GLIMPSE OF US

Sumber : Dokumen Pribadi

Satu yang perlu diingat, bayangan kita yang selalu bersama saat itu tidak akan pernah hilang dari ingatanku. Bayang-bayang akan tingkah lucu, konyol, serta menghiburmu akan selalu ku ingat sampai kapanpun itu. Ya, kita biasa memanggilnya dengan sebutan kenangan. Kenangan dapat menghadirkan senyuman kecil di wajah, bahkan membuat kita meneteskan air mata. Memang, kenangan tidak selamanya mengenai kebersamaan yang membahagiakan diri, terkadang kenangan juga mengenai keterpurukan yang maknanya sungguh pahit. Namun, setidaknya ketika kita berhasil merekam kenangan itu, kita sama-sama belajar mengenai apa yang harus kita lakukan kedepannya. Jika kenangan yang membahagiakan, kita bisa mengulang kenangan tersebut bersama orang baru, syukur-syukur bersama orang lama. Walaupun rasanya berbeda, tetapi setidaknya kita bisa merasakan kenangan itu kembali. Lalu jika kenangan yang pahit, tentu saja kita akan lebih berhati-hati kedepannya. 

Setiap orang mempunyai caranya masing-masing untuk mengingat sesuatu. Terlebih pada sesuatu yang membekas pada pikirannya. Beberapa dari kita dapat teringat suatu kenangan hanya berdasarkan cerita-cerita saja. Berkumpul kembali bersama orang lama, mengingat kembali suatu kenangan, dan saling melempar senyum serta tawa, bahkan mungkin malah menangis ataupun kembali merasakan sedih bersama. Beberapa lainnya dapat teringat suatu kenangan jika melihat visualnya. Melihat kembali galeri foto dan video yang sempat dibekukan. Merasakan kembali perasaan-perasaan yang dulu pernah terlintas. 

Sumber : Dokumen Pribadi

Pandemi COVID-19 telah membuat kita semua sadar bahwa kebersamaan itu sangatlah berarti. Beruntung baginya yang selalu membekukan kenangan ketika masih bersama untuk disimpan dan diingat kembali. Kenangan memang hal yang tidak bisa kita ulang dengan perasaan dan momen yang sama persis, tapi foto dan video yang kita simpan akan membawa kita mengulang kenangan. Mengulang kembali momen dalam ingatan dan perasaan. Merasakan kembali tentang apa yang dahulu pernah dirasakan.

Aku sendiri menyesal, dahulu tidak sempat menurunkan ego untuk membekukan kenangan kita bersama. Sekarang, aku hanya bisa mengingat kenangan dalam pikiranku. Merasakannya kembali seorang diri. Namun, terkadang aku lupa akan detail-detail yang dahulu kita pernah lakukan bersama. Ah, dasar pelupa. Hal itu membuatku tersadar bahwa kita boleh saja menikmati waktu saat bersama, tapi membekukannya menjadi pilihan wajib. Ya, mungkin ini akan terlihat biasa saja dan terdengar berlebihan ketika kita masih berkumpul bersama. Namun, hal yang perlu kita ingat bahwa kita tidak akan selamanya bersama, entah kita akan terpisah oleh jarak, kepentingan, ego, maupun dimensi.  

Maka dari itu, sebelum kita tidak lagi bersama. Sebelum suatu hal yang mengubah kita datang lagi. Sebelum alam menghentikan kebersamaan kita. Tolong, turunkanlah ego dan gengsimu supaya tidak menyesal di masa mendatang, seperti aku. Kenangan memang dapat dikenang dalam ingatan. Namun, melalui sebuah jepretan foto, sekilas tentang kita akan abadi dalam lembar yang selamanya terkenang. Temukanlah “Glimpse Of Us” dalam kenangan melalui jepretanmu. 

“Kita tidak akan mengetahui kapan kita akan meninggalkan semuanya.

Jadi, lakukanlah yang terbaik dan abadikanlah momen kebersamaanmu”

Identitas Penulis

Noor Risa Isnanto, Antropologi Budaya 2021

Halo kawant! Kenalin namaku Noor Risa Isnanto, boleh dipanggil Noor, Risa, kalau ngga Isnanto, apa aja terserah wakaka, tapi kalau selain di kelas biasa dipanggil Orto. Suka sama fotografi, videografi, dan hal-hal yang ada kaitannya sama konten. Kalau pengen ngobrol lebih jauh bisa follow Instagram aku di @noor02_ kalau ngga lewat emailku di noor.risa02@gmail.com, ditunggu kawant! ehehe. 

Ini Bukan Sekadar Pertemuan

Dok. Athayazahra

Tulisan ini mulanya berangkat dari rasa kebimbangan dan kemalasanku sendiri saat mengikuti sebuah acara pertemuan keluarga antropologi, yakni Komando Pitik. Mungkin hal ini juga seperti yang dirasakan oleh beberapa teman sehingga banyak dari mereka yang mengurungkan niat untuk mengikuti acara ini kemarin. Namun, entah mengapa akhirnya aku tetap yakin untuk mengikutinya, hal itu mungkin karena satu dan lain hal yang pastinya tidak akan kusebutkan dalam tulisan ini bahwa itu apa ataupun siapa. Sebagai catatan bahwa tulisan ini didasarkan oleh segenggam pengalaman serta pandangan yang kudapatkan pada acara komando pitik beberapa waktu lalu.

Berbicara tentang komando pitik atau kopit pasti dibenak kalian banyak menimbulkan stigma ataupun problematika diri yang sekiranya kalian takuti. Terasingkan, sendirian, bahkan hingga kebisingan mungkin telah menjadi makanan pikiran yang kalian konsumsi sebelum mengikuti acara ini. Itu memang bukan sepenuhnya salah kalian karena nyatanya, acara ini telah lama luntur sejak beberapa tahun lalu. Di mana sejak menaiknya pandemi sialan berdampak juga pada menurunnya intensitas pertemuan, khususnya Komando Pitik ini sendiri. Meredupnya acara ini bahkan sampai pada titik di mana ketakutan maupun kebingungan akan pelaksanaan kopit bukan lagi menjadi sebuah rasa asing yang dinikmati diri sendiri, tetapi telah bergeser menjadi keresahan yang dialami banyak kepala.

Saat pandemi, kopit ini pun juga seakan terus digaungkan untuk dihadirkan kembali sebagaimana mestinya. Semulanya banyak yang terpikirkan, tak terkecuali saya sendiri tentang “apa pengaruh dari kopit ini?” dan “mengapa sangat dianggap penting?” Itu seakan menjadi wujud keingintahuan banyak orang akan eksistensinya acara ini di mata keluarga antropologi.

Dok. Orto

Namun, akhirnya segala bentuk pertanyaan tersebut seakan terjawab penuh ketika aku dan kalian mengikuti acara ini pada beberapa hari yang lalu. Saat itu, beragam ketakutan yang berlalu lalang dipikiran seakan ditendang kenyataan, bahwa Kopit ini tak seseram dan semenakutkan itu. Ini hanyalah sebuah tradisi pertemuan yang tak sekadar pertemuan biasa yang datang lalu hilang, tetapi sebuah keeratan dan kekerabatan yang seakan diikat oleh tali persaudaraan. Mulai dari nyanyian, jingkrakan, sampai bakaran menjadi media pemersatu para antropolog muda ini dalam mengikat jalinan kebersamaan. Rokok dan candaan pun juga dapat ibaratkan sebagai makanan tanpa garam, tak terpisahkan bukan? Nah itulah Kopit semalam.

Dok. Athayazahra

Para dosen, alumni, hingga mahasiswa pun juga seakan larut pada gemerlap kegembiraan serta kesenangan hati yang tercipta di antaranya. Tak adanya sekat interaksi yang melekat juga menjadi salah satu alasan dari penghapus ketercanggungan yang biasanya terus menghantui pertemuan yang diikuti oleh berbagai macam perbedaan. Angkatanku yang sebenarnya memegang peranan sebagai menantu pernikahan yang hendak masuk ke keluarga pasangan, malah diperlakukan selayaknya keluarga lama yang baru usai melakukan perjalanan panjang. Oleh sebab itu, kata-kata yang sekiranya merepresentasikan Komando Pitik kemarin, yakni rekat sekaligus terbebaskan. 

Hal itu juga menjadi salah satu dari sekian banyak aspek keberhasilan para pemantik Komando Pitik tahun ini dalam merangkai berbagai macam persiapan menjadi sebuah malam keakraban yang sayang untuk dilewatkan.

Aku ingatkan sekali lagi bahwa Komando Pitik atau Kopit ini bukan lagi menjadi sebuah pertemuan yang sarat akan ketakutan, tetapi sebagai penjamuan kedatangan mahasiswa baru ke dalam keluarga yang kaya akan keanekaragaman serta kebersamaan yang sampai di taraf keimanan.

Terima kasih dan sampai jumpa di tradisi ini musim depan!

Identitas Penulis

M. Satrio Andhito, Antropologi Budaya 2021

Halo! Aku Satrio, bisa dipanggil Satrio, Rio,  ataupun Io. Seorang mahasiswa yang gemar menunda pekerjaan dan juga tidur seharian. Jika sempat, mari bersua di instagram @andhitosatrio atau email andhitosat@gmail.com.

Cerita Perihal Wanita dan Isi Hatinya

Sumber : Dokumen Pribadi

Percakapan malam yang spontan kulakukan dengan kawanku sering kali melahirkan pembahasan tak terduga dan menuntutku untuk kembali berpikir serta merefleksikan suatu hal yang terjadi di dalam kehidupan, seperti “apa hebatnya aku dilahirkan sebagai seorang wanita?” Pertanyaan tersebut pada akhirnya mendatangkan sebuah jawaban- jawaban yang akan kucoba untuk tuangkan melalui tulisan ini.

Pada dasarnya, wanita terlahir sebagai makhluk Tuhan yang memiliki kehebatan dan ketangguhan luar biasa dengan caranya masing-masing. Bahkan tanpa disadari, setiap wanita telah mempunyai preferensinya tersendiri dalam melihat kemampuan-kemampuan yang ia miliki. Ya, meskipun ada preferensi yang tidak ia tampilkan kepada khalayak ramai. Sebagai contoh, bukan berarti seorang wanita yang tidak pernah memperlihatkan karya tulisnya, berarti tidak memiliki keahlian dalam bersastra. Lalu, bukan pula seorang wanita yang tidak pernah memperlihatkan hasil masakannya, berarti ia tidak suka memasak.

Setali tiga uang, bukan berarti pula seorang wanita yang tidak pernah membuka diskusi di media sosial berarti ia tidak suka berdiskusi dan mengeksplor berbagai pemikiran bersama dengan orang lain. Tidak berarti pula seorang wanita yang tidak pernah menampilkan suara atau tariannya, berarti tidak suka bernyanyi dan menari. Siapa tahu, sebenarnya ia suka sekali bermain aplikasi tiktok, hanya saja ia mengatur tiktoknya dengan pengaturan private sehingga tidak dapat dilihat oleh orang lain. Itulah tadi, mengapa aku bisa mengatakan bahwa semua wanita itu hebat, asalkan ia mau untuk selalu melakukan upgrade diri dengan cara mengenali diri sendiri dengan baik, paham bagaimana ia harus bersikap menghadapi emosinya, mengerti terkait prinsip dan nilai hidup yang akan selalu ia pegang sebagai pedoman dalam menjalani kehidupannya.

            Selain itu, dalam lingkungan bermasyarakat, wanita sering kali diberi sebuah kriteria tersendiri atau patokan-patokan yang tak jarang justru membuat batasan bagi wanita untuk melakukan sesuatu ataupun mengeksplor dirinya sendiri lebih dalam. Bahkan beberapa standar yang ditanamkan masyarakat kepada para wanita sudah sering kali dijumpai sejak kita masih kecil seperti, “Jangan potong rambut pendek, nanti jadi kaya cowo!” atau “Jangan main mobil- mobilan, kalau cewe yaa mainnya masak- masakan atau main boneka!” Tak hanya itu saja, seorang wanita acap kali dituntut untuk menikah di usia tertentu, atau mungkin dituntut untuk bisa melakukan hal-hal lain seperti melakukan pekerjaan rumah tangga. Padahal pada hakikatnya, segala pekerjaan rumah tangga sudah sepatutnya untuk bisa dilakukan tak hanya oleh wanita saja, namun juga pria sebagai seorang manusia agar bisa mengerti dan memahami seni untuk bertahan hidup. Aku seperti ingin meneriakkan pada dunia, bahwa kita wanita juga bisa merdeka dan dengan bebas memilih jalan hidupnya tanpa dihantui oleh bayang- bayang standar ataupun tuntutan-tuntutan yang diciptakan oleh masyarakat.

            Kembali kepada pertanyaan yang sedari awal sudah aku tulis di bagian atas, bahwasanya apa hebatnya aku diciptakan sebagai seorang wanita? Berkaca pada pendapat seorang kawan lain yang juga aku beri pertanyaan terkait hal tersebut, ia menjawab bahwa wanita itu adalah makhluk istimewa. Ia memiliki perasaan yang lebih sensitif dan peka terhadap hal-hal di sekitar. Walau mungkin pada awalnya kepekaan itu justru mendatangkan rasa sakit sebab beberapa kali hatiku dipatahkan oleh realita. Namun, perasaan peka itu juga membuatku banyak bersyukur kepada Tuhan, sebab dengan rasa sensitif dan peka itu tadi justru aku akan memiliki rasa kepedulian tinggi kepada sesama dan bisa menebarkan cinta yang tulus kepada orang- orang di sekitar. Namun, terlepas dari siapa kita, apakah kita seorang pria ataupun wanita perihal memberi cinta dan peduli kepada sesama adalah suatu kewajiban bagi kita sebagai makhlukNya.

Identitas Penulis

Denting Azzahra P, Antropologi Budaya 2021

Denting Azzahra Pinasthinastiti, biasa dipanggil Denting yang gemar makan mie ayam dengan teman es jeruk. Senang mengabadikan setaip momen-momen kecil dalam hidup melalui tulisan ataupun foto-foto yang disimpan di dalam handphone untuk dinikmati sendiri. Untuk mengobrol lebih jauh bisa langsung berkunjung ke laman instagaram @dazzahrap ataupun email dentingazzahra100@gmail.com

Sekecil Apapun Itu

Tulisan ini akan diawali dari sebuah percakapan antara dua orang yang kupanggil Ayah dan Paman. Sebut saja mereka Ayah A dan Paman P, keduanya kebetulan seseorang yang cukup mendalami tentang isu mengenai alam kita atau planet kita, bumi. Tidak tahu kapan pastinya, karena keduanya kerap kali bertemu dan membahas topik yang sama.

Hari itu sang Paman berkata, “Kamu paham nggak, sadar begitu kalau apa yang kamu lakukan nih, nggak begitu berarti. Misalkan cuma kamu yang nggak pakai sedotan, tapi miliaran orang lainnya masih tetap menggunakan. Kan nggak begitu berpengaruh sama keselamatan Bumi.”

Sayangnya ingatanku pada malam itu berhenti sampai di situ. Aku tidak begitu ingat jawaban Ayah A atas lontaran pernyataan dari Paman P yang terdengar sangat mematahkan semangat itu. Oleh karena itu, di lain kesempatan, aku menanyakan tentang jawabannya hari itu.

Satu dari Sekian Miliar Manusia

Pertanyaan yang disambung pernyataan Paman P hari itu sebenarnya menyebalkan. Sebagai manusia yang mudah dipatahkan semangatnya, pernyataan Paman P malam itu jika dilontarkan padaku pasti aku akan terdiam dan berpikir ke sana kemari semalaman. Merefleksikannya semalam suntuk, bersyukur sekali jika berbuah hikmah, tetapi akan sangat mematikan jika berujung keputusasaan.

Pasalnya, aku yakin bahwa banyak manusia yang merenungi alasan keberadaannya. Seberapa tidak berarti kisah hidup kita jika menyadari banyak kisah hidup serupa atau bahkan kisah yang lebih heroik di muka bumi ini. Terlebih pascapeningkatan jumlah penduduk secara global di planet ini selama beberapa dekade terakhir. Rasanya kalau di data sensus negara, kita juga cuma sekadar angka. Kalau ada yang suka bilang, ‘Tanpamu kurang satu!’ rasanya pernyataan ini menggambarkan dengan jelas keresahanku. Ya tanpaku, hanya kurang satu!

Jadi, apa hidup dan mati kita cuma sekadar penambahan satu angka pada data fertilitas dan dan mortalitas? Haaah, ya itu selalu menyebalkan untuk dipikirkan. Kesadaran dan keresahan yang membuat kita merasa tidak berarti. Aku pikir harus kurenungkan sejenak dengan tenang. Sepertinya aku harus mengingat kembali apa yang telah aku alami, lihat, dan dengar selama hidup sejauh ini.

Proses Melihat, Mendengar, dan Memaknai

Apa kalian ingat kapan pertama kali membaca atau mendengar seruan ‘Jangan membuang sampah sembarangan’? Soalnya, aku tidak. Seruan ini adalah pengetahuan pertamaku tentang betapa pentingnya menjaga lingkungan sekitar. Meski sebenarnya ‘membuang sampah sembarangan’ bukan seruan aksi menjaga bumi dari tumpukan sampah, tetapi lebih kepada seruan untuk menjaga kebersihan dan kerapihan.

Semakin dewasa, juga sejak era media sosial. Kita semakin banyak mendengar dan melihat kondisi planet kita saat ini. Polusi udara menyebabkan lapisan ozon menipis. Air es di kutub mencair akibat global warming. Kepunahan hewan akibat jajahan perumahan manusia. Foto-foto penyu atau hewan laut tak bersalah lainnya yang terlilit sampah plastik dan semua informasi itu berhenti pada beranda sosial media kita, bukankah begitu?

Tingkah laku ini tentu sangat amat bisa dimaklumi. Tidak ada manusia yang ingin kenyamanannya diusik, terlebih oleh kabar-kabar tidak menyenangkan tentang kondisi bumi saat ini. Permasalahan iklim, sampah, biodiversitas apalah itu! Deadline-deadline tugas terdengar lebih mengerikan saat ini, sanksinya lebih dekat dan nyata.

Akan tetapi, apakah iya sanksi akan memburuknya kondisi bumi saat ini tidak benar-benar nyata dan dekat dengan kita? Mencoba memaknai panasnya siang di kala kemarau Jogja belakangan, bukankah itu salah satu bukti nyata dari laporan IPCC mengenai kenaikan suhu rata-rata bumi yang kini sudah mencapai 0,8 derajat dan dikabarkan kenaikan suhu ini dapat terus meningkat sampai pada angka 1,5 derajat hanya dalam kurun waktu dua dekade saja. Ini kabar baik untuk kita yang masih menjemur baju menggunakan energi panas matahari, tetapi saya rasa kabar buruk lebih banyak menyertai fakta ini. Sepertinya pulau Jawa bisa saja tenggelam terlebih dahulu sebelum pakaian kita kering dijemur.

Perihal sampah pun sama, kasus penutupan TPST Piyungan seharusnya sudah menjadi kabar, panorama, bahkan aroma yang tidak menyenangkan di Jogja belakangan. Sebuah kecamatan yang harus menampung sampah Kota Yogyakarta, Sleman, dan Bantul. Pada akhirnya, penumpukan hanya perihal bom waktu sampai masyarakat Piyungan akhirnya beraksi untuk menyampaikan protesnya. Kini, kita yang tidak hidup berdampingan dengan sampah-sampah tersebut baru ketar-ketir kebingungan harus dikemanakan sampah-sampah yang kita hasilkan selama ini.

Selanjutnya mengenai biodiversitas, hal ini mengenai sense of belonging kita sebagai manusia untuk hidup berdampingan. Memahami jika yang diinginkan adalah kestabilan bumi, maka setiap substansi yang ada di dalamnya merupakan hal yang penting untuk dijaga. Terumbu karang misalnya, mengalami kepunahan di tingkat regional yang selanjutnya merembet pada pengikisan fungsi-fungsinya. Sebagai salah satu ekosistem terpenting di laut tentu ini hal yang sangat perlu dikhawatirkan. Terumbu karang memiliki banyak peran penting seperti penghasil nutrisi dan tempat tinggal banyaknya biota laut, serta perlindungan pantai yang selama ini juga menjadi tugas alamiah mereka, (Glynn, 2012)

Planet kita hanya bekerja sebagaimana ia seharusnya bekerja. Permasalahan sampah, iklim, dan mengikisnya biodiversitas adalah klasifikasi permasalahan yang sedang dihadapi bumi kita. Ada sistem yang tidak berjalan sebagaimana mestinya dan sayangnya kita menjadi salah satu alasan terbesar atas terjadinya hal ini. Ya, kita.

Satu Individu Berharga, Satu Aksi Berharga

Bumi tidak pernah benar-benar marah, meminta pertolongan, atau bahkan meminta pertanggungjawaban kepada oknum, pihak, atau bahkan lembaga tertentu. Masing-masing dari kita pada dasarnya meninggalkan jejak dan memberi dampak pada kerusakan bumi. Maka, jika kita hanya satu di antara sekian miliar manusia, menjadi seseorang yang meninggalkan jejak lebih sedikit dan berbuat manfaat setidaknya pada planet yang sudah mengasihi hidup pendek kita, ya apa salahnya?

Bumi tidak menuntut, bumi tidak pamrih, ia hanya butuh kesadaran, sehingga membantu menolongnya pun terkadang bisa semudah itu. Mulai dari menghabiskan seluruh makanan yang ada di piring makan siang kita, membawa tas belanja yang bisa dipakai berulang kali, berjalan kaki atau memilih menggunakan kendaraan umum sebagai moda transportasi sehari-hari, dan masih banyak lagi cara untuk menjadi satu entitas berarti bagi planet kita ini. Pun salah satunya juga bersuara atas kesadaran yang kita miliki. Mengajak atau sekadar menunjukkan jika menjadi berguna itu bukan satu hal yang sulit.

Epilog

“Jadi tanggapanmu waktu itu apa?”

“Ya, pada akhirnya kita memang tidak akan pernah mencapai zero waste, Maya. Namun, bukan berarti yang kita lakukan kini adalah zero action. Maka para aktivis lingkungan kini kan memang bergerak kepada ranah yang lebih besar—“

Bukan berarti zero action. Satu atau tidak sama sekali, menghargai hal sekecil apapun itu. Menjadi berguna meski dengan sedikit kemampuan yang kita punya.

Daftar Pustaka

Glynn, Peter. (2012). Global Warming and Widespread Coral Mortality: Evidence of First Coral Reef Extinctions. 10.5822/978-1-61091-182-5_7.

Identitas Penulis

Imaya Nadzif, Antropologi Budaya 2020
May/Maya/Ayya, penyuka warna kuning dan lipstick merah.

Sembari Berjalan, Kita … Menyadari Sesuatu

Sumber: Dokumen pribadi

Katanya manusia terlahir untuk berjalan. Itu logika dasar, dikarenakan fakta bahwa manusia memiliki kaki maka tidak ada yang perlu didebatkan. Lalu, dalam pembahasan inklusivitas, tentu kita akan mempertimbangkan keberadaan tunadaksa, di mana mereka tidak benar-benar berjalan kaki. Atau inklusivitas tidak hanya mempertimbangkan disabilitas saja. Dan berjalan kaki, akhirnya tidak sesempit melangkahkan kaki menuju tujuan.

Peradaban manusia berkembang, yang salah satu hasilnya ialah perjalanan tidak hanya soal titik awal dan tujuan. Apa yang dilihat dan dirasakan selama perjalanan menjelma jadi kesan tersendiri atau justru hambatan yang begitu memuakkan. Sebut saja panorama yang indah atau kemacetan berjam-jam. Moda perjalanan juga tidak tunggal, membuatnya semakin membentuk kisah-kisah kompleks.

Kembali lagi pada konteks berjalan (kaki). Tulisan ini adalah perjalanan cerita(ku), di mana sembari berjalan, banyak hal yang ditemukan dan disadari. Di jalan raya, kita yang berjalan paling sering menemukan orang yang memakai moda lain alias kendaraan. Sembari melihat kontestasi moda atau justru mitra perjalanan, bisa membuat pejalan menyadari sesuatu, tentunya. Atau sembari berjalan, kita kadang mendengarkan lagu.

Kerasnya Kota Metropolitan … Jangan Bikin Otak Lo Berantakan

Lagu pertama ialah “Lagu Urban” oleh Steven & Coconut Treez. Lagu yang dari judulnya gamblang membicarakan perkotaan (urban) ini menceritakan respons atas kerasnya hidup di kota besar. Mungkin cocok untuk didengarkan ketika sedang menghadapi hambatan memuakkan di jalan. Dalam konteks berjalan kaki, ya, (hambatan itu) ketika perjalan(kaki)an berlangsung tidak begitu menyenangkan.

Namun, menariknya, yang kerap terjadi di kota-kota di Indonesia ialah orang-orang tidak umum berjalan kaki. Setidaknya sejak dekade 1950-an, kata Colville-Anderson (2018)1, perkotaan dunia mulai car-oriented. Atau di Indonesia sejak 1970-an. Warga kota perlahan dominan berkendaraan pribadi. Fakta itu membuat ‘kerasnya kota’ menjadi lebih keras untuk pejalan kaki karena terpinggirkan dari desain kota dan kehidupan sosial mobilitas. Namun, aku tidak akan bicara kemunculan gerakan sosial resistensi semacam Koalisi Pejalan Kaki2 sepertinya.

Ada beberapa perjalan(kaki)an yang mengujiku akan kerasnya kota (desain dan warga) kepada pemilih jalan kaki. Terjeblos lubang di trotoar, terjeduk kepalaku oleh benda tidak terlihat, atau sekadar didorong oleh kenek bus ketika aku keluar bus. Sepertinya kejadian-kejadian tersebut cukup untuk membuat seseorang tersulut emosi. Tidak selalu kubilang hambatan yang memuakkan, tetapi bisa dibilang membuat buruk rasa perjalanan.

Atau … tidak juga. Ternyata dengan berjalan membuatku punya waktu untuk meredam emosi atau merefleksikan keadaan. Sembari berjalan–apalagi ketika sendiri, mulut tidak bisa sambat ke mana pun atas emosinya dan otak berpikir ulang untuk relevansinya. Ketika sampai tujuan, sepertinya redaman itu berhasil sebab perjalanan perlahan. Kata Steven & Coconut Treez ‘kan, “Jangan otak kita berantakan.” Jikapun sering (otak berantakan), sepertinya kita perlu jalan-jalan, sebuah bentuk ‘jalan’ yang bersifat hiburan (sepertinya?).

Jalan-Jalan (di Akhir Pekan), Lihat ke Kiri dan ke Kanan

Pada suatu talkshow (2020)3, Bu Theresia Tarigan, Koordinator Koalisi Pejalan Kaki Semarang4, menyatakan, “Kita bisa menikmati dan mengamati detail ketika berjalan, yang tidak bisa kita rasakan ketika bermobil.” Aku terperanjat ketika pertama kali mendengar itu, padahal diriku sudah sering berjalan kaki ketika itu. Namun, tidak pernah benar-benar menyadari perbandingan pengalaman itu dengan perjalanan berkendaraan.

Hari-hari berjalan kaki berikutnya hanya menjadi lebih bermakna bagiku. Tengok kanan dan kiri, kita melihat dan mengamati lebih intens apa yang ada dan terjadi di sepanjang perjalanan. Jika Antropolog (atau pembelajar Antropologi) gemar mengamati, ini pendukung yang baik ‘kan? Observasi hal-hal sembari berjalan. Walaupun kata Vergunst dan Ingold (2018)5 dalam Ways of Walking, variabel berjalan tidak banyak mendapat perhatian dari Etnografer. Mungkin karena terlalu common sebagai aktivitas hidup manusia.

Atau tidak perlu terlalu serius. Soalan tengok kanan-kiri ini juga menyentuh makna santai. Panorama indah bisa dinikmati lebih lama, atau obrolan, bandingkan saja dengan mengobrol di motor. Memang, kemudian pertanyaannya, perjalanan itu perlu mengobrol atau tidak? Perlu menikmati pemandangan atau tidak? Ini yang memang menjadi pertanyaan/dilema utama dalam mobilitas menurut Banister (2007)6, mobilitas merupakan derived demand atau valued activity?

Pertanyaan itu hanya untuk dijawab dengan ‘tergantung perjalanannya’ karena akan selalu ada. Jika Pedestrian Jogja7 mengenalkan varian-varian pejalan kaki (yang kemudian menentukan kebutuhan dan kepentingannya) dalam kampanye #PedestrianDiversity-nya8, varian atau tipe perjalanan dalam lingkup umum toh juga ada. Mengapa Shaggydog jalan-jalan di akhir pekan? Tentu berbeda dengan perjalanan untuk kerja pada tengah pekan. Ada yang kesan perjalanannya dimaknai, ada yang tidak sempat tengok kanan-kiri.

Kita Berjalan Saja Masih Terus Berjalan

Pada akhirnya, tiap segmen tulisan memang bukan soal lagu yang dikutip untuk subjudul. Akan tetapi, bisa berhubungan ‘kan. Seperti pengakhiran ini, mencoba mencari, ‘apa alasan kita masih berjalan?’ tentu akan sangat luas jika ‘berjalan’ ini kita maknai dengan perjalanan hidup atau kuatnya menghadapi kerasnya kehidupan; maka, pertanyaan ini hanya sesempit walking.

Sumber: Dokumen pribadi

“Biy, aku kemarin jalan kaki, loh!” Teman-temanku suka melapor demikian, entah kenapa. Tadinya, kuberpikir itu seperti suatu hal yang biasa saja. Ya, aku berjalan kaki sehari-hari. Namun, cepat kusadari, bagiku memang tidak terlalu spesial karena sudah biasa. Mereka melapor dan bangga karena biasanya tidak berjalan kaki. Dan itu inti dari kampanye #PedestrianDiversity ‘kan, bahwa ada pejalan kaki sehari-hari, aktivis, atau rekreasi, tergantung intensitas dan minat. Kemudian, itu menentukan pemaknaan berjalan mereka.

Aku pun begitu. Pemaknaan berjalan terjadi setelah aku menyadari perbandingannya dengan berkendaraan. Manusia terlahir dan hakikatnya untuk berjalan, tetapi dengan adanya budaya kendaraan, berjalan kaki yang tidak biasa menjadi lebih berarti. Walaupun berjalan tetap aktivitas common, kata Vergunst-Ingold (2018). Dan … dalam era dunia yang cepat ini, perjalanan yang tidak terburu-buru menjadi begitu berarti. Sembari berjalan, kita bisa mengobrol atau bernyanyi. Menikmati berjalan? Tahu-tahu sudah sampai tujuan.

Tulisan ini adalah perjalanan (cerita dan) berpikirku, yang sembari (dan setelah) berjalan, aku telah menyadari dan berpikir banyak hal. Sekian sejenak sampai di sini. Karena ‘sejenak’, maka hampir pasti aku akan berjalan lagi. “Kita tak juga rela tunduk pada jarak,” kata Sisir Tanah. Dan karena ‘kita berjalan’, aku selalu senang jika punya teman berjalan, walaupun aku tidak pernah keberatan berjalan sendiri. Dan sembari berjalan, kita … bisa apapun. Adakah nanti ada cerita (lagi)?

Rujukan Tulisan

1 Colville-Andersen, Mikael. (2018). Copenhagenize: The Definitive Guide to Global Bicycle Urbanism. 10.5822/978-1-61091-939-5.

2 Laman Koalisi Pejalan Kaki. Akun Instagram Kopeka.

3 “Talkshow on Walking & Cycling in the Post-Pandemic: a New Trend” dalam Climate Diplomacy Week 2020.

4 Akun Instagram Koalisi Pejalan Kaki Semarang (KPKS).

5 Ingold, T., & Vergunst, J. L. (2008). Ways of Walking: Ethnography and Practice on Foot. Aldershot: Ashgate.

6 Banister, David. (2007). The Sustainable Mobility Paradigm, Transport Policy 15 (2008) 73–80.

7 Akun Instagram Pedestrian Jogja.

8 Video “Every #PedestrianMatters”.

Identitas Penulis

Abiyyi Yahya Hakim, Antropologi Budaya 2019

Mahasiswa Antropologi yang akan selalu berubah dalam menceritakan dirinya di profil, tergantung konteks. Kali ini sebagai koordinator dari Pedestrian Jogja, menyambi jadi Koordinator Kampanye Media di Koalisi Pejalan Kaki. Belakangan bisa diajak berkolaborasi dalam diskusi hingga aksi dalam lingkup transportasi, perkotaan, lingkungan, hingga kepramukaan. Bisa berdiskusi di Instagram @pedestrianjogja, @koalisipejalankaki, @panduaksilingkungan, hingga @askasaraproject.

Tradisi Pernikahan Unik Negeri Hitu: Menjadi Ajang ‘Unjuk Gigi’ di Tengah Kehidupan Masyarakat

Sumber: https://www.instagram.com/hausihuphotosoper

Kisah kali ini berasal dari sebuah tempat nan jauh di timur Indonesia sana. Negeri1 Hitu, semenanjung utara Pulau Ambon, Maluku, menjadi tempat saya menghabiskan hampir separuh hidup. Ambon masih terasa belum familiar bagi segelintir orang yang pernah saya temui di Pulau Jawa. Celetukan-celetukan seperti, “Ambon itu Sulawesi, yaa?” atau “Orang Ambon itu yang kalo ngomong pake ‘Sa’ atau ‘Ko’ bukan?” atau “Ambon itu di mana, sih?” dan berbagai celetukan lain yang mengisi basa-basi ketika bertemu dengan orang-orang baru. Pengawalan pagi hari di rumah selalu disambut dengan suara bising jibu-jibu2 yang berlarian dari darat menuju laut untuk segera menghampiri bodi3 berisi ikan hasil bobu4. Selain suara kebisingan di pagi hari, negeri ini juga menyimpan kebudayaan-kebudayaan unik, salah satunya pernikahan.

Pernikahan di Negeri Hitu acap kali diselenggarakan secara mewah dengan melibatkan partisipan dari hampir seluruh masyarakat setempat. Biasanya, segala prosesi pernikahan berlangsung di kediaman mempelai pria yang nantinya akan menjadi rumah baru bagi mempelai wanita. Kedudukan kerabat berperan sangat krusial dalam prosesi adat yang satu ini, baik keluarga jauh maupun dekat. Tradisi pernikahan ini sering ditutup dengan sebuah pesta pada Sabtu malam yang menandakan kebahagiaan atas kelancaran segala prosesi pernikahan dengan baik dan merupakan bentuk apresiasi bagi semua kerabat yang turut berpartisipasi. Masyarakat yang menganut sistem patrilineal ini memiliki serangkaian prosesi dalam tradisi pernikahan yang hanya saya jabarkan dalam tiga bagian. 

Pertama, mempelai pria akan melamar wanita dengan memboyong beberapa anggota keluarga. Keluarga mempelai pria akan melakukan prosesi ‘tawar-menawar’ mahar. Jumlah mahar ditentukan oleh keluarga mempelai wanita yang dapat diukur berdasarkan seberapa tinggi pendidikan mempelai wanita, kedudukan pekerjaan mempelai wanita, kedudukan sosial mempelai wanita, berdasar keputusan kedua belah pihak, dan kriteria-kriteria lain. 

Kedua, ijab kabul tidak menghadirkan mempelai wanita. Ketika prosesi ini berlangsung, hanya ada mempelai pria dan para pria yang meliputi pemuka agama, pemuka adat, kerabat kedua mempelai, dan lainnya. Setelah ijab kabul selesai, mempelai pria mencoba masuk ke dalam kamar pengantin yang sudah diadang beberapa kerabat yang dinamakan pele pintu5. Mempelai pria harus menyediakan amplop berisi uang untuk menyingkirkan para kerabat dari depan pintu kamar pengantin. Setelah itu, barulah mempelai wanita digiring menuju ke puadai untuk menyambut para tamu undangan yang telah hadir. 

Ketiga, penyediaan perlengkapan rumah tangga dari keluarga mempelai wanita ke rumah yang akan ditinggali bersama, baik rumah keluarga mempelai pria ataupun rumah baru yang dimiliki oleh keluarga mempelai pria atau kepemilikan kedua mempelai. Penyediaan perlengkapan rumah tangga itu berupa alat elektronik, mebel, peralatan dapur, dan lainnya, dengan tolok ukur berdasar jumlah mahar yang diberikan keluarga mempelai pria tadi. Prosesi ini hanya akan terjadi apabila sang mempelai wanita berasal dari Negeri Hitu dan akan tetap dijalankan, meskipun sang mempelai pria berasal dari negeri seberang. Semakin besar mahar yang diberikan, semakin mewah barang yang disediakan.

Menjadi Ajang ‘Unjuk Gigi’ di Tengah Kehidupan Masyarakat

Mari kita merefleksikan tradisi ini lagi. 

Jumlah mahar memengaruhi seberapa mewah barang yang diberikan oleh keluarga mempelai wanita. Prosesi ini dilakukan setelah ijab kabul. Dalam prosesi ini disediakan mobil-mobil pengangkut barang yang akan dibawa ke kediaman mempelai pria. Ramai, membuat ‘para penonton’ menerka-nerka berapa jumlah mahar yang diterima sehingga mendatangkan barang sebanyak dan semewah itu. Di sisi lain, pasangan mempelai dengan kelas sosial lebih rendah hanya akan menyediakan sedikit mahar dan barang dengan acara sederhana. Mereka hanya akan melakukan prosesi wajib keagamaan, seperti ijab kabul dan pengajian dengan mengesampingkan prosesi adat lain yang membutuhkan banyak biaya. Peristiwa ini akan dipandang sebagai hal biasa bagi masyarakat setempat dengan mewajarkan kedudukan sosial pasangan mempelai. Namun, pernikahan mewah akan terus menjadi pembahasan menarik dengan segala pujian yang dilontarkan. Saya memandang hal ini sebagai penanaman persepsi bahwa pernikahan mewah menjadi yang terbaik dan justru menghilangkan esensi dari ‘pernikahan’ itu sendiri. Pernyataan seperti “Makanya, nanti rawat dirimu baik-baik supaya bisa dapat mahar yang besar,” sungguh membuat saya risih seakan-akan eksistensi wanita hanya untuk mencari pria terbaik yang mengantongi segepok mahar. 

Setelah menilik beberapa problematika di lingkungan sosial yang dilihat secara kentara, ada pula beberapa dampak tidak kentara dari tradisi nenek moyang yang sudah berlangsung di tengah masyarakat sejak dahulu kala. Asumsi saya, tradisi ini dapat membantu menekan biaya pernikahan yang tergolong mahal. Dengan adanya bantuan dari kerabat, kedua mempelai dapat berfokus pada beberapa hal sentral untuk diselesaikan. Prosesi ini juga dapat mempererat hubungan kekerabatan yang ada dengan turut mengambil andil dalam prosesi pernikahan membuktikan bentuk afeksi antarkerabat. Akan tetapi, yang menjadi pertanyaan adalah, apakah kebutuhan rumah tangga menjadi tanggung jawab segelintir orang? Sejatinya, tradisi ini memiliki berbagai implikasi bagi kehidupan bermasyarakat. Dengan terus dijalankannya tradisi ini sampai sekarang, membuktikan bahwa masih ada usaha dari masyarakat setempat untuk melanggengkan tradisi nenek moyang. Namun, apakah tradisi ini masih relevan dengan perkembangan pesat dunia masa kini? Transformasi kebudayaan mungkin saja terjadi pada tradisi ini, baik dalam bentuk baru maupun bentuk lama yang dimodifikasi. Apakah ke depannya masyarakat setempat masih memerlukan tradisi ini dalam menjalani kehidupan?

Catatan:

1 Istilah lain untuk menyebut ‘desa’.

2 Sebutan untuk para ibu atau wanita penjual ikan.

3 Sebutan masyarakat setempat untuk kapal pencari ikan.

4 Sebutan untuk aktivitas mencari ikan di malam hari.

5 Sebutan untuk kegiatan menghadang pintu kamar pengantin.

Identitas Penulis

Siti Fatria Pelu, Antropologi Budaya 2021

Seorang manusia biasa yang baru sahaja mengenyam bangku perkuliahan. Mari berteman dengan bercakap-cakap melalui akun instagram @sifa_pelu. Silakan beropini semerdeka mungkin dan sampai jumpa pada karya-karya selanjutnya! 

Visualitas Mandalika: Meneropong Relasi Kuasa

Istilah “meneropong” erat pertaliannya dengan posisi saya saat ini—mengamati dari kejauhan pesta akbar tanah kelahiran, siapa yang tidak tertinju ulu hatinya; setahun yang lalu kawasan itu belum rampung dan kami tidak berharap banyak. Berbagai surat kabar, media multilevel, dan reportase kawan rumah cukuplah mengawetkan rindu, selalu saja ada yang lahir—dialektika dunia lama dan dunia baru, tragedi yang remang dan samar, lalu berbagai citra media memberikan makna. Itu yang terjadi pada Mandalika. Bagaimana antesedennya di masa lalu dan transformasinya sekarang.

Saya penasaran akan diorama visual yang membuat tubuh dan pikiran menolak tidur. Layaknya turbulensi profetik dalam diri yang berkecamuk; tulis atau tenggelam. Barangkali, perasaan semacam ini yang dirasakan oleh setiap pemikir—walaupun kami masih jauh dari kesan tersebut, bahkan mendekati pun … tidak; saya hanya mengkonsumsi gagasan terdahulu, mengolah, dan mencoba hal yang sama. Mengutip petuah seorang senior “Semakin banyak kau membaca wacana atau fenomena—semakin kau tersiksa, namun justru ketidaktahuan serupa kereta yang mengantarmu ke jurang antah berantah”.

 “Jalan studi kalian ialah usaha rumit mengungkap relasi kuasa, kondisi ruang, dan berbagai invisibilitas lainnya. Dengan sendirinya—narasi besar itu akan terpatahkan selepas tersingkap. Ini disebut teknik dekonstruksi. Sebuah metode yang dapat kita gunakan di era berkelindannya kepentingan. Sepengalaman saya di lapangan, prosesnya enak diceritakan tapi susah dilakoni. Alonalon wae, cah; yang penting paham. Kalian yang awalnya terlihat lugu bakal jadi bocah ngeyel dengan pertanyaan kritis, mendalam, dan tajam.” Kurang lebihnya begitu—titipan wejangan dari Mas Pujo. 

Ada dua interkoneksi mata kuliah yang saya gunakan untuk membedah visualitas Mandalika, kelas etnografi dan antropologi visual. Pelukisan ini bersifat analisis-spekulatif menurut representasi saya—yang mana landasan tafsirannya berdasarkan sumber internet, pembacaan literatur, pengalaman pribadi, dan foto kontributor. Sekadar percobaan menguliti dan barang tentu mengandung bias subjektif. Tujuan penggambaran ini berangkat dari premis Prof. Laksono dalam esainya; “Memahami Kebudayaan (Indonesia) Dari Perspektif Antropologi”; Siapa mempertontonkan apa untuk siapa dan siapa menonton apa? Lalu apa makna dari tontonan itu? 

Pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) adalah upaya aktualisasi peningkatan devisa negara—membuka keran pasar bebas guna memulihkan krisis ekonomi tahun-tahun terakhir. Beberapa daerah ditetapkan, salah satunya Mandalika. Indikasi persyaratan pengajuan kawasan terbilang cukup mudah—bermodal wilayah geografis strategis dan keunggulan sumber daya alam. Tingginya interaksi perdagangan internasional juga menguatkan alasan negara mengkomodifikasi ruang regional. Sebetulnya, tidak ada yang salah dengan pembangunan, namun apakah etika lingkungan mendapat perhatian? Itu persoalan belakang. Terlibatnya Indonesia dalam G20 kian memperjelas wajah neoliberal yang laten.

Kemudian, pariwisata menjelma pasar unggulan dan memenetrasi dari berbagai arah—tanpa kita sadari telah merenggut keintiman masyarakat lokal dengan lingkungan. Keinginan pemerintah menciptakan “10 Bali baru” cukuplah menelanjangi kita “bagaimana bisnis pariwisata begitu menjanjikan”. Padahal belum tentu semua wilayah akan cocok seperti Bali, ada banyak aspek yang mesti dipertimbangkan; contohnya pembangunan Amphitheater di Bromo Tengger, Jawa Timur—keberadaan fasilitas itu dibangun untuk kepentingan wisatawan dan justru menyingkirkan ritus adat masyarakat setempat.

Branding pariwisata di Lombok khususnya Mandalika kian gencar—memakan sejumlah modal dan energi yang sangat besar. Banyak pihak yang terlibat, banyak pula yang terlibas. Singkatnya, Mandalika berangsur menjadi kawasan eksklusif. Privatisasi lahan publik mengejawantahkan kontrol kuasa, salah satunya infrastruktur sirkuit moto GP yang mengepung kampung perlahan mengubah kesadaran adaptasi masyarakat—Bagaimana blok jalan dipoles, pagar besi ditanam, gedung dan hotel mewah kian subur, terputusnya akses menuju laut, dan perubahan morfologi lainnya secara tidak langsung menggeser pola-pola lama. Intervensi material itu membangkitkan daya lawan seorang subjek terhadap sekitarnya; seperti warga dusun Ebunut yang menjebol pagar sirkuit, atau massa yang memilih menonton perhelatan moto GP dari atas bukit bahkan kuburan; “Karena tidak dikasih masuk, ya kita nonton saja di sini, gratis juga kan,” pungkas Ishaq dengan polosnya (Kompas, 11/02/2022). Dengan demikian, KEK Mandalika adalah manifestasi struktur teknologi politik yang melahirkan berbagai skenario nuansa baru.

Warga negara dibentuk menjadi subjek yang memiliki dua pilihan; mati atau hidup berdampingan. Mati dalam artian—persendian kehidupan tersendat, meninggalkan wilayah kultural dan harmonisasi hidup di pesisir. Hal ini digambarkan Foucault sebagaimana kekuasaan itu beroperasi dari luar melalui relasi material yang tersebar menyerupai jaringan—yang mana mewujudkan skema pendisiplinan warga negara dalam kontrol kuasa (disciplinary power). Selain itu, manusia diobjektifikasi serupa koin yang memiliki dua sisi. Dalam konteks ini, apakah masyarakat di sekitar Mandalika ialah warga marjinal atau bukan marjinal.

Sejak awal perencanaan sampai berjalannya aktivitas ekonomi di KEK Mandalika memang cukup menuai problem dan berbagai kontroversi; mangkraknya proyek, warga sebagai korban pembangunan, birokrasi lahan yang macet, konflik agraria, dan munculnya pawang hujan. Visualisasi tersebut menampilkan gegar budaya di tengah masyarakat, seakan terasing jauh dari tanah sendiri, namun masyarakat sebenarnya belum terpisah dari akar kepribadiannya. Maka dapat kita katakan, bahwa transformasi teknologi di Mandalika tidak seiring dengan gerakan transformasi sosial budaya. Kita juga bisa mencermati efek arus komunikasi masyarakat dengan dunia global kian dieksploitasi, misalnya kehadiran pawang hujan yang mengenakan atribut proyek dan diberikan kartu identitas ialah kontrol politis yang jamak. Aktivitas ritual tersebut biasanya kita temukan di pedalaman atau pedesaan yang masih kuat pusat orientasi nilai budayanya, namun kini dijumpai pada ruang kapital yang masif  kepentingan—dimodifikasi sedemikian ciamik, tetapi dengan jelas mencerminkan krisis akulturasi. Otoritas kebudayaan tidak lagi menjadi milik satu pihak, namun direproduksi secara massal oleh berbagai institusi guna melegitimasi tujuan politis.

Sikap pragmatis pemerintah yang memasarkan kearifan lokal menimbulkan ketegangan antar publik, visualisasi ini seolah sebagai ladang kontestasi dan melahirkan fenomena yang disebut friksi kebudayaan, yaitu terjadi sebuah pergeseran arti dari tradisi itu sendiri. Menurut Anna Tsing, interaksi antara dua kekuatan—global dan lokal—menimbulkan gesekan yang bermuara pada situasi yang tidak dapat diprediksi. Barangkali, afeksi sementaranya adalah debat kusir di sosial media, akan tetapi bagaimana kedepannya—mengingat Indonesia merupakan komunitas besar dengan latar belakang yang plural. Ancaman seperti intoleransi, perpecahan kubu, dan ujaran kebencian ialah magma panas yang kapan saja bisa meletus. Visualitas Mandalika di media memang mengandung bias kuasa yang sukar terdeteksi, ia hidup dalam ruang genggam kita dan dikelola oleh individu atau sekelompok instansi. Ada yang tidak disadari, ada juga yang telah direncanakan dengan sistematis. Tugas kita adalah menemukan sejauh mana narasi itu dapat bertahan, mungkinkah ada celah yang bisa kita kaji dan suarakan. Karena pengetahuan di lapangan sejatinya milik masyarakat dan harus dikembalikan pula kepada mereka. Selamat membongkar visualitas!

Sumber:

Instagram. Retrieved March 29, 2022,

 [pesona.indonesia]. (2022, March 23). Instagram. Retrieved March 28, 2022, from https://www.instagram.com/p/CbZqVgXvrua/?utm_medium=copy_link

Abdullah, Irwan. (2015). Konstruksi dan Reproduksi Kebudayaan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Detikcom, T. (2022, February 14). Tes Pramusim Mandalika: Bapak-bapak sarungan-pekerja Proyek Curi Perhatian. detikoto. https://oto.detik.com/otosport/d-5941045/tes-pramusim-mandalika-bapak-bapak-sarungan-pekerja-proyek-curi-perhatian

Foucault, M. (n.d.). The subject and power. Ethische und politische Freiheithttps://doi.org/10.1515/9783110815764.387

Guntur, O. N. (2021, September 12). Foucault Dan Warga Negara. LSF COGITO. https://lsfcogito.org/foucault-dan-warga-negara

Indonesia, C. (2022, March 27). Media Spanyol Sebut Roro Pawang Hujan Pahlawan MotoGP Mandalika.olahraga. https://www.cnnindonesia.com/olahraga/20220327144620-156-776703/media-spanyol-sebut-roro-pawang-hujan-pahlawan-motogp-mandalika

Kala Presiden Resmikan Sirkuit Mandalika, Persoalan Lahan Masih Menggantung. (2021, November 20). Mongabay Environmental Newshttps://www.mongabay.co.id/2021/11/20/kala-presiden-resmikan-sirkuit-mandalika-persoalan-lahan-masih-menggantung/

Kawasan Ekonomi Khusus Di Indonesia. (n.d.). BKPM. https://www8.bkpm.go.id/id/publikasi/detail/berita/kawasan-ekonomi-khusus-di-indonesia

Kompas Cyber Media. (2022, February 11). Cerita Warga Nonton tes Pramusim MotoGP Dari Atas Kuburan: Nonton Di Sini Saja, gratis. KOMPAS.com. https://regional.kompas.com/read/2022/02/11/191200678/cerita-warga-nonton-tes-pramusim-motogp-dari-atas-kuburan–nonton-di-sini?page=all

Nasib para Perempuan Yang Hidup Di Sekitar KEK Mandalika. (2021, March 26). Mongabay Environmental News. https://www.mongabay.co.id/2021/03/26/nasib-para-perempuan-yang-hidup-di-sekitar-kek-mandalika/

Nasib Warga Yang Terkurung Sirkuit Mandalika. (2021, August 28). Mongabay Environmental News. https://www.mongabay.co.id/2021/08/28/nasib-warga-yang-terkurung-sirkuit-mandalika/

Pontoh, C., Arianto, S. (2021). Neoliberalisme: Konsep dan Praktiknya di Indonesia (1st ed.). Pustaka IndoPROGRESS.

Presidensi G20 Indonesia 2022. (n.d.). Bank Indonesia. https://www.bi.go.id/id/g20/Default.aspx

Puspita, L. (2022, January 5). Kami Bertanya Ke orang Tengger tentang Kawasan Bromo Dijadikan ‘Bali Baru’, Jawabnya: ‘Kami Bisa APA?’. Project Multatuli. https://projectmultatuli.org/kami-bertanya-ke-orang-tengger-tentang-kawasan-bromo-dijadikan-bali-baru-jawabnya-kami-bisa-apa/

Sekilas Tentang Indonesia. (n.d.). Kawasan Ekonomi Khusus | Dewan Nasional Kawasan Ekonomi Khusus. https://kek.go.id/sekilas-tentang-indonesia

Tsing, A. L. (2011). Friction: An ethnography of global connection. Princeton University Press.

Identitas Penulis

Ruly Andriansah, Antropologi 2021.

Mahasiswa Antropologi budaya 21, pembelajar seumur hidup yang menyukai aroma laut. Segumpal daging ini bisa diajak berkicau di rulyandriansah@gmail.com atau IG: @rulyandsyah.

Musik dan Rekonsiliasi Konflik: Sihir-Sihir Indah di Tanah Maluku

Perjumpaan manusia dengan musik merupakan keniscayaan yang tidak bisa dibantah. Musik selalu menemani perjalanan manusia di berbagai kebudayaan di seluruh dunia. Pada awal-awal perkembangannya, mungkin sebagian dari kita sudah tahu bahwa nenek moyang kita dahulu hanya menggunakan mulut untuk menciptakan sebuah alunan nada, jauh sebelum kita mengetahui apa itu “nada”, “irama”, “harmoni”, dan yang lainnya saat ini. Perkembangan itu lantas diikuti dengan kegiatan memodifikasi suara-suara yang dihasilkan alam dengan cara membuat “alat musik” yang terbuat dari bahan-bahan alam setempat. Kemudian, manusia mulai menciptakan bahasa-bahasanya sendiri lalu menuliskan apa yang mereka ucapkan serta pikirkan pada media tulis. Pada tahapan lanjut inilah musik menjadi semakin kompleks karena tidak hanya memanfaatkan aspek alat yang digunakan, musik telah memasukkan unsur bahasa yang di dalamnya tertuang pula emosi, pikiran, ide-ide, imajinasi, serta tujuan-tujuan tertentu manusia.

Musik telah berkembang sebagai alat di mana manusia dapat menggunakannya untuk mengakomodasi kebutuhan-kebutuhan di dalam hidupnya. Sebagai pengundang nestapa maupun pelipur lara, sebagai bentuk penindasan maupun penghormatan, atau sebagai pemupuk perdamaian maupun pencipta perpecahan bisa diwujudkan dengan kehadiran musik. Itu semua tergantung pada bagaimana musik hendak digunakan oleh manusia. Lalu, pada tulisan ini, saya hendak membahas bagaimana jika musik digunakan untuk mewujudkan perdamaian atau praktisnya sebagai sebuah aktivitas dari resolusi konflik. Sejauh mana kapasitas musik bermain peran di dalamnya? Bisakah hal itu terwujud? Untuk menjawab itu semua, mari kita sejenak belajar dan berefleksi dari fenomena yang pernah terjadi di Maluku pada tahun 1999.

Apa yang Terjadi di Maluku?

Maluku dengan segala keindahan bentang alam dan budayanya tentu tidak bisa lepas dari beragam dinamika manusia di dalamnya. Banyaknya manusia yang harus ditampung oleh wilayah ini memungkinkan terbentuknya kelompok-kelompok yang berbeda satu sama lain. Keberagaman inilah kemudian memicu salah satu konflik terbesar di Maluku pada tahun 1999. Pada mulanya, konflik ini timbul akibat perseteruan antar etnis dan pertarungan elit politik lokal, kemudian berkembang menjadi konflik antara agama Islam dengan Kristen (Safi, 2017:34). Konflik yang sudah tereskalasi tersebut kemudian memerlukan jalan keluar yang tepat. Dalam rangka meredam konflik yang terjadi, Maluku memiliki jalan keluar yang sangat sederhana, tetapi fundamental dalam kehidupan manusia. Jalan keluar itu melalui musik.

Musik yang Menyihir

Meredamnya sebuah konflik bisa menjadi langkah awal perdamaian dapat tercipta. Atas dasar itulah, kehadiran musik di tengah-tengah proses tersebut dapat menjadi media yang tepat untuk mewujudkannya. Pernyataan tersebut tidak berlebihan mengingat beberapa penelitian terbaru memaparkan bahwa musik merupakan perekat yang memungkinkan terbentuknya hubungan sosial (Lederach, 2020:140). Itulah sebabnya mengapa berbagai gerakan sosial-budaya bisa terjadi salah satunya karena melalui pengaruh dari keberadaan musik. Dalam diskursus konflik di Maluku, keberadaan musik sangat diperhitungkan untuk menciptakan sebuah gagasan tentang perdamaian yang lantas diwujudkan bersama. Maka dari itu, bagian ini akan berusaha mengeksplorasi sejauh mana musik dapat meredam suatu konflik.

Kehadiran musik di tengah-tengah proses meredamnya konflik tidak menempati ruang-ruang kosong yang tak bermakna. Maka dari itu menurut Howell (2021:86), musik akan menempati posisi-posisi berikut:

  1. Musik sebagai representasi, di mana musik akan menghubungkan beberapa kelompok yang terlibat dalam konflik, kemudian mendorong para pendengarnya kepada kondisi yang lebih bersimpati atas masalah yang terjadi atau pengakuan terhadap kelompok lain yang terlibat dalam masalah yang sama.
  2. Musik sebagai kegiatan bersama, yaitu menjadi sarana untuk menjalin hubungan, menciptakan dialog, dan empati melalui partisipasi dalam pembuatan musik.
  3. Musik sebagai instrumen emosional, musik berfungsi sebagai pengubah perasaan seseorang dan menghasilkan relasi melalui kegiatan mendengar bersama-sama

Dalam konteks Maluku, lagu-lagu perdamaian dibuat dan dirangkai sedemikian rupa oleh para musisi lokal yang ada di sana. Para musisi merangkai lirik dan nada lagu sesuai dengan naskah-naskah kultural dan irama yang khas Maluku (Lestari, 2020:377). Hal inilah yang kemudian mengkondisikan gagasan para pendengarnya terhadap lagu yang dimainkan secara kontekstual. Para musisi menghasilkan sebuah konsepsi ideal mengenai perdamaian melalui lirik-lirik lagu yang dirancang.

Maka dari itu, apabila dilihat mulai dari proses pembuatan musiknya, interaksi yang terjadi selama proses pembuatan, sampai kepada musik tercipta dan diperdengarkan, musik yang diciptakan oleh para musisi Maluku dapat memperlihatkan kepada kita tentang posisi dari musik itu sendiri di tengah-tengah konflik yang sedang terjadi.  Pertama, lagu-lagu yang dibawakan saat acara perundingan antara kedua kelompok yang berkonflik memunculkan kembali ingatan masyarakat Maluku bahwa mereka semua bersaudara dan menegaskan kembali filosofi pela dan gandong. Baik pela maupun gandong keduanya sama-sama memiliki makna yang tidak jauh berbeda bahwasanya antar individu ataupun daerah-daerah yang ada di Maluku merupakan satu kesatuan harmoni yang tidak bisa dipisahkan (Lestari, 2020:384). Fenomena ini memperlihatkan bahwa musik menempati posisi sebagai sebuah representasi dalam bingkai membentuk perdamaian. Pada tahap ini, musik berhasil membangkitkan makna kolektif (Lederach, 2020:143-144) masyarakat Maluku atas bentuk-bentuk perdamaian yang lebih indah daripada konflik yang sedang terjadi.

Kedua, sebagai sebuah kegiatan bersama, Lestari (2019:21) mendokumentasikan momen di mana dua komunitas (Islam dan Kristen) yang sedang berkonflik berkolaborasi dalam pembuatan lagu perdamaian. Mereka menggunakan instrumen musik yang sangat identik dengan penggunaannya di masing-masing ritual keagamaannya, seperti bedug dan lonceng. Kegiatan kolaborasi inilah yang kemudian tercipta dialog antar dua kelompok budaya yang bersifat kultural dan penuh simpati maupun empati.

Terakhir, melalui kegiatan pembawaan lagu saat acara perundingan kedua kelompok yang sedang berkonflik terjadi, musik berhasil mengubah suasana hati para peserta yang hadir. Suasana yang panas akibat konflik berhasil dicairkan ketika lagu-lagu perdamaian sudah dilantunkan. Para peserta menampilkan ekspresi-ekspresi seperti menangis, berteriak, dan saling memeluk (Lestari, 2020:379). Fenomena itu sangat menegaskan kepada kita bagaimana posisi musik sebagai sebuah instrumen emosional yang berhasil mengubah suasana hati.

Epilog: Mantra Perdamaian

Musik yang sangat lekat di dalam kehidupan manusia sangat mempengaruhi tindakan-tindakannya. Dalam diskursus konflik dan perdamaian, musik bisa menjadi sarana yang tepat untuk menjadi solusi atas konflik yang terjadi supaya berbuah perdamaian. Masyarakat Maluku yang sempat mengalami konflik pada tahun 1999 pun tidak bisa melepas keberadaan musik sebagai upaya meredam konflik. Dalam hal ini, musik menempati posisi yang krusial sebagai sebuah representasi, kegiatan bersama (kolaborasi), dan sebagai instrumen emosional.

Keahlian yang dimiliki para musisi lokal Maluku dalam merancang lirik dan nada dari lagu perdamaian yang akan diciptakan, membuat para pendengarnya merasakan pengaruh dari musik itu sendiri. Lagu-lagu yang dibawakan berhasil memunculkan ingatan kolektif tentang harmoni sosial. Selanjutnya, dalam proses pembuatan lagu yang bersifat kolaboratif antar dua kelompok yang berkonflik, masing-masing kelompok dapat menciptakan suasana hangat yang dijembatani oleh musik. Pada akhirnya, ketika diperdengarkan kepada khalayak umum, lagu perdamaian yang diciptakan oleh para musisi Maluku dapat mengubah perasaan orang-orang yang mulanya marah dan kesal, menjadi perasaan yang lebih melankolis dan merasakan refleksi mendalam atas konflik yang sedang terjadi.

Jika direfleksikan pada konteks yang lebih luas, contoh di Maluku ini hanya sebagian kecil dari berbagai fenomena yang terjadi di penjuru dunia ketika membahas musik dan rekonsiliasi konflik. Banyak dari kita bahkan mengenal musik-musik populer yang liriknya sarat akan ide-ide perdamaian. Sebutlah salah satu contoh yang terkenal yaitu karya milik John Lennon yang berjudul Imagine. Pada tahapan tertentu, lirik dari musik tersebut dapat direfleksikan dan tidak menutup kemungkinan bisa mengantarkan seseorang yang menikmatinya pada laku-laku nyata perdamaian. 

Maka dari itu, tidak berlebihan apabila saya menilai musik selama ini sebagai sebuah “sihir” yang manifestasinya bisa tampak dan diwujudkan. Pasalnya, tidak ada satu manusia pun di muka bumi ini yang tidak tergerak hati, pikiran, dan tubuhnya setelah mendengarkan musik yang dilantunkan. Bak seorang penyihir di film-film fantasi, para musisi menempati posisi yang esensial dalam dinamika perubahan perilaku manusia di sekitarnya. Akankah menuju ke arah yang negatif, menjadi konstan, atau bergerak ke perubahan positif merupakan beban “keajaiban” yang sama-sama ditanggung oleh sang musisi dan musiknya. Dalam hal ini, buah perdamaian bisa jadi tercipta akibat inisiatif pembuatan mantra sihir tersebut di tengah-tengah konflik yang berkecamuk di Maluku. Setelah ini semua, apabila seseorang tiba-tiba bertanya kepada saya percayakah akan keberadaan sihir dan penyihir, maka akan saya jawab dengan lantang, “Iya, saya percaya, bahkan saya menjadi bagian di dalamnya”.

Sumber

Howell, G. (2021). Harmonious Relations: A framework for Studying Varieties of Peace in Music-Based Peacebuilding. Journal of Peacebuilding & Development, 16(1), 85-101.

Lederach, J. P. (2020). Music Writ Large: The Potential of Music in Peacebuilding. Dalam J. Mitchell, G. Vincett, T. Hawksley, & H. Culbertson (Penyunt.), Peacebuilding and the Arts (hal. 139-156). Cham, Switzerland: Palgrave Macmillan.

Lestari, D. T. (2019). Menggali Falsafah Hidop Orang Basudara dari Melodi Bakubae (Perdamaian)-Lagu Gandong di Maluku. Melayu Arts and Performance Journal, 2(1), 15-25.

Lestari, D. T. (2020). Membangun Harmoni Sosial Melalui Musik Dalam Ekspresi Budaya Orang Basudara Di Maluku. Panggung, 30(3), 375-391.Safi, J. (2017). Konflik Komunal: Maluku 1999-2000. ISTORIA: Jurnal Pendidikan dan Sejarah, 13(1), 33-44.

Identitas Penulis

Muhammad Harits, Antropologi 2020.

Nama asli Muhammad Harits, mahasiswa Antropologi UGM angkatan 2020. Kadang
main skateboard, kadang main gitar, kadang ga ngapa-ngapain. Suka lagu-lagu
punk dan klasik, lagu-lagu galau juga (kalau perlu). Hubungi saya via Instagram:
@haritsmuhammads kalo udah kenal bisa lanjut ke WA atau Line. Saya juga punya
beberapa tulisan di: haritsmuhammad.wordpress.com. Beberapa tulisan di sana
jangan dianggap serius karena saya cuma sok tahu doang. Terakhir, jangan lupa
bahagia, jangan lupa istirahat, jangan lupa makan, ya. Viva la tekyan!

Sudahkah Menikmati Karya Seni untuk Diri Sendiri?

Photo by Porapak Apichodilok from Pexels

Sebagai seseorang yang suka memaknai sebuah karya seni, saya sangat menikmati proses mengerti dan memahami atas apa yang saya nikmati. Terutama sebuah lagu, karya seni yang sangat mudah menjangkau masyarakat luas dari berbagai kelas maupun golongan. Musik banyak menjadi teman setiap individu dalam segala kesempatan. Contohnya saya yang kerap kali menghadirkan musik dikala harus berurusan lama dengan tugas kuliah yang begitu menumpuk. Musik menjadi teman setia saya yang tidak akan protes ketika harus menunggu saya berjam-jam merampungkan tugas. Sebuah penggambaran yang mungkin dapat menjelaskan dengan jelas bagi kita mengenai seberapa dekat musik dengan kegiatan manusia sehari-hari.

            Beberapa bulan lalu, adik saya mempertemukan saya dengan sebuah lagu bersuasana tenang dengan lirik yang begitu ‘ambyar’ dapat saya bilang. Pasalnya lagu yang berjudul Heather ini menceritakan seseorang yang sedang dilanda patah hati dan membandingkan dirinya dengan perempuan lain yang dicintai oleh pujaan hatinya. Dalam lagu barat, penggunaan she/he dalam keseharian dapat membantu untuk menunjukkan gender seseorang yang mereka maksud sebagai ‘dia’. Hal inilah yang dapat membuat saya mengatakan bahwa sosok yang dibandingkan dalam lagu Heather adalah perempuan. Penggunaan kata she yang dilakukan berulang-ulang membuat saya merasa memiliki ketertarikan lebih untuk mendalami lagu ini, mengingat Conan Gray penyanyinya berkelamin laki-laki.

            Dalam tulisan ini, saya tidak begitu ingin membahas pada gender apa Conan Gray menggolongkan dirinya, karena disela-sela keinginan saya memahami lagu ini. Saya menyadari jika sebagai pendengar saya suka sekali melihat lagu lewat sudut pandang gender penyanyi yang membawakannya. Bahkan dalam lagu Indonesia yang menggunakan kata ‘dia’ sebagai bentuk kenetralan saja, saya kerap kali masih mengidentifikasikan sebuah lagu tersebut ditujukan untuk wanita atau pria berdasar siapa yang menyanyikan lagunya.

            Saya rasa kegiatan ini bukanlah satu hal yang salah, mengingat peristiwa ambang atau hal nyata yang ‘tidak biasa’ ini dapat dinikmati karena adalanya proses refleksi dari seorang penikmat entah itu kepada dirinya sendiri, orang lain, atau hal lain yang ada dihidupnya (Lono, 2013). Akan tetapi, pengkotakan seni hanya pada dua jenis gender yaitu ‘perempuan’ dan ‘laki-laki’ rupanya membuat mereka sosok penikmat maupun pembuat karya seni kesulitan menemukan wadah atas ekspresi diri yang mereka miliki.

            Dalam satu sudut pandang, menurut saya lagu Heather menjadi salah satu lagu yang dapat mendobrak aturan kaku atas pembagian gender dalam seni. Dewasa ini rupanya banyak orang tidak ingin menggolongkan diri sebagai ‘perempuan’ maupun ‘laki-laki’, sosok yang mungkin kerap kita sebut ‘non-binary’. Meskipun kehadirannya yang kerap masih ditolak di masyarakat, kehadiran mereka bukan satu hal yang bisa kita anggap tidak ada. Lagu Heather menyadarkan saya akan eksistensi sosok yang saya ketahui berjenis kelamin Pria memang bisa saja cemburu akan kecantikan keanggunan sosok Perempuan. Hal baru yang perlu saya akui kehadirannya ada di sekitar kita. Di mana mereka yang termaginalisasi kehadirannya di masyarakat, masih sangat kurang mendapatkan wadah dalam mengekspresikan perasaannya.

            Selain melihat pada sisi dobrakan atas aturan kaku gender dalam seni. Lagu Heather dapat dipandang juga sebagai seorang seniman yang mencoba menyampaikan keluhan dari sosok lain yang berbeda darinya. Sudut pandang ini adalah sudut pandang yang adik saya berikan ketika memperkenalkan lagu Heather pada saya kala itu. Ia berkata jika Conan adalah sosok penyanyi pria yang mencoba menggambarkan rasa insecure dan kecemburuan perempuan pada perempuan lainnya. Lewat perspektif ini saya menjadi melihat karya sebagai sebuah karya saja, tanpa melihat siapa yang menciptakan dan untuk siapa karya itu diciptakan.

            Lagu Heather ini seperti membuka perspektif baru untuk saya dalam hal melihat suatu karya. Beberapa lagu mungkin dibiarkan abstark bagi penciptanya agar seni yang mereka ciptakan dapat menjangkau penikmat yang lebih luas. Agar tidak hanya sang pencipta saja yang merasa perasaannya terekspresikan, melainkan juga mereka para penikmatnya dapat dengan bebas merepresentasikan karya seni yang tersaji sesuai dengan pengalaman batin mereka masing-masing. Semakin luas karya seni tersebut dapat menjangkau berbagai pengalaman batin seseorang, semakin karya seni tersebut dipercaya memiliki teknologi enchanted yang begitu kuat.

            Heather menjadi salah satu contoh bagi saya tentang betapa pentingnya makna sebuah karya dapat mewakilkan perasaan berbagai orang. Meskipun bukan hal salah pula jika kita membiarkan karya yang kita buat hanya bisa dinikmati oleh diri kita sendiri. Akan tetapi, karya tersebut lantas tentu tidak memiliki pesonanya bagi orang luas. Tidak hadirnya pengalaman kultural menjadikan karya tersebut hanya sebagai koleksi pribadi, karya tersebut tidak menghadirkan teknologi enchanment, pun interaksi yang tercipta hanya sebatas sang pencipta dan karya. Seni memang menjadi wadah bagi seorang seniman dalam berekspresi, tetapi tidak bisa dilupakan juga jika seni juga wadah bagi para penikmatnya dalam berefleksi.

Daftar Pustaka

Simatupang, Lono. (2013). Memahami Jagad Seni sebagai Refleksi Kemanusiaan, dalam Lono Simatupang,  Pagelaran: Sebuah Mozaik Penelitian Seni-Budaya. Yogyakarta: Jalasutra. hlm. 1-14.

Identitas Penulis

Imaya Nadzif, Antropologi Budaya 2020

Perkenalkan di sini May/Maya/Ayya, gadis yang gemar rajut merajut, juga mencipta hal lucu lainnya. Belakangan sedang berusaha mempublikasikan hal lucu tersebut di akun instagram @/rukaryya, sila disambangi jika di dalamnya juga lucu menurutmu. Selain mencipta hal lucu, Maya juga suka berbagi pikiran lewat obrolan malam. Kalian bisa hubungi Maya lewat akun instagramnya @/smwlovesu_ atau bertukar surel di ruang.astamaya@gmail.com. See you!!!

Simple, Flexible, dan Cashless

Photo by RODNAE Productions from Pexels

Semenjak aku tidak tinggal di kota asalku, Semarang, aku kerap kali meminta tolong pada salah satu dari mereka. Ketika berpapasan, mereka saling tersenyum atau menganggukan kepalanya sebagai sebuah kontak sosial dalam komunitasnya berkat kesamaan profesi. Ojol, kepanjangan dari ojek online, itu panggilan singkat dari kebanyakan orang untuk mereka tapi aku lebih senang menyebutnya “driver”. Ada sedikit perbedaan karakteristik yang cukup mengejutkanku ketika pertama tiba di Sleman, di tempatku merantau sekarang, jaket “driver” berwarna jingga terang kerap kali kutemui. Bak Jamur di musim hujan yang mengemudi kesana kemari sambil membawa bungkusan plastik berisi makanan di bagian depan tempat duduknya. Di tempat-tempat makan, baik restoran, pedagang kaki lima, dan warung makan, tak jarang mereka berdiri berurutan ke belakang untuk mengantrikan pesanan sang customer. Aku sendiri bahkan kerap menemuinya.Ya, benar, ini bukan seperti tukang ojek melainkan seperti seorang perantara pembeli dan penjual dalam konteks makanan.

Merebaknya jaket jingga terang inilah yang kala itu sebenarnya belum kutemui di Semarang. Bisa jadi Sleman memulai rebakan ini lebih dulu lantaran kota ini lebih banyak dipadati oleh anak muda. Pasalnya, memang perlu diakui pasar dari jaket jingga terang ini ialah anak muda yang doyan promo. Sebagaimana kata Pak Edwin, salah seorang driver Shopee Food, Ia mengatakan dalam lisannya, “targetnya sebenarnya sama seperti Grab, sih, Mbak, pengguna Shopee food ini ga seloyal pengguna Gojek”. Benar juga, sebagai pengguna ke-tiga-nya, aku sendiri cenderung menggunakan Shopee Food atau grab jahatnya hanya di saat aplikasi ini menyediakan diskon besar-besaran atau bahkan memberi keringanan biaya operasional seperti gratis ongkir. Jika sedang tak ada promo atau diskon tersebut, tanpa ragu aku akan memilih Go-Food lagi untuk layanan jasa antar makanan ini. Rupanya bukan hanya aku sebagai customer yang menggunakan lebih dari satu aplikasi jasa ini, pria berusia 31 tahun yang kemarin mengantar makanan milikku dengan jaket jingga terangnya itu juga merupakan driver dari Go-Food. Yang tak kalah hebatnya adalah, menjadi driver Go-Food dan Shopee Food ini bukanlah okupasi pokok beliau. Meski merupakan orang asli di daerah ini, Pak Edwin memiliki pekerjaan utama sebagai seorang pelaut. Beliau menyampaikan pada saya pelayarannya yang kerap kali dilakukan di luar negeri bahkan pernah menetap di Amerika Serikat. Kurang lebihnya terprediksi karena pandemi ini menuntut pulangnya para pelaut ke kediaman mereka masing-masing sehingga Pak Edwin memilih untuk menjadi driver Go-Food sekaligus Shopee Food untuk saat ini. 

Mudah saja kata beliau untuk bisa bergabung menjadi driver Go-Food atau Shopee Food, “hampir sama aja seperti yang di Go-Food, Mbak, hanya perlu syarat gampang-gampang saja kaya SIM, SKCK, kendaraan baik, STNK, KK, KTP, simple aja, Mbak”, ucap Pak Edwin. Rasanya memang tak perlu spesialisasi atau tuntutan atas kualifikasi khusus tertentu. Rujukan dari makna simple yang dilontarkan Pak Edwin ini juga didukung dengan adanya jam kerja yang flexible. Pria ini bebas menentukan sendiri waktu memulai dan menghentikan jam kerjanya. Kebetulan beliau sudah terbiasa untuk memulainya jam 8 pagi hingga jam 4 sore. Sama sekali tidak kaku, Ia berusaha menyesuaikan dengan keadaan yang ada di hari itu saja. Mengenai rujukan pesanan masuk juga menjadi kebebasan pribadi bagi para driver untuk mengambil pesanan tersebut atau tidak. Lantas begitu pula dengan sistem pendapatannya dimana benar-benar ditentukan oleh banyaknya jumlah pesanan yang masuk serta tip yang diberikan. Semakin banyak menerima pesanan maka semakin banyak pula jumlah pendapatannya. Padahal sebagaimana diketahui bahwa untuk menerima suatu pesanan merupakan kendali penuh dari sang driver sendiri. Tergabung menjadi pemberi jasa antar makanan ini rasanya seperti bisa mengatur rezeki sendiri dan sisanya tentunya diserahkan pada Tuhan. Jika secara internal, semuanya dikendalikan penuh oleh sang driver sendiri, seperti jumlah pesanan yang ingin diterima, maka pula ada faktor eksternal yang bisa jadi tantangan. Pria bertubuh gagah itu menceritakan pengalamannya yang paling berkesan mengenai customer ialah mengantar makanan dari wilayah Pakem menuju ke Parangtritis dimana memakan perjalanan lebih dari 1 jam. Selain itu, hal yang paling tidak menyenangkan ialah ada customer yang memberi titik posisi yang salah dan jauh dari aslinya sehingga sang bapak harus bolak-balik demi mengantar makanannya sampai tujuan. Ada juga yang hanya berkata “sesuai titik, Mas” padahal si customer sudah berpindah dari titik awalnya sedangkan Shopee Food memiliki fitur titik yang sama dan tidak mengikuti keberadaan gawai sang pemesan yang mana ini berbeda dari fitur di Go-Food yang bisa mengikuti arah gerak pembawa gawai. Sekali lagi Pak Edwin mengingatkan bahwa hambatannya kerap muncul dari pihak eksternal, terutama customer.

Namun demikian, ada banyak pula alasan Pak Edwin memilih menjadi driver Shopee lantaran sistemnya yang simple, flexible, dan cashless. Cashless, pasalnya sistem yang mengijinkan penggunaan promo dan diskon di Shopee selalu menuntut penggunaan Shopee-Pay yang mana merupakan uang elektronik. Dengan pesanan tersebut, secara otomatis saldo Shopee-Pay sang customer akan terpotong sehingga dalam proses pemesanan itu sendiri memang akan diselesaikan secara cashless.  Hal ini membuat Pak Edwin setidak-tidaknya semakin merasa ‘simple’ lagi lantaran beliau tak perlu membawa banyak uang cash sebagaimana jika beliau bekerja menjadi driver Go-Jek. 

Rupanya berbagai kemudahan yang aku alami terutama ketika menetapkan Shopee Food menjadi pilihan juga dirasakan oleh sang driver juga. Memilih Shopee Food karena berbagai kemudahan sistemnya seperti simple, flexible, dan cashless, menjadi alasan yang mendasar juga. Kemungkinan besar juga ke-tiga hal itu jua yang membuat customer  memilih Shopee Food di luar promo dan diskon yang diandalkannya.

Andrea Marchelina Santoso, Antropologi 2020.

Kesukannya banyak, maunya banyak, tapi santai kok orangnya. Jangan lupa follow ig: @chelinsantoso. Makasih besties!

Musik di Mata Queers: Sarana Komunikasi, Ruang Berekspresi dan Representasi

Photo by Monstera from Pexels

“Musik adalah salah satu sarana untuk mengekspresikan diri,”

Kalimat tersebut tampaknya sudah sangat sering dilontarkan dan tidak begitu asing di telinga orang-orang pada umumnya, terutama bagi para pecinta musik. Berbicara tentang ekspresi, ekspresi gender merupakan salah satu bentuk istilah yang sering kita dengar pula. Wacana mengenai interpretasi seksualitas dan ekspresi gender seseorang melalui judul lagu dan preferensi musik sudah menjadi hal yang tidak asing lagi akhir-akhir ini. Sebagai gambaran, lihat saja girl in red atau The Neighborhood dan lagunya “Sweater Weather”, Anda akan mengerti maksud saya. 

Dalam sebuah waktu senggang yang ‘direncanakan’, teman saya, seorang queer, bercerita banyak pada saya mengenai pentingnya keberadaan musik sebagai sarana ekspresi gender serta ruang aman bagi teman-teman queer dan golongan LGBTQIA+ lainnya, dan disini saya akan membagikan sedikit poin menarik dari apa yang telah kami bicarakan.

Melalui pendekatan neoliberal, musik pop sudah menjadi salah satu saluran bagi banyak musisi dan lagu dalam menyusun karyanya untuk mempromosikan individual overcoming atas ketidaksetaraan gender dan ras (James, 2015: 136). McClary (dalam Wearner, 2019: 3) merupakan seorang kritikus feminis yang menyatakan bahwa musik mampu mengkonstruksi seksualitas dan gender seseorang. Dalam penelitian Baker (2004: 210), ia meneliti hubungan antara musik terhadap konstruksi gender dan ‘bedroom culture’ bagi remaja-remaja perempuan di Amerika, dan ditemukan bahwa musik yang didengarkan serta didiskusikan dapat menjadi sarana bagi mereka untuk lebih mengetahui dan menggali identitasnya sesuai dengan jenis kelaminnya (memahami bahwa mereka merupakan remaja perempuan dan ‘a sexual being’).

Perihal saya dan teman saya, kami akui, meskipun kami bukan ahli—disitu letak keseruannya— kami seringkali berbicara dengan argumen yang cukup “ndakik-ndakik” layaknya profesor apabila kami mendiskusikan hal yang serius, yang kami tahu memang sangat konyol jika dilihat. Mungkin jika orang-orang asing melihat kami berargumen ke satu sama lain, mereka akan melihat kami seperti dua burung yang sedang berkicau tanpa henti—mungkin lebih tepat disebut ‘berisik’ dibandingkan ‘cerdas’.

Sebelum saya melangkah lebih jauh tentang isi pembicaraan saya dan teman saya, perlu diketahui bahwa teman saya adalah seorang queer—sebuah terminologi bersifat ‘netral’ untuk menggambarkan seseorang yang menggambarkan dirinya ‘berbeda’ dalam hal identitas gender. (Maimunah, 2014: 44). Ia juga merupakan bagian dari LGBTQIA, sesuai yang ia klaim, dan ini juga menjadi salah satu alasan mengapa saya secara spesifik ingin mengetahui lebih dalam mengenai keberadaan musik serta kaitannya dengan ekspresi gender dan pandangannya sebagai bagian dari komunitas tersebut.

“Udah siap?” tanyaku.

“Sudah dong,”

Jawaban yang ia berikan menjadi tanda saya untuk memulai sesi ngobrol berkedok wawancara yang bisa dibilang ‘paling serius’ selama kita menjalin pertemanan. Pada beberapa bagian pertanyaan yang cukup teoritis, teman saya mampu menjawabnya dengan pemaparan yang sangat jelas. Bahkan, ia tidak segan menunjukkan berbagai referensi lagu dan musik untuk menunjukkan konteks dari jawaban yang ia berikan.

Of course, music is related to gender expression. Basically, you can express some things that you cannot express in words through music, whether it’s from the melody, lyrics, or instruments. Music is how you express your mentality, your being, and your mind to another people. You can even use it to communicate with other people. And it does not only apply to the composer, but also the listener,” kemampuan menjelaskannya yang sangat lancar tanpa jeda membuatku sontak meresponnya dengan, “Keren banget dah,”

“Oh, about the communication thing, itu tuh sebenernya tentang bagaimana musik bisa nyatuin similar people dengan taste yang mirip-mirip juga. Bukan direct communication, lebih ke telepathic gitu sih. Believe it or not, aku (sudah) ketemu orang-orang yang have the same (queer) identity as me, just by looking at their music playlist, atau ngeshare preferensi musiknya somewhere, social media contohnya,” tambahnya. 

Persepsi musik sebagai sebuah alat komunikasi yang dinyatakan oleh teman saya ini diamini oleh seorang etnomusikolog, Hood (1961: n.p.), yang menyatakan bahwa musik memang merupakan salah satu alat untuk melihat dan mengerti dinamika yang ada di dalam sebuah kelompok budaya. Ia membahas bagaimana musik mampu menjadi suatu media yang kerap kali dilupakan dalam memahami proses komunikasi, salah satunya dalam melihat komunikasi cross-cultural

Umumnya, kita sering mendengar bahwa musik merupakan sebuah bahasa yang universal, tetapi pendapat dari Hood ini membuka pandangan bahwa musik memiliki arti dan pemahaman yang berbeda bagi setiap kelompok budaya, sehingga, pemahaman akan musik yang didengarkan bisa memiliki makna yang lebih khusus untuk beberapa kelompok tertentu, salah satunya kelompok queer yang telah dijelaskan oleh teman saya, dimana mereka memiliki simbol-simbol khusus dalam mengidentifikasi allies atau teman-teman yang masuk ke dalam kelompok mereka. Menurut teman saya, komunitas LGBTQIA+ di zaman ini, banyak yang menggunakan judul lagu serta nama musisi sebagai ‘kode’ untuk mengenali queer lainnya. Beberapa frasa yang mereka gunakan adalah seperti ‘do you listen to girl in red?’(apakah kamu suka perempuan?) untuk mengidentifikasi teman-teman dengan orientasi seksual lesbian atau “I like your boots,” untuk menanyakan apakah mereka bagian dari LGBTQIA+ atau mengidentifikasi diri mereka sebagai gay.

Dalam penelitian oleh Boas (dalam O’Neill, 2014: 3), dimana ia meneliti suku Inuit, ia menyatakan bahwa dengan mempelajari bahasa suku Inuit (termasuk budaya musik di dalamnya), ia mampu mengerti maksud dari cara hidup orang Inuit, kebiasaan mereka, kepercayaan mereka, hingga cerita-cerita folklore yang ada di dalam suku tersebut. Saya pribadi mengamini pernyataan Boas ini. Seperti yang sudah dikatakan oleh teman saya tentang mengenali teman-teman queer-nya melalui music playlist karena adanya mutual understanding dan emotional connection, saya sendiri yang sudah sering berbagi rekomendasi lagu dengannya mampu merasakan apa yang dirasakan oleh Boas, yaitu semakin mengerti pemikiran dan kebiasaan teman saya karena saya mulai mengerti bahasanya, yaitu musik-musik yang ia dengarkan. Jadi, musik yang berlaku sebagai bahasa bagi para queer ini tidak semata-mata bersifat eksklusif, tetapi juga terbuka bagi orang-orang non-queer untuk ikut membaca simbol-simbol dan bahasa yang digunakan oleh para queer. Disini, bukannya sebagai bahasa yang “universal”, di mata para queers, musik juga bisa menjadi “bahasa daerah” atau bahasa yang memiliki makna tersendiri bagi mereka.

Kami pun melanjutkan pembicaraan dengan berbicara mengenai dampak keberadaan musik bagi komunitas LGBTQIA sendiri, menurutnya, “Ngomongin dampak, apalagi in modern society nowadays, aku rasa lebih ke kebebasan berekspresi dan ruang yang makin luas ya, mengingat banyak musisi yang sekarang vocally express that they’re allies, atau bahkan a part of the community themselves. Banyak yang terbantu dengan itu, karena representasi kita juga jadi makin banyak, orang-orang makin mengakui eksistensi dari komunitas kita, dan tentu saja kita bisa lebih resonate sama kalimat yang bilang musik itu salah satu sarana ekspresi diri. Jadi, kita sekarang bisa ekspresiin diri secara terbuka dengan dengerin atau bahkan nyanyiin musik dari musisi queers—komunitas LGBTQIA tanpa merasa takut bakal dihakimi, kita juga ketemu dengan banyak teman queer, jadi bisa komunikasi satu sama lain,”

Representasi menjadi salah satu hal yang penting bagi komunitas LGBTQIA+ dalam mengekspresikan diri mereka. Berkaitan dengan musik sendiri, representasi yang sudah meluas dan semakin banyak, membuat mereka percaya diri akan identitas mereka yang sesungguhnya. Trier-Bieniek (2012: 26-29) menyampaikan hasil penelitiannya terhadap kaitan antara artis musisi bernama Tori Amos dengan para fans-nya, dimana para fans menyatakan bahwa mereka menemukan kekuatan dan keberanian untuk mengembangkan identitas diri mereka yang lebih feminin, bahkan menyatakan orientasi seksual mereka sebagai lesbian karena keberadaan idola mereka. Hal ini membuktikan bahwa dalam hal gender dan seksualitas, konsumsi musik juga turut mengambil andil dalam perkembangan identitas seseorang. Selain itu, musik juga dapat menjadi wadah bagi kelompok dengan identitas yang sama untuk membangun interaksi sosial dan hubungan dengan satu sama lain (Wearner, 2019: 5).

Musik pop merupakan salah satu genre yang cukup mudah diakses dan memiliki jangkauan yang sangat luas. Karena itu, keberadaan musik pop juga menjadi salah satu fasilitas yang mengakomodasi musisi queer, serta para musisi non-normatif—yang anti-mainstream dan marginal— untuk membawa isu identitas mereka melalui lagu-lagu populer (Ganetz, 2017). Kehadiran musik-musik yang dibawakan oleh musisi queer dan lagu-lagu yang menceritakan pengalaman mereka ternyata sangat berpengaruh dengan identifikasi serta pemahaman akan identitas para queer akan diri mereka sendiri. Musisi-musisi yang disebutkan oleh teman saya seperti The Neighborhood, King Princess, dan girl in red pada 2017-2021 ini membuat banyak bagian dari komunitas LGBTQIA+ yang menjadi percaya diri dan berani mengungkapkan identitas mereka ke publik karena kehadiran musisi-musisi ini dan lagu yang mereka bawakan. Pada survei yang diadakan oleh Gallup (2021), jumlah remaja dan orang dewasa di Amerika Serikat yang menyatakan bahwa mereka bagian dari LGBTQIA+ telah meningkat sebanyak 5.6% sejak tahun 2017.

“Eventually, the social pressure to fix my sexual identity and my inability to do so isolated me from the rest of my peers. I felt that the only way I could relate to people on my own terms was through music. It was in music, and only in music, that I could perform all the roles necessary to satisfy me. In music I could compose, perform and listen; I could play multiple instruments; I could perform and appreciate various styles. It was only as a musician and music lover that I was allowed to be fluid: to interpret and reinterpret, to create and recreate.” (Taylor, 2012: 2)

Dalam pembukaan bukunya, “Playing It Queer: Popular Music, Identity, and Queer World Making”, Taylor bercerita bahwa bagi ia yang merupakan bagian dari komunitas LGBTQIA+ yang selalu “diributkan” dengan penentangan akan identitas gender dan seksual mereka, musik menjadi salah satu sarana dan tempat yang nyaman, untuk mengungkapkan diri mereka yang sesungguhnya, tidak hanya sebatas menjadi pendengar, tetapi juga untuk berkarya—membuat musik dan menyanyikannya. Disinilah pertanyaan saya akan pengaruh keberadaan musik terhadap ekspresi gender mulai terjawab. 

Teman saya merupakan salah satu orang yang memiliki pengetahuan yang luas akan musik. Mendengarkannya bercerita mengenai kecintaannya terhadap musik, terutama untuk musik-musik yang berasal dari musisi queer, membuat saya memahami akan pentingnya musik dalam hidupnya, tidak hanya sebagai individu, tetapi sebagai bagian dari sebuah komunitas, yaitu komunitas LGBTQIA+. Sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Taylor, ketika sudah tidak ada ruang aman lagi untuk mengekspresikan diri mereka—yang dianggap menyimpang—, kehadiran musik menjadi seperti “obat penenang” dan satu-satunya tempat dimana mereka bisa terbuka dengan diri mereka dan juga orang lain. Saya juga memahami bagaimana musik mampu mengungkapkan apa yang tidak dapat mereka ungkapkan, terutama mengenai ekspresi gender mereka. Pada akhirnya, musik mampu menyatukan orang-orang dengan selera yang sama dan identitas yang sama, disadari atau tidak disadari. Musik di mata para queer, dan komunitas LGBTQIA+ hadir sebagai sebuah bahasa untuk berinteraksi dan berkomunikasi, serta wadah atau tempat untuk mengenali dan mengekspresikan identitas diri.

Bincang-bincang yang berlangsung selama dua jam ini akhirnya harus diakhiri dengan alarm saya yang menandakan sudah pukul 12 malam. Kami pun mengakhiri perbincangan dengan beberapa rekomendasi lagu dan ucapan terima kasih. Perbincangan dengannya sungguh membuka mata saya akan hal-hal baru, termasuk mengenai musik, ekspresi, hingga komunitas.

Sumber

Baker, S. (2004). “It’s Not About Candy”: Music, Sexiness, and Girls’ Serious Play in After School Care. International Journal of Cultural Studies, 7(2): 197-212.

Ganetz, H. (2011). Fame Factory: Performing Gender and Sexuality in Talent Reality Television. Culture Unbound, 3: 401-417.

Gold, A. G. (2005). Conceptualizing Community: Anthropological Reflections. [Background paper, Syracuse University]. Brown University Research Publications.

Hood, M. (1961). Institute of Ethnomusicology. Los Angeles: University of California.

James, R. (2015). Resilience and Melancholy: Pop Music, Feminism and Neoliberalism. Hants: Zero Books. 

Jones, J. (2021, February 24). LGBT Identification Rises to 5.6% in Latest U.S. Estimate. Gallup. Retrieved from https://news.gallup.com/poll/329708/lgbt-identification-rises-latest-estimate.aspx

Kearney, M. C. (2017). Gender and Rock. New York: Oxford University Press.

Maimunah. (2014). Understanding Queer Theory in Indonesian Popular Culture: Problems and Possibilities. Jurnal Lakon, 3(1): 43-68.

Merriam, A. P. (1964). The Anthropology of Music. Illinois: Northwestern University Press.

O’Neill, S. (2014). The Anthropology of Music: The Role of Sounds, Stories, and Songs in Human Social Life. Encyclopedia of Life Support System

Taylor, J. (2012). Playing It Queer: Popular Music, Identity, and Queer World-Making. Bern: Peter Lang.

Trier-Bieniek, A. (2012). Sing Us A Song Piano-Woman: Female Fans and The Music of Tori Amos. Lanham: The Scarecrow Press.

Wearner, A. (2019). What does gender have to do with music, anyway? Mapping the Relation between Music and Gender. Per Musi, 1(39): 1-11.

Identitas Penulis

Jacinda Pielivia K. Antropologi 2020

Bukan Dinda atau Cinta, tapi Cinda.
Suka mendengar dan bercerita, suka berbagi pendapat tentang bermacam-macam hal yang ada di dunia, mulai dari makanan terenak di pelosok kota hingga rahasia yang disimpan oleh semesta. Tidak terlalu pandai dalam merangkai kata, tapi mau ikut kata orang tua, “Beranilah mencoba.”
Mari bersua dan berbagi cerita, temui aku di Instagram @jacindapielivia_

Tentang Si Negeri Kaya

Photo by Stijn Dijkstra from Pexels

DISCLAIMER: Tulisan kali ini saya tulis sepenuhnya dari isi hati saya dan berkolaborasi dengan perempuan campuran Papua-Toraja, Michelle Gabriella.

Berangkat dari rasa penasaran dan cita-cita saya mengenal Papua, saya memutuskan untuk berbicara langsung dengan perempuan cantik asal Papua, Michelle Gabriella. Panggil saja Cele. Dapat dibilang, selama masa kanak-kanak sampai remajanya, Cele hidup di wilayah-wilayah Papua seperti Jayapura, Fakfak, dan Merauke. Sedikit banyaknya, Cele tahu tentang negeri kaya itu.

Setiap wilayah di Indonesia pasti memiliki keunikan tersendiri, apalagi Papua. Tulisan ini sepenuhnya opini dari Cele yang saya tuangkan melalui kata-kata saya karena saya sendiri belum pernah menikmati Papua. Kita mulai!

Membahas tentang budaya, banyak orang mengira Papua ya hanya satu, tetapi sebenarnya suku Papua ada banyak. Orang Papua itu ada yang dari pantai dan gunung. Orang Pantai (pesisir) mulanya adalah orang yang suka berniaga. Karena berniaga dan berpindah-pindah tempat (dengan berlayar), disebutlah Orang Pantai. Sedangkan Orang Gunung mulanya adalah orang yang datang pertama kali dan bermukim di dataran tinggi. Karakter hidupnya di alam dan nomaden. Pekerjaan mulanya adalah bercocok tanam dan mengolah lahan. Jika dilihat dari karakteristiknya, Orang Gunung cenderung pendiam dan halus. Sebaliknya, Orang Pantai cenderung “cerewet” karena basisnya mereka berniaga dan mudah bersosialisasi dengan sekitar. Jika di Papua bagian kota, penduduknya sudah bercampur, tidak hanya Orang Pantai dan Orang Gunung, tetapi juga para perantau dari Maluku, Jawa, Cina, Sumatera, dan lain-lain.

Sebenarnya, di Papua itu, tidak selalu berita buruk yang mereka alami, tetapi dengan pemikiran media yang “bad news is a good news” jadi sedikit yang membicarakan indahnya Papua, yang diberitakan hanya baku tembak dan hal-hal buruk lainnya seperti diskriminasi. Diskriminasi yang Cele lihat, timbul lebih banyak dari luar sedangkan orang Papua sendiri jarang terjadi perpecahan antarsesama suku. Satu hal yang ingin Cele sampaikan bahwa Papua memiliki banyak hal yang bisa kita lihat bukan sekadar Raja Ampat saja. Berita duka yang selalu kita dengar dari Papua membuat Papua menjadi minim informasi dari luar maupun dalam, yang membuat wilayah luar Papua menganggap Papua adalah daerah yang rawan kekerasan.

Bicara tentang agama, agama mayoritas di Papua adalah Kristen Protestan. Tentang aman atau tidaknya, agama dimanapun masih menjadi topik yang sensitif. Seperti contoh tahun 2019 kemarin, di Jayapura terjadi kekacauan karena pembakaran oleh seorang TNI yang menyebabkan jaringan diputus sementara, ternyata itu hanya hoaks dari mulut ke mulut saja. Awalnya hanya pembakaran sampah biasa, tetapi diprovokasi bahwa fenomena itu adalah pembakaran kitab suci, sehingga menimbulkan keributan.

Kalau mobilitasnya, di Papua sendiri belum semua tersentuh pembangunannya. Kalau mau pergi ke kabupaten, harus naik pesawat yang tidak murah. Misalnya saja dari Wamena ke Jayapura bisa menyentuh angka jutaan. Namun, jika menggunakan transportasi darat akan lebih mahal lagi sekitar 15 juta-an.

Fakta unik yang membuat saya tercengang ketika Cele bercerita tentang kerusuhan ‘98. Seperti yang kita tahu bahwa tahun 1998 Indonesia mengalami kerusuhan hebat sehingga terjadi keruntuhan. Namun, siapa sangka di Papua pada saat itu masyarakatnya sedang berbahagia karena saat kejadian ‘98 itu terjadi, semua sungai di Papua mengeluarkan emas. Semua warga ramai-ramai mendulang emas dan membeli tanah karena itulah Papua disebut tanah yang kaya dalam artian siapapun yang mau mencari kerja di Papua harus bekerja dengan jujur.

Jika membaca tulisan saya, saya tidak akan melepaskan isu gender karena itu yang saya minati. Berbicara tentang isu gender dan kesehatan mental di Papua, kedua hal itu masih dianggap tabu. Seperti berbicara tentang “broken home” kepada teman-teman sendiri saja masih malu karena belum terbiasa berbicara tentang hal itu. Sedangkan tentang kesetaraan gender, di Papua masih lebih banyak pekerjaan mengutamakan laki-laki. Namun ada satu dua pekerjaan yang mempekerjakan perempuan seperti menjadi satpam di bank. Hal ini terjadi karena di Papua masih menganggap sepele mengenai hal tersebut. Sekian tulisan saya hari ini, kurang lebihnya mohon dimaafkan.

Identitas Penulis

Josephine, mahasiswa Antropologi Budaya angkatan 2021. Banyak pertanyaan terbesit di kepala tapi tidak pernah berani menuangkannya. Si penyuka langit dan selalu memuja malam. Email: joanthonias@gmail.com IG: josephineasf