Di Laut, Kita Melautkan Air Mata

Aspal panas membakar pesisir, melincinkan butir butir pasir, meneggelamkan kubangan kerbau, dan menusukkan besibesi hitam pada rahim bumi; bumi laut.”

~Ruly Andriansah

Catatan ini adalah sekian dari alasan kenapa saya menulis, berbagai persoalan yang mengigit otak saya untuk mengemasnya menjadi jurnal etnografi. Nelayan, ia seorang pria yang melautkan air mata, tatkala senja menyamarkan warna tangisnya yang merah sebelum ditelan oleh ikan marlin dan burung camar, atau menjelang malam menggiring kawanan kerbau ke kandang.

        “Ikan bakarnya sangat gurih, kalau boleh tahu bumbu rahasianya, bisa, dong, pak?”

        “Semisal ananda tahu resepnya, bukan rahasia lagi, dong, namanya?”

          Kami tertawa bersahutan dengan angin laut, menyesap kopi dan menghirup aroma yang sedikit amis dari bibir pantai beberapa saat sebelum saya berkenalan dengannya, seorang pensiunan yang memilih bekerja merawat pos polairud. Malam itu teramat syahdu karena kami menikmati hasil laut berupa ikan tongkol, kerapu, dan tentu saja pavorit saya; ikan pogot yang rasanya mirip daging ayam.

         Narasumber saya adalah seorang pria berusia 70 tahun, ia sudah sepuh, mempunyai beberapa cucu yang saya lupa jumlahnya, namun seingat saya ia  menceritakan tentang keluarganya di Jawa Timur dan tips kenapa sampai saat ini ia masih terlihat lebih muda dari usianya, serta mengapa harus memilih merantau ke Nusa Tenggara. Kami bercerita cukup lama tentang laut, bagaimana sebuah kapal Vietnam bisa terdampar di depan rumahnya; gubuk kecil yang dirakit dari papan-papan bekas. Ketika percakapan mulai agak canggung, saya menawarkan sebatang rokok namun ia menolaknya dengan halus; sudah lama berhenti, ucapnya hormat, saya lanjut mengebulkan asap dengan nikmat sebelum dua pria paruh baya lainnya datang dari arah utara, mereka menghampiri kemudian mengambil posisi di sebelah kami.

          Nah, sekarang sudah melingkar saatnya dongeng berputar.

         Seorang laki-laki yang sedari tadi saya perhatikan cara berjalannya, maaf, agak pincang membuka suara. Ia berkisah tentang kesehariannya sebagai nelayan, sebagian kisahnya sangat menyentuh, sisanya lagi terdengar aneh; ia mengaku pernah berjumpa dengan sosok perempuan yang diyakini orang-orang sebagai putri duyung, hal ini juga dibenarkan oleh kawan saya yang ternyata sudah ikut nimbrung bersama kami, saya tidak menyadari kehadirannya karena asyik mendengarkan. Suatu waktu, ketika kawan saya ini yang berstatus anggota polri ikut berpatroli di perairan teluk Saleh; teluk terbesar pulau Sumbawa; dalam sebuah operasi, kapal mereka tiba-tiba berhenti, lalu ada suara longlongan dari tengah laut, kemudian komandan kapal segera menyorotinya dengan senter; sosok perempuan berambut panjang berbadan ikan tersenyum ke arah mereka, berbekal kepercayaan lama, komandan polisi itu langsung melempar koin dan seketika mesin kapal langsung menyala. Laut memang aneh. Kawan saya menutup kesaksiannya.

            Kami berlima cukup saling memasuki, api unggun telah padam menyisakan abu dan tulang ikan. Akan tetapi dari sekian cerita yang terlontar, ada satu hal yang masih mengusik benak saya, di akhir kalimat nelayan itu menuturkan, kira-kira begini,

          “Mungkin selepas perjamuan ini, kita tidak akan memiliki banyak waktu untuk bercengkrama. Saya bisa saja berhenti menjadi nelayan, sebab aspal sudah membentang sepanjang pantai, kerbau-kerbau kami tak lagi memiliki tempat berkubang hanya menyisakan tempat kami berkabung, perahu layar kami juga harus karam sebelum berlayar, banjir  sudah mulai mengintai. Ya, beginilah, toh juga, rossi sudah pensiun, tak ada lagi alasan untuk menonton moto GP.”

       Nelayan pincang itu tertawa sebelum tangisnya mereda dihanyutkan oleh laut.

Yogyakarta, 31 Oktober 2021

Identitas Penulis

Ruly Andriansah, seorang mahasiswa Antropologi Budaya angkatan 2021 yang menyukai bunga matahari dan aroma laut. namun akan sedikit mual jika terlalu banyak mengonsumsi makanan manis. Baru berani menulis setelah lama berkontemplasi; perkara pertarungan kesiapan melepas karya. Terkadan iseng lari pada malam hari, alsannya agar bisa mencium wujud udara serta membunuh rasa bosan. Segumpal daging ini bisa diajak berkicau di rulyandriansah@gmail.com atau IG: @rulyandsyah.