Sebuah Cerita di Balik Asap Tebal Romantisasi Jogja

Suasana kota Jogja di sekitar Jalan Abu Bakar Ali saat itu sudah mulai sepi, hanya ada beberapa mobil yang lewat, satu-dua kali kadang juga disusul sepeda motor di belakangnya. Saat itu, saya dan teman saya sedang asyik bermain skateboard di sekitaran babon aniem yang berada tepat di selatan jalan Taman Parkir Abu Bakar Ali. Beberapa kali anak-anak melihat kami berdua dengan senang. Setiap kami meragakan suatu gaya bermain skateboard dan gagal, mereka tertawa lepas. Senang sekali saya bisa melihat anak-anak tertawa lepas seperti itu karena saya sudah lupa kapan terakhir kali saya bisa tertawa lepas seperti itu sewaktu kecil. Perlahan anak-anak itu beranjak pergi meninggalkan kami berdua. Kemudian, datanglah seorang ibu tua yang menurut saya usianya sekitar 50-55 tahun. Tiba-tiba saja beliau mendoakan kami, begini ucapnya, “Mugi-mugi diparingi rezeki lan kesehatan yo,Le,” saya dan teman saya menjawab, “Njih, maturnuwun, Bu.” Tentu saja kami berdua terkejut ada orang asing yang tiba-tiba saja mendoakan kebaikan kepada kami. Bukannya kami tidak ingin didoakan, tetapi jarang saja rasanya ada orang yang peduli dan mau mendoakan kami—terutama saya. Ternyata ada alasan di balik mengapa beliau mendoakan kami. Beliau mengatakan bahwa kami mengingatkannya pada anak-anaknya yang kini sudah dewasa. Setelah berkata seperti itu, beliau kemudian duduk sembari menonton kami bermain. Setelah bermain cukup lama, saya kemudian beristirahat dan entah mengapa ada seperti bisikan yang memanggil saya untuk duduk lalu menemani ibu tersebut. Saya mengambil botol minum saya dan duduk di dekat ibu tersebut, berhadapan.

Saya memulai percakapan, “Ibu dari mana?” Beliau menjawab, “aku itu kerjanya ngumpulin botol bekas, Le. Tapi, sekarang sepi sekali.” Saya hanya mengangguk dan tersenyum ramah kepada beliau. Kemudian beliau melanjutkan ceritanya sendiri, menceritakan bahwa beliau memiliki lima orang anak. Anak pertama laki-laki dan berprofesi sebagai sopir bus. Anak kedua dan ketiga adalah perempuan kembar, yang mana keduanya menjadi pemandu karaoke. Anak keempat juga perempuan dan disekolahkan di pondok karena beliau tidak ingin dia seperti kakak kedua dan ketiganya. Lalu yang terakhir adalah anak laki-laki, sekarang mengenyam pendidikan sekolah dasar.

Obrolan berlanjut seputar sulitnya hidup di Jogja, apalagi bagi seseorang seperti beliau yang tidak berpendidikan tinggi, begitu ceritanya kepada saya. Dahulu, anak pertamanya ingin sekali melanjutkan kuliah, tetapi beliau menyuruh anaknya untuk langsung bekerja saja. Alasannya adalah beliau tidak memiliki biaya yang cukup untuk membiayai kuliah. Begitu pula berlaku untuk anak kedua dan ketiganya. Sulitnya hidup di Jogja juga dijelaskannya bahwa selama ini dia dan anak-anaknya hanya bisa tinggal di Taman Parkir Abu Bakar Ali, itu pun terkadang harus terpaksa diusir oleh pihak keamanan setempat, begitu terang beliau. Ditambah lagi, hanya beliau seorang diri yang membiayai seluruh anaknya. Hal itu dikarenakan beliau ditinggal oleh suaminya yang senang bermain wanita, “bojo-ku kui ora romantis blas, Le. Senengane dolanan wedhok,” begitu katanya. “Abot, Le, abot,” beliau melanjutkan. Saya menatapnya dengan tatapan kosong, sedih sekali.

suasana obrolan bersama Ibu Hesti di Jalan Abu Bakar Ali

Sebelum menjadi seorang pengumpul botol bekas, beliau sempat menjadi pengamen jalanan. Beliau berkata, “berat sekali, Le, jadi pengamen itu, penghasilan tidak seberapa.” Hasil dari beliau menjadi pengamen dipakai untuk membeli sepeda motor yang sempat digunakan anak pertamanya bekerja, sebelum menjadi sopir bus. Sampai akhirnya motor tersebut dirampas oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Beliau sangat sedih karena hasil kerja kerasnya selama ini hilang dan anaknya terpaksa mencari pekerjaan baru. Akhirnya, beliau beralih profesi menjadi seorang pengumpul botol bekas yang kemudian dijual. Hasil yang dibayar untuk setiap 1 kg botol bekas yaitu Rp2.500,00. Dalam sehari biasanya beliau bisa mengumpulkan hingga 10 kg botol bekas yang apabila dijumlah total penghasilannya per hari mencapai Rp25.000,00. Beliau menggunakan uang tersebut untuk membeli makan. Itu pun kalau beliau mampu mengumpulkan sampai 10 kg. Jika tidak, biasanya beliau berharap sumbangan makanan, yang mana biasa dibagikan oleh orang-orang baik di daerah Malioboro dan sekitarnya.

Beliau terdiam, tidak melanjutkan ceritanya. Kemudian, secara tiba-tiba beliau melayangkan pertanyaan kepada saya, “kowe kuliah nengdi, Le?” Saya kemudian menjawab, “kula kuliah UGM, Bu.” Lalu beliau memberikan nasihat kepada saya, bahwa saya harus rajin belajar supaya kelak bisa dengan mudah mendapatkan pekerjaan dan sukses. Justru lebih bersyukur lagi saat saya bisa membuka lowongan pekerjaan bagi orang banyak, begitu harapan dan doa beliau kepada saya. Beliau bilang bahwa hidup di Jogja ini akan semakin sulit, jadi jangan semakin dipersulit lagi. Lebih baik lagi apabila bisa membuat orang lain keluar dari kesulitannya. Terakhir, beliau bersyukur bisa bertemu dan melihat anak-anak muda seperti kami. Saya tidak tahu alasannya kenapa. Akan tetapi, beliau berkata bahwa kami membuatnya merasa lebih muda. Lagi-lagi, seperti ada bisikan aneh yang membuat saya kemudian menyalami dan mencium tangan beliau dengan penuh rasa syukur karena bersedia berbagi kisah dengan saya. Ibu Hesti namanya, beliau berterima kasih kemudian pergi meninggalkan kami berdua.

Dari cerita yang beliau bagikan kepada saya, membuat saya teringat akan kata-kata, “Jogja itu romantis.” Saya bertanya-tanya, bagian mana dari kisahnya yang romantis? Romantisnya Jogja itu bagi siapa? Apa definisi Jogja yang romantis, sebenarnya? Saya semakin bingung. Sudahlah, daripada saya dibuat gila oleh semboyan-semboyan romantisasi Jogja yang berlebihan, lebih baik saya melanjutkan bermain skateboard.

Tentang Penulis

Nama asli Muhammad Harits, mahasiswa Antropologi UGM angkatan 2020. Kadang main skateboard, kadang main gitar, kadang ga ngapa-ngapain. Suka lagu-lagu punk dan klasik, lagu-lagu galau juga (kalau perlu). Hubungi saya via Instagram: @haritsmuhammads kalo udah kenal bisa lanjut ke WA atau Line. Saya juga punya beberapa tulisan di: haritsmuhammad.wordpress.com. Beberapa tulisan di sana jangan dianggap serius karena saya cuma sok tahu doang. Terakhir, jangan lupa bahagia, jangan lupa istirahat, jangan lupa makan, ya. Viva la tekyan!