Ini Bukan Sekadar Pertemuan

Dok. Athayazahra

Tulisan ini mulanya berangkat dari rasa kebimbangan dan kemalasanku sendiri saat mengikuti sebuah acara pertemuan keluarga antropologi, yakni Komando Pitik. Mungkin hal ini juga seperti yang dirasakan oleh beberapa teman sehingga banyak dari mereka yang mengurungkan niat untuk mengikuti acara ini kemarin. Namun, entah mengapa akhirnya aku tetap yakin untuk mengikutinya, hal itu mungkin karena satu dan lain hal yang pastinya tidak akan kusebutkan dalam tulisan ini bahwa itu apa ataupun siapa. Sebagai catatan bahwa tulisan ini didasarkan oleh segenggam pengalaman serta pandangan yang kudapatkan pada acara komando pitik beberapa waktu lalu.

Berbicara tentang komando pitik atau kopit pasti dibenak kalian banyak menimbulkan stigma ataupun problematika diri yang sekiranya kalian takuti. Terasingkan, sendirian, bahkan hingga kebisingan mungkin telah menjadi makanan pikiran yang kalian konsumsi sebelum mengikuti acara ini. Itu memang bukan sepenuhnya salah kalian karena nyatanya, acara ini telah lama luntur sejak beberapa tahun lalu. Di mana sejak menaiknya pandemi sialan berdampak juga pada menurunnya intensitas pertemuan, khususnya Komando Pitik ini sendiri. Meredupnya acara ini bahkan sampai pada titik di mana ketakutan maupun kebingungan akan pelaksanaan kopit bukan lagi menjadi sebuah rasa asing yang dinikmati diri sendiri, tetapi telah bergeser menjadi keresahan yang dialami banyak kepala.

Saat pandemi, kopit ini pun juga seakan terus digaungkan untuk dihadirkan kembali sebagaimana mestinya. Semulanya banyak yang terpikirkan, tak terkecuali saya sendiri tentang “apa pengaruh dari kopit ini?” dan “mengapa sangat dianggap penting?” Itu seakan menjadi wujud keingintahuan banyak orang akan eksistensinya acara ini di mata keluarga antropologi.

Dok. Orto

Namun, akhirnya segala bentuk pertanyaan tersebut seakan terjawab penuh ketika aku dan kalian mengikuti acara ini pada beberapa hari yang lalu. Saat itu, beragam ketakutan yang berlalu lalang dipikiran seakan ditendang kenyataan, bahwa Kopit ini tak seseram dan semenakutkan itu. Ini hanyalah sebuah tradisi pertemuan yang tak sekadar pertemuan biasa yang datang lalu hilang, tetapi sebuah keeratan dan kekerabatan yang seakan diikat oleh tali persaudaraan. Mulai dari nyanyian, jingkrakan, sampai bakaran menjadi media pemersatu para antropolog muda ini dalam mengikat jalinan kebersamaan. Rokok dan candaan pun juga dapat ibaratkan sebagai makanan tanpa garam, tak terpisahkan bukan? Nah itulah Kopit semalam.

Dok. Athayazahra

Para dosen, alumni, hingga mahasiswa pun juga seakan larut pada gemerlap kegembiraan serta kesenangan hati yang tercipta di antaranya. Tak adanya sekat interaksi yang melekat juga menjadi salah satu alasan dari penghapus ketercanggungan yang biasanya terus menghantui pertemuan yang diikuti oleh berbagai macam perbedaan. Angkatanku yang sebenarnya memegang peranan sebagai menantu pernikahan yang hendak masuk ke keluarga pasangan, malah diperlakukan selayaknya keluarga lama yang baru usai melakukan perjalanan panjang. Oleh sebab itu, kata-kata yang sekiranya merepresentasikan Komando Pitik kemarin, yakni rekat sekaligus terbebaskan. 

Hal itu juga menjadi salah satu dari sekian banyak aspek keberhasilan para pemantik Komando Pitik tahun ini dalam merangkai berbagai macam persiapan menjadi sebuah malam keakraban yang sayang untuk dilewatkan.

Aku ingatkan sekali lagi bahwa Komando Pitik atau Kopit ini bukan lagi menjadi sebuah pertemuan yang sarat akan ketakutan, tetapi sebagai penjamuan kedatangan mahasiswa baru ke dalam keluarga yang kaya akan keanekaragaman serta kebersamaan yang sampai di taraf keimanan.

Terima kasih dan sampai jumpa di tradisi ini musim depan!

Identitas Penulis

M. Satrio Andhito, Antropologi Budaya 2021

Halo! Aku Satrio, bisa dipanggil Satrio, Rio,  ataupun Io. Seorang mahasiswa yang gemar menunda pekerjaan dan juga tidur seharian. Jika sempat, mari bersua di instagram @andhitosatrio atau email andhitosat@gmail.com.