Bapak Hadir, Berkali-kali Lagi

sumber: pinterest

Saya tumbuh menuju masa remaja dan dewasa tanpa sosok seorang ayah. Seperti yang dialami Gingrich-Philbrook (2014). Tak seperti kebanyakan orang yang memiliki ayah sampai mereka dewasa, saya lebih banyak memiliki hubungan khayalan dengan Bapak. Secara imajinatif, baik disengaja maupun tidak, saya kembali menghadirkan Bapak dalam benak dan hidup saya.

Bapak ‘hadir’ kembali dalam hidup saya melalui berbagai cara. Tak jarang Bapak ada lewat cerita-cerita dan obrolan ngalor-ngidul keluarga yang seakan tak ada habisnya. Bapak kadang juga hadir melalui peristiwa sehari-hari sampai pengalaman-pengalaman penting yang evokatif. Atau, yang belum lama ini terjadi, Bapak kembali hadir melalui objek dan artefak-artefak.

Bapak hadir dalam “…bits and pieces brought back unexpectedly, forcefully, by strange things” (Gingrich-Philbrook, 2014). Memori-memori yang digugah melalui objek-objek itu mungkin hanya sedikit dan sesaat. Namun, ia kembali secara tak diduga-duga, dan terkadang, tiba-tiba. Objek-objek yang dimaksud juga mungkin kecil, remeh-temeh dan tidak menarik. Akan tetapi, dari hal-hal semacam itulah, Bapak kembali ‘dihidupkan’.

Saya sendiri mengakui bahwa saya memang orang yang cukup nostalgik. Melalui banyak hal, kenangan dapat dengan mudah terpantik dalam diri saya. Saya, layaknya sifat manusia gambaran Pram, terkadang tak kuasa melawan kenangan saya sendiri (Toer, 2004). Lagipula seiring waktu, saya berpendapat, kenangan tidak harus dilawan. Ia dapat berjalin dan berjalan bersama-sama dengan hidup. Ia dapat menjadi bekal perjalanan ke depan.

*****

Bapak pernah hadir melalui ijazah. Malam itu, sehabis magrib, terasa hawa setelah hujan yang agak menusuk. Gemericiknya berangsur lenyap, tergantikan gemericik air kolam yang mengucur kecil. Ibu memanggil saya, “Le…”, sambil dibawanya map merah berisi kertas-kertas bertumpuk dan beberapa lembar foto. “Ternyata Bapak bohong.” Dengan wajah agak menahan tawa, kembali diulang kalimat itu dengan jelas. “Ternyata Bapak bohong,” kata Ibu pelan sembari membuka-buka dokumen-dokumen pendidikan milik Bapak.

Pertama-tama, Ibu menunjukkan ijazah SMA Bapak. Dengan terheran-heran, Ibu mengatakan bahwa Bapak kurang disiplin dalam masalah administrasi. Kemudian, dibukanya ijazah SD. Dalam data diri, tampak bagian kotamadya dengan titik-titik kosong tertulis MALANG. Tepat di bawahnya, bagian tanggal lahir tertulis 29 – 6 – 1959. Saya pun terkejut sejenak.

Ternyata Bapak menyadari bahwa tanggal lahirnya sebenarnya adalah 29 Juni? Lantas, mengapa sejak dulu Bapak selalu meyakinkan kalau tanggal lahirnya 12 Desember? Mengapa tanggal itu diganti? Entah, jawabannya hingga kini belum juga terjawab pasti.

“Oh…”, kata Ibu beberapa kali, dengan gestur seperti tersambungnya jalan-jalan buntu di benaknya. Malam semakin malam. Hening kembali menyapu ruangan. Dokumen-dokumen dan foto-foto tergeletak di atas meja makan. Peristiwa dan penyelidikan malam itu pudar perlahan. Melalui ijazah, benak saya dibawa berkelana kembali ke masa-masa muda Bapak, masa yang tak pernah saya jamah sebelumnya.

Baru-baru ini yang juga mengejutkan untuk saya, Bapak hadir di hidup saya melalui antropologi. Sebuah ilmu yang baru bagi saya. Mungkin tak sering, tapi dalam beberapa waktu, saya kembali menyelisik buku-buku yang kusam dan menguning di perpustakaan kecil di rumah. Memang saya bukan seseorang yang rajin membaca sedari cilik. Namun, setumpuk buku menjadi (semakin) berharga bagi saya semenjak berkuliah. Buku menjadi hal yang kembali menarik saya. Di samping, memang, buku menjadi salah satu mesin penggerak perkuliahan kami.

Tak jarang saya mencatat atau menelusuri lebih jauh buku-buku yang disebutkan di dalam kelas. Apabila sedang beruntung, saya menemukan buku-buku tersebut tanpa harus membeli, ya, melainkan menemukannya di jejeran buku-buku kusam dan menguning tadi. Mulai dari Agama Jawa-nya Geertz sampai Kisah Lima Keluarga-nya Lewis, secara mengejutkan saya temukan.

Tentu saya tidak menyangka sebelumnya, “Ternyata Bapak juga membaca ini? Itu?” ujar saya dalam hati. Pikiran saya jadi kemana-mana. Ah, sungguh akan sangat menyenangkan apabila dulu kami bercakap tentang isu-isu dalam perkuliahan. Ya, walaupun pengetahuan saya juga belum luas-luas amat, tapi pasti akan asyik.

Terakhir, Bapak juga pernah hadir melalui musik. Seiring bertumbuhnya saya, musik menjadi salah satu cara mengingat Bapak (Patti, 2009). Musik telah lekat pada hubungan saya dengan Bapak sejak saya kecil. Hingga hari-hari terakhirnya, musik menjadi salah satu barang utama yang Bapak beri kepada saya. Dari beberapa album Leo Kristi sampai hard disk yang penuh dengan musik 1980-an, Bapak meninggalkan jejak dalam artefak-artefak musikal yang ditinggalkannya.

“Pagi jalanan masih sepi. Ia harus sudah tinggalkan anak dan istri,” dendang Bapak dengan gitar kopongnya suatu waktu. Lirik itu adalah kalimat pertama di lagu “Ode untuk Sersan Rojali”. Sebuah lagu gubahan Bapak yang belum sempat terekam, tetapi sempat Bapak nyanyikan. Lirik itu kini menggema lagi di kepala saya setelah sekian lama. Seakan Bapak sengaja berpesan sebelum meninggalkan anak dan istrinya. Jalan masih sepi, Pak, pikir saya.

*****

Momen-momen kecil di atas turut menghadirkan Bapak kembali dalam hidup saya. Seolah Bapak berbicara dan menyarankan buku-buku antropologi kepada saya untuk dibaca. Seolah Bapak merekomendasikan lagu-lagu lawas yang belum pernah saya dengar. Seolah Bapak kembali bercerita tentang masa muda dan tanggal lahirnya. Setidaknya itu yang saya rasakan. Memang tentu terdapat teka-teki yang sampai saat ini belum terjawab. Namun, mungkin teka-teki itu memanggil untuk dipecahkan.

Melalui hal-hal itu, saya dibawa kembali menjelajah waktu ke saat-saat terakhir Bapak di dunia. Ke gedung rumah sakit yang dingin dan dipadati penjenguk dari berbagai hubungan kerabat. Ke ruang perawatan, di mana Bapak terbujur kaku, terpejam dan membisu. Ke masa-masa riuh penuh kebingungan dan ketakutan akan masa depan.

Melalui hal-hal tersebut, saya juga dibawa kembali menjelajah waktu ke saat-saat bersama Bapak. Ke ruang pertunjukkan yang luas dan remang, dipadati penonton yang antusias melihat Leo Kristi. Atau sesederhana di teras rumah pada suatu sore, ditemani minuman hangat, sebuah gitar dan sebait nyanyian. Ke masa-masa tenang penuh penyadaran dan penerimaan akan masa lalu.

Memori-memori yang tergugah itu, secara perlahan dan memaksa, membawa saya kepada akseptansi. Fakta bahwa saya tumbuh tanpa kehadiran sosok ayah, merupakan sesuatu yang perlu saya akui, maafkan, dan terima. Karena fakta tersebut merupakan sesuatu yang tak terelakkan. Bapak mungkin tak akan hadir kembali ke dunia dalam waktu yang panjang. Namun, Bapak tetap hadir berkali-kali lagi, secara sesaat dan sedikit-sedikit. Melalui barang-barang sederhana, dalam waktu yang tak diduga-duga.

Di akhir, saya mulai mengetahui, kematian membawa kesadaran akan objek-objek kecil ke permukaan. Seperti yang disampaikan Gibson (2004), “through death, the most mundane objects can rise in symbolic, emotional, and mnemonic value sometimes outweighing all other measures of valueparticularly the economic.” Dalam hal ini, ijazah, buku, hingga musik, objek-objek kecil tersebut mengemuka dengan menghubungkan diri saya dengan Bapak. Lebih lanjut, ia memperpanjang koneksi saya dengan Bapak. Bahkan, objek-objek ini turut “…mediates a self-to-self relationship and not just a self-to-other relationship,” (Gibson, 2004). Lewat ijazah, buku dan musik, saya diajak kembali melintasi lorong waktu dalam memori. Dengannya, saya diajak untuk menyadari, memaafkan, dan menerima.

Lagipula, siapa yang bisa menghadirkan Bapak kembali, atau setidaknya teka-tekinya, ke dalam hidup kami selain semesta? Lima tahun sudah semenjak kepergian Bapak. Banyak hal yang justru terungkap dan membuka diri dari endapan masa lalu yang bersembunyi di tengah-tengah keluarga. Saya-layaknya yang diucapkan Monica dalam Bochner & Ellis (2016), percaya bahwa, tali kekeluargaan adalah sesuatu yang kontinu dan tidak berakhir bahkan apabila seseorang telah mati. Ia justru membuka ruang-ruang yang tak terjamah dan tak terselidik sebelumnya. Kalau kata Bon Iver (2011), “still alive who you love,”- lah.

Referensi

Bochner, A., & Ellis, C. (2016). Evocative autoethnography: Writing lives and telling stories. Routledge.

Gibson, M. (2004). Melancholy objects. Mortality9(4), 285-299.

Gingrich-Philbrook, C. (2014). On gratitude, for my father. In On (Writing) Families (pp. 23-29). Brill Sense.

Iver, B. (2011). Perth. On Bon Iver. [Audio file]. Retrieved from https://open.spotify.com/track/6TVs7Lap6ZcrpZk1xfOgtv?si=lbB9ws5uSgmKTeFdBlb1vg.

Patti, C. J. (2009). Musical artefacts of my father’s death: Autoethnography, music, and aesthetic representation. Music autoethnographies: Making autoethnography sing/making music personal, 57. Toer, P. A. (2004). Bukan Pasar Malam. Jakarta: Lentera Dipantara.

Tentang Penulis

Arya Jagat Pratista Adyuta – Antropologi Budaya 2019 seorang mahasiswa S1 Antropologi Budaya. Menyukai musik serta cerita-cerita personal dan keluarga. Bisa dikirimi email ke: aryajpadyuta (at) gmail (dot) com.