Titik Tengah College Life: Penemuan dan Persiapan Karier

Tak terasa, angkatan 2020 telah mencapai titik tengah di kehidupan perkuliahan kami. 4 semester telah berlalu; dan 4 semester tersisa (bagi yang ingin lulus sesuai dengan desain yang telah diterapkan oleh kementerian dan universitas; yang ingin lebih ya monggo) untuk kita menyelesaikan kuliah, membuat proposal, mengambil data, dan berskripsi-ria di semester 7 dan 8.

Menyadari hal tersebut, saya juga mulai mengamati di antara teman-teman saya adanya minat baru, yaitu mencari kesempatan untuk magang atau setidaknya mempersiapkan kompetensi diri untuk bisa magang di semester berikutnya.

Di sisi lain, saya juga menemukan banyak di antara kawant-kawant yang belum paham mengenai apa yang mereka minati dan ingin kerjakan di masa depan.

Di perspektif ini, saya cukup beruntung untuk telah dikenalkan dan menjalani proses penemuan personality profesional saya cukup dini (mungkin sejak SMA?). Dengan demikian, berikut saya ingin membagikan beberapa metode dan jalan yang saya lalui untuk melakukan proses discovery tersebut.

Sebuah disclaimer: saya bukan profesional secara saintifik dalam hal pencarian karier ini, namun saya akan berbagi berdasarkan apa yang saya ketahui dan telah saya lalui secara pribadi. Jalan kamu bisa jadi sama atau berbeda sama sekali, dan itu bukanlah sebuah masalah! Setiap orang memiliki keinginan dan kebutuhan yang berbeda, dan mengingat hal tersebut, mari kita maklumi dan rayakan perbedaan tersebut, dan bagikanlah jalan kamu agar dapat membantu lebih banyak orang dan kawant.

Tahapan-tahapan

  1. Exploration & Discovery

Tahap ini adalah tahap paling awal, yang umumnya akan dipenuhi dengan pertanyaan “Jadi apa ya besok?” “Aku mau apa besok?”

Bagi yang berada di tahap ini, saya anjurkan: bawalah diri kamu ke berbagai event dan gelaran yang banyak bertajuk Leadership, Careers in ______, Discover _______.

Gelaran-gelaran ini umumnya akan menghadirkan beberapa sesama pelajar maupun profesional yang telah berkarier, baik dalam magang maupun sebagai freshgraduate di suatu bidang. Di tahap ini, memang tidak banyak saran konkret yang bisa diperoleh, namun sangat berguna untuk mengetahui seluk-beluk suatu bidang dan persona bidang tersebut secara kasar, untuk menelitinya lebih dalam.

Saya rekomendasikan untuk mengikuti Internnet, Cornerstone Careers, dan Lingkaran.co di Instagram untuk kamu yang baru memulai perjalanan karirmu, namun ingat bahwa platform-platform tersebut tentu memiliki bias inheren dalam bidang dan profesi yang dipromosikan, tergantung dari popularitas bidang tersebut serta para pribadi yang menjadi bagian dari platform-platform tersebut. Meski demikian, sangat berguna untuk mengikuti laman-laman tersebut untuk memiliki sedikit arah dalam petualanganmu.

  1. In-depth Exploration

Berbekal pemahaman mendasar yang telah didapatkan dari artikel, sesi webinar, maupun post-post informatif, seharusnya kamu sudah memiliki setidaknya 4-5 titel maupun posisi yang menurut kamu menarik.

Saatnya memperdalam petualangan dan penelitianmu.

Saya menyarankan untuk melakukan search di Google dengan keyword seperti:

  • Skill yang dibutuhkan untuk menjadi seorang ______nama posisi____
  • What is a ____nama posisi_____
  • Expected salary _____nama posisi_____
  • A day in the life _____nama posisi_____

Dari pencarian tersebut, seharusnya kamu bisa memperoleh gambaran kehidupan dan pekerjaan para pelaku profesi tersebut. Selangkah lebih jauh, kamu akan mulai mendengar jargon atau istilah-istilah spesifik yang digunakan dalam bidang tersebut, seperti:

  • Bisnis & konsultansi
    • Deck: Slide PowerPoint
    • MECE: Metode pemecahan masalah
  • Digital Marketing
    • SEO
    • SEM
  • Dll.

Setelah ini, kamu akan lanjut ke tahap berikutnya, untuk mendalami satu-dua peran yang kamu minati.

  1. In-depth exploration

Kamu sudah tahu 1-2 peran yang menurutmu menarik dan prospektif.

Di titik ini, kamu bisa mulai mencari tahu secara lengkap dan spesifik mengenai peran yang ingin bisa kamu lakukan.

Saya sangat merekomendasikan untuk mulai mencari satu-dua profil profesional yang dirasa sesuai dengan peran yang ingin kalian capai di Linkedin; connect dan mulailah berdiskusi dengan mereka. Kebanyakan profesional di Linkedin sangat senang untuk mengajarkan orang-orang yang tertarik dengan what they do bagaimana cara mereka mencapai di titik tersebut. Beberapa poin yang bisa kamu tanyakan dan diskusikan:

  • Sehari-hari, apa yang kamu lakukan dan kerjakan?
  • Apa keahlian yang menjadi kunci kamu untuk sukses di bidang ini?
  • Apa yang telah kamu lakukan untuk sampai di titik ini?
  • Dll.

Sebagai informasi tambahan, sangat boleh untuk kamu mohon waktu untuk melakukan pertemuan secara daring maupun luring, mempergunakan Zoom atau lokasi yang baik untuk berbincang seperti sebuah kafe di antara domisili kamu dan narasumber kamu.

Selain mencari seorang narasumber, saya juga sangat merekomendasikan untuk mencari guide atau research report dari organisasi atau lembaga yang menjadi representasi para profesional di bidang yang kamu minati. Report ini harapannya mencakup hal-hal seperti:

  • Kompetensi yang dibutuhkan bidang kamu
  • Seperti apa bidang yang kamu minati saat ini
  • Apa yang kamu butuhkan, baik secara mental maupun kompetensi, untuk dapat sukses di bidang ini

Ada beberapa contoh laporan yang sangat saya sukai, seperti:

Sudah paham dengan apa yang bidang kamu inginkan dan butuhkan? Bagus!

  1. Preparation

Setelah kamu paham bidang apa yang kamu inginkan dan apa yang dibutuhkan untuk sukses di bidang tersebut, tidak ada hal lain yang harus dilakukan selain bersiap dan membangun kepemilikan atas kemampuan dan kualitas tersebut.

Di tahap ini, kamu akan berkenalan dengan bootcamp dan online courses, dua jalur paling umum saat ini untuk membangun kompetensi di suatu bidang.

Bootcamp umumnya ditawarkan oleh LPK yang berbasis stkamur dan sertifikasi, baik yang dikembangkan sendiri (seperti Binar Academy dan Purwadhika), oleh perusahaan (seperti MyEduSolve, Maribelajar, dan Metrodata), atau oleh BNSP (Badan Nasional Sertifikasi Profesi) (seperti LSP TIK Indonesia).

Mengingat beragamnya stkamur dan kualitas serta harga yang diterapkan oleh berbagai bootcamp yang ada, saya sangat menganjurkan untuk pertama mempelajari dan mencari tahu posisi serta kualitas alumni bootcamp tersebut di LinkedIn. Tidak jarang saya mendengar keluhan dari jejaring saya mengenai alumni suatu bootcamp yang memiliki branding bagus, namun kualitas jelek.

Program Studi Independen Kampus Merdeka juga dapat menjadi pilihan yang baik bagi kamu yang ingin membangun kompetensi secara cepat dan murah, karena banyak bootcamp berbayar yang ditawarkan melalui SI, memberikan kamu kesempatan untuk mendapat 20 SKS serta akses ke bootcamp berkualitas tinggi seharga UKT yang sudah kamu bayarkan untuk tiap semesternya.

Online Courses seringkali ditawarkan secara berbayar dan gratis, namun yang membedakan course dengan bootcamp adalah sifatnya yang umumnya individual, asinkronus, dan dapat dipelajari-diselesaikan kapan saja, dengan biaya yang lebih murah.

Course sangat baik bagi kamu yang ingin memiliki kemampuan teknikal dalam suatu bidang secara cepat dan murah, mengingat sifatnya yang individual dan asinkronus, dan banyak sumber yang bisa diakses secara murah atau gratis seperti Coursera (dengan Financial Aid), Mekari University, Karier.mu, dll.

  1. Take the Leap

Kamu sudah tahu apa yang kamu inginkan, dan kamu sudah cukup kompeten untuk sukses di bidang tersebut, apa tahap berikutnya?

Ambil loncatanmu, dan daftarlah ke sebuah program magang!

Magang memberikanmu cara untuk menerapkan semua kemampuanmu di kasus-kasus sesungguhnya, dengan reward yang lumayan secara finansial. Yang perlu kamu siapkan:

  • CV yang sesuai “ATS”, agar mudah dibaca dan yang penting rapi di device apapun. Baca banyak-banyak materi dari Vina Muliana di Tiktok soal ini
  • Kemampuan interview, yang kembali bisa kamu pelajari dari Vina Muliana dan latihan interview dengan teman sebayamu serta Google Warmup
  • Kepercayaan diri
  • Dan tentunya lowongan yang ingin kamu lamar yang telah kamu pelajari luar-dalam naik-turun, dari syarat hingga kompetensi yang diminta

Apa yang membuat sebuah program magang “bagus”?

  • Kultur perusahaan yang positif dan mendukung untuk belajar
  • Kompensasi yang sesuai dengan usaha yang kamu keluarkan
  • Jobdesc yang konkret dan spesifik
  • Workload dan jam kerja yang wajar dan sehat
  • Serta adanya atasan yang mampu mengajarkan ilmu dan kebutuhan pekerjaan dengan baik

Hal-hal tersebut memang sulit diketahui hanya dari iklan lowongan, maka lakukanlah riset dan tanyai para alumni dari perusahaan tersebut.

Di tahap ini, seharusnya kamu sudah bisa menavigasi pasar tenaga kerja (setidaknya untuk tingkat entry-level) dan mendapatkan sebuah pekerjaan untuk dirimu sendiri.

Ini tentu baru langkah pertamamu untuk membangun masa depan profesionalmu. Selama magang dan setelahnya, coba rasakan apa yang kamu rasakan dan lakukan. Apakah kamu menyukainya? Apakah kamu rasa ini bidang yang cocok dengan diri kamu, baik secara nilai maupun sifat?

Tahap refleksi ini penting, karena di titik ini kamu sudah memiliki pengalaman, dan kamu dapat menentukan sendiri apakah ini jalan yang kamu sukai, atau kamu ingin kembali ke awal dan mengembangkan keahlian di bidang lain. Carilah dan cobalah, bereksperimenlah dengan diri dan duniamu sendiri.

Pada akhirnya…

Ini adalah awalmu, dan awal dari kehidupanmu, sebagian dari perjalanan pendewasaan melalui pemenuhan kebutuhanmu secara mandiri.

Perjalanan ini sangat panjang dan sulit bagi siapapun, namun nikmati dan coba belajar sebanyak-banyaklah untuk mendapatkan sebanyak mungkin pelajaran. Namun, setidaknya kamu telah memulainya dan telah menjalaninya sembari berharap menjadi sebuah perjalanan yang worth it di masa depan, apapun artinya bagimu.

Identitas Penulis

Cornelius Prabhaswara Marpaung, Antropologi Budaya 2020

Bunga-Bunga di Taman Belakang

Sumber : Dokumen Pribadi

Permasalahan semua mahasiswa setiap akhir semester: ujian akhir. Mengawali kelilingan kepala mahasiswa yang secara tiba-tiba menjadi sebuah kelapa yang penuh isian dan sesaat lagi akan terjatuh. Kewajiban memenuhi semua tugas per mata kuliah yang diambil seolah-olah menjadi suatu beban yang harus diselesaikan dalam waktu singkat—satu hingga dua minggu. Begitu pula yang dilakukan dan dirasakan di semester dua ini, tetapi membahagiakan. Lantas, mana pula yang membuat bahagia? Inilah yang akan saya ceritakan, sebuah pengalaman ujian akhir semester yang membahagiakan.

Sebuah mata kuliah pilihan yang saya pilih pada semester ini, yakni mata kuliah Etnografi Wilayah Sumatra yang diampu oleh Mas Indy. Di akhir semester, mata kuliah ini menagih sebuah karya etnografi berkait dengan perihal-perihal di Sumatra. Maka dari perawalan ini terbentuklah kami: Nafisa Demas. Nafisa Demas adalah sebuah nama pena yang merupakan gabungan dari nama-nama kami: Davina, Alifah, Salsa, Denting, Mutiara, Aini, dan Sindhi. Ya, nama pena. Lantas, tulisan apa pula yang kami tulis dengan pena tersebut?

Sebuah karya etnografi berupa kumpulan cerpen adalah jenis karya yang kami pilih untuk memenuhi tugas akhir mata kuliah Etnografi Wilayah Sumatra. Ini merupakan suatu ide yang pada awalnya tidak disangkakan akan berhasil bagus dan mujur. Dengan berpondasikan niat “yang terpenting selesai,” proses berkarya kami dimulai. Melalui diskusi dan bimbingan dosen sebelum memutuskan untuk bertindak, setidaknya kami punya seburam gambaran calon karya kami kelak. Dengan ide-ide gila yang kami sambung-sambungkan—agar terlihat bukan hanya cerpen biasa—kami mendasarinya dengan riset wawancara kepada beberapa orang suku-suku di Sumatra, yang mana suku dari narasumber-narasumber inilah yang menjadi latar suku dari tokoh-tokoh fiktif kami. Informasi berkait dengan karakteristik beberapa suku di Sumatra telah kami terima, sebuah ilmu dan informasi baru. 

Batak adalah suku utama yang kami angkat dalam kumpulan cerpen kami. Selanjutnya untuk “memperumit” permasalahan maka kami sandingkanlah suku Batak dengan suku Jawa. Asmara, adalah sebuah tema besar yang diusulkan oleh Mas Indy untuk kumpulan cerpen kita. Setuju, dapat menarik calon pembaca yang mayoritas anak muda, kami menyanggupi tema asmara. Gio dan Dian adalah nama tampan dan cantik yang kami pilih untuk tokoh fiktif utama yang akan kami atur kehidupannya. Etnisitas adalah topik utama yang menjadi pemicu konflik dalam kumpulan cerpen ini. Kumpulan cerpen ini adalah beberapa cerita pendek yang saling bersambung dan saling terkait, kemudian kami susun dalam sebuah buku. Beberapa orang menganggap bahwa ini adalah sebuah novel. Kami menuliskan setiap chapter-nya dengan point of view yang berbeda-beda, satu chapter satu point of view, sehingga setiap chapter dapat berdiri sendiri menjadi sebuah cerpen.

Selain itu, kami juga melengkapinya dengan berbagai ornamen ilustrasi dari kami sendiri. Kami lukis secara manual juga digital. Ilustrasi-ilustrasi pelengkap awal chapter juga di dalam cerita yang memperindah dan memperdalam makna dari setiap kalimat dalam cerita yang kami sampaikan. Di sisi lain, kami juga menampilkan puisi-puisi kami dalam chapter-chapter cerita pendek kami. Puisi-puisi indah yang akan membawa terbang pembaca menuju alam fiksi yang kami buat. 

Dengan penuh rasa sok tahu, kami mulai menyusun cerita demi cerita. Tidak ada sekilas pun pengalaman sebelumnya dalam menyusun cerita sampai membukukannya. Kebingungan dan kesabaran selalu mengiringi dan saling memperebutkan peran. Pada akhirnya, cukup dua minggu kami dapat menyelesaikannya. Segeralah kami bawa ke percetakan untuk melakukan proses persalinan dari soft file ke hard file. Tanggal 21 Juni 2022, telah lahir anak kami yang pertama dengan selamat dan sukses. Kami telah sepakat sebelumnya untuk memberinya nama “Bunga-Bunga di Taman Belakang,” yang terinspirasi dari banyaknya frekuensi penggunaan nama-nama bunga di dalam buku ini. Maka dari itu, ketika membaca buku ini akan terasa seperti di taman bunga pada musim semi. Itulah yang kemudian kami sebut dengan kebahagiaan. Kami juga tak lupa untuk menyebarkan hawa kebahagiaan ini ke semua orang sekitar. Terkhusus untuk Mas Indy yang kemudian menjadi orang tua angkat dari anak kami. Bahagia mengekori ekspresi muka beliau ketika serah terima terjadi. 

Kebahagiaan tidak pula lantas lepas begitu saja setelah penyerahan karya. Kebahagian terus mengalir hingga saat ini dan sampai nanti. Bahagia atas semua yang telah kami lakukan dalam proses berkarya ini. Bahagia atas semua pengalaman baru yang kami rasakan. Bahagia atas semua ilmu yang kami terima. Selama proses pembuatan karya ini, kami lebih banyak mengenal beberapa karakteristik suku-suku, terutama di Sumatra. Ini juga menjadi sebuah momen belajar melalui apa yang kami sukai, dengan penuh kebahagiaan, juga mempelajari dan mencoba hal-hal baru yang sebelumnya asing bagi kami. Hal yang paling penting adalah melatih kerja sama kami di mana kami bertujuh dengan pikiran-pikiran yang berbeda-beda mencoba dengan sabar menyatukannya menjadi sebuah pikiran umum yang dapat disepakati, sebuah proses yang tidak mudah. Namun, kami telah melewatinya, walau dengan ketidaksempurnaan, karena pada dasarnya kami semua tidak sempurna. 

A group of people standing in a room

Description automatically generated with medium confidence

Sumber : Dokumen Pribadi

Identitas Penulis

Rizkyana Sindhi Ardani, Antropologi Budaya 2021

Rizkyana Sindhi Ardani, biasa dipanggil Sindhi atau Indi, seorang perempuan pengagum antariksa. Memiliki banyak kegemaran: bernyanyi, menggambar, menulis puisi, fotografi, dan lainnya. Suka makanan pedas dan tidak suka manis. Ingin kenal Sindhi lebih lanjut? Boleh sekali menghubungi akun instagramnya: ddhiarda. Dengan senang hati Sindhi akan membalas 😊.

Ulas Produk: Antropomorfisme dalam Dua Pameran

Sumber : Dokumen Pribadi

Berkali-kali antropologi—sesering itu berefleksi, tiada bosannya, cerminan yang dalam, menghaluskan jiwa, melapangkan kesempatan dingin angin menyelusup ruang raung hati kecil, mengajari saya meneguk kopi pukul empat pagi dan bolak-balik toilet. Apa yang ditawarkan antropologi setelah setahun berproses? Terlalu dini untuk mendapatkan jawabannya dan pertanyaan yang tidak akan pupus selama eksistensi diri ini adalah manusia. “Aku baru sadar, kalau ujian studi ini bukan UAS atau UTS, Rul, tapi hidup. Memilih antropologi, cukup memuluskan halang rintangnya, bukan berarti jurusan lain tidak menawarkan kesulitan, namun beginilah adanya.” Saya mengira kawan itu ditampar ciu, ternyata ditampar jurusan. Jika direnungkan seksama, semua studi muncul demi kepentingan manusia; teknik lingkungan? Untuk kemaslahatan ekologi agar manusia tetap bisa makan, filsafat? Produk berpikir manusia, arsitektur? Tambang? Linguistik? Sejarah? Ilmu gaib? Studi bawah laut? Riwayat biografi? Tataboga? Domestikasi hewan? Ilmu nujum? dan lain sebagainya. Antropologi hadir di antara sekat-sekatnya; kamar-kamar pengetahuan, setahu saya—yang cukup segar—etnografi luar angkasa dan etnografi jagung.

Persoalan eksistensi manusia, atribusi karakter manusia, dan jargon antroposentris ialah stempel maha subjektif. Satu istilah menarik dalam lika-liku filsafat yunani, yakni antropomorfisme; kursi bisa menjadi manusia, bus sekolah berdendang layaknya manusia; “Hey tayo! Hey tayo!,” genre dongeng (fabel), fandom furry, dan masih banyak lagi. Sederhananya, antropomorfisme merupakan pelekatan karakter manusia terhadap non-manusia. Seolah segala hal bisa menjelma manusia, sedangkan manusia begitu rumit dan menyedihkan. Kita melampiaskan amarah, menyelipkan majas pada karya sastra sehingga meja makan dan jendela dapat tertawa, merenungkan perasaan makhluk lain—apakah mereka juga merenungkan nasib manusia. Pada akhirnya, semua lemparan pikiran manusia terhadap non-manusia, tak lain, demi kepentingan manusia itu sendiri. Beruntungnya, kawan-kawan dari S2 Antropologi UGM menghadirkan pameran di basement Soegondo bertajuk From Non-Human To Human. Selain itu, angkatan 2019 dari S1 Antropologi UGM mengalihwahanakan hasil kuliah lapangan mereka menjadi pameran bertema Keluarga Tin. Kedua pameran tersebut merupakan wahana refleksi gratis bagi semua kaula. Barangkali ada yang tidak mampu terungkap, kita cukup melihat dan tidak perlu menggali yang terdalam dari harmoni hati. Seperti adagiumnya Murakami; “Saya terkadang berpikir bahwa hati orang seperti sumur yang dalam. Tidak ada yang tahu apa yang ada di bawah. Yang bisa anda lakukan hanyalah membayangkan apa yang sesekali mengapung ke permukaan.”

From Non Human to Human

            Apa jadinya jika kita mengandaikan suatu hal yang—barangkali—suara, aroma, gejala, tanda-tanda, suasana, atau gambaran yang numpang lewat dari penglihatan manusia sebagai gejolak intuisi. Gigitan rayap? Desiran angin? Pola migrasi dan cericit burung? Semuanya adalah siklus alam yang biasa kita saksikan. Bagaimana kawanan rayap menggerogoti foto dapat menimbulkan kenangan yang berbeda? Kita mengartikan, misalnya, foto lama yang dirusak rayap ini mengisyaratkan kedalaman citra akan romantisme masa lalu yang kian memudar. Sah-sah saja, timbulnya kenangan atau kesan baru setelah mengamati objek lama dengan artian yang berbeda—dalam realita lapangan penelitian, pun demikian adanya; peneliti dan tineliti selalu dinamis. Selain itu, perasaan semacam ini seringnya hilir mudik dalam diri kita, lompat sana-sini, dan terkadang tidak pernah mendapatkan tempat yang pasti.

Contoh lain dari pameran kawan-kawan S2, yaitu dilema peneliti atas visualisasinya mengenai seekor beruk bernama Unyil di perkebunan kelapa, beruk itu mendapatkan perawatan, diberi makan, namun tidak bebas berkeliaran—sekaligus Unyil terlindungi dari perburuan liar. Sebenarnya, apa yang membuat beruk itu senang? Pertanyaan ini membawa kita ke ranah moral: apa yang terbaik? Saya berpendapat, konteks dari istilah ‘kebebasan’ dan ‘terlindungi’ yang dilekatkan oleh manusia, kita tahu, bahwa manusia tidak sepenuhnya bebas dan tidak sepenuhnya terlindungi. Ada hukum-hukum, undang undang, pasar, dan legasi pemerintahan yang kompleks. Akan tetapi, bagi binatang, aturan tertulis mereka juga diatur oleh manusia. Mereka bertahan hanya dengan sistem koloni yang sederhana, cukup dipimpin oleh seekor Alpha, misalnya serigala, akan sangat berbeda kondisinya dengan semut—ada ratu semut, semut pekerja, semut petarung, bahkan sistem perbudakan dan kasta dalam semut pun ada (DW, 2018).

Mungkinkah, Behavioral (kebiasaan) pada non-manusia ini dapat menjelaskan kerumitan manusia? Atau justru, manusia-lah yang melekatkan karakter mereka terhadap non-manusia guna memecahkan persoalan hidup, sehingga, pertanyaan apa yang terbaik? Barangkali membutuhkan konsen khusus sebelum diuraikan karena masih adanya bias antroposentris. Pembeda manusia ialah penemuan dan inovasi teknologi (kebudayaan), yang mana, juga akan tumpul jika tidak mendapatkan inspirasi dari non-human; bagaimana manusia bisa menciptakan pesawat terbang tanpa melihat burung melayang di udara?

Inti dari pameran From Non Human to Human adalah interpretasi, upaya pemaknaan untuk merangkai pertanyaan, seperti pada tafsiran mengenai kemampuan merpati pos yang menempuh jarak beratus kilo saat mengantar pesan; merpati pos dianalogikan sebagai simbol “cinta” yang hadir atas tindakan kasih sayang. Kemampuan interpretasi-simbolik ini menguatkan keunikan manusia, untuk memberi dan mengorganisir pemaknaan, menurut Geertz (1973), manusia seperti laba-laba yang bergantung pada jaringan yang ditenunnya (people are animals suspended in webs of significance).

Keluarga Tin

Sumber : Dokumen Pribadi

            Persoalan keluarga dalam ranah ilmu humaniora bukanlah sesuatu yang asing, wacana keluarga mengarungi sejarah panjang diskursus keilmuan. Pakar antropologi klasik seperti Hildred Geertz dan Margaret Mead menerbitkan karangan mereka tentang keluarga. Pameran Keluarga Tin menghadirkan adanya semacam positional, keluarga ditempatkan sebagai kerangka unit yang tidak bisa terpisah dari rumah, bahkan setiap ruang mengandung fungsi dan kisah tersendiri. Teras yang luas, kamar tidur, dapur, dan bilik-bilik seakan hidup dengan romannya masing-masing.

 Pertanyaan penting dari pameran Keluarga Tin (Tineliti); apakah keluarga selalu dipasangkan dengan rumah? Sarang? Goa-goa? Atau apapun yang kita sematkan sebagai rumah; pemaknaan seperti apa yang diberikan manusia atas rumah? Apakah rumah sekadar dimensi fisik dengan beton, pintu kayu, kusen jendela, dan kanopi yang menghalau hujan-panas? Apa tujuan filosofi dari susunan tiang rumah, pemukiman, dan skema tata ruang (Asta Kosala Kosali) seperti di masyarakat Bali yang sangat kontras dengan lanskap rumah susun di perkotaan? Saya membayangkan intervensi tempat tinggal dalam konsep pengaturan dan pendisiplinan di perkotaan yang tanpa pekarangan luas, dan ketika anak-anak ingin bermain—maka taman kota adalah pilihan alternatif. Rumah yang kita gambarkan menopang tumbuh kembang keluarga, menjaga kewarasan, dan melempar ingatan sepia yang meluntur selepas cat rumah diganti—selalu berhasil membuka keran diskusi. Bagaimana kalau rumah sebetulnya multidimensional?

Definisi mengenai rumah, saya rasa, akan selalu mengikuti dari definisi keluarga. Keluarga ideal dengan pemaknaan yang berbeda dari setiap orang; memilih rumah tanpa keluarga atau keluarga tanpa rumah ialah konsep yang klise. Keluarga ibarat mata rantai yang mengelupas, kita bisa membenci dan menerima atas kehadiran atau ketidakhadirannya; kelebihan dan kekurangannya, namun kita tetap terikat. Pameran Keluarga Tin memberi porsi cukup untuk dilema dan gejolak para penulisnya. Barangkali hanya sedikit tangkapan yang bisa saya urai, namun pada intinya, Keluarga Tin seakan dibekukan dalam rumahkemudian berbicara dan berterus terang layaknya seperti manusia (antropomorfisme).   

Sumber Referensi:

DW. 2018, 12 Februari. Rahasia Prinsip dan Koordinasi Dalam Semut — Dr. Christoph Kleinedam [Video]. https://www.dw.com/id/rahasia-prinsip-koordinasi-dan-organisasi-semut/video-42548075

Geertz, C. (1973). Interpretation of cultures. Basic Books.

Identitas Penulis

Ruli Andriansah, Antropologi Budaya 2021

Mahasiswa Antropologi budaya 21, pembelajar seumur hidup yang menyukai aroma laut. Boleh diskusi dan bertukar pikiran di rulyandriansah@gmail.com atau IG: @rulyandsyah.

GLIMPSE OF US

Sumber : Dokumen Pribadi

Satu yang perlu diingat, bayangan kita yang selalu bersama saat itu tidak akan pernah hilang dari ingatanku. Bayang-bayang akan tingkah lucu, konyol, serta menghiburmu akan selalu ku ingat sampai kapanpun itu. Ya, kita biasa memanggilnya dengan sebutan kenangan. Kenangan dapat menghadirkan senyuman kecil di wajah, bahkan membuat kita meneteskan air mata. Memang, kenangan tidak selamanya mengenai kebersamaan yang membahagiakan diri, terkadang kenangan juga mengenai keterpurukan yang maknanya sungguh pahit. Namun, setidaknya ketika kita berhasil merekam kenangan itu, kita sama-sama belajar mengenai apa yang harus kita lakukan kedepannya. Jika kenangan yang membahagiakan, kita bisa mengulang kenangan tersebut bersama orang baru, syukur-syukur bersama orang lama. Walaupun rasanya berbeda, tetapi setidaknya kita bisa merasakan kenangan itu kembali. Lalu jika kenangan yang pahit, tentu saja kita akan lebih berhati-hati kedepannya. 

Setiap orang mempunyai caranya masing-masing untuk mengingat sesuatu. Terlebih pada sesuatu yang membekas pada pikirannya. Beberapa dari kita dapat teringat suatu kenangan hanya berdasarkan cerita-cerita saja. Berkumpul kembali bersama orang lama, mengingat kembali suatu kenangan, dan saling melempar senyum serta tawa, bahkan mungkin malah menangis ataupun kembali merasakan sedih bersama. Beberapa lainnya dapat teringat suatu kenangan jika melihat visualnya. Melihat kembali galeri foto dan video yang sempat dibekukan. Merasakan kembali perasaan-perasaan yang dulu pernah terlintas. 

Sumber : Dokumen Pribadi

Pandemi COVID-19 telah membuat kita semua sadar bahwa kebersamaan itu sangatlah berarti. Beruntung baginya yang selalu membekukan kenangan ketika masih bersama untuk disimpan dan diingat kembali. Kenangan memang hal yang tidak bisa kita ulang dengan perasaan dan momen yang sama persis, tapi foto dan video yang kita simpan akan membawa kita mengulang kenangan. Mengulang kembali momen dalam ingatan dan perasaan. Merasakan kembali tentang apa yang dahulu pernah dirasakan.

Aku sendiri menyesal, dahulu tidak sempat menurunkan ego untuk membekukan kenangan kita bersama. Sekarang, aku hanya bisa mengingat kenangan dalam pikiranku. Merasakannya kembali seorang diri. Namun, terkadang aku lupa akan detail-detail yang dahulu kita pernah lakukan bersama. Ah, dasar pelupa. Hal itu membuatku tersadar bahwa kita boleh saja menikmati waktu saat bersama, tapi membekukannya menjadi pilihan wajib. Ya, mungkin ini akan terlihat biasa saja dan terdengar berlebihan ketika kita masih berkumpul bersama. Namun, hal yang perlu kita ingat bahwa kita tidak akan selamanya bersama, entah kita akan terpisah oleh jarak, kepentingan, ego, maupun dimensi.  

Maka dari itu, sebelum kita tidak lagi bersama. Sebelum suatu hal yang mengubah kita datang lagi. Sebelum alam menghentikan kebersamaan kita. Tolong, turunkanlah ego dan gengsimu supaya tidak menyesal di masa mendatang, seperti aku. Kenangan memang dapat dikenang dalam ingatan. Namun, melalui sebuah jepretan foto, sekilas tentang kita akan abadi dalam lembar yang selamanya terkenang. Temukanlah “Glimpse Of Us” dalam kenangan melalui jepretanmu. 

“Kita tidak akan mengetahui kapan kita akan meninggalkan semuanya.

Jadi, lakukanlah yang terbaik dan abadikanlah momen kebersamaanmu”

Identitas Penulis

Noor Risa Isnanto, Antropologi Budaya 2021

Halo kawant! Kenalin namaku Noor Risa Isnanto, boleh dipanggil Noor, Risa, kalau ngga Isnanto, apa aja terserah wakaka, tapi kalau selain di kelas biasa dipanggil Orto. Suka sama fotografi, videografi, dan hal-hal yang ada kaitannya sama konten. Kalau pengen ngobrol lebih jauh bisa follow Instagram aku di @noor02_ kalau ngga lewat emailku di noor.risa02@gmail.com, ditunggu kawant! ehehe. 

Ini Bukan Sekadar Pertemuan

Dok. Athayazahra

Tulisan ini mulanya berangkat dari rasa kebimbangan dan kemalasanku sendiri saat mengikuti sebuah acara pertemuan keluarga antropologi, yakni Komando Pitik. Mungkin hal ini juga seperti yang dirasakan oleh beberapa teman sehingga banyak dari mereka yang mengurungkan niat untuk mengikuti acara ini kemarin. Namun, entah mengapa akhirnya aku tetap yakin untuk mengikutinya, hal itu mungkin karena satu dan lain hal yang pastinya tidak akan kusebutkan dalam tulisan ini bahwa itu apa ataupun siapa. Sebagai catatan bahwa tulisan ini didasarkan oleh segenggam pengalaman serta pandangan yang kudapatkan pada acara komando pitik beberapa waktu lalu.

Berbicara tentang komando pitik atau kopit pasti dibenak kalian banyak menimbulkan stigma ataupun problematika diri yang sekiranya kalian takuti. Terasingkan, sendirian, bahkan hingga kebisingan mungkin telah menjadi makanan pikiran yang kalian konsumsi sebelum mengikuti acara ini. Itu memang bukan sepenuhnya salah kalian karena nyatanya, acara ini telah lama luntur sejak beberapa tahun lalu. Di mana sejak menaiknya pandemi sialan berdampak juga pada menurunnya intensitas pertemuan, khususnya Komando Pitik ini sendiri. Meredupnya acara ini bahkan sampai pada titik di mana ketakutan maupun kebingungan akan pelaksanaan kopit bukan lagi menjadi sebuah rasa asing yang dinikmati diri sendiri, tetapi telah bergeser menjadi keresahan yang dialami banyak kepala.

Saat pandemi, kopit ini pun juga seakan terus digaungkan untuk dihadirkan kembali sebagaimana mestinya. Semulanya banyak yang terpikirkan, tak terkecuali saya sendiri tentang “apa pengaruh dari kopit ini?” dan “mengapa sangat dianggap penting?” Itu seakan menjadi wujud keingintahuan banyak orang akan eksistensinya acara ini di mata keluarga antropologi.

Dok. Orto

Namun, akhirnya segala bentuk pertanyaan tersebut seakan terjawab penuh ketika aku dan kalian mengikuti acara ini pada beberapa hari yang lalu. Saat itu, beragam ketakutan yang berlalu lalang dipikiran seakan ditendang kenyataan, bahwa Kopit ini tak seseram dan semenakutkan itu. Ini hanyalah sebuah tradisi pertemuan yang tak sekadar pertemuan biasa yang datang lalu hilang, tetapi sebuah keeratan dan kekerabatan yang seakan diikat oleh tali persaudaraan. Mulai dari nyanyian, jingkrakan, sampai bakaran menjadi media pemersatu para antropolog muda ini dalam mengikat jalinan kebersamaan. Rokok dan candaan pun juga dapat ibaratkan sebagai makanan tanpa garam, tak terpisahkan bukan? Nah itulah Kopit semalam.

Dok. Athayazahra

Para dosen, alumni, hingga mahasiswa pun juga seakan larut pada gemerlap kegembiraan serta kesenangan hati yang tercipta di antaranya. Tak adanya sekat interaksi yang melekat juga menjadi salah satu alasan dari penghapus ketercanggungan yang biasanya terus menghantui pertemuan yang diikuti oleh berbagai macam perbedaan. Angkatanku yang sebenarnya memegang peranan sebagai menantu pernikahan yang hendak masuk ke keluarga pasangan, malah diperlakukan selayaknya keluarga lama yang baru usai melakukan perjalanan panjang. Oleh sebab itu, kata-kata yang sekiranya merepresentasikan Komando Pitik kemarin, yakni rekat sekaligus terbebaskan. 

Hal itu juga menjadi salah satu dari sekian banyak aspek keberhasilan para pemantik Komando Pitik tahun ini dalam merangkai berbagai macam persiapan menjadi sebuah malam keakraban yang sayang untuk dilewatkan.

Aku ingatkan sekali lagi bahwa Komando Pitik atau Kopit ini bukan lagi menjadi sebuah pertemuan yang sarat akan ketakutan, tetapi sebagai penjamuan kedatangan mahasiswa baru ke dalam keluarga yang kaya akan keanekaragaman serta kebersamaan yang sampai di taraf keimanan.

Terima kasih dan sampai jumpa di tradisi ini musim depan!

Identitas Penulis

M. Satrio Andhito, Antropologi Budaya 2021

Halo! Aku Satrio, bisa dipanggil Satrio, Rio,  ataupun Io. Seorang mahasiswa yang gemar menunda pekerjaan dan juga tidur seharian. Jika sempat, mari bersua di instagram @andhitosatrio atau email andhitosat@gmail.com.

Cerita Perihal Wanita dan Isi Hatinya

Sumber : Dokumen Pribadi

Percakapan malam yang spontan kulakukan dengan kawanku sering kali melahirkan pembahasan tak terduga dan menuntutku untuk kembali berpikir serta merefleksikan suatu hal yang terjadi di dalam kehidupan, seperti “apa hebatnya aku dilahirkan sebagai seorang wanita?” Pertanyaan tersebut pada akhirnya mendatangkan sebuah jawaban- jawaban yang akan kucoba untuk tuangkan melalui tulisan ini.

Pada dasarnya, wanita terlahir sebagai makhluk Tuhan yang memiliki kehebatan dan ketangguhan luar biasa dengan caranya masing-masing. Bahkan tanpa disadari, setiap wanita telah mempunyai preferensinya tersendiri dalam melihat kemampuan-kemampuan yang ia miliki. Ya, meskipun ada preferensi yang tidak ia tampilkan kepada khalayak ramai. Sebagai contoh, bukan berarti seorang wanita yang tidak pernah memperlihatkan karya tulisnya, berarti tidak memiliki keahlian dalam bersastra. Lalu, bukan pula seorang wanita yang tidak pernah memperlihatkan hasil masakannya, berarti ia tidak suka memasak.

Setali tiga uang, bukan berarti pula seorang wanita yang tidak pernah membuka diskusi di media sosial berarti ia tidak suka berdiskusi dan mengeksplor berbagai pemikiran bersama dengan orang lain. Tidak berarti pula seorang wanita yang tidak pernah menampilkan suara atau tariannya, berarti tidak suka bernyanyi dan menari. Siapa tahu, sebenarnya ia suka sekali bermain aplikasi tiktok, hanya saja ia mengatur tiktoknya dengan pengaturan private sehingga tidak dapat dilihat oleh orang lain. Itulah tadi, mengapa aku bisa mengatakan bahwa semua wanita itu hebat, asalkan ia mau untuk selalu melakukan upgrade diri dengan cara mengenali diri sendiri dengan baik, paham bagaimana ia harus bersikap menghadapi emosinya, mengerti terkait prinsip dan nilai hidup yang akan selalu ia pegang sebagai pedoman dalam menjalani kehidupannya.

            Selain itu, dalam lingkungan bermasyarakat, wanita sering kali diberi sebuah kriteria tersendiri atau patokan-patokan yang tak jarang justru membuat batasan bagi wanita untuk melakukan sesuatu ataupun mengeksplor dirinya sendiri lebih dalam. Bahkan beberapa standar yang ditanamkan masyarakat kepada para wanita sudah sering kali dijumpai sejak kita masih kecil seperti, “Jangan potong rambut pendek, nanti jadi kaya cowo!” atau “Jangan main mobil- mobilan, kalau cewe yaa mainnya masak- masakan atau main boneka!” Tak hanya itu saja, seorang wanita acap kali dituntut untuk menikah di usia tertentu, atau mungkin dituntut untuk bisa melakukan hal-hal lain seperti melakukan pekerjaan rumah tangga. Padahal pada hakikatnya, segala pekerjaan rumah tangga sudah sepatutnya untuk bisa dilakukan tak hanya oleh wanita saja, namun juga pria sebagai seorang manusia agar bisa mengerti dan memahami seni untuk bertahan hidup. Aku seperti ingin meneriakkan pada dunia, bahwa kita wanita juga bisa merdeka dan dengan bebas memilih jalan hidupnya tanpa dihantui oleh bayang- bayang standar ataupun tuntutan-tuntutan yang diciptakan oleh masyarakat.

            Kembali kepada pertanyaan yang sedari awal sudah aku tulis di bagian atas, bahwasanya apa hebatnya aku diciptakan sebagai seorang wanita? Berkaca pada pendapat seorang kawan lain yang juga aku beri pertanyaan terkait hal tersebut, ia menjawab bahwa wanita itu adalah makhluk istimewa. Ia memiliki perasaan yang lebih sensitif dan peka terhadap hal-hal di sekitar. Walau mungkin pada awalnya kepekaan itu justru mendatangkan rasa sakit sebab beberapa kali hatiku dipatahkan oleh realita. Namun, perasaan peka itu juga membuatku banyak bersyukur kepada Tuhan, sebab dengan rasa sensitif dan peka itu tadi justru aku akan memiliki rasa kepedulian tinggi kepada sesama dan bisa menebarkan cinta yang tulus kepada orang- orang di sekitar. Namun, terlepas dari siapa kita, apakah kita seorang pria ataupun wanita perihal memberi cinta dan peduli kepada sesama adalah suatu kewajiban bagi kita sebagai makhlukNya.

Identitas Penulis

Denting Azzahra P, Antropologi Budaya 2021

Denting Azzahra Pinasthinastiti, biasa dipanggil Denting yang gemar makan mie ayam dengan teman es jeruk. Senang mengabadikan setaip momen-momen kecil dalam hidup melalui tulisan ataupun foto-foto yang disimpan di dalam handphone untuk dinikmati sendiri. Untuk mengobrol lebih jauh bisa langsung berkunjung ke laman instagaram @dazzahrap ataupun email dentingazzahra100@gmail.com

Sekecil Apapun Itu

Tulisan ini akan diawali dari sebuah percakapan antara dua orang yang kupanggil Ayah dan Paman. Sebut saja mereka Ayah A dan Paman P, keduanya kebetulan seseorang yang cukup mendalami tentang isu mengenai alam kita atau planet kita, bumi. Tidak tahu kapan pastinya, karena keduanya kerap kali bertemu dan membahas topik yang sama.

Hari itu sang Paman berkata, “Kamu paham nggak, sadar begitu kalau apa yang kamu lakukan nih, nggak begitu berarti. Misalkan cuma kamu yang nggak pakai sedotan, tapi miliaran orang lainnya masih tetap menggunakan. Kan nggak begitu berpengaruh sama keselamatan Bumi.”

Sayangnya ingatanku pada malam itu berhenti sampai di situ. Aku tidak begitu ingat jawaban Ayah A atas lontaran pernyataan dari Paman P yang terdengar sangat mematahkan semangat itu. Oleh karena itu, di lain kesempatan, aku menanyakan tentang jawabannya hari itu.

Satu dari Sekian Miliar Manusia

Pertanyaan yang disambung pernyataan Paman P hari itu sebenarnya menyebalkan. Sebagai manusia yang mudah dipatahkan semangatnya, pernyataan Paman P malam itu jika dilontarkan padaku pasti aku akan terdiam dan berpikir ke sana kemari semalaman. Merefleksikannya semalam suntuk, bersyukur sekali jika berbuah hikmah, tetapi akan sangat mematikan jika berujung keputusasaan.

Pasalnya, aku yakin bahwa banyak manusia yang merenungi alasan keberadaannya. Seberapa tidak berarti kisah hidup kita jika menyadari banyak kisah hidup serupa atau bahkan kisah yang lebih heroik di muka bumi ini. Terlebih pascapeningkatan jumlah penduduk secara global di planet ini selama beberapa dekade terakhir. Rasanya kalau di data sensus negara, kita juga cuma sekadar angka. Kalau ada yang suka bilang, ‘Tanpamu kurang satu!’ rasanya pernyataan ini menggambarkan dengan jelas keresahanku. Ya tanpaku, hanya kurang satu!

Jadi, apa hidup dan mati kita cuma sekadar penambahan satu angka pada data fertilitas dan dan mortalitas? Haaah, ya itu selalu menyebalkan untuk dipikirkan. Kesadaran dan keresahan yang membuat kita merasa tidak berarti. Aku pikir harus kurenungkan sejenak dengan tenang. Sepertinya aku harus mengingat kembali apa yang telah aku alami, lihat, dan dengar selama hidup sejauh ini.

Proses Melihat, Mendengar, dan Memaknai

Apa kalian ingat kapan pertama kali membaca atau mendengar seruan ‘Jangan membuang sampah sembarangan’? Soalnya, aku tidak. Seruan ini adalah pengetahuan pertamaku tentang betapa pentingnya menjaga lingkungan sekitar. Meski sebenarnya ‘membuang sampah sembarangan’ bukan seruan aksi menjaga bumi dari tumpukan sampah, tetapi lebih kepada seruan untuk menjaga kebersihan dan kerapihan.

Semakin dewasa, juga sejak era media sosial. Kita semakin banyak mendengar dan melihat kondisi planet kita saat ini. Polusi udara menyebabkan lapisan ozon menipis. Air es di kutub mencair akibat global warming. Kepunahan hewan akibat jajahan perumahan manusia. Foto-foto penyu atau hewan laut tak bersalah lainnya yang terlilit sampah plastik dan semua informasi itu berhenti pada beranda sosial media kita, bukankah begitu?

Tingkah laku ini tentu sangat amat bisa dimaklumi. Tidak ada manusia yang ingin kenyamanannya diusik, terlebih oleh kabar-kabar tidak menyenangkan tentang kondisi bumi saat ini. Permasalahan iklim, sampah, biodiversitas apalah itu! Deadline-deadline tugas terdengar lebih mengerikan saat ini, sanksinya lebih dekat dan nyata.

Akan tetapi, apakah iya sanksi akan memburuknya kondisi bumi saat ini tidak benar-benar nyata dan dekat dengan kita? Mencoba memaknai panasnya siang di kala kemarau Jogja belakangan, bukankah itu salah satu bukti nyata dari laporan IPCC mengenai kenaikan suhu rata-rata bumi yang kini sudah mencapai 0,8 derajat dan dikabarkan kenaikan suhu ini dapat terus meningkat sampai pada angka 1,5 derajat hanya dalam kurun waktu dua dekade saja. Ini kabar baik untuk kita yang masih menjemur baju menggunakan energi panas matahari, tetapi saya rasa kabar buruk lebih banyak menyertai fakta ini. Sepertinya pulau Jawa bisa saja tenggelam terlebih dahulu sebelum pakaian kita kering dijemur.

Perihal sampah pun sama, kasus penutupan TPST Piyungan seharusnya sudah menjadi kabar, panorama, bahkan aroma yang tidak menyenangkan di Jogja belakangan. Sebuah kecamatan yang harus menampung sampah Kota Yogyakarta, Sleman, dan Bantul. Pada akhirnya, penumpukan hanya perihal bom waktu sampai masyarakat Piyungan akhirnya beraksi untuk menyampaikan protesnya. Kini, kita yang tidak hidup berdampingan dengan sampah-sampah tersebut baru ketar-ketir kebingungan harus dikemanakan sampah-sampah yang kita hasilkan selama ini.

Selanjutnya mengenai biodiversitas, hal ini mengenai sense of belonging kita sebagai manusia untuk hidup berdampingan. Memahami jika yang diinginkan adalah kestabilan bumi, maka setiap substansi yang ada di dalamnya merupakan hal yang penting untuk dijaga. Terumbu karang misalnya, mengalami kepunahan di tingkat regional yang selanjutnya merembet pada pengikisan fungsi-fungsinya. Sebagai salah satu ekosistem terpenting di laut tentu ini hal yang sangat perlu dikhawatirkan. Terumbu karang memiliki banyak peran penting seperti penghasil nutrisi dan tempat tinggal banyaknya biota laut, serta perlindungan pantai yang selama ini juga menjadi tugas alamiah mereka, (Glynn, 2012)

Planet kita hanya bekerja sebagaimana ia seharusnya bekerja. Permasalahan sampah, iklim, dan mengikisnya biodiversitas adalah klasifikasi permasalahan yang sedang dihadapi bumi kita. Ada sistem yang tidak berjalan sebagaimana mestinya dan sayangnya kita menjadi salah satu alasan terbesar atas terjadinya hal ini. Ya, kita.

Satu Individu Berharga, Satu Aksi Berharga

Bumi tidak pernah benar-benar marah, meminta pertolongan, atau bahkan meminta pertanggungjawaban kepada oknum, pihak, atau bahkan lembaga tertentu. Masing-masing dari kita pada dasarnya meninggalkan jejak dan memberi dampak pada kerusakan bumi. Maka, jika kita hanya satu di antara sekian miliar manusia, menjadi seseorang yang meninggalkan jejak lebih sedikit dan berbuat manfaat setidaknya pada planet yang sudah mengasihi hidup pendek kita, ya apa salahnya?

Bumi tidak menuntut, bumi tidak pamrih, ia hanya butuh kesadaran, sehingga membantu menolongnya pun terkadang bisa semudah itu. Mulai dari menghabiskan seluruh makanan yang ada di piring makan siang kita, membawa tas belanja yang bisa dipakai berulang kali, berjalan kaki atau memilih menggunakan kendaraan umum sebagai moda transportasi sehari-hari, dan masih banyak lagi cara untuk menjadi satu entitas berarti bagi planet kita ini. Pun salah satunya juga bersuara atas kesadaran yang kita miliki. Mengajak atau sekadar menunjukkan jika menjadi berguna itu bukan satu hal yang sulit.

Epilog

“Jadi tanggapanmu waktu itu apa?”

“Ya, pada akhirnya kita memang tidak akan pernah mencapai zero waste, Maya. Namun, bukan berarti yang kita lakukan kini adalah zero action. Maka para aktivis lingkungan kini kan memang bergerak kepada ranah yang lebih besar—“

Bukan berarti zero action. Satu atau tidak sama sekali, menghargai hal sekecil apapun itu. Menjadi berguna meski dengan sedikit kemampuan yang kita punya.

Daftar Pustaka

Glynn, Peter. (2012). Global Warming and Widespread Coral Mortality: Evidence of First Coral Reef Extinctions. 10.5822/978-1-61091-182-5_7.

Identitas Penulis

Imaya Nadzif, Antropologi Budaya 2020
May/Maya/Ayya, penyuka warna kuning dan lipstick merah.

Sembari Berjalan, Kita … Menyadari Sesuatu

Sumber: Dokumen pribadi

Katanya manusia terlahir untuk berjalan. Itu logika dasar, dikarenakan fakta bahwa manusia memiliki kaki maka tidak ada yang perlu didebatkan. Lalu, dalam pembahasan inklusivitas, tentu kita akan mempertimbangkan keberadaan tunadaksa, di mana mereka tidak benar-benar berjalan kaki. Atau inklusivitas tidak hanya mempertimbangkan disabilitas saja. Dan berjalan kaki, akhirnya tidak sesempit melangkahkan kaki menuju tujuan.

Peradaban manusia berkembang, yang salah satu hasilnya ialah perjalanan tidak hanya soal titik awal dan tujuan. Apa yang dilihat dan dirasakan selama perjalanan menjelma jadi kesan tersendiri atau justru hambatan yang begitu memuakkan. Sebut saja panorama yang indah atau kemacetan berjam-jam. Moda perjalanan juga tidak tunggal, membuatnya semakin membentuk kisah-kisah kompleks.

Kembali lagi pada konteks berjalan (kaki). Tulisan ini adalah perjalanan cerita(ku), di mana sembari berjalan, banyak hal yang ditemukan dan disadari. Di jalan raya, kita yang berjalan paling sering menemukan orang yang memakai moda lain alias kendaraan. Sembari melihat kontestasi moda atau justru mitra perjalanan, bisa membuat pejalan menyadari sesuatu, tentunya. Atau sembari berjalan, kita kadang mendengarkan lagu.

Kerasnya Kota Metropolitan … Jangan Bikin Otak Lo Berantakan

Lagu pertama ialah “Lagu Urban” oleh Steven & Coconut Treez. Lagu yang dari judulnya gamblang membicarakan perkotaan (urban) ini menceritakan respons atas kerasnya hidup di kota besar. Mungkin cocok untuk didengarkan ketika sedang menghadapi hambatan memuakkan di jalan. Dalam konteks berjalan kaki, ya, (hambatan itu) ketika perjalan(kaki)an berlangsung tidak begitu menyenangkan.

Namun, menariknya, yang kerap terjadi di kota-kota di Indonesia ialah orang-orang tidak umum berjalan kaki. Setidaknya sejak dekade 1950-an, kata Colville-Anderson (2018)1, perkotaan dunia mulai car-oriented. Atau di Indonesia sejak 1970-an. Warga kota perlahan dominan berkendaraan pribadi. Fakta itu membuat ‘kerasnya kota’ menjadi lebih keras untuk pejalan kaki karena terpinggirkan dari desain kota dan kehidupan sosial mobilitas. Namun, aku tidak akan bicara kemunculan gerakan sosial resistensi semacam Koalisi Pejalan Kaki2 sepertinya.

Ada beberapa perjalan(kaki)an yang mengujiku akan kerasnya kota (desain dan warga) kepada pemilih jalan kaki. Terjeblos lubang di trotoar, terjeduk kepalaku oleh benda tidak terlihat, atau sekadar didorong oleh kenek bus ketika aku keluar bus. Sepertinya kejadian-kejadian tersebut cukup untuk membuat seseorang tersulut emosi. Tidak selalu kubilang hambatan yang memuakkan, tetapi bisa dibilang membuat buruk rasa perjalanan.

Atau … tidak juga. Ternyata dengan berjalan membuatku punya waktu untuk meredam emosi atau merefleksikan keadaan. Sembari berjalan–apalagi ketika sendiri, mulut tidak bisa sambat ke mana pun atas emosinya dan otak berpikir ulang untuk relevansinya. Ketika sampai tujuan, sepertinya redaman itu berhasil sebab perjalanan perlahan. Kata Steven & Coconut Treez ‘kan, “Jangan otak kita berantakan.” Jikapun sering (otak berantakan), sepertinya kita perlu jalan-jalan, sebuah bentuk ‘jalan’ yang bersifat hiburan (sepertinya?).

Jalan-Jalan (di Akhir Pekan), Lihat ke Kiri dan ke Kanan

Pada suatu talkshow (2020)3, Bu Theresia Tarigan, Koordinator Koalisi Pejalan Kaki Semarang4, menyatakan, “Kita bisa menikmati dan mengamati detail ketika berjalan, yang tidak bisa kita rasakan ketika bermobil.” Aku terperanjat ketika pertama kali mendengar itu, padahal diriku sudah sering berjalan kaki ketika itu. Namun, tidak pernah benar-benar menyadari perbandingan pengalaman itu dengan perjalanan berkendaraan.

Hari-hari berjalan kaki berikutnya hanya menjadi lebih bermakna bagiku. Tengok kanan dan kiri, kita melihat dan mengamati lebih intens apa yang ada dan terjadi di sepanjang perjalanan. Jika Antropolog (atau pembelajar Antropologi) gemar mengamati, ini pendukung yang baik ‘kan? Observasi hal-hal sembari berjalan. Walaupun kata Vergunst dan Ingold (2018)5 dalam Ways of Walking, variabel berjalan tidak banyak mendapat perhatian dari Etnografer. Mungkin karena terlalu common sebagai aktivitas hidup manusia.

Atau tidak perlu terlalu serius. Soalan tengok kanan-kiri ini juga menyentuh makna santai. Panorama indah bisa dinikmati lebih lama, atau obrolan, bandingkan saja dengan mengobrol di motor. Memang, kemudian pertanyaannya, perjalanan itu perlu mengobrol atau tidak? Perlu menikmati pemandangan atau tidak? Ini yang memang menjadi pertanyaan/dilema utama dalam mobilitas menurut Banister (2007)6, mobilitas merupakan derived demand atau valued activity?

Pertanyaan itu hanya untuk dijawab dengan ‘tergantung perjalanannya’ karena akan selalu ada. Jika Pedestrian Jogja7 mengenalkan varian-varian pejalan kaki (yang kemudian menentukan kebutuhan dan kepentingannya) dalam kampanye #PedestrianDiversity-nya8, varian atau tipe perjalanan dalam lingkup umum toh juga ada. Mengapa Shaggydog jalan-jalan di akhir pekan? Tentu berbeda dengan perjalanan untuk kerja pada tengah pekan. Ada yang kesan perjalanannya dimaknai, ada yang tidak sempat tengok kanan-kiri.

Kita Berjalan Saja Masih Terus Berjalan

Pada akhirnya, tiap segmen tulisan memang bukan soal lagu yang dikutip untuk subjudul. Akan tetapi, bisa berhubungan ‘kan. Seperti pengakhiran ini, mencoba mencari, ‘apa alasan kita masih berjalan?’ tentu akan sangat luas jika ‘berjalan’ ini kita maknai dengan perjalanan hidup atau kuatnya menghadapi kerasnya kehidupan; maka, pertanyaan ini hanya sesempit walking.

Sumber: Dokumen pribadi

“Biy, aku kemarin jalan kaki, loh!” Teman-temanku suka melapor demikian, entah kenapa. Tadinya, kuberpikir itu seperti suatu hal yang biasa saja. Ya, aku berjalan kaki sehari-hari. Namun, cepat kusadari, bagiku memang tidak terlalu spesial karena sudah biasa. Mereka melapor dan bangga karena biasanya tidak berjalan kaki. Dan itu inti dari kampanye #PedestrianDiversity ‘kan, bahwa ada pejalan kaki sehari-hari, aktivis, atau rekreasi, tergantung intensitas dan minat. Kemudian, itu menentukan pemaknaan berjalan mereka.

Aku pun begitu. Pemaknaan berjalan terjadi setelah aku menyadari perbandingannya dengan berkendaraan. Manusia terlahir dan hakikatnya untuk berjalan, tetapi dengan adanya budaya kendaraan, berjalan kaki yang tidak biasa menjadi lebih berarti. Walaupun berjalan tetap aktivitas common, kata Vergunst-Ingold (2018). Dan … dalam era dunia yang cepat ini, perjalanan yang tidak terburu-buru menjadi begitu berarti. Sembari berjalan, kita bisa mengobrol atau bernyanyi. Menikmati berjalan? Tahu-tahu sudah sampai tujuan.

Tulisan ini adalah perjalanan (cerita dan) berpikirku, yang sembari (dan setelah) berjalan, aku telah menyadari dan berpikir banyak hal. Sekian sejenak sampai di sini. Karena ‘sejenak’, maka hampir pasti aku akan berjalan lagi. “Kita tak juga rela tunduk pada jarak,” kata Sisir Tanah. Dan karena ‘kita berjalan’, aku selalu senang jika punya teman berjalan, walaupun aku tidak pernah keberatan berjalan sendiri. Dan sembari berjalan, kita … bisa apapun. Adakah nanti ada cerita (lagi)?

Rujukan Tulisan

1 Colville-Andersen, Mikael. (2018). Copenhagenize: The Definitive Guide to Global Bicycle Urbanism. 10.5822/978-1-61091-939-5.

2 Laman Koalisi Pejalan Kaki. Akun Instagram Kopeka.

3 “Talkshow on Walking & Cycling in the Post-Pandemic: a New Trend” dalam Climate Diplomacy Week 2020.

4 Akun Instagram Koalisi Pejalan Kaki Semarang (KPKS).

5 Ingold, T., & Vergunst, J. L. (2008). Ways of Walking: Ethnography and Practice on Foot. Aldershot: Ashgate.

6 Banister, David. (2007). The Sustainable Mobility Paradigm, Transport Policy 15 (2008) 73–80.

7 Akun Instagram Pedestrian Jogja.

8 Video “Every #PedestrianMatters”.

Identitas Penulis

Abiyyi Yahya Hakim, Antropologi Budaya 2019

Mahasiswa Antropologi yang akan selalu berubah dalam menceritakan dirinya di profil, tergantung konteks. Kali ini sebagai koordinator dari Pedestrian Jogja, menyambi jadi Koordinator Kampanye Media di Koalisi Pejalan Kaki. Belakangan bisa diajak berkolaborasi dalam diskusi hingga aksi dalam lingkup transportasi, perkotaan, lingkungan, hingga kepramukaan. Bisa berdiskusi di Instagram @pedestrianjogja, @koalisipejalankaki, @panduaksilingkungan, hingga @askasaraproject.

Tradisi Pernikahan Unik Negeri Hitu: Menjadi Ajang ‘Unjuk Gigi’ di Tengah Kehidupan Masyarakat

Sumber: https://www.instagram.com/hausihuphotosoper

Kisah kali ini berasal dari sebuah tempat nan jauh di timur Indonesia sana. Negeri1 Hitu, semenanjung utara Pulau Ambon, Maluku, menjadi tempat saya menghabiskan hampir separuh hidup. Ambon masih terasa belum familiar bagi segelintir orang yang pernah saya temui di Pulau Jawa. Celetukan-celetukan seperti, “Ambon itu Sulawesi, yaa?” atau “Orang Ambon itu yang kalo ngomong pake ‘Sa’ atau ‘Ko’ bukan?” atau “Ambon itu di mana, sih?” dan berbagai celetukan lain yang mengisi basa-basi ketika bertemu dengan orang-orang baru. Pengawalan pagi hari di rumah selalu disambut dengan suara bising jibu-jibu2 yang berlarian dari darat menuju laut untuk segera menghampiri bodi3 berisi ikan hasil bobu4. Selain suara kebisingan di pagi hari, negeri ini juga menyimpan kebudayaan-kebudayaan unik, salah satunya pernikahan.

Pernikahan di Negeri Hitu acap kali diselenggarakan secara mewah dengan melibatkan partisipan dari hampir seluruh masyarakat setempat. Biasanya, segala prosesi pernikahan berlangsung di kediaman mempelai pria yang nantinya akan menjadi rumah baru bagi mempelai wanita. Kedudukan kerabat berperan sangat krusial dalam prosesi adat yang satu ini, baik keluarga jauh maupun dekat. Tradisi pernikahan ini sering ditutup dengan sebuah pesta pada Sabtu malam yang menandakan kebahagiaan atas kelancaran segala prosesi pernikahan dengan baik dan merupakan bentuk apresiasi bagi semua kerabat yang turut berpartisipasi. Masyarakat yang menganut sistem patrilineal ini memiliki serangkaian prosesi dalam tradisi pernikahan yang hanya saya jabarkan dalam tiga bagian. 

Pertama, mempelai pria akan melamar wanita dengan memboyong beberapa anggota keluarga. Keluarga mempelai pria akan melakukan prosesi ‘tawar-menawar’ mahar. Jumlah mahar ditentukan oleh keluarga mempelai wanita yang dapat diukur berdasarkan seberapa tinggi pendidikan mempelai wanita, kedudukan pekerjaan mempelai wanita, kedudukan sosial mempelai wanita, berdasar keputusan kedua belah pihak, dan kriteria-kriteria lain. 

Kedua, ijab kabul tidak menghadirkan mempelai wanita. Ketika prosesi ini berlangsung, hanya ada mempelai pria dan para pria yang meliputi pemuka agama, pemuka adat, kerabat kedua mempelai, dan lainnya. Setelah ijab kabul selesai, mempelai pria mencoba masuk ke dalam kamar pengantin yang sudah diadang beberapa kerabat yang dinamakan pele pintu5. Mempelai pria harus menyediakan amplop berisi uang untuk menyingkirkan para kerabat dari depan pintu kamar pengantin. Setelah itu, barulah mempelai wanita digiring menuju ke puadai untuk menyambut para tamu undangan yang telah hadir. 

Ketiga, penyediaan perlengkapan rumah tangga dari keluarga mempelai wanita ke rumah yang akan ditinggali bersama, baik rumah keluarga mempelai pria ataupun rumah baru yang dimiliki oleh keluarga mempelai pria atau kepemilikan kedua mempelai. Penyediaan perlengkapan rumah tangga itu berupa alat elektronik, mebel, peralatan dapur, dan lainnya, dengan tolok ukur berdasar jumlah mahar yang diberikan keluarga mempelai pria tadi. Prosesi ini hanya akan terjadi apabila sang mempelai wanita berasal dari Negeri Hitu dan akan tetap dijalankan, meskipun sang mempelai pria berasal dari negeri seberang. Semakin besar mahar yang diberikan, semakin mewah barang yang disediakan.

Menjadi Ajang ‘Unjuk Gigi’ di Tengah Kehidupan Masyarakat

Mari kita merefleksikan tradisi ini lagi. 

Jumlah mahar memengaruhi seberapa mewah barang yang diberikan oleh keluarga mempelai wanita. Prosesi ini dilakukan setelah ijab kabul. Dalam prosesi ini disediakan mobil-mobil pengangkut barang yang akan dibawa ke kediaman mempelai pria. Ramai, membuat ‘para penonton’ menerka-nerka berapa jumlah mahar yang diterima sehingga mendatangkan barang sebanyak dan semewah itu. Di sisi lain, pasangan mempelai dengan kelas sosial lebih rendah hanya akan menyediakan sedikit mahar dan barang dengan acara sederhana. Mereka hanya akan melakukan prosesi wajib keagamaan, seperti ijab kabul dan pengajian dengan mengesampingkan prosesi adat lain yang membutuhkan banyak biaya. Peristiwa ini akan dipandang sebagai hal biasa bagi masyarakat setempat dengan mewajarkan kedudukan sosial pasangan mempelai. Namun, pernikahan mewah akan terus menjadi pembahasan menarik dengan segala pujian yang dilontarkan. Saya memandang hal ini sebagai penanaman persepsi bahwa pernikahan mewah menjadi yang terbaik dan justru menghilangkan esensi dari ‘pernikahan’ itu sendiri. Pernyataan seperti “Makanya, nanti rawat dirimu baik-baik supaya bisa dapat mahar yang besar,” sungguh membuat saya risih seakan-akan eksistensi wanita hanya untuk mencari pria terbaik yang mengantongi segepok mahar. 

Setelah menilik beberapa problematika di lingkungan sosial yang dilihat secara kentara, ada pula beberapa dampak tidak kentara dari tradisi nenek moyang yang sudah berlangsung di tengah masyarakat sejak dahulu kala. Asumsi saya, tradisi ini dapat membantu menekan biaya pernikahan yang tergolong mahal. Dengan adanya bantuan dari kerabat, kedua mempelai dapat berfokus pada beberapa hal sentral untuk diselesaikan. Prosesi ini juga dapat mempererat hubungan kekerabatan yang ada dengan turut mengambil andil dalam prosesi pernikahan membuktikan bentuk afeksi antarkerabat. Akan tetapi, yang menjadi pertanyaan adalah, apakah kebutuhan rumah tangga menjadi tanggung jawab segelintir orang? Sejatinya, tradisi ini memiliki berbagai implikasi bagi kehidupan bermasyarakat. Dengan terus dijalankannya tradisi ini sampai sekarang, membuktikan bahwa masih ada usaha dari masyarakat setempat untuk melanggengkan tradisi nenek moyang. Namun, apakah tradisi ini masih relevan dengan perkembangan pesat dunia masa kini? Transformasi kebudayaan mungkin saja terjadi pada tradisi ini, baik dalam bentuk baru maupun bentuk lama yang dimodifikasi. Apakah ke depannya masyarakat setempat masih memerlukan tradisi ini dalam menjalani kehidupan?

Catatan:

1 Istilah lain untuk menyebut ‘desa’.

2 Sebutan untuk para ibu atau wanita penjual ikan.

3 Sebutan masyarakat setempat untuk kapal pencari ikan.

4 Sebutan untuk aktivitas mencari ikan di malam hari.

5 Sebutan untuk kegiatan menghadang pintu kamar pengantin.

Identitas Penulis

Siti Fatria Pelu, Antropologi Budaya 2021

Seorang manusia biasa yang baru sahaja mengenyam bangku perkuliahan. Mari berteman dengan bercakap-cakap melalui akun instagram @sifa_pelu. Silakan beropini semerdeka mungkin dan sampai jumpa pada karya-karya selanjutnya! 

Visualitas Mandalika: Meneropong Relasi Kuasa

Istilah “meneropong” erat pertaliannya dengan posisi saya saat ini—mengamati dari kejauhan pesta akbar tanah kelahiran, siapa yang tidak tertinju ulu hatinya; setahun yang lalu kawasan itu belum rampung dan kami tidak berharap banyak. Berbagai surat kabar, media multilevel, dan reportase kawan rumah cukuplah mengawetkan rindu, selalu saja ada yang lahir—dialektika dunia lama dan dunia baru, tragedi yang remang dan samar, lalu berbagai citra media memberikan makna. Itu yang terjadi pada Mandalika. Bagaimana antesedennya di masa lalu dan transformasinya sekarang.

Saya penasaran akan diorama visual yang membuat tubuh dan pikiran menolak tidur. Layaknya turbulensi profetik dalam diri yang berkecamuk; tulis atau tenggelam. Barangkali, perasaan semacam ini yang dirasakan oleh setiap pemikir—walaupun kami masih jauh dari kesan tersebut, bahkan mendekati pun … tidak; saya hanya mengkonsumsi gagasan terdahulu, mengolah, dan mencoba hal yang sama. Mengutip petuah seorang senior “Semakin banyak kau membaca wacana atau fenomena—semakin kau tersiksa, namun justru ketidaktahuan serupa kereta yang mengantarmu ke jurang antah berantah”.

 “Jalan studi kalian ialah usaha rumit mengungkap relasi kuasa, kondisi ruang, dan berbagai invisibilitas lainnya. Dengan sendirinya—narasi besar itu akan terpatahkan selepas tersingkap. Ini disebut teknik dekonstruksi. Sebuah metode yang dapat kita gunakan di era berkelindannya kepentingan. Sepengalaman saya di lapangan, prosesnya enak diceritakan tapi susah dilakoni. Alonalon wae, cah; yang penting paham. Kalian yang awalnya terlihat lugu bakal jadi bocah ngeyel dengan pertanyaan kritis, mendalam, dan tajam.” Kurang lebihnya begitu—titipan wejangan dari Mas Pujo. 

Ada dua interkoneksi mata kuliah yang saya gunakan untuk membedah visualitas Mandalika, kelas etnografi dan antropologi visual. Pelukisan ini bersifat analisis-spekulatif menurut representasi saya—yang mana landasan tafsirannya berdasarkan sumber internet, pembacaan literatur, pengalaman pribadi, dan foto kontributor. Sekadar percobaan menguliti dan barang tentu mengandung bias subjektif. Tujuan penggambaran ini berangkat dari premis Prof. Laksono dalam esainya; “Memahami Kebudayaan (Indonesia) Dari Perspektif Antropologi”; Siapa mempertontonkan apa untuk siapa dan siapa menonton apa? Lalu apa makna dari tontonan itu? 

Pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) adalah upaya aktualisasi peningkatan devisa negara—membuka keran pasar bebas guna memulihkan krisis ekonomi tahun-tahun terakhir. Beberapa daerah ditetapkan, salah satunya Mandalika. Indikasi persyaratan pengajuan kawasan terbilang cukup mudah—bermodal wilayah geografis strategis dan keunggulan sumber daya alam. Tingginya interaksi perdagangan internasional juga menguatkan alasan negara mengkomodifikasi ruang regional. Sebetulnya, tidak ada yang salah dengan pembangunan, namun apakah etika lingkungan mendapat perhatian? Itu persoalan belakang. Terlibatnya Indonesia dalam G20 kian memperjelas wajah neoliberal yang laten.

Kemudian, pariwisata menjelma pasar unggulan dan memenetrasi dari berbagai arah—tanpa kita sadari telah merenggut keintiman masyarakat lokal dengan lingkungan. Keinginan pemerintah menciptakan “10 Bali baru” cukuplah menelanjangi kita “bagaimana bisnis pariwisata begitu menjanjikan”. Padahal belum tentu semua wilayah akan cocok seperti Bali, ada banyak aspek yang mesti dipertimbangkan; contohnya pembangunan Amphitheater di Bromo Tengger, Jawa Timur—keberadaan fasilitas itu dibangun untuk kepentingan wisatawan dan justru menyingkirkan ritus adat masyarakat setempat.

Branding pariwisata di Lombok khususnya Mandalika kian gencar—memakan sejumlah modal dan energi yang sangat besar. Banyak pihak yang terlibat, banyak pula yang terlibas. Singkatnya, Mandalika berangsur menjadi kawasan eksklusif. Privatisasi lahan publik mengejawantahkan kontrol kuasa, salah satunya infrastruktur sirkuit moto GP yang mengepung kampung perlahan mengubah kesadaran adaptasi masyarakat—Bagaimana blok jalan dipoles, pagar besi ditanam, gedung dan hotel mewah kian subur, terputusnya akses menuju laut, dan perubahan morfologi lainnya secara tidak langsung menggeser pola-pola lama. Intervensi material itu membangkitkan daya lawan seorang subjek terhadap sekitarnya; seperti warga dusun Ebunut yang menjebol pagar sirkuit, atau massa yang memilih menonton perhelatan moto GP dari atas bukit bahkan kuburan; “Karena tidak dikasih masuk, ya kita nonton saja di sini, gratis juga kan,” pungkas Ishaq dengan polosnya (Kompas, 11/02/2022). Dengan demikian, KEK Mandalika adalah manifestasi struktur teknologi politik yang melahirkan berbagai skenario nuansa baru.

Warga negara dibentuk menjadi subjek yang memiliki dua pilihan; mati atau hidup berdampingan. Mati dalam artian—persendian kehidupan tersendat, meninggalkan wilayah kultural dan harmonisasi hidup di pesisir. Hal ini digambarkan Foucault sebagaimana kekuasaan itu beroperasi dari luar melalui relasi material yang tersebar menyerupai jaringan—yang mana mewujudkan skema pendisiplinan warga negara dalam kontrol kuasa (disciplinary power). Selain itu, manusia diobjektifikasi serupa koin yang memiliki dua sisi. Dalam konteks ini, apakah masyarakat di sekitar Mandalika ialah warga marjinal atau bukan marjinal.

Sejak awal perencanaan sampai berjalannya aktivitas ekonomi di KEK Mandalika memang cukup menuai problem dan berbagai kontroversi; mangkraknya proyek, warga sebagai korban pembangunan, birokrasi lahan yang macet, konflik agraria, dan munculnya pawang hujan. Visualisasi tersebut menampilkan gegar budaya di tengah masyarakat, seakan terasing jauh dari tanah sendiri, namun masyarakat sebenarnya belum terpisah dari akar kepribadiannya. Maka dapat kita katakan, bahwa transformasi teknologi di Mandalika tidak seiring dengan gerakan transformasi sosial budaya. Kita juga bisa mencermati efek arus komunikasi masyarakat dengan dunia global kian dieksploitasi, misalnya kehadiran pawang hujan yang mengenakan atribut proyek dan diberikan kartu identitas ialah kontrol politis yang jamak. Aktivitas ritual tersebut biasanya kita temukan di pedalaman atau pedesaan yang masih kuat pusat orientasi nilai budayanya, namun kini dijumpai pada ruang kapital yang masif  kepentingan—dimodifikasi sedemikian ciamik, tetapi dengan jelas mencerminkan krisis akulturasi. Otoritas kebudayaan tidak lagi menjadi milik satu pihak, namun direproduksi secara massal oleh berbagai institusi guna melegitimasi tujuan politis.

Sikap pragmatis pemerintah yang memasarkan kearifan lokal menimbulkan ketegangan antar publik, visualisasi ini seolah sebagai ladang kontestasi dan melahirkan fenomena yang disebut friksi kebudayaan, yaitu terjadi sebuah pergeseran arti dari tradisi itu sendiri. Menurut Anna Tsing, interaksi antara dua kekuatan—global dan lokal—menimbulkan gesekan yang bermuara pada situasi yang tidak dapat diprediksi. Barangkali, afeksi sementaranya adalah debat kusir di sosial media, akan tetapi bagaimana kedepannya—mengingat Indonesia merupakan komunitas besar dengan latar belakang yang plural. Ancaman seperti intoleransi, perpecahan kubu, dan ujaran kebencian ialah magma panas yang kapan saja bisa meletus. Visualitas Mandalika di media memang mengandung bias kuasa yang sukar terdeteksi, ia hidup dalam ruang genggam kita dan dikelola oleh individu atau sekelompok instansi. Ada yang tidak disadari, ada juga yang telah direncanakan dengan sistematis. Tugas kita adalah menemukan sejauh mana narasi itu dapat bertahan, mungkinkah ada celah yang bisa kita kaji dan suarakan. Karena pengetahuan di lapangan sejatinya milik masyarakat dan harus dikembalikan pula kepada mereka. Selamat membongkar visualitas!

Sumber:

Instagram. Retrieved March 29, 2022,

 [pesona.indonesia]. (2022, March 23). Instagram. Retrieved March 28, 2022, from https://www.instagram.com/p/CbZqVgXvrua/?utm_medium=copy_link

Abdullah, Irwan. (2015). Konstruksi dan Reproduksi Kebudayaan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Detikcom, T. (2022, February 14). Tes Pramusim Mandalika: Bapak-bapak sarungan-pekerja Proyek Curi Perhatian. detikoto. https://oto.detik.com/otosport/d-5941045/tes-pramusim-mandalika-bapak-bapak-sarungan-pekerja-proyek-curi-perhatian

Foucault, M. (n.d.). The subject and power. Ethische und politische Freiheithttps://doi.org/10.1515/9783110815764.387

Guntur, O. N. (2021, September 12). Foucault Dan Warga Negara. LSF COGITO. https://lsfcogito.org/foucault-dan-warga-negara

Indonesia, C. (2022, March 27). Media Spanyol Sebut Roro Pawang Hujan Pahlawan MotoGP Mandalika.olahraga. https://www.cnnindonesia.com/olahraga/20220327144620-156-776703/media-spanyol-sebut-roro-pawang-hujan-pahlawan-motogp-mandalika

Kala Presiden Resmikan Sirkuit Mandalika, Persoalan Lahan Masih Menggantung. (2021, November 20). Mongabay Environmental Newshttps://www.mongabay.co.id/2021/11/20/kala-presiden-resmikan-sirkuit-mandalika-persoalan-lahan-masih-menggantung/

Kawasan Ekonomi Khusus Di Indonesia. (n.d.). BKPM. https://www8.bkpm.go.id/id/publikasi/detail/berita/kawasan-ekonomi-khusus-di-indonesia

Kompas Cyber Media. (2022, February 11). Cerita Warga Nonton tes Pramusim MotoGP Dari Atas Kuburan: Nonton Di Sini Saja, gratis. KOMPAS.com. https://regional.kompas.com/read/2022/02/11/191200678/cerita-warga-nonton-tes-pramusim-motogp-dari-atas-kuburan–nonton-di-sini?page=all

Nasib para Perempuan Yang Hidup Di Sekitar KEK Mandalika. (2021, March 26). Mongabay Environmental News. https://www.mongabay.co.id/2021/03/26/nasib-para-perempuan-yang-hidup-di-sekitar-kek-mandalika/

Nasib Warga Yang Terkurung Sirkuit Mandalika. (2021, August 28). Mongabay Environmental News. https://www.mongabay.co.id/2021/08/28/nasib-warga-yang-terkurung-sirkuit-mandalika/

Pontoh, C., Arianto, S. (2021). Neoliberalisme: Konsep dan Praktiknya di Indonesia (1st ed.). Pustaka IndoPROGRESS.

Presidensi G20 Indonesia 2022. (n.d.). Bank Indonesia. https://www.bi.go.id/id/g20/Default.aspx

Puspita, L. (2022, January 5). Kami Bertanya Ke orang Tengger tentang Kawasan Bromo Dijadikan ‘Bali Baru’, Jawabnya: ‘Kami Bisa APA?’. Project Multatuli. https://projectmultatuli.org/kami-bertanya-ke-orang-tengger-tentang-kawasan-bromo-dijadikan-bali-baru-jawabnya-kami-bisa-apa/

Sekilas Tentang Indonesia. (n.d.). Kawasan Ekonomi Khusus | Dewan Nasional Kawasan Ekonomi Khusus. https://kek.go.id/sekilas-tentang-indonesia

Tsing, A. L. (2011). Friction: An ethnography of global connection. Princeton University Press.

Identitas Penulis

Ruly Andriansah, Antropologi 2021.

Mahasiswa Antropologi budaya 21, pembelajar seumur hidup yang menyukai aroma laut. Segumpal daging ini bisa diajak berkicau di rulyandriansah@gmail.com atau IG: @rulyandsyah.

Musik dan Rekonsiliasi Konflik: Sihir-Sihir Indah di Tanah Maluku

Perjumpaan manusia dengan musik merupakan keniscayaan yang tidak bisa dibantah. Musik selalu menemani perjalanan manusia di berbagai kebudayaan di seluruh dunia. Pada awal-awal perkembangannya, mungkin sebagian dari kita sudah tahu bahwa nenek moyang kita dahulu hanya menggunakan mulut untuk menciptakan sebuah alunan nada, jauh sebelum kita mengetahui apa itu “nada”, “irama”, “harmoni”, dan yang lainnya saat ini. Perkembangan itu lantas diikuti dengan kegiatan memodifikasi suara-suara yang dihasilkan alam dengan cara membuat “alat musik” yang terbuat dari bahan-bahan alam setempat. Kemudian, manusia mulai menciptakan bahasa-bahasanya sendiri lalu menuliskan apa yang mereka ucapkan serta pikirkan pada media tulis. Pada tahapan lanjut inilah musik menjadi semakin kompleks karena tidak hanya memanfaatkan aspek alat yang digunakan, musik telah memasukkan unsur bahasa yang di dalamnya tertuang pula emosi, pikiran, ide-ide, imajinasi, serta tujuan-tujuan tertentu manusia.

Musik telah berkembang sebagai alat di mana manusia dapat menggunakannya untuk mengakomodasi kebutuhan-kebutuhan di dalam hidupnya. Sebagai pengundang nestapa maupun pelipur lara, sebagai bentuk penindasan maupun penghormatan, atau sebagai pemupuk perdamaian maupun pencipta perpecahan bisa diwujudkan dengan kehadiran musik. Itu semua tergantung pada bagaimana musik hendak digunakan oleh manusia. Lalu, pada tulisan ini, saya hendak membahas bagaimana jika musik digunakan untuk mewujudkan perdamaian atau praktisnya sebagai sebuah aktivitas dari resolusi konflik. Sejauh mana kapasitas musik bermain peran di dalamnya? Bisakah hal itu terwujud? Untuk menjawab itu semua, mari kita sejenak belajar dan berefleksi dari fenomena yang pernah terjadi di Maluku pada tahun 1999.

Apa yang Terjadi di Maluku?

Maluku dengan segala keindahan bentang alam dan budayanya tentu tidak bisa lepas dari beragam dinamika manusia di dalamnya. Banyaknya manusia yang harus ditampung oleh wilayah ini memungkinkan terbentuknya kelompok-kelompok yang berbeda satu sama lain. Keberagaman inilah kemudian memicu salah satu konflik terbesar di Maluku pada tahun 1999. Pada mulanya, konflik ini timbul akibat perseteruan antar etnis dan pertarungan elit politik lokal, kemudian berkembang menjadi konflik antara agama Islam dengan Kristen (Safi, 2017:34). Konflik yang sudah tereskalasi tersebut kemudian memerlukan jalan keluar yang tepat. Dalam rangka meredam konflik yang terjadi, Maluku memiliki jalan keluar yang sangat sederhana, tetapi fundamental dalam kehidupan manusia. Jalan keluar itu melalui musik.

Musik yang Menyihir

Meredamnya sebuah konflik bisa menjadi langkah awal perdamaian dapat tercipta. Atas dasar itulah, kehadiran musik di tengah-tengah proses tersebut dapat menjadi media yang tepat untuk mewujudkannya. Pernyataan tersebut tidak berlebihan mengingat beberapa penelitian terbaru memaparkan bahwa musik merupakan perekat yang memungkinkan terbentuknya hubungan sosial (Lederach, 2020:140). Itulah sebabnya mengapa berbagai gerakan sosial-budaya bisa terjadi salah satunya karena melalui pengaruh dari keberadaan musik. Dalam diskursus konflik di Maluku, keberadaan musik sangat diperhitungkan untuk menciptakan sebuah gagasan tentang perdamaian yang lantas diwujudkan bersama. Maka dari itu, bagian ini akan berusaha mengeksplorasi sejauh mana musik dapat meredam suatu konflik.

Kehadiran musik di tengah-tengah proses meredamnya konflik tidak menempati ruang-ruang kosong yang tak bermakna. Maka dari itu menurut Howell (2021:86), musik akan menempati posisi-posisi berikut:

  1. Musik sebagai representasi, di mana musik akan menghubungkan beberapa kelompok yang terlibat dalam konflik, kemudian mendorong para pendengarnya kepada kondisi yang lebih bersimpati atas masalah yang terjadi atau pengakuan terhadap kelompok lain yang terlibat dalam masalah yang sama.
  2. Musik sebagai kegiatan bersama, yaitu menjadi sarana untuk menjalin hubungan, menciptakan dialog, dan empati melalui partisipasi dalam pembuatan musik.
  3. Musik sebagai instrumen emosional, musik berfungsi sebagai pengubah perasaan seseorang dan menghasilkan relasi melalui kegiatan mendengar bersama-sama

Dalam konteks Maluku, lagu-lagu perdamaian dibuat dan dirangkai sedemikian rupa oleh para musisi lokal yang ada di sana. Para musisi merangkai lirik dan nada lagu sesuai dengan naskah-naskah kultural dan irama yang khas Maluku (Lestari, 2020:377). Hal inilah yang kemudian mengkondisikan gagasan para pendengarnya terhadap lagu yang dimainkan secara kontekstual. Para musisi menghasilkan sebuah konsepsi ideal mengenai perdamaian melalui lirik-lirik lagu yang dirancang.

Maka dari itu, apabila dilihat mulai dari proses pembuatan musiknya, interaksi yang terjadi selama proses pembuatan, sampai kepada musik tercipta dan diperdengarkan, musik yang diciptakan oleh para musisi Maluku dapat memperlihatkan kepada kita tentang posisi dari musik itu sendiri di tengah-tengah konflik yang sedang terjadi.  Pertama, lagu-lagu yang dibawakan saat acara perundingan antara kedua kelompok yang berkonflik memunculkan kembali ingatan masyarakat Maluku bahwa mereka semua bersaudara dan menegaskan kembali filosofi pela dan gandong. Baik pela maupun gandong keduanya sama-sama memiliki makna yang tidak jauh berbeda bahwasanya antar individu ataupun daerah-daerah yang ada di Maluku merupakan satu kesatuan harmoni yang tidak bisa dipisahkan (Lestari, 2020:384). Fenomena ini memperlihatkan bahwa musik menempati posisi sebagai sebuah representasi dalam bingkai membentuk perdamaian. Pada tahap ini, musik berhasil membangkitkan makna kolektif (Lederach, 2020:143-144) masyarakat Maluku atas bentuk-bentuk perdamaian yang lebih indah daripada konflik yang sedang terjadi.

Kedua, sebagai sebuah kegiatan bersama, Lestari (2019:21) mendokumentasikan momen di mana dua komunitas (Islam dan Kristen) yang sedang berkonflik berkolaborasi dalam pembuatan lagu perdamaian. Mereka menggunakan instrumen musik yang sangat identik dengan penggunaannya di masing-masing ritual keagamaannya, seperti bedug dan lonceng. Kegiatan kolaborasi inilah yang kemudian tercipta dialog antar dua kelompok budaya yang bersifat kultural dan penuh simpati maupun empati.

Terakhir, melalui kegiatan pembawaan lagu saat acara perundingan kedua kelompok yang sedang berkonflik terjadi, musik berhasil mengubah suasana hati para peserta yang hadir. Suasana yang panas akibat konflik berhasil dicairkan ketika lagu-lagu perdamaian sudah dilantunkan. Para peserta menampilkan ekspresi-ekspresi seperti menangis, berteriak, dan saling memeluk (Lestari, 2020:379). Fenomena itu sangat menegaskan kepada kita bagaimana posisi musik sebagai sebuah instrumen emosional yang berhasil mengubah suasana hati.

Epilog: Mantra Perdamaian

Musik yang sangat lekat di dalam kehidupan manusia sangat mempengaruhi tindakan-tindakannya. Dalam diskursus konflik dan perdamaian, musik bisa menjadi sarana yang tepat untuk menjadi solusi atas konflik yang terjadi supaya berbuah perdamaian. Masyarakat Maluku yang sempat mengalami konflik pada tahun 1999 pun tidak bisa melepas keberadaan musik sebagai upaya meredam konflik. Dalam hal ini, musik menempati posisi yang krusial sebagai sebuah representasi, kegiatan bersama (kolaborasi), dan sebagai instrumen emosional.

Keahlian yang dimiliki para musisi lokal Maluku dalam merancang lirik dan nada dari lagu perdamaian yang akan diciptakan, membuat para pendengarnya merasakan pengaruh dari musik itu sendiri. Lagu-lagu yang dibawakan berhasil memunculkan ingatan kolektif tentang harmoni sosial. Selanjutnya, dalam proses pembuatan lagu yang bersifat kolaboratif antar dua kelompok yang berkonflik, masing-masing kelompok dapat menciptakan suasana hangat yang dijembatani oleh musik. Pada akhirnya, ketika diperdengarkan kepada khalayak umum, lagu perdamaian yang diciptakan oleh para musisi Maluku dapat mengubah perasaan orang-orang yang mulanya marah dan kesal, menjadi perasaan yang lebih melankolis dan merasakan refleksi mendalam atas konflik yang sedang terjadi.

Jika direfleksikan pada konteks yang lebih luas, contoh di Maluku ini hanya sebagian kecil dari berbagai fenomena yang terjadi di penjuru dunia ketika membahas musik dan rekonsiliasi konflik. Banyak dari kita bahkan mengenal musik-musik populer yang liriknya sarat akan ide-ide perdamaian. Sebutlah salah satu contoh yang terkenal yaitu karya milik John Lennon yang berjudul Imagine. Pada tahapan tertentu, lirik dari musik tersebut dapat direfleksikan dan tidak menutup kemungkinan bisa mengantarkan seseorang yang menikmatinya pada laku-laku nyata perdamaian. 

Maka dari itu, tidak berlebihan apabila saya menilai musik selama ini sebagai sebuah “sihir” yang manifestasinya bisa tampak dan diwujudkan. Pasalnya, tidak ada satu manusia pun di muka bumi ini yang tidak tergerak hati, pikiran, dan tubuhnya setelah mendengarkan musik yang dilantunkan. Bak seorang penyihir di film-film fantasi, para musisi menempati posisi yang esensial dalam dinamika perubahan perilaku manusia di sekitarnya. Akankah menuju ke arah yang negatif, menjadi konstan, atau bergerak ke perubahan positif merupakan beban “keajaiban” yang sama-sama ditanggung oleh sang musisi dan musiknya. Dalam hal ini, buah perdamaian bisa jadi tercipta akibat inisiatif pembuatan mantra sihir tersebut di tengah-tengah konflik yang berkecamuk di Maluku. Setelah ini semua, apabila seseorang tiba-tiba bertanya kepada saya percayakah akan keberadaan sihir dan penyihir, maka akan saya jawab dengan lantang, “Iya, saya percaya, bahkan saya menjadi bagian di dalamnya”.

Sumber

Howell, G. (2021). Harmonious Relations: A framework for Studying Varieties of Peace in Music-Based Peacebuilding. Journal of Peacebuilding & Development, 16(1), 85-101.

Lederach, J. P. (2020). Music Writ Large: The Potential of Music in Peacebuilding. Dalam J. Mitchell, G. Vincett, T. Hawksley, & H. Culbertson (Penyunt.), Peacebuilding and the Arts (hal. 139-156). Cham, Switzerland: Palgrave Macmillan.

Lestari, D. T. (2019). Menggali Falsafah Hidop Orang Basudara dari Melodi Bakubae (Perdamaian)-Lagu Gandong di Maluku. Melayu Arts and Performance Journal, 2(1), 15-25.

Lestari, D. T. (2020). Membangun Harmoni Sosial Melalui Musik Dalam Ekspresi Budaya Orang Basudara Di Maluku. Panggung, 30(3), 375-391.Safi, J. (2017). Konflik Komunal: Maluku 1999-2000. ISTORIA: Jurnal Pendidikan dan Sejarah, 13(1), 33-44.

Identitas Penulis

Muhammad Harits, Antropologi 2020.

Nama asli Muhammad Harits, mahasiswa Antropologi UGM angkatan 2020. Kadang
main skateboard, kadang main gitar, kadang ga ngapa-ngapain. Suka lagu-lagu
punk dan klasik, lagu-lagu galau juga (kalau perlu). Hubungi saya via Instagram:
@haritsmuhammads kalo udah kenal bisa lanjut ke WA atau Line. Saya juga punya
beberapa tulisan di: haritsmuhammad.wordpress.com. Beberapa tulisan di sana
jangan dianggap serius karena saya cuma sok tahu doang. Terakhir, jangan lupa
bahagia, jangan lupa istirahat, jangan lupa makan, ya. Viva la tekyan!

Sudahkah Menikmati Karya Seni untuk Diri Sendiri?

Photo by Porapak Apichodilok from Pexels

Sebagai seseorang yang suka memaknai sebuah karya seni, saya sangat menikmati proses mengerti dan memahami atas apa yang saya nikmati. Terutama sebuah lagu, karya seni yang sangat mudah menjangkau masyarakat luas dari berbagai kelas maupun golongan. Musik banyak menjadi teman setiap individu dalam segala kesempatan. Contohnya saya yang kerap kali menghadirkan musik dikala harus berurusan lama dengan tugas kuliah yang begitu menumpuk. Musik menjadi teman setia saya yang tidak akan protes ketika harus menunggu saya berjam-jam merampungkan tugas. Sebuah penggambaran yang mungkin dapat menjelaskan dengan jelas bagi kita mengenai seberapa dekat musik dengan kegiatan manusia sehari-hari.

            Beberapa bulan lalu, adik saya mempertemukan saya dengan sebuah lagu bersuasana tenang dengan lirik yang begitu ‘ambyar’ dapat saya bilang. Pasalnya lagu yang berjudul Heather ini menceritakan seseorang yang sedang dilanda patah hati dan membandingkan dirinya dengan perempuan lain yang dicintai oleh pujaan hatinya. Dalam lagu barat, penggunaan she/he dalam keseharian dapat membantu untuk menunjukkan gender seseorang yang mereka maksud sebagai ‘dia’. Hal inilah yang dapat membuat saya mengatakan bahwa sosok yang dibandingkan dalam lagu Heather adalah perempuan. Penggunaan kata she yang dilakukan berulang-ulang membuat saya merasa memiliki ketertarikan lebih untuk mendalami lagu ini, mengingat Conan Gray penyanyinya berkelamin laki-laki.

            Dalam tulisan ini, saya tidak begitu ingin membahas pada gender apa Conan Gray menggolongkan dirinya, karena disela-sela keinginan saya memahami lagu ini. Saya menyadari jika sebagai pendengar saya suka sekali melihat lagu lewat sudut pandang gender penyanyi yang membawakannya. Bahkan dalam lagu Indonesia yang menggunakan kata ‘dia’ sebagai bentuk kenetralan saja, saya kerap kali masih mengidentifikasikan sebuah lagu tersebut ditujukan untuk wanita atau pria berdasar siapa yang menyanyikan lagunya.

            Saya rasa kegiatan ini bukanlah satu hal yang salah, mengingat peristiwa ambang atau hal nyata yang ‘tidak biasa’ ini dapat dinikmati karena adalanya proses refleksi dari seorang penikmat entah itu kepada dirinya sendiri, orang lain, atau hal lain yang ada dihidupnya (Lono, 2013). Akan tetapi, pengkotakan seni hanya pada dua jenis gender yaitu ‘perempuan’ dan ‘laki-laki’ rupanya membuat mereka sosok penikmat maupun pembuat karya seni kesulitan menemukan wadah atas ekspresi diri yang mereka miliki.

            Dalam satu sudut pandang, menurut saya lagu Heather menjadi salah satu lagu yang dapat mendobrak aturan kaku atas pembagian gender dalam seni. Dewasa ini rupanya banyak orang tidak ingin menggolongkan diri sebagai ‘perempuan’ maupun ‘laki-laki’, sosok yang mungkin kerap kita sebut ‘non-binary’. Meskipun kehadirannya yang kerap masih ditolak di masyarakat, kehadiran mereka bukan satu hal yang bisa kita anggap tidak ada. Lagu Heather menyadarkan saya akan eksistensi sosok yang saya ketahui berjenis kelamin Pria memang bisa saja cemburu akan kecantikan keanggunan sosok Perempuan. Hal baru yang perlu saya akui kehadirannya ada di sekitar kita. Di mana mereka yang termaginalisasi kehadirannya di masyarakat, masih sangat kurang mendapatkan wadah dalam mengekspresikan perasaannya.

            Selain melihat pada sisi dobrakan atas aturan kaku gender dalam seni. Lagu Heather dapat dipandang juga sebagai seorang seniman yang mencoba menyampaikan keluhan dari sosok lain yang berbeda darinya. Sudut pandang ini adalah sudut pandang yang adik saya berikan ketika memperkenalkan lagu Heather pada saya kala itu. Ia berkata jika Conan adalah sosok penyanyi pria yang mencoba menggambarkan rasa insecure dan kecemburuan perempuan pada perempuan lainnya. Lewat perspektif ini saya menjadi melihat karya sebagai sebuah karya saja, tanpa melihat siapa yang menciptakan dan untuk siapa karya itu diciptakan.

            Lagu Heather ini seperti membuka perspektif baru untuk saya dalam hal melihat suatu karya. Beberapa lagu mungkin dibiarkan abstark bagi penciptanya agar seni yang mereka ciptakan dapat menjangkau penikmat yang lebih luas. Agar tidak hanya sang pencipta saja yang merasa perasaannya terekspresikan, melainkan juga mereka para penikmatnya dapat dengan bebas merepresentasikan karya seni yang tersaji sesuai dengan pengalaman batin mereka masing-masing. Semakin luas karya seni tersebut dapat menjangkau berbagai pengalaman batin seseorang, semakin karya seni tersebut dipercaya memiliki teknologi enchanted yang begitu kuat.

            Heather menjadi salah satu contoh bagi saya tentang betapa pentingnya makna sebuah karya dapat mewakilkan perasaan berbagai orang. Meskipun bukan hal salah pula jika kita membiarkan karya yang kita buat hanya bisa dinikmati oleh diri kita sendiri. Akan tetapi, karya tersebut lantas tentu tidak memiliki pesonanya bagi orang luas. Tidak hadirnya pengalaman kultural menjadikan karya tersebut hanya sebagai koleksi pribadi, karya tersebut tidak menghadirkan teknologi enchanment, pun interaksi yang tercipta hanya sebatas sang pencipta dan karya. Seni memang menjadi wadah bagi seorang seniman dalam berekspresi, tetapi tidak bisa dilupakan juga jika seni juga wadah bagi para penikmatnya dalam berefleksi.

Daftar Pustaka

Simatupang, Lono. (2013). Memahami Jagad Seni sebagai Refleksi Kemanusiaan, dalam Lono Simatupang,  Pagelaran: Sebuah Mozaik Penelitian Seni-Budaya. Yogyakarta: Jalasutra. hlm. 1-14.

Identitas Penulis

Imaya Nadzif, Antropologi Budaya 2020

Perkenalkan di sini May/Maya/Ayya, gadis yang gemar rajut merajut, juga mencipta hal lucu lainnya. Belakangan sedang berusaha mempublikasikan hal lucu tersebut di akun instagram @/rukaryya, sila disambangi jika di dalamnya juga lucu menurutmu. Selain mencipta hal lucu, Maya juga suka berbagi pikiran lewat obrolan malam. Kalian bisa hubungi Maya lewat akun instagramnya @/smwlovesu_ atau bertukar surel di ruang.astamaya@gmail.com. See you!!!