“Hari Ini Kita Belajar di Jalan”

Massa aksi bersiap melakukan long mars.

Bundaran UGM, 8 Oktober 2020. Teriknya sinar mentari siang ini menyambut kedatangan para massa aksi yang berasal dari berbagai elemen masyarakat. Buruh, mahasiswa hingga pelajar SMA/SMK berkumpul dari seluruh penjuru Jogja untuk bersama-sama berjalan menuju kawasan Malioboro. Mereka berkumpul menjadi satu, atas nama rakyat yang hendak meneriakkan aspirasi kepada para pemangku kebijakan. Masker wajah yang terpasang seolah tak dapat menutupi raut kecewa pasca disahkannya Undang-undang Cipta Kerja oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pada 5 Oktober lalu.

Seorang anggota TNI-AD memotret rombongan buruh.

Massa aksi memenuhi kawasan Tugu Pal Putih.

Rombongan massa aksi yang mulai melewati Jalan Sudirman menarik perhatian warga yang menonton di kanan kiri jalan. Beberapa orang menggunakan sepeda motor terlihat membagikan air mineral gratis kepada para massa aksi untuk membantu melegakan dahaga. Di sudut yang lain, puluhan personel polisi dan tentara fokus mengawasi jalannya long mars, lengkap dengan HT di genggaman. Pekikan “Jegal sampai gagal!” melantun nyaring memenuhi langit Kota Jogja siang itu.

Karya seni sebagai instrument perlawanan terpasang di Taman Parkir Abu Bakar Ali.

Setelah sekitar 1,5 jam berjalan, rombongan massa aksi tiba di depan Gedung DPRD Provinsi D.I. Yogyakarta. Orasi yang memuat keresahan akan proses pengesahan UU Cipta Kerja yang janggal lantang terdengar. Alih-alih mendapatkan sambutan hangat oleh DPRD, massa aksi justru disuguhi gas air mata oleh polisi. Rasa perih di mata berhasil membubarkan massa, yang tentu saja dalam beberapa menit kemudian kembali berkumpul dengan semangat yang lebih membara.

Sekitar pukul 3 sore, massa aksi berhasil masuk ke area halaman Gedung DPRD. Seorang orator naik ke atas mobil meriam air untuk menyampaikan tuntutan. Di sisi yang berseberangan, personel polisi memasang angkuh tameng yang seolah menjadi pembatas rakyat dengan wakilnya. Setengah jam kemudian, polisi kembali bertindak represif untuk membubarkan massa aksi yang berlarian ke berbagai arah untuk menyelamatkan diri.

Rombongan pelajar SMK/SMA tidak mau ketinggalan untuk berpartisipasi.

Dari sekian banyak tanggapan mengenai aksi menolak UU Cipta Kerja yang berlangsung serentak di beberapa kota, komentar tentang metode aksi menjadi bahasan utama. Mereka yang mendukung UU Cipta Kerja selalu meminta pihak yang kontra untuk mengajukan uji materi di MK jika merasa kurang puas dengan isi UU. Satu hal yang mereka lupakan adalah, jika proses penyusunan dilakukan secara inklusif, transparan serta akuntabel maka buruh, mahasiswa, dan pelajar mungkin tidak akan memilih untuk berdemonstrasi di jalan.

Lebih lanjut, turunnya para mahasiswa dan pelajar ke jalan merupakan sebuah fenomena yang patut diapresiasi. Mereka sedang menjalankan praktik dari konsep pendidikan kritis. Mengutip gagasan Freire (1970) tentang hakikat sejati dari pendidikan,

“Education as the practice of freedom—as opposed to education as the practice of domination—denies that man is abstract, isolated, independent, and unattached to the world; it also denies that the world exists as a reality apart from people. Authentic reflection considers neither abstract man nor the world without people, but people in their relations with the world.”

Massa aksi berhadapan dengan aparat yang sudah siap dengan tembakan gas air mata.

Para pelajar dan mahasiswa yang terlibat aksi pun tidak seharusnya ditangkap dan diancam tak akan bisa mendapatkan SKCK. Mereka seharusnya diajak berdialog alih-alih dipaksa untuk menerima kebenaran tunggal. Anggaplah keterlibatan para pelajar dan mahasiswa dalam aksi merupakan upaya mandiri untuk berpikir kritis di tengah sistem pendidikan di Indonesia yang masih menitikberatkan kepatuhan pada bahan ajar yang statis dan tak jarang terpisah dari realitas. Atau jika itu dirasa berat, maka biarkan mereka untuk satu hari ini saja mengutuki pemerintah dan kemudian berpikir mengapa harus melakukan itu.

Referensi

Freire, P., & Ramos, M. B. (1970). Pedagogy of the oppressed. New York: Continuum.

Tentang Penulis

Rayhan Wildan Ramadhani, Antropologi 2017. Mahasiswa tingkat akhir di program sarjana Departemen Antropologi, UGM. Senang mengamati isu sosial, budaya, dan politik terkini. Kritik, saran atau masukan dapat disampaikan melalui pesan Instagram di @ryhnwldn.