Medan dan Kebisingannya

Selamat Datang di Kota Medan

Selamat datang di Medan, kota yang penuh dengan amarah. Maka barangsiapa mengunjungi Medan, pasti akan kewalahan dibuatnya. Medan adalah kota yang tidak pernah tidur. Jika Medan adalah manusia, pastilah ia sedang mengidap insomnia. Bukan hanya tidak pernah tidur, tapi Medan juga tidak pernah diam. Tuhan memberi waktu kepada manusia selama dua puluh empat jam dalam sehari, dan selama itu pula Medan terus berdendang. 

Tiga Penjuru Kebisingan Kota

Kebisingan di kota ini datang dari berbagai penjuru. Penjuru pertama adalah jalanan. Penguasa jalanan kota Medan adalah angkot, karena tidak ada seorang pun yang berani melawannya. Bapak pernah kena semprot sang penguasa jalanan ini. Hari itu, Bapak mengemudikan mobil dengan senang hati, tapi lama–lama jadi sakit hati. Karena saat Bapak berhenti di lampu merah, seorang pengemudi angkot malah melempar pandang tepat pada bola mata Bapak sembari berkata dengan suara yang lantang, “Ini Medan, Bung!” Bapak langsung diam seribu bahasa sambil menatap saya kemudian berkata, “Ini adalah satu dari sejuta alasan Bapak kabur ke Jawa sejak tahun 1980.” Maka mulai hari itu, saya tahu bahwa lampu lalu lintas di Medan telah menjadi artefak. Kalau lampunya telah menjadi artefak, rambu–rambunya sudah tinggal kenangan. Keadaan lalu lintas di kota ini memang sangat menyedihkan. Bahkan sudah terlalu menyedihkan untuk ditangisi. Seorang bijak pernah berujar, “Jika anda mampu membawa kendaraan di Medan, maka anda akan mampu membawa kendaraan di daerah manapun di Indonesia.” Penderitaan belum usai, karena paduan suara klakson akan riuh terdengar. Jalanan kota Medan adalah sarana terbaik untuk meluapkan semua emosi. 

Penjuru kedua adalah pesta. Penghuni kota Medan didominasi oleh orang Batak dan orang Batak gemar sekali berpesta. Selama lebih dari dua pekan menginap di rumah Bou, hampir setiap hari ia bersolek dan bersanggul untuk bersiap pergi ke pesta. Maka Bou punya lebih dari satu lusin kebaya dengan beragam warna. Dari yang gelap gulita hingga terang benderang. Saya pernah menemani Bou pergi ke pesta dan saya tidak ingin mengulanginya lagi. Karena saya sudah mati kutu pada pesta pernikahan sahabat karib Bou saat itu. Bayangkan saja, pesta dihelat dari matahari terbit hingga terbenam dan dentingan organ tunggal akan terus mengalun sepanjang hari dengan suara yang kerasnya bukan main. Suara organ tunggal bersaut-sautan dengan nyanyian para tamu pesta yang tidak merdu tapi mengganggu pendengaran. Saya sampai terheran dan bertanya kepada Bou, “Kenapa Bou dapat menikmati suasana pesta yang bisa merusak gendang telinga manusia ini?” dan Bou menjawab dengan lirih, “Karena terbiasa, Han.” Dalam perjalanan menuju rumah yang melelahkan, Bou bercerita, “Ini belum seberapa, Han. Waktu itu Bou pernah mendatangi tiga pesta sekaligus dalam satu hari.” Saya langsung bergumam dalam hati, bila Hindia mendendangkan lagunya dengan lirik, “Pindah berkala rumah ke rumah.” Bou mendendangkan lagunya dengan, “Pindah berkala pesta ke pesta.”

Penjuru terakhir adalah para pedagang. Entah mengapa pedagang di kota Medan menjajakan dagangan mereka seperti tengah beradu. Karena mereka sedang berlomba– omba untuk mencari perhatian dengan suara yang nyaring. Maka persiapkan lah hati dan telinga saat berkunjung ke pajak. Para pedagang tidak hanya mencipta suara lewat mulut, karena mereka juga mencipta suara lewat tangan. Tampaknya umat Medan belum puas, kalau saat memasak tidak menghasilkan suara. Padahal sesungguhnya, suara bising dari setiap alat masak yang mereka gunakan tidak menambah cita rasa dari makanan mereka.

Sumber: makanmana.net

Saking bisingnya kota Medan, Adityastha Rai Wratsangka bersama dengan tulisannya, Sound of X: Exploring Different Cities through Sounds, Videos bercerita tentang video indah mahakarya Rani Fitriana Jambak, Evi Ovtiana dan Matthias Jochmann yang berjudul Nostalgic Contrasts. Video berdurasi empat setengah menit ini menampilkan suara–suara harian yang imersif (Wratsangka, 2020). Mulai dari bunyi klakson, derak kereta, mesin jahit hingga suara dentingan sendok yang mengenai bagian dalam cangkir saat mengaduk kopi. Suara–suara ini disertai dengan visualisasi setiap sudut kota Medan. Dari hiruk pikuk dunia perkotaan yang mewah hingga gang–gang kecil yang kotor dan menyedihkan. Maka, saat menyaksikan Nostalgic Contrasts dapat dipastikan kalian akan ikut merasakan bisingnya kota Medan. Akhir kata pada bagian ini, saya seia sekata dengan ujaran Rani, Evi Ovtiana dan Matthias Jochmann yang berbunyi, crossing Indonesia’s third biggest city, Medan, will leave behind one impression in particular: an emerging and dizzying city that is diverse in ethnicities, cultures and religions.

Penutup: Bisa Karena Terbiasa

Demikianlah cerita tentang Medan dan kebisingannya. Kebisingan yang datang dari tiga penjuru utama, jalanan, pesta dan para pedagang. Tampaknya Medan butuh ratusan tahun untuk menanggulangi kebisingan ini. Pasalnya, pemerintah dan seluruh umatnya masih berusaha dengan sekuat tenaga untuk menanggulangi masalah lain yang mereka anggap jauh lebih berat kebisingan. Maka seluruh umat di Medan lebih memilih untuk membiasakan diri terhadap kebisingan. Membiasakan diri dengan kondisi lalu lintas yang hancur lebur, membiasakan diri dengan suara organ tunggal yang bisa merusak gendang telinga manusia hingga membiasakan diri dengan bisingnya mulut para pedagang.

Referensi

Wratsangka, Adityasha Rai. (2020). Sound of X: Exploring Different Cities through Sounds. 

Jakarta: The Jakarta Post. 

Sound Of X / Medan: Nostalgic Contrasts by Rani Fitriana Jambak, Evi Ovtiana & Matthias Jochmann | https://www.youtube.com/watch?v=Mvr6iWTIIiY

Biodata Penulis

Hana Prada Juwita – Antropologi 2019
Senang berbagai hal yang berkaitan dengan kesejahteraan dan kebahagiaan anak – anak. Mari bercerita lebih lanjut lewat, hana15.saragih@gmail.com