Visualitas Mandalika: Meneropong Relasi Kuasa

Istilah “meneropong” erat pertaliannya dengan posisi saya saat ini—mengamati dari kejauhan pesta akbar tanah kelahiran, siapa yang tidak tertinju ulu hatinya; setahun yang lalu kawasan itu belum rampung dan kami tidak berharap banyak. Berbagai surat kabar, media multilevel, dan reportase kawan rumah cukuplah mengawetkan rindu, selalu saja ada yang lahir—dialektika dunia lama dan dunia baru, tragedi yang remang dan samar, lalu berbagai citra media memberikan makna. Itu yang terjadi pada Mandalika. Bagaimana antesedennya di masa lalu dan transformasinya sekarang.

Saya penasaran akan diorama visual yang membuat tubuh dan pikiran menolak tidur. Layaknya turbulensi profetik dalam diri yang berkecamuk; tulis atau tenggelam. Barangkali, perasaan semacam ini yang dirasakan oleh setiap pemikir—walaupun kami masih jauh dari kesan tersebut, bahkan mendekati pun … tidak; saya hanya mengkonsumsi gagasan terdahulu, mengolah, dan mencoba hal yang sama. Mengutip petuah seorang senior “Semakin banyak kau membaca wacana atau fenomena—semakin kau tersiksa, namun justru ketidaktahuan serupa kereta yang mengantarmu ke jurang antah berantah”.

 “Jalan studi kalian ialah usaha rumit mengungkap relasi kuasa, kondisi ruang, dan berbagai invisibilitas lainnya. Dengan sendirinya—narasi besar itu akan terpatahkan selepas tersingkap. Ini disebut teknik dekonstruksi. Sebuah metode yang dapat kita gunakan di era berkelindannya kepentingan. Sepengalaman saya di lapangan, prosesnya enak diceritakan tapi susah dilakoni. Alonalon wae, cah; yang penting paham. Kalian yang awalnya terlihat lugu bakal jadi bocah ngeyel dengan pertanyaan kritis, mendalam, dan tajam.” Kurang lebihnya begitu—titipan wejangan dari Mas Pujo. 

Ada dua interkoneksi mata kuliah yang saya gunakan untuk membedah visualitas Mandalika, kelas etnografi dan antropologi visual. Pelukisan ini bersifat analisis-spekulatif menurut representasi saya—yang mana landasan tafsirannya berdasarkan sumber internet, pembacaan literatur, pengalaman pribadi, dan foto kontributor. Sekadar percobaan menguliti dan barang tentu mengandung bias subjektif. Tujuan penggambaran ini berangkat dari premis Prof. Laksono dalam esainya; “Memahami Kebudayaan (Indonesia) Dari Perspektif Antropologi”; Siapa mempertontonkan apa untuk siapa dan siapa menonton apa? Lalu apa makna dari tontonan itu? 

Pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) adalah upaya aktualisasi peningkatan devisa negara—membuka keran pasar bebas guna memulihkan krisis ekonomi tahun-tahun terakhir. Beberapa daerah ditetapkan, salah satunya Mandalika. Indikasi persyaratan pengajuan kawasan terbilang cukup mudah—bermodal wilayah geografis strategis dan keunggulan sumber daya alam. Tingginya interaksi perdagangan internasional juga menguatkan alasan negara mengkomodifikasi ruang regional. Sebetulnya, tidak ada yang salah dengan pembangunan, namun apakah etika lingkungan mendapat perhatian? Itu persoalan belakang. Terlibatnya Indonesia dalam G20 kian memperjelas wajah neoliberal yang laten.

Kemudian, pariwisata menjelma pasar unggulan dan memenetrasi dari berbagai arah—tanpa kita sadari telah merenggut keintiman masyarakat lokal dengan lingkungan. Keinginan pemerintah menciptakan “10 Bali baru” cukuplah menelanjangi kita “bagaimana bisnis pariwisata begitu menjanjikan”. Padahal belum tentu semua wilayah akan cocok seperti Bali, ada banyak aspek yang mesti dipertimbangkan; contohnya pembangunan Amphitheater di Bromo Tengger, Jawa Timur—keberadaan fasilitas itu dibangun untuk kepentingan wisatawan dan justru menyingkirkan ritus adat masyarakat setempat.

Branding pariwisata di Lombok khususnya Mandalika kian gencar—memakan sejumlah modal dan energi yang sangat besar. Banyak pihak yang terlibat, banyak pula yang terlibas. Singkatnya, Mandalika berangsur menjadi kawasan eksklusif. Privatisasi lahan publik mengejawantahkan kontrol kuasa, salah satunya infrastruktur sirkuit moto GP yang mengepung kampung perlahan mengubah kesadaran adaptasi masyarakat—Bagaimana blok jalan dipoles, pagar besi ditanam, gedung dan hotel mewah kian subur, terputusnya akses menuju laut, dan perubahan morfologi lainnya secara tidak langsung menggeser pola-pola lama. Intervensi material itu membangkitkan daya lawan seorang subjek terhadap sekitarnya; seperti warga dusun Ebunut yang menjebol pagar sirkuit, atau massa yang memilih menonton perhelatan moto GP dari atas bukit bahkan kuburan; “Karena tidak dikasih masuk, ya kita nonton saja di sini, gratis juga kan,” pungkas Ishaq dengan polosnya (Kompas, 11/02/2022). Dengan demikian, KEK Mandalika adalah manifestasi struktur teknologi politik yang melahirkan berbagai skenario nuansa baru.

Warga negara dibentuk menjadi subjek yang memiliki dua pilihan; mati atau hidup berdampingan. Mati dalam artian—persendian kehidupan tersendat, meninggalkan wilayah kultural dan harmonisasi hidup di pesisir. Hal ini digambarkan Foucault sebagaimana kekuasaan itu beroperasi dari luar melalui relasi material yang tersebar menyerupai jaringan—yang mana mewujudkan skema pendisiplinan warga negara dalam kontrol kuasa (disciplinary power). Selain itu, manusia diobjektifikasi serupa koin yang memiliki dua sisi. Dalam konteks ini, apakah masyarakat di sekitar Mandalika ialah warga marjinal atau bukan marjinal.

Sejak awal perencanaan sampai berjalannya aktivitas ekonomi di KEK Mandalika memang cukup menuai problem dan berbagai kontroversi; mangkraknya proyek, warga sebagai korban pembangunan, birokrasi lahan yang macet, konflik agraria, dan munculnya pawang hujan. Visualisasi tersebut menampilkan gegar budaya di tengah masyarakat, seakan terasing jauh dari tanah sendiri, namun masyarakat sebenarnya belum terpisah dari akar kepribadiannya. Maka dapat kita katakan, bahwa transformasi teknologi di Mandalika tidak seiring dengan gerakan transformasi sosial budaya. Kita juga bisa mencermati efek arus komunikasi masyarakat dengan dunia global kian dieksploitasi, misalnya kehadiran pawang hujan yang mengenakan atribut proyek dan diberikan kartu identitas ialah kontrol politis yang jamak. Aktivitas ritual tersebut biasanya kita temukan di pedalaman atau pedesaan yang masih kuat pusat orientasi nilai budayanya, namun kini dijumpai pada ruang kapital yang masif  kepentingan—dimodifikasi sedemikian ciamik, tetapi dengan jelas mencerminkan krisis akulturasi. Otoritas kebudayaan tidak lagi menjadi milik satu pihak, namun direproduksi secara massal oleh berbagai institusi guna melegitimasi tujuan politis.

Sikap pragmatis pemerintah yang memasarkan kearifan lokal menimbulkan ketegangan antar publik, visualisasi ini seolah sebagai ladang kontestasi dan melahirkan fenomena yang disebut friksi kebudayaan, yaitu terjadi sebuah pergeseran arti dari tradisi itu sendiri. Menurut Anna Tsing, interaksi antara dua kekuatan—global dan lokal—menimbulkan gesekan yang bermuara pada situasi yang tidak dapat diprediksi. Barangkali, afeksi sementaranya adalah debat kusir di sosial media, akan tetapi bagaimana kedepannya—mengingat Indonesia merupakan komunitas besar dengan latar belakang yang plural. Ancaman seperti intoleransi, perpecahan kubu, dan ujaran kebencian ialah magma panas yang kapan saja bisa meletus. Visualitas Mandalika di media memang mengandung bias kuasa yang sukar terdeteksi, ia hidup dalam ruang genggam kita dan dikelola oleh individu atau sekelompok instansi. Ada yang tidak disadari, ada juga yang telah direncanakan dengan sistematis. Tugas kita adalah menemukan sejauh mana narasi itu dapat bertahan, mungkinkah ada celah yang bisa kita kaji dan suarakan. Karena pengetahuan di lapangan sejatinya milik masyarakat dan harus dikembalikan pula kepada mereka. Selamat membongkar visualitas!

Sumber:

Instagram. Retrieved March 29, 2022,

 [pesona.indonesia]. (2022, March 23). Instagram. Retrieved March 28, 2022, from https://www.instagram.com/p/CbZqVgXvrua/?utm_medium=copy_link

Abdullah, Irwan. (2015). Konstruksi dan Reproduksi Kebudayaan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Detikcom, T. (2022, February 14). Tes Pramusim Mandalika: Bapak-bapak sarungan-pekerja Proyek Curi Perhatian. detikoto. https://oto.detik.com/otosport/d-5941045/tes-pramusim-mandalika-bapak-bapak-sarungan-pekerja-proyek-curi-perhatian

Foucault, M. (n.d.). The subject and power. Ethische und politische Freiheithttps://doi.org/10.1515/9783110815764.387

Guntur, O. N. (2021, September 12). Foucault Dan Warga Negara. LSF COGITO. https://lsfcogito.org/foucault-dan-warga-negara

Indonesia, C. (2022, March 27). Media Spanyol Sebut Roro Pawang Hujan Pahlawan MotoGP Mandalika.olahraga. https://www.cnnindonesia.com/olahraga/20220327144620-156-776703/media-spanyol-sebut-roro-pawang-hujan-pahlawan-motogp-mandalika

Kala Presiden Resmikan Sirkuit Mandalika, Persoalan Lahan Masih Menggantung. (2021, November 20). Mongabay Environmental Newshttps://www.mongabay.co.id/2021/11/20/kala-presiden-resmikan-sirkuit-mandalika-persoalan-lahan-masih-menggantung/

Kawasan Ekonomi Khusus Di Indonesia. (n.d.). BKPM. https://www8.bkpm.go.id/id/publikasi/detail/berita/kawasan-ekonomi-khusus-di-indonesia

Kompas Cyber Media. (2022, February 11). Cerita Warga Nonton tes Pramusim MotoGP Dari Atas Kuburan: Nonton Di Sini Saja, gratis. KOMPAS.com. https://regional.kompas.com/read/2022/02/11/191200678/cerita-warga-nonton-tes-pramusim-motogp-dari-atas-kuburan–nonton-di-sini?page=all

Nasib para Perempuan Yang Hidup Di Sekitar KEK Mandalika. (2021, March 26). Mongabay Environmental News. https://www.mongabay.co.id/2021/03/26/nasib-para-perempuan-yang-hidup-di-sekitar-kek-mandalika/

Nasib Warga Yang Terkurung Sirkuit Mandalika. (2021, August 28). Mongabay Environmental News. https://www.mongabay.co.id/2021/08/28/nasib-warga-yang-terkurung-sirkuit-mandalika/

Pontoh, C., Arianto, S. (2021). Neoliberalisme: Konsep dan Praktiknya di Indonesia (1st ed.). Pustaka IndoPROGRESS.

Presidensi G20 Indonesia 2022. (n.d.). Bank Indonesia. https://www.bi.go.id/id/g20/Default.aspx

Puspita, L. (2022, January 5). Kami Bertanya Ke orang Tengger tentang Kawasan Bromo Dijadikan ‘Bali Baru’, Jawabnya: ‘Kami Bisa APA?’. Project Multatuli. https://projectmultatuli.org/kami-bertanya-ke-orang-tengger-tentang-kawasan-bromo-dijadikan-bali-baru-jawabnya-kami-bisa-apa/

Sekilas Tentang Indonesia. (n.d.). Kawasan Ekonomi Khusus | Dewan Nasional Kawasan Ekonomi Khusus. https://kek.go.id/sekilas-tentang-indonesia

Tsing, A. L. (2011). Friction: An ethnography of global connection. Princeton University Press.

Identitas Penulis

Ruly Andriansah, Antropologi 2021.

Mahasiswa Antropologi budaya 21, pembelajar seumur hidup yang menyukai aroma laut. Segumpal daging ini bisa diajak berkicau di rulyandriansah@gmail.com atau IG: @rulyandsyah.