Membawa Kedekatan Sang Seniman

ArtJog merupakan salah satu event festival, pameran, dan pasar seni tahunan yang telah rutin diadakan setiap tahunnya selama empat belas tahun lamanya, bertempat di Jogja National Museum, Yogyakarta. Pada tahun ini, ArtJog diadakan pada tanggal 7 Juli – 4 September 2022, dengan tema “Expanding Awareness” (ARTJOG, 2022).

Dalam satu kesempatan, saya beserta teman satu kelas mata kuliah Antropologi Seni lainnya mendapat tugas kuliah lapangan untuk mengunjungi pameran ArtJog ini secara gratis. Salah satu kesenangan juga mendapatkan kesempatan itu secara gratis, terlebih juga harga tiket asli untuk kunjungan ke ArtJog ini terbilang mahal. Yaitu pada kisaran 50.000 (pada pre-sale pertama), hingga 75.000 (pada general sale).

Source: Photo by M. Tamamy Melano Shalusa

Tugas yang diberikan untuk kuliah lapangan di ArtJog kali ini, ialah mengamati setiap karya seni yang dipamerkan, kemudian setiap mahasiswa diminta untuk memilih karya mana yang menurut masing-masing individu menarik atau enchanted. Jujur saja, saya bukanlah seorang yang suka mengamati seni dan bukan juga seorang yang paham mengenai bagaimana cara menikmati suatu karya seni itu. Tetapi, ayah saya merupakan salah seorang yang sangat suka seni, juga beliau merupakan seorang lulusan mahasiswa ISI, yang mana juga sedikit tahu bagaimana mengamati, memahami, dan suka pada suatu karya seni. Sehari sebelum datang ke ArtJog ini, saya bercerita kepada ayah saya dan meminta pendapatnya mengenai bagaimana saya harus mengamati karya seni itu. Yang beliau katakan hanya “Pahami semampumu aja, nggak perlu muluk-muluk mau paham arti karya seni seseorang. Kalau ada cerita yang dibagikan sama senimannya dibaca, dipahami sedikit-sedikit, kalau nggak paham yaudah cukup nikmatin keindahannya aja.”

            Sampai pada hari dimana saya dan beberapa teman yang lainnya berangkat untuk datang ke ArtJog ini. Memang pada akhirnya dosen kami membebaskan mahasiswanya untuk datang kapan saja dalam rentang waktu tertentu, sehingga hanya beberapa dari kami yang berangkat bersama-sama. Kami datang pada tanggal 31 Agustus 2022, sekitar sore pada pukul 15.00 WIB. Kedatangan kami bersama dengan mini tour group sesi terakhir hari itu, sehingga sempat sedikit juga kami ikut mendengarkan beberapa penjelasan singkatnya.

            Ketika mulai memasuki ruang pameran ArtJog ini, kami semua disambut dengan salah satu karya milik Christine Ay Tjoe yang terinspirasi dari salah satu jenis hewan air microscopic, bernama Tardigrade. Dari begitu awal masuk saja saya sudah dibuat takjub dengan karya ini, bagaimana bisa hewan microscopic berukuran 0,5mm dapat dijadikan sebuah inspirasi karya dan dibuat berkali-kali lipat lebih besar dari wujud aslinya. Selain itu juga cerita yang dibagikan di balik karya ini pun cukup menyentuh saya, bagaimana Christine menceritakan kehidupan Tardigrade yang berukuran sangat kecil ini dapat menangguhkan metabolismenya ketika kondisi lingkungan sendiri tidak memungkinkan untuk terus bertahan hidup, dan merefleksikannya pada kehidupan manusia dimasa pandemic Covid-19 lalu. Membuat diri saya kemudian berpikir dan juga berefleksi, hingga terpikirkan juga sebuah pertanyaan “Bagaimana bisa hal itu terjadi?”

Source: Photo by Syammur Sakha

Selain karya Tardigrade milik Christine itu tadi, masih ada 900 karya lainnya yang dipamerkan di ArtJog ini. Tidak hanya karya lukis, banyak jenis karya lainnya, seperti rajutan, rekaman video, dan lain-lainnya, karena pada dasarnya pameran ini merupakan bentuk pameran karya seni kontemporer. Karya seni kontemporer merupakan salah satu cabang seni yang terpengaruh dari dampak modernisasi. Kata kontemporer itu sendiri berarti kekinian, modern, atau dapat dikatakan sebagai kondisi yang sama dengan saat ini. (Setiawan, 2022)

            Selama berjalan menyusuri setiap biliknya, selalu ada karya yang membuat saya kagum, entah itu dari bentuknya, dari ceritanya, ataupun hanya dari segi keindahannya. Dua  diantaranya yang membuat saya terdiam lama di tempat itu untuk melihat detailnya, dan membaca cerita yang diberikan oleh para seniman tersebut. Yang pertama, yang paling simple tapi dapat memberikan kesan cantik tersendiri bagi saya, ialah karya “Tangkai Bunga” oleh Ni Nyoman Aura Komala Dewi. Seperti yang diceritakan pada bagian deskripsinya, bunga itu sangat menarik untuk dilukis, bahkan seluruh bagian dari bunga dapat dilukis dengan sangat cantik. Sangat setuju dengan pertanyaan tersebut, karena tidak perlu memahami arti mendalam dari bunga itu, hanya melihat kecantikkannya tapi terasa sangat puas.

Source: Photo by Syammur Sakha

Dan yang kedua, ialah karya “Trapped Inside” oleh Chellia A.P. Zulkarnaen. Dari judul yang diberikan pun sudah sangat menarik bagi saya. Cerita yang dibagikan oleh Chellia di sini juga sangat relate untuk diri saya, terlebih juga cerita ini berangkat dari pandemic Covid-19 yang terjadi beberapa waktu lalu. Diceritakan di sini bahwa ia memiliki keinginan untuk melarikan diri sementara dari kehidupan sehari-harinya, dan pergi ke suatu tempat atau sekadar merebus air. Yang kemudian, dia hanya melamun sepanjang waktu dan mengosongkan pikirannya dalam suara-suara air bergerak. Hal yang sama saya lakukan juga ketika terlalu banyak pikiran yang riuh dalam kepala saya, saya hanya akan melamun memandangi langit atau tanaman di sekitar saya untuk sekadar berbicara dalam hati dan mulai menuntaskan pikiran-pikiran dalam otak saya. Sehingga dari karya ini juga, saya merasakan kedekatan dengan karya dan cerita yang dibagikan, hanya karena saya merasa relate dengan yang diceritakan.

Source: Photo by Syammur Sakha

Untuk mengakhiri tulisan ini, mungkin ini terdengar bodoh tapi sebagai seorang yang tidak mengerti tentang seni ataupun karya seni, saya dapat merasa dekat dengan karya itu dengan saya merasakan kedekatan dan keterikatan antara saya dengan “Si Pembuatnya”. Tidak yang harus muluk-muluk mau tahu artinya dan paham apa makna, cukup rasakan kedekatan dan relasi diantaranya.

Identitas Penulis

Syammur Sakha Zarya Marwa, Antropologi Budaya 2021

Syammur Sakha Zarya Marwa, Antropologi Budaya 2021 Perkenalkan nama aku Syammur Sakha, biasa dipanggilnya Sakha. Saya hanya mahasiswi biasa yang suka tidur dan fangirling “cowok korea”. Ini adalah pengalaman pertama kalinya aku nulis. Saya sangat terbuka dengan kritik dan saran dari teman-teman, terimakasih buat yang sudah mau baca sampai sini, sampai jumpa kapan-kapan lagi!