Sudahkah Menikmati Karya Seni untuk Diri Sendiri?

Photo by Porapak Apichodilok from Pexels

Sebagai seseorang yang suka memaknai sebuah karya seni, saya sangat menikmati proses mengerti dan memahami atas apa yang saya nikmati. Terutama sebuah lagu, karya seni yang sangat mudah menjangkau masyarakat luas dari berbagai kelas maupun golongan. Musik banyak menjadi teman setiap individu dalam segala kesempatan. Contohnya saya yang kerap kali menghadirkan musik dikala harus berurusan lama dengan tugas kuliah yang begitu menumpuk. Musik menjadi teman setia saya yang tidak akan protes ketika harus menunggu saya berjam-jam merampungkan tugas. Sebuah penggambaran yang mungkin dapat menjelaskan dengan jelas bagi kita mengenai seberapa dekat musik dengan kegiatan manusia sehari-hari.

            Beberapa bulan lalu, adik saya mempertemukan saya dengan sebuah lagu bersuasana tenang dengan lirik yang begitu ‘ambyar’ dapat saya bilang. Pasalnya lagu yang berjudul Heather ini menceritakan seseorang yang sedang dilanda patah hati dan membandingkan dirinya dengan perempuan lain yang dicintai oleh pujaan hatinya. Dalam lagu barat, penggunaan she/he dalam keseharian dapat membantu untuk menunjukkan gender seseorang yang mereka maksud sebagai ‘dia’. Hal inilah yang dapat membuat saya mengatakan bahwa sosok yang dibandingkan dalam lagu Heather adalah perempuan. Penggunaan kata she yang dilakukan berulang-ulang membuat saya merasa memiliki ketertarikan lebih untuk mendalami lagu ini, mengingat Conan Gray penyanyinya berkelamin laki-laki.

            Dalam tulisan ini, saya tidak begitu ingin membahas pada gender apa Conan Gray menggolongkan dirinya, karena disela-sela keinginan saya memahami lagu ini. Saya menyadari jika sebagai pendengar saya suka sekali melihat lagu lewat sudut pandang gender penyanyi yang membawakannya. Bahkan dalam lagu Indonesia yang menggunakan kata ‘dia’ sebagai bentuk kenetralan saja, saya kerap kali masih mengidentifikasikan sebuah lagu tersebut ditujukan untuk wanita atau pria berdasar siapa yang menyanyikan lagunya.

            Saya rasa kegiatan ini bukanlah satu hal yang salah, mengingat peristiwa ambang atau hal nyata yang ‘tidak biasa’ ini dapat dinikmati karena adalanya proses refleksi dari seorang penikmat entah itu kepada dirinya sendiri, orang lain, atau hal lain yang ada dihidupnya (Lono, 2013). Akan tetapi, pengkotakan seni hanya pada dua jenis gender yaitu ‘perempuan’ dan ‘laki-laki’ rupanya membuat mereka sosok penikmat maupun pembuat karya seni kesulitan menemukan wadah atas ekspresi diri yang mereka miliki.

            Dalam satu sudut pandang, menurut saya lagu Heather menjadi salah satu lagu yang dapat mendobrak aturan kaku atas pembagian gender dalam seni. Dewasa ini rupanya banyak orang tidak ingin menggolongkan diri sebagai ‘perempuan’ maupun ‘laki-laki’, sosok yang mungkin kerap kita sebut ‘non-binary’. Meskipun kehadirannya yang kerap masih ditolak di masyarakat, kehadiran mereka bukan satu hal yang bisa kita anggap tidak ada. Lagu Heather menyadarkan saya akan eksistensi sosok yang saya ketahui berjenis kelamin Pria memang bisa saja cemburu akan kecantikan keanggunan sosok Perempuan. Hal baru yang perlu saya akui kehadirannya ada di sekitar kita. Di mana mereka yang termaginalisasi kehadirannya di masyarakat, masih sangat kurang mendapatkan wadah dalam mengekspresikan perasaannya.

            Selain melihat pada sisi dobrakan atas aturan kaku gender dalam seni. Lagu Heather dapat dipandang juga sebagai seorang seniman yang mencoba menyampaikan keluhan dari sosok lain yang berbeda darinya. Sudut pandang ini adalah sudut pandang yang adik saya berikan ketika memperkenalkan lagu Heather pada saya kala itu. Ia berkata jika Conan adalah sosok penyanyi pria yang mencoba menggambarkan rasa insecure dan kecemburuan perempuan pada perempuan lainnya. Lewat perspektif ini saya menjadi melihat karya sebagai sebuah karya saja, tanpa melihat siapa yang menciptakan dan untuk siapa karya itu diciptakan.

            Lagu Heather ini seperti membuka perspektif baru untuk saya dalam hal melihat suatu karya. Beberapa lagu mungkin dibiarkan abstark bagi penciptanya agar seni yang mereka ciptakan dapat menjangkau penikmat yang lebih luas. Agar tidak hanya sang pencipta saja yang merasa perasaannya terekspresikan, melainkan juga mereka para penikmatnya dapat dengan bebas merepresentasikan karya seni yang tersaji sesuai dengan pengalaman batin mereka masing-masing. Semakin luas karya seni tersebut dapat menjangkau berbagai pengalaman batin seseorang, semakin karya seni tersebut dipercaya memiliki teknologi enchanted yang begitu kuat.

            Heather menjadi salah satu contoh bagi saya tentang betapa pentingnya makna sebuah karya dapat mewakilkan perasaan berbagai orang. Meskipun bukan hal salah pula jika kita membiarkan karya yang kita buat hanya bisa dinikmati oleh diri kita sendiri. Akan tetapi, karya tersebut lantas tentu tidak memiliki pesonanya bagi orang luas. Tidak hadirnya pengalaman kultural menjadikan karya tersebut hanya sebagai koleksi pribadi, karya tersebut tidak menghadirkan teknologi enchanment, pun interaksi yang tercipta hanya sebatas sang pencipta dan karya. Seni memang menjadi wadah bagi seorang seniman dalam berekspresi, tetapi tidak bisa dilupakan juga jika seni juga wadah bagi para penikmatnya dalam berefleksi.

Daftar Pustaka

Simatupang, Lono. (2013). Memahami Jagad Seni sebagai Refleksi Kemanusiaan, dalam Lono Simatupang,  Pagelaran: Sebuah Mozaik Penelitian Seni-Budaya. Yogyakarta: Jalasutra. hlm. 1-14.

Identitas Penulis

Imaya Nadzif, Antropologi Budaya 2020

Perkenalkan di sini May/Maya/Ayya, gadis yang gemar rajut merajut, juga mencipta hal lucu lainnya. Belakangan sedang berusaha mempublikasikan hal lucu tersebut di akun instagram @/rukaryya, sila disambangi jika di dalamnya juga lucu menurutmu. Selain mencipta hal lucu, Maya juga suka berbagi pikiran lewat obrolan malam. Kalian bisa hubungi Maya lewat akun instagramnya @/smwlovesu_ atau bertukar surel di ruang.astamaya@gmail.com. See you!!!