Jejak-Jejak (Pembelajar) Antropologi

Sumber: Dokumen pribadi

Keresahan terkait hilangnya jejak Rembukant (diskusi luring) sudah dijadikan suatu proyek berjudul RJA Honorable Mention1. Keresahan yang dimaksud ialah bahwa Rembukant terasa kehilangan jejak, dengan bandingan pada hari ini orang-orang (anggota Kemant) tahunya Rembug Jarak Amant (RJA). RJA sejauh ini abadi sebagai tayangan video di YouTube Kemant UGM, bertambah edisi tiap edisi, memperkaya koleksi topik demi topik yang pernah dibahas. Begitulah, kadang kita sadar akan perekaman jejak ketika mulai merasa hilang. Dan syukurnya, orang-orang yang bisa merekam masih terjangkau.

Mbak Fira dan Bias menceritakan bagaimana ketika itu Rembukant berlangsung, dari perencanaan sampai pelaksanaan. Dilengkapi oleh berbagian (sharing) teman-teman saya tim perancang RJA awal, cerita dan perspektif bertemu. Kemudian diskusi berusaha diarahkan ke area yang menyentuh relevansi: bagaimana refleksi ini memengaruhi keberlangsungan RJA dan/atau Rembukant ke depan. Hasilnya tentu menyadari bahwa nanti tim perancang (RJA/Rembukant) akan tahu sendiri baiknya bagaimana. Sangat baik merekam yang lalu untuk belajar, tetapi kembali lagi yang relevan adalah yang nantinya menjalani.

Sedangkan Cerita dan Gagasan (Cergas) ini, memang merupakan wadah para mahasiswa antropologi bercerita atau mengajukan gagasannya. Riwayat terlawasnya tercatat dua tahun lalu. Yang lebih lama dari itu? Tidak tahu. Tentunya bukan berarti “orang-orang terdahulu” tidak punya cerita menarik dan gagasan berkualitas—bahkan dulu ada Jurnal Ranah2. Dan kuyakin mereka hari ini sudah terjun ke wadah riset dan kreasi yang begitu keren, seperti yang biasa kita (mahasiswa aktif) temui ketika sharing alumni, Inisiasi, diskusi, atau di media atau perjumpaan acak saja.

Tetapi kita tidak bertemu alumni tiap hari, dan tidak akan mendengar ceritanya jika tak dipertemukan. Seorang alumni—yang penulis—pernah bercerita mengenai buruknya tulisannya saat kuliah dahulu; proses itu tak tercatat di Cergas, hanya dengaran cerita. Maka beruntunglah kondisi hari ini, yang memungkinkan kita menjejakkan proses kita belajar. Prof. Laksono juga bercerita bagaimana mudah dan berkualitasnya belajar antropologi hari ini. Ya, pada hari ini jejak-jejak antropologis sudah bertebaran; guru besarnya, pembelajarnya, maupun hasil karyanya. Namun begitu juga dengan disiplin lain (yang juga berkembang). Maka dari itu bisa ditanyakan, “Berada di mana kita?”

Cerita-Cerita Antropologis

Refleksi setengah abad antropologi Indonesia di artikel jurnal Prof. Irwan3 mengutip pernyataan Thomas Eriksen, “We have, it appears, so much to tell each other that we forget to invite others to join the conversation and, similarly, have little time, on our own part, to join theirs.” Bahwa antropolog atau pembelajar antropologi sebenarnya punya cerita menarik, tetapi asyik di ruangnya sendiri; begitukah? Maka dari itu belakangan aku berpikir, sudahkah tiap edisi Rembug Jarak Amant4 kami telah mengundang banyak orang?

Ladang (field) antropologi begitu luas sejak itu adalah tentang manusia; kita sudah bertualang jauh sejak E.B. Tylor mencatat kehidupan orang Meksiko5. Bisa sejauh itu sampai pada fakta bahwa masyarakat dunia ketiga telah mempelajari etnografi Eropa6, subkultur jalanan7 di perkotaan jadi bahan cerita, dan pandemi di era digital yang sangat menjadi ladang8. Riwayat disiplin dari awal hingga kini pun menjadi bahan belajar juga; bagaimana disiplin ini sampai di sini, bagaimana yang dahulu membentuk dasar. Tetapi bayangkan, bagaimana jika Tylor tidak menceritakan perjalanannya ke Meksiko, atau jejak Malinowski ke Trobriand9, atau Levi-Strauss tak menuliskan pemikirannya?

Pulang dari penelitian lapangan (TPL), aku punya catatan harian 15 hari dan lebih dari 1.000 file foto. Bisa ditaruh mana ya? Satu, yang jelas galeri digital masa kini ialah Instagram10. Kemudian, jika Kemant maupun departemen mewadahi output, tentu itu harus menjadi wadah kirim submisi. Terakhir—sebagai giliran to join others’ conversations, aku yang suka mengisi info di Google Maps (foto dan ulasan) serta menulis di media massa11, mencoba memberikan corak di ekosistem populer. Itu bisa jadi satu bahasan tersendiri; soal cerita kita akan ada di mana, dibaca siapa saja, atau lebih aktif lagi: para (pembelajar) antropolog(i) akan berkiprah di mana saja?

Sumber: Dokumen pribadi

Antropolog atau pembelajar antropologi punya (terlalu?) banyak cerita, sampai-sampai tiga paragraf di atas tidak begitu terhubung—padahal aku mengajarkan ke teman-teman bahwa tulisan yang baik itu paragrafnya harus berkesinambungan. Atau karena aneka pertanyaan itu memang bukan untuk dijawab langsung. Yang jelas, jejak dan cerita yang sudah ada bisa menjadi bahan refleksi. Tulisan yang keren bisa kita baca, jejak yang baik bisa diteruskan. Dan yang belum ada, bisa ‘kan antropologi mengisi ruang kosong? Harusnya akan datang kesadaran-kesadaran berikutnya.

Proses yang Tersadar Hari Ini

Telah sampai di bagian akhir tulisan, menyadari bahwa dari tadi kita bicara soal jejak. Sebenarnya bisa saja ditanyakan, “Apalah jejak?” Itu bisa jadi satu diskusi tersendiri. Tetapi bagi yang suka menulis sebagai sarana menyampaikan, membaca sebagai penambah wawasan atau sekadar hiburan; ini bisa begitu berarti. Yang paling populer tentu kutipan dari Pramoedya A.T., “Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Hari ini, keabadian itu bisa dijejakkan pada galeri foto (Instagram), video (YouTube), maupun bentuk lainnya.

Diskusi daring! Bagi perasa pandemi (alias kita semua hari ini), sepertinya ini hal biasa. Tetapi mungkin hal ini tidak terpikirkan oleh beberapa generasi sebelumnya, mengenai web seminar di mana diskusi tersiar bebas secara langsung dan abadi karena terjaga di YouTube. Bagi Prof. Irwan, beliau tidak menyangka akan bisa berpindah dari Jawa ke Sulawesi (virtual) lalu Kalimantan (virtual) dalam sehari untuk mengisi diskusi/webinar. Namun, bagaimana dengan diskusi/seminar yang lalu? Mereka (diskusi) bukan berarti tidak bagus untuk perlu dilihat audiens banyak dan bertahan di wadah daring seperti halnya webinar.

Mungkin itu satu hal yang tersadar hari ini, bahwa yang lalu banyak yang berarti tetapi tidak terekam. Ya tetapi kesadaran bukan hanya tentang masa lalu, melainkan juga masa depan. Orang-orang bisa semakin me-reka hal yang akan datang, berdasarkan pengalamannya dengan yang lalu. Sekadar melihat story masa lalu dapat membuat kita merasa perlu nge-story momen hari ini untuk diabadikan dan nanti dikenang di masa depan. Karena ada yang tidak terulang. Dan pada era kontemporer ini, sebenarnya kita bisa semakin yakin segala hal tak akan terulang.

Prof. Irwan merasa harus tes usap (swab test), sekadar untuk menjadi bagian dari sejarah pandemi. Ia mengumpulkan berita, cerita, dan derita masa (awal) pandemi bersama beberapa mahasiswa untuk mengabadikan masa itu. Benar juga, setelah makin jauh dari awal pandemi, tersadar bahwa fenomena awal pandemi, tiga bulan pandemi, dan setahun pandemi; semuanya unik. Hal-hal bergeser dari gegar ke ajeg—seperti yang kutulis dalam tulisan Perkara Rumah-ku12. Perihal ini, bisa diingat pula bahwa Antro (Sembari) Berswakarantina13 merupakan produk pandemi, diikuti Perkara Rumah14 tahun berikutnya yang memiliki corak (tulisan)-nya sendiri.

Maka dalam tulisan Antro Berswakarantina-ku15 telah kusadari, bahwa antropolog atau pembelajar antropologi melihat pandemi sebagai fenomena perubahan besar; sebagaimana mengamati dan memahami segala hal fenomena (ke)manusia(an). Bisa dari hal terdetail, maupun kesadaran lingkup makro. Lalu berarti Cergas hari ini bisa menjadi gambaran mahasiswa antropologi (UGM) belajar apa, atau setidaknya (jika tulisan-tulisan ini tidak terlalu ngantrop): apa yang mahasiswa antropologi rasakan dan ingin tuliskan pada masa kuliahnya. Ini proses kita! Baca lagi beberapa tahun dari sekarang.

Yang Dirujuk

1 RJA Honorable Mention: Merekam Jejak Rembukant

2 Jurnal Ranah

3 Abdullah, Irwan. (2018). Misrepresentation of Science and Expertise: Reflecting on Half a Century of Indonesian Anthropology, Jurnal Humaniora Vol. 30 No. 1 Februari 2018 82-91.

4 playlist Rembug Jarak Amant

5 Tylor, E.B. (1871). Primitive Culture: Researches into the Development of Mythology, Philosophy, Religion, Art, and Custom.

6 Laviolette, Patrick, et al. (2019). Locating European Anthropology, Anuac. Vol. 8, No. 2, Dicembre 2019: 245-254.

7 poster RJA: Subkultur Budaya Jalanan: Cerita dan Dinamikanya

8 tulisan Sarah Huxley di Ethnography.com

9 Malinowski, B. (1922). Argonauts of the western Pacific: An account of native enterprise and adventure in the archipelagoes of Melanesian New Guinea. London: G. Routledge & Sons.

10 Instagram Bundel Sokokembang

11 tulisan “Pandemi, New Normal, dan Budaya Mobilitas Kita”

12 tulisan “Keajegan Perkara”

13 submisi Antro Berswakarantina

14 submisi Perkara Rumah

15 tulisan “Perjalanan Cerita Swakarantina”

Identitas Penulis

Abiyyi Yahya Hakim, Ketua Divisi Keilmuan Kemant 2021

Setelah dua tahun di Keilmuan Kemant, Abiyyi masih memiliki representasi lainnya. Boleh dibaca tulisan seriusnya di detikNews – Kolom, dan tulisan personalnya di abiyyiyh.blogspot.com. Identitas populer berada di Instagram @abiyyi_yh, sisi perkotaan boleh lihat @pedestrianjogja, sisi seduh boleh lihat @lab.kopis. Facebook dan YouTube juga menjadi tempat mengisi karya cerita, foto, dan video. Abiyyi juga seorang Pramuka dan seorang Climate Reality Leader. Sampai berjumpa dan mengenal di ruang lain!