Etnis Superior Ciptaan Media Massa

Maria Michelle Angelica

Photo by Mike from Pexels

  1. Introduction

Manusia tidak dapat hidup tanpa komunikasi. Selagi komunikasi masih berlangsung, maka media –yang menurut KBBI daring menjadi alat (sarana) komunikasi seperti koran, majalah, radio, televisi, film, poster, dan spanduk, akan terus dibutuhkan dan digunakan manusia. Bahkan kini media semakin berkembang, kini sudah ada sosial media, aplikasi layanan pesan pribadi (chat) yang digunakan hampir seluruh manusia di dunia. Ada pula media massa yang sangat berperan dalam keseharian manusia terutama dalam penyampaian informasi. Pada hakikatnya, media massa harus menyajikan informasi yang jujur, jernih, dan sesuai fakta sesungguhnya. Namun realitanya media massa justru merekonstruksi realitas sosial karena alasan teknis, ekonomis, dan ideologis (Suryadi, 2011), misalnya mempertajam kesenjangan antaretnis. Padahal pada dasarnya semua etnis memiliki derajat yang sama, hanya saja manusia menciptakan hierarki –produk imajinasi manusia (Harhari, 2017:161). Dalam media massa, etnis di daerah terpencil kerap kali dilekatkan dalam kata “primitif” seolah takkan pernah maju dan berlaku sebaliknya. Hal ini menjadi sangat berbahaya jika media terus memoles adanya etnis superior dan etnis inferior sehingga bagi “superior” merasa yang paling memiliki segalanya dan “inferior” akan terus berada di bawah bayang-bayang superior dan terbelakang. Tulisan ini ingin membedah bagaimana media menciptakan “etnis inferior” dan “etnis superior” kepada masyarakat.

Sejauh ini penelitian tentang penampilan etnis dalam media telah dilakukan dengan tiga kecenderungan. Pertama, kecenderungan diteliti tentang penampilan kaum kulit hitam sebagai kaum primitif dan kulit putih lebih maju atau rasisme-tanpa-sadar lainnya pada film (Hobson, 2008;  Gallagher,1982; Glenn et.al, 2007; Hughey:2009), hal ini dapat terlihat dari bagaimana kaum kulit hitam umumnya mendapat peran dengan karakter yang berada di kelas bawah, tidak teredukasi, primitif. Berbanding terbalik dengan peran kaum kulit putih. Jikalau pun ditayangkan sebaliknya, film tersebut akan memunculkan kaum kulit hitam yang “magic” atau tidak pada umumnya. Ada pula yang meneliti tentang tayangan televisi yang tidak sengaja menunjukkan sikap rasisme (Muslich, 2008). Kedua, kecenderungan diteliti tentang kekuatan media massa membangun opini serta mengubah perilaku masyarakat  (Sanborn, et al., 2013; Suryadi,2011; Muslich,2008), media memiliki kekuatan yang besar dalam kehidupan masyarakat karena seringkali masyarakat hanya melihat dunia yang luas dari media yang sempit dan menampilkan dunia sesuai dengan perspektif media sendiri. Sehingga semakin mudah untuk media menciptakan opini masyarakat. Ketiga, kecenderungan diteliti tentang tata bahasa “Etnik”, “rasial”, dan “tribal” yang kerap kali malah menciptakan rasisme (Krishnamaurthy, 2013). Sudah sangat banyak penelitian mengenai media massa menampilkan kaum kulit hitam di Amerika, namun sangat sedikit yang melakukan penelitian mengenai bagaimana rasisme media massa Indonesia pada etnis lainnya terutama di pendalaman Indonesia.

Tulisan ini ingin melengkapi kekurangan dari studi-studi mengenai penampilan etnis dalam media yang sudah ada dengan manganalisis cara media massa menampilkan etnis-etnis suku pedalaman, kemudian memperhatikan efek yang ditimbulkan pada masyarakat yang menikmatinya. Sejalan dengan itu, dirumuskan tiga pertanyaan: (a) Bagaimana media massa menampilkan etnis?; (b) Bagaimana rasisme (secara sadar atau pun tidak sadar oleh media) memengaruhi pemikiran masyarakat mengenai etnis dan suku?; (c) Bagaimana rasisme (secara sadar atau pun tidak sadar oleh media) memengaruhi para pemilik etnis dan suku yang menjadi korban rasisme media?

Tulisan ini didasarkan pada tiga konsep sebagai berikut; (a) etnosentrisme adalah aksi menghakimi budaya lain dan percaya bahwa nilai-nilai serta standard dari kultur milik sendiri merupakan superior –terutama dalam hal seperti bahasa, kebiasaan, agama, dan adat (McCornack et al., 2017). Etnosentrisme atau antroposentris ini juga dapat terlihat dari antropolog menyusun berbagai kebudayaan ke dalam tingkatan derajat berdasarkan kebudayaan yang sudah mengalami kemajuan seperti monoteisme, teknologi canggih, dan sejarah perkembangan lainnya. Klasifikasi etnosentris “primitif” juga digunakan oleh para antropolog seperti Sir Edward Burnett Tylor dalam Primitive Culture (1871) dan Franz Boas dalam The Mind of Primitive Man (1911). (b) minority group atau kelompok minoritas merupakan sekelompok orang yang karena secara fisik atau kultural mereka, menjadi diasingkan dari lainnya dalam bagaimana mereka hidup dan perlakuan yang tidak adil (Wirth, 1945). Kelompok minoritas dapat dilihat dalam lima karakteristik, (1) merasa didiskriminasi dan dikesampingkan, (2) secara fisik dan atau kultural membedakan mereka dan ditolak oleh kelompok dominan, (3) perasaan yang sama dan beban bersama, (4) secara sosial membentuk “peraturan” tentang siapa yang memiliki dan siapa yang tidak termasuk status minoritas, (5) kecenderungan untuk menikah dengan kelompok etnis yang sama (Feagin, 1984). (c) Media massa memiliki berbagai kekuatan sosial seperti salah satunya sebagai persuasi dan mobilisasi pada masyarakat, intinya media massa memiliki efektivitas tinggi dalam komunikasi di masyarakat, juga cepat, fleksibel, dan sangat mudah direncanakan dan dikontrol (McQuail, 1977).

  • Literature Review
    • Etnosentrisme

Etnosentrisme memiliki pengertian konsep yang berbeda-beda dan membingungkan. Tajfel (1983) memandang etnosentrisme sebagai konsep utama yang kemudian meliputi berbagai konsep lainnya.  Sutherland (2002) menyatakan bahwa etnosentrisme merupakan cara untuk melihat dunia melalui kaca mata personal yang mana telah terpengaruh pada sikap pribadi, genetik, keluarga/hubungan, dan media. Hammond & Axelord (2006) memandang etnosentrisme sebagai sikap melihat kelompok sendiri (in-group) superior dan menjadi standar umum, dan kelompok lainnya (out-group) hina dan inferior. Bizumic et al. (2009) merekonseptualisasikan etnosentrisme sebagai bentuk sikap yang mengandung perasaan yang kuat akan segala etnis terpusat dari kelompok etnisnya dan perasaan kepentingan etnis sendiri. Menurut para penulis ini, perasaan ini terjadi ketika suatu kelompok etnis merasa lebih penting daripada kelompok lainnya dan kelompok etnis tersebut lebih penting daripada individual yang ada di kelompok etnis tersebut –yang kemudian akan berdampak pada beberapa efek buruk. Kemudian pada akhirnya etnosentrisme akan membawa kepada beberapa efek jangka panjang dan pendek, yaitu berbagai diskriminasi dan kebiasaan pengorbanan diri (Bizumic et al., 2010), berbagai jenis perasaan personal dan kelompok bahwa dirinya atau kelompoknya menjadi pusat segalanya, dan akibat hal tersebut akan terjadi reaksi dan perlakuan yang berbeda (Howle & Bizumic, 2011; Sutherland, 2002). Penelitian juga membuktikan bahwa etnosentrisme menjadi salah satu faktor pada dampak buruk bagi kelompok lainnya atau out-group, karena indivusi yang sangat otoriter lebih kejam dan agresif (Christie, 1993). Meski terdapat dampak negatif, etnosentrisme juga membawa dampak positif pada beberapa bidang seperti keperawatan, dalam Journal of Transcultural Nursing, Sutherland (2002) menyatakan bahwa etnosentrisme membawa nilai yang berbeda dalam melihat orang lain sehingga orang tersebut menjadi unik. Ia pun menyatakan etnosentrisme tidak boleh dihilangkan karena menurutnya etnosentrisme justru membuat budaya tersebut tetap hidup. Dalam hal lainnya, Hammond & Axelrod (2006) mengatakan bahwa etnosentrisme menjadi mekanisme yang efektif dalam mempertahankan kerja sama.

Menurut Perreault & Bourhis (1999), etnosentrisme merupakan salah satu dari kombinasi otoritarisme dan in-group yang kuat yang kemudian dapat menjadi dasar untuk melihat fenomena intergroup lainnya seperti sikap/kebiasaan intergrup, black-sheep effect, dan sikap kejam dan diskriminasi lainnya.  Bizumic, et al. membagi etnosentrisme ke dalam 6 aspek, yaitu: 1) Preferensi, yaitu kecenderungan untuk menyukai dan lebih memilih etnis sendiri daripada kelompok lainnya atau out-group; 2) Superioritas, yaitu rasa percaya bahwa kelompok etnis sendiri lebih baik dan superior daripada kelompok lainnya, terlihat dari moralitas, sejarah, spiritualitas, ekonomi, dan lainnya; 3) Kemurnian (Purity), keinginan untuk menjaga kemurnian dari kelompok sendiri dengan menolak terjadi kawin campur dengan kelompok lainnya atau out-group; 4) Eksploitasi, mengekspresikan bentuk mementingkan diri sendiri dimana kelompok etnis sendiri adalah yang paling penting sehingga sedikit ataupun sama sekali tidak menaruh perasaan pada etnis lainnya sehingga dianggap sah untuk mencuri, membunuh, membudakkan kelompok lainnya –dan menurut para penulis ini, hal ini berbeda dengan out-group negativity yang kerap kali disamakan dengan konsep etnosentrisme; 5) Kohesi kelompok, integrasi, persatuan, dan kerja sama yang tinggi harus meresap dalam kelompok etnis sendiri, ada pula perasaan bahwa kepentingan kelompok didahulukan daripada kepentingan individual kelompok; 6) Kesetiaan, menunjukkan rasa setia dan dedikasi tinggi kepada kelompok etnis sendiri, hal ini bisa mengakibatkan para anggota kelompok etnis tanpa pikir panjang rela berkorban nyawa demi kelompok sendiri. Keenam aspek ini dapat dimasukkan ke dalam dua bentuk, yaitu intergroup expression, dimana kelompok sendiri lebih penting daripada kelompok lainnya, terdapat aspek preferensi, superioritas, kemurnian, dan eksploitasi. Kemudian ada pula intragroup expression, dimana kelompok sendiri lebih penting daripada anggota individu dalam kelompok tersebut, terdapat aspek kesetiaan dan kohesi kelompok.

  • Kelompok minoritas

Kelompok minoritasdikenalkan di Amerika Serikat oleh Donald Young (1937), menurutnya kelompok minoritas merupakan kelompok yang populasinya dibedakan dari “elemen” dominan seperti perbedaan biologis ras atau ciri-ciri budaya alien, atau kombinasi keduanya. Wagley dan Harris (1964) menyebutkan terdapat lima hal yang dapat dilihat dalam kelompok minoritas, salah satunya ialah kesadaran diri terikat pada “sifat-sifat khusus” sehingga membawa kekurangan “khusus”. Nibert (1996) melihat bahwa Young menggunakan diksi “alien” dan Wagley & Harris menggunakan diksi “khusus” untuk menunjukkan perbedaan yang jelas bahwa kelompok minoritas sangat berbeda dengan kelompok mayoritas. Sedangkan dalam Wood, et al (1996) dinyatakan melalui kutipan Moscovici, bahwa minoritas didefinisikan sebagai kelompok atau individual yang dikesampingkan atau mendapati posisi antinomik. Definisi ini tidak jauh berbeda dengan yang dinyatakan Norman R. Yetman (1985) namun lebih spesifik bahwa posisi kelompok inferior adalah mereka yang kepentingannya tidak secara efektif terwakilkan dalam politik, ekonomi, dan institusi sosial dalam masyarakat. Sedangkan definisi yang cukup umum dalam bidang sosiologi, Louis Wirth (1945) dalam essay The Problem of Minority Group menyatakan bahwa kelompok minoritas merupakan sekelompok orang yang karena secara fisik atau kultural menjadi diasingkan dari lainnya, seperti dari bagaimana mereka hidup dan perlakuan yang tidak adil. Deadalus (1961) melalui penelitiannya pada kelompok etnis dalam kehidupan Amerika menyebutkan bahwa minoritas bisa kehilangan kekhasannya ketika melihat etnis lain sebagai standar. Secara umum, kelompok minoritas selalu menempati posisi yang tidak menguntungkan dalam masyarakat daripada kelompok dominan, baik dalam bidang ekonomi (misal jabatan), sosial (bahan ejekan, kekerasan, penghinaan), serta politik (perlindungan hukum yang tidak seimbang).

Kelompok minoritasini dapat dibagi ke dalam beberapa kasus, yaitu 1) Gender and sexually minorities, istilah ini digunakan oleh peneliti kesehatan masyarakat untuk menjelaskan kelompok individual yang melakukan seks dengan sesama jenis namun tidak teridentifikasi ke dalam LGBTQ, seperti intersex people, transgender people or gender-nonconforming, dan lainnya. Di bebrapa tempat, seperti di Indonesia yang belum melegalkan LGBTQ, orang-orang LGBTQ termasuk ke dalam kelompok minoritas; 2) Disabilitas, disabilitas ialah orang-orang yang memiliki cacat baik panca indera maupun bagian badan aktif lainnya. Menurut Human Rights Act 1998 di Inggris, terlihat barulah muncul kepedulian kepada para disabilitas. Disabilitas ini termasuk ke dalam kelompok minoritas karena kerap kali dirugikan dalam teknologi dan institusi sosial yang lebih banyak didesain untuk kelompok dominan; 3) Perempuan, pada masyarakat pada umumnya, laki-laki dan perempuan tidaklah setara. Seringkali wanita masih kesulitan untuk mendapatkan pendidikan, menjadi korban kekerasan, dan kesulitan mendapat kesempatan yang sama dalam ekonomi[1]; 4) Kelompok minoritas tidak disengaja, ialah mereka yang sejak lahir terbawa ke dalam masyarakat berlawanan dengan keinginan mereka, contoh masyarakat Afrika-Amerika di Amerika Serikat. Mereka kemudian akan mengalami kesulitan dalam mendapatkan sekolah (Oqbu & Simons, 1998); 5) Minoritas disengaja, merupakan para imigran yang pindah ke negara baru dengan harapan masa depan yang lebih baik daripada negara asalnya; 6) Berumur/tua, beberapa menganggap kelompok rentan ini termasuk ke dalam kelompok minoritas karena seringkali dikesampingkan/diabaikan serta didiskriminasi. Namun menurut Palmore (1978) ia menyatakan hal tersebut makin lama akan tidak relevan lagi karena kini mulai memasuki era age irrelevant. Terjadi perbedaan pendapat, seperti menyatakan bahwa pengertian minorities group oleh Wirth kerap kali mendekati pengertian dari oppressed groups. Senada dengan lainnya, Mayers (1984) menyatakan kelompok minoritas  ini bukan label umum untuk orang yang didiskriminasi, kelompok minoritas lebih kepada kekuatan tidak adil tanpa landasan yang jelas, sedangkan orang dalam kelompok yang menjadi target kolektif diskriminasi lebih cocok disebut sebagai kelompok tertindas atau oppressed groups. Menurut Nibert (1996), ia lebih menyukai mengubah kata “majority/minority” dengan “dominant/subordinate” karena menurutnya 1) terjadi pelebaran konsep kelompok etnis sehingga lebih dapat melihat kelompok tertindas lainnya dan lebih leluasa menganalisis yang lebih luas; 2) dapat mengetahui kekuatan yang tidak seimbang sehingga menciptakan penindasan pada sekelompok orang. Namun Nibert tidak menyimpulkan harus menggunakan majority/minority atau dominant/subordinate, ia hanya menekankan bahwa lebih baik merujuk kepada orang yang paling memiliki keuntungan yaitu “majority group” atau “dominant group”

  • Media Massa dan Efeknya

Media massa didefinisikan sebagai alat untuk membawa pesan dari komunikator kepada khalayak ramai (Ceuleans & Fauconnier, 1979). Dalam pengertian umum, media massa dapat terlihat pada media elektronik yaitu radio, televisi, film, dan rekaman musik; dan media cetak yaitu koran, majalah, dan literatur modern –dimana semua ini menjadi artefak, pengalaman, praktik, dan proses (Spitulnik, 1993). Menurut Tomi Ahonem dalam bukunya Mobile as 7th of the Mass Media, merumuskan 7 media massa sebagai berikut, sesuai dengan urutan ditemukan dan diperkenalkannya kepada publik: 1) Media Cetak, yaitu buku, koran, majalah, pamflet, dan lain-lain, pertama kali pada akhir 1400-an; 2) Rekaman, yaitu rekaman, kaset, CD, DVD, cartidges, pertama kali pada akhir 1800-an; 3) Sinema, yaitu film, lalu kemudian animasi sekitar tahun 1900; 4) Radio, sekitar tahun 1910; 5) Televisi, sekitar tahun 1950; 6) Internet, sekitar tahun 1990; 7) Telepon seluler, sekitar tahun 2000. Menurut undang-undang negara Indonesia, pada pasal 3 UU No. 40 tahun 1999, pers –lembaga sosial yang melakukan kegiatan jurnalistik media massa- memiliki fungsi sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, dan kontrol sosial; pada poin ke dua dijelaskan sebagai lembaga ekonomi. Shaw & Martin (1992) menjelaskan salah satu fungsi utama dari media massa adalah untuk meningkatkan konsensus kelompok dalam sistem sosial yang lebih luas dengan menyediakan pilihan isu agenda yang lebih menarik daripada hanya mempelajari secara historis dan dinyatakan dari berbagai aspek seperti gender, ras, usia, tingkat pendidikan, atau tingkat ekonomi. Dalam fungsi sosial, media massa berfungsi untuk menghubungkan masa lalu dengan masa kini masyarakat dan diperhitungkan melalui perbedaan masa lalu dengan yang sekarang (Luhman, 2000). Sedangkan menurut Hall (1992) media massa lebih bertanggung jawab untuk menyediakan dasar dimana kelompok mengkonstruksi “citra” kehidupan, makna, praktik, dan nilai-nilai kelompok dan kelas lain; dan menyediakan gambar, representasi dan ide-ide dari semua bagian terpisah menjadi mampu dipahami secara utuh keseluruhan.

Media massa memiliki peran penting dalam membentuk persepsi publik dalam berbagai isu penting (Lorimer & Scannel, 1994), menggambarkan kepercayaan, nilai, kebiasaan, dan interpretasi bagaimana melihat dunia (Vipond, 2000; Spitulnik, 1993). Diperjelas bahwa media massa memiliki kekuatan dalam membawa kebudayaan masyarakat (Spitulnik, 1993). Media tidak mengatakan secara langsung bagaimana orang-orang harus berpikir seperti apa, tetapi ia mengatakan orang-orang harus memikirkan tentang apa (Mc Combs, 1977). Dalam Anthropology and Mass Media, Spitulnik mengatakan bahwa media dikendarai secara ekonomi dan politik, terhubung dengan pengembangan sains dan teknologi, dan terikat erat dengan kegunaan bahasanya. Finnegan & Viswanath (1997) mengidentifikasi efek utama dari media massa ke dalam tiga poin: 1) The Knowledge Gap, media massa memengaruhi kesenjangan pengetahuan; 2) Agenda Setting, orang-orang terpengaruhi dalam bagaimana mereka memikirkan suatu isu,melalui cara media memandang suatu isu. Sedangkan media sendiri kerap kali juga dapat terpengaruhi oleh kepentingan politik dan agenda publik. Agenda-setting dapat efektif dimasukkan ke dalam media massa karena hal ini berkaitan dengan fungsi berita dan jurnalistik sebagai komunikasi massa (McCombs, 1977). Menurut J. J Davis, agenda publik didasarkan dari bagaimana media massa menyorot risiko secara terperinci, dan bagaimana tingkat “kemarahan” dan “ancaman” publik diprovokasi media; 3) Cultication of Perceptions, merupakan bagaimana media mengekspos memengaruhi bentuk pemikiran audiens. Meski demikian, hal ini tak hanya dipengaruhi media seorang, melainkan juga dapat dipengaruhi dari sosioekonomi audiens tersebut.

  • Methods

Media massa di Indonesia sangat terlihat jelas sebagai media jakartasentris[2], bahkan mayoritas kantor media nasional berpusat di Jakarta. Tidak mengherankan jika banyak kantor media nasional, termasuk stasiun televisi, menjadikan Jakarta sebagai titik tolak melihat segala peristiwa dan kejadian. Salah satu media massa yang sempat tersohor acaranya adalah tayangan “Primitive Runaway” oleh PT. Televisi Transformasi Indonesia (TRANS TV). Tayangan tersebut menayangkan bintang hiburan televisi ibukota, biasanya berdua laki-laki dan perempuan, mendatangi kebudayaan-kebudayaan yang ada di Indonesia yang umumnya belum banyak diketahui umum. Dari judul tayangan “Primitive” sendiri sudah menimbulkan kecaman dari banyak pihak terutama Remotivi dan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) karena dianggap sebagai bentuk diskriminasi suku. Ditambah, isi dari tayangannya sangat melecehkan suku adat tersebut dan tidak beretika[3]. Menanggapi itu Trans TV menyampaikan permohonan maaf tertulis kepada AMAN dan mengganti namanya menjadi “Ethnic Runaway”. Meski sudah berganti nama, konsep yang diusung masih sama sehingga kesenjangan antarsuku ini diperlihatkan dengan jelas dan seolah semakin memoles hadirnya etnis superior dan etnis inferior. Beberapa episode Ethnic Runaway telah diposting di youtube.

EthnicRunawayjuga memiliki akun media sosial, halaman facebook, yang dibentuk sejak Ethnic Runaway hadir di televisi. Akun tersebut aktif mem-posting kegiatan crew Ethnic Runaway, informasi jadwal tayangan acara Ethnic Runaway, dan beberapa kali menanyakan pendapat kepada para penontonnya. Akun yang diikuti oleh 13.244 pengguna facebook ini sudah tidak aktif, dapat terlihat dari postingan terakhirnya pada 8 Februari 2015. Walau demikian, masih dapat terlihat dari postingan lawas dan komentar-komentar para penontonnya. Melalui akun tersebut, dapat terlihat reaksi penonton akan tayangan tersebut dan beberapa kali terlihat juga pendapat para penonton akan hal apa yang mereka rasa telah dapatkan dari tayangan tersebut.

Selain tayangan televisi EthnicRunaway, ada pula produksi Surya Citra Televisi (SCTV) yaitu FTV (Film Televisi). FTV ini umumnya bercerita tentang kisah percintaan dan kerap kali melekatkan kesenjangan sosial-ekonomi pada etnis tertentu melalui karakter yang dibawakan tokoh dan cerita. Beberapa episode FTV lawas juga telah ditayangkan di youtube. Peneliti akan meneliti melalui lima tayangan FTV[4] yaitu, “Gara-Gara Gino”, “Mercy Milik Joko”, “Ada Cinta di Kampung Kambing”, “Putri Manja Masuk Desa”, dan “Cintaku antara Jogja – Jakarta”

Tulisan ini akan menggunakan metode observasi melalui kanal youtube untuk melihat tayangan Ethnic Runaway dan FTV untuk dijadikan sumber (primer/sekunder) serta menggunakan sosial media facebook dari “Ethnic Runaway” sebagai sumber untuk mencari tahu reaksi dan tanggapan penonton Ethnic Runaway atas tontonan tersebut. Melalui tayangan di kanal youtube, penulis akan menganalisa melalui perbuatan dan perkataan host dari beberapa episode Ethnic Runaway serta kemasan tayangan tersebut secara umum. Sedangkan untuk tayangan FTV, penulis akan menganalisa cerita dan karakter dari tokoh pada beberapa episode tayangan FTV yang memiliki unsur etnis di dalam ceritanya. Pada facebook, penulis akan menganalisa komentar para penonton melalui kolom komentar dan menganalisa postingan dari admin Ethnic Runaway.

  • Results
    • Tayangan Ethnic Runaway

Ethnic Runaway merupakan tayangan reality show yang menayangkan artis, sebagai pembawa acara, masuk ke suku-suku pedalaman dan hidup disana selama beberapa hari (kira-kira tidak lebih dari seminggu) dan mengikuti kegiatan sehari-harinya. Ethnic Runaway ini berjaya selama kurang lebih dari tahun 2011 hingga 2015. Berdasarkan laman facebook Ethnic Runaway di bagian “about/tentang” tertulis tujuan tayangan Ethnic Runaway adalah untuk mempertunjukan kebudayaan dan keberadaan suatu Suku di Pedalaman Nusantara dan Luar Negri (dalam jangka waktu yang lama). Dalam postingan facebook yang lain, pada tanggal 27 Maret 2013 saat Ethnic Runaway masuk nominasi Panasonic Gobel Awards 2013, admin menyatakan Ethnic Runaway sebagai program “yang mengenalkan kearifan suku bangsa dan adat masyarakat indonesia”; pada Hari Kebangkitan Nasional (20 Mei 2012), admin menyatakan Ethnic Runaway sebagai “(tempat untuk) belajar berbagai budaya dan adat istiadat dari suku-suku di Indonesia”. Secara umum Ethnic Runaway dapat dikatakan sebagai tayangan yang bertujuan memperkenalkan suku-suku bangsa di Indonesia kepada para penonton.

Artis yang diundang Ethnic Runaway selalu berganti-ganti di setiap episode dan tak tanggung-tanggung, artis yang dipilih selalu artis papan atas ibukota. Artis-artis ini lahir dari berbagai tempat, namun berdomisili di Jakarta sehingga umumnya mereka membawa budaya Jakarta saat mendatangi suku-suku tersebut. Artis-artis ini sangat baik mengekspresikan perasaan mereka saat masuk dan mengikuti kegiatan para anggota suku di depan orang suku dan juga kamera pada pemirsa. Pada tayangan Ethnic Runaway episode Suku Buton Sempa Sempa[5] yang dibawakan oleh Samuel Rizal dan Alexandra Gottardo, ada adegan dimana Samuel Rizal harus mengambil kotoran kambing dengan tangan untuk kemudian ditaruh di galian tanah. Samuel Rizal dengan muka merasa sangat jijik awalnya menolak dengan keras dan mengeluh, “Gak ada sekop atau apa gitu untuk naburin?” lalu setelah paksaan dari La Ama (bapak), Samuel pun melakukannya sambil menjelaskan kepada penonton dengan nada sarkasme bahwa harus mengambil kotoran kambing dengan tangan.  Masih dalam episode yang sama, saat mereka makan bersama dengan rasa makanan yang tidak enak pun Samuel menunjukkan rasa jijik. Ekspresi jijik yang diekspresikan di depan kamera dan depan orang suku oleh pembawa acara tidak hanya terjadi di satu episode, tapi juga episode lainnya seperti episode Suku Kalende, Suku Praigoli, Suku Lom.

Pada episode Suku Samboi (NTB) dengan pembawa acara Rio Dewanto dan Lia Waode, Lia sebagai perempuan seharusnya mengenakan Rimpu. Rimpu merupakan sarung yang menutup badan, hidung, dan mulut. Namun karena beberapa kali Lia merasa pengap atau tidak nyaman, tanpa berpikir panjang Lia melepaskan Rimpunya bagian mulut dan hidung. Berkali-kali juga Lia dimarahi oleh orang suku karena hal tersebut dilarang dan dapat dikenakan sanksi adat namun sepertinya hal tersebut tidak Lia gubris karena tetap dilakukan berkali-kali bahkan di depan orang sukunya langsung.

Selain ekspresi dan perbuatan, pembawa acara Ethnic Runaway juga mengucapkan beberapa kalimat yang tampaknya memperlebar kesenjangan antara pembawa acara dengan orang suku.  Dalam episode Suku Kalende[6] bersama pembawa acara Rini Yulianti, saat adegan makan malam bersama dengan sayur pucuk rotan, Rini menunjukkan ekspresi, seperti pembawa acara Ethnic Runaway pada umumnya, jijik  karena pahitnya rasa sayur pucuk rotan itu kemudian tak lama muncul musik latar bernuansa sedih dan memprihatinkan dengan narasi, “Biarpun pucuk rotannya pahit, melihat Naina, Mauma, dan Yanti yang begitu menikmati hidangan malam ini membuat aku jadi terharu. Ditengah keterbatasan mereka, mereka tidak sedikitpun mengeluh, malah sebaliknya…”. Lalu kamera fokus ke muka Rini yang melihat Mauma (bapak) dengan raut muka sedih.

 Perbandingan yang dibawa oleh pembawa acara Ethnic Runaway, yang entah dibandingkan dengan siapa, juga tampak pada ucapan, “…(orang Suku Kalende) mampu memanfaatkan benda di sekeliling mereka. Gak kayak kita yang sedikit-sedikit beli”. Ada kata “kita” yang merujuk pada identitas tertentu, mungkin identitas si artis tersebut, pastinya tidak jelas identitas siapa. Jika pada episode ini ada identitas yang dimunculkan namun tidak secara eksplisit identitas apa, pada episode episode Suku Pongok oleh pembawa acara Five V dan Kiwil[7], diperjelas identitas perbandingannya adalah Jakarta. Terlihat dari beberapa kalimat,“Ooo… Itu cupang. Vi,” kata Kiwil pada Five. “Kalau di Jakarta namanya kerang. Di sini namanya cupang.” Atau ada pula dalam episode Suku Karampuang oleh Stuart Collin dan Ryana Desa, mereka menertawakan saat menemukan nama makanan berbeda dengan yang ia ketahui, “Kalau di Jakarta, kita kan ngomongnya dodol ya,” kata Ryana kepada pemirsa. “Kok di sini dodor sih, hahaha.”

Para pembawa acara juga seringkali menunjukkan dengan kontras sekali bahwa mereka dengan orang suku ini sangat berbeda, misalnya pada episode Suku Kalende, Rini duduk dengan mengangkat satu kaki sedangkan orang Suku Kalende duduk bersila. Semua pembawa acara Etnic Runaway yang peneliti amati selalu menggunakan perilaku dan gaya bicara Jakarta seperti ucapan kata “gue” yang mungkin tidak dituturkan di daerah lain. Para pembawa acara ini juga selalu mempermasalahkan bahasa asli tersebut karena tidak mengerti.

Lalu acara ini akan diakhiri dengan narasi “indahnya keberagaman Indonesia”, “mengerti kesederhanaan”, “bahagia dan kehangatan dalam kesederhanaan”, “semakin mencintai budaya Indonesia”. Narasi penutup di setiap episode selalu dengan narasi yang hampir sama yaitu  mengangkat nasionalisme dan nilai kesederhanaan.

  • Komentar penonton pada laman facebook Ethnic Runaway

Antusiasme audiens dari Ethnic Runaway ini dapat terlihat dari laman facebook Ethnic Runaway yang memiliki banyak pengikut dan di setiap postingan banyak komentar seperti “ditunggu ya tayangannya”, “gak sabar menonton”, dan bentuk antusiasme lainnya. Namun selain antusiasme yang muncul di facebook, penulis pun menemukan jejak digital hasil konstruksi pandangan masyarakat terhadap suku pedalaman dan kebudayaannya akibat tayangan Ethnic Runaway.

Dalam postingan Ethnic Runaway pada 4 Desember 2011 menginformasikan tayangan episode Suku Saiboklo, Mentawai, Sumatera Barat telah dimulai. Ada akun bernama “Aulin Love Physics” berkomentar, “sukunya masih belum berpakaian dengan baik ya?”. Ada juga dari postingan yang berbeda berkomentar, “terharu dengan cara berpakaian disana”.

Kolom komentar facebook Ethnic Runaway tak kalah ramai dengan usulan-usulan artis pembawa acara agar acara berikutnya lebih menarik dan seru dengan artis tersebut. Pada postingan informasi tayangan banyak penonton yang lebih fokus pada artis pembawa acara daripada suku yang didatangi, seperti komentar “asik (nama artis), pasti jadi seru”, “wah (nama artis) sexy banget”, “gak sabar ada (nama artis). Pasti nonton”. Hal tersebut tidak mengagetkan karena dari pihak admin Ethnic Runaway pun memang meng-highlight suatu episode dengan aksi artis, misalnya pada postingan “Aksi Selebritis Selebritis Wanita saat bersama Suku Pedalaman …”, “Apa yg terjadi bila Rini Yulianti ditaksir pemuda asli Suku Kalende ? Dan bagaimana kisah Rini Yulianti bertemu dengan Teman Baru Bule saat perjalananya ke Desa Wabou ?”, “Apa yang akan dilakukan lagi oleh Tarra Budiman & Kelly Tandiono di Suku Abui P. Alor, NTT”,  “…saksikan keseruan Dwi Andhika & Chinta Penelope di Suku Nggella, Ende, Nusa Tenggara Timur…”. Terpampang jelas bahwa subjek utama dari tayangan ini adalah artis sedangkan orang suku dan kebudayaannya hanya objek.

Penonton juga semakin melirik tayangan Ethnic Runaway jika tayangan tersebut semakin menunjukkan ke-primitif-an suatu suku. Terlihat dari komentar di facebook yang meminta penayangan yang semakin “aneh” atau lebih primitif. Misalnya dari “Rulyyana Adhellya” berkomentar “…kalau bisa yang lebih keplosok’a bngt…” pada postingan tanggal 29 Januari 2013. Ada pula dari “Asep Taupik” pada postingan tanggal 15 Januari 2012 berkomentar, “sekali2 ke afrika! Banyak suku primitifnya + banyak hewan2”.

Para penonton Ethnic Runaway banyak berkomentar di kanal facebook bahwa mereka merasa bersyukur karena melalui tayangan yang dinilai menambah wawasan, inspiratif, dan berkualitas ini membuat mereka menjadi lebih mengenal berbagai suku budaya di Indonesia dan merasa semakin bangga dengan Indonesia yang kaya ini. Misalnya komentar milik Wulanto Gendut, “jam tayng di tambah donx ……!!! agar masyarakat indonesia lebih mngenal budaya lokal……????ckarang kan banyak sekali serbuan budaya asing…..!!!jngan smpai generasi kita tidak tau akan budaya kita sendiri….!!!!ethnic runaway forever……”. Ada pula dari akun Bintang Galuh Banten, “…acara ini lebih banyak manfa’atnya daripada sinetron yang hanya fatamorgana. Acara ini lebih mendidik rakyat indonesia, karena akan mengenal literatur dan adat istiadat budaya…”. Ulfiah Sari juga menambahkan bahwa banyak penggemar suku dan kebudayaan Indonesia dan merasa dapat memetik banyak pelajaran dari tayangan suku-suku pedalaman.

  • FTV Produk SCTV

FTV ini memiliki rating yang tinggi, berarti banyak penonton yang menontonnya. Bentuk tayangan FTV secara umum menampilkan dua etnis, yaitu orang di luar Jakarta dan orang Jakarta. Orang yang dari luar Jakarta (memiliki medhok jawa ataupun sunda) selalu mendapat peran sebagai bawahan dari orang Jakarta (terlihat dari kata “gue”, “elo”, dan pengambilan gambar kota Jakarta seperti patung selamat datang di bundaran HI dan gedung-gedung berlokasi di Jakarta). Anak kota Jakarta yang tumbuh dan besar di Jakarta selalu ditunjukkan sebagai anak yang manja, egois, tidak tahu diri, serta memiliki harta yang banyak (ekonomi sangat baik). Misalnya pada FTV “Putri Manja Masuk Desa” pada menit 30:03, dikatakan “Apa semua orang Jakarta kaya kamu ya ga bisa menjaga perasaan orang lain”.Sedangkan di luar Jakarta selalu digambarkan dengan kondisi ekonomi yang kurang dan sederhana. Keduanya ini selalu bersinggungan dan dibanding-bandingkan, bisa membandingkan Jakarta dengan orang luar Jakarta seperti dialog berupa, “aku selalu dijodohkan dengan orang kampung”, “kampungan”, atau juga membandingkan orang luar Jakarta dengan Jakarta, “pemuda jawa yang baik, bukan pemuda kota yang punya aturan” ucap Joko pada FTV “Mercy Milik Joko”.

Meski kedua etnis ini menggunakan bahasa Indonesia, FTV mencoba membedakan orang kota Jakarta dengan orang luar Jakarta dengan nada berbicara dan cara berpakaian. Sekalipun aktor yang bermain tidak biasa nada bicara medok, maka akan dipaksakan medok cenderung dibuat-buat seperti FTV “Mercy Milik Joko”, tokoh Joko yang dimainkan oleh Kiki Farrel, aktor Indonesia yang lahir di Jakarta ini harus memerankan tokoh beretnis Jawa maka ditunjukan dengan nada medok yang (sayangnya sangat terlihat) dibuat-buat dan sebetulnya tidak cocok. Untuk pakaian orang Jakarta umumnya mahal, glamor, dan sangat kebaratan. Sedangkan pakaian orang di luar jakarta menggunakan pakaian adat atau pakaian sederhana namun terkesan lusuh.

Pada FTV Cintaku Antara Jogja – Jakarta, Titan (tokoh Titan merupakan orang Jakarta) membantu Upik (digambarkan sebagai orang Yogyakarta, medok dan lugu) mencari cintanya yang dulu sempat hilang. Titan mengubah penampilan Upik dalam berpakaian dan juga cara bicara,“…yang penting sekarang, lu harus ubah cara omong lu. Penting itu” kata Titan kepada Upik untuk membuat Upik terlihat lebih memukau. Cara bicara Upik pun diubah dari yang medok menjadi tidak.

  • Discussion
    • Tampilan Etnis dalam Media Massa

Ethnic Runaway secara jelas memperlihatkan dua kebudayaan yang berbeda, yang pertama kebudayaan di kota besar Jakarta dan kebudayaan kedua adalah kebudayaan-kebudayaan para suku yang didatangi ini. Benturan kebudayaan dalam waktu singkat ini semakin mengontraskan perbedaan sekalipun citra yang ditayangkan adalah “perbedaan tidak menjadi penghalang” dengan cara para pembawa acaramenggunakan pakaian atau mengikuti kehidupan sehari-hari para orang suku serta jargon-jargon Ethnic Runaway yang secara umum menyatakan untuk menghapus dinding perbedaan antarsuku. Namun jika dicermati lebih lanjut, tayangan tersebut malah memperlebar dan menebalkan dinding perbedaan antarsuku melalui sikap yang dilakukan oleh para pembawa acara Ethnic Runaway yang notabene adalah artis papan atas ibukota.

Franz Boas (1887) dalam penelitiannya menyatakan bahwa peradaban bukanlah sesuatu yang absolut, melainkan sesuatu yang relatif. Maksudnya, kebudayaan satu dengan kebudayaan lainnya pasti berbeda dan tidak dapat dinilai baik, buruk, benar, salah, tepat, ataupun keliru karena kebudayaan itu berdasar pada apa yang dipercayai orang dalam kebudayaan tersebut. Namun dalam Ethnic Runaway ini mereka secara tidak langsung menilai kebudayaan melalui ucapan, perilaku, dan ekspresi pembawa acara. Bahkan dalam beberapa adegan muncul sikap “kebudayaan yang kotor dan jijik”.

Pembawa acara seolah lupa akan peribahasa “di mana bumi itu dipijak, di situ langit dijunjung” atau ucapan dari St. Agustine, “When in Rome, do as the Roman do” yang berarti kita harus menghormati, mengikuti, dan mematuhi aturan yang ada di tempat kita tinggal/kunjungi serta berperilaku selayaknya orang disana. Mereka tetap berperilaku selayaknya orang Jakarta di wilayah orang suku tersebut. Selain tetap membawa identitas kejakartaannya, tampak juga sikap tak acuh pada aturan adat berkali-kali menunjukkan rasa tidak hormat dan melecehkan aturan adat yang ada serta hadirnya perasaan “peraturan tidak jelas dan tidak penting”.

Ethnic Runaway secara umum merupakan tayangan televisi reality show memperkenalkan suku-suku adat di Indonesia, namun yang terjadi seringkali tayangan ini dikemas seperti reality show “ubah nasib” atau acara televisi membantu orang miskin dengan kata-kata seperti, “keterbatasan”, “kita dan mereka”. Perlu dipertanyakan apa definisi dari “keterbatasan” yang dimaksud? Menurut KBBI, keterbatasan berarti keadaan terbatas. Ucapan “Keterbatasan” ini muncul dalam episode Suku Kalende oleh pembawa acara Rini, keadaan Suku Kalende seperti apa yang ingin disampaikan Rini? Peneliti tidak dapat berhipotesis keadaan yang dimaksud Rini adalah pembangunan, kesehatan, pendidikan, ataupun SDM (Sumber Daya Manusia) karena frame yang ditayangkan saat itu adalah saat makan malam. Maka kemungkinan “keadaan” yang dimaksud Rini adalah pangan. Dalam penelitian mengenai kemiskinan masyarakat kawasan hutan pada Suku Kalende (2013), dijelaskan kemiskinan yang dirasakan Suku Kalende adalah ekonomi akibat dari tidak meratanya fasilitas berupa layanan kesehatan dan pendidikan sehingga Suku Kalende tidak dapat memenuhi kebutuhan dasarnya. Jika hal tersebut yang ingin dimaksud Ethnic Runaway, maka mereka gagal menyampaikan pesannya sebab jelas pesan yang sampai pada penonton adalah “makanan menjijikan”. Padahal kuliner rotan menjadi makanan khas di beberapa daerah seperti Sumatera yang disebut sebagai Pakkat atau pucuk rotan[8] dan Kalimantan (disebutkan diperkenalkan oleh suku dayak) yang disebut sebagai Umbut Rotan atau tunas rotan yang masih muda[9].

Kemudian dengan kata “kita” yang disampaikan pembawa acara kerap kali tidak jelas merujuk kepada siapa. Trans TV sebagai media nasional secara logis akan ditonton oleh seluruh masyarakat di Indonesia, di mana pun itu, tak hanya di Jabodetabek atau kota-kota besar lainnya saja. Namun tampaknya kata “kita” yang dimaksud hanya merujuk kepada orang-orang Jabodetabek dan yang berada di kota-kota besar, sebab di beberapa daerah (bukan di kota besar). Misalnya dalam perkataan Rini, “…gak kayak kita yang sedikit-sedikit beli”, “kita” ini jelas merujuk ke orang kota saja karena di beberapa daerah masih memanfaatkan benda di sekeliling mereka dan tidak sedikit-sedikit beli karena mereka masih mampu mendapatkannya sendiri.

Apapun yang artis-artis atau pembawa acara ini bawakan, selalu menjadikan kota Jakarta sebagai titik tolak perbandingan kebudayaan apapun yang mereka rasakan selama di wilayah suku tersebut. Hal ini jelas menumbuhkan rasa etnis “superior” karena titik tolak kelayakan adalah orang Jakarta.

Secara umum, peneliti menemukan bahwa Ethnic Runaway membungkus rasa kejijikan, ketidakhormatan, keterasingan terhadap suku terasing dengan embel-embel “cinta keberagaman”, “mencintai kebudayaan Indonesia”, “perbedaan yang indah”.

FTV (Film Televisi) produk SCTV pun melakukan hal yang sama pula, hanya saja mereka tidak membingkai suku-suku pedalaman ke dalam stigma tertentu, melainkan menempelkan stigma pada orang-orang di luar kota Jakarta. Penulis sedikit bingung menulisnya dengan sebutan “etnis” karena kenyataannya yang FTV berikan tak hanya stigma pada etnis saja melainkan geografis wilayah. Melalui lima FTV yang penulis teliti, kelima-lima nya tersebut melekatkan kesenjangan sosial-ekonomi pada etnis jawa dan sunda dengan orang Jakarta. Etnis jawa dan sunda (atau orang luar kota Jakarta) kerapkali dijadikan bawahan dari orang Jakarta, dan orang di luar Jakarta akan dilekatkan dengan unsur-unsur kuno, lusuh, dan lugu. FTV menyempitkan bingkai kebudayaan jawa dan sunda hanya ke dalam pakaian dan nada bicara. Bahkan terkadang etnis yang ditampilkan ini kurang merepresentasikan budaya itu sendiri. Kebudayaan jawa yaitu penggunaan bahasa jawa dan dengan nada medok juga secara terang-terangan ditunjukkan sebagai bentuk “kemunduruan”, terlihat dari adegan saat tokoh ingin terlihat cantik dan elegan, yang diubah tak hanya cara berpakaian tetapi juga nada bicara dan cara berbicara. Hal ini dapat menumbuhkan pandangan bahwa nada medok sebagai nada yang “membuat tidak terlihat elegan/cantik”.

  • Rasisme Media Memengaruhi Pandangan Masyarakat Umum

Sadar ataupun tidak, media-media seperti Trans TV dan SCTV yang disiarkan secara nasional ini akan membentuk persepsi publik selaras dengan pandangan media terhadap suatu hal (Vipond, 2000; Spitulnik, 1993), termasuk tayangan-tayangan yang secara tidak langsung mendiskriminasi ras atau etnis, seperti yang terjadi di Ethnic Runaway dan FTV. Bukti terpengaruhnya persepsi publik dari hadirnya tayangan televisi seperti Ethnic Runaway dan FTV diperlihatkan dalam laman facebook Ethnic Runaway, saat para penonton mengomentari postingan dari admin Ethnic Runaway. Melalui laman facebook, peneliti menemukan ada tiga hal yang muncul, yaitu penilaian “baik” dan “buruk” suatu kebudayaan, pembelajaran tanpa penghargaan kebudayaan, dan kegiatan suku pedalaman dijadikan tontonan hiburan.

Budaya berpakaian daerah tidak dipandang sebagai wujud dari kebudayaan, melainkan sebagai wujud keterbelakangan karena tidak mengenakan pakaian seperti kaus, celana. Komentar dari penonton Ethnic Runaway (“sukunya masih belum berpakaian dengan baik ya?”) itu juga dapat diketahui adanya pandangan dalam masyarakat bahwa pakaian yang “baik” adalah kaus, kemeja, celana sedangkan di luar dari hal tersebut akan dianggap sebagai “tidak baik”.  Padahal, seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, suatu budaya tidak memiliki “baik” atau “tidak baik” jika tidak dibandingkan dengan budaya lainnya.

Para penonton Ethnic Runaway juga kerap kali lebih berfokus pada artis pembawa acara dibandingkan orang suku itu sendiri. Padahal seharusnya orang suku yang menjadi subjek utama dalam tayangan ini malah menjadi objek, sedangkan artis pembawa acara menjadi subjek utama tayangan. Orang suku menjadi objek “permainan” dari subjek utama (artis) dan sebagai objek tontonan atau “atraksi” bagi para penontonnya. Hal ini kurang lebih seperti Kebun Binatang Manusia (Human Zoos) pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20 yang populer di Eropa dan Amerika. Kebun Binatang Manusia ini adalah pertunjukan manusia “primitif”  (anggota suku asli Afrika, Asia, dan Amerika Selatan) dalam kandang layaknya kebun binatang [10]. Dampaknya dari kebun binatang manusia ini, para suku asli tersebut terdiskriminasi di masyarakat umum sehingga susah mendapat pekerjaan dan terus dibentuk (oleh pegawai kebun binatang manusia) semakin primitif untuk daya tarik masyarakat. Ethnic Runaway pun dirasa melakukan hal yang sama, hanya saja dalam medium yang berbeda.

Masih sama seperti Kebun Binatang Manusia, para penonton Ethnic Runaway merasa lebih tertarik jika semakin dipertunjukan sisi primitif suatu suku dan yang semakin terasing, terlihat dari bagaimana mereka merespon dan memberi rekomendasi suku, kata-kata yang diusung adalah “lebih pelosok” atau “primitif”. Mungkin saja jika kemudian Ethnic Runaway memperkenalkan Suku Sunda atau Suku Betawi, akan banyak penonton yang kecewa karena apa yang penonton harapkan, “sisi primitifnya” (primitif dalam pengertian masing-masing penonton), tidak penonton temukan. Padahal, Etnis Sunda dan Etnis Betawi juga masih bagian dari suku bangsa Indonesia kan? Dan masih sejalan dengan visi tayangan ini.

Penonton menyatakan Ethnic Runaway sebagai “tayang edukasi” pun perlu dipertanyakan, edukasi seperti apa yang akhirnya sampai ke penonton? Bisa jadi penonton mendapat pengetahuan nama-nama suku, kegiatan-kegiatan kebudayaan di dalamnya, namun tidak dengan penghargaan kebudayaan. Lebih buruk lagi, adanya anggapan bahwa etnis para penonton ini superior dan para orang suku pedalaman yang akan selalu menjadi objek tontonan saja atau sebagai etnis inferior.

Penulis lahir, tumbuh, dan berkembang di Jakarta dan tentu saja tayangan seperti Ethnic Runaway (sejak 2011, berarti penulis berumur 10 tahun) dan FTV menjadi tontonan penulis. Apa yang sekarang penulis sadari adalah, penulis juga seringkali menganggap Jakarta sebagai titik tolak segalanya, menganggap orang di luar Jakarta sebagai wilayah-wilayah yang kumuh, terbelakang, dan tidak semodern di Jakarta. Pernah sewaktu-waktu penulis berkenalan dengan teman dari banten, yang kemudian penulis tanyakan adalah apakah mereka sudah memiliki transportasi atau tidak, padahal banten yang dimaksud adalah banten kota dan di pedesaan pun sudah ada. Tanpa sadar, penulis pun juga menjadi hasil konstruksi media terhadap pandangan suku dan etnis.

  • Rasisme Media Memengaruhi Korban Rasisme Tersebut

Tayangan rasisme-secara-tidak-sadar oleh media tentu memengaruhi korban rasisme. Seperti yang sudah disampaikan di atas tentang Kebun Binatang Manusia, para penonton akan semakin tertarik jika objek tontonan semakin terasing dan primitif sehingga industri, dalam konteks ini adalah industri media massa terutama televisi, akan terus membingkai suku pedalaman dengan kebudayaan primitif karena hal tersebut dianggap sebagai “daya tarik” masyarakat. Artikel Mongabay pernah menyatakan bahwa Ethnic Runaway edisi Suku Polahi di tahun 2012, Gorontalo, dimana dalam tayangan tersebut orang Suku Polahi telanjang dan hanya memakai pelepah daun dinilai rekayasa media/di-setting sebab Verrianto Madjowa, peneliti Gorontalo, mengatakan bahwa di tahun 1997 orang Suku Polahi sudah mengenakan pakaian[11]. Artikel yang sama juga menceritakan saat Carnival Danau Limboto 2014, dihadirkan Suku Polahi dengan bertelanjang dada dan dedaunan yang menghiasi kepala mereka, pendamping mengatakan bahwa mereka ini adalah suku primitif, memang berpakaian seperti ini. “Primitif” yang dibawakan pun menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat setempat sekalipun tidak sesuai dengan yang mereka bayangkan. Namun ternyata di tengah-tengah karnaval mereka kepanasan, anak-anak kecil juga menangis karena kehausan dan tidak kuat dengan sinar matahari, sehingga akhirnya berteduh di pohon dan diberi alas kaki oleh para pendamping serta anak kecil ini diberi minuman kemasan oleh ibunya. Apakah benar Suku Polahi tidak berpakaian dan hanya menggunakan daun seperti itu? Penulis merasa tidak demikian. Akibat media mencari massa penonton, para suku-suku pedalaman ini menjadi “korban”. Mereka (orang suku) dijadikan objek atraksi, dan jika tidak seprimitif seperti yang diharapkan, “objek atraksi” ini akan diubah sedemikian rupa agar menjadi primitif yang menarik. Ya, terjadi eksploitasi dan diskriminasi suku.

Stigma yang dikonstruksi media massa tidak hanya suku pedalaman, tetapi juga etnis. FTV selalu menciptakan dua karakter: orang Jakarta dan orang di luar Jakarta. Orang Jakarta selalu digambarkan dengan sifat glamor, kaya, sombong, manja dan sifat sebaliknya untuk orang di luar Jakarta yang umumnya dicirikan melalui nada bicara medok dan busana baju adat; juga etnis jawa dan sunda selalu menjadi bawahan orang jakarta. Setiap saya pergi ke desa untuk live-in (saat sekolah) dan TPL kemarin, banyak warga setempat ketika tahu saya berasal dari Jakarta akan dikaitkan dengan kaya dan manja, lalu mulai membandingkan diri mereka sendiri yang miskin dan tidak memiliki apa-apa. Pada akhirnya, mereka yang berada di luar Jakarta, yang bahkan bukan suku terpelosok, akan terus merasa berada di bawah bayang-bayang Jakarta yang dianggap sebagai superior. Selain itu orang di luar Jakarta ini juga akan mencoba untuk berbicara seperti orang Jakarta (tidak medok dan menggunakan ‘lo’ ‘gue’) dan berpakaian seperti orang Jakarta karena anggapan keren dan tidak kuno.

  • Conclusion

Media massa “gratisan” seperti TV nasional Trans TV dan SCTV akan mencoba berbagai cara untuk meningkatkan ratingnya tanpa perlu mengeluarkan pemikiran kritis (karena ingin tayangan instan) dan tanpa pengeluaran terlalu banyak, maka ada “daya tarik” cuma-cuma yang harus mereka munculkan. Salah satu daya tariknya adalah aksi primitif dari suku-suku. Sedangkan dalam FTV, crew mempermudah pembuatan naskah dengan menciptakan karakter yang sama dalam setiap pembuatan film hingga munculah beberapa stigma kepada para etnis. Stigma yang hadir sebetulnya sudah ada di masyarakat sejak lama, stigma itulah yang ditunjukkan dan semakin dipoles. Hingga pada akhirnya media massa, terutama media hiburan, akan menampilkan suku dan etnis sesuai dengan tujuan utama para industri media yaitu mendapat penonton dalam jumlah yang banyak agar usahanya dapat bertahan. Diskriminasi seperti yang dilakukan Ethnic Runaway sendiri tidak disadari mayoritas penontonnya karena adanya narasi-narasi seolah membenarkan diskriminasi itu seperti, “sekalipun tidak seperti kita…”, “bersyukur” dan ditutup dengan semangat nasionalisme

Umumnya media yang berpusat di kota Jakarta ini akan membandingkan segala nilai dan kebudayaan dengan nilai dan kebudayaan di kota Jakarta hingga lahirlah penilaian kebudayaan oleh masyarakat umum. Sayangnya sikap selalu membandingkan dengan kota Jakarta, penampilan primitif, stigma, diskriminasi, dan rasisme dalam media hiburan ini memengaruhi pemikiran masyarakat terhadap etnis dan suku pedalaman. Masyarakat akan mulai membandingkan suatu etnis dan kebudayaan suku dengan titik tolak media, yaitu kota Jakarta. Kota Jakarta menjadi superior dibandingkan wilayah di luar Jakarta, karena nilai kebenaran terletak di kebudayaan kota Jakarta. Meski demikian, penulis tidak menyimpulkan pandangan masyarakat terhadap Jakarta dan kota di luar Jakarta terutama suku dan etnis di pedalaman hasil murni konstruksi media, nyatanya masih banyak faktor eksternal lainnya seperti politik, ekonomi, sosial, dan historis sehingga terbentuknya pandangan tersebut. Hanya saja yang penulis tekankan adalah kesenjangan yang sudah ada ini dipoles secara berkala oleh media sehingga tugas media yang seharusnya menampilkan fakta dan informasi sesungguhnya terabaikan. Akibatnya para korban diskriminasi media ini akan terus terdiskriminasi, tereksploitasi, mendapat stigma oleh masyarakat umum, dan terus merasa di bawah bayang-bayang superior, yaitu Kota Jakarta.

Penelitian ini memiliki kekurangan yaitu tidak memerhatikan faktor eksternal lainnya seperti faktor historis, ekonomi, politik, dan sosial hingga terciptanya stigma dalam masyarakat dan pandangan “Jakarta” sebagai kota superior. Peneliti juga tidak memerhatikan faktor internal dari media massa seperti kewajiban untuk mempertahankan popularitas dan kurangnya biaya produksi yang didapatkan. Penelitian lanjutan dapat meninjau melalui faktor internal dan eksternal yang terabaikan dari penelitian ini.


[1] Women, U. N. (2018). Annual Report 2017–2018

[2] Lihat laporan penelitian yang dibuat Remotivi dan FIKOM Universitas Padjajaran melalui Melipat Indonesia Dalam Berita Televisi: Kritik dan Sentralisasi Penyiaran (2014)

[3] Indah Wulandari. “Trans TV Meminta Maaf Atas Tayangan “Primitive Runaway”. Remotivi. 29 Desember 2010. http://www.remotivi.or.id/kabar/138/trans-tv-meminta-maaf-atas-tayangan- diakses pada 12 Mei 2020.

[4] Gara Gara Gino https://www.youtube.com/watch?v=VlfzXoAvpul;

Mercy Milik Joko https://www.youtube.com/watch?v=Z-OHbeCbc1c;

Ada Cinta di Kampung Kambing https://www.youtube.com/watch?v=UmPmpbP9GhY;

Putri Manja Masuk Desa https://www.youtube.com/watch?v=9mpmVtXBf10;

Cintaku Antara Jogja – Jakarta https://www.youtube.com/watch?v=6QPYmZnex30 

[5] Lihat https://www.youtube.com/watch?v=pB9BQ4-B1lw&t=521s

[6] Lihat https://www.youtube.com/watch?v=cHFObA2AFHU&t=147s

[7] Merupakan hasil analisis Remotivi, tayangan tidak ditemukan di kanal youtube. https://www.remotivi.or.id/amatan/159/Ethnic-Runaway:-Mencintai-Indonesia-dengan-Jijik-(Bagian-I) Diakses pada 18 Mei 2020

[8] Tidak ditemukan informasi makanan khas Suku Kalende. Hanya menemukan Pakkat sebagai makanan khas menu berbuka di daerah Sumatera https://kumparan.com/sumutnews/pakkat-pucuk-rotan-muda-pemulih-stamina-saat-berpuasa-1r7CZWqbFz2/full Diakses pada 18 Mei 2020

[9] http://www.getborneo.com/umbut-rotan-makanan-unik-kalimantan/ diakses pada 18 Mei 2020

[10] Akhmad Muawal Hasan. “Kebun Binatang Manusia: Jejak Kelam Rasisme di Eropa & Amerika”. Tirto. 24 September 2018 https://tirto.id/kebun-binatang-manusia-jejak-kelam-rasisme-di-eropa-amerika-c11V diakses pada 18 Mei 2020

[11] Lihat Fotonya https://www.mongabay.co.id/2014/12/16/beginilah-perlakuan-pada-komunitas-polahi-di-gorontalo/ diakses pada 18 Mei 2020

Penulis

Maria Michelle Angelica – Biasa dipanggil sayang. Lahir pada Friday the 13th bulan 4. Punya hobi menyimpan kenangan berupa tulisan, foto, gambar, dan masa lalu. Punya bintang biri-biri. Hidup di dunia penuh ilusi-fiksi dan paradoks. Punya situs blog dari SD eh tapi dibajak ketika SMA jadi bermigrasi ke jangandibajak.wordpress.com, isinya kadang bisa dibilang sampah.