Mamasa Bayang-Bayang: Menelusuri Perbatasan dan Persimpangan

“Ndak ke Tana Toraja saja, Pak?” Oya, apakah memang setiap pertanyaan kepada pengunjung begini adanya?

“Kalau ada waktu, coba ke Balla. Di sana lebih banyak lagi, satu kampung.” Nah ini.

***

Lembayung senja tidak cuma diksi dalam lagu Diam-Diam Ku Bawa 1, namun kulihat sendiri di langit Mamasa. Langit senja yang menemani perjalanan darat kami memberikan keindahan sekaligus menggoda keluarnya rasa takut—karena kami akan melalui kegelapan. Perjalanan pun tidak bisa berhenti-jalan untuk mengabadikan pemandangan, karena sang pengantar terburu-buru, setelah mengantar kami ke Mamasa, harus kembali ke Mamuju malam itu juga. Pikirku, berarti perjalanan senja jelang gelap ini tidak perlu ditakutkan, setidaknya jika dibandingkan sang pengantar nanti, sendiri pula.

Perjalanan yang katanya empat jam, sepertinya bakal terlewati. Hari sudah gelap. Namun kami tidak bisa berhenti salat Maghrib. Tempat salat sudah sulit ditemukan, karena ‘daerah muslim’ sudah terlewati, yaitu tadi ketika kami berhenti untuk salat Ashar. Itu Kecamatan Mambi. Kata pengantar kami, kecamatan itu didominasi muslim. Ternyata tidak semua wilayah Kabupaten Mamasa didominasi Kristen, memang kita tidak bisa menggeneralisasi.

Sesampai kami di penginapan, ada sambutan hangat. Untungnya warung di penginapan belum tutup, sehingga kami yang belum makan malam masih bisa ‘menunaikan’ isian lapar malam. Sembari menunggu makan, kami bisa bercerita perjalanan tadi kepada orang warung. Sekadar basa-basi, namun perjalanan malam menelusuri bukit barusan tidak boleh dipendam saja. Apalagi dengan tensi buru-buru sang pengantar. Belum cukup parah, kata sang pengantar tadi di perjalanan, jalanan Tana Toraja – Mamasa bisa tertutup jika hujan deras.

Deras hujan malam itu pun sedikit menenangkan, karena kami tidak melaju dari Tator. Dari perspektif popularitas pariwisata memang bisa disayangkan Tator tidak disinggahi. Namun sepertinya menarik untuk melihat Mamasa dahulu, tanpa bayang-bayang perbandingan (Tana) Toraja. Sedari perjalanan tadi aku sudah mencatat dan mengabadikan momen, meskipun catatan tersebut tetap harus didukung bacaan ilmiah lainnya.

Mamasa dalam Persimpangan Etnis

Pada kelas pembuka Etnografi Sulawesi, Prof. Heddy Shri Ahimsa Putra berujar, “Etnis Mamasa, dulu belum banyak yang tahu, sekarang sudah lumayan dikenal,” ketika memperkenalkan etnis-etnis di Sulawesi. Hal tersebut juga sudah diakui Kees Buijs (2009), bahwa Mamasa terbilang terasing. Entitas yang dijadikan perbandingan pada kedua pernyataan mengarah pada hal yang sama. Mamasa terasing, setidaknya jika dibandingkan tetangganya, Tana Toraja (Buijs, 2009). Dan kini, Mamasa mulai banyak dikenal, karena keunikan bangunan tradisionalnya maupun kebudayaannya yang berkerabat dengan Toraja.

Dilihat dari sejarah maupun kebudayaannya, orang Mamasa atau to Mamasa memang berkerabat dekat dengan Toraja. Dalam catatan Buijs (2009), dipercaya dahulunya rombongan orang bermigrasi dari timur (wilayah Tator), melintasi Sungai Masuppu’, dan berdiam di wilayah Mamasa saat ini. Menurut Netty Nooy-Palm (1979), keduanya merupakan Toraja, di mana orang bagian timur disebut Toraja Sa’dan dan bagian barat (Sungai Masuppu’) disebut Toraja Mamasa. Pada perkembangannya, sebutan yang lebih populer adalah Toraja dan Mamasa saja.

Kemiripan rumah tongkonan dan rumah tradisional Mamasa (sering disebut banua, yang artinya rumah), adanya aluk toyolo (Buijs, 2009) sebagai kepercayaan di Mamasa—di samping Toraja punya aluk to dolo, dan dekatnya kekerabatan bahasa Toraja dan Mamasa cukup mendukung pernyataan kekerabatan Toraja dan Mamasa. Bahkan dalam studi yang lebih lawas seperti dalam Masyhuda (1971), Mamasa masuk dalam dialek bahasa Toraja. Buijs juga menyebutkan bahwa aluk toyolo pun terkadang dipakai di Toraja Sa’dan (tidak hanya di Mamasa).

Demikian Mamasa (pada kekerabatannya) dengan Toraja. Pengetahuan macam ini sudah bisa dilihat di berbagai wadah digital. Namun jangan lupakan bahwa Mamasa berada di Provinsi Sulawesi Barat yang umum juga disebut sebagai ‘provinsi orang Mandar’. Batasan ‘Mamasa’ sebagai etnis, mengalami distraksi dengan ‘Mamasa’ sebagai nama kabupaten, kecamatan, juga sungai. (Orang) Mamasa memiliki kontak budaya cukup kuat dengan Mandar, yang mungkin juga menyebabkan (wilayah) Mamasa masuk ke Sulbar ketika lepas dari Sulsel.

Diskursus mengenai etnis seringkali memang rumit karena akan berhadapan dengan batasan. Belum membahas istilah ‘suku’ yang juga kadang terdistraksi dengan ‘etnis’, juga belum kita sampaikan pada era kontemporer—era perkawinan antaretnis. Pemahaman kita mengenai etnis tidak dipungkiri, dipengaruhi oleh pembelajaran di sekolah, pengenalan keragaman etnis dan budaya Indonesia, dan lain-lain yang mendukungnya.

Konstruksi pemahaman keetnisan juga bisa dilakukan oleh struktur dalam pemerintahan. Bisa diketahui bahwa pada Provinsi Sulawesi Selatan ada pemetaan 4 etnis/budaya besar, yaitu Bugis, Makassar, Mandar, dan Toraja. Empat etnis ini bisa dikatakan sebagai kebudayaan mainstream provinsi. Bukan hal yang tidak umum, kita juga bisa melihat pemetaan ini di Sumatera Utara (8 etnis) atau Kalimantan Barat (Dayak, Melayu, Tionghoa).

Sekalipun berguna untuk pemetaan, hal ini bisa cenderung melupakan etnis berdemografi sedikit atau persimpangan. Seperti Mamasa yang berkerabat dengan Toraja tetapi merupakan another people, kasus serupa juga bisa dilihat pada etnis Duri, persimpangan Bugis-Toraja yang juga kadang disebut Islamized-Toraja. Etnis persimpangan bisa jadi menarik (karena mengandung perpaduan), juga bisa jadi terpinggirkan (karena terdesak dominasi mainstream).

Mamasa di Perbatasan Wilayah

Tiap wilayah administratif tentu memiliki perbatasan, yaitu dengan wilayah administratif lainnya. Namun wilayah perbatasan seringkali menarik, karena menjadi titik pertemuan antara dua kebudayaan mainstream, dan seringkali dianggap pinggiran oleh keduanya. Mamasa sebagai wilayah banyak bersinggungan dengan perbatasan, secara geografis maupun struktur administratif.

Ada beberapa problem ketika kita membahas batasan (border) wilayah. Tidak hanya di era kontemporer nation-state, melainkan sudah terjadi sejak lawas. Batas-batas wilayah suku, kemudian kerajaan/kesultanan, pengaruh kolonial, hingga sekarang era negara bangsa senantiasa berdinamika. Era kolonial dan negara bangsa dapat kita soroti pada bahasan kali ini, karena sejauh catatan tersedia dan melihat pengaruh terjauh pada kondisi saat ini.

Dalam catatan Buijs (2009), yang disebut daerah Mamasa oleh Belanda pada kedatangannya tahun 1917 adalah wilayah Pitu Ulunna Salu (PUS), Tandalangngan, dan lembah sungai Mamasa. Wilayah ini kemudian dibagi menjadi afdeling (Mandar, wilayah Sulbar sekarang) dan onderafdeling (Boven Binuang dan PUS). Onderafdeling BB dan PUS digabung pada 1924 menjadi onderafdeling Mamasa.

Era kemerdekaan bukan tidak bersumbangsih terhadap dinamika wilayah Mamasa. Menyusul Dekrit Presiden 1959, wilayah administratif Sulawesi cukup terdampak perubahan. Kawedanan (perubahan dari onderafdeling) Mamasa digabung dengan Kawedanan Polewali, menjadi Daerah Tingkat II Polewali Mamasa. Batasan ini bertahan hingga 2002, dan dapat dibilang sebagai konstruksi terlama dalam era kolonial dan kemerdekaan. Penggabungan (sejak 1959) ini berpengaruh besar, karena ibu kota Polewali Mamasa berada di Polewali, dan fokus yang terbagi dua itu lebih condong ke wilayah Polewali.

Akhirnya Kabupaten Polewali Mamasa dipisah lagi. Di sinilah konflik perbatasan berlangsung. Pada tahun 2002, peraturan sudah menetapkan kecamatan mana saja yang akan tergabung di Kabupaten Polewali Mandar maupun Mamasa. Namun, masyarakat di Kecamatan Aralle, Tabulahan, dan Mambi melakukan penolakan atas pembagian tersebut, dan menuntut untuk bergabung dengan Polewali Mandar. Konflik ini dikenal dengan konflik ATM.

Motif penolakan masyarakat ATM cukup satu arus: etnis, budaya, agama. Masyarakat ATM merasa lebih dekat dengan budaya Mandar, juga khawatir menjadi tidak dominan jika bergabung dengan Mamasa (pusat di Mamasa, agama Kristen). Di sinilah titik persimpangan etnis Mamasa yang lain, bahwa konstruksi (wilayah) Mamasa sejak era kolonial (PUS, Tandalangngan, lembah sungai) membentuk masyarakat Mamasa yang tidak hanya ‘migran dari Toraja Sa’dan’. Pitu Ulunna Salu, sesungguhnya adalah kelompok kerajaan pra-kolonial (disebutkan bahwa mereka kerajaan bercorak Islam).

Aralle, Tabulahan, dan Mambi, termasuk ke dalam 7 (pitu) kerajaan tadi, dengan pengaruh budaya Mandar dan dominan agama Islam. Setelah 2002, pemekaran berlanjut pada 2004, yaitu lepasnya Sulawesi Barat dari Sulsel. Batasan masyarakat (Toraja) Mamasa dan Toraja (Sa’dan) sekarang tidak hanya antarsungai maupun kabupaten, namun juga provinsi. Sudah berlangsung 16 tahun, cukup banyak kajian yang mempelajari dampak baik-buruk tren pemekaran awal Reformasi—dalam hal ini Sulbar (Syukur, 2015; Mustofa, 2017; Abidin, 2020). Sedangkan saya, dalam jelajah Mamasa akhir 2019, harus pulang.

Bukit Persaudaraan, Sungai Batas-Batas

“…gulita bertaburan bintang,” malam itu tidak bertaburan bintang, setelah hujan. Namun kuyakin kalau tidak mendung, langit Mamasa belum terlalu terpolusi (sehingga bintang bisa bertabur). Sedangkan awan, katanya bisa disaksikan di Buntu Liarra, yang katanya negeri seribu awan di Mamasa. Teringat identifikasi khas etnis Sulsel yaitu Bugis, Makassar, Mandar sebagai orang laut dan Toraja sebagai orang gunung; tidak salahlah perjalanan (Mamasa) kami menembus perbukitan, yang pada persaudaraan Mamasa dan Toraja yang diketahui, keduanya orang-orang bukit(/gunung).

Namun faktanya telah masuk hitungan abad, dengan segala rekonstruksi wilayahnya, Mamasa-Toraja itu terpisah. Jika kubilang ini era konstruksi negara bangsa, yang dalam konteks negara kita Jakarta-sentris, sepertinya pembagian permukiman etnisitas masa lalu terpengaruh lokasi geografis. Sungai Mamasa, Sungai Masuppu’, dan Sungai Sa’dan banyak disebut-sebut sebagai penanda permukiman masyarakat, juga batas-batas migrasinya.

Kata seorang bijak, kehidupan seperti bidak catur. Gerakan masa lalu mempengaruhi masa kini dengan tiap langkah berpengaruh. Jadi kenapa Tana Toraja begitu dikenal untuk pariwisata? Ternyata tercatat dalam Vision and Revision: Toraja Culture and the Tourist Gaze (1990), bahwa ada tim National Geographic yang mengunjungi Tator pada 1972, dan melihat potensi komodifikasi. Juga, masa itu sedang Repelita pertama, dan pariwisata menjadi prioritas—termasuk Tator jadi dimasukkan. Namun Mamasa tidak terjamah itu. Ketika itu sedang masanya berada di bawah bayang-bayang Polewali.

Jadi apalah semua ini? Tentu analisis sebab, konstruksi masa lalu, dan pemahaman etnis-keagamaan, yang menjelaskan keadaan saat ini. Atau, keadaan pada kunjungan pribadi ke Mamasa akhir 2019—supaya tulisan ini kembali seperti bercerita. Ada refleksi dari kajian Hamdar (2005), bahwa konflik hanya fenomena sementara, dan dinamika dapat memacu kemajuan.Pada Mamasa terbayang (Tana) Toraja maupun Polewali (Mandar), paparan konflik keetnisan bukan untuk menjatuhkan keragaman, namun sebagai refleksi bijaksana untuk kemajuan.

Referensi

Abidin, Endriady Edy. 2020. “Ketimpangan Pembangunan di Sulawesi Barat” dalam Jurnal Arajang Vol. 3 No. 1. Majene: Universitas Sulawesi Barat

Arraiyyah, Hamdar, dkk. 2005. “Menuju Damai dengan Kearifan Baru” dalam Jurnal Al-Qalam No. XVI Tahun XI.

Buijs, Kees. 2009. Kuasa Berkat dari Belantara dan Langit: Struktur dan Transformasi Agama Orang Toraja di Mamasa Sulawesi Barat. Jakarta: KITLV-Jakarta.

Masyhuda, Masyhuddin. 1971. Bahasa Kaili Pamona: Pengelompokan Bahasa di Sulawesi Tengah Berdasar Leksikostatistik. Yayasan Kebudayaan Sulawesi Tengah.

Mustofa, Mustabsyirotul. 2017. “Pemilu dan Keniscayaan Politik Identitas Etnis di Indonesia: Sebuah Tinjauan Teoretis” dalam Jurnal Bawaslu Vol. 3 No. 2.

Nooy-Palm, Hetty. 1979. The Sa’dan-Toraja: A Study of Their Social Life and Religion. The Hague: Brill.

Syukur, Alam Tauhid. 2015. “Dampak Pembentukan Kabupaten Mamasa Provinsi Sulawesi Barat terhadap Peningkatan Kesejahteraan Rakyat dan Pelayanan Publik” dalam Jurnal Analisis Kebijakan dan Pelayanan Publik Vol. 1 No. 1. Makassar: FISIP Universitas Hassanuddin.

Volkman, Toby Alice. 1990. “Vision and Revision: Toraja Culture and the Tourist Gaze”, American Ethnologist, Vol. 17, No. 1 (Feb., 1990), pp. 91-110.

Tentang Penulis

Abiyyi Yahya Hakim, Antropologi 2019

Mahasiswa antropologi, suka membaca dan menulis, sambil menyajikan hasil foto apik. Tulisan pribadi ada di abiyyiyh.blogspot.com, laman foto bisa dilihat di Instagram @abiyyi_yh, dan ada tulisan di beberapa wadah lainnya. Supaya berdampak, kalau aku membaca untuk menulis, mendapatkan untuk berbagi, dan merasakan untuk diceritakan kembali.