Potret Demo Tolak Omnibus Law

Pada 8 Oktober lalu terjadi demonstrasi besar-besaran di berbagai titik di Indonesia dengan maksud menolak keras Omnibus Law beserta poin tuntutan lainnya. Salah satu titik demonstrasi adalah di Yogyakarta, tepatnya di jalan Malioboro di depan gedung DPRD DIY. Untuk pertama kalinya saya ikut masuk ke dalam situasi chaos demo. Sayangnya saya baru datang pukul satu siang karena paginya ada kegiatan lain. Bersama teman saya, Varres, kami memarkirkan motor cukup jauh dari Malioboro dan dilanjutkan dengan jalan kaki. Sepanjang jalan terdengar suara sirene, ledakan, teriakan orasi massa dan mobil polisi dimana-mana.

Ketika memasuki Jalan Malioboro, semakin menuju ke gedung DPRD DIY semakin ramai dan ricuh. Di sepanjang jalan pun tidak lupa “ornamen” polisi, yang berdiri memastikan keadaan. 

Saat saya datang, situasi di sekitar gedung DPRD DIY sangat ricuh, gas air mata diturunkan. Massa mundur sejenak, berjalan berlawanan arah dengan kami. Terlihat banyak yang merah matanya dan sekelilingnya berwarna putih kering dari odol. Beberapa juga terlihat dibopong dengan efek cukup parah dari gas air mata. Kami yang baru datang dan berjarak dari DPRD saja sudah merasakan perih di mata dan hidung akibat gas air mata.

Picture 1 Dibopong karena terkena gas air mata

Picture 2 pendemo membantu mengobati pendemo lainnya yang terkena gas air mata

Sepanjang Jalan Malioboro terutama di dekat gedung DPRD DIY terlihat jalanan basah, kotor, dan penuh vandalisme.

Picture 3 Pembukuan dari kantor polisi terinjak-injak massa

Jangan tanya dengan gerbang DPRD, saat kami datang gerbang itu dipaksa massa untuk dirobohkan. Belum berapa lama, gerbang benar terobohkan dan massa segera menguasai wilayah DPRD. Kami mencoba memasuki wilayah gedung DPRD. Penuh sesak dengan orang, untung kami berukuran kecil jadi sangat mudah untuk menyempil di tempat seramai itu sambil berkata, “permisi, permisi”. Jika di sepanjang jalan sebelum masuk ke gedung DPRD sesekali melihat perempuan, kini di wilayah gedung DPRD sesak dengan laki-laki. Bahkan saya tidak melihat sosok perempuan disini kecuali saya.

Picture 4 Gerbang DPRD dan massa pendemo. Pada foto ini massa pendemo sedang jongkok sebagai bentuk menghargai dan menghormati Ashar yang berkumandang dari masjid DPRD

Di tengah area gedung DPRD sudah ada bak mobil polisi yang dikuasai massa. Ada orator di atas sana yang menyampaikan keresahan dan memulai yel-yel bersama yang biasanya dimulai setiap kali massa mulai terasa memanas. Tak sedikit juga massa menampilkan banner mereka, mulai dari yang mengata-ngatai DPR hingga alasan penolakan. Lalu tak berselang lama, hadir di “podium” bak mobil polisi, TNI dan Wakil DPRD DIY. 

Picture 5 Wakil Ketua DPRD DIY menemui massa. Massa meminta banner bertuliskan ‘DPR Mabok Ciu’ tetap disana saat mereka berbicara.

Picture 6 Kehadiran TNI yang disambut meriah oleh massa

Di saat Wakil DPRD DIY ini berorasi, semakin banyak TNI yang bergabung dan disambut sangat meriah oleh massa. Bapak wakil DPRD memulai pembicaraannya dengan salam, perkenalan yang disambut buruk oleh massa karena bagi massa ini lah salah satu anggota “biang kerok” dari sahnya Omnibus Law. Ada juga yang menanyakan dimana ketua DPRD DIY, kenapa hanya wakil yang turun, ada juga yang meneriakkan untuk membubarkan DPR. “Mohon tenang”, kata wakil DPRD. Jelas, massa semakin menjadi-jadi dan berisik.

Selesai DPRD dan TNI “mencoba menenangkan massa”, mereka turun dan sudah siap menggunakan helm mengantisipasi terjadinya ricuh. Seluruh massa di dekat saya sudah banyak berteriak untuk tetap tenang jangan membuat ricuh, tapi betul saja ada yang melempar batu dan barang apapun ke arah TNI dari barisan di sebelah kanan depan tadi dan suasana seketika chaos sekali. Sayang, kami tidak membawa pengaman apapun, kami segera keluar dari kerumunan. “Tolong beri jalan, ini cewek ini cewek,” kata seseorang demonstran kepada massa ketika melihat saya, seorang perempuan, lewat. Dan mereka semua menurut, saya dengan mudah keluar dari kerumunan.

Gas air mata lagi-lagi dikeluarkan, massa kembali mundur. Beberapa terlihat setengah berlari sambil membopong pendemo yang terluka akibat bentrok tersebut. Ada yang kepalanya berdarah, sambil dibopong berkata, “aku enggak papa, aku enggak papa”.  

Picture 7 Pendemo terluka akibat bentrok. Sambil dibopong (dan semua mata tertuju padanya), ia menyatakan dirinya tidak kenapa-kenapa

Motor-motor medis juga terlihat berlalu-lalang, berboncengan bertiga dengan orang yang terluka berada di tengah.

Kejadian terus ricuh, kami mau tak mau lari dari kerumunan yang terus bergerak. Saya akhirnya menjauh dari area DPRD, ke tempat sementara yang lebih aman. Selang sekian menit, asap dari dekat gedung DPRD sudah mengepul dan semakin pekat. Tidak mungkin dari api kecil di atas aspal depan gedung DPRD, pasti ada api yang lebih besar terjadi. Kami penasaran dan mendekati lagi lokasi, dan benar, Restoran Legian yang berada tepat di sebelah gedung DPRD terbakar dan api semakin besar. Tidak ada yang boleh mendekati area kebakaran karena takut ada benda-benda terbakar berjatuhan. Sementara di samping gedung sudah ada polisi dan massa bekerja sama memadamkan api memanfaatkan hydrant yang ada. Api ini sangat besar bahkan menggunakan hingga 3 hydrant.

Ditengah pemadaman api oleh aparat dan massa, segerombolan aparat datang dari kanan. Entah siapa yang memulai, tapi kedatangan aparat ini disambut ricuh, memicu bentrok lagi. Beberapa mencoba menenangkan agar tidak terjadi ricuh, namun akhirnya ricuh juga. Tak sadar tiba-tiba di depan mata saya sudah ada tiga gas air mata terlemparkan.

Keadaan selanjutnya semakin ricuh, para TNI pun sudah turun ke jalan mengamankan suasana dan kondisi. Kami yang berlari terjebak di tengah ricuh diarahkan ke Mal Malioboro yang dipagar betis oleh pegawai dan beberapa pendemo laki-laki. Katanya mal ini disiapkan untuk wanita dan luka-luka. Awalnya Varres ditolak untuk masuk karena ia laki-laki dan tidak luka-luka, tapi setelah bernegosiasi ia pun dipersilakan masuk juga.

Mal Malioboro saat itu tidak seterang biasanya, beberapa kios tutup. Terlihat ada yang luka-luka berbaring dan beberapa pegawai serta pengunjung yang terjebak melihat ke depan pintu untuk mengetahui kondisi yang sedang terjadi. Sayang, kami dilarang foto di dalam mal tersebut. Selama satu jam kami menunggu hingga suasana tak lagi ricuh. 

Waktu sudah menunjukkan pukul 4, semua notifikasi di smartphone dari berbagai pesan singkat sudah mengingatkan kami untuk segera mundur dari lokasi demo. Kami pun keluar melalui basement. Di ujung sana terlihat area DPRD yang masih ricuh dengan aparat. Jelas, kami ke arah pulang mengikuti arahan yang sudah disampaikan.

Semakin menuju KM 0, kondisi semakin kondusif. Beberapa pendemo juga melipir ke pedagang makanan. Meski berada di tempat yang kondusif, masih banyak aparat yang berdiri atau duduk di posisinya.

Picture 8 Delman dan Polisi, sama-sama menunggu

“Banyak ya pak, oknum-oknum pembuat kericuhan?” iseng saya mengobrol dengan polisi yang saya foto dengan gagahnya.

“Ya di setiap demo pasti selalu ricuh. Pasti itu,” katanya dengan santai.

“Huwalah begitu ya, pak.”

“Iya begitu mbak. Namanya juga demo. Mbak dari mana e?” sambung pak polisi mengalir 

“Gak dari mana-mana pak, dari sana hahaha,” jawab saya sambil menunjuk arah demo.

“Hahaha, maksud saya dari pers mana?” tanyanya masih dengan santai melihat saya membawa kamera besar.

“Saya bukan pers pak. Saya mahasiswa, hehe.”

“Oh,” jawabnya dengan raut muka berbeda.

Tentang Penulis

Maria Michelle Angelica – Antropologi Budaya 2019

Biasa dipanggil sayang. Lahir pada Friday the 13th bulan 4. Punya hobi menyimpan kenangan berupa tulisan, foto, gambar, dan masa lalu. Punya bintang biri-biri. Hidup di dunia penuh ilusi-fiksi dan paradoks. Punya situs blog dari SD eh tapi dibajak ketika SMA jadi bermigrasi ke jangandibajak.wordpress.com, isinya kadang bisa dibilang sampah.