Sebuah Refleksi : Islam itu “Alat Menuju Allah” dan Pengingat Diri

Photo by Alena Darmel from Pexels

Berbicara mengenai  Islam, tentu erat kaitannya  dengan  mayoritas masyarakat Indonesia yang notabene memang memeluk agama  Islam.  Akan  tetapi, apa arti Islam itu sendiri? Apakah hanya sebagai identitas  belaka? Atau hanya sebatas formalitas belaka? Atau justru Islam adalah “alat” untuk menuntun mereka dalam menjalani hidup? Tentu  saja  kasus  ini berbeda – beda bagi setiap orang, tergantung seberapa besar  keimanan  mereka. Saya sendiri pernah mempertanyakan, apa itu Islam  dan  apa  gunanya  saya memeluk Islam? Bukankah yang paling penting adalah berbuat  baik kepada sesama? Lama kelamaan, saya  akhirnya  mencoba  mempelajari Islam  secara  lebih mendalam, agar tidak hanya sebatas menjadi agama yang diturunkan oleh orang tua saya.

“Orang hanya akan melaksanakan seperangkat nilai secara efektif dan pribadi dengan penuh kesadaran bahkan mungkin dengan pengorbanan melalui penghayatan nilai tersebut secara pribadi.” (Huda, 2016: 151) . Pemaknaan sebuah agama itu penting. Apalagi, agama Islam memang sudah melekat di dalam diri saya sejak  saya  masih kecil. Dahulu mungkin saja melakukan praktik fiqihnya hanya sebatas rutinitas belaka, tanpa mengetahui esensi dari apa yang saya praktikkan setiap hari. Kini, saya mencoba melakukan penghayatan secara pribadi,  semakin penasaran mengenai esensi apa yang saya lakukan. Saya memutuskan untuk lebih mendalami Islam secara perlahan. Saya banyak bertanya  kepada  orang tua dan  orang – orang di sekitar yang saya  kenal   memang  lebih  paham  Islam  dibanding saya. Selain itu, pada masa sekolah sejak Taman  Kanak  – kanak (TK) saya  juga  sering   diberikan  berbagai  wawasan  mengenai   agama Islam.

Perlahan  saya  semakin  memahami  apa itu  Islam  dan  bagaimana  Islam bisa menjadi penuntun saya dalam menjalankan hidup. Berbagai nilai  yang  diajarkan Islam menunjukkan kepada saya  bahwa  Islam  memang  agama  yang  tepat dan menjadi pengingat diri yang membawa kedamaian bagi batin saya. Contohnya adalah saat saya berdzikir, melaksanakan ibadah sholat, saya merasakan ketenangan  dalam  diri  saya  sekaligus  rasa  aman  dan  nyaman.  Hal  ini membuat saya percaya bahwa Islam bukanlah  agama  yang  memecah  belah umat, Islam sebenarnya merupakan agama yang mengajarkan umatnya untuk bersatu dan saling berbuat baik.

Berbagai ilmu yang saya dapatkan dari banyak sumber membuat saya semakin giat melakukan praktik agama Islam dalam kehidupan  sehari – hari. Misalnya saja, yang dulunya saya melaksanakan sholat hanya sebagai rutinitas, kewajiban, dan kurang khusyuk dalam melaksanakannya, setelah mendapat berbagai  ilmu  baru,  saya  sholat  dengan  lebih  khusyuk  dengan  tujuan  yang benar yaitu menyembah Allah dansaranaberkomunikasidengan -Nya.Selain itu, saya juga mempraktikkan berbagai contoh ibadah yang terkesan sederhana seperti membaca doa sehari-hari dan perbanyak bersholawat.

Islam sebagai alat menuju  Allah  adalah  suatu  jawaban  dari  pertanyaan “Apa itu islam?” yang paling bermaknanbagi saya. Pendekatan kita pada sang pencipta dan terus beribadah menjadi alat menuju Allah.  Seseorang pernah menyampaikan ini pada saya, “Umur  itu  bagai  perjalanan kapal. Dunia itu perjalanan, bukan tujuan.” Jika dunia itu dijadikan sebagai tujuan, lalu akhirat itu apa? Kita di dunia ini hanya seorang pengembara. Tempat  kembali  kita  di  surga  atau neraka.  Ibarat sebuah perjalanan ke tanah air, ya tujuan kita itu di akhirat nanti. Di bumi ini, Allah menjadikan bumi untuk tempat singgah, untuk beribadah.

Seseorang pernah mengatakan bahwa setiap  napas  bagai  langkah  perjalanan.Setiap waktu bagaimodalperjalanan. Ketaatan  bagai  barang dagang perjalanan. Syahwat dan harta adalah bekal perjalanan. Dapat diartikan bahwa jika kita taat,  kita  akan beruntung.  Jika kita mengikuti syahwat,kita akan merugi. Ibarat sebuah perjalanan ke tanah air, kita akan kembali dengan selamat. Kita akan berhasil ke tempat tujuan kita. Bisa bertemu Allah dengan kondisi yang baik dan dibarengi  malaikatdengan  baik-baik. Maka,  bagaimana cara saya memaknai islam sebagai alat menuju Allah adalah senantiasa memanfaatkan waktu dengan  baik  untuk  menjalankan  segala  perintah  Allah  dan menjauhi segala larangan-Nya. Pendekatan diri pada-Nya itu penting.

Saya juga memiliki prinsip mengenai   bagaimana  kita  bisa  menikmati hidup. Untuk menikmati hidup, menurut saya bukanlah   tentang  memiliki segalanya yang kita inginkan, akan tetapi lebih ke  bagaimana  kita terus  berusaha dan menikmati apa yang kita miliki saat ini. Dengan menikmati apa yang kita miliki, kita akan merasa lebih tenang dan terhindar dari  sifat  serakah. Selain itu kita  juga  akan  lebih  bisa  menghargai  orang  lain,  dan  lebih  peka dengan keadaan sekitar yang memang lebih  memerlukan  bantuan dibandingkan diris endiri.

Dalam kehidupan  sehari – hari,  saya  juga  mempraktikkan  nilai  –  nilai Islam yang dikemukakan oleh Alm Gus Dur, yaitu 9 nilai Gus Dur atau  nilai Gusdurian. Salah satu nilai Gusdurian yang saya  amalkan  adalah nilai kemanusiaan. Nilai ini mengajarkan manusia untuk saling menghargai dan menghormati, jika kita memuliakan sesama manusia artinya kita  memuliakan  Allah, dan jika kita menghinamanusia lain berartikitajuga  menghina  Allah. Maka dari itu, setiap harinya saya berusahauntuk membantu orang lain yang membutuhkan pertolongan, tidak megejek dan mencela teman mesk ihanya untuk candaan, dan tidak mendiksriminasi suku, agama, dan ras lain.

Islam berperan sebagai pengingat diri dan mengajarkan saya untuk menumbuhkan rasa  sosial atau  jiwa kemanusiaan, solidaritas, dan tenggang rasa. Sebagai contoh, saya berbagi kepada orang  yanglebih membutuhkan melalui donasi, mengingat di masa pandemi ini, semuakalangan khususnya kalangan bawah sangat terdampak oleh adanya  pandemi  Covid- 19. Islam juga mengajarkan saya agar tidakserakah dalam membeli sesuatu. Seperti yang kita ketahui, pada awal masa pandemi, banyak orang yang melakukan panic buying atau membeli satu jenis barang dengan jumlah yang banyak untuk dirinya  sendiri. Contohnya,  dulu  banyak masyarakat yang membeli masker dalam jumlah banyak dan hanya  digunakan  untuk dirinya sendiri, tentu hal ini membuat orang lain tidak bisa mendapatkan masker tersebut. Padahal Islam sendiri mengajarkan bahwa sesuatu yang berlebihan tidak baik.

Setiap orang mungkin memiliki pandangan dan penghayatan yang berbeda . Pendekatan-pendekatan yang digunakan pun juga akan beragam. Namun, pada intinya perjalanan refleksi diri saya dalam Islam, membawa kepercayaan bahwa Islam merupakan alat menuju Allah dan sebagai pengingat diri. Bagaimana saya bersikap dan berpikir, Islam ada untuk mengontrol diri dengan segala nilai-nilainya.

Referensi

Huda, M. D. (2016). Pendekatan antropologis dalam studi islam. Didaktika Religia, 4(2), 139-162.

Identitas Penulis

Rizky Rahma Fie Nurkhasanah – Mahasiswa Antropologi Budaya UGM 2020. Halo, aku Rahma Fie. Seorang gadis kecil yang suka memotret, travelling, melakukan hal produktif, olahraga, dan ngemil. Aku suka air, hujan, dan ombak pantai. Suka nongki, tap tidak bisa minum kopi. Ingin mengenal lebih dekat denganku? Mari bersua di instagram pribadiku @ryzrahma.