Surat Kawant: Menghapus Ruang Maya, Melepaskan Diri dari Candu Media Sosial

Dok. Pribadi

Sosial media menjadi platform yang digemari untuk “nongkrong” dalam dunia virtual. Namun, aktivitas berselancar di media sosial dalam rentang waktu yang cukup lama membuatku merasa jenuh. Hiruk pikuk jagad maya yang terbangun bisa jadi menyesatkan. Aktivitas scroll sosial media pada akhirnya berujung pada kehampaan. Sudah banyak dari kita yang merasakan kejenuhan serupa. Tetapi mengapa kita terus terikat untuk mengkonsumsinya?

Maka dari kekosongan yang dirasakan, aku memutuskan untuk rehat dari media sosial. Tidak hanya menghapus aplikasi, tetapi juga menghilangkan diriku dari dalamnya. Menghapus eksistensi diri pada ruang maya yang telah lama terbangun, setidaknya untuk sementara waktu. Mengasingkan diri dari hiruk pikuk yang aku rasa bergerak terlalu cepat dan membuat kewalahan. Keputusan ini diambil berdasarkan pemikiran matang dan mempertimbangkan segala keuntungan dan kerugiannya. Namun, langkah yang paling nyata perlu dukungan utama keberanian. Berani untuk melepaskan segala keterikatan sosial yang terbangun dalam media sosial. Berani menanggung segala ketertinggalan akan sesuatu yang aktual. Toh, berita tidak hanya dapat diakses lewat media sosial semata. Perlu keberanian besar untuk menanggalkan identitas diriku yang terbangun telah lama terbangun.

Bagi kawan- kawan, keputusanku ini tergolong tidak lazim dan nekat. Disaat media sosial menjadi ruang yang diandalkan untuk berinteraksi di tengah pandemi, tetapi aku malah memutuskan untuk keluar. Memang betul bahwa ruang sosial yang tercipta di sosial media memudahkan untuk berinteraksi. Tetapi tidak jarang juga dijadikan sebagai ajang pamer akan hubungan sosial antar teman. Kalkulasi jumlah followers dan like yang menjadi ajang gengsi. Menyuguhkan beragam hal detail tentang diri kita yang juga dapat menjadi berbahaya dan disalahgunakan. Dampak lainnya adalah energi dan pikiran yang banyak terkuras.

Berangkat dari keputusan tersebut, aku mencoba untuk membangun kebiasaan baru di dunia nyata. Waktu yang biasanya dihabiskan untuk scroll media sosial kugunakan untuk menaruh atensi lebih pada lingkungan sekitar. Nuansa alam sekitar rumah yang adem dan jauh dari kebisingan kota turut menjadi suasana yang kondusif untuk banyak berkontemplasi. Dari situ, aku mencoba untuk membangun kesadaran diri / mindfulness. Menggiati dunia peternakan, mendekatkan diri pada keluarga, membangun pendekatan terhadap diri sendiri, dan mengisi waktu dengan hobi yang berkualitas.           

Surat ini kiranya bisa menjadi mediaku untuk membagikan sedikit cerita akan pengalamanku menggiati dunia peternakan. Kurang lebih, sudah satu setengah tahun aku dan keluarga terjun ke dunia peternakan. Seringkali hewan- hewan ternak memberi pelajaran hidup lewat kelakuannya sehari- hari. “Animal behavior” yang jika dibagikan ke orang lain bikin mereka ketawa, terheran- heran, atau bahkan bikin kita sadar bahwa kelakuan binatang dan manusia kadang tidak jauh berbeda. Memperhatikan perilaku kambing yang berebut makanan, membantu mereka dalam proses lahiran, memberi mereka makan, dan lain- lain. Pengalaman ini banyak membawa pengetahuan baru bagiku. Pengetahuan akan dunia hewan dan pelajaran hidup yang dibawakan oleh hewan ternak. Kawan- kawan boleh mampir berkunjung untuk mencicipi pengalaman serupa.

Hidup terisolasi dari lingkungan sosial sebenarnya menuntutku untuk mau tidak mau berkomunikasi secara daring. Ini lah kerugian yang sudah kupertimbangkan sebelumnya. Bagaimanapun aku membutuhkan dukungan dari lingkungan sosial agar dapat tetap berada di batas aman kewarasan. Pun interaksi dengan orang- orang untuk kepentingan perkuliahan dan relasi dengan orang yang memiliki kedekatan denganku tetap harus berjalan. Oleh karenanya, platform komunikasi whatsapp tetap menemani keseharianku.

Membagikan pengalaman ini tidak berarti dijadikan sebagai ajang promosi untuk melakukan hal yang serupa. Cerita ini ingin kubagikan kepada kawan semua di luar sana yang tidak sempat silaturahmi denganku. Mengingat akun media sosialku yang tidak lagi dapat digunakan untuk berkawant. Surat ini akan ku akhiri dengan mengingatkan kawant- kawant semua bahwa ruang maya yang terbangun bisa jadi media yang membantu dalam memudahkan sosialisasi dan mengetahui informasi dengan cepat, tetapi jangan lupa imbangi dengan kesadaran yang penuh.

Dok. Pribadi
Dok. Pribadi
Dok. Pribadi

Identitas Penulis

Maria Adelina Puspaningrum (Puspa) – Antropologi 2021

Seseorang yang menerapkan gaya hidup minimalism dan slow living. Mahasiswa antropologi yang juga berkecimpung dalam dunia peternakan dan bisnis kuliner.Memiliki ketertarikan dalam dunia film, gender, dan lingkungan. Kesenangannya berwisata ke alam terbuka. Untuk sementara waktu sedang menonaktifkan sosial media. Jika ingin bersilaturahmi dapat menghubungi email adelinapuspa289@gmail.com