Melankolis, Melankolia-mania : Bisakah Memilih menjadi Waras atau Gendeng ataukah Bunuh Diri?

Sumber : Bunga Putri D

Inspirasi : https://my.w.tt/IkZwKxMNBab

Dewasa ini sering terlihat mode penyuaraan diri di platform media sosial sebagai caption general penyemangat diri seperti “love yourself”, ” kenali dirimu”,  “jadilah dirimu sendiri” dan lain sebagainya. Ketertarikan untuk memahami diri sendiri dari mulai mengenali dan hingga menjadi versi terbaik dari diri sendiri. Guna melalui tahap versi terbaik diri sendiri, kadang tidak disadari menemukan apa yang disebut kepribadian, karena yang mengetahui seluk beluk pribadi, ciri utama seorang pribadi hanyalah diri sendiri, gelagat kebiasaan menjadi kepribadian yang diketahui sejak mencoba mengenali diri, namun masih menimbang-nimbang hingga sampai pada titik love myself. Namun, kepribadian sendiri bisa dipengaruhi dan dapat dilihat dari lingkungan sekitar bahkan dari media sosial personal karena idola atau penggemar berperan dominan dalam membentuk kepribadian dan sekelilingnya mencerminkan pribadi diri yang mana sikap pada kehidupan pula dipengaruhi, sehingga dapat diketahui bahwa kepribadian seseorang merupakan kecenderungan bawaan dengan berbagai pengaruh dari lingkungan serta pendidikan, yang membentuk kondisi kejiwaan seseorang dan mempengaruhi sikapnya terhadap kehidupan (Weller, 2005). Menyinggung ciri kepribadian, umumnya ada orang dengan ciri optimistis, pesimistis, introver, ekstrover, dsb. Dilihat dari tipe kepribadian terdapat 4 tipe antara lain kepribadian sanguinis yang populer, kepribadian melankolis yang sempurna, kepribadian koleris kuat dan kepribadian plegmatis damai (Littauer (1996)).

Pembahasan dominan pada kepribadian melankolis berawal dari inspirasi jurnal skripsi yang berjudul “kepribadian melankolis sebagai sumber inspirasi penciptaan karya seni lukis semi abstrak” milik Yoga Miaditama. Bahkan dalam jurnal itu begitu menggelitik disebutkan ciri orang melankolis si pemikir, introspektif, peka, serius, dan perfeksionis, terbesit kemudian ada apa hubungannya dengan melankolia? Ciri khas melankolis lainnya yang sinkron yakni mudah pesimis, gelisah, kecewa, dan suka merenung, lantas bagaimana kemudian pada titik melankolia-mania? Berangkat dari teori lama Melankolia-mania, Ibnu Sina berbicara tentang gangguan psikologis. Beliau percaya melankolia (mengenang sesuatu di masa lampau) yang telah menjadi mania (kecanduan secara berlebih) adalah sumber seseorang menjadi curiga dan fobia.

Nosologi Maudsley membentuk bagian dari pergeseran dari konseptualisasi tradisional melankolia yang telah menekankan kesedihan sebagai gejala utama, terhadap fokus pada rasa sakit mental. Sedangkan dalam kontradiksinya, faktor kontemporer dalam masyarakat dengan manusia yang memiliki imajinasi tinggi terkadang menjadi judgement tersendiri. Di samping itu, rasa-rasa masa lampau yang biasanya muncul menjadi imaji dan terperangkap bahkan melekat dalam memori kenangan baik itu rasa duka, terancam, bahagia, ataupun dendam. Bayang-bayang nostalgia turut menjadi kesedihan mendalam seorang melankolis, tak hanya itu imaji yang berlebih juga bisa mengakibatkan resiko keputusan untuk bunuh diri. Bila mengikuti alur pikir sang melankolis sudah barang tentu harus diluruskan namun jangan putuskan imaji tersebut tetapi kembangkan atau bengkokan. Beberapa tokoh menganggap tidak perlu ada pencegahan, karena preventif terbaik dalam hal ini adalah diri sendiri. George Savage, G.F. Blandford, dan Charles Mercier menyatakan, semua buku teks yang diterbitkan mengenai penyakit mental dimana dugaan berpendapat bahwa melankoli jauh lebih buruk pada semua orang gila dan bahkan ketika bunuh diri ini tidak secara terbuka manifestasi diri sendiri, seharusnya seseorang tidak mendapat tindakan pencegahan dalam hal kecenderungan bersifat laten.

Selain itu, keikutsertaan analogi hal mistis dalam merusak diri sesuai dengan Cheng yang menjelaskan: menghasilkan bentuk formasi ego yang unik dan menyeramkan. Penggabungan kerugian juga masih mempertahankan status dari benda asli yang hilang sebagai kehilangan; diingatkan oleh Freud, dengan menyertakan dan mengidentifikasi satu hantu yang hilang, melankolis mengambil kekosongan kehadiran hantu dan dengan cara ini kemudian berperan dalam dirinya sendiri untuk merendahkan dirinya. Hal ini selaras dengan budaya Jawa yang masih kental akan mistis dan hal-hal ghaib tertentu. Lumrah pula di Jawa apabila orang yang memiliki gejala sakit mental disebut orang gendeng atau biasanya penyebutan tersebut karena terkena guna-guna dan sebangsanya. Baik semacam paradoks atau kekeliruan dalam hal ini, namun pengertian waras dan gendeng pun menjadi campur aduk apalagi di masa serba digital dan berpesta ria online dunia modern ini. Postingan tertentu orang-orang pun bisa dianggap keedanan atau kegendengan zaman sekarang, ekspresi kesedihan seseorang lewat berbagai media sosial kadang bisa dikatakan berlebihan bahkan pengakuan kegilaan pribadi. Di sisi lain, orang yang tidak bermedsos sama sekali juga dikatakan non-modernist, beda dimensi percakapannya, diacuhkan, apalagi kalau orang tersebut lebih memilih untuk meluapkan ekspresi kesedihan lewat curhat langsung, namun dianggap remeh-temeh, selain itu dengan menunjukkan tingkah keterbukaan baik saat sedih maupun bahagia juga dibilang alay atau terlalu melankolis. Tentu ini menjadi dilematis bagi manusia yang merasa berkepribadian demikian.

Kemudian bagaimana orang yang berkepribadian melankolis mengetahui tahapan dirinya menjadi melankolia-mania yang mana disebutkan diatas sebagai orang yang sakit mental? Dimana batasan antara waras dan gendeng dalam kepribadian melankolis? Sementara di atas disebutkan pula keputusan bunuh diri cukup riskan juga karena bersifat laten bagi penderita melankolia-mania. Selebihnya untuk menentukan kepastian, tentu hal ini perlu konsultasi pada ahli. Oleh karena itu, bagaimana seharusnya melankolis mawas diri? Masih adakah pilihan untuk menentukan diri menjadi waras, gendeng atau malah rela bunuh diri dengan membawa imaji berlebih yang mendalam tanpa kesadaran, atau bahkan terhanyut akan putusan bunuh diri yang padahal bersifat laten? Alhasil, setidaknya bisa ditentukan oleh kesadaran yang bersifat dominan dari diri pribadi masing-masing, mau dibantu oleh jasa profesional ataupun dibantu dengan kelogisan versi religi maupun kultural sekalipun tidak akan mempan apabila diri sendiri tidak ingin berusaha untuk mampu memilih dan menentukan.

Referensi

Bényei, Tamás. MEMORY AND MELANCHOLY:

         REMEMBERING (IN) ANTHONY POWELL Source:

         Hungarian Journal of English and American Studies

         (HJEAS) , 1999, Vol. 5, No. 2 (1999), pp. 163-194

         Published by: Centre for Arts, Humanities and

         Sciences (CAHS), acting on behalf of the University

         of Debrecen CAHS Stable URL:

https://www.jstor.org/stable/41274064

Irawan, Eka Nova. Buku Pintar Pemikiran Tokoh Tokoh

             Psikologi dari Klasik Sampai Modern.15,5 x 24

             304 hlm.September 2015.Ircisod

Jansson, Åsa. From Statistics to Diagnostics: Medical.

         Certificates, Melancholia, and “Suicidal.  

         Propensities”in Victorian Psychiatry.Source: Journal

         of Social History , Spring 2013, Vol. 46, No. 3, The

         Politics of Suicide: Historical Perspectives on

         Suicidology before Durkheim (Spring 2013), pp.

         716-731Published by: Oxford University Press

Miaditama, Yoga. Kepribadian Melankolia sebagai

        Sumber Inspirasi Penciptaan Karya Seni Lukis

        Abstrak. Skripsi, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas

        Sastra,  Universitas Negeri Malang.

Putri, Ranti Eka. Morita, Kriscillia Molly. Yusman, Yanti.

         Penerapan Metode Forward Chaining pada

         Sistem Pakar untuk Mengetahui Kepribadian

         Seseorang.Journal of Information Technology and

         Computer Science (INTECOMS) Volume 3 Nomor

         1, Juni 2020 e-ISSN : 2614-1574 p-ISSN :

          2621-324960

Smith, Craig A. Migration, Manhood and Melancholia in.

           the Work of Caryl Phillips Source: Journal of West

           Indian Literature , Vol. 24, No. 1 (April 2016), pp.

           27-45 Published by: Journal of West Indian

           Literature.         

Penulis

Bunga Putri Dewanti – Antropologi Budaya 2019

Bunga Putri Dewanti, bisa dipanggil bung, nga, na, matahari, bangke eh.. jangan deng :)), sedang menempuh kuliah semester 3 di Antropologi. Suka corat-coret kertas tak jelas bikin apapun yang penting ngelakuin suatu hal meskipun sepele. Ngapakers!  Meskipun kalo di Jogja jarang ngapak si, tapi asal daerah tetap dari kota ngapak, knalpot, owabong, Purbalingga. Pendengar setia, boleh banget diajak curhat dan kenalan lebih jauh lewat surel bungaputri645@gmail.com atau kunjungi ig @bunga.pd_ atau boleh juga baca celotehan-celotehan di bungaputri645.web.ugm.ac.id/. Terima kasih, salam literasi!