Tradisi Pernikahan Unik Negeri Hitu: Menjadi Ajang ‘Unjuk Gigi’ di Tengah Kehidupan Masyarakat

Sumber: https://www.instagram.com/hausihuphotosoper

Kisah kali ini berasal dari sebuah tempat nan jauh di timur Indonesia sana. Negeri1 Hitu, semenanjung utara Pulau Ambon, Maluku, menjadi tempat saya menghabiskan hampir separuh hidup. Ambon masih terasa belum familiar bagi segelintir orang yang pernah saya temui di Pulau Jawa. Celetukan-celetukan seperti, “Ambon itu Sulawesi, yaa?” atau “Orang Ambon itu yang kalo ngomong pake ‘Sa’ atau ‘Ko’ bukan?” atau “Ambon itu di mana, sih?” dan berbagai celetukan lain yang mengisi basa-basi ketika bertemu dengan orang-orang baru. Pengawalan pagi hari di rumah selalu disambut dengan suara bising jibu-jibu2 yang berlarian dari darat menuju laut untuk segera menghampiri bodi3 berisi ikan hasil bobu4. Selain suara kebisingan di pagi hari, negeri ini juga menyimpan kebudayaan-kebudayaan unik, salah satunya pernikahan.

Pernikahan di Negeri Hitu acap kali diselenggarakan secara mewah dengan melibatkan partisipan dari hampir seluruh masyarakat setempat. Biasanya, segala prosesi pernikahan berlangsung di kediaman mempelai pria yang nantinya akan menjadi rumah baru bagi mempelai wanita. Kedudukan kerabat berperan sangat krusial dalam prosesi adat yang satu ini, baik keluarga jauh maupun dekat. Tradisi pernikahan ini sering ditutup dengan sebuah pesta pada Sabtu malam yang menandakan kebahagiaan atas kelancaran segala prosesi pernikahan dengan baik dan merupakan bentuk apresiasi bagi semua kerabat yang turut berpartisipasi. Masyarakat yang menganut sistem patrilineal ini memiliki serangkaian prosesi dalam tradisi pernikahan yang hanya saya jabarkan dalam tiga bagian. 

Pertama, mempelai pria akan melamar wanita dengan memboyong beberapa anggota keluarga. Keluarga mempelai pria akan melakukan prosesi ‘tawar-menawar’ mahar. Jumlah mahar ditentukan oleh keluarga mempelai wanita yang dapat diukur berdasarkan seberapa tinggi pendidikan mempelai wanita, kedudukan pekerjaan mempelai wanita, kedudukan sosial mempelai wanita, berdasar keputusan kedua belah pihak, dan kriteria-kriteria lain. 

Kedua, ijab kabul tidak menghadirkan mempelai wanita. Ketika prosesi ini berlangsung, hanya ada mempelai pria dan para pria yang meliputi pemuka agama, pemuka adat, kerabat kedua mempelai, dan lainnya. Setelah ijab kabul selesai, mempelai pria mencoba masuk ke dalam kamar pengantin yang sudah diadang beberapa kerabat yang dinamakan pele pintu5. Mempelai pria harus menyediakan amplop berisi uang untuk menyingkirkan para kerabat dari depan pintu kamar pengantin. Setelah itu, barulah mempelai wanita digiring menuju ke puadai untuk menyambut para tamu undangan yang telah hadir. 

Ketiga, penyediaan perlengkapan rumah tangga dari keluarga mempelai wanita ke rumah yang akan ditinggali bersama, baik rumah keluarga mempelai pria ataupun rumah baru yang dimiliki oleh keluarga mempelai pria atau kepemilikan kedua mempelai. Penyediaan perlengkapan rumah tangga itu berupa alat elektronik, mebel, peralatan dapur, dan lainnya, dengan tolok ukur berdasar jumlah mahar yang diberikan keluarga mempelai pria tadi. Prosesi ini hanya akan terjadi apabila sang mempelai wanita berasal dari Negeri Hitu dan akan tetap dijalankan, meskipun sang mempelai pria berasal dari negeri seberang. Semakin besar mahar yang diberikan, semakin mewah barang yang disediakan.

Menjadi Ajang ‘Unjuk Gigi’ di Tengah Kehidupan Masyarakat

Mari kita merefleksikan tradisi ini lagi. 

Jumlah mahar memengaruhi seberapa mewah barang yang diberikan oleh keluarga mempelai wanita. Prosesi ini dilakukan setelah ijab kabul. Dalam prosesi ini disediakan mobil-mobil pengangkut barang yang akan dibawa ke kediaman mempelai pria. Ramai, membuat ‘para penonton’ menerka-nerka berapa jumlah mahar yang diterima sehingga mendatangkan barang sebanyak dan semewah itu. Di sisi lain, pasangan mempelai dengan kelas sosial lebih rendah hanya akan menyediakan sedikit mahar dan barang dengan acara sederhana. Mereka hanya akan melakukan prosesi wajib keagamaan, seperti ijab kabul dan pengajian dengan mengesampingkan prosesi adat lain yang membutuhkan banyak biaya. Peristiwa ini akan dipandang sebagai hal biasa bagi masyarakat setempat dengan mewajarkan kedudukan sosial pasangan mempelai. Namun, pernikahan mewah akan terus menjadi pembahasan menarik dengan segala pujian yang dilontarkan. Saya memandang hal ini sebagai penanaman persepsi bahwa pernikahan mewah menjadi yang terbaik dan justru menghilangkan esensi dari ‘pernikahan’ itu sendiri. Pernyataan seperti “Makanya, nanti rawat dirimu baik-baik supaya bisa dapat mahar yang besar,” sungguh membuat saya risih seakan-akan eksistensi wanita hanya untuk mencari pria terbaik yang mengantongi segepok mahar. 

Setelah menilik beberapa problematika di lingkungan sosial yang dilihat secara kentara, ada pula beberapa dampak tidak kentara dari tradisi nenek moyang yang sudah berlangsung di tengah masyarakat sejak dahulu kala. Asumsi saya, tradisi ini dapat membantu menekan biaya pernikahan yang tergolong mahal. Dengan adanya bantuan dari kerabat, kedua mempelai dapat berfokus pada beberapa hal sentral untuk diselesaikan. Prosesi ini juga dapat mempererat hubungan kekerabatan yang ada dengan turut mengambil andil dalam prosesi pernikahan membuktikan bentuk afeksi antarkerabat. Akan tetapi, yang menjadi pertanyaan adalah, apakah kebutuhan rumah tangga menjadi tanggung jawab segelintir orang? Sejatinya, tradisi ini memiliki berbagai implikasi bagi kehidupan bermasyarakat. Dengan terus dijalankannya tradisi ini sampai sekarang, membuktikan bahwa masih ada usaha dari masyarakat setempat untuk melanggengkan tradisi nenek moyang. Namun, apakah tradisi ini masih relevan dengan perkembangan pesat dunia masa kini? Transformasi kebudayaan mungkin saja terjadi pada tradisi ini, baik dalam bentuk baru maupun bentuk lama yang dimodifikasi. Apakah ke depannya masyarakat setempat masih memerlukan tradisi ini dalam menjalani kehidupan?

Catatan:

1 Istilah lain untuk menyebut ‘desa’.

2 Sebutan untuk para ibu atau wanita penjual ikan.

3 Sebutan masyarakat setempat untuk kapal pencari ikan.

4 Sebutan untuk aktivitas mencari ikan di malam hari.

5 Sebutan untuk kegiatan menghadang pintu kamar pengantin.

Identitas Penulis

Siti Fatria Pelu, Antropologi Budaya 2021

Seorang manusia biasa yang baru sahaja mengenyam bangku perkuliahan. Mari berteman dengan bercakap-cakap melalui akun instagram @sifa_pelu. Silakan beropini semerdeka mungkin dan sampai jumpa pada karya-karya selanjutnya!