Representasi Patron & Klien Dalam Biennale Jogja XV 2019

Tiara Putri Ramadanti

Photo by SevenStorm JUHASZIMRUS from Pexels

Sebelum menelisik lebih dalam, mari cari tahu bersama tentang apa itu Biennale Jogja. Biennale Jogja (BJ) adalah salah satu acuan utama dalam meninjau perkembangan seni rupa Indonesia. Sejarah kegiatan seni rupa dapat ditelusuri sejak penyelenggaraannya yang pertama pada 1988 di Yogyakarta. Selama lebih dari dua dasawarsa, rangkaian pameran BJ telah memberikan dampak pada munculnya karya-karya, sosok seniman dan wacana yang mewarnai perkembangan seni rupa kontemporer di Indonesia dan Yogyakarta khususnya.

Biennale Jogja diselenggarakan oleh Yayasan Biennale Jogja yang berdiri pada 23 Agustus 2010 dengan misi untuk menginisiasi dan memfasilitasi berbagai upaya mendapatkan konsep strategis perencanaan kota yang berbasis seni-budaya, penyempurnaan blue print kultural kota masa depan sebagai ruang hidup bersama yang adil dan demokratis. YBY juga berfokus pada pengembangan dan pengelolaan kekayaan budaya sebagai upaya untuk membangun dan mengoptimalkan seluruh potensi kreativitas dari manusia-manusia pencipta karya budaya maupun pemanfaatan seluruh aset budaya yang telah ada di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.

Melihat begitu kompleksnya fokus YBY dalam mengelola acara Biennale ini, tentu saja tidak terlepas dari bantuan pihak lain. Adil dan demokratis—katanya. Membaca adanya kata “Demokratis” dalam narasi misi Yayasan Biennale Jogja langsung mengarahkan saya berpikir tentang bentuk demokratis seperti apa yang dimaksud. Apakah keterlibatan masyarakat atau bantuan dari pihak lain yang sudah saya singgung di awal cukup mampu membuatnya pantas disebut demokratis?—mungkin, namun jika membahas tentang bagian yang Adil, nampaknya agak sukar. Saya berusaha merangkum perspektif yang dihasilkan dari kunjungan pribadi saya ke tiga instalasi seni Biennale di adakan. Taman Budaya Yogyakarta, Jogja National Museum, dan Kampung Ketandan agaknya mampu menunjukkan bahwa acara sebesar Biennale Jogja XV Equator #5 ini tidak terlepas dari peran volunteer. Terdapat 55 Penjaga Pameran, 15 LO Seniman Asean, 6 LO Seniman Indonesia, 10 Media / Penulis / Merchandise, dan 8 Hospitality yang tersebar di berbagai lokasi instalasi seni Biennale diadakan. Lalu bagaimana bisa gambaran patron klien muncul dalam bidang seni semacam ini? Jangan salah—ada sistem kerja yang menunjukkan lakon patron klien berperan penting.

Hubungan Patron-Klien

Istilah ‘patron’  berasal dari ungkapan bahasa Spanyol yang secara etimologis berarti ‘seseorang yang memiliki kekuasaan (power), status, wewenang dan pengaruh’,  sedangkan klien berarti ‘bawahan’  atau orang yang diperintah dan yang disuruh (Usman, 2004:132). Teori ini hadir untuk menjelaskan bahwa di dalam sebuah interaksi sosial—termasuk pameran karya seni, masing-masing aktor melakukan hubungan timbal balik. Hubungan ini dilakukan baik secara vertikal (satu aktor kedudukannya lebih tinggi) maupun secara horizontal (masing-masing aktor kedudukannya sama). Dalam persoalan patron-klien dalam Biennale ini, menurut saya merujuk kepada hubungan patron-klien yang bersifat vertikal antara si kurator dan volunteer.

Dalam memahami hubungan patron klien, ada satu hal penting yang mendasari hubungan ini. Hubungan patron kilen berawal dari adanya pemberian barang atau jasa dalam berbagai bentuk yang sangat berguna atau diperlukan oleh salah satu pihak, sementara bagi pihak yang menerima barang atau jasa tersebut berkewajiban untuk membalas barang tersebut (Scott: 1992, 91-91, dalam Pahrudin: 2009). Dalam patron klien, hubungan dibangun tidak berdasarkan pemaksaan atau kekerasan. Hubungan ini identik terjadi dalam bentuk hubungan pertemanan atau hubungan yang sama-sama menguntungkan (simbiosis mutualisme).

Padahal jika diperhatikan secara lebih mendalam mengenai hubungan patron-klien akan ditemukan sebuah kenyataan bahwa bukankah hubungan tersebut tidak akan terjadi kalau masing-masing pihak yang terlibat tidak diuntungkan. Atau dalam ungkapan lain dapat dikatakan bahwa hubungan semacam ini dapat terus berlangsung dalam kurun waktu yang lama karena para pelaku yang terlibat di dalamnya mendapatkan keuntungan. Dalam buku yang di tulis oleh Heddy Shri Ahimsa-Putra, saya juga mendapatkan penjelasan mengenai hubungan patron-klien yang nampaknya juga saya temukan dalam pameran Biennale ini. Dari beberapa penjelasan mengenai hubungan patron-klien, menurut saya penjelasan dari James C. Scott adalah yang paling sesuai dengan konteks tulisan ini, ia mengatakan bahwa hubungan patron-klien adalah

“… a special case of dyadic (two person) ties, involving a largely instrumental friendship in which an individual of higher socioeconomic status (patron) uses his own influence and resources to provide protection or benefits or both, for a person of a lower status (client) who for his part reciprocates by offering general support and assistance, including personal services, to the patron” (1972: 92)

Agar hubungan ini dapat berjalan dengan mulus, diperlukan adanya unsur-unsur tertentu di dalamnya. Unsur pertama adalah bahwa apa yang diberikan oleh satu pihak adalah sesuatu yang berharga di mata pihak yang lain, entah pemberian itu berupa barang ataupun jasa dan bisa berbagai ragam bentuknya. Dengan pemberian ini pihak penerima merasa mempunyai kewajiban untuk membalasnya, sehingga terjadi hubungan timbal-balik, yang merupakan unsur kedua dalam relasi patron-klien.

Adanya unsur timbal-balik inilah, kata Scott, yang membedakannya dengan hubungan yang bersifat pemaksaan (coercion) atau hubungan karena adanya wewenang formal (formal authority). Selain itu hubungan patronase ini juga perlu didukung oleh norma-norma dalam masyarakat yang memungkinkan pihak yang lebih rendah kedudukannya (dalam hal ini adalah si volunteer sebagai klien) melakukan penawaran, artinya bilamana salah satu pihak merasa bahwa pihak lain tidak memberi seperti apa yang diharapkannya, dia dapat menarik diri dari hubungan tersebut tanpa terkena sanksi samasekali. Lebih jauh Scott juga mengemukakan bahwa hubungan patronase ini mempunyai ciri-ciri tertentu yang membedakannya dengan hubungan sosial lain. Pertama, yaitu terdapatnya ketidaksamaan (inequality) dalam pertukaran; kedua, adanya sifat tatap-muka (face-to-face character), dan ketiga adalah sifatnya yang luwes dan meluas (diffuse flexibility).

“… there is an imbalance in exchange between the two partners which expresses and reflects the disparity in their relative wealth, power and status. A client, in this sense, is someone who has entered an equal exchange relation in which he is unable to reciprocate fully. A debt of obligation binds him to the patron.” (1972:93)

Letak Patron-Klien Dalam Biennale

Acara Biennale yang bertaraf internasional ini tentu saja membutuhkan banyak bantuan dari pihak lain. Selain ada pendukung utama, mitra media, dan venue, Biennale juga tidak bisa menghiraukan peran para volunteer terhadap kesuksesan acara ini. Sempat saya sebutkan di awal, terdapat 55 Penjaga Pameran, 15 LO Seniman Asean, 6 LO Seniman Indonesia, 10 Media / Penulis / Merchandise, dan 8 Hospitality yang tersebar di berbagai lokasi instalasi seni Biennale diadakan. Dalam perihal ini, saya akan membahas representasi patron-klien antara tim kurator Biennale dengan volunteer divisi exhibition guide atau penjaga pameran sesuai dengan hasil wawancara atau perbincangan dengan beberapa exhibition guide pada kunjungan ketiga saya di Biennale JNM.

Exhibition guides and demonstrators help to educate visitors about a particular place or object. It is their role to bring to life a certain scenario or item, and to put it into the relevant context (Creative & Cultural Skills, 2019).

Mari kita sebut saja si exhibition guide berfungsi sebagai muka dari pameran itu sendiri. Pasalnya banyak pengunjung yang tidak segan-segan mengajukan beberapa pertanyaan kepada exhibition guide dengan harapan mendapatkan penjelasan tentang suatu karya yang ia tanyakan. Melalui jawaban yang dilontarkan oleh si exhibition guide, akan nampak seberapa luas informasi yang dimilikinya terkait karya yang sedang dipamerkan—cukup krusial ya.

Untuk bisa ikut andil dalam acara Biennale ini khususnya menjadi seorang exhibition guide tentu telah melalui sistem seleksi hingga memasuki tahap lolos. Pada tahapan seleksi ini, representasi patron-klien belum terlihat, gambaran relasi ini nampak ketika muncul nama-nama yang sudah pasti menjadi volunteer dalam acara Biennale ini.

Jangan lupa, di dalam patron klien hubungan dibangun tidak berdasarkan pemaksaan atau kekerasan. Sehingga volunteer bebas ingin masuk ke dalam divisi kerja apapun, asalkan sesuai dengan persyaratan yang ada untuk lanjut ke tahap berikutnya. Hubungan ini identik terjadi dalam bentuk hubungan pertemanan atau hubungan yang sama-sama menguntungkan.

Saling menguntungkan—mungkin itulah kata yang sesuai untuk menggambarkan relasi yang satu ini. Volunteer dan tim kurator sama-sama diuntungkan dalam simbiosis mutualisme yang ada. Pasalnya tim kurator yang hanya beranggotakan tiga orang yaitu Arham Rahman, Akiq AW, dan Penwadee Manont mustahil bisa melakukan semua urusan mulai dari menjadi penjaga pameran, LO seniman, media, penulisan, merchandise, hingga hospitality tanpa bantuan dari volunteer.

Lalu apa yang didapatkan Volunteer khususnya Exhibition Guide? Sebagaimana yang kita ketahui, unsur pertama dalam relasi patron-klien ini adalah apa yang diberikan oleh satu pihak adalah sesuatu yang berharga di mata pihak yang lain. Mengacu pada pernyataan tadi, tentu saja pihak kurator Biennale sudah melakukan penawaran tentang sesuatu yang berharga kepada volunteer hingga si volunteer tersebut rela mengikuti tahapan seleksi sampai dinyatakan lolos.

Uang sebagai gaji?—tak hanya sebatas materi, beberapa exhibition guide yang sempat saya wawancarai mengaku bahwa dengan menjadi volunteer dalam acara Biennale ini banyak pengalaman dan pembelajaran yang diambil. Memperluas relasi dalam acara bertaraf internasional juga sempat terucap. Selain itu, ternyata ada kesamaan jawaban dari kedua narasumber saya, mereka berdua sama-sama mahasiswa tingkat akhir dan merasa dengan menjadi seorang volunteer di divisi exhibition guide mampu mengisi waktu luangnya.

Unsur yang tak kalah penting dari sebuah pemberian barang berharga adalah adanya rasa timbal-balik yang juga berperan besar dalam hubungan patron-klien antara tim kurator dan volunteer. Adanya unsur timbal-balik inilah, kata Scott, yang membedakannya dengan hubungan yang bersifat pemaksaan (coercion) atau hubungan karena adanya wewenang formal (formal authority).

Memang hubungan timbal-balik yang berjalan terus dengan lancar akan menimbulkan rasa simpati (affection) antar kedua belah pihak, yang selanjutnya membangkitkan rasa saling percaya dan rasa dekat. Menurut pengakuan narasumber saya, Agung—pria yang sedang berkuliah semester lima di Universitas Sanata Dharma itu kerap kali berkoordinasi dengan tim produksi, walaupun posisinya dalam acara Biennale ini adalah sebagai exhibition guide, karena relasi yang terjalin dengan baik dan berjalan lancar maka muncul rasa saling percaya dan rasa dekat di antara mereka, hingga akhirnya Agung dipercaya untuk menjadi koordinator volunteer di Jogja National Museum. Meskipun begitu, peran Agung sebagai koordinator volunteer di JNM sering diremehkan oleh rekan sedivisinya, menurutnya hal itu terjadi karena posisi mereka yang sama-sama berasal dari ke-volunteer-an.Menurut saya hal ini justru memperkuat stigma adanya keterikatan antara patron dan klien tidak bisa dilakukan melalui sebuah perantara.

Dengan adanya rasa saling percaya ini seorang klien (volunteer) dapat mengharapkan bahwa si patron (kurator) akan membantunya jika dia mengalami kesulitan, sebaliknya si patron juga dapat mengharapkan dukungan dari klien apabila suatu saat dia memerlukannya. Pasti kita sudah tidak asing lagi dengan istilah “Close Recruitment”. Menurut saya hubungan yang bisa dihasilkan ketika event Biennale selesai adalah pihak penyelenggara (YBY) akan mudah merangkul lagi para volunteer baru untuk acara selanjutnya dengan melakukan Close Recruitment terhadap volunteer lama yang dianggap layak untuk diajak bekerja sama lagi. Hubungan ini tentunya bisa dibilang saling menguntungkan sesuai dengan prinsip relasi patron-klien.

Dengan demikian walaupun hubungan ini bersifat instrumental, di mana kedua belah pihak memperhitungkan untung-rugi dari hubungan tersebut bagi mereka, namun ini tidak berarti bahwa relasi tersebut netral sama sekali. Unsur rasa masih terlibat juga di dalamnya. Adanya sifat tatap-muka dalam hubungan ini, serta terbatasnya sumber daya si patron (kurator), membuat jumlah hubungan yang dapat digiatkannya menjadi hubungan patronase lebih terbatas pula. Berikut, saya mencoba untuk mengilustrasikan hubungan patron-klien yang ada di antara kurator dan volunteer.

Kinerja Exhibition Guide

Meskipun sudah terikat dalam relasi patron-klien, tidak jarang ada beberapa exhibition guide yang menurut saya tidak menunjukkan performa terbaiknya. Saya sudah mengunjungi instalasi Biennale di tiga lokasi, yaitu Taman Budaya Yogyakarta, Jogja National Museum, dan Kampung Ketandan. Masing-masing dari instalasi seni tersebut menghadirkan peran exhibition guide yang berbeda-beda, bermula ketika saya mengunjungi JNM untuk pertama kalinya, respon exhibition guide yang ada di sana tidak patut di acungi jempol, kecuali penjaga daftar hadir yang menyiratkan senyum tipis kepada saya dan beberapa teman lainnya. Namun semakin saya meyusuri setiap ruangan, kehadiran exhibition guide itu semakin kabur—tidak jelas. Bahkan ada yang asyik mengobrol dengan kawannya di depan instalasi tanpa peduli akan kehadiran pengunjung.

Berlanjut dengan kunjungan saya di Taman Budaya Yogyakarta—sama saja, bahkan di sini mereka duduk mengelilingi meja kotak dan mengobrol bersama, hanya tersisa satu wanita penjaga daftar hadir yang siap menyambut kami di awal gerbang. Sampai akhirnya ada seorang pria yang mengahampiri kami dan menawarkan beberapa lagu lawas untuk diputar dan dinyanyikan bersama agaknya tempat karaoke—menurut saya ini cukup membantu, ya walaupun ia tidak menjelaskan apa makna instalasi seni ini tapi setidaknya sudah merespon kehadiran pengunjung.

Berbeda ketika saya mengunjungi instalasi seni Khonkaen Manifesto’s di Kampung Ketandan, ibaratnya ada dua sisi yang ditampilkan oleh exhibition guide di sini. Terdapat dua wanita, yang satu menyambut kami dengan kalimat khas yang selalu diucapkan penjaga daftar hadir—“Mari kak, diisi dulu daftar hadirnya”—terdengar familiar. Sedangkan yang satu—tertidur pulas di bawah meja. Apakah sebuah kesalahan mengunjungi instalasi seni di siang hari? Sehingga fenomena yang saya dapatkan adalah sepasang exhibition guide yang bertugas secara pincang? Yang satu tersenyum menyambut kami, sedangkan satu lainnya sibuk merengganggkan otot tegangnya. Tepat sekali—Biennale mengangkat tema “Pinggiran” dalam setiap instalasi seninya, dan si exhibition guide yang tertidur saat jam kerja di bawah meja beralaskan banner putih itu nampaknya juga sedang merepresentasikan kata “Pinggiran”. Melalui tiga kunjungan saya di atas, bisa saya asumsikan bahwa klien (volunteer) dalam relasi patron-klien ini tidak selalu sesuai berada pada posisi dan kewajiban yang seharusnya dijalankan, selain itu tidak ada pengawasan dari pihak patron (kurator) terhadap kinerja klien-nya. Dengan keadaan yang semacam itu, akan sulit bagi kita untuk menemukan benang merah posisi kesalahan berada. Ya benar—meskipun apa yang ditawarkan oleh patron dan klien bisa saling menguntungkan, tetap saja kinerja model begini tidak akan optimal.

Elegy 9: The Ghost of the Sea

Ketika kata memiliki kekuatan untuk mempengaruhi persepsi

Jika yang Anda pikirkan adalah sebuah vagina dilengkapi dengan lubang senggama, selamat—Anda tidak sendiri, dan selamat lagi—Anda salah.

Berawal ketika saya sibuk mencari ruangan yang berpendingin untuk menurunkan suhu tubuh yang kian memanas, saya menemukan tanda 18+ yang mengarahkan saya untuk masuk ke dalam sebuah ruangan berpintu kain putih—untungnya memiliki pendingin. Sembari menikmati suhu dingin di sana, saya mencoba melihat  dan memaknai balon yang mirip gurita putih itu, mencoba menghubungkannya dengan tanda 18+ serta kalimat “Untuk pengunjung di atas 18 tahun”. Biasanya tanda semacam itu diperuntukkan sesuatu yang mengandung konten seksualitas—terdapat lubang di antara labia mayora, saya mengasumsikannya sebagai representasi sebuah vagina dengan lubang senggama yang sengaja diperlihatkan. Pantas saja terdapat tanda 18+ sebelum pintu masuk, ternyata konteks yang berusaha diangkat adalah mengenai organ reproduksi wanita.

Dua kali berkunjung dan memasuki instalasi tersebut saya masih bertahan dengan asumsi yang sama—representasi vagina. Asumsi itu tidak bertahan lama sampai ketika saya berkunjung ke JNM untuk yang ketiga kalinya sebagai kuliah lapangan apresiasi seni. Dari kunjungan ketiga itulah fakta baru mulai terungkap.

Di bantu oleh Agung, exhibition guide yang dengan sabarnya menjelaskan setiap detail suatu karya seni dan berusaha semaksimal mungkin untuk menjawab pertanyaan yang kami ajukan. Agung yang sekaligus narasumber saya ini cukup luwes dalam memberikan penjelasan, ia terlihat begitu paham tentang karya seni yang ditampilkan, bahkan ia sempat mewakili sang patron (kurator) yang datang terlambat, Arham Rahman yang seharusnya menjadi tour guide rombongan kami.

Banyak informasi baru yang saya dapatkan dalam kunjungan ketiga saya ini, berbeda pada kunjungan pertama dan kedua, saya kurang beruntung untuk mendapatkan jasa pelayanan dari seorang exhibition guide seperti yang Agung lakukan. Salah satu informasi terbaru yang saya dapatkan adalah mengenai sebuah karya seniman dari Manila, Nerisa Del Carmen Guevara yang dinamai Elegy 9: The Ghost of the Sea.

Karya ini menarik perhatian saya karena ada makna yang baru bisa saya tangkap pada kunjungan ketiga sekaligus terakhir kemarin. Elegy 9: Ghost of the Sea (hantu laut) bermain-main dengan idiom dalam bahasa Inggris yang berbunyi “the elephant in the room” untuk mewakili permasalahan yang telah diketahui oleh orang banyak tapi enggan dibicarakan. Ruang metaforis ini, ruang antara yang diam dan yang dibicarakan, merupakan elegi dan Kauao (hantu laut) hadir mewakili ketegangan yang ada.

Karya ini sama sekali tidak membahas mengenai organ intim wanita apalagi sampai mengarah ke lubang senggama. Tujuan dipasangnya tanda 18+ adalah mempengaruhi persepsi pengunjung. Sang seniman, Nerisa berusaha menunjukkan bahwa ketika kata-kata dihadirkan oleh seseorang yang memiliki power atau kekuatan, maka bisa dipastikan kata tersebut mampu mempengaruhi persepsi orang lain yang membacanya.

Hal yang sebenarnya hendak seniman tampilkan adalah representasi sebuah mata dari hantu laut, Kauao. Namun dengan menambahkan tanda 18+ dan foto seorang wanita di depan balon hantu laut tersebut, seniman berusaha mengajak pengunjung untuk memikirkan tentang apa korelasinya dan membuktikan bahwa ketika kata-kata sudah memiliki kekuatannya, maka bisa merubah persepsi seseorang. Menurut saya, hal semacam itu sangat menarik karena ternyata seniman memiliki cara berkomunikasi dengan pengunjung melalui cara seunik ini. Saya sendiri yang baru memahami makna karya ini pada kunjungan ketiga juga sempat merasa terkejut, ternyata asumsi saya selama ini meleset—jauh dari fakta.

Nerisa juga menghadirkan seni karya video berjudul Infinite Gestures: Tanggul (Break Water). Selama masa Residensi Kelana di Pambusuang, Sulawesi Barat, Indonesia. Nerisa berhadapan dengan konsep batasan dan rintangan, termasuk laku dirangkul dan diabaikan. Dengan gerakan repetitif yang bisa diartikan sebagai sambutan atau halangan, menyerah atau melawan, atas tanggul sepanjang 700 meter.

Membahas mengenai Residensi Kelana, ternyata khusus untuk karya seni yang berada di lantai tiga adalah karya seni hasil Residensi Kelana, baik Kelana Laut, Sungai, dan Darat. Residensi Kelana sendiri adalah ekspedisi yang dilakukan oleh beberapa seniman terpilih untuk menghasilkan sebuah karya seni dari perjalanannya di berbagai wilayah di Indonesia. Informasi semacam ini bisa saya dapatkan juga dari Agung, si exhibition guide yang sangat informatif. Hubungan patron-klien yang seharusnya terjadi dalam pameran Biennale ini minimal mirip seperti apa yang Agung lakukan, memberikan jasa pelayanan terbaiknya mengingat ia juga mendapatkan sesuatu dari si patron. Mengenai kinerja exhibition guide lainnya yang kurang optimal, nampaknya ini sudah menjadi tanggung jawab moril pribadi seseorang. Di saat ada harga yang sudah ditawarkan untuk membalas kinerjanya, seharusnya klien memberikan jasa pribadi terbaiknya. Tentu saja—ini juga berlaku untuk si patron, ketika klien memberikan jasa terbaiknya tentu ada sesuatu yang perlu dihargai lebih agar hubungan timbal-balik tetap selaras.

Daftar Pustaka

Ahimsa-Putra, H.S. 2007. Patron & Klien Di Sulawesi Selatan: Sebuah Kajian Fungsional-Struktural. Yogyakarta: Kepel Press.

Burke, Peter. 2003. Sejarah dan Teori Sosial (Terjemahan oleh Mestika Zed dan Zulfahmi). Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Lilis Suryani. 2014. Hubungan Pawang (Patron) – Anak (Klien) Dalam Kesenian Kuda Lumping Di Desa Batang Pane Iii, Kecamatan: Padangbolak, Kabupaten: Padang Lawas Utara. Departemen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik. Universitas Sumatera Utara.

Scott, James C. 1977. ‘Patron Client, Politics and Political Change in South East Asia’ dalam Friends, Followers and Factions a Reader in Political Clientalism, Steffen W. Schimidt, James C. Scott (eds.), Berkeley: University of California Press.

Scoot, James C., 1994. The Moral Economy of the Peasant : rebellion and subsistence in Southeast Asia, diterjemahkan Hasan Basari, Jakarta : LP3ES.

Anonim. Di akses dari https://biennalejogja.org/2019/

Anonim. Di akses dari https://ccskills.org.uk/careers/advice/article/exhibition-guide

Penulis

Tiara Puspa Ramadanti—sebuah nama revisi dari Kinanti. Hal kecil yang sering ia lakukan adalah bersyukur atas privilege akses air bersih di rumahnya. Menulis setiap mimpi yang ia lalui di sepanjang lelap sejak 1 tahun silam sebagai bagian dari eksperimen ‘Etnografi Mimpi’ pribadi. 

Ia meyakini bahwa semakin tinggi ilmu apa pun yang ditimba, tidak akan menjauhkan kita dari ilmu agama. Tidak muluk-muluk, bukan ingin (sok) menjadi lampu bagi orang lain, jadi lilin untuk diri sendiri dulu dirasa lebih penting. 
Di Instagram @kinantipvspa, bisa jadi medium bertemu sementara.