Rumah Tua dan Sanggah Dadia Parisentana Gusti Celuk Tosning Arya Kepakisan, Desa Munduk

Sumber foto dari dokumentasi pribadi

Aku terbangun dari tidur lelapku dan mendapati diri setengah sakit kepala karena cahaya matahari yang memaksa menyelinap lewat pepohonan yang bergerak cepat melalui jendela. Mobil yang sedang dikendarai Bapak berjalan dengan sangat cepat; Bapak tidak pernah mengendarai mobil dengan tenang ketika bepergian jauh. Ia selalu berkata, “2 jam perjalanan adalah waktu yang lama, biar kita sempat sembahyang di Sanggah.

Semasa aku kecil, aku tidak pernah mengerti mengapa aku harus menyempatkan hari liburku untuk, yang disebut orang kota sebagai, pulang kampung – paling tidak dua kali dalam setahun setiap Hari Raya Galungan dan Kuningan. Berjarak hampir 90km dari Kota Denpasar, jalanannya berliku dan curam karena secara geografis terletak di tengah-tengah Kabupaten Buleleng yang merupakan kawasan dataran tinggi. Ini juga menjadi alasan dari migrainku selama perjalanan; selain pada fakta bahwa aku sibuk memikirkan apa yang harus kulakukan di tengah gubuk tua tanpa sinyal itu. Bapak dan kedelapan saudaranya menyebut gubuk tua itu sebagai Rumah Tua, sebuah rumah bergaya Belanda di pinggir Jalan Munduk – Wanagiri.

Sejauh yang bisa kuingat, aku pertama kali mendatangi rumah itu pada tahun 2005, saat aku masih berusia tiga tahun, bertepatan dengan berpulangnya Wak (kakak dari Bapak) sehingga harus mengikuti upacara Ngaben massal yang konon kerap dilakukan oleh Desa Munduk setiap beberapa tahun sekali. Rumah Tua saat itu adalah sebuah rumah yang dipoles cat putih, baik dari sisi luar maupun dalam. Rumah yang dihiasi kusen-kusen kayu yang dicat putih pada bagian luar dan yang dibiarkan berwarna naturalnya pada bagian dalam rumah. Tak lupa dihiasi keramik bermotif kembang dan beberapa dengan pola-pola mozaik tak beraturan. Ada banyak juga hiasan dan furnitur yang unik, seperti beberapa patung-patung (entah itu figur apa, tetapi terlihat seperti peranakan barong dan naga) yang diletakkan di sudut-sudut ruang utama, sofa dan meja kayu, sampai hiasan-hiasan yang kerap digunakan untuk tradisi Makepung (seperti Karapan Sapi di Madura) yang bahkan sampai detik ini Bapak pun tidak tahu hiasan itu didapat oleh siapa dan dari mana. Tidak banyak yang berubah sampai detik ini, hanya beberapa peletakan furnitur yang dirombak setiap saatnya – menyesuaikan kebutuhan upacara yang kadang kala memerlukan ruangan utama sebagai tempat pelaksanaannya.

Bicara soal upacara, aku sempat menyebutkan soal Sanggah pada bagian awal. Ya, komponen rumah Orang Hindu-Bali yang vital. Sanggah di Rumah Tua adalah “Rumah” spiritual bagi Dadia (sekelompok kekerabatan dari garis patrilineal) kami yang terletak di sebelah utara Rumah Tua. Semasa kecil, aku melihat Sanggah Dadia keluargaku sebagai tempat sembahyang yang kuno – sebuah tempat sembahyang yang usang, berlumut, reot, dan rapuh; tetapi aku tetap melihatnya sebagai ruang yang pusaka, sakral, dan karismatik. Dulu, Sanggah keluargaku juga bertembok putih seperti Rumah Tua; walaupun pada beberapa bagiannya sudah terkelupas dan temboknya kasar bertekstur. Aku juga ingat Sanggah ini diposisikan sedikit lebih tinggi dari tanah dasar Rumah Tua, sehingga butuh beberapa anak tangga untuk mencapainya – walaupun permukaan tangganya selalu licin dan tingginya tidak teratur.

Semasa aku kecil, aku selalu melihat Rumah Tua dan Sanggah Dadia hanya sebatas Kampung. Tempat yang kudatangi setiap kali ada upacara adat penting seperti Hari Raya Galungan maupun upacara berduka seperti Ngaben. Tempat yang dingin dan lembap. Tempat yang besar, tetapi hampa. Namun, sebaliknya aku juga melihat tempat ini sebagai alasan terkuat semangatnya sepupu-sepupuku untuk berkumpul dan bercengkrama, atau bertemu dengan dadia yang bahkan beberapa belum pernah ku kenal. Akan tetatpi, seiring berjalannya waktu, aku mulai paham alasan Bapak selalu menyempatkan waktunya untuk mengunjungi Rumah Tua – untuk pulang. Bapak selalu mengatakan: “Rumah Tua adalah martabat tunggalan [trah] keluarga kita. Rumah Tua adalah rumah kita, jadi kita punya kewajiban untuk selalu menjaganya dengan baik. Hanya karena namanya “Rumah Tua”, bukan berarti rumah itu harus dibiarkan tua.”

Dengan tekad Bapak untuk selalu menjaga Rumah Tua dan Sanggah Dadia, Bapak (dengan profesinya sebagai arsitek) akhirnya memutuskan untuk merenovasinya secara bertahap. Sanggah Dadia hari ini sudah jauh berbeda dari semasa aku kecil. Sanggah ku sekarang bertingkat, di mana pada lantai dasarnya difungsikan sebagai Balai Serba Guna dan lantai atas ditata sebagai Sanggah atau tempat sembahyang itu sendiri. Sanggah ku sekarang megah, walaupun Bapak kembali membiarkannya berlumut untuk menambah kesan kuno, tetapi paling tidak sudah jauh lebih rapi dan tidak kalah karismatik dari yang terdahulu. Di samping itu, Rumah Tua masih sama seperti pertama kali aku berkunjung, meskipun kini sudah terlihat jauh lebih rentan dan tua. Aku tidak takut Rumah Tua akan menjadi terabaikan, karena ambisi Bapak untuk “memudakan” nya kembali masih tertanam subur di benaknya. Semua yang Bapak lakukan hari ini berpusat pada Rumah Tua. Sebuah cita-cita yang masih terjahit pada visi Bapak, karena Bapak ingin anak-anak dan keponakannya pulang ke Rumah dengan bangga. Begitulah caraku memaknai perjalanan 90km ini kini, meskipun tetap migrain. Ketika mobil yang dikendarai Bapak semakin perlahan. Ketika aku akhirnya menginjakkan kakiku di depan Rumah Tua sekarang, memaknainya sebagai ruang penuh cerita.

Identitas Penulis

Seorang perempuan kelahiran Bali yang mengiris benalu lubuknya lewat tumpahan frasa. Seorang mahasiswa pembelajar manusia yang juga tengah mencari dirinya melalui definisi-definisi sejenisnya. Seorang penggemar kata-kata dan pencerita sejak 2013.