Sekecil Apapun Itu

Tulisan ini akan diawali dari sebuah percakapan antara dua orang yang kupanggil Ayah dan Paman. Sebut saja mereka Ayah A dan Paman P, keduanya kebetulan seseorang yang cukup mendalami tentang isu mengenai alam kita atau planet kita, bumi. Tidak tahu kapan pastinya, karena keduanya kerap kali bertemu dan membahas topik yang sama.

Hari itu sang Paman berkata, “Kamu paham nggak, sadar begitu kalau apa yang kamu lakukan nih, nggak begitu berarti. Misalkan cuma kamu yang nggak pakai sedotan, tapi miliaran orang lainnya masih tetap menggunakan. Kan nggak begitu berpengaruh sama keselamatan Bumi.”

Sayangnya ingatanku pada malam itu berhenti sampai di situ. Aku tidak begitu ingat jawaban Ayah A atas lontaran pernyataan dari Paman P yang terdengar sangat mematahkan semangat itu. Oleh karena itu, di lain kesempatan, aku menanyakan tentang jawabannya hari itu.

Satu dari Sekian Miliar Manusia

Pertanyaan yang disambung pernyataan Paman P hari itu sebenarnya menyebalkan. Sebagai manusia yang mudah dipatahkan semangatnya, pernyataan Paman P malam itu jika dilontarkan padaku pasti aku akan terdiam dan berpikir ke sana kemari semalaman. Merefleksikannya semalam suntuk, bersyukur sekali jika berbuah hikmah, tetapi akan sangat mematikan jika berujung keputusasaan.

Pasalnya, aku yakin bahwa banyak manusia yang merenungi alasan keberadaannya. Seberapa tidak berarti kisah hidup kita jika menyadari banyak kisah hidup serupa atau bahkan kisah yang lebih heroik di muka bumi ini. Terlebih pascapeningkatan jumlah penduduk secara global di planet ini selama beberapa dekade terakhir. Rasanya kalau di data sensus negara, kita juga cuma sekadar angka. Kalau ada yang suka bilang, ‘Tanpamu kurang satu!’ rasanya pernyataan ini menggambarkan dengan jelas keresahanku. Ya tanpaku, hanya kurang satu!

Jadi, apa hidup dan mati kita cuma sekadar penambahan satu angka pada data fertilitas dan dan mortalitas? Haaah, ya itu selalu menyebalkan untuk dipikirkan. Kesadaran dan keresahan yang membuat kita merasa tidak berarti. Aku pikir harus kurenungkan sejenak dengan tenang. Sepertinya aku harus mengingat kembali apa yang telah aku alami, lihat, dan dengar selama hidup sejauh ini.

Proses Melihat, Mendengar, dan Memaknai

Apa kalian ingat kapan pertama kali membaca atau mendengar seruan ‘Jangan membuang sampah sembarangan’? Soalnya, aku tidak. Seruan ini adalah pengetahuan pertamaku tentang betapa pentingnya menjaga lingkungan sekitar. Meski sebenarnya ‘membuang sampah sembarangan’ bukan seruan aksi menjaga bumi dari tumpukan sampah, tetapi lebih kepada seruan untuk menjaga kebersihan dan kerapihan.

Semakin dewasa, juga sejak era media sosial. Kita semakin banyak mendengar dan melihat kondisi planet kita saat ini. Polusi udara menyebabkan lapisan ozon menipis. Air es di kutub mencair akibat global warming. Kepunahan hewan akibat jajahan perumahan manusia. Foto-foto penyu atau hewan laut tak bersalah lainnya yang terlilit sampah plastik dan semua informasi itu berhenti pada beranda sosial media kita, bukankah begitu?

Tingkah laku ini tentu sangat amat bisa dimaklumi. Tidak ada manusia yang ingin kenyamanannya diusik, terlebih oleh kabar-kabar tidak menyenangkan tentang kondisi bumi saat ini. Permasalahan iklim, sampah, biodiversitas apalah itu! Deadline-deadline tugas terdengar lebih mengerikan saat ini, sanksinya lebih dekat dan nyata.

Akan tetapi, apakah iya sanksi akan memburuknya kondisi bumi saat ini tidak benar-benar nyata dan dekat dengan kita? Mencoba memaknai panasnya siang di kala kemarau Jogja belakangan, bukankah itu salah satu bukti nyata dari laporan IPCC mengenai kenaikan suhu rata-rata bumi yang kini sudah mencapai 0,8 derajat dan dikabarkan kenaikan suhu ini dapat terus meningkat sampai pada angka 1,5 derajat hanya dalam kurun waktu dua dekade saja. Ini kabar baik untuk kita yang masih menjemur baju menggunakan energi panas matahari, tetapi saya rasa kabar buruk lebih banyak menyertai fakta ini. Sepertinya pulau Jawa bisa saja tenggelam terlebih dahulu sebelum pakaian kita kering dijemur.

Perihal sampah pun sama, kasus penutupan TPST Piyungan seharusnya sudah menjadi kabar, panorama, bahkan aroma yang tidak menyenangkan di Jogja belakangan. Sebuah kecamatan yang harus menampung sampah Kota Yogyakarta, Sleman, dan Bantul. Pada akhirnya, penumpukan hanya perihal bom waktu sampai masyarakat Piyungan akhirnya beraksi untuk menyampaikan protesnya. Kini, kita yang tidak hidup berdampingan dengan sampah-sampah tersebut baru ketar-ketir kebingungan harus dikemanakan sampah-sampah yang kita hasilkan selama ini.

Selanjutnya mengenai biodiversitas, hal ini mengenai sense of belonging kita sebagai manusia untuk hidup berdampingan. Memahami jika yang diinginkan adalah kestabilan bumi, maka setiap substansi yang ada di dalamnya merupakan hal yang penting untuk dijaga. Terumbu karang misalnya, mengalami kepunahan di tingkat regional yang selanjutnya merembet pada pengikisan fungsi-fungsinya. Sebagai salah satu ekosistem terpenting di laut tentu ini hal yang sangat perlu dikhawatirkan. Terumbu karang memiliki banyak peran penting seperti penghasil nutrisi dan tempat tinggal banyaknya biota laut, serta perlindungan pantai yang selama ini juga menjadi tugas alamiah mereka, (Glynn, 2012)

Planet kita hanya bekerja sebagaimana ia seharusnya bekerja. Permasalahan sampah, iklim, dan mengikisnya biodiversitas adalah klasifikasi permasalahan yang sedang dihadapi bumi kita. Ada sistem yang tidak berjalan sebagaimana mestinya dan sayangnya kita menjadi salah satu alasan terbesar atas terjadinya hal ini. Ya, kita.

Satu Individu Berharga, Satu Aksi Berharga

Bumi tidak pernah benar-benar marah, meminta pertolongan, atau bahkan meminta pertanggungjawaban kepada oknum, pihak, atau bahkan lembaga tertentu. Masing-masing dari kita pada dasarnya meninggalkan jejak dan memberi dampak pada kerusakan bumi. Maka, jika kita hanya satu di antara sekian miliar manusia, menjadi seseorang yang meninggalkan jejak lebih sedikit dan berbuat manfaat setidaknya pada planet yang sudah mengasihi hidup pendek kita, ya apa salahnya?

Bumi tidak menuntut, bumi tidak pamrih, ia hanya butuh kesadaran, sehingga membantu menolongnya pun terkadang bisa semudah itu. Mulai dari menghabiskan seluruh makanan yang ada di piring makan siang kita, membawa tas belanja yang bisa dipakai berulang kali, berjalan kaki atau memilih menggunakan kendaraan umum sebagai moda transportasi sehari-hari, dan masih banyak lagi cara untuk menjadi satu entitas berarti bagi planet kita ini. Pun salah satunya juga bersuara atas kesadaran yang kita miliki. Mengajak atau sekadar menunjukkan jika menjadi berguna itu bukan satu hal yang sulit.

Epilog

“Jadi tanggapanmu waktu itu apa?”

“Ya, pada akhirnya kita memang tidak akan pernah mencapai zero waste, Maya. Namun, bukan berarti yang kita lakukan kini adalah zero action. Maka para aktivis lingkungan kini kan memang bergerak kepada ranah yang lebih besar—“

Bukan berarti zero action. Satu atau tidak sama sekali, menghargai hal sekecil apapun itu. Menjadi berguna meski dengan sedikit kemampuan yang kita punya.

Daftar Pustaka

Glynn, Peter. (2012). Global Warming and Widespread Coral Mortality: Evidence of First Coral Reef Extinctions. 10.5822/978-1-61091-182-5_7.

Identitas Penulis

Imaya Nadzif, Antropologi Budaya 2020
May/Maya/Ayya, penyuka warna kuning dan lipstick merah.