The Internet Persona of Dhai

Afifah Golda (Antropologi 2019)

Sudah kurang lebih sepuluh bulan lamanya kita semua sama-sama berada di tengah kondisi pandemi yang membuat semua orang dianjurkan untuk menetap di rumah. Di tengah kebosanan yang melanda akibat kegiatan yang bisa dilakukan hanya kegiatan di dalam rumah dan berupa rutinitas yang itu-itu saja, saya tertarik untuk mengeksplorasi media sosial yang sedang menjadi buah bibir saat ini, yakni apalagi kalau bukan: Tiktok. Tiktok, sebagaimana yang tercantum dalam laman resminya memperkenalkan diri sebagai platform short-form mobile videos. Tampilan utama Tiktok terbagi menjadi dua bagian. Pertama, Following pada bagian sebelah kiri. Bagian ini akan menampilkan video-video dari akun yang Anda ikuti. Kedua, For You (atau lebih sering disebut dengan For You Page) yang berada pada bagian sebelah kanan. Lain dengan Following, bagian ini berisi video-video yang direkomendasikan Tiktok kepada para penggunanya. Algoritma For You Page di Tiktok inilah yang pada akhirnya mengenalkan saya kepada pengguna dengan username @wisqasmeong atau @dhaymmnnn, yang bernama asli Dhai.

            Awalnya, video milik @wisqasmeong yang seringkali muncul di FYP (For You Page) tidak terlalu menarik perhatian saya karena kontennya yang lewat di laman FYP saya ini hanya berupa perubahan ekspresi wajah tertentu, yang tadinya saya pikir tidak menarik dan membosankan. Sampai akhirnya ada unggahannya yang cukup membuat saya tertarik, yaitu video perubahan gaya rambutnya menjadi mullet. Setelah melihat video tersebut, saya langsung membuka profil Tiktok milik @wisqasmeong ini. Dari profilnya, barulah tampak beberapa video yang diambil dari angle berbeda. Ada yang hanya menunjukkan kepala saja, ada yang setengah badan, ada yang menampakkan seluruh badan, dan ada pula video-video ia bersama teman-temannya. Saya pun akhirnya tertarik untuk mengikuti dan menelusuri akun ini, begitu pula dengan akun Instagram miliknya.

Dari apa yang nampak pada unggahan media sosialnya, pria pemilik akun @wisqasmeong dan @dhaymmnnn yang biasa disapa Dhai ini memiliki bentuk muka kotak dengan garis-garis wajah yang cukup tegas pada bagian tulang pipi dan dahi. Hidungnya besar dan mancung, bibirnya cukup tebal, matanya tajam dan tidak terlalu besar. Yang menarik adalah alisnya yang tebal namun memiliki eyebrow slit atau ada bagian yang terbelah pada salah satu sudut alisnya. Eyebrow slit yang populer digunakan artis hip-hop pada tahun 90-an tengah kembali menjadi tren di kalangan remaja. Banyak yang dengan sengaja membuat eyebrow slit dengan cara mencukur sedikit bagian alisnya atau menutupnya dengan make up. Namun, eyebrow slit milik Dhai adalah eyebrow slit yang alami, karena ia pernah terjatuh saat kecil dulu yang membuat alisnya terluka dan pada bagian luka itu tidak tumbuh rambut alis lagi sampai sekarang. Setidaknya itulah yang ia katakan setiap mendapat pertanyaan “Bang alis lu asli?” dalam kolom komentar di setiap unggahannya atau jika ia melakukan siaran live di media sosialnya.

Hal lain yang sering dikomentari warganet adalah gaya rambut mullet-nya. Ia seakan-akan menghidupkan kembali gaya rambut yang tren pada tahun 80-an ini. Gaya rambut mullet miliknya tidak hanya menarik perhatian saya, tapi juga warganet lainnya. Banyak yang bertanya apa nama gaya rambut ini, banyak juga yang sekadar ‘memastikan’ gaya rambut ini adalah mullet atau sekadar memuji hanya untuk dapat berinteraksi dengan Dhai. Dhai juga kerap kali dipuji karena gaya berpakaiannya. Ia terlihat pandai memadu-padankan pakaian dan terlihat cocok pada badannya yang tinggi tegap. Ia tidak pernah menyebutkan secara jelas berapa tinggi badannya, namun saya asumsikan mungkin sekitar 170-180 cm. Ia tampak tidak terpaku dengan satu style tertentu meski seperti apa yang sering dikatakan oleh warganet, gaya berpakaiannya memang didominasi nuansa ‘jaman dulu’ atau ‘vintage’. Selain lintas era, ia juga dengan berani menggunakan pakaian bermotif atau pakaian berwarna terang dan tanpa malu-malu, ia juga mengenakan aksesoris seperti kalung, kacamata, juga terkadang mengecat kukunya dengan berbagai warna. Hal yang saya rasa masih jarang dilakukan oleh laki-laki Indonesia.

Sebetulnya, warganet dan termasuk di dalamnya juga saya tidak perlu heran dengan selera berpakaian Dhai yang bagus dan ‘melek’ tren ini. Pasalnya, ia adalah seorang art director, fotografer, desainer grafis, juga fashion stylist. Berkecimpung dalam bidang yang sangat menonjolkan visual ini membuatnya paham bagaimana atau hal-hal apa yang sekiranya terlihat baik dan menarik di mata orang lain. Setidaknya itulah yang tergambar dari unggahan Instagramnya yang kebanyakan adalah konten pekerjaan dan juga konten-konten pribadi yang menunjukkan gaya berpakaiannya sehari-hari sebagai mahasiswa tingkat akhir di Universitas Multimedia Nusantara. Intensitas Dhai dalam mengunggah konten dan berinteraksi dengan pengikutnya membuatnya semakin populer dalam berbagai media sosial. Meskipun begitu, Dhai cukup selektif memilah informasi mana yang diberitahukannya kepada publik dan mana yang tidak. Tak jarang ia mendapat pertanyaan yang bersifat pribadi seperti menanyakan usia, alamat, dan hal-hal yang bersifat pribadi lainnya. Tetapi, ia memilih untuk tidak menjawabnya dan menolak secara halus. Ia lebih suka menjawab pertanyaan seputar pekerjaan, hobi, gaya rambut (yang selalu ditanyakan berulang), atau pertanyaan-pertanyaan lain yang tidak bersifat pribadi. Menjadi menarik ketika saya mencoba melihat bagaimana Dhai menciptakan internet persona-nya seiring dengan bertambah populernya ia. Dhai, secara sengaja maupun tidak, berhasil membangun imej yang sangat baik dan banyak diminati oleh remaja, terlihat dari jumlah likes yang cukup banyak pada unggahannya dan pengikutnya yang mungkin bertambah banyak setiap harinya. Konten yang ia unggah pun semakin beragam, mulai dari konten yang menunjukkan keisengannya di sela-sela beraktivitas hingga konten-konten fesyen yang terkurasi dengan baik. Sebagai seseorang yang populer lewat media sosial Tiktok dan Instagram, Dhai dengan pandai memanfaatkan kebebasannya untuk menciptakan dan menjaga self-branding dirinya sendiri. Ia memilah dan memilih apa-apa saja yang patut ia unggah juga menjaga interaksinya dengan para pengikutnya dengan baik. Dengan ini, barangkali memang sengaja ia membangun internet persona seperti apa yang nampak pada akun-akun media sosialnya untuk dilihat oleh orang lain seperti saya, ribuan pengikutnya, dan warganet lainnya.

Afifah Golda A., saat ini berstatus sebagai mahasiswa aktif S1 Antropologi Budaya angkatan 2019. Tertarik dengan berbagai jenis hal yang bisa dipelajari, menjadikan kegiatan merekam momen atau membuat karya seni abal-abal sebagai hobi, senang berbincang dengan orang lain sekaligus suka menghabiskan waktu seorang diri. Dapat dikontak melalui email afifahgolda@mail.ugm.ac.id atau instagram: @lamanalternatif.