Musik di Mata Queers: Sarana Komunikasi, Ruang Berekspresi dan Representasi

Photo by Monstera from Pexels

“Musik adalah salah satu sarana untuk mengekspresikan diri,”

Kalimat tersebut tampaknya sudah sangat sering dilontarkan dan tidak begitu asing di telinga orang-orang pada umumnya, terutama bagi para pecinta musik. Berbicara tentang ekspresi, ekspresi gender merupakan salah satu bentuk istilah yang sering kita dengar pula. Wacana mengenai interpretasi seksualitas dan ekspresi gender seseorang melalui judul lagu dan preferensi musik sudah menjadi hal yang tidak asing lagi akhir-akhir ini. Sebagai gambaran, lihat saja girl in red atau The Neighborhood dan lagunya “Sweater Weather”, Anda akan mengerti maksud saya. 

Dalam sebuah waktu senggang yang ‘direncanakan’, teman saya, seorang queer, bercerita banyak pada saya mengenai pentingnya keberadaan musik sebagai sarana ekspresi gender serta ruang aman bagi teman-teman queer dan golongan LGBTQIA+ lainnya, dan disini saya akan membagikan sedikit poin menarik dari apa yang telah kami bicarakan.

Melalui pendekatan neoliberal, musik pop sudah menjadi salah satu saluran bagi banyak musisi dan lagu dalam menyusun karyanya untuk mempromosikan individual overcoming atas ketidaksetaraan gender dan ras (James, 2015: 136). McClary (dalam Wearner, 2019: 3) merupakan seorang kritikus feminis yang menyatakan bahwa musik mampu mengkonstruksi seksualitas dan gender seseorang. Dalam penelitian Baker (2004: 210), ia meneliti hubungan antara musik terhadap konstruksi gender dan ‘bedroom culture’ bagi remaja-remaja perempuan di Amerika, dan ditemukan bahwa musik yang didengarkan serta didiskusikan dapat menjadi sarana bagi mereka untuk lebih mengetahui dan menggali identitasnya sesuai dengan jenis kelaminnya (memahami bahwa mereka merupakan remaja perempuan dan ‘a sexual being’).

Perihal saya dan teman saya, kami akui, meskipun kami bukan ahli—disitu letak keseruannya— kami seringkali berbicara dengan argumen yang cukup “ndakik-ndakik” layaknya profesor apabila kami mendiskusikan hal yang serius, yang kami tahu memang sangat konyol jika dilihat. Mungkin jika orang-orang asing melihat kami berargumen ke satu sama lain, mereka akan melihat kami seperti dua burung yang sedang berkicau tanpa henti—mungkin lebih tepat disebut ‘berisik’ dibandingkan ‘cerdas’.

Sebelum saya melangkah lebih jauh tentang isi pembicaraan saya dan teman saya, perlu diketahui bahwa teman saya adalah seorang queer—sebuah terminologi bersifat ‘netral’ untuk menggambarkan seseorang yang menggambarkan dirinya ‘berbeda’ dalam hal identitas gender. (Maimunah, 2014: 44). Ia juga merupakan bagian dari LGBTQIA, sesuai yang ia klaim, dan ini juga menjadi salah satu alasan mengapa saya secara spesifik ingin mengetahui lebih dalam mengenai keberadaan musik serta kaitannya dengan ekspresi gender dan pandangannya sebagai bagian dari komunitas tersebut.

“Udah siap?” tanyaku.

“Sudah dong,”

Jawaban yang ia berikan menjadi tanda saya untuk memulai sesi ngobrol berkedok wawancara yang bisa dibilang ‘paling serius’ selama kita menjalin pertemanan. Pada beberapa bagian pertanyaan yang cukup teoritis, teman saya mampu menjawabnya dengan pemaparan yang sangat jelas. Bahkan, ia tidak segan menunjukkan berbagai referensi lagu dan musik untuk menunjukkan konteks dari jawaban yang ia berikan.

Of course, music is related to gender expression. Basically, you can express some things that you cannot express in words through music, whether it’s from the melody, lyrics, or instruments. Music is how you express your mentality, your being, and your mind to another people. You can even use it to communicate with other people. And it does not only apply to the composer, but also the listener,” kemampuan menjelaskannya yang sangat lancar tanpa jeda membuatku sontak meresponnya dengan, “Keren banget dah,”

“Oh, about the communication thing, itu tuh sebenernya tentang bagaimana musik bisa nyatuin similar people dengan taste yang mirip-mirip juga. Bukan direct communication, lebih ke telepathic gitu sih. Believe it or not, aku (sudah) ketemu orang-orang yang have the same (queer) identity as me, just by looking at their music playlist, atau ngeshare preferensi musiknya somewhere, social media contohnya,” tambahnya. 

Persepsi musik sebagai sebuah alat komunikasi yang dinyatakan oleh teman saya ini diamini oleh seorang etnomusikolog, Hood (1961: n.p.), yang menyatakan bahwa musik memang merupakan salah satu alat untuk melihat dan mengerti dinamika yang ada di dalam sebuah kelompok budaya. Ia membahas bagaimana musik mampu menjadi suatu media yang kerap kali dilupakan dalam memahami proses komunikasi, salah satunya dalam melihat komunikasi cross-cultural

Umumnya, kita sering mendengar bahwa musik merupakan sebuah bahasa yang universal, tetapi pendapat dari Hood ini membuka pandangan bahwa musik memiliki arti dan pemahaman yang berbeda bagi setiap kelompok budaya, sehingga, pemahaman akan musik yang didengarkan bisa memiliki makna yang lebih khusus untuk beberapa kelompok tertentu, salah satunya kelompok queer yang telah dijelaskan oleh teman saya, dimana mereka memiliki simbol-simbol khusus dalam mengidentifikasi allies atau teman-teman yang masuk ke dalam kelompok mereka. Menurut teman saya, komunitas LGBTQIA+ di zaman ini, banyak yang menggunakan judul lagu serta nama musisi sebagai ‘kode’ untuk mengenali queer lainnya. Beberapa frasa yang mereka gunakan adalah seperti ‘do you listen to girl in red?’(apakah kamu suka perempuan?) untuk mengidentifikasi teman-teman dengan orientasi seksual lesbian atau “I like your boots,” untuk menanyakan apakah mereka bagian dari LGBTQIA+ atau mengidentifikasi diri mereka sebagai gay.

Dalam penelitian oleh Boas (dalam O’Neill, 2014: 3), dimana ia meneliti suku Inuit, ia menyatakan bahwa dengan mempelajari bahasa suku Inuit (termasuk budaya musik di dalamnya), ia mampu mengerti maksud dari cara hidup orang Inuit, kebiasaan mereka, kepercayaan mereka, hingga cerita-cerita folklore yang ada di dalam suku tersebut. Saya pribadi mengamini pernyataan Boas ini. Seperti yang sudah dikatakan oleh teman saya tentang mengenali teman-teman queer-nya melalui music playlist karena adanya mutual understanding dan emotional connection, saya sendiri yang sudah sering berbagi rekomendasi lagu dengannya mampu merasakan apa yang dirasakan oleh Boas, yaitu semakin mengerti pemikiran dan kebiasaan teman saya karena saya mulai mengerti bahasanya, yaitu musik-musik yang ia dengarkan. Jadi, musik yang berlaku sebagai bahasa bagi para queer ini tidak semata-mata bersifat eksklusif, tetapi juga terbuka bagi orang-orang non-queer untuk ikut membaca simbol-simbol dan bahasa yang digunakan oleh para queer. Disini, bukannya sebagai bahasa yang “universal”, di mata para queers, musik juga bisa menjadi “bahasa daerah” atau bahasa yang memiliki makna tersendiri bagi mereka.

Kami pun melanjutkan pembicaraan dengan berbicara mengenai dampak keberadaan musik bagi komunitas LGBTQIA sendiri, menurutnya, “Ngomongin dampak, apalagi in modern society nowadays, aku rasa lebih ke kebebasan berekspresi dan ruang yang makin luas ya, mengingat banyak musisi yang sekarang vocally express that they’re allies, atau bahkan a part of the community themselves. Banyak yang terbantu dengan itu, karena representasi kita juga jadi makin banyak, orang-orang makin mengakui eksistensi dari komunitas kita, dan tentu saja kita bisa lebih resonate sama kalimat yang bilang musik itu salah satu sarana ekspresi diri. Jadi, kita sekarang bisa ekspresiin diri secara terbuka dengan dengerin atau bahkan nyanyiin musik dari musisi queers—komunitas LGBTQIA tanpa merasa takut bakal dihakimi, kita juga ketemu dengan banyak teman queer, jadi bisa komunikasi satu sama lain,”

Representasi menjadi salah satu hal yang penting bagi komunitas LGBTQIA+ dalam mengekspresikan diri mereka. Berkaitan dengan musik sendiri, representasi yang sudah meluas dan semakin banyak, membuat mereka percaya diri akan identitas mereka yang sesungguhnya. Trier-Bieniek (2012: 26-29) menyampaikan hasil penelitiannya terhadap kaitan antara artis musisi bernama Tori Amos dengan para fans-nya, dimana para fans menyatakan bahwa mereka menemukan kekuatan dan keberanian untuk mengembangkan identitas diri mereka yang lebih feminin, bahkan menyatakan orientasi seksual mereka sebagai lesbian karena keberadaan idola mereka. Hal ini membuktikan bahwa dalam hal gender dan seksualitas, konsumsi musik juga turut mengambil andil dalam perkembangan identitas seseorang. Selain itu, musik juga dapat menjadi wadah bagi kelompok dengan identitas yang sama untuk membangun interaksi sosial dan hubungan dengan satu sama lain (Wearner, 2019: 5).

Musik pop merupakan salah satu genre yang cukup mudah diakses dan memiliki jangkauan yang sangat luas. Karena itu, keberadaan musik pop juga menjadi salah satu fasilitas yang mengakomodasi musisi queer, serta para musisi non-normatif—yang anti-mainstream dan marginal— untuk membawa isu identitas mereka melalui lagu-lagu populer (Ganetz, 2017). Kehadiran musik-musik yang dibawakan oleh musisi queer dan lagu-lagu yang menceritakan pengalaman mereka ternyata sangat berpengaruh dengan identifikasi serta pemahaman akan identitas para queer akan diri mereka sendiri. Musisi-musisi yang disebutkan oleh teman saya seperti The Neighborhood, King Princess, dan girl in red pada 2017-2021 ini membuat banyak bagian dari komunitas LGBTQIA+ yang menjadi percaya diri dan berani mengungkapkan identitas mereka ke publik karena kehadiran musisi-musisi ini dan lagu yang mereka bawakan. Pada survei yang diadakan oleh Gallup (2021), jumlah remaja dan orang dewasa di Amerika Serikat yang menyatakan bahwa mereka bagian dari LGBTQIA+ telah meningkat sebanyak 5.6% sejak tahun 2017.

“Eventually, the social pressure to fix my sexual identity and my inability to do so isolated me from the rest of my peers. I felt that the only way I could relate to people on my own terms was through music. It was in music, and only in music, that I could perform all the roles necessary to satisfy me. In music I could compose, perform and listen; I could play multiple instruments; I could perform and appreciate various styles. It was only as a musician and music lover that I was allowed to be fluid: to interpret and reinterpret, to create and recreate.” (Taylor, 2012: 2)

Dalam pembukaan bukunya, “Playing It Queer: Popular Music, Identity, and Queer World Making”, Taylor bercerita bahwa bagi ia yang merupakan bagian dari komunitas LGBTQIA+ yang selalu “diributkan” dengan penentangan akan identitas gender dan seksual mereka, musik menjadi salah satu sarana dan tempat yang nyaman, untuk mengungkapkan diri mereka yang sesungguhnya, tidak hanya sebatas menjadi pendengar, tetapi juga untuk berkarya—membuat musik dan menyanyikannya. Disinilah pertanyaan saya akan pengaruh keberadaan musik terhadap ekspresi gender mulai terjawab. 

Teman saya merupakan salah satu orang yang memiliki pengetahuan yang luas akan musik. Mendengarkannya bercerita mengenai kecintaannya terhadap musik, terutama untuk musik-musik yang berasal dari musisi queer, membuat saya memahami akan pentingnya musik dalam hidupnya, tidak hanya sebagai individu, tetapi sebagai bagian dari sebuah komunitas, yaitu komunitas LGBTQIA+. Sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Taylor, ketika sudah tidak ada ruang aman lagi untuk mengekspresikan diri mereka—yang dianggap menyimpang—, kehadiran musik menjadi seperti “obat penenang” dan satu-satunya tempat dimana mereka bisa terbuka dengan diri mereka dan juga orang lain. Saya juga memahami bagaimana musik mampu mengungkapkan apa yang tidak dapat mereka ungkapkan, terutama mengenai ekspresi gender mereka. Pada akhirnya, musik mampu menyatukan orang-orang dengan selera yang sama dan identitas yang sama, disadari atau tidak disadari. Musik di mata para queer, dan komunitas LGBTQIA+ hadir sebagai sebuah bahasa untuk berinteraksi dan berkomunikasi, serta wadah atau tempat untuk mengenali dan mengekspresikan identitas diri.

Bincang-bincang yang berlangsung selama dua jam ini akhirnya harus diakhiri dengan alarm saya yang menandakan sudah pukul 12 malam. Kami pun mengakhiri perbincangan dengan beberapa rekomendasi lagu dan ucapan terima kasih. Perbincangan dengannya sungguh membuka mata saya akan hal-hal baru, termasuk mengenai musik, ekspresi, hingga komunitas.

Sumber

Baker, S. (2004). “It’s Not About Candy”: Music, Sexiness, and Girls’ Serious Play in After School Care. International Journal of Cultural Studies, 7(2): 197-212.

Ganetz, H. (2011). Fame Factory: Performing Gender and Sexuality in Talent Reality Television. Culture Unbound, 3: 401-417.

Gold, A. G. (2005). Conceptualizing Community: Anthropological Reflections. [Background paper, Syracuse University]. Brown University Research Publications.

Hood, M. (1961). Institute of Ethnomusicology. Los Angeles: University of California.

James, R. (2015). Resilience and Melancholy: Pop Music, Feminism and Neoliberalism. Hants: Zero Books. 

Jones, J. (2021, February 24). LGBT Identification Rises to 5.6% in Latest U.S. Estimate. Gallup. Retrieved from https://news.gallup.com/poll/329708/lgbt-identification-rises-latest-estimate.aspx

Kearney, M. C. (2017). Gender and Rock. New York: Oxford University Press.

Maimunah. (2014). Understanding Queer Theory in Indonesian Popular Culture: Problems and Possibilities. Jurnal Lakon, 3(1): 43-68.

Merriam, A. P. (1964). The Anthropology of Music. Illinois: Northwestern University Press.

O’Neill, S. (2014). The Anthropology of Music: The Role of Sounds, Stories, and Songs in Human Social Life. Encyclopedia of Life Support System

Taylor, J. (2012). Playing It Queer: Popular Music, Identity, and Queer World-Making. Bern: Peter Lang.

Trier-Bieniek, A. (2012). Sing Us A Song Piano-Woman: Female Fans and The Music of Tori Amos. Lanham: The Scarecrow Press.

Wearner, A. (2019). What does gender have to do with music, anyway? Mapping the Relation between Music and Gender. Per Musi, 1(39): 1-11.

Identitas Penulis

Jacinda Pielivia K. Antropologi 2020

Bukan Dinda atau Cinta, tapi Cinda.
Suka mendengar dan bercerita, suka berbagi pendapat tentang bermacam-macam hal yang ada di dunia, mulai dari makanan terenak di pelosok kota hingga rahasia yang disimpan oleh semesta. Tidak terlalu pandai dalam merangkai kata, tapi mau ikut kata orang tua, “Beranilah mencoba.”
Mari bersua dan berbagi cerita, temui aku di Instagram @jacindapielivia_