Bunga-Bunga di Taman Belakang

Sumber : Dokumen Pribadi

Permasalahan semua mahasiswa setiap akhir semester: ujian akhir. Mengawali kelilingan kepala mahasiswa yang secara tiba-tiba menjadi sebuah kelapa yang penuh isian dan sesaat lagi akan terjatuh. Kewajiban memenuhi semua tugas per mata kuliah yang diambil seolah-olah menjadi suatu beban yang harus diselesaikan dalam waktu singkat—satu hingga dua minggu. Begitu pula yang dilakukan dan dirasakan di semester dua ini, tetapi membahagiakan. Lantas, mana pula yang membuat bahagia? Inilah yang akan saya ceritakan, sebuah pengalaman ujian akhir semester yang membahagiakan.

Sebuah mata kuliah pilihan yang saya pilih pada semester ini, yakni mata kuliah Etnografi Wilayah Sumatra yang diampu oleh Mas Indy. Di akhir semester, mata kuliah ini menagih sebuah karya etnografi berkait dengan perihal-perihal di Sumatra. Maka dari perawalan ini terbentuklah kami: Nafisa Demas. Nafisa Demas adalah sebuah nama pena yang merupakan gabungan dari nama-nama kami: Davina, Alifah, Salsa, Denting, Mutiara, Aini, dan Sindhi. Ya, nama pena. Lantas, tulisan apa pula yang kami tulis dengan pena tersebut?

Sebuah karya etnografi berupa kumpulan cerpen adalah jenis karya yang kami pilih untuk memenuhi tugas akhir mata kuliah Etnografi Wilayah Sumatra. Ini merupakan suatu ide yang pada awalnya tidak disangkakan akan berhasil bagus dan mujur. Dengan berpondasikan niat “yang terpenting selesai,” proses berkarya kami dimulai. Melalui diskusi dan bimbingan dosen sebelum memutuskan untuk bertindak, setidaknya kami punya seburam gambaran calon karya kami kelak. Dengan ide-ide gila yang kami sambung-sambungkan—agar terlihat bukan hanya cerpen biasa—kami mendasarinya dengan riset wawancara kepada beberapa orang suku-suku di Sumatra, yang mana suku dari narasumber-narasumber inilah yang menjadi latar suku dari tokoh-tokoh fiktif kami. Informasi berkait dengan karakteristik beberapa suku di Sumatra telah kami terima, sebuah ilmu dan informasi baru. 

Batak adalah suku utama yang kami angkat dalam kumpulan cerpen kami. Selanjutnya untuk “memperumit” permasalahan maka kami sandingkanlah suku Batak dengan suku Jawa. Asmara, adalah sebuah tema besar yang diusulkan oleh Mas Indy untuk kumpulan cerpen kita. Setuju, dapat menarik calon pembaca yang mayoritas anak muda, kami menyanggupi tema asmara. Gio dan Dian adalah nama tampan dan cantik yang kami pilih untuk tokoh fiktif utama yang akan kami atur kehidupannya. Etnisitas adalah topik utama yang menjadi pemicu konflik dalam kumpulan cerpen ini. Kumpulan cerpen ini adalah beberapa cerita pendek yang saling bersambung dan saling terkait, kemudian kami susun dalam sebuah buku. Beberapa orang menganggap bahwa ini adalah sebuah novel. Kami menuliskan setiap chapter-nya dengan point of view yang berbeda-beda, satu chapter satu point of view, sehingga setiap chapter dapat berdiri sendiri menjadi sebuah cerpen.

Selain itu, kami juga melengkapinya dengan berbagai ornamen ilustrasi dari kami sendiri. Kami lukis secara manual juga digital. Ilustrasi-ilustrasi pelengkap awal chapter juga di dalam cerita yang memperindah dan memperdalam makna dari setiap kalimat dalam cerita yang kami sampaikan. Di sisi lain, kami juga menampilkan puisi-puisi kami dalam chapter-chapter cerita pendek kami. Puisi-puisi indah yang akan membawa terbang pembaca menuju alam fiksi yang kami buat. 

Dengan penuh rasa sok tahu, kami mulai menyusun cerita demi cerita. Tidak ada sekilas pun pengalaman sebelumnya dalam menyusun cerita sampai membukukannya. Kebingungan dan kesabaran selalu mengiringi dan saling memperebutkan peran. Pada akhirnya, cukup dua minggu kami dapat menyelesaikannya. Segeralah kami bawa ke percetakan untuk melakukan proses persalinan dari soft file ke hard file. Tanggal 21 Juni 2022, telah lahir anak kami yang pertama dengan selamat dan sukses. Kami telah sepakat sebelumnya untuk memberinya nama “Bunga-Bunga di Taman Belakang,” yang terinspirasi dari banyaknya frekuensi penggunaan nama-nama bunga di dalam buku ini. Maka dari itu, ketika membaca buku ini akan terasa seperti di taman bunga pada musim semi. Itulah yang kemudian kami sebut dengan kebahagiaan. Kami juga tak lupa untuk menyebarkan hawa kebahagiaan ini ke semua orang sekitar. Terkhusus untuk Mas Indy yang kemudian menjadi orang tua angkat dari anak kami. Bahagia mengekori ekspresi muka beliau ketika serah terima terjadi. 

Kebahagiaan tidak pula lantas lepas begitu saja setelah penyerahan karya. Kebahagian terus mengalir hingga saat ini dan sampai nanti. Bahagia atas semua yang telah kami lakukan dalam proses berkarya ini. Bahagia atas semua pengalaman baru yang kami rasakan. Bahagia atas semua ilmu yang kami terima. Selama proses pembuatan karya ini, kami lebih banyak mengenal beberapa karakteristik suku-suku, terutama di Sumatra. Ini juga menjadi sebuah momen belajar melalui apa yang kami sukai, dengan penuh kebahagiaan, juga mempelajari dan mencoba hal-hal baru yang sebelumnya asing bagi kami. Hal yang paling penting adalah melatih kerja sama kami di mana kami bertujuh dengan pikiran-pikiran yang berbeda-beda mencoba dengan sabar menyatukannya menjadi sebuah pikiran umum yang dapat disepakati, sebuah proses yang tidak mudah. Namun, kami telah melewatinya, walau dengan ketidaksempurnaan, karena pada dasarnya kami semua tidak sempurna. 

A group of people standing in a room

Description automatically generated with medium confidence

Sumber : Dokumen Pribadi

Identitas Penulis

Rizkyana Sindhi Ardani, Antropologi Budaya 2021

Rizkyana Sindhi Ardani, biasa dipanggil Sindhi atau Indi, seorang perempuan pengagum antariksa. Memiliki banyak kegemaran: bernyanyi, menggambar, menulis puisi, fotografi, dan lainnya. Suka makanan pedas dan tidak suka manis. Ingin kenal Sindhi lebih lanjut? Boleh sekali menghubungi akun instagramnya: ddhiarda. Dengan senang hati Sindhi akan membalas 😊.