Memotret Kota Parakan: Poros-Poros Dagang Etnis Cina

Sumber foto: google maps

Kota Parakan, sebuah kota kecil di kaki Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing, Kabupaten Temanggung. Kota yang tumbuh dan menjadi besar pada abad 19 ini memiliki sejumlah kisah lokal mulai dari asal-usul kota tembakau, perjuangan warga Jawa-Cina melawan VOC dan pemerintah Hindia Belanda, sampai kisah persahabatan antaretnis yang masih terekam dalam kehidupan sehari-hari masyarakat di kota seluas 2.223 hektar (Malagina, Agni. 2020. nationalgeographic.grid.id, 29 April 2021). Kota Parakan yang konon tengah diperjuangkan menjadi ‘Kota Pusaka’ adalah sebuah kota kecil yang menjadi saksi hidup berdampingannya etnis Cina dan Jawa sejak akhir abad 18 hingga saat ini telah terjadi banyak perkawinan campuran Cina dan Jawa.

Parakan dibagi menjadi dua wilayah yaitu kelurahan Parakan Kulon (Kauman) dan Parakan Wetan (Pecinan). Pusat perdagangan Parakan pun berjajar terlihat di sepanjang Jalan Diponegoro, Jalan Aip Mungkar, Jalan Brigjen. Katamso dan sekitarnya. Masyarakat Cina cukup menguasai jantung perekonomian di Parakan sehingga bisa dikatakan lebih makmur  dibanding masyarakat Jawa. Interaksi antara kedua etnis tersebut terlihat baik, tetapi tidak jarang juga terjadi konflik antarkeduanya.

Bangunan Cina di Jalan Bambu Runcing
Potret Jalan Diponegoro—deretan toko lawas Pecinan

Masyarakat Parakan merupakan salah satu potret daerah yang menyajikan keberagaman yang mencolok, dapat dilihat dari bentuk fisik seperti tata kota dan bangunan-bangunannya. Jika seseorang melintasi jalanan hingga gang-gang kecil di Parakan, nuansa kental keagamaan hingga rasa-rasa etnis Jawa dan Cina sangat terasa, mulai dari logat bicara dalam bahasa Indonesia maupun Jawa. Beberapa waktu lalu penulis menyisiri jalanan tersebut sembari menebak-nebak potret kehidupan masyarakat Parakan dari masa ke masa.

Deretan Pemukiman Warga Etnis Cina di Jalan Bambu Runcing
Toko Plastik Lawas

Jalanan: Detak Jantung Ekonomi Kota

Beberapa tahun belakangan ini penulis berusaha lebih jeli mengamati jalanan kota Parakan yang bermula dari Tugu Galeh (karena dekat kali Galeh). Kota Parakan terkenal dengan julukan kota tembakau. Tak heran, sejumlah perusahaan produsen rokok ternama di Indonesia memiliki gudang sampai jaringan pengepul tembakau di kota kecil ini. Bahkan Bapak penulis sudah 20 tahun lebih bergelut di dunia tembakau. Perusahaan-perusahaan rokok mulai dari Djarum dan Gudang Garam di Parakan dikuasai oleh etnis Cina, keluarga pengusaha rokok ini dikenal dengan keluarga Bah Yunggi, bagian dari 10 besar orang terkaya di Indonesia. Bapak penulis pernah berbisnis dan bekerja di jaringan bisnis keluarga ini. Orang-orang Jawa biasanya menjadi tengkulak atau buruh-buruh di gudang rokok mereka.

Deretan toko lawas Pecinan di Jalan Diponegoro
Bangunan Cina di jalan Brigjen. Katamso

Selain perusahaan rokok, pusat perdagangan Parakan lekat dengan gambar toko-toko lawas yang terletak di sepanjang Jalan Diponegoro, Jalan Aip Mungkar, Jalan Brigjen. Katamso dan sekitarnya. Area ini pun kerap dijuluki kawasan PecinanParakan. Sejatinya, tak hanya masyarakat Cina Parakan saja yang tinggal di area tersebut, terdapat juga masyarakat Jawa yang sejak awal telah bermukim di kawasan tersebut. Jika Jalan Aip Mungkar adalah kawasan perdagangan yang terdiri dari toko-toko lawas berarsitektur kolonial, art deco dan modern, kawasan sekitar Jalan Brigjen. Katamso, Jalan Gambiran, Jalan Bambu Runcing merupakan kawasan rumah tinggal dengan jenis-jenis bangunan beragam mulai dari bangunan Cina Klasik dengan atap pelana, hingga bangunan berlanggam Cina Hindia. Kawasan ini masih tampak asri walaupun sudah banyak bangunan-bangunan baru yang menggantikan rumah-rumah lama (Malagina, Agni. 2020. nationalgeographic.grid.id, 29 April 2021).

Bangunan Cina di Jalan Bambu Runcing
Kampung antara Jalan Bambu Runcing dan Jalan Gambiran

Jaringan Guanxi Etnis Cina

Pola perekonomian masyarakat Cina di Parakan mirip dengan fenomena yang dipaparkan oleh Harms (2013) dalam kajian antropologi perkotaan mengenai aktivitas ekonomi kontemporer yang dimainkan oleh Tu’ di atas Proyek Thu Thiem di Ho Chi Minh, Vietnam. Tu’ yang memproduksi ‘koneksi’ serta ‘relasi sosial’ bukan barang atau material tertentu—suatu mode of production yang dalam bahasa Vietnam akrab dikenal dengan (quan hˆe). Disebutkan Kipnis (1997, dalam Harms, 2013) aktivitas ini mirip seperti konsep orang-orang Cina yakni guanxi yang memudahkan mereka untuk menciptakan asosiasi yang menitikberatkan pada kekerabatan dalam mengembangkan kekuatan ekonomi.

Toko Marie (Jalan Brigjend Katamso)
Jamu Jolali (Jalan Bambu Runcing),
dan Toko Air Mancur (Jalan Diponegoro) adalah tiga toko jamu dan obat-obatan racikan warga beretnis Cina yang langgeng dari generasi ke generasi.

Sedangkan dalam hal ekonomi, menurut Ong (1999, dalam Setyaningrum, 2004) mengatakan, pembentukan jaringan dan perdagangan inter-regional distrukturkan melalui ikatan-ikatan paternal dan relasi interpersonal dari para huaqiao (etnis perantauan Cina) yang membangun hubungan melalui jaringan guanxi dalam penyuplaian barang produksi. Bisnis kekerabatan inilah yang membangun jaringan perdagangan sesama etnis Cina di dunia. Hidup berkelompok dan berdampingan membuat etnis Cina kuat dalam menjaga bisnis dari generasi ke generasi, bahkan mempekerjakan penduduk lokal seperti halnya yang terjadi di Parakan.

Tata Kota, Bangunan, dan Keberagaman

Dalam pengamatan penulis, Kota Parakan memiliki kawasan khusus yang dihiasi dengan arsitektur bangunan-bangunan Cina—di Kampung Panjangsari, Kelurahan Parakan Wetan, tempat di mana sebagian keluarga besar penulis tinggal, merupakan suatu daerah di jantung Kota Parakan di mana berbagai macam tempat ibadah terbangun berdekatan. Jika jalan menyusuri dari jalan raya lalu masuk ke kampung-kampung, bisa dilihat adanya Klenteng Hok Tek Tong lalu berjalan sedikit akan ditemukan masjid, Gereja Kristen Jawa, dan Gereja Katolik. Pada tahun 1990-an masih ada wihara yang sekarang sudah tidak ada lagi.

Klenteng Hok Teng Tong
Gereja Katolik

Kampung Panjangsari bisa dikatakan sebagai sebuah potret cantik keberagaman di Kota Parakan. Meskipun tetap pernah menuai polemik—menurut cerita yang dituturkan oleh Bapak penulis, proses negosiasi 20-30 tahun lalu cukup a lot, “zaman Bapak kecil sampai muda dulu keras sekali pertentangannya. Makanya semua terpusat di Parakan Wetan, rumah, wihara sampai gereja-gereja.” Salah satunya adalah ketika warga beretnis Cina merasa berkuasa karena memiliki tanah lebih—mereka ingin membangun rumah hingga menutup jalan kampung. Keinginan tersebut lantas dihantam keras oleh Bapak dan sekawanan warga kampung yang beretnis Jawa hingga akhirnya tetap menyisakan jalan walaupun sempit.

Saat ini, tiap kali penulis berkunjung ke rumah nenek dan saudara-saudara, negosiasi yang terbangun dari waktu ke waktu semakin memunculkan nilai toleransi di tengah masyarakat Kampung Panjangsari. Integrasi antara etnis Cina dan Jawa menunjukkan sesuatu yang baik, penerimaan serta percampuran-percampuran yang semakin banyak terjadi membuat batas-batas etnis tidak lagi menjadi suatu garis yang memisahkan. Ketegangan pun mereda dari masa ke masa.

Potret Jalan Gambiran dengan lambang tradisional Etnis Cina Yin-Yang menjadi perias nomor rumah di jalan ini

Usaha untuk menjaga leluhur dan identitas tiap etnis tetap terjadi, seperti yang ditemukan oleh Kim (2010) bahwa individu dan kelompok menciptakan batasan sebagai cara untuk membedakan diri dari masyarakat yang lebih besar dan sebagai cara untuk menegaskan identitas unik mereka. Walaupun demikian, dalam penegasan identitas unik tersebut disertai percampuran-percampuran yang menimbulkan berbagai identitas baru. Sejalan dengan apa yang diungkapkan Eriksen (2015) bahwa hubungan-hubungan di dalam masyarakat menciptakan kehidupan sosial dan identitas. Lebih lanjut, Barth (dalam Eriksen, 2015) mengatakan bahwa barang, ide, dan orang dapat melintasi batas dengan utuh meskipun ada suatu hal lain yang menyendat.

Realitas Menawan Kota Parakan

Keberagaman yang tercermin dari penduduk Parakan yang beretnis Cina dan pribumi Jawa ini menyimpan miliaran cerita perubahan sebuah kota, gosip jalanan, kisah tragis hingga romantis di dalamnya. Tumbuh kembangnya Kota Parakan memberikan protet nyata nilai-nilai budaya, asimilasi, akulturasi sampai toleransi yang dapat dirasakan dari geliat penduduk kotanya. Perjalanan sejarah migrasi etnis Cina pada masa lalu menciptakan sebuah kota kecil yang kental dengan berbagai macam keunikan budaya, mulai dari pergulatan cinta melawan batas-batas etnis hingga proses menuai bisnis perdagangan yang tumbuh semakin besar dan menguat setiap tahunnya.

Maka, memang sudah selayaknya Parakan mendapat julukan Kota Pusaka yang menyimpan berbagai macam daya perjuangan. Artefak, bangunan, jalanan, dan manusia di Parakan menyajikan realitas sosial yang menawan. Nilai-nilai budaya berhasil menyeret kepada pemahaman global di mana seharusnya keberagaman dan adanya berbagai macam etnis bukan menjadi halangan untuk menciptakan toleransi dan integrasi tanpa harus melukai dan menyakiti.

Referensi

Jurnal:

Harms, E. (2013). Eviction time in the new Saigon: Temporalities of displacement in the rubble of development. Cultural Anthropology, 28(2), 344-368.

Setyaningrum, A. (2004). Globalisasi dan Diaspora Cina dalam Perspektif Post-Kolonial: Dinamika Strategi Ekonomi dan Identitas Budaya. Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, 8(2): 189.

Kim, S. (2010). Shifting Ethnic Boundaries. In A Faith Of Our Own: Second-Generation Spirituality in Korean American Churches (pp. 154). New Brunswick; New Jersey; London: Rutgers University Press. Retrieved May 24, 2020, from www.jstor.org/stable/j.ctt5hjbg6.9

Eriksen, T. (2015). Ethnic Groups and Boundaries. In Fredrik Barth: An Intellectual Biography (pp. 104). London: Pluto Press. doi:10.2307/j.ctt183p5d4.11

Media Internet:

Nationalgeographic.grid.id. (2020, 4 Maret). Geliat Rumah Jamu Marie Parakan Menjaga Warisan Jamu Nusantara. Diakses dari https:// nationalgeographic.grid.id/read/132043479/geliat-rumah-jamu-marie-parakan-menjaga-warisa-jamu-nusantara?page+2 pada 29 April 2021 pada pukul 01.15 WIB.

Sumber foto:

Dokumentasi pribadi, diambil pada 17 Mei 2021.

Peta Kota Parakan: https://www.google.com/maps?q=parakan&um=1&ie=UTF-8&sa=X&ved=2ahUKEwjXjd6Fr6LwAhVFILcAHcoBCuQQ_AUoAXoECAEQAw.

Tentang Penulis

Ulima Nabila Adinta, Antropologi 2019.

Punya nama samaran Nabiloski De Pellegrini. Gemar berkawan, berpetualang dan mengoleksi batu dari penjuru dunia. Catatan kecil perjalanannya bisa diintip di marvelouswalker.blogspot.com. Kerap berceloteh ria sembari merayakan kisah hidupnya di akun instagram: @nabiladinta, serta senang sekali berkirim surel kepada siapa saja. Just hit her up on ulimanabilaadinta@gmail.com ya!