Surat Kawant: Realitas yang Fana?

Penulisan ini adalah observasi pribadi. Upaya melihat tubuh dan otak sebagai laboratorium yang tidak ada habisnya untuk digunakan, yang maha luas tidak bersekat; batasannya mungkin saja ketidaktahuan atas pengetahuan. Hanya itu, selebihnya bisa dieksplorasi melalui pengalaman dan penghayatan. Kegagalan penelitian sejatinya kecelakaan dalam diri ketika menerjemahkan, saya tidak ingin denial akan hal itu. Banyak perkara yang sebenarnya ingin saya asumsikan mengenai realitas maya dengan segala kontruksinya, namun pada peluang ini saya akan mencoba mentranformasikannya dalam bentuk perumpamaan.

Jika internet merupakan sebuah universe, maka sosial media adalah kota. Ambil contoh; Facebook, Instagram, dan Twitter. Dalam analogi kota yang saya maksud, kita menemukan pelbagai karakter dan motivasi penggunanya. Di masa lalu, saya adalah orang yang gemar menggunakan Facebook untuk bermain game dan mencari meme, akan tetapi saya harus meninggalkan kota itu beserta kenangan dan warganya. Pastinya, ekosistem kota tidak lagi menyediakan kepuasan, saya harus kembali beradaptasi dengan medium baru. Setelah membereskan foto dan berkas, mengubah profil dari publik menjadi privacy, tentu saja jejak digital yang kapan pun bisa mencuat ke linimasa jika tidak segera dihanguskan, seperti segala hal yang dianggap keren pada masanya. Walaupun usaha ini hanya kesiaan belaka, sebab semuanya telah tersimpan rapat dalam server. Sebelum beralih ke medium baru, katakanlah Instagram, saya mencoba mengevaluasi hal tersebut; menganalisis apa yang saya kerjakan pada tahun-tahun terakhir, dan membandingkannya dengan calon tempat tinggal baru saya; Instagram.

Setiba di wadah yang sama sekali belum saya kenal medannya, saya harus membuka perspektif dan menata ulang dunia saya. Langkah awalnya mesti saja membuat sertifikat rumah berupa pendaftaran identitas, selaku warga kota yang diberikan legalitas, kami diperkenankan menggunakan foto profil asli atau avatar, serta disarankan beberapa pertemanan dari kontak telepon. Kota ini masih saya anggap sebagai gabungan dari komplek perumahan elit, hanya orang-orang dengan perkarangan (feed) bagus dan menarik yang bisa bertahan. Avatar yang berasal dari kota yang sama dengan saya juga masih mengamati tempat asing ini, mengapa semua manusia virtual ini teramat ambisus mendesain halaman rumah mereka dengan berbagai tangkapan kamera dari universe lain (dunia nyata).

Semakin menarik jika kota metropolitan seperti instagram menyajikan glamoritas, tentu saja ada kota yang mengadopsi sub-kultur menyimpang dari kota metro; distrik wilayah dengan warganya yang menolak sistem konsumerisme yang berlebih, tak lain adalah Twitter; mereka sekumpulan kelas bawah yang menuntut kebebasan yang amat bebas untuk menikmati fasilitas kota, terbebas dari jeratan stigma. Ya, mereka selalu berkicau tanpa disaring, bahasa slank dan sarkas ialah bentuk perlawanan bagi mereka. Tabiat burung biru pada umumnya.

Saya meninggalkan universe maya dan fokus mengudara di antariksa dunia nyata yang dapat dirasakan dimensi fisiknya tanpa menggunakan avatar. Namun, Ketentraman luar jaringan tidak bertahan lama, alien bernama virus meruntuhkan percepatan revolusi kebudayaan. Beberapa orang dipastikan tunduk dalam layar dan kembali menggunakan avatar mereka dengan pilihan kota masing-masing. Sialan! ini yang kami takutkan. Antar kota makin terintegrasi. Adaptasi dan replikasi sistem perkotaan tidak lagi memiliki batasan, semuanya mengabur, para warga bisa saja merekayasa identitas yang sama dengan identitas kultur pada kota yang berbeda. Warga kota Instagram terlihat maju, Facebook berisi para tetua yang mengirimkan lelucon lawas di pagi hari, kota Facebook ibarat desa konservatif yang mendewakan nilai-nilai lama. Fakta yang saya temukan, kota Instagram tak lagi menjadi kawasan elit, manusia virtual menciptakan identitas ganda dalam satu kota (second account). Akun kedua ini digunakan sebagai proteksi diri dari blamming warga kota lain, atau semacam eksistensi ekspresi sisi gelap yang lebih liar dan mirip etnis budaya warga kota Twitter.  

Bagaimana dengan konsep Metaverse? Saya tidak bisa membayangkan semisal identitas avatar saya dari masa lalu akan bertemu dengan versi avatar saya di masa sekarang. Kemudian, ada sistem otomatis yang menggerakan kesadaran mereka ketika saya tertidur pulas di semesta realita (dunia nyata). Dua universe yang akan bertabrakan dengan objek kajian yang sama; manusia si pencetus antroposentris. Selamat mengacaukan jagat maya.

Yogyakarta, 10 November 2021

Identitas Penulis

Ruly Andriansah, Antropologi 2021, mahasiswa yang menyukai bunga matahari dan aroma laut. Terkadang iseng lari pada malam hari, alasannya agar bisa mencium wujud udara serta membunuh rasa bosan.  rulyandriansah@gmail.com atau IG: @rulyandsyah