Tentang Si Negeri Kaya

Photo by Stijn Dijkstra from Pexels

DISCLAIMER: Tulisan kali ini saya tulis sepenuhnya dari isi hati saya dan berkolaborasi dengan perempuan campuran Papua-Toraja, Michelle Gabriella.

Berangkat dari rasa penasaran dan cita-cita saya mengenal Papua, saya memutuskan untuk berbicara langsung dengan perempuan cantik asal Papua, Michelle Gabriella. Panggil saja Cele. Dapat dibilang, selama masa kanak-kanak sampai remajanya, Cele hidup di wilayah-wilayah Papua seperti Jayapura, Fakfak, dan Merauke. Sedikit banyaknya, Cele tahu tentang negeri kaya itu.

Setiap wilayah di Indonesia pasti memiliki keunikan tersendiri, apalagi Papua. Tulisan ini sepenuhnya opini dari Cele yang saya tuangkan melalui kata-kata saya karena saya sendiri belum pernah menikmati Papua. Kita mulai!

Membahas tentang budaya, banyak orang mengira Papua ya hanya satu, tetapi sebenarnya suku Papua ada banyak. Orang Papua itu ada yang dari pantai dan gunung. Orang Pantai (pesisir) mulanya adalah orang yang suka berniaga. Karena berniaga dan berpindah-pindah tempat (dengan berlayar), disebutlah Orang Pantai. Sedangkan Orang Gunung mulanya adalah orang yang datang pertama kali dan bermukim di dataran tinggi. Karakter hidupnya di alam dan nomaden. Pekerjaan mulanya adalah bercocok tanam dan mengolah lahan. Jika dilihat dari karakteristiknya, Orang Gunung cenderung pendiam dan halus. Sebaliknya, Orang Pantai cenderung “cerewet” karena basisnya mereka berniaga dan mudah bersosialisasi dengan sekitar. Jika di Papua bagian kota, penduduknya sudah bercampur, tidak hanya Orang Pantai dan Orang Gunung, tetapi juga para perantau dari Maluku, Jawa, Cina, Sumatera, dan lain-lain.

Sebenarnya, di Papua itu, tidak selalu berita buruk yang mereka alami, tetapi dengan pemikiran media yang “bad news is a good news” jadi sedikit yang membicarakan indahnya Papua, yang diberitakan hanya baku tembak dan hal-hal buruk lainnya seperti diskriminasi. Diskriminasi yang Cele lihat, timbul lebih banyak dari luar sedangkan orang Papua sendiri jarang terjadi perpecahan antarsesama suku. Satu hal yang ingin Cele sampaikan bahwa Papua memiliki banyak hal yang bisa kita lihat bukan sekadar Raja Ampat saja. Berita duka yang selalu kita dengar dari Papua membuat Papua menjadi minim informasi dari luar maupun dalam, yang membuat wilayah luar Papua menganggap Papua adalah daerah yang rawan kekerasan.

Bicara tentang agama, agama mayoritas di Papua adalah Kristen Protestan. Tentang aman atau tidaknya, agama dimanapun masih menjadi topik yang sensitif. Seperti contoh tahun 2019 kemarin, di Jayapura terjadi kekacauan karena pembakaran oleh seorang TNI yang menyebabkan jaringan diputus sementara, ternyata itu hanya hoaks dari mulut ke mulut saja. Awalnya hanya pembakaran sampah biasa, tetapi diprovokasi bahwa fenomena itu adalah pembakaran kitab suci, sehingga menimbulkan keributan.

Kalau mobilitasnya, di Papua sendiri belum semua tersentuh pembangunannya. Kalau mau pergi ke kabupaten, harus naik pesawat yang tidak murah. Misalnya saja dari Wamena ke Jayapura bisa menyentuh angka jutaan. Namun, jika menggunakan transportasi darat akan lebih mahal lagi sekitar 15 juta-an.

Fakta unik yang membuat saya tercengang ketika Cele bercerita tentang kerusuhan ‘98. Seperti yang kita tahu bahwa tahun 1998 Indonesia mengalami kerusuhan hebat sehingga terjadi keruntuhan. Namun, siapa sangka di Papua pada saat itu masyarakatnya sedang berbahagia karena saat kejadian ‘98 itu terjadi, semua sungai di Papua mengeluarkan emas. Semua warga ramai-ramai mendulang emas dan membeli tanah karena itulah Papua disebut tanah yang kaya dalam artian siapapun yang mau mencari kerja di Papua harus bekerja dengan jujur.

Jika membaca tulisan saya, saya tidak akan melepaskan isu gender karena itu yang saya minati. Berbicara tentang isu gender dan kesehatan mental di Papua, kedua hal itu masih dianggap tabu. Seperti berbicara tentang “broken home” kepada teman-teman sendiri saja masih malu karena belum terbiasa berbicara tentang hal itu. Sedangkan tentang kesetaraan gender, di Papua masih lebih banyak pekerjaan mengutamakan laki-laki. Namun ada satu dua pekerjaan yang mempekerjakan perempuan seperti menjadi satpam di bank. Hal ini terjadi karena di Papua masih menganggap sepele mengenai hal tersebut. Sekian tulisan saya hari ini, kurang lebihnya mohon dimaafkan.

Identitas Penulis

Josephine, mahasiswa Antropologi Budaya angkatan 2021. Banyak pertanyaan terbesit di kepala tapi tidak pernah berani menuangkannya. Si penyuka langit dan selalu memuja malam. Email: joanthonias@gmail.com IG: josephineasf