Kemandegan Berjalan: Reka Adegan Kentang dan Nasi

Photo by Alena Shekhovtcova from Pexels

Kerap lahir sebuah ruang yang menyajikan saut-sautan perkara kentang dan nasi, berawal dari lontaran cakap seorang remaja yang tengah berlari dalam pikirannya, sempoyongan tanpa sadar arah mata angin hingga menguap kalimat cemoohan yang tidak diiringi dengan pemetaan risiko panjang. Cemoohan tersebut bersarang di otak, dan disalurkannya melalui suara keras, yang ternyata memberi kekuasaan atas dirinya untuk melabeli orang yang ia tuju sebagai anak aneh dan kurang pintar. Tindakan mengkritisi sekotak bekal yang melukis kehangatan di muka penikmat nasi putih dengan (kentang) french fries milik teman (tidak) akrab menjadi sebuah fenomena yang mampu membersihkan kerikil-kerikil besar di atas pijakan ilmu sosial. Tidak ada yang salah dengan rasa percaya diri remaja pencemooh tersebut, bahwasanya menyantap nasi dengan french fries sebagai lauk memang tidak baik untuk kesehatan, dunia gizi telah memberikan kompromi pengetahuan ini melalui sosialisasi yang sederhana untuk dapat dipahami masyarakat, hingga anak remaja sekalipun, dengan pegangan kalimat yang cukup pendek (tetapi kuat), “nasi dan kentang, kan, sama-sama karbohidrat”, berdengung setiap saat di waktu makan yang tak jarang masih menjadi tempat terbaik untuk memamerkan pengetahuan “baru” ini. Sebuah komposisi makanan yang tidak dianjurkan, sangat benar dan sangat pintar, remaja pencemooh telah belajar banyak dari yang diharapkan oleh para ahli gizi. Hanya saja, bagian menarik baru akan disebutkan setelah kalimat ini, puncak cerita yang membuat pembaca akhirnya mendapat jawaban tentang kesinisan penulis sejak torehan kata pertama, titik yang menjadikan ruang tersebut sebagai suatu fenomena. Usai menyatakan penolakannya terhadap bekal orang lain yang mempertemukan nasi putih dengan french fries, remaja tersebut kembali ke tempat duduknya, menoleh jam dinding yang berteriak tentang sisa durasi, dan memanfaatkan tujuh menit yang dimilikinya untuk menyantap bekalnya sendiri, berisi nasi putih dengan kentang balado. Berhati-hati dan resapi sekali lagi, ia menyantap bekalnya sendiri yang berisi nasi putih dan kentang balado, selebaran perilaku yang mungkin luput dari penglihatan sekilas para penonton aksi cemoohan tadi, tanpa mereka ketahui berapa banyak cabang makna yang dapat kita tuai melalui serangkaian cerita di tengah perlawanan atas rasa lapar.

Namun, sebelum kita bertatap muka di atas kebangkitan buku yang terkubur, sepertinya akan lebih baik dan terasa melegakan apabila kita menghadiahkan prioritas pada pembahasan “posisi kentang” dalam tulisan pertama tentang mereka. Bukan seperti yang Anda pikirkan, ini bukan posisi dimana kentang diletakkan, seperti di pasar tradisional atau jajaran rak supermarket yang menorehkan harga seolah-olah value keduanya berbeda dan memaksa kentang-kentang tersebut untuk menjadi tahanan dalam penjara (ekonomi) vertikal. Namun, sebuah posisi imajiner yang menggunakan kentang sebagai tolok ukur atas segala hal besar yang mengelilinginya, sebagai cermin yang memantulkan jarak antara penguasa (kentang) yang satu dengan penguasa (kentang) yang lain. Berdasarkan catatan sejarah, kentang berasal dari lembah-lembang dataran tinggi di Chili, Peru, dan Meksiko, atau kerap juga disederhanakan sebagai Amerika Selatan sebagai wilayah besar yang melahirkan tumbuhan ini. Bangsa Spanyol dari Peru kemudian memperkenalkan kentang ke Eropa sejak tahun 1565, dan sejak itulah kentang menyebar ke negara-negara lain, termasuk Indonesia yang disebut-sebut oleh Sastrapradja dkk., (1981) mulai menghadirkan kentang pada tahun 1794 di Cimahi, Priangan, dan Gunung Tengger. Menariknya, penerimaan serta pemberian status terhadap kentang di berbagai wilayah nyatanya berbeda-beda, meski dalam pembahasan soal pangan ini akan disederhanakan menjadi dua, yakni kentang sebagai makanan pokok, serta kentang sebagai sayuran. Melalui dinamika yang tidak berhenti di satu ataupun dua tahun pertama, kentang di negara-negara luar Indonesia juga mengalami fase adaptasi yang meliputi penolakan terhadap kentang atas tuduhan racun dan kandungan yang berbahaya, penyudutan keadaan yang memaksa mereka mengonsumsi wujud baru dari pangan untuk melawan masa paceklik, serta pengambilan langkah yang tidak mudah untuk mengganti makanan pokok yang dalam jangka waktu panjang telah terekam di lidah memori mereka. Afrika menjadi contoh yang baik, sebagaimana pada abad ke-19, mereka masih memposisikan kentang sebagai sayur dan hampir jadi makanan pokok. Sementara di Indonesia, pertimbangan status kentang hingga saat ini masih menjadi debat yang seolah ditenggelamkan dalam topik pembicaraan, jelas kentang tidak punya andil kuasa sedikitpun di tengah nasi sebagai makanan pokok yang sangat dielukan. Kini tergambar dengan jelas posisi kentang di Indonesia dan luar Indonesia, harapnya tidak menjadi ambigu saat penulisan jembatan nanti dituliskan. Bukan suatu perbandingan atau penghinaan, hanya sebuah penegasan bahwa kentang di luar Indonesia yang memenangkan posisi sebagai makanan pokok ialah wujud dari kesesuaian pengetahuan gizi yang telah diimplementasikan, mereka telah berada di podium yang tepat, dalam konteks ini mereka telah selangkah lebih maju mengejar dunia modern (yang di dalamnya meliputi penerimaan pengetahuan, seperti pengetahuan gizi), sementara kentang di Indonesia masih berkecimpung dalam kombinasi yang tidak tepat dengan pencampuran nasi putih di tiap suapan.

Kembali pada kacamata yang lebih besar, fenomena anak remaja di awal yang diperkuat dengan pengulikan status kentang, ternyata membawa kita semua pada sebuah penglihatan yang lebih sempurna. Santapan nasi dan kentang balado remaja tadi telah berkontribusi dalam penebalan jembatan yang selama ini terhalangi oleh fokus perubahan yang sempit di antara maju atau mundur. Megahnya jembatan kemajuan yang mengantarkan Indonesia pada transisi kehidupan menuju modernisasi dan peningkatan kualitas pikir, ternyata di suatu waktu dapat menyisakan puing-puing kesamaran atas keutuhan daya serap pengetahuan terhadap nilai-nilai kearifan dalam dirinya. Segenggam langkah yang mendorong kita untuk maju ke depan (menuju kehidupan modern dan dalam prosesnya akan terjadi peningkatan pengetahuan) ternyata hanya mampu memberikan kita kekuatan untuk mengubah pola pikir kita terhadap suatu wujud yang letaknya memang sudah ada di depan (seperti pandangan kita terhadap cara makan french fries yang telah kita benarkan), karena hingga saat ini, kemajuan tersebut belum sanggup untuk memberikan kita keberanian untuk memperbaiki proporsi suatu wujud yang berada di sisi kita berjalan beriringan (seperti cara makan kentang balado yang salah dan belum [bahkan terkesan enggan] kita benarkan). Jembatan ini lantas memperlihatkan bahwa dalam sebuah proses yang berjalan ternyata dapat (suatu waktu) menghadirkan kemandegan yang dirangkul (cenderung disembunyikan atau dianggap tak terlihat) individu menuju pola pikir modern.

Bagaimana dan seperti apa batas-batas yang memungkinkan terjadinya kemandegan ini? Kapan “suatu waktu” itu hadir? Mengapa peningkatan pengetahuan tidak mampu memberi kita kekuatan untuk membenarkan cara makan yang salah? Pertanyaan-pertanyaan ini akan mendapatkan pencahayaan khusus dalam tulisan-tulisan berikutnya.

Referensi

Sastrapradja, Setijati; Soetjipto, Niniek Woelijarni; Danimihardja, Sarkat; Soejono, Rukmini (1981). Proyek Penelitian Potensi Sumber Daya Ekonomi: Ubi-Ubian. 7, hal. 45, Jakarta: LIPI bekerja sama dengan Balai Pustaka.

Identitas Penulis

Mutiara Cantikan – Antropologi Budaya 2020.

Dalam rangka pemeliharaan ikatan rasa antarmanusia, saya sangat menghargai efisiensi waktu, jam kerja, dan hari libur. Tidak lupa, mendirikan batasan-batasan yang sesuai porsi untuk ketenangan hati. Cenderung menghindari konfrontasi, tetapi untuk kolaborasi, silakan hubungi saya melalui email : mutiaracann@gmail.com.