2020 adalah Tahun Sinting dan Kita Semua (Hampir) Gila Karenanya

Afifah Golda A.

Saya rasa sebagian besar dari kita mungkin sepakat kalau 2020 adalah tahun yang cukup berat untuk setiap umat manusia. Mulai dari bencana banjir bandang di ibukota, pandemi yang melanda seluruh dunia, pergolakan politik yang nampaknya tak hanya terjadi di Indonesia tapi juga terjadi di beberapa negara (setidaknya berdasarkan apa yang saya lihat di berbagai media internasional saat kelas Etnografi Eropa), hingga hal-hal lain yang sifatnya lebih mikro dan personal datang bertubi-tubi tanpa aba-aba. Meskipun tidak menutup kemungkinan bahwa ada pula hal-hal baik yang datang, namun tetap saja keadaan agaknya lebih sering tidak ingin bersahabat pada kita semua.

Mengarungi masa-masa sulit dan berusaha bertahan hidup di dalamnya menjadi sebuah tantangan besar yang harus dihadapi umat manusia. Sejak beredarnya berbagai imbauan untuk membatasi interaksi langsung demi menghindarkan diri dari penularan virus membuat tiap-tiap dari kita hanya mampu melakukannya lewat berbagai platform sosial media. Sebagian dari kita mungkin menjadikan akun sosial media sebagai tempat mengekspresikan berbagai keluhan, mengkritisi kondisi yang sudah kritis, serta berbagai bentuk ungkapan kekesalan dan kekecewaan terhadap keadaan lainnya. Berbagai luapan emosi dalam sosial media ini agaknya bisa kita maknai sebagai bentuk mekanisme pertahanan diri kita atas rasa kesepian yang kita hadapi. Rasa kehilangan yang personal, juga kekhawatiran terhadap pandemi meningkatkan berbagai masalah kesehatan mental dan khususnya emotional loneliness (van Tilburg et al., 2020). Berbagai studi menunjukkan bahwa orang-orang yang dikarantina menunjukkan gejala tekanan psikologis yang tinggi (Brooks et al., 2020), bahkan menunjukkan peningkatan resiko depresi, gangguan kecemasan, post-traumatic stress disorder, dan bunuh diri (Jung & Jun, 2020).

Menurut Cullen dkk. (2020), reaksi psikologis masyarakat memainkan peran penting termasuk dalam penyebaran virus, maupun terjadinya tekanan emosional dan social disorder. Faktor tekanan emosional selama karantina sangat banyak dan beragam. Berbagai pemberitaan mengenai angka pasien Covid-19 yang kunjung naik setiap waktunya, juga berbagai larangan bepergian atau travel ban, membuat masyarakat lambat laun berpikir bahwa tidak ada tempat yang aman yang pada akhirnya membuahkan peningkatan kecemasan publik. Berusaha untuk tetap mengikuti perkembangan berita yang beredar memanglah baik untuk meningkatkan kewaspadaan, namun sayangnya, hal ini juga menyebabkan gangguan kecemasan saat melakukannya (Jung & Jun, 2020). Tidak hanya itu, durasi untuk tetap tinggal di dalam rumah, kekhawatiran akan penyebaran virus, rasa frustrasi dan bosan, hingga masalah finansial dapat menjadi stressor utama di masa pandemi (Brooks et al., 2020). Rasa kesepian, kecemasan, ketidakpastian, serta kepanikan menjadi bentuk manifestasi rasa ketakutan yang dialami selama pandemi (Fitzpatrick, 2020). 

Hal ini agaknya menjadi sesuatu yang “normal”, dalam artian bukan suatu perkara yang aneh sebab memang kita semua menderita bersama dalam kondisi yang tak kunjung membaik ini. Sebagaimana yang dikatakan oleh Brooks dkk. (2020), dampak negatif psikologis dalam masa karantina ini bukanlah hal yang mengagetkan. Namun tetap perlu kita sadari bahwa dalam keadaan normal ataupun pandemi, orang dengan mental illness cenderung memiliki kondisi kesehatan fisik yang lebih buruk serta lebih rentan terhadap penyakit (Cullen et al., 2020), sehingga dalam kondisi seperti ini, ada baiknya kita senantiasa sadar dan tetap menjaga kesehatan masing-masing, baik secara fisik maupun mental. 

Mencatut lirik lagu Kunto Aji, “yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri”. Menjaga diri sendiri dapat terwujud dalam berbagai bentuk, termasuk di antaranya adalah menjaga kesehatan mental. Kesehatan mental tidak hanya sekadar diagnosis, namun juga keseluruhan kondisi psikologis, bagaimana kita merasakan diri sendiri dan orang lain, serta bagaimana kemampuan kita untuk merasakan berbagai perasaan dan menghadapi kesulitan sehari-hari (Harteneck, 2015). Kabar baiknya adalah, di tengah kesialan pandemi ini, agaknya satu per satu dari kita pun mulai menyadari betapa pentingnya menjaga kesehatan mental. Di tengah banyaknya hal-hal menyebalkan yang senantiasa seliweran di sosial media, masih banyak dari kita yang senantiasa menjaga produktivitas, masih banyak dari kita yang mengisi waktu luang dengan hal-hal menyenangkan, dan masih banyak yang senantiasa berbagi dan menularkan aura positif kepada orang lain. 

Seperti kata ungkapan populer, mens sana in corpore sano, kesehatan mental dan kesehatan fisik tentu sangat berkaitan satu sama lain, sehingga tidaklah mengherankan orang-orang yang memiliki kondisi fisik memiliki berada dalam mental state yang baik, begitu pula sebaliknya. Juga semakin menjadi masuk akal ketika belakangan ini melihat atau mendengar cerita orang-orang menemukan kebahagiaannya masing-masing ketika mereka melakukan suatu kegiatan baru, baik yang melibatkan fisik secara langsung atau tidak, sebagai bentuk pelarian dari segala kebosanan dan tekanan yang mereka alami selama pandemi ini. Melihat orang-orang yang menyibukkan diri dengan hobi baru, menyaksikan orang-orang berusaha untuk menjaga produktivitas masing-masing, atau mendengar cerita-cerita seru via percakapan telepon membuat saya percaya bahwa masih ada sedikit harapan untuk tetap bertahan hidup dengan cara-cara yang menyenangkan meskipun kita semua (masih) tetap menyayangkan keadaan. Namun apa boleh buat, mengubah keadaan tidak semudah membalik telapak tangan, saling menyalahkan pun tidak akan membuahkan hasil apa-apa.

Terima kasih untuk siapapun yang telah dan tengah bertahan, semoga setiap langkah kalian senantiasa diberkati dengan berbagai kebaikan. Semoga segala harapan tetap bertumbuh di tengah kehidupan yang semakin jemu dan jenuh. Sebab 2020 memanglah tahun yang sinting dan semoga kita semua baik-baik saja, tetap bertahan hidup, tidak menjadi gila karenanya.