara yang diam dan yang dibicarakan, merupakan elegi dan Kauao (hantu laut) hadir mewakili ketegangan yang ada.

Karya ini sama sekali tidak membahas mengenai organ intim wanita apalagi sampai mengarah ke lubang senggama. Tujuan dipasangnya tanda 18+ adalah mempengaruhi persepsi pengunjung. Sang seniman, Nerisa berusaha menunjukkan bahwa ketika kata-kata dihadirkan oleh seseorang yang memiliki power atau kekuatan, maka bisa dipastikan kata tersebut mampu mempengaruhi persepsi orang lain yang membacanya.

Hal yang sebenarnya hendak seniman tampilkan adalah representasi sebuah mata dari hantu laut, Kauao. Namun dengan menambahkan tanda 18+ dan foto seorang wanita di depan balon hantu laut tersebut, seniman berusaha mengajak pengunjung untuk memikirkan tentang apa korelasinya dan membuktikan bahwa ketika kata-kata sudah memiliki kekuatannya, maka bisa merubah persepsi seseorang. Menurut saya, hal semacam itu sangat menarik karena ternyata seniman memiliki cara berkomunikasi dengan pengunjung melalui cara seunik ini. Saya sendiri yang baru memahami makna karya ini pada kunjungan ketiga juga sempat merasa terkejut, ternyata asumsi saya selama ini meleset—jauh dari fakta.

Nerisa juga menghadirkan seni karya video berjudul Infinite Gestures: Tanggul (Break Water). Selama masa Residensi Kelana di Pambusuang, Sulawesi Barat, Indonesia. Nerisa berhadapan dengan konsep batasan dan rintangan, termasuk laku dirangkul dan diabaikan. Dengan gerakan repetitif yang bisa diartikan sebagai sambutan atau halangan, menyerah atau melawan, atas tanggul sepanjang 700 meter.

Membahas mengenai Residensi Kelana, ternyata khusus untuk karya seni yang berada di lantai tiga adalah karya seni hasil Residensi Kelana, baik Kelana Laut, Sungai, dan Darat. Residensi Kelana sendiri adalah ekspedisi yang dilakukan oleh beberapa seniman terpilih untuk menghasilkan sebuah karya seni dari perjalanannya di berbagai wilayah di Indonesia. Informasi semacam ini bisa saya dapatkan juga dari Agung, si exhibition guide yang sangat informatif. Hubungan patron-klien yang seharusnya terjadi dalam pameran Biennale ini minimal mirip seperti apa yang Agung lakukan, memberikan jasa pelayanan terbaiknya mengingat ia juga mendapatkan sesuatu dari si patron. Mengenai kinerja exhibition guide lainnya yang kurang optimal, nampaknya ini sudah menjadi tanggung jawab moril pribadi seseorang. Di saat ada harga yang sudah ditawarkan untuk membalas kinerjanya, seharusnya klien memberikan jasa pribadi terbaiknya. Tentu saja—ini juga berlaku untuk si patron, ketika klien memberikan jasa terbaiknya tentu ada sesuatu yang perlu dihargai lebih agar hubungan timbal-balik tetap selaras.

Daftar Pustaka

Ahimsa-Putra, H.S. 2007. Patron & Klien Di Sulawesi Selatan: Sebuah Kajian Fungsional-Struktural. Yogyakarta: Kepel Press.

Burke, Peter. 2003. Sejarah dan Teori Sosial (Terjemahan oleh Mestika Zed dan Zulfahmi). Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Lilis Suryani. 2014. Hubungan Pawang (Patron) – Anak (Klien) Dalam Kesenian Kuda Lumping Di Desa Batang Pane Iii, Kecamatan: Padangbolak, Kabupaten: Padang Lawas Utara. Departemen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik. Universitas Sumatera Utara.

Scott, James C. 1977. ‘Patron Client, Politics and Political Change in South East Asia’ dalam Friends, Followers and Factions a Reader in Political Clientalism, Steffen W. Schimidt, James C. Scott (eds.), Berkeley: University of California Press.

Scoot, James C., 1994. The Moral Economy of the Peasant : rebellion and subsistence in Southeast Asia, diterjemahkan Hasan Basari, Jakarta : LP3ES.

Anonim. Di akses dari https://biennalejogja.org/2019/

Anonim. Di akses dari https://ccskills.org.uk/careers/advice/article/exhibition-guide

Penulis

Tiara Puspa Ramadanti—sebuah nama revisi dari Kinanti. Hal kecil yang sering ia lakukan adalah bersyukur atas privilege akses air bersih di rumahnya. Menulis setiap mimpi yang ia lalui di sepanjang lelap sejak 1 tahun silam sebagai bagian dari eksperimen ‘Etnografi Mimpi’ pribadi. 

Ia meyakini bahwa semakin tinggi ilmu apa pun yang ditimba, tidak akan menjauhkan kita dari ilmu agama. Tidak muluk-muluk, bukan ingin (sok) menjadi lampu bagi orang lain, jadi lilin untuk diri sendiri dulu dirasa lebih penting. 
Di Instagram @kinantipvspa, bisa jadi medium bertemu sementara.

The Internet Persona of Dhai

Afifah Golda (Antropologi 2019)

Sudah kurang lebih sepuluh bulan lamanya kita semua sama-sama berada di tengah kondisi pandemi yang membuat semua orang dianjurkan untuk menetap di rumah. Di tengah kebosanan yang melanda akibat kegiatan yang bisa dilakukan hanya kegiatan di dalam rumah dan berupa rutinitas yang itu-itu saja, saya tertarik untuk mengeksplorasi media sosial yang sedang menjadi buah bibir saat ini, yakni apalagi kalau bukan: Tiktok. Tiktok, sebagaimana yang tercantum dalam laman resminya memperkenalkan diri sebagai platform short-form mobile videos. Tampilan utama Tiktok terbagi menjadi dua bagian. Pertama, Following pada bagian sebelah kiri. Bagian ini akan menampilkan video-video dari akun yang Anda ikuti. Kedua, For You (atau lebih sering disebut dengan For You Page) yang berada pada bagian sebelah kanan. Lain dengan Following, bagian ini berisi video-video yang direkomendasikan Tiktok kepada para penggunanya. Algoritma For You Page di Tiktok inilah yang pada akhirnya mengenalkan saya kepada pengguna dengan username @wisqasmeong atau @dhaymmnnn, yang bernama asli Dhai.

            Awalnya, video milik @wisqasmeong yang seringkali muncul di FYP (For You Page) tidak terlalu menarik perhatian saya karena kontennya yang lewat di laman FYP saya ini hanya berupa perubahan ekspresi wajah tertentu, yang tadinya saya pikir tidak menarik dan membosankan. Sampai akhirnya ada unggahannya yang cukup membuat saya tertarik, yaitu video perubahan gaya rambutnya menjadi mullet. Setelah melihat video tersebut, saya langsung membuka profil Tiktok milik @wisqasmeong ini. Dari profilnya, barulah tampak beberapa video yang diambil dari angle berbeda. Ada yang hanya menunjukkan kepala saja, ada yang setengah badan, ada yang menampakkan seluruh badan, dan ada pula video-video ia bersama teman-temannya. Saya pun akhirnya tertarik untuk mengikuti dan menelusuri akun ini, begitu pula dengan akun Instagram miliknya.

Dari apa yang nampak pada unggahan media sosialnya, pria pemilik akun @wisqasmeong dan @dhaymmnnn yang biasa disapa Dhai ini memiliki bentuk muka kotak dengan garis-garis wajah yang cukup tegas pada bagian tulang pipi dan dahi. Hidungnya besar dan mancung, bibirnya cukup tebal, matanya tajam dan tidak terlalu besar. Yang menarik adalah alisnya yang tebal namun memiliki eyebrow slit atau ada bagian yang terbelah pada salah satu sudut alisnya. Eyebrow slit yang populer digunakan artis hip-hop pada tahun 90-an tengah kembali menjadi tren di kalangan remaja. Banyak yang dengan sengaja membuat eyebrow slit dengan cara mencukur sedikit bagian alisnya atau menutupnya dengan make up. Namun, eyebrow slit milik Dhai adalah eyebrow slit yang alami, karena ia pernah terjatuh saat kecil dulu yang membuat alisnya terluka dan pada bagian luka itu tidak tumbuh rambut alis lagi sampai sekarang. Setidaknya itulah yang ia katakan setiap mendapat pertanyaan “Bang alis lu asli?” dalam kolom komentar di setiap unggahannya atau jika ia melakukan siaran live di media sosialnya.

Hal lain yang sering dikomentari warganet adalah gaya rambut mullet-nya. Ia seakan-akan menghidupkan kembali gaya rambut yang tren pada tahun 80-an ini. Gaya rambut mullet miliknya tidak hanya menarik perhatian saya, tapi juga warganet lainnya. Banyak yang bertanya apa nama gaya rambut ini, banyak juga yang sekadar ‘memastikan’ gaya rambut ini adalah mullet atau sekadar memuji hanya untuk dapat berinteraksi dengan Dhai. Dhai juga kerap kali dipuji karena gaya berpakaiannya. Ia terlihat pandai memadu-padankan pakaian dan terlihat cocok pada badannya yang tinggi tegap. Ia tidak pernah menyebutkan secara jelas berapa tinggi badannya, namun saya asumsikan mungkin sekitar 170-180 cm. Ia tampak tidak terpaku dengan satu style tertentu meski seperti apa yang sering dikatakan oleh warganet, gaya berpakaiannya memang didominasi nuansa ‘jaman dulu’ atau ‘vintage’. Selain lintas era, ia juga dengan berani menggunakan pakaian bermotif atau pakaian berwarna terang dan tanpa malu-malu, ia juga mengenakan aksesoris seperti kalung, kacamata, juga terkadang mengecat kukunya dengan berbagai warna. Hal yang saya rasa masih jarang dilakukan oleh laki-laki Indonesia.

Sebetulnya, warganet dan termasuk di dalamnya juga saya tidak perlu heran dengan selera berpakaian Dhai yang bagus dan ‘melek’ tren ini. Pasalnya, ia adalah seorang art director, fotografer, desainer grafis, juga fashion stylist. Berkecimpung dalam bidang yang sangat menonjolkan visual ini membuatnya paham bagaimana atau hal-hal apa yang sekiranya terlihat baik dan menarik di mata orang lain. Setidaknya itulah yang tergambar dari unggahan Instagramnya yang kebanyakan adalah konten pekerjaan dan juga konten-konten pribadi yang menunjukkan gaya berpakaiannya sehari-hari sebagai mahasiswa tingkat akhir di Universitas Multimedia Nusantara. Intensitas Dhai dalam mengunggah konten dan berinteraksi dengan pengikutnya membuatnya semakin populer dalam berbagai media sosial. Meskipun begitu, Dhai cukup selektif memilah informasi mana yang diberitahukannya kepada publik dan mana yang tidak. Tak jarang ia mendapat pertanyaan yang bersifat pribadi seperti menanyakan usia, alamat, dan hal-hal yang bersifat pribadi lainnya. Tetapi, ia memilih untuk tidak menjawabnya dan menolak secara halus. Ia lebih suka menjawab pertanyaan seputar pekerjaan, hobi, gaya rambut (yang selalu ditanyakan berulang), atau pertanyaan-pertanyaan lain yang tidak bersifat pribadi. Menjadi menarik ketika saya mencoba melihat bagaimana Dhai menciptakan internet persona-nya seiring dengan bertambah populernya ia. Dhai, secara sengaja maupun tidak, berhasil membangun imej yang sangat baik dan banyak diminati oleh remaja, terlihat dari jumlah likes yang cukup banyak pada unggahannya dan pengikutnya yang mungkin bertambah banyak setiap harinya. Konten yang ia unggah pun semakin beragam, mulai dari konten yang menunjukkan keisengannya di sela-sela beraktivitas hingga konten-konten fesyen yang terkurasi dengan baik. Sebagai seseorang yang populer lewat media sosial Tiktok dan Instagram, Dhai dengan pandai memanfaatkan kebebasannya untuk menciptakan dan menjaga self-branding dirinya sendiri. Ia memilah dan memilih apa-apa saja yang patut ia unggah juga menjaga interaksinya dengan para pengikutnya dengan baik. Dengan ini, barangkali memang sengaja ia membangun internet persona seperti apa yang nampak pada akun-akun media sosialnya untuk dilihat oleh orang lain seperti saya, ribuan pengikutnya, dan warganet lainnya.

Afifah Golda A., saat ini berstatus sebagai mahasiswa aktif S1 Antropologi Budaya angkatan 2019. Tertarik dengan berbagai jenis hal yang bisa dipelajari, menjadikan kegiatan merekam momen atau membuat karya seni abal-abal sebagai hobi, senang berbincang dengan orang lain sekaligus suka menghabiskan waktu seorang diri. Dapat dikontak melalui email afifahgolda@mail.ugm.ac.id atau instagram: @lamanalternatif.

2020 adalah Tahun Sinting dan Kita Semua (Hampir) Gila Karenanya

Afifah Golda A.

Saya rasa sebagian besar dari kita mungkin sepakat kalau 2020 adalah tahun yang cukup berat untuk setiap umat manusia. Mulai dari bencana banjir bandang di ibukota, pandemi yang melanda seluruh dunia, pergolakan politik yang nampaknya tak hanya terjadi di Indonesia tapi juga terjadi di beberapa negara (setidaknya berdasarkan apa yang saya lihat di berbagai media internasional saat kelas Etnografi Eropa), hingga hal-hal lain yang sifatnya lebih mikro dan personal datang bertubi-tubi tanpa aba-aba. Meskipun tidak menutup kemungkinan bahwa ada pula hal-hal baik yang datang, namun tetap saja keadaan agaknya lebih sering tidak ingin bersahabat pada kita semua.

Mengarungi masa-masa sulit dan berusaha bertahan hidup di dalamnya menjadi sebuah tantangan besar yang harus dihadapi umat manusia. Sejak beredarnya berbagai imbauan untuk membatasi interaksi langsung demi menghindarkan diri dari penularan virus membuat tiap-tiap dari kita hanya mampu melakukannya lewat berbagai platform sosial media. Sebagian dari kita mungkin menjadikan akun sosial media sebagai tempat mengekspresikan berbagai keluhan, mengkritisi kondisi yang sudah kritis, serta berbagai bentuk ungkapan kekesalan dan kekecewaan terhadap keadaan lainnya. Berbagai luapan emosi dalam sosial media ini agaknya bisa kita maknai sebagai bentuk mekanisme pertahanan diri kita atas rasa kesepian yang kita hadapi. Rasa kehilangan yang personal, juga kekhawatiran terhadap pandemi meningkatkan berbagai masalah kesehatan mental dan khususnya emotional loneliness (van Tilburg et al., 2020). Berbagai studi menunjukkan bahwa orang-orang yang dikarantina menunjukkan gejala tekanan psikologis yang tinggi (Brooks et al., 2020), bahkan menunjukkan peningkatan resiko depresi, gangguan kecemasan, post-traumatic stress disorder, dan bunuh diri (Jung & Jun, 2020).

Menurut Cullen dkk. (2020), reaksi psikologis masyarakat memainkan peran penting termasuk dalam penyebaran virus, maupun terjadinya tekanan emosional dan social disorder. Faktor tekanan emosional selama karantina sangat banyak dan beragam. Berbagai pemberitaan mengenai angka pasien Covid-19 yang kunjung naik setiap waktunya, juga berbagai larangan bepergian atau travel ban, membuat masyarakat lambat laun berpikir bahwa tidak ada tempat yang aman yang pada akhirnya membuahkan peningkatan kecemasan publik. Berusaha untuk tetap mengikuti perkembangan berita yang beredar memanglah baik untuk meningkatkan kewaspadaan, namun sayangnya, hal ini juga menyebabkan gangguan kecemasan saat melakukannya (Jung & Jun, 2020). Tidak hanya itu, durasi untuk tetap tinggal di dalam rumah, kekhawatiran akan penyebaran virus, rasa frustrasi dan bosan, hingga masalah finansial dapat menjadi stressor utama di masa pandemi (Brooks et al., 2020). Rasa kesepian, kecemasan, ketidakpastian, serta kepanikan menjadi bentuk manifestasi rasa ketakutan yang dialami selama pandemi (Fitzpatrick, 2020). 

Hal ini agaknya menjadi sesuatu yang “normal”, dalam artian bukan suatu perkara yang aneh sebab memang kita semua menderita bersama dalam kondisi yang tak kunjung membaik ini. Sebagaimana yang dikatakan oleh Brooks dkk. (2020), dampak negatif psikologis dalam masa karantina ini bukanlah hal yang mengagetkan. Namun tetap perlu kita sadari bahwa dalam keadaan normal ataupun pandemi, orang dengan mental illness cenderung memiliki kondisi kesehatan fisik yang lebih buruk serta lebih rentan terhadap penyakit (Cullen et al., 2020), sehingga dalam kondisi seperti ini, ada baiknya kita senantiasa sadar dan tetap menjaga kesehatan masing-masing, baik secara fisik maupun mental. 

Mencatut lirik lagu Kunto Aji, “yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri”. Menjaga diri sendiri dapat terwujud dalam berbagai bentuk, termasuk di antaranya adalah menjaga kesehatan mental. Kesehatan mental tidak hanya sekadar diagnosis, namun juga keseluruhan kondisi psikologis, bagaimana kita merasakan diri sendiri dan orang lain, serta bagaimana kemampuan kita untuk merasakan berbagai perasaan dan menghadapi kesulitan sehari-hari (Harteneck, 2015). Kabar baiknya adalah, di tengah kesialan pandemi ini, agaknya satu per satu dari kita pun mulai menyadari betapa pentingnya menjaga kesehatan mental. Di tengah banyaknya hal-hal menyebalkan yang senantiasa seliweran di sosial media, masih banyak dari kita yang senantiasa menjaga produktivitas, masih banyak dari kita yang mengisi waktu luang dengan hal-hal menyenangkan, dan masih banyak yang senantiasa berbagi dan menularkan aura positif kepada orang lain. 

Seperti kata ungkapan populer, mens sana in corpore sano, kesehatan mental dan kesehatan fisik tentu sangat berkaitan satu sama lain, sehingga tidaklah mengherankan orang-orang yang memiliki kondisi fisik memiliki berada dalam mental state yang baik, begitu pula sebaliknya. Juga semakin menjadi masuk akal ketika belakangan ini melihat atau mendengar cerita orang-orang menemukan kebahagiaannya masing-masing ketika mereka melakukan suatu kegiatan baru, baik yang melibatkan fisik secara langsung atau tidak, sebagai bentuk pelarian dari segala kebosanan dan tekanan yang mereka alami selama pandemi ini. Melihat orang-orang yang menyibukkan diri dengan hobi baru, menyaksikan orang-orang berusaha untuk menjaga produktivitas masing-masing, atau mendengar cerita-cerita seru via percakapan telepon membuat saya percaya bahwa masih ada sedikit harapan untuk tetap bertahan hidup dengan cara-cara yang menyenangkan meskipun kita semua (masih) tetap menyayangkan keadaan. Namun apa boleh buat, mengubah keadaan tidak semudah membalik telapak tangan, saling menyalahkan pun tidak akan membuahkan hasil apa-apa.

Terima kasih untuk siapapun yang telah dan tengah bertahan, semoga setiap langkah kalian senantiasa diberkati dengan berbagai kebaikan. Semoga segala harapan tetap bertumbuh di tengah kehidupan yang semakin jemu dan jenuh. Sebab 2020 memanglah tahun yang sinting dan semoga kita semua baik-baik saja, tetap bertahan hidup, tidak menjadi gila karenanya.