Skaters vs. Haters: Penindasan Terhadap Kelompok Skateboard

Tulisan ini berupaya melihat bentuk penindasan yang terjadi terhadap kelompok skateboard yang kerap luput dari perhatian banyak orang. Kelompok skateboard sering dianggap sebagai kelompok negatif yang merugikan orang-orang di sekitar, sehingga membuat mereka sering disangkal keberadaannya di ruang-ruang publik (Slee, 2011: 1-2; Nemeth, 2006: 300-301). Oleh karena itu, dengan mengetahui aspek-aspek penindasan yang terjadi terhadap kelompok tersebut, harapannya kita dapat berempati dengan keberadaan kelompok skateboard dan mendapatkan perspektif tambahan dalam melihat kelompok tersebut.

Permainan skateboard muncul sekitar tahun 1950-an di California sebagai alternatif lain dari permainan papan selancar (surfing) yang pada saat itu aktivitasnya sangat monoton karena hanya dilakukan di atas air (Woolley, 2001: 214). Kemudian kelompok skateboard mulai terbentuk dan menciptakan gaya bermainnya sendiri yaitu dengan memperagakan trik menggunakan papan skateboard (Slee, 2011: 1). Pada awal kemunculannya, kelompok ini menggunakan kolam renang yang airnya sudah dikuras habis sebagai arena bermainnya. Lalu, sekitar tahun 1980-an barulah mereka mulai mencoba bermain di ruang-ruang publik seperti tempat parkir, taman kota, trotoar, dll (Slee, 2011: 1).

Perkembangan kelompok ini membuat para pemegang kekuasaan semakin memperlihatkan kepentingan politik dan ekonominya dalam mengatur siapa saja yang berhak menggunakan ruang-ruang publik. Kelompok-kelompok sosial yang tidak sejalan dengan kepentingan tersebut maka bisa disangkal keberadaannya. Dalam bentuk yang nyata, mereka telah mengalami penindasan yang sejalan dengan konseptualisasi lima bentuk penindasan (oppression) milik Young (Sloan, dkk., 2018: 10). Bentuk-bentuk tersebut berupa eksploitasi (exploitation), marginalisasi (marginalization), ketidakberdayaan (powerlessness), imperialisme kultural (cultural imperialism), dan kekerasan (violence) (Sloan, 2018: 10). Konsep tersebut akan digunakan dalam tulisan ini untuk mengetahui bentuk penindasan yang terjadi terhadap kelompok skateboard.

Sumber: macbalife.com

Eksploitasi (exploitation) merupakan tindakan yang merujuk pada proses-proses sosial di mana kelompok dominan mengakumulasi dan mempertahankan status, kekuatan, dan aset yang dihasilkan oleh tenaga dan usaha kelompok yang tidak dominan (Sloan, dkk., 2018: 10). Bentuk penindasan seperti ini sering terjadi terhadap kelompok skateboard. Mereka hanya akan dianggap keberadaannya jika kelompoknya dapat memberikan keuntungan secara langsung kepada kelompok yang dominan. Kasus di LOVE Park, Philadelphia memberikan contoh bahwa pemerintah setempat mendukung berlangsungnya kegiatan perlombaan skateboard karena secara langsung memberikan dampak ekonomi serta menjadi ajang promosi LOVE Park dan juga kota tempat perlombaan tersebut diselenggarakan. Namun setelah berakhirnya perlombaan tersebut, pemerintah setempat melarang kelompok skateboard untuk bermain di LOVE Park serta menutup akses agar mereka tidak bisa bermain di sana (Nemeth, 2006: 301). Pemerintah setempat sebagai kelompok yang dominan telah melakukan bentuk penindasan berupa eksploitasi terhadap kelompok skateboard dalam rangka mempertahankan status LOVE Park dan wilayah sekitarnya menjadi tempat yang dapat menumbuhkan sektor perekonomian terutama di bidang investasi (Nemeth, 2006: 305).

Tidak berhenti sampai di situ, mereka juga mengalami marginalisasi (marginalization) di mana mereka “diusir” keberadaannya dari masyarakat utama atau membatasi keberadaan mereka untuk mendapatkan kesempatan berpartisipasi di dalam masyarakat pada umumnya (Sloan, dkk., 2018: 10). Hal itu dibuktikan dengan dibuatnya skate park yang jauh dari pusat kota dan memiliki akses yang sulit untuk menuju ke sana (Nemeth, 2006: 310-311). Nemeth (2006: 314) lebih lanjut berargumen bahwa pengusiran kelompok sosial tertentu di ruang publik dapat berarti pula penyangkalan terhadap status keberadaan dan representasinya sebagai warga setempat di forum publik.

Pengusiran tersebut lantas akan menghasilkan ketidakberdayaan (powerlessness) pada kelompok skateboard. Ketidakberdayaan itu memberikan dampak berupa terbatasnya kesempatan untuk mengembangkan kapasitas kelompok skateboard, kurangnya kesempatan untuk membuat keputusan, dan mempertegas perlakuan yang tidak respek terhadap kelompok skateboard (Sloan, dkk., 2018: 10). Hal itu terlihat jelas dari makna ruang publik yang dibentuk oleh kelompok dominan dan tidak adanya kesempatan bagi kelompok skateboard untuk ikut membentuk makna tersebut. Siapa saja yang boleh berada di sana dan kegiatan apa saja yang boleh dilakukan di sana ditentukan oleh kelompok yang dominan—dalam hal ini adalah pemerintah setempat. Sebagai akibatnya, mereka tidak dapat mengembangkan keahlian serta kapasitas mereka sebagai pemain skateboard di ruang publik.

Penentuan makna tersebut kemudian membentuk apa yang disebut dengan imperialisme kultural (cultural imperialism) yang berarti bahwa kelompok dominan menggeneralisasi pengalaman dan kulturnya lalu menggunakannya sebagai norma yang harus berlaku untuk kultur yang lain (Sloan, dkk., 2018: 10). Makna ruang publik yang dibentuk pemerintah setempat telah membentuk suatu norma di mana kultur yang berbeda harus serta merta mengikuti norma dominan tersebut. Oleh karena itu kelompok skateboard sering disebut sebagai subkultur, yaitu ketika suatu kelompok sosial tidak mengikuti arus utama proses kultural yang terjadi dan secara tidak langsung juga menentang proses tersebut karena memiliki proses serta pemaknaan yang berbeda.

Pada akhirnya, mereka mengalami apa yang disebut sebagai kekerasan (violence) di mana kelompok skateboard yang sudah termarginalisasi akan terus mendapatkan stigma dan intimidasi (Sloan, dkk., 2018: 10). Kekerasan itu dapat berbentuk verbal berupa stigmatisasi dan berbentuk nonverbal seperti intimidasi. Salah satu contohnya seperti kasus yang belum lama ini terjadi di trotoar daerah Bundaran HI Sudirman, Jakarta, kelompok skateboard yang bermain di sana diintimidasi dan diperlakukan secara kasar oleh sekelompok penertib berseragam. Para penertib berteriak dan menarik dengan kasar skateboard milik para pemain yang ada di sana, kemudian mereka dipaksa untuk digiring ke kantor terkait lalu diminta pertanggungjawabannya. Stigma negatif juga selalu dilekatkan pada kelompok yang memainkan skateboard, dengan alasan memiliki pandangan dan tindakan yang berbeda dari masyarakat pada umumnya (Slee, 2011: 1-2).

Pemaparan di atas semestinya menjadi bahan refleksi kita bahwa bentuk-bentuk penindasan seperti itu tidak bisa ditoleransi. Karena jika hal itu terus dilanggengkan, maka akan terbentuk suatu konstruksi sosial yang mengakibatkan kelompok yang tidak dominan akan selalu ditindas. Dalam perspektif kajian multikulturalisme kritis oleh Lacey M. Sloan, dkk. (2018: 11-12), proses perubahan dapat dimulai dari pembentukan kesadaran dan sensivitas kita terhadap bentuk penindasan yang terjadi. Selanjutnya, kesadaran itu harus membentuk suatu tindakan praktis yang menolak untuk mempertahankan bentuk penindasan, mengambil kembali nilai kemanusiaan kelompok yang ditindas, dan membuat perubahan tanpa melanggengkan serta menggunakan bentuk penindasan yang telah dilakukan oleh penindas.

Referensi

Insurgent Crew [@insurgentcrew]. (3 Maret 2021). Sudirman/BundHi [Instagram highlight]. Diambil ulang 10 April 2021, dari https://www.instagram.com/stories/highlights/17937694753462100/

Németh, J. (2006). Conflict, Exclusion, Relocation: Skateboarding and Public Space. Journal of Urban Design, 11(3), 297-318.

Slee, T. (2011). Skate for Life: An Analysis of the Skateboarding Subculture. Outstanding Honors Theses, 29, 1-22. Diambil ulang 10 April 2021, dari https://scholarcommons.usf.edu/honors_et/29

Sloan, L. M., Joyner, M. C., Stakeman, C. J., & Schmitz, C. L. (2018). Critical Multiculturalism and Intersectionality in a Complex World (2nd ed.). New York: Oxford University Press.

Woolley, H., & Johns, R. (2001). Skateboarding: The City as a Playground. Journal of Urban Design, 6(2), 211-230.

Tentang Penulis

This image has an empty alt attribute; its file name is 131190.jpg

Nama asli Muhammad Harits, mahasiswa Antropologi UGM angkatan 2020. Kadang main skateboard, kadang main gitar, kadang ga ngapa-ngapain. Suka lagu-lagu punk dan klasik, lagu-lagu galau juga (kalau perlu). Hubungi saya via Instagram: @haritsmuhammads kalo udah kenal bisa lanjut ke WA atau Line. Saya juga punya beberapa tulisan di: haritsmuhammad.wordpress.com. Beberapa tulisan di sana jangan dianggap serius karena saya cuma sok tahu doang. Terakhir, jangan lupa bahagia, jangan lupa istirahat, jangan lupa makan, ya. Viva la tekyan!