Kenali Antropologi Lewat Sandiwara

Sumber: Dokumen Pementasan “Sampek dan Engtay” Teater Puspanegara SMAN 5 Yogyakarta

Sejenak saya mulai berpikir, tampak ada kedekatan tersendiri disaat menjajaki antropologi diawal kuliah. Disaat saya mencoba mengingat-ingat akhirnya mulai tersadarkan oleh kuliah Prof. Laksono. Gaya tulisan dan pengajaran beliau yang indah nan menarik juga wadidaw ini menjadi pemicu tersendiri terhadap topik yang saya bahas, “Dalam belajar antropologi layaknya melihat, meraba sesuatu yang tidak nampak,” kata beliau. Pasalnya, dalam berteater juga tidak jauh dalam kaitan hal ini. Dalam teater terkhusus–disaat kita mencoba untuk memahami sebuah tokoh–terkadang sebuah tokoh tidak mudah untuk kita temukan bentuk orangnya dalam kehidupan kita sehari-hari. Kita perlu membayangkan dan memikirkan apa yang di pikiran si tokoh. Lingkungan apa yang ada di sekeliling tokoh tersebut. Kemudian kita juga perlu melihat segi kejiwaan seperti psikologi. Kemudian dalam memerankanya kita juga perlu mendemonstrasikan bentuk fisiknya. Terlebih disaat berkomunikasi kita perlu memikirkan segi sosial si tokoh. Sesaat saya terpikirkan bahwa memang belajar berteater seperti kita memikirkan suatu masyarakat tertentu, layaknya hasil observasi seorang antropolog. Lalu bagaimana cara mengkaitkan kedua topik ini?

Saya coba sedikit bercerita terkait proses pentas saat saya, terkait naskah berlakon “Sampek dan Engtay” karya Nano Riantiarno dari Teater Koma. Asal usul pembentukan serta sejarah terbentuknya lakon ini cukup menarik. Hadir disaat gencar-gencarnya diskriminasi terhadap kaum Tionghoa. Kritik yang hadir juga sangat pedas untuk diterima pemerintah saat itu, Orde Baru (1988).  Ada sebuah keterangan dari kronologi pruduksi dari website Teater Koma :

 (NR diinterogasi BAKIN, sehari penuh, di markas BAKIN, Pintu Sembilan Senayan)
(Karya N. Riantiarno, kemudian paling sering dipentaskan)

Latar belakang cerita rakyat Tiongkok yang “di-Jawakan” ini membuat saya dan teman-teman harus memahami beberapa keadaan tokoh yang memiliki kultur Tionghoa namun juga dibawakan dengan kultur Jawa yang hadir. Namun juga dalam pementasan pasti harus membuat konteks tertentu, menyesuaikan kebutuhan dan untuk menjawab persoalan fakta sosial yang ada. Dalam melakukan pembedahan naskah, kita jadi tahu dan harus tahu bagaimana unsur-unsur, simbol, hingga adat Tionghoa yang akan dihadirkan. Karena ini sebuah pementasan untuk masyarakat, maka ada unsur-unsur Jawa yang dihadirkan baik dari kondisi sosial saat itu, politik, hingga persoalan-persoalan masalah yang ada. Tiap-tiap unsur itu harus benar-benar harus dipahami. Bagaimana keselarasan agar tetap hadir untuk menarik penonton?

Beragam persoalan ini tetap harus dibungkus menjadi suatu kesatuan yang menarik, lalu apa garis penghubungnya?  Oke, mari kita bedah satu persatu. Naskah sendiri apabila diibaratkan sebuah kendaraan kemudian muatan didalam kendaraanya yang ingin disampaikan adalah sebuah pesan. Kendaraan harus menarik, pun juga “pesan” harus suatu hal yang memang perlu untuk disampaikan. Apabila melihat “kendaraan” ini, berarti ceritanya adalah cerita rakyat Tionghoa, namun memiliki latar Jawa, yaitu Pandeglang serta Batavia. Penyesuaian latar waktu sangat mempengaruhi visualisasi pementasan. Dari sini saja kita perlu mengetahui bagaimana masayarakat Jawa di Pandegalng serta Batavia. Tiap tiap pemeran yang memerankan tokoh yang terkait kedua tempat tersebut, perlu memahami ketiga komponen pembentuk tokoh, sisi psikologi, sosial, serta fiisknya. Kemudian perlu juga memahami mengapa ada dan perkembanganya cerita rakyat lakon “sampek dan engtay” ini. Kita jadi memahami penggambaran-penggambaran yang ada sebuah reflektif dari masyarakat tiongkok itu sendiri.

Tadi persoalan kendaraan, sekarang terkait pembahan pesan. Sebenarnya tetap sama, namun pesan yang ingin disampaikan haruslah kontekstual dengan keadaan saat pentas itu berlangsung. Di awal saya terkadang menanyakan, mengapa cerita ini sering dipentaskan ulang? Mengapa teater koma sering mementaskan ini? Mengapa kita harus mementaskan ini? Kenyataanya memang dalam pemillhan naskah sangatlah krusial dalam persoalan pementasan. Dasar yang paling sederhana adalah, karena naskah ini masih relate untuk dibawakan. Mungkin lebih memoles kendaraan ataupun pesanya. Jadi dalam bagaimana pesan mau dibawakan, haruslah mengetahui konteks keadaan situasi kondisi masyarakat. Sehingga sangat mungkin bisa berganti atuapun tetap sama dengan bungkusan yang dipoles.    

Kembali lagi dalam pembahasan antropologi, cara memahami yang terlihat mirip ini menjadi suatu motivasi dan pemikiran baru untuk saya. Bahwa, dalam melihat suatu hal perlu adanya suatu pemikiran yang komprehensif, menyeluruh. Sehingga dalam mengobservasi suatu hal kita dapat melihat konteks luas. Kemudian apabila disadari, berawal dari kegiatan atau hal yang kita suka, kita dapat membawanya kedalam kajian antropologi. Jadi hal remeh temeh yang biasa kita dengar, lihat, ataupun rasakan sebenarnya apabila kita melihatnya secara mendalam, akan menemukan suatu titik temu atau bisa kita bawakan dalam proyeksi antropologi. Mungkin teman-teman semua memiliki hal yang disenangi ataupun digemari. Namun mungkin merasa bahwa, “Ah, mana mungkin bisa dikaitkan”. Maka dari itu perlu mencoba melihat dari berbagai perspetktif, berbagai proyeksi, sehingga kita juga tidak sekadar menikmatinya saja, namun juga bisa kita bahas dalam kajian antropologi. Ketajaman penglihatan kita melihat lingkungan juga merupakan senjata yang harus selalu asah dalam kajian antropologi. Memang seorang antropolog seorang yang jago dalam bercinta ya, kan, harus peka menghadapi doi, hehe.

Identitas Penulis

M.T. Yudha Rahimmadhi, suka banyak hal tapi merasa tidak jago dibanyak hal juga heuheu. Tertarik membahas hal-hal yang terkait sosial, kesenian, juga agama, mungkin? O, iya aku pernah nulis jurnal tentang wisata halal, bisa cek di https://scholar.google.com/citations?user=uVHhwcIAAAAJ&hl=en kalau mau diskusi sambil ngopi-ngopi senja syahdu, bisa hubungi lewat IG: muh.yudha atau email yudha.r@mail.ugm.ac.id