Women and Sexual Desires in the Music Industry

Photo from Pinterest

Kondisi swakarantina pada masa pandemi membuat saya menemukan diri saya sedang mengeksplor laman For You Page (FYP) di media sosial Tiktok. Video-video yang menggunakan lagu-lagu tertentu yang sedang menjadi tren atau ‘viral’ semakin menjadi populer dan senantiasa lewat di FYP. Sebut saja lagu WAP milik Cardi B featuring Megan Thee Stallion dan 34+35 milik Ariana Grande. Lagu yang ear-catching dengan nada yang energik dan lirik yang unik membuat kedua lagu ini populer di berbagai media sosial di internet, ditambah dengan tren gerakannya yang diikuti oleh banyak orang. Namun sayangnya, masih banyak bertebaran respon dan komentar masyarakat yang tidak semenyenangkan lagunya. Tren ini—baik lagu maupun gerakannya—dianggap ‘tidak sopan’ dan terlalu menonjolkan seksualitas perempuan sehingga terkesan ‘murah’. Setidaknya, begitulah komentar-komentar yang sering saya temukan pada kolom komentar video Tiktok yang bersangkutan.

Kedua lagu yang dinilai memiliki gerakan dan lirik yang vulgar membuat saya tertarik untuk merenungi dan menelusurinya lebih lanjut. Menurut analisis dan interpretasi sederhana saya, kedua lagu ini memiliki lirik yang menggambarkan sexual desires atau sexual pleasures dari sudut pandang perempuan. Tertera jelas dalam lirik-liriknya bagaimana Cardi B bersama Megan Thee Stallion mengutarakan sexual desires-nya dengan gaya yang ‘nakal’ atau dikenal dengan istilah ‘nasty’, ‘baddie’ yang populer di internet. Sementara Ariana Grande dalam lagunya yang berjudul 34+35 menggunakan lirik yang bernuansa dewasa dan mempersuasi dengan gol yang secara literal dapat diterjamahkan untuk berhubungan seksual. Hal ini seakan-akan kontradiktif dengan nada lagunya yang innocent dan ceria. Penggambaran hubungan percintaan bernuansa dewasa ini juga ia lakukan pada beberapa lagu lainnya dalam album positions, antara lain yang berjudul positions, nasty, dan pov.

Artikel menarik lainnya juga saya temukan di Independent.co.uk mengenai lagu WAP milik Cardi B dan Megan Thee Stallion. Frazer-Caroll (2020), penulis artikel ini, mengulas bagaimana lagu WAP menjadi viral dan menjadi sebuah anthem yang menggambarkan kondisi saat pandemi Covid-19 di tahun 2020. Frazer-Caroll menuliskan bahwa dengan visualisasi yang unik, WAP menjadi anthem sensual yang sesuai dengan kondisi pandemi dengan kecenderungan masyarakat yang horny—tentu dalam bilik masing-masing. Lagu ini juga menuai berbagai kontroversi, sama halnya seperti respon yang didapati oleh lagu-lagu lain bernuansa vulgar atau berisi lirik mengenai sex life yang dibawakan oleh penyanyi—khususnya perempuan kulit hitam. Alih-alih banyak mempedulikan soal itu, lagu WAP dengan cepat menjadi ‘tamparan’ yang meme-ish terhadap pandangan konservatif. Pandangan ini tergambar dari bagaimana Anda merespons lagu ini, apakah anda memprotes dan merasa marah atau sebaliknya, enjoy dan menikmatinya. Politikus sayap kiri Alexandria Ocasio-Cortez berkelakar bahwa kepanjangan dari kata WAP adalah “Women Against Patriarchy”, yang kemudian kalimat ini dianggap menarik oleh para penganut nilai feminisme dan menjadi populer di media sosial.

Melihat respons “konservatif” terkait lagu ini, saya jadi tertarik untuk mengaitkan lagu-lagu ini dengan pandangan heteronormativitas yang berkembang di tengah masyarakat. Haywood et al. (2017) menjelaskan bahwa pandangan erotis heteronormatif cenderung merupakan pandangan laki-laki (tidak erotis) yang ditujukan kepada tubuh perempuan yang dierotisasi. Meskipun relasi kekuasaan antara laki-laki dan perempuan sampai batas tertentu berubah seiring waktu (seperti sikap terhadap tubuh perempuan dan laki-laki, serta sikap terhadap keinginan seks, mengambil inisiatif dan menikmati seks), namun pada penggambaran tubuh belum. Tubuh laki-laki masih sangat mirip robot dan kurang ekspresif melalui tindakan seksual, sedangkan tubuh perempuan lebih ekspresif, loudly-moaning, dan being penetrated. Hal ini kemudian bersinggungan dengan ide bahwa seni dan dunia entertainment dikuasai oleh laki-laki, yang secara langsung (atau tidak) menjadikan industri ini menerapkan konsep male gaze dalam setiap aktivitasnya. Pada akhirnya, diskursus ini bermuara pada penggambaran dunia entertainment dan media massa yang terkonstruksi dari sudut pandang laki-laki.

Dominasi laki-laki tergambar dari konsepsi patriarki. Beechey (1979) dalam tulisannya yang berjudul On Patriarchy menjelaskan bahwa konsep patriarki pada umumnya merujuk kepada dominasi laki-laki dan kepada hubungan dimana laki-laki menguasai perempuan. Konsep ini banyak digunakan oleh para feminis-Marxist, seperti pada tulisan Juliet Mitchell yang dikutip oleh Beechey (1979) yang menggunakan konsep patriarki dalam kekeluargaan, bagaimana adanya power atau kekuasaan simbolis dari laki-laki (father) yang memiliki konsekuensi untuk “inferiorized … psychology of women”. Lebih lanjut, diskursus mengenai patriarki ini sampai hari ini masih menjadi bahan perbincangan yang selalu bergulir di tengah kalangan feminis.

Populernya lagu WAP dan 34+35 serta banyaknya lagu musisi perempuan lainnya yang menggambarkan secara gamblang mengenai seksualitas dari sudut pandang perempuan menjadi suatu hal yang agaknya dapat kita maknai dalam dua sisi. Yakni bagaimana pada akhirnya secara sadar atau tidak, musisi-musisi perempuan di berbagai belahan dunia menjadi tunduk kepada “aturan main” dunia entertainment yang sangat berlandaskan konsep male gaze dengan menunjukkan sensualitas, seksualitas, dan erotisme dalam unsur dari lagu-lagunya–baik secara musik, lirik, maupun visualisasi video klip. Namun di sisi lain, keberanian untuk mengekspresikan hasrat seksual dalam lagu-lagu bernuansa dewasa ini bisa kita lihat sebagai suatu bentuk kebebasan sosok perempuan dari dominasi maskulinitas dalam hegemoni gender. Sekali lagi mengulang Ocasio-Cortez, “Women Against Patriarchy”. Seperti dalam lagu-lagu ini, perempuan juga bisa menjadi seseorang yang terlebih dahulu terangsang atau meminta pasangannya untuk melakukan hubungan seksual. Hal ini perlahan-lahan mulai ternormalisasikan lewat tren lagu-lagu seperti ini dan tidak lagi menjadikan ini sebagai suatu hal yang tabu. 

Referensi

Beechey, V. (1979). On patriarchy. Feminist Review, 3(1), 66-82.

Frazer-Caroll, M. (2020). That’s a WAP: How the Cardi B anthem captured the spirit of 2020. Retrieved December 18, 2020, from https://www.independent.co.uk/arts-entertainment/music/features/wap-cardi-b-megan-thee-stallion-b1769487.htmlHaywood, C., Johansson, T., Hammarén, N., Herz, M., & Ottemo, A. (2017). The conundrum of masculinity: Hegemony, homosociality, homophobia and heteronormativity. Routledge.

Tentang Penulis

This image has an empty alt attribute; its file name is image-4.png

Afifah Golda, Antropologi 2019

A smol sprout that spends too much time lurking on the internet to learn humans and building her own junkspace. Usually throws some stuff on her Instagram @lamanalternatif or reach her out via email afifahgolda@gmail.com