Kompromi agar Berbaur: Refleksi atas Komunitas Punk “Taring Babi” Jagakarsa, Jakarta Selatan

Pengantar 

Kompromi biasanya terjadi ketika terdapat dua kelompok dengan latar belakang berbeda (budaya khususnya nilai dan norma) yang saling bertentangan, guna mencegah konflik yang dapat terjadi. Untuk itu, salah satu atau kedua kelompok harus mengurangi masing-masing tuntutannya (keinginannya atas kelompok lain) atau bahasa mudahnya menurunkan ego kelompoknya. Dalam tulisan ini, saya ingin memberikan cerita dan refleksi atas penelitian untuk “Karya Tulis Ilmiah” SMA saya, yaitu meneliti persepsi warga biasa terhadap anak “Punk”

Kejutan dan “Prejudice” yang Tidak Terbukti

Pada Nyepi 2018, saya dan teman-teman berangkat ke basecamp komunitas Punk “Taring Babi”. Saya tidak menyangka bahwa komunitas ini dapat tinggal di pinggiran kali, yang adalah anak Sungai Ciliwung. Saya bertemu dengan ketua RT setempat, warga setempat, dan komunitas itu sendiri yang sudah saya hubungi seminggu sebelumnya. Mereka memiliki basecamp seperti di tengah-tengah perumahan padat, dan dekat masjid. Bangunan basecamp ini pun unik, mereka tidak membangun pagar, dan pintu selalu terbuka. Kami masuk dan duduk di ruang tamu, tempat “Taring Babi” berkumpul, terpampang banyak poster-poster, cukilan kayu, botol miras yang sudah habis, puntung rokok, dan buku-buku. Poster-poster yang terpampang pun menggambarkan ciri khas Punk yang selalu ditonjolkan “No Class, No Border”. Umam, salah satu anggota “Taring Babi” menyambut saya dengan hangat dan menawarkan saya minum dan makanan ringan. Saya mengawali dengan pertanyaan “Mas, apakah Mas sekarang mengalami diskriminasi, atau pandangan tidak baik terhadap Mas Umam dan Tarbi (singkatan untuk Taring Babi).” jawabannya adalah, “Tidak”. Jawaban tersebut tentu mengejutkan saya dan kelompok, karena baru pertanyaan pertama dan jawabannya sudah gagal membuktikan “judul” penelitian saya. Meski demikian, saya memperinci pertanyaan saya, “kalau dulu gimana, Mas?” Umam, hanya menjelaskan jika Taring Babi dahulu tentu mengalami berbagai macam ancaman, diskriminasi, dan penolakan untuk tinggal di lingkungan bersama warga sekitar. Mas Umam pun menambahkan, “kalo elo pengen tau lebih lagi coba lo tanya ke warga sekitar”

Hari kedua penelitian, saya dan kelompok memutuskan untuk melakukan wawancara terstruktur atau yang sudah tersusun dengan baik dan tidak akan kabur dari intensi penelitian ini. Kami mendatangi rumah warga sekitar yang paling berdekatan dengan basecamp Taring Babi. Banyak dari jawaban mereka dengan tegas dahulu sebatas takut akan mempengaruhi pergaulan anak-anak kecil di Gang Setiabudi agar menjadi “Punk” yang kental akan tawuran, rusuh, ngamen dan ngemis tidak jelas, juga merasa risih dengan keberadaan mereka yang mungkin akan mabuk-mabukkan tengah malam, menciptakan ribut di tengah malam, menggunakan narkoba, dan hal-hal negatif yang diduga sebagai kenakalan remaja. Namun, ketika ditanyakan mengenai persepsinya kini, mereka akan menjawab dengan tegas, baik, Tarbi suka membantu, remaja masjid diaktifkan kembali, karang taruna mampu menciptakan karya-karya seni, garda terdepan saat terjadi banjir ataupun bencana lainnya, dan banyak hal yang bertolak-belakang dengan pemahaman umum mengenai Punk. 

Punk dan Borderless 

Sumber: pinterest.com

Marcos Meyer setidaknya menjelaskan bahwa makna punk sendiri muncul sebagai alternatif dari musik rock yang mulai “terjangkit” industri. Punk hadir sebagai bentuk resistensi dari kehadiran musik rock dengan segi estetikanya yang tidak memperjuangkan sesuatu, atau singkatnya sudah masuk ke “cinta-cintaan”. Punk sebagai genre musik sesungguhnya mencita-citakan sesuatu yang subversif, anti-pemerintah, dan anti-kemapanan, sehingga dalam permainan musik, lirik, dan pendengarnya selalu identik dengan sesuatu yang keras, menentang ketidakadilan, dan mengusung anarkisme. Salah satu pandangan budaya induk Indonesia dalam melihat Punk adalah bagaimana mereka mempersepsikan, menilai, menciptakan gagasan bahwa meminum alkohol, suka musik keras, berambut gondrong, berambut model mohawk, berbaju hitam lusuh, hidup lepas tanpa orang tua, dan ditindik pada beragam bagian wajah/tubuh; itu semua akan dinilai buruk, membahayakan, dan tidak memiliki “kebaikan” sedikitpun dalam kehidupannya, intinya Punk akan dinilai sebagai kriminal. Taring Babi rela berkompromi, dengan mengurangi segala aktifitas yang sekiranya dapat “menghasut” warga terutama remaja terjerumus ke “kenakalan remaja” (Alkohol, rokok, dsb.). 

Taring Babi mewujudkan Borderless Society dalam berbagai macam hal. Seorang warga mengungkapkan bahwa dirinya adalah pengangguran, awalnya keras melihat Punk Taring Babi sebagai ancaman terhadap ketertiban komunitas RT/RW.  Namun beliau menemukan sesuatu yang lebih dari Taring Babi, yaitu kepedulian Taring Babi terhadap orang-orang kurang mampu.  Beliau akhirnya menemukan pekerjaan dan menjadi kreatif bersama Taring Babi, yaitu dapat bekerja sebagai tukang sablon yang mandiri, dan menciptakan cukilan kayu untuk di jual, dan setidaknya sekarang beliau dapat hidup mandiri dan sudah bisa memenuhi kebutuhan hidupnya. Diungkapkan pula oleh ibu-ibu sekitar, bahwa Punk Taring Babi benar-benar menyatu dengan warga sekitar, seperti dalam kerja bakti, lebaran, natalan, dan lain-lain; Taring Babi adalah warga yang paling depan untuk membuka pintu (open house) dan paling depan untuk bekerja bakti. Borderless bagi Taring Babi adalah bagaimana mereka benar-benar menjadi bagian dari budaya masyarakat RT/RW sekitar, dengan wujud sistem sosial sama, namun dengan sistem gagasan yang berbeda. 

Taring Babi: Kompromi

Akhir dari penelitian kami menyimpulkan bahwa anak-anak Punk ini memiliki sifat dan tindakan yang berbeda dari bagaimana awalnya masyarakat umum memahami “Punk” sebagai kelompok resistensi terhadap budaya-budaya lama. “Taring Babi” dengan kemampuan dan kesediaannya untuk berkompromi menciptakan harmonisasi di antara komunitas RT/RW setempat. Sekalipun di pikiran dan konsep sistem nilai yang mereka pahami adalah konsep “kebebasan” dan “resistensi” terhadap kebudayaan induknya, bukan berarti mereka harus memenangi pertarungan gagasan. Melihat sebaliknya, warga sekitar yang akhirnya membuka diri juga akhirnya mentolerir kegiatan-kegiatan Punk seperti musik yang berisik, minum-minum, dan kegiatan kumpul-kumpul asalkan tidak mengganggu dan mengajak warga sekitar terutama remaja-remaja untuk bergabung dengan mereka. Sehingga saya dan kelompok pun menyimpulkan bahwa mis-persepsi sudah berubah menjadi persepsi yang baik dan utuh mengenai Punk. 

Refleksi

Melalui kompromi, Taring Babi dapat diterima tanpa harus mengurangi ideologi Punk. Oleh karena itu, sejauh mana kita rela berkompromi, untuk dapat berbaur dan diterima di masyarakat?, atau apakah kita sebatas menuntut untuk diterima terus-terusan?

Referensi :

Wicaksana, F. ; Ramelan, D., Aristides, M. (2019) “MISPERSEPSI TERHADAP POLA HIDUP KOMUNITAS PUNK “TARING BABI” OLEH WARGA RT.11/RW.08, SRENGSENG SAWAH, JAGAKARSA, KOTA JAKARTA SELATAN”. Jakarta Selatan.  https://drive.google.com/file/d/12ADH41zhaiCrHGxZHtua_6wpJbIVue2E/view?usp=sharing

Penulis

Nama panjang Fransiskus Asisi Arya Seta Wicaksana, biasa dipanggil Aryo, tapi berasa keren kalo dipanggil Frans, yang penting jangan setan aja. Kebetulan Mahasiswa Antropologi UGM 2020. Sebenarnya seorang guitarist-songwriter, Cuma lagunya ga laku-laku. Ketertarikan di bidang musik, sub-kultur, agama, dan sejarah. 

Ingin lebih dekat dengan saya?
IG: arsesana

email :aryaseta.6869@gmail.com