Fenomena Subkultur Fandom: Sebuah Refleksi

Pandemi yang terjadi di dunia saat ini menyebabkan saya menjadi semakin aktif dalam bersosial media terutama Twitter untuk membunuh kejenuhan di rumah saja. Twitter merupakan sebuah platform untuk mengutarakan apa yang ada di dalam benak kita menjadi sebuah cuitan. Di dalam Twitter, saya menemukan berbagai individu dengan berbagai jenis kegemaran. Saya kerap menjumpai akun berlabel K-Pop twt atau dapat dikatakan akun tersebut menyukai artis-artis hallyu, dan ada juga anitwt atau dikenal juga sebagai anime twt di mana pemilik akun tersebut menyukai anime dan lain sebagainya. Pada awalnya saya mengira hal ini adalah hal yang hanya ditemukan di Indonesia. Namu,n ternyata saya salah besar. Akun-akun fandom ini tersebar hingga luar negeri. Mereka berteman satu sama lain dalam lingkup kegemaran yang sama. Hal ini menarik perhatian saya karena orang-orang yang berjauhan dapat saling mengenal di bawah payung yang bernama fandom.

Mengutip dari Cambridge English Dictionary, fandom merupakan sekelompok penggemar dari seseorang ataupun sekelompok orang dan karakter fiksi. Fandom merupakan subkultur di mana seseorang yang menjadi bagian dari kelompok tersebut merasa memiliki visi dan misi yang sama dalam mendukung seseorang, sekelompok orang, ataupun karakter fiksi. Subkultur fandom ini muncul akibat dari kebiasaan baru yang memberi identitas baru dari sebuah budaya yang besar (Hanjani dkk., 2019). Menurut Jenkins (dalam Riswari, 2019), fandom berasal dari kata fan dari kata fanatik yang berakar dari kata fanaticus serta identik dengan pemujaan yang berlebihan. Secara luas, hal ini dapat dikatakan sebagai hal negatif seperti menganggap tokoh yang diidolakan sebagai tuhan. Tetapi, pengertian ini sedikit demi sedikit sudah bergeser dan menjadi lebih fleksibel. Dalam pandangan orang-orang yang bergabung ke dalam suatu fandom, fandom merupakan tempat untuk mengekspresikan diri secara bebas dan mereka merasa tidak sendiri karena memiliki kesamaan antara anggota fandom (Hanjani dkk., 2019). Fandom memberikan identitas seseorang di era modern saat ini. Seseorang sudah tidak dikenal dari mana dia, melainkan dikenal dari bagian fandom apa dia. Identitas pada dasarnya merupakan penanda diri dari seseorang sehingga seseorang tersebut memiliki perbedaan satu sama lain (Pertiwi, 2017). Fandom pecinta K-Pop tentu memiliki perbedaan dengan fandom anime. Kehadiran dari fandom ini kemudian menyebar di berbagai wilayah dan berbagai kalangan umur manusia layaknya jamur pada musim hujan.

Subkultur fandom ini memiliki dua sisi, sama seperti hal-hal lain yang ada di dunia ini. Di satu sisi, fandom merupakan tempat berekspresi, saling mengenal antaranggotanya, dan tempat berbagi cerita. Beberapa kegiatan dari fandom juga dapat dikategorikan sebagai kegiatan yang bermanfaat seperti kegiatan yang dilakukan K-Pop twt pada awal 2021 lalu. Berbagai fandom memperlihatkan solidaritasnya untuk membantu korban bencana alam di Indonesia khususnya di daerah Kalimantan Selatan dan Sulawesi Barat. Dalam jangka waktu yang terbilang pendek, penggalangan dana ini berhasil terkumpul sekitar 1,4 miliar. Dilansir dari CNN Indonesia, ada sekitar 16 fandom yang berpartisipasi dalam penggalangan dana ini. Kemudian, pada bulan Juni 2021, salah satu gerai makanan cepat saji di Indonesia berkolaborasi dengan BTS dan merilis BTS meal. Akibatnya terjadi panic buying melalui aplikasi pemesanan daring dan menyebabkan pelanggaran kebijakan social distancing pandemi ini. Namun, sebagai bentuk permintaan maaf atas kejadian itu, para ARMY atau fans dari BTS melakukan penggalangan dana melalui Kitabisa dan terkumpul sekitar 262 juta. Hal ini menunjukkan bahwa fandom memiliki sikap solidaritas yang tinggi antaranggotanya.

Di sisi lain, fandom juga dapat menyebabkan sikap-sikap negatif bermunculan. Salah satunya adalah solidaritas yang berlebihan. Solidaritas yang berlebihan dapat menyebabkan fanatisme. Fanatisme merupakan sikap di mana memiliki keyakinan terhadap suatu objek secara berlebihan, rasa antusias yang ekstrem, keterikatan yang ekstrem serta minat yang berlebihan pada suatu objek, dan sering kali menganggap apa yang mereka sukai merupakan hal yang paling benar sehingga mereka cenderung berusaha membela apa yang menjadi kesukaan mereka (Eliani dkk., 2018). Ciri dari fanatisme ini beberapa kali saya temukan di dalam sebuah fandom. Memang tidak semua fans adalah fanatik, tetapi ada segelintir orang di dalam fandom tersebut yang memiliki sikap tersebut. Fanatiknya pun dapat berbeda dari masing-masing individu. Ada yang mengoleksi barang dari objek yang diidolakan bahkan hingga tidak menyisihkan uang untuk sekadar memenuhi kebutuhan hidup. Ada juga yang menghalu menjadi pacar bahkan pasangan hidup hingga mencari kepuasan seksual dari objek yang diidolakan. Bahkan, di level tertentu ada yang sampai menguntit idolanya dan membuat idola tersebut merasa terganggu. Tidak hanya itu, ketika objek yang diidolakan mengalami kritikan, penggemar tersebut akan maju di garda terdepan demi membela objek yang diidolakan. Hal ini banyak saya jumpai di sosial media, tidak hanya di Twitter. Bahkan, saking inginnya penggemar tersebut membela objek yang diidolakan, mereka rela melakukan adu pendapat dengan orang yang membenci idola mereka dan biasanya berakhir ricuh karena tidak ingin menerima masukan ataupun kritikan dari orang lain. Padahal menurut saya, haters gonna hate, pembenci akan selamanya menjadi pembenci. Dengan tindakan mereka yang fanatik ini justru membuat pembenci semakin benci dengan objek tersebut. Menurut saya, perbedaan opini ini sangat biasa terjadi. Jika memang tidak setuju, lebih baik lakukan tindakan block atau diamkan akun tersebut daripada buang-buang energi.

Tulisan ini menjadi refleksi dari saya. Saya sendiri juga masuk ke dalam beberapa fandom seperti K-Pop dan anime untuk sekadar mencari kesenangan. Masuk ke dalam fandom ini tentu ada sisi baik dan buruknya. Berdasarkan pengalaman saya berlalu-lalang di berbagai fandom ini, saya menjadi bertanya-tanya. Apakah kultur tentang fandom ini dapat diubah? Atau kah fandom akan terasa nyaman tanpa adanya orang-orang yang terlalu fanatik? Atau justru fandom akan terasa sepi karena tidak adanya orang-orang atau kalangan fanatik di dalamnya? Mungkin setiap orang memiliki pemikiran yang berbeda-beda dan memiliki caranya tersendiri dalam bergabung di fandom, lebih baik saya menikmati apa yang ada di dalam fandom yang saya ikuti.

“I don’t have time, energy, interest in hating the haters; I’m too busy loving the lovers,” – Steve Maraboli.

Referensi

Annisa, Berlian I. (2021, 24 Juni. BTS ARMY Indonesia Galang Dana untuk Driver Ojol, Capai Ratusan Juta. IDN Times. Diakses dari https://bit.ly/3htqqJn

Cambridge English Dictionary Online. Entri untuk fandom. Diakses pada 7 Juli 2021. https://dictionary.cambridge.org/dictionary/english/fandom

CNN Indonesia. (2021, 26 Januari). Fans K-Pop Dulang Donasi 1,4M untuk Bencana Indonesia. CNN Indonesia. Diakses dari https://bit.ly/3jZEfB0

Eliani, J., Yuniardi, M. S., & Masturah, A. N. (2018). Fanatisme dan Perilaku Agresif Verbal di Media Sosial pada Penggemar Idola K-Pop. Psikohumaniora: Jurnal Penelitian Psikologi, 3(1), 59. https://doi.org/10.21580/pjpp.v3i1.2442

Hanjani, V. P., Amirudin, A., & Purnomo, E. P. (2019). Korean Pop sebagai Identitas Subkultur iKONIC. Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi, 3(1), 72. https://doi.org/10.14710/endogami.3.1.72-84

Pertiwi, C. (2017). SUBKULTUR ANAK MUDA PENGGEMAR BUDAYA POPULER (Studi tentang Subkultur Anak Muda Penggemar K-Pop Boygroup BTS di Surabaya). Jurnal Unair, 1–15.

Riswari, A. A. (2019). Jurnal Antropologi: Isu-Isu Sosial Budaya |. 01, 121–131.

Biodata Penulis

Chairunnisa RN – Antropologi Budaya 2020. Aku Chairunnisa biasa dipanggil Chak/Ichak/Chacak, apapun boleh asal jangan cicak. Hanya seorang manusia yang sedang memelajari manusia dan suka ngoceh tentang tanduran. Jangan lupa jaga kesehatan dan tetap bahagia! Dapat dihubungi di Instagram @chairunnisa.rn