Ulas Produk: Antropomorfisme dalam Dua Pameran

Sumber : Dokumen Pribadi

Berkali-kali antropologi—sesering itu berefleksi, tiada bosannya, cerminan yang dalam, menghaluskan jiwa, melapangkan kesempatan dingin angin menyelusup ruang raung hati kecil, mengajari saya meneguk kopi pukul empat pagi dan bolak-balik toilet. Apa yang ditawarkan antropologi setelah setahun berproses? Terlalu dini untuk mendapatkan jawabannya dan pertanyaan yang tidak akan pupus selama eksistensi diri ini adalah manusia. “Aku baru sadar, kalau ujian studi ini bukan UAS atau UTS, Rul, tapi hidup. Memilih antropologi, cukup memuluskan halang rintangnya, bukan berarti jurusan lain tidak menawarkan kesulitan, namun beginilah adanya.” Saya mengira kawan itu ditampar ciu, ternyata ditampar jurusan. Jika direnungkan seksama, semua studi muncul demi kepentingan manusia; teknik lingkungan? Untuk kemaslahatan ekologi agar manusia tetap bisa makan, filsafat? Produk berpikir manusia, arsitektur? Tambang? Linguistik? Sejarah? Ilmu gaib? Studi bawah laut? Riwayat biografi? Tataboga? Domestikasi hewan? Ilmu nujum? dan lain sebagainya. Antropologi hadir di antara sekat-sekatnya; kamar-kamar pengetahuan, setahu saya—yang cukup segar—etnografi luar angkasa dan etnografi jagung.

Persoalan eksistensi manusia, atribusi karakter manusia, dan jargon antroposentris ialah stempel maha subjektif. Satu istilah menarik dalam lika-liku filsafat yunani, yakni antropomorfisme; kursi bisa menjadi manusia, bus sekolah berdendang layaknya manusia; “Hey tayo! Hey tayo!,” genre dongeng (fabel), fandom furry, dan masih banyak lagi. Sederhananya, antropomorfisme merupakan pelekatan karakter manusia terhadap non-manusia. Seolah segala hal bisa menjelma manusia, sedangkan manusia begitu rumit dan menyedihkan. Kita melampiaskan amarah, menyelipkan majas pada karya sastra sehingga meja makan dan jendela dapat tertawa, merenungkan perasaan makhluk lain—apakah mereka juga merenungkan nasib manusia. Pada akhirnya, semua lemparan pikiran manusia terhadap non-manusia, tak lain, demi kepentingan manusia itu sendiri. Beruntungnya, kawan-kawan dari S2 Antropologi UGM menghadirkan pameran di basement Soegondo bertajuk From Non-Human To Human. Selain itu, angkatan 2019 dari S1 Antropologi UGM mengalihwahanakan hasil kuliah lapangan mereka menjadi pameran bertema Keluarga Tin. Kedua pameran tersebut merupakan wahana refleksi gratis bagi semua kaula. Barangkali ada yang tidak mampu terungkap, kita cukup melihat dan tidak perlu menggali yang terdalam dari harmoni hati. Seperti adagiumnya Murakami; “Saya terkadang berpikir bahwa hati orang seperti sumur yang dalam. Tidak ada yang tahu apa yang ada di bawah. Yang bisa anda lakukan hanyalah membayangkan apa yang sesekali mengapung ke permukaan.”

From Non Human to Human

            Apa jadinya jika kita mengandaikan suatu hal yang—barangkali—suara, aroma, gejala, tanda-tanda, suasana, atau gambaran yang numpang lewat dari penglihatan manusia sebagai gejolak intuisi. Gigitan rayap? Desiran angin? Pola migrasi dan cericit burung? Semuanya adalah siklus alam yang biasa kita saksikan. Bagaimana kawanan rayap menggerogoti foto dapat menimbulkan kenangan yang berbeda? Kita mengartikan, misalnya, foto lama yang dirusak rayap ini mengisyaratkan kedalaman citra akan romantisme masa lalu yang kian memudar. Sah-sah saja, timbulnya kenangan atau kesan baru setelah mengamati objek lama dengan artian yang berbeda—dalam realita lapangan penelitian, pun demikian adanya; peneliti dan tineliti selalu dinamis. Selain itu, perasaan semacam ini seringnya hilir mudik dalam diri kita, lompat sana-sini, dan terkadang tidak pernah mendapatkan tempat yang pasti.

Contoh lain dari pameran kawan-kawan S2, yaitu dilema peneliti atas visualisasinya mengenai seekor beruk bernama Unyil di perkebunan kelapa, beruk itu mendapatkan perawatan, diberi makan, namun tidak bebas berkeliaran—sekaligus Unyil terlindungi dari perburuan liar. Sebenarnya, apa yang membuat beruk itu senang? Pertanyaan ini membawa kita ke ranah moral: apa yang terbaik? Saya berpendapat, konteks dari istilah ‘kebebasan’ dan ‘terlindungi’ yang dilekatkan oleh manusia, kita tahu, bahwa manusia tidak sepenuhnya bebas dan tidak sepenuhnya terlindungi. Ada hukum-hukum, undang undang, pasar, dan legasi pemerintahan yang kompleks. Akan tetapi, bagi binatang, aturan tertulis mereka juga diatur oleh manusia. Mereka bertahan hanya dengan sistem koloni yang sederhana, cukup dipimpin oleh seekor Alpha, misalnya serigala, akan sangat berbeda kondisinya dengan semut—ada ratu semut, semut pekerja, semut petarung, bahkan sistem perbudakan dan kasta dalam semut pun ada (DW, 2018).

Mungkinkah, Behavioral (kebiasaan) pada non-manusia ini dapat menjelaskan kerumitan manusia? Atau justru, manusia-lah yang melekatkan karakter mereka terhadap non-manusia guna memecahkan persoalan hidup, sehingga, pertanyaan apa yang terbaik? Barangkali membutuhkan konsen khusus sebelum diuraikan karena masih adanya bias antroposentris. Pembeda manusia ialah penemuan dan inovasi teknologi (kebudayaan), yang mana, juga akan tumpul jika tidak mendapatkan inspirasi dari non-human; bagaimana manusia bisa menciptakan pesawat terbang tanpa melihat burung melayang di udara?

Inti dari pameran From Non Human to Human adalah interpretasi, upaya pemaknaan untuk merangkai pertanyaan, seperti pada tafsiran mengenai kemampuan merpati pos yang menempuh jarak beratus kilo saat mengantar pesan; merpati pos dianalogikan sebagai simbol “cinta” yang hadir atas tindakan kasih sayang. Kemampuan interpretasi-simbolik ini menguatkan keunikan manusia, untuk memberi dan mengorganisir pemaknaan, menurut Geertz (1973), manusia seperti laba-laba yang bergantung pada jaringan yang ditenunnya (people are animals suspended in webs of significance).

Keluarga Tin

Sumber : Dokumen Pribadi

            Persoalan keluarga dalam ranah ilmu humaniora bukanlah sesuatu yang asing, wacana keluarga mengarungi sejarah panjang diskursus keilmuan. Pakar antropologi klasik seperti Hildred Geertz dan Margaret Mead menerbitkan karangan mereka tentang keluarga. Pameran Keluarga Tin menghadirkan adanya semacam positional, keluarga ditempatkan sebagai kerangka unit yang tidak bisa terpisah dari rumah, bahkan setiap ruang mengandung fungsi dan kisah tersendiri. Teras yang luas, kamar tidur, dapur, dan bilik-bilik seakan hidup dengan romannya masing-masing.

 Pertanyaan penting dari pameran Keluarga Tin (Tineliti); apakah keluarga selalu dipasangkan dengan rumah? Sarang? Goa-goa? Atau apapun yang kita sematkan sebagai rumah; pemaknaan seperti apa yang diberikan manusia atas rumah? Apakah rumah sekadar dimensi fisik dengan beton, pintu kayu, kusen jendela, dan kanopi yang menghalau hujan-panas? Apa tujuan filosofi dari susunan tiang rumah, pemukiman, dan skema tata ruang (Asta Kosala Kosali) seperti di masyarakat Bali yang sangat kontras dengan lanskap rumah susun di perkotaan? Saya membayangkan intervensi tempat tinggal dalam konsep pengaturan dan pendisiplinan di perkotaan yang tanpa pekarangan luas, dan ketika anak-anak ingin bermain—maka taman kota adalah pilihan alternatif. Rumah yang kita gambarkan menopang tumbuh kembang keluarga, menjaga kewarasan, dan melempar ingatan sepia yang meluntur selepas cat rumah diganti—selalu berhasil membuka keran diskusi. Bagaimana kalau rumah sebetulnya multidimensional?

Definisi mengenai rumah, saya rasa, akan selalu mengikuti dari definisi keluarga. Keluarga ideal dengan pemaknaan yang berbeda dari setiap orang; memilih rumah tanpa keluarga atau keluarga tanpa rumah ialah konsep yang klise. Keluarga ibarat mata rantai yang mengelupas, kita bisa membenci dan menerima atas kehadiran atau ketidakhadirannya; kelebihan dan kekurangannya, namun kita tetap terikat. Pameran Keluarga Tin memberi porsi cukup untuk dilema dan gejolak para penulisnya. Barangkali hanya sedikit tangkapan yang bisa saya urai, namun pada intinya, Keluarga Tin seakan dibekukan dalam rumahkemudian berbicara dan berterus terang layaknya seperti manusia (antropomorfisme).   

Sumber Referensi:

DW. 2018, 12 Februari. Rahasia Prinsip dan Koordinasi Dalam Semut — Dr. Christoph Kleinedam [Video]. https://www.dw.com/id/rahasia-prinsip-koordinasi-dan-organisasi-semut/video-42548075

Geertz, C. (1973). Interpretation of cultures. Basic Books.

Identitas Penulis

Ruli Andriansah, Antropologi Budaya 2021

Mahasiswa Antropologi budaya 21, pembelajar seumur hidup yang menyukai aroma laut. Boleh diskusi dan bertukar pikiran di rulyandriansah@gmail.com atau IG: @rulyandsyah.