Emit, Project, Perform!: Sebuah Seruan dan Ajakan

Tulisan ini akan dimulai dengan sebuah pertanyaan yang selalu membuat saya berpikir keras setiap kali ada yang menanyakannya: “Antropologi belajar apa?”

            Kawant-kawant Antropologi tentu saya rasa sudah tidak asing lagi dengan pertanyaan tersebut, yang saya yakin akan terlempar setiap kali seseorang bertanya “Kuliah apa mase, mbake?” Seakan sudah hukumnya, mempertanyakan akan jadi makhluk seperti apa lulusan dari prodi arkeo-, eh, astro-, eh, antropo- apalah itu.

            Untuk menjawab pertanyaan tersebut, biasa saya tak berpikir panjang dan dengan mudah “wah, jadi apa saja bisa.” Toh, mereka biasanya hanya berbasa-basi. Tetapi, bagi kita-kita yang berada dalam prodi tersebut, hal itu bukanlah sebuah basa-basi, melainkan sebuah pertanyaan yang harus kita bahas dan seriusi: Jadi apa kita setelah lulus nanti?

            Ternyata pertanyaan demikian tidak hanya dipertanyakan oleh calon mahasiswa baru, saudara yang kepo, atau penjual ketoprak di pujasera yang sedang berusaha bersikap ramah dengan berbincang-bincang kecil, tetapi juga dipertanyakan ahli-ahli antropologi terkemuka dunia, bahkan di Britania Raya, Amerika Serikat, dan pusat-pusat keilmuan lainnya.

            Menurut hemat saya, krisis identitas di dalam tubuh mahasiswa antropologi dapat diatribusikan kepada contoh-contoh antropologi yang digunakan dengan konteks dunia yang lebih luas saat ini. Masa-masa kolonial yang mempertemukan manusia “modern” dengan manusia “tradisional” sudah lama lewat. Kita tidak lagi dikirimi cerita-cerita romatis mengenai daerah-daerah adat yang baru ditemukan oleh para petualang melalui merpati putih pembawa surat. Hari ini, kita lebih senang membicarakan bagaimana kita bisa ber-aksi: Bagaimana cara kita meningkatkan literasi dari Sabang sampai Merauke? Bagaimana cara kita bisa membuat sistem rekrutmen perguruan tinggi negeri yang lebih adil? dan bagaimana-bagaimana yang lain.

            Pertanyaan-pertanyaan ini tentu bertabrakan secara langsung dengan antropologi yang kita kenal melalui buku-buku yang sudah lalu: seorang antropolog adalah seseorang yang dengan telaten, tekun, dan rajin, mengamati, mencatat, dan mengambil ilmu.             Mari kita teliti.

Antropologi: Apa yang sedang kita pelajari?

Jadi, sebenarnya apa yang kita pelajari?

            Pertanyaan tersebut dapat dijawab dengan mudah oleh anak-anak akuntansi, ekonomi, bahkan sastra, tapi tidak demikian dengan para mahasiswa antropologi. Seperti yang dinyatakan Stocking dalam tulisan Silitoe (Sillitoe, 2007):

‘The boundaries of anthropology have always been problematic – more so, one suspects, than those of other social science disciplines or discourses. Never, however, so problematic as they are today’

(2001: 305)

Dari pernyataan tersebut dapat dipahami bahwa, boro-boro membahas lulusannya dapat berbuat apa, antropologi sebagai sebuah ilmu saja masih samar-samar. Apa yang dipahami sebagai antropologi? Apa yang bukan? Belum ada konsensus soal hal tersebut sampai sekarang.

            Lebih jauh, Stocking memberikan sebuah proposal: Apakah mungkin membangun sebuah disiplin yang mencakup ilmu yang sebegitu luasnya, bahkan menjadi “ilmu mengenai manusia? (Stocking, 2001, dalam Sillitoe, 2007)

            Sarah Pink dalam bahasan Sillitoe memberikan sebuah alternatif dari pengertian ilmu “holis” tersebut, adalah menjauhkan diri dari terburu-buru meng-“esensialisasi”-kan antropologi, melainkan memberikan definisi terhadap antropologi berdasarkan  “sebuah tipe pendekatan, paradigma, atau paket ide-ide yang menginformasikan pemahaman kita”, yang melibatkan “cara mengonstruksi dan menganalisis sebuah masalah, membuat dan meninjau bukti-bukti secara kritikal dan merefleksikan diri pada konteks-konteks kultural dan sosial secara luas.” Pemahaman Pink memberikan akses kepada sebuah ruang yang selama ini seakan terkunci kepada para pembelajar antropologi: Transdisiplinaritas.

Membuka Antropologi Kepada Dunia

Sebelum kita memahami sebuah ilmu secara dalam, kita harus merefleksikan diri terlebih dahulu: Dari posisi apa kita melihat tradisi-tradisi keilmuan ini?

            Tanpa berpikir panjang kita akan menemukan berada dalam lingkungan keilmuan yang sangat terpecah-belah. Fakultas-fakultas dan departemen-departemen secara aktif memisahkan kita dari melintasi batas-batas disipliner yang menjadi sangat problematik bagi Ilmu Antropologi yang sangat luas. Efek silo ini dipelajari lebih dalam oleh Gillian Tett, seorang antropolog finansial dari Cambridge, dan menmberikan motif bagi dirinya untuk meninggalkan Antropologi akademik setelah mendapat gelar PhD dari Cambridge.

            Tett merasakan bahwa tradisi-tradisi akademik Antropologi secara langsung berkontribusi pada “bunuh diri intelektual” dalam Antropologi (Tett, dalam McKenna, 2011). Tett secara pribadi merasa bahwa dunia akademik butuh berinteraksi lebih banyak dengan dunia secara lebih luas (McKenna, 2011). Hal ini dapat dipahami menggabungkan antropologi dengan berbagai ilmu lain, bagai garam yang menyedapkan segala masakan, bisa dengan matematika, teknik, enjiniring, ekonomi, manajemen, akuntansi, filsafat, bahkan sistem informasi, menciptakan sebuah komunitas akademik yang transdisiplin. Ketika kita berani membuka pikiran dan kemauan diri sendiri, lepas dari sistem-sistem yang terbukti merugikan diri kita dan komunitas akademik kita, ada kesempatan tidak terbatas untuk dimanfaatkan.

Tantangannya, saat ini, para antropolog dilatih untuk menyerap informasi, bukan menyebarkannya. Hal ini tentu tidak berkelanjutan untuk kebaikan ilmu, atau orang-orang penganutnya, sendiri. Di masa-masa ini, mereka harus menyebarkan pengetahuan yang dimiliki, atau singkatnya: Emit, Project, Perform (Tett dalam McKenna, 2011).

Emit, Project, Perform!

Ketika kita meninggalkan konsep-konsep tradisional mengenai apa itu antropologi dan apa yang ia pelajari, kita akan mulai melihat guna aplikatif antropologi di manapun kita berada. Seperti sebuah kacamata, perspektif dan cara seorang antropolog melihat dunia bersifat unik dan transformatif. Namun, apa guna ilmu dan perspektif ketika tidak kita bagikan? Emit, atau pancarkan adalah tahap pertamanya.

            Sebagai seorang antropolog, setiap dari kita memiliki keahlian dalam menemukan hal-hal kecil yang berdampak signifikan secara kultural. Agar signifikansi tiap hal tersebut disadari dan menjadi dasar aksi yang lebih besar, tentu kita harus membagikan apa yang kita ketahui. Namun, hal ini membutuhkan usaha dari kita, yaitu Project.

            Hari ini, setidaknya dari yang saya lihat dari teman-teman seangkatan saya, banyak yang mengambil posisi defeatist dan menyerahkan diri pada keadaan, hanya sebagai penonton dan komentator ketika fenomena-fenomena kultural besar terjadi. Hal ini tidak membantu. Di tengah dunia yang berkembang semakin cepat, semua rumpun ilmu bersaing untuk mendapatkan sumber daya manusia berupa calon mahasiswa terbaik serta atensi baik dari komunitas akademik ataupun awam, dan dibutuhkan jiwa yang kompetitif untuk bisa memenangkan persaingan tersebut. Para antropolog harus dengan kuat dan yakin memproyeksikan diri mereka sendiri ke dalam budaya secara luas. Apabila memang antropologi adalah ilmu yang sepenting itu untuk anda pelajari selama bertahun-tahun, mengapa tidak membuktikan signifikansinya kepada dunia? Kembali lagi, masalahnya adalah saat ini dunia sedang tidak mendengarkan kita. Maka, Perform menjadi kuncinya.

            Sekali-dua kali dalam ribuan kesempatan, dunia akan memberikan kesempatan bagi kita untuk membuktikan kemampuan kita. Kepiawaian kita dalam memahami, memodifikasi, dan mengonstruksi budaya. Ketika kesempatan tersebut datang, ambillah! Mungkin kesempatan tersebut dapat terlihat kecil pada awalnya, misal jabatan sebagai peneliti UX di sebuah start-up baru, analis HR di sebuah perusahaan besar, atau bahkan anggota “pelengkap” di sebuah proyek PKM. Tetapi, seringkali kita tidak akan tahu kapan kesempatan besar itu akan datang, atau dalam bentuk apa dia akan datang. Maka untuk menjawab ini, saya katakan: Cobalah!

            Jangan terlalu banyak memikirkan dan sibuk mereproduksi stereotip dan anggapan-anggapan yang sudah ada mengenai seperti apa antropologi dan mahasiswanya. Pada akhir hari, ilmu dibentuk oleh manusia dan manusia dibentuk oleh ilmunya dalam sebuah usaha dan rangka yang dialektik, bukan satu arah.            

Antropologi adalah milik kita semua, dan kita semua adalah antropolog.

Referensi

McKenna, B. (2011, Februari). Bestselling Anthropologist “Predicted” Financial Meltdown of 2008. Society for Applied Anthropology, 22(1).

Sillitoe, P. (2007). Anthropologists only need apply: Challenges of applied anthropology. Journal of the Royal Anthropological Institute, 13(1), 147–165. https://doi.org/10.1111/j.1467-9655.2007.00418.x

Identitas Penulis

Cornelius Prabhaswara Marpaung adalah mahasiswa Program Pendidikan S1 Antropologi Budaya Universitas Gadjah Mada, Angkatan 2020. Cornelius memiliki ketertarikan kepada Antropologi Terapan, khususnya aplikasi pengetahuan Antropologi dalam penyusunan kebijakan publik, pendidikan tinggi, bisnis, manajemen, dan bisnis berkelanjutan. Saat ini Cornelius aktif sebagai anggota dari Keluarga Mahasiswa Antropologi UGM, UGM ASEAN Society, Unit Penalaran Ilmiah “Interdisipliner” UGM, dan sebagai Junior Member ShARE Universitas Gadjah Mada. Kunjungi Cornelius di Linkedin.com/in/corneliuspm, atau Twitter @cpmarpaung.