Kajian Refleksi: Hidup Anda Istimewa dan Anda Tahu Itu

sumber: pexels.com

Saya manusia dan saya hidup. Anda manusia dan Anda hidup. Suatu kenyataan yang indah, bukan? Akan tetapi, sudahkah kita mengerti betapa indahnya kehidupan kita saat ini? Mari bertamasya dalam sanubari kehidupan kita. Saya akan membawa Anda menyelam lebih dalam tentang indahnya kehidupan melalui refleksi terhadap diri Anda sendiri sebagai entitas yang hidup di muka bumi. Saya akan berbicara tentang diri Anda sebagai manusia yang indah dan penuh anugerah.

Jika kita melihat beberapa perkataan orang-orang terkenal berikut ini, kita mulai memiliki visi seperti apa manusia itu. Tulus mengatakan bahwa manusia itu adalah sosok yang kuat disertai dengan jiwa-jiwa penyokongnya yang gagah perkasa. Mari melihat lebih jauh tentang manusia menurut Aristoteles, yang mana manusia adalah entitas berharga yang memiliki rasionalitas. Lalu, yang terpenting menurut Kahlil Gibran manusia adalah makhluk yang indah karena dalam dirinya terdapat berkah dan hadiah untuk saling memberi cinta tanpa jeda. Saya tidak mengatakan bahwa itu semua salah, saya hanya mengatakan bahwa itu semua baik untuk kita refleksikan dan kita lihat dalam diri kita sendiri, “manusia seperti apakah aku ini?” Ya, menurut saya kita semua manusia yang istimewa dan saya akan mengajak Anda melihat keistimewaan itu ada di mana.

Mari kita berpikir sejenak, apakah Anda semua pernah memiliki pengalaman akan rasa takut dan gelisah saat hendak memulai sesuatu? Jika iya, pengalaman apakah itu? Baik, lalu apa yang Anda lakukan saat perasaan takut dan gelisah itu tiba? Ingatlah baik-baik pengalaman dan perasaan Anda itu dan mari ikut menjelajah batin bersama saya. Kita semua pasti pernah merasa takut untuk memulai sesuatu hal yang baru bagi kita. Pasti ada beberapa perasaan seperti khawatir, gelisah, overthinking, depresi, dan akhirnya bermuara pada ketidakstabilan mental dalam diri kita. Anda yang takut untuk memulai, khawatir untuk berproses, dan gelisah dengan apa yang akan terjadi pada akhir hanya akan membunuh mental Anda secara perlahan. Pasti ada beberapa dari Anda yang seperti, “ah, bagaimana ya aku harus memulainya? Astaga dia jago! Aku pasti ga bisa seperti dia,” ungkapan ini hanya akan memberhentikan langkah Anda dan Anda mencetak skor nol dalam diri Anda. Belum tentu apa yang Anda pikirkan itu menjadi kenyataan, belum tentu Anda gagal dan tidak bisa menyaingi seseorang. Anda akan tahu hasilnya saat Anda mau memulainya. Perasaan gelisah dan takut yang menyempitkan langkah gerak Anda ini akan sangat berbahaya jika terus menerus dipelihara dalam cakrawala Anda. Mari, saya perlihatkan keistimewaan manusia yang sudah saya singgung di awal.

Dalam hidup ini, pengalaman-pengalaman menggelisahkan itu akan terus berdatangan dan kita harus tahu cara menanggapinya dengan bijak. Kita memerlukan suatu sikap yang sangat penting dimiliki oleh umat manusia, itu adalah pikiran terbuka atau open minded. Open minded bukan semata-mata membuka pikiran secara bebas tanpa tujuan yang jelas. Open minded juga bukan tentang melepaskan semua ideologi yang tertanam dalam diri untuk membiarkan yang baru segera masuk dengan terburu-buru. Open minded lebih tentang mau menerima segala hal yang baru dari berbagai macam sudut pandang. Segala kesempatan dan pengalaman kita di dunia pasti kita pandang dengan suatu sudut pandang tertentu. Ada pengalaman jatuh dari sepeda dan kita memandangnya sebagai pengalaman sakit; ada pengalaman patah hati karena cinta kita tak kunjung menemukan rumah indah untuk disinggahi sebagai pengalaman pahit; ada pengalaman bertemu teman yang cantik/tampan menawan yang membuat diri kita minder sebagai pengalaman asam, dan lain sebagainya. Seperti yang saya sampaikan di atas, semua pengalaman itu tidak akan terasa seperti itu saat Anda bisa memaknainya dari sudut pandang yang berbeda. Dengan jatuh dari sepeda, Anda memiliki bisa lebih berhati-hati suatu saat nanti. Dengan cinta yang ditolak pun memberi Anda pengalaman untuk secara selektif dan perlahan mengungkapkan perasaan yang tidak dapat direncanakan. Dengan memiliki teman yang lebih menawan dibanding diri Anda, membuat Anda semakin mencintai diri Anda sendiri dan mensyukuri Anda apa adanya. Semua akan berubah saat Anda hendak open minded untuk memandang segala bentuk pengalaman tersebut dari sudut pandang yang berbeda dan mensyukurinya sebagai sesuatu yang memberi perubahan baik.

Mungkin Anda berpikir, seberapa penting open minded itu? Ya, Anda coba lihat Nelson Mandela. Saat politik apartheid merajalela di Afrika Selatan yang tak kunjung reda, Nelson Mandela dengan open minded-nya mau bertindak sebagai pahlawan menyelamatkan kebebasan hak para warga kulit hitam. Bayangkan Nelson Mandela berpikir seperti ini, “aduh, melawan ras kulit putih, ah pasrah aja deh, tidak akan bisa melawan mereka,” lagi-lagi kegelisahan menjadi taring tajam dalam membawa perubahan. Anda lihat pula Alva Edison, jika dia tidak mau open minded dengan kesempatan dirinya menjadi pembawa perubahan dalam sejarah, bisa saja kita tidak mengenal dia sebagai penemu lampu bola. “Aduh bikin lampu itu susah ya, aku gagal lagi, aku sudah mencoba berkali-kali tapi tetap gagal, pasti aku tidak bisa,” mungkinkah kita mengenal lampu bola sekarang ini? Bayangkan juga Sang Putra Fajar, Bung Karno, tidak memiliki pikiran terbuka untuk mencetuskan dasar negara, yang mana pada akhirnya menjadi pria nomor satu di Indonesia — bisa jadi kita tidak melihat fotonya terpampang di ruang kelas dan aula sekolah, gedung pemerintahan, bahkan dalam museum sekalipun. Bayangkan Bung Karno berkata, “aku mau berbicara, tetapi aku takut akan ditertawakan, di sini ada M. Yamin yang tampak cerdas, ada dewan-dewan yang berintelek, ah ya sudahlah,” bisa jadi Bung Karno hanyalah politikus biasa-biasa saja jika dia tidak open minded. Orang yang tidak open minded tidak akan bisa bertahan hidup di dunia ini. Banyak dari mereka akan menyiksa batin mereka karena kegelisahan-kegelisahan dan rasa menutup diri yang begitu besar. Pikiran tertutup akan menggerogoti jiwa mereka sebagai manusia bebas dan menyiksa mereka dengan segala ketakutan yang ada. Tokoh-tokoh di atas memberikan bukti bahwa memandang sesuatu dari perspektif yang berbeda memberikan suatu kemajuan. Nyata sekali, open minded atau pikiran terbuka ini memberikan kemudahan, melahirkan kenyamanan, dan pembuktian faktual bahwa hidup itu penuh keistimewaan.

Sudahkah Anda terbayang betapa istimewanya kita sebagai manusia apabila memiliki pikiran yang terbuka? Anda tidak perlu khawatir tentang apapun yang bagi Anda bisa dikhawatirkan. Anda tidak perlu merasa minder atas segala proses dalam hidup orang lain yang jauh lebih baik ketimbang hidup Anda. Anda bisa melakukan semuanya. Anda bukanlah orang lemah. Anda perlu tahu bahwa ada orang yang hebat di sekolah, ada pula orang yang hebat di kehidupan. Anda perlu tahu bahwa Anda itu berbeda karena Anda memiliki keunikan. Anda memiliki bakat yang belum tentu dimiliki oleh orang lain – Anda tinggal di rumah yang menyenangkan yang belum tentu dirasakan oleh orang lain. Anda memiliki kemampuan yang berbeda-beda dan disitulah letak keistimewaannya. Diantara Anda ada yang bisa berpuisi dengan indah; ada yang bisa berorasi dengan lantang; ada yang bisa bermusik dengan ceria; ada yang bisa melawak dengan girang; ada yang bisa ini dan itu dan masih banyak lagi.

Hidup Anda itu istimewa dan disitulah Anda harus mulai bersyukur. Anda hanya perlu memandang kehidupan Anda ini dengan pikiran yang terbuka, perspektif yang beragam, dan rasa syukur akan itu semua. Disinilah saya ingin mengajak Anda semua untuk memiliki pikiran yang terbuka dan menerima diri Anda sebagai manusia yang istimewa. Manusia apakah aku ini? Ya, jawabannya aku adalah manusia yang istimewa dengan pikiran yang terbuka. Jangan takut gagal! Saat Anda berhasil Anda mendapatkan pengalaman, saat Anda gagal Anda mendapatkan pembelajaran. Tunggu apa lagi? Ayo, bukalah pikiran Anda! Terima semua kesempatan dan peluang di depan Anda! Laksanakanlah kewajiban dan tugas-tugas Anda dengan semangat dan yakinlah bahwa Anda layak untuk berjuang akan kesempatan itu karena Anda bisa melakukannya! Terima kasih sudah mau berjuang sampai sejauh ini! Sekarang, saatnya Anda terus melangkah dan melanjutkan perjuangan itu! Tetaplah semangat, Anda hebat!

Tentang Penulis

Hai, aku Valentino Yovenky Ardi Bentarangga. Teman-teman banyak memanggil Valent atau Pengky atau Pengki atau Venky atau Pepeng atau juga Simbah. Aku adalah mahasiswa Antropologi Budaya angkatan 2020. Aku suka makan, suka buku, suka nongkrong, dan juga suka dia. Aku bisa dihubungi melalui e-mail: valentinoyovenky27@gmail.com. Akan ada lagi cerita dan gagasan berikutnya dari aku. Salam hangat untuk para pembaca, bahagia selalu, jangan lupa makan, kesehatanmu, lho!