Simple, Flexible, dan Cashless

Photo by RODNAE Productions from Pexels

Semenjak aku tidak tinggal di kota asalku, Semarang, aku kerap kali meminta tolong pada salah satu dari mereka. Ketika berpapasan, mereka saling tersenyum atau menganggukan kepalanya sebagai sebuah kontak sosial dalam komunitasnya berkat kesamaan profesi. Ojol, kepanjangan dari ojek online, itu panggilan singkat dari kebanyakan orang untuk mereka tapi aku lebih senang menyebutnya “driver”. Ada sedikit perbedaan karakteristik yang cukup mengejutkanku ketika pertama tiba di Sleman, di tempatku merantau sekarang, jaket “driver” berwarna jingga terang kerap kali kutemui. Bak Jamur di musim hujan yang mengemudi kesana kemari sambil membawa bungkusan plastik berisi makanan di bagian depan tempat duduknya. Di tempat-tempat makan, baik restoran, pedagang kaki lima, dan warung makan, tak jarang mereka berdiri berurutan ke belakang untuk mengantrikan pesanan sang customer. Aku sendiri bahkan kerap menemuinya.Ya, benar, ini bukan seperti tukang ojek melainkan seperti seorang perantara pembeli dan penjual dalam konteks makanan.

Merebaknya jaket jingga terang inilah yang kala itu sebenarnya belum kutemui di Semarang. Bisa jadi Sleman memulai rebakan ini lebih dulu lantaran kota ini lebih banyak dipadati oleh anak muda. Pasalnya, memang perlu diakui pasar dari jaket jingga terang ini ialah anak muda yang doyan promo. Sebagaimana kata Pak Edwin, salah seorang driver Shopee Food, Ia mengatakan dalam lisannya, “targetnya sebenarnya sama seperti Grab, sih, Mbak, pengguna Shopee food ini ga seloyal pengguna Gojek”. Benar juga, sebagai pengguna ke-tiga-nya, aku sendiri cenderung menggunakan Shopee Food atau grab jahatnya hanya di saat aplikasi ini menyediakan diskon besar-besaran atau bahkan memberi keringanan biaya operasional seperti gratis ongkir. Jika sedang tak ada promo atau diskon tersebut, tanpa ragu aku akan memilih Go-Food lagi untuk layanan jasa antar makanan ini. Rupanya bukan hanya aku sebagai customer yang menggunakan lebih dari satu aplikasi jasa ini, pria berusia 31 tahun yang kemarin mengantar makanan milikku dengan jaket jingga terangnya itu juga merupakan driver dari Go-Food. Yang tak kalah hebatnya adalah, menjadi driver Go-Food dan Shopee Food ini bukanlah okupasi pokok beliau. Meski merupakan orang asli di daerah ini, Pak Edwin memiliki pekerjaan utama sebagai seorang pelaut. Beliau menyampaikan pada saya pelayarannya yang kerap kali dilakukan di luar negeri bahkan pernah menetap di Amerika Serikat. Kurang lebihnya terprediksi karena pandemi ini menuntut pulangnya para pelaut ke kediaman mereka masing-masing sehingga Pak Edwin memilih untuk menjadi driver Go-Food sekaligus Shopee Food untuk saat ini. 

Mudah saja kata beliau untuk bisa bergabung menjadi driver Go-Food atau Shopee Food, “hampir sama aja seperti yang di Go-Food, Mbak, hanya perlu syarat gampang-gampang saja kaya SIM, SKCK, kendaraan baik, STNK, KK, KTP, simple aja, Mbak”, ucap Pak Edwin. Rasanya memang tak perlu spesialisasi atau tuntutan atas kualifikasi khusus tertentu. Rujukan dari makna simple yang dilontarkan Pak Edwin ini juga didukung dengan adanya jam kerja yang flexible. Pria ini bebas menentukan sendiri waktu memulai dan menghentikan jam kerjanya. Kebetulan beliau sudah terbiasa untuk memulainya jam 8 pagi hingga jam 4 sore. Sama sekali tidak kaku, Ia berusaha menyesuaikan dengan keadaan yang ada di hari itu saja. Mengenai rujukan pesanan masuk juga menjadi kebebasan pribadi bagi para driver untuk mengambil pesanan tersebut atau tidak. Lantas begitu pula dengan sistem pendapatannya dimana benar-benar ditentukan oleh banyaknya jumlah pesanan yang masuk serta tip yang diberikan. Semakin banyak menerima pesanan maka semakin banyak pula jumlah pendapatannya. Padahal sebagaimana diketahui bahwa untuk menerima suatu pesanan merupakan kendali penuh dari sang driver sendiri. Tergabung menjadi pemberi jasa antar makanan ini rasanya seperti bisa mengatur rezeki sendiri dan sisanya tentunya diserahkan pada Tuhan. Jika secara internal, semuanya dikendalikan penuh oleh sang driver sendiri, seperti jumlah pesanan yang ingin diterima, maka pula ada faktor eksternal yang bisa jadi tantangan. Pria bertubuh gagah itu menceritakan pengalamannya yang paling berkesan mengenai customer ialah mengantar makanan dari wilayah Pakem menuju ke Parangtritis dimana memakan perjalanan lebih dari 1 jam. Selain itu, hal yang paling tidak menyenangkan ialah ada customer yang memberi titik posisi yang salah dan jauh dari aslinya sehingga sang bapak harus bolak-balik demi mengantar makanannya sampai tujuan. Ada juga yang hanya berkata “sesuai titik, Mas” padahal si customer sudah berpindah dari titik awalnya sedangkan Shopee Food memiliki fitur titik yang sama dan tidak mengikuti keberadaan gawai sang pemesan yang mana ini berbeda dari fitur di Go-Food yang bisa mengikuti arah gerak pembawa gawai. Sekali lagi Pak Edwin mengingatkan bahwa hambatannya kerap muncul dari pihak eksternal, terutama customer.

Namun demikian, ada banyak pula alasan Pak Edwin memilih menjadi driver Shopee lantaran sistemnya yang simple, flexible, dan cashless. Cashless, pasalnya sistem yang mengijinkan penggunaan promo dan diskon di Shopee selalu menuntut penggunaan Shopee-Pay yang mana merupakan uang elektronik. Dengan pesanan tersebut, secara otomatis saldo Shopee-Pay sang customer akan terpotong sehingga dalam proses pemesanan itu sendiri memang akan diselesaikan secara cashless.  Hal ini membuat Pak Edwin setidak-tidaknya semakin merasa ‘simple’ lagi lantaran beliau tak perlu membawa banyak uang cash sebagaimana jika beliau bekerja menjadi driver Go-Jek. 

Rupanya berbagai kemudahan yang aku alami terutama ketika menetapkan Shopee Food menjadi pilihan juga dirasakan oleh sang driver juga. Memilih Shopee Food karena berbagai kemudahan sistemnya seperti simple, flexible, dan cashless, menjadi alasan yang mendasar juga. Kemungkinan besar juga ke-tiga hal itu jua yang membuat customer  memilih Shopee Food di luar promo dan diskon yang diandalkannya.

Andrea Marchelina Santoso, Antropologi 2020.

Kesukannya banyak, maunya banyak, tapi santai kok orangnya. Jangan lupa follow ig: @chelinsantoso. Makasih besties!