Musik dan Rekonsiliasi Konflik: Sihir-Sihir Indah di Tanah Maluku

Perjumpaan manusia dengan musik merupakan keniscayaan yang tidak bisa dibantah. Musik selalu menemani perjalanan manusia di berbagai kebudayaan di seluruh dunia. Pada awal-awal perkembangannya, mungkin sebagian dari kita sudah tahu bahwa nenek moyang kita dahulu hanya menggunakan mulut untuk menciptakan sebuah alunan nada, jauh sebelum kita mengetahui apa itu “nada”, “irama”, “harmoni”, dan yang lainnya saat ini. Perkembangan itu lantas diikuti dengan kegiatan memodifikasi suara-suara yang dihasilkan alam dengan cara membuat “alat musik” yang terbuat dari bahan-bahan alam setempat. Kemudian, manusia mulai menciptakan bahasa-bahasanya sendiri lalu menuliskan apa yang mereka ucapkan serta pikirkan pada media tulis. Pada tahapan lanjut inilah musik menjadi semakin kompleks karena tidak hanya memanfaatkan aspek alat yang digunakan, musik telah memasukkan unsur bahasa yang di dalamnya tertuang pula emosi, pikiran, ide-ide, imajinasi, serta tujuan-tujuan tertentu manusia.

Musik telah berkembang sebagai alat di mana manusia dapat menggunakannya untuk mengakomodasi kebutuhan-kebutuhan di dalam hidupnya. Sebagai pengundang nestapa maupun pelipur lara, sebagai bentuk penindasan maupun penghormatan, atau sebagai pemupuk perdamaian maupun pencipta perpecahan bisa diwujudkan dengan kehadiran musik. Itu semua tergantung pada bagaimana musik hendak digunakan oleh manusia. Lalu, pada tulisan ini, saya hendak membahas bagaimana jika musik digunakan untuk mewujudkan perdamaian atau praktisnya sebagai sebuah aktivitas dari resolusi konflik. Sejauh mana kapasitas musik bermain peran di dalamnya? Bisakah hal itu terwujud? Untuk menjawab itu semua, mari kita sejenak belajar dan berefleksi dari fenomena yang pernah terjadi di Maluku pada tahun 1999.

Apa yang Terjadi di Maluku?

Maluku dengan segala keindahan bentang alam dan budayanya tentu tidak bisa lepas dari beragam dinamika manusia di dalamnya. Banyaknya manusia yang harus ditampung oleh wilayah ini memungkinkan terbentuknya kelompok-kelompok yang berbeda satu sama lain. Keberagaman inilah kemudian memicu salah satu konflik terbesar di Maluku pada tahun 1999. Pada mulanya, konflik ini timbul akibat perseteruan antar etnis dan pertarungan elit politik lokal, kemudian berkembang menjadi konflik antara agama Islam dengan Kristen (Safi, 2017:34). Konflik yang sudah tereskalasi tersebut kemudian memerlukan jalan keluar yang tepat. Dalam rangka meredam konflik yang terjadi, Maluku memiliki jalan keluar yang sangat sederhana, tetapi fundamental dalam kehidupan manusia. Jalan keluar itu melalui musik.

Musik yang Menyihir

Meredamnya sebuah konflik bisa menjadi langkah awal perdamaian dapat tercipta. Atas dasar itulah, kehadiran musik di tengah-tengah proses tersebut dapat menjadi media yang tepat untuk mewujudkannya. Pernyataan tersebut tidak berlebihan mengingat beberapa penelitian terbaru memaparkan bahwa musik merupakan perekat yang memungkinkan terbentuknya hubungan sosial (Lederach, 2020:140). Itulah sebabnya mengapa berbagai gerakan sosial-budaya bisa terjadi salah satunya karena melalui pengaruh dari keberadaan musik. Dalam diskursus konflik di Maluku, keberadaan musik sangat diperhitungkan untuk menciptakan sebuah gagasan tentang perdamaian yang lantas diwujudkan bersama. Maka dari itu, bagian ini akan berusaha mengeksplorasi sejauh mana musik dapat meredam suatu konflik.

Kehadiran musik di tengah-tengah proses meredamnya konflik tidak menempati ruang-ruang kosong yang tak bermakna. Maka dari itu menurut Howell (2021:86), musik akan menempati posisi-posisi berikut:

  1. Musik sebagai representasi, di mana musik akan menghubungkan beberapa kelompok yang terlibat dalam konflik, kemudian mendorong para pendengarnya kepada kondisi yang lebih bersimpati atas masalah yang terjadi atau pengakuan terhadap kelompok lain yang terlibat dalam masalah yang sama.
  2. Musik sebagai kegiatan bersama, yaitu menjadi sarana untuk menjalin hubungan, menciptakan dialog, dan empati melalui partisipasi dalam pembuatan musik.
  3. Musik sebagai instrumen emosional, musik berfungsi sebagai pengubah perasaan seseorang dan menghasilkan relasi melalui kegiatan mendengar bersama-sama

Dalam konteks Maluku, lagu-lagu perdamaian dibuat dan dirangkai sedemikian rupa oleh para musisi lokal yang ada di sana. Para musisi merangkai lirik dan nada lagu sesuai dengan naskah-naskah kultural dan irama yang khas Maluku (Lestari, 2020:377). Hal inilah yang kemudian mengkondisikan gagasan para pendengarnya terhadap lagu yang dimainkan secara kontekstual. Para musisi menghasilkan sebuah konsepsi ideal mengenai perdamaian melalui lirik-lirik lagu yang dirancang.

Maka dari itu, apabila dilihat mulai dari proses pembuatan musiknya, interaksi yang terjadi selama proses pembuatan, sampai kepada musik tercipta dan diperdengarkan, musik yang diciptakan oleh para musisi Maluku dapat memperlihatkan kepada kita tentang posisi dari musik itu sendiri di tengah-tengah konflik yang sedang terjadi.  Pertama, lagu-lagu yang dibawakan saat acara perundingan antara kedua kelompok yang berkonflik memunculkan kembali ingatan masyarakat Maluku bahwa mereka semua bersaudara dan menegaskan kembali filosofi pela dan gandong. Baik pela maupun gandong keduanya sama-sama memiliki makna yang tidak jauh berbeda bahwasanya antar individu ataupun daerah-daerah yang ada di Maluku merupakan satu kesatuan harmoni yang tidak bisa dipisahkan (Lestari, 2020:384). Fenomena ini memperlihatkan bahwa musik menempati posisi sebagai sebuah representasi dalam bingkai membentuk perdamaian. Pada tahap ini, musik berhasil membangkitkan makna kolektif (Lederach, 2020:143-144) masyarakat Maluku atas bentuk-bentuk perdamaian yang lebih indah daripada konflik yang sedang terjadi.

Kedua, sebagai sebuah kegiatan bersama, Lestari (2019:21) mendokumentasikan momen di mana dua komunitas (Islam dan Kristen) yang sedang berkonflik berkolaborasi dalam pembuatan lagu perdamaian. Mereka menggunakan instrumen musik yang sangat identik dengan penggunaannya di masing-masing ritual keagamaannya, seperti bedug dan lonceng. Kegiatan kolaborasi inilah yang kemudian tercipta dialog antar dua kelompok budaya yang bersifat kultural dan penuh simpati maupun empati.

Terakhir, melalui kegiatan pembawaan lagu saat acara perundingan kedua kelompok yang sedang berkonflik terjadi, musik berhasil mengubah suasana hati para peserta yang hadir. Suasana yang panas akibat konflik berhasil dicairkan ketika lagu-lagu perdamaian sudah dilantunkan. Para peserta menampilkan ekspresi-ekspresi seperti menangis, berteriak, dan saling memeluk (Lestari, 2020:379). Fenomena itu sangat menegaskan kepada kita bagaimana posisi musik sebagai sebuah instrumen emosional yang berhasil mengubah suasana hati.

Epilog: Mantra Perdamaian

Musik yang sangat lekat di dalam kehidupan manusia sangat mempengaruhi tindakan-tindakannya. Dalam diskursus konflik dan perdamaian, musik bisa menjadi sarana yang tepat untuk menjadi solusi atas konflik yang terjadi supaya berbuah perdamaian. Masyarakat Maluku yang sempat mengalami konflik pada tahun 1999 pun tidak bisa melepas keberadaan musik sebagai upaya meredam konflik. Dalam hal ini, musik menempati posisi yang krusial sebagai sebuah representasi, kegiatan bersama (kolaborasi), dan sebagai instrumen emosional.

Keahlian yang dimiliki para musisi lokal Maluku dalam merancang lirik dan nada dari lagu perdamaian yang akan diciptakan, membuat para pendengarnya merasakan pengaruh dari musik itu sendiri. Lagu-lagu yang dibawakan berhasil memunculkan ingatan kolektif tentang harmoni sosial. Selanjutnya, dalam proses pembuatan lagu yang bersifat kolaboratif antar dua kelompok yang berkonflik, masing-masing kelompok dapat menciptakan suasana hangat yang dijembatani oleh musik. Pada akhirnya, ketika diperdengarkan kepada khalayak umum, lagu perdamaian yang diciptakan oleh para musisi Maluku dapat mengubah perasaan orang-orang yang mulanya marah dan kesal, menjadi perasaan yang lebih melankolis dan merasakan refleksi mendalam atas konflik yang sedang terjadi.

Jika direfleksikan pada konteks yang lebih luas, contoh di Maluku ini hanya sebagian kecil dari berbagai fenomena yang terjadi di penjuru dunia ketika membahas musik dan rekonsiliasi konflik. Banyak dari kita bahkan mengenal musik-musik populer yang liriknya sarat akan ide-ide perdamaian. Sebutlah salah satu contoh yang terkenal yaitu karya milik John Lennon yang berjudul Imagine. Pada tahapan tertentu, lirik dari musik tersebut dapat direfleksikan dan tidak menutup kemungkinan bisa mengantarkan seseorang yang menikmatinya pada laku-laku nyata perdamaian. 

Maka dari itu, tidak berlebihan apabila saya menilai musik selama ini sebagai sebuah “sihir” yang manifestasinya bisa tampak dan diwujudkan. Pasalnya, tidak ada satu manusia pun di muka bumi ini yang tidak tergerak hati, pikiran, dan tubuhnya setelah mendengarkan musik yang dilantunkan. Bak seorang penyihir di film-film fantasi, para musisi menempati posisi yang esensial dalam dinamika perubahan perilaku manusia di sekitarnya. Akankah menuju ke arah yang negatif, menjadi konstan, atau bergerak ke perubahan positif merupakan beban “keajaiban” yang sama-sama ditanggung oleh sang musisi dan musiknya. Dalam hal ini, buah perdamaian bisa jadi tercipta akibat inisiatif pembuatan mantra sihir tersebut di tengah-tengah konflik yang berkecamuk di Maluku. Setelah ini semua, apabila seseorang tiba-tiba bertanya kepada saya percayakah akan keberadaan sihir dan penyihir, maka akan saya jawab dengan lantang, “Iya, saya percaya, bahkan saya menjadi bagian di dalamnya”.

Sumber

Howell, G. (2021). Harmonious Relations: A framework for Studying Varieties of Peace in Music-Based Peacebuilding. Journal of Peacebuilding & Development, 16(1), 85-101.

Lederach, J. P. (2020). Music Writ Large: The Potential of Music in Peacebuilding. Dalam J. Mitchell, G. Vincett, T. Hawksley, & H. Culbertson (Penyunt.), Peacebuilding and the Arts (hal. 139-156). Cham, Switzerland: Palgrave Macmillan.

Lestari, D. T. (2019). Menggali Falsafah Hidop Orang Basudara dari Melodi Bakubae (Perdamaian)-Lagu Gandong di Maluku. Melayu Arts and Performance Journal, 2(1), 15-25.

Lestari, D. T. (2020). Membangun Harmoni Sosial Melalui Musik Dalam Ekspresi Budaya Orang Basudara Di Maluku. Panggung, 30(3), 375-391.Safi, J. (2017). Konflik Komunal: Maluku 1999-2000. ISTORIA: Jurnal Pendidikan dan Sejarah, 13(1), 33-44.

Identitas Penulis

Muhammad Harits, Antropologi 2020.

Nama asli Muhammad Harits, mahasiswa Antropologi UGM angkatan 2020. Kadang
main skateboard, kadang main gitar, kadang ga ngapa-ngapain. Suka lagu-lagu
punk dan klasik, lagu-lagu galau juga (kalau perlu). Hubungi saya via Instagram:
@haritsmuhammads kalo udah kenal bisa lanjut ke WA atau Line. Saya juga punya
beberapa tulisan di: haritsmuhammad.wordpress.com. Beberapa tulisan di sana
jangan dianggap serius karena saya cuma sok tahu doang. Terakhir, jangan lupa
bahagia, jangan lupa istirahat, jangan lupa makan, ya. Viva la tekyan!