Sembari Berjalan, Kita … Menyadari Sesuatu

Sumber: Dokumen pribadi

Katanya manusia terlahir untuk berjalan. Itu logika dasar, dikarenakan fakta bahwa manusia memiliki kaki maka tidak ada yang perlu didebatkan. Lalu, dalam pembahasan inklusivitas, tentu kita akan mempertimbangkan keberadaan tunadaksa, di mana mereka tidak benar-benar berjalan kaki. Atau inklusivitas tidak hanya mempertimbangkan disabilitas saja. Dan berjalan kaki, akhirnya tidak sesempit melangkahkan kaki menuju tujuan.

Peradaban manusia berkembang, yang salah satu hasilnya ialah perjalanan tidak hanya soal titik awal dan tujuan. Apa yang dilihat dan dirasakan selama perjalanan menjelma jadi kesan tersendiri atau justru hambatan yang begitu memuakkan. Sebut saja panorama yang indah atau kemacetan berjam-jam. Moda perjalanan juga tidak tunggal, membuatnya semakin membentuk kisah-kisah kompleks.

Kembali lagi pada konteks berjalan (kaki). Tulisan ini adalah perjalanan cerita(ku), di mana sembari berjalan, banyak hal yang ditemukan dan disadari. Di jalan raya, kita yang berjalan paling sering menemukan orang yang memakai moda lain alias kendaraan. Sembari melihat kontestasi moda atau justru mitra perjalanan, bisa membuat pejalan menyadari sesuatu, tentunya. Atau sembari berjalan, kita kadang mendengarkan lagu.

Kerasnya Kota Metropolitan … Jangan Bikin Otak Lo Berantakan

Lagu pertama ialah “Lagu Urban” oleh Steven & Coconut Treez. Lagu yang dari judulnya gamblang membicarakan perkotaan (urban) ini menceritakan respons atas kerasnya hidup di kota besar. Mungkin cocok untuk didengarkan ketika sedang menghadapi hambatan memuakkan di jalan. Dalam konteks berjalan kaki, ya, (hambatan itu) ketika perjalan(kaki)an berlangsung tidak begitu menyenangkan.

Namun, menariknya, yang kerap terjadi di kota-kota di Indonesia ialah orang-orang tidak umum berjalan kaki. Setidaknya sejak dekade 1950-an, kata Colville-Anderson (2018)1, perkotaan dunia mulai car-oriented. Atau di Indonesia sejak 1970-an. Warga kota perlahan dominan berkendaraan pribadi. Fakta itu membuat ‘kerasnya kota’ menjadi lebih keras untuk pejalan kaki karena terpinggirkan dari desain kota dan kehidupan sosial mobilitas. Namun, aku tidak akan bicara kemunculan gerakan sosial resistensi semacam Koalisi Pejalan Kaki2 sepertinya.

Ada beberapa perjalan(kaki)an yang mengujiku akan kerasnya kota (desain dan warga) kepada pemilih jalan kaki. Terjeblos lubang di trotoar, terjeduk kepalaku oleh benda tidak terlihat, atau sekadar didorong oleh kenek bus ketika aku keluar bus. Sepertinya kejadian-kejadian tersebut cukup untuk membuat seseorang tersulut emosi. Tidak selalu kubilang hambatan yang memuakkan, tetapi bisa dibilang membuat buruk rasa perjalanan.

Atau … tidak juga. Ternyata dengan berjalan membuatku punya waktu untuk meredam emosi atau merefleksikan keadaan. Sembari berjalan–apalagi ketika sendiri, mulut tidak bisa sambat ke mana pun atas emosinya dan otak berpikir ulang untuk relevansinya. Ketika sampai tujuan, sepertinya redaman itu berhasil sebab perjalanan perlahan. Kata Steven & Coconut Treez ‘kan, “Jangan otak kita berantakan.” Jikapun sering (otak berantakan), sepertinya kita perlu jalan-jalan, sebuah bentuk ‘jalan’ yang bersifat hiburan (sepertinya?).

Jalan-Jalan (di Akhir Pekan), Lihat ke Kiri dan ke Kanan

Pada suatu talkshow (2020)3, Bu Theresia Tarigan, Koordinator Koalisi Pejalan Kaki Semarang4, menyatakan, “Kita bisa menikmati dan mengamati detail ketika berjalan, yang tidak bisa kita rasakan ketika bermobil.” Aku terperanjat ketika pertama kali mendengar itu, padahal diriku sudah sering berjalan kaki ketika itu. Namun, tidak pernah benar-benar menyadari perbandingan pengalaman itu dengan perjalanan berkendaraan.

Hari-hari berjalan kaki berikutnya hanya menjadi lebih bermakna bagiku. Tengok kanan dan kiri, kita melihat dan mengamati lebih intens apa yang ada dan terjadi di sepanjang perjalanan. Jika Antropolog (atau pembelajar Antropologi) gemar mengamati, ini pendukung yang baik ‘kan? Observasi hal-hal sembari berjalan. Walaupun kata Vergunst dan Ingold (2018)5 dalam Ways of Walking, variabel berjalan tidak banyak mendapat perhatian dari Etnografer. Mungkin karena terlalu common sebagai aktivitas hidup manusia.

Atau tidak perlu terlalu serius. Soalan tengok kanan-kiri ini juga menyentuh makna santai. Panorama indah bisa dinikmati lebih lama, atau obrolan, bandingkan saja dengan mengobrol di motor. Memang, kemudian pertanyaannya, perjalanan itu perlu mengobrol atau tidak? Perlu menikmati pemandangan atau tidak? Ini yang memang menjadi pertanyaan/dilema utama dalam mobilitas menurut Banister (2007)6, mobilitas merupakan derived demand atau valued activity?

Pertanyaan itu hanya untuk dijawab dengan ‘tergantung perjalanannya’ karena akan selalu ada. Jika Pedestrian Jogja7 mengenalkan varian-varian pejalan kaki (yang kemudian menentukan kebutuhan dan kepentingannya) dalam kampanye #PedestrianDiversity-nya8, varian atau tipe perjalanan dalam lingkup umum toh juga ada. Mengapa Shaggydog jalan-jalan di akhir pekan? Tentu berbeda dengan perjalanan untuk kerja pada tengah pekan. Ada yang kesan perjalanannya dimaknai, ada yang tidak sempat tengok kanan-kiri.

Kita Berjalan Saja Masih Terus Berjalan

Pada akhirnya, tiap segmen tulisan memang bukan soal lagu yang dikutip untuk subjudul. Akan tetapi, bisa berhubungan ‘kan. Seperti pengakhiran ini, mencoba mencari, ‘apa alasan kita masih berjalan?’ tentu akan sangat luas jika ‘berjalan’ ini kita maknai dengan perjalanan hidup atau kuatnya menghadapi kerasnya kehidupan; maka, pertanyaan ini hanya sesempit walking.

Sumber: Dokumen pribadi

“Biy, aku kemarin jalan kaki, loh!” Teman-temanku suka melapor demikian, entah kenapa. Tadinya, kuberpikir itu seperti suatu hal yang biasa saja. Ya, aku berjalan kaki sehari-hari. Namun, cepat kusadari, bagiku memang tidak terlalu spesial karena sudah biasa. Mereka melapor dan bangga karena biasanya tidak berjalan kaki. Dan itu inti dari kampanye #PedestrianDiversity ‘kan, bahwa ada pejalan kaki sehari-hari, aktivis, atau rekreasi, tergantung intensitas dan minat. Kemudian, itu menentukan pemaknaan berjalan mereka.

Aku pun begitu. Pemaknaan berjalan terjadi setelah aku menyadari perbandingannya dengan berkendaraan. Manusia terlahir dan hakikatnya untuk berjalan, tetapi dengan adanya budaya kendaraan, berjalan kaki yang tidak biasa menjadi lebih berarti. Walaupun berjalan tetap aktivitas common, kata Vergunst-Ingold (2018). Dan … dalam era dunia yang cepat ini, perjalanan yang tidak terburu-buru menjadi begitu berarti. Sembari berjalan, kita bisa mengobrol atau bernyanyi. Menikmati berjalan? Tahu-tahu sudah sampai tujuan.

Tulisan ini adalah perjalanan (cerita dan) berpikirku, yang sembari (dan setelah) berjalan, aku telah menyadari dan berpikir banyak hal. Sekian sejenak sampai di sini. Karena ‘sejenak’, maka hampir pasti aku akan berjalan lagi. “Kita tak juga rela tunduk pada jarak,” kata Sisir Tanah. Dan karena ‘kita berjalan’, aku selalu senang jika punya teman berjalan, walaupun aku tidak pernah keberatan berjalan sendiri. Dan sembari berjalan, kita … bisa apapun. Adakah nanti ada cerita (lagi)?

Rujukan Tulisan

1 Colville-Andersen, Mikael. (2018). Copenhagenize: The Definitive Guide to Global Bicycle Urbanism. 10.5822/978-1-61091-939-5.

2 Laman Koalisi Pejalan Kaki. Akun Instagram Kopeka.

3 “Talkshow on Walking & Cycling in the Post-Pandemic: a New Trend” dalam Climate Diplomacy Week 2020.

4 Akun Instagram Koalisi Pejalan Kaki Semarang (KPKS).

5 Ingold, T., & Vergunst, J. L. (2008). Ways of Walking: Ethnography and Practice on Foot. Aldershot: Ashgate.

6 Banister, David. (2007). The Sustainable Mobility Paradigm, Transport Policy 15 (2008) 73–80.

7 Akun Instagram Pedestrian Jogja.

8 Video “Every #PedestrianMatters”.

Identitas Penulis

Abiyyi Yahya Hakim, Antropologi Budaya 2019

Mahasiswa Antropologi yang akan selalu berubah dalam menceritakan dirinya di profil, tergantung konteks. Kali ini sebagai koordinator dari Pedestrian Jogja, menyambi jadi Koordinator Kampanye Media di Koalisi Pejalan Kaki. Belakangan bisa diajak berkolaborasi dalam diskusi hingga aksi dalam lingkup transportasi, perkotaan, lingkungan, hingga kepramukaan. Bisa berdiskusi di Instagram @pedestrianjogja, @koalisipejalankaki, @panduaksilingkungan, hingga @askasaraproject.