Coming Out Day: God Edition

Sumber: pinterest.com

Halo semua, kenalkan aku Adi, sang tokoh yang dilahirkan oleh penulis. Aku seorang remaja lelaki yang tak lama lagi akan menjadi sosok pria dewasa yang tampan. Tampan sekali, tampan bagi insan pribadi, tapi tidak tampan bagi manusia sekitar. Mereka akan membenciku, menghinaku, meninggalkanku, dan bahkan tak jarang menyakitiku dengan sengaja. Aku tidak sakit, aku sehat, dan pernah tumbuh sebagai lelaki yang periang. Aku lahir seperti ini karena Tuhan menghendakinya. Aku mecintai Tuhanku, bagai Dia mencintai diriku sebagai umatnya.

Esok hari usiaku menyentuh angka 18, yang aku artikan sebagai angka panggilan menjadi sosok dewasa. Hari ini aku memilih pergi ke taman, untuk merenung, memikirkan akan menjadi sosok apa diriku di esok hari yang akan datang. Aku terus menanyakan siapa diri ini, memandang rembulan dan berdialog dengan semesta, lagi dan lagi. “Tuhan mengapa dunia membenciku? Aku mencintai diriku, aku mencintai ketika aku menjadi aku. Aku tidak pernah membenci diri ini yang masa kanak-kanaknya dihabiskan bermain boneka. Tapi mengapa aku tidak bisa hidup bebas seperti banyak lelaki di luar sana? Apa aku jahat Tuhan?? Aku tidak pernah membunuh manusia manapun, tapi mengapa tatapan mereka penuh dengan kebencian.” Setelah kalimat tersebut aku tertidur.

Pagi ini cerah sekali. Aku siap melangkah menuntaskan ilmu di semester ini yang sedikit lagi akan selesai, dan setelah itu aku akan pergi liburan, tidak sabar pikirku. Tapi sebelum itu aku harus mencari bahan materi untuk tugas akhir semester ini. Kebetulan undian yang aku dapatkan ialah “sexuality”. Ya, mata kuliah gender di semester ini mengharuskan kami mengundi untuk bahan pembahasannya. Aku pergi ke perpustakaan di kampus dan banyak menemukan ilmu yang setidaknya akan menguatkan batin dan akalku untuk melangkah menjadi manusia seutuhnya.

Pertanyaannya, seberapa sakit?

Berbicara mengenai seks dan seksualitas tentu sangat dianggap tabu oleh kebanyakan masyarakat di Indonesia, terlebih saat berbicara mengenai homoseksualitas yang biasanya mengacu pada teman-teman gay. Mengapa sering dikatakan tabu? Jadi menurut Argyo Demartoto hal ini didasari karena kurangnya informasi dan akhirnya berdampak pula pada kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai pendidikan seksual, seperti homoseksualitas, alhasil karena tidak adanya pengetahuan yang memadai maka munculnya informasi-informasi yang simpang siur dan tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Hal ini memberikan stigma negatif mengenai homoseksualitas kepada gay. Selain karena permasalahan di atas, heteronormativitas juga mendukung terjadinya ketidakadilan dan modus penindasan sendiri. Heteronormativitas adalah ideologi mengenai keharusan untuk menjadi heteroseksual, didasarkan pada penindasan orientasi seksual lain yang tidak berorientasi reproduksi keturunan misal onani, masturbasi, atau homoseksualitas.

Homoseksualitas tidak pernah lepas dari apa yang disebut penindasan hingga manifestasi kepada apa yang dikenal dengan dosa. Diskriminasi yang didapatkan terjadi karena stigma bahwa teman-teman gay ialah perusak bangsa dan berbahaya. Kenyataan negatif yang terus dikumandangkan baik itu melalui media ataupun para civitas akademika. Padahal teman-teman gay bukanlah abnormalitas apalagi sebuah penyakit. Ringkasnya seperti ini:

LGBTQ+ sudah lama dikeluarkan dari kategori penyandang cacat mental. 

  • Pada 1973, American Physiciatric Association (APA) sudah mengeluarkan homoseksualitas “gay” dari kategori gangguan jiwa.
  • Pada 1975, Asosiasi Psikolog Amerika mengeluarkan resolusi yang mendukung penghapusan kategori penyandang cacat mental tersebut.
  • Indonesia juga melakukan hal yang sama, Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ) II dan III (1993) menyatakan hal serupa bahwa homoseksualitas bukanlah gangguan kejiwaan.

Saya pernah duduk di sebuah diskusi seminar mengenai seksualitas, dan seorang pembicara yang mana merupakan akademisi menyatakan “saya dan beberapa teman dari psikolog terus mengupayakan agar homoseksualitas bisa disembuhkan” dan setelah itu keadaan memanas. Ini hanyalah satu potret dari banyaknya potret di luar sana yang jauh lebih lucu dan ngaco. Mengesampingkan fakta ilmu pengetahuan, dan hanya memilih apa yang diyakininya. Apa yang dianggap suci dan beriman terkadang membutakan seorang melihat manusia seutuhnya.

Sumber: pinterest.com

Izinkan aku memeluk agamamu, Tuhan

Label yang paling sering dilekatkan kepada teman-teman gay ialah ‘azab’ seolah ia terlahir dengannya dan mati pula karenanya. Banyak agama yang percaya akan konsep “balasan”, dan balasan azab kepada teman-teman gay adalah sepadan, karena ia pendosa besar, pendosa yang harus diazab. Dalam kitab di banyak agama, pendosa yang sangat dinyatakan jelas ialah orang yang korupsi, bisa saja kan azab itu diturunkan untuk orang-orang jahat seperti itu. Manusia-manusia brengsek yang meng-klaim bahwa seorang gay (sang pendosa)  hanya mencari kambing hitam atas sebuah peristiwa. Kalian akan temukan dialog seperti ini biasanya ketika Ibu Pertiwi dilanda bencana. Lucu ya, padahal yang mengklaim bahwa gay merupakan seorang pendosa sebenarnya juga pendosa.

Saya berandai-andai bagaimana bisa banyak manusia mengatasnamakan agama dan Tuhannya yang hanya dengan berbasis teks yang dianggap suci (kitab) dan menjustifikasi bahwa seorang gay akan masuk neraka. Bila Tuhan adalah adidaya atau super, mengapa para pemuka agama atau orang-orang yang mengatasnamakan “azab” seperti hal yang sudah disebutkan diatas bisa menebak pikiran Tuhan dengan mudahnya? Dimana mereka menebak antara surga dan neraka, diazab atau tidak. Mereka dengan mudahnya menjustifikasi pendapat pribadi yang membawa nama Tuhan yang bertentangan dengan prinsip kemahakuasaan Tuhan itu sendiri.

Dalam buku Coming Out karya Hendri Yulius, ada satu bab yang khusus membicarakan Gay dan Iman, ia mengatakan bahwa salah satu bagian yang tersulit ketika bicara mengenai gay dan agama yang mana terbentur pada sebuah tembok tebal yang disebut dosa. Buku ini menjelaskan bahwa di dalam konteks agama, pernikahan hanya untuk lelaki dan perempuan yang dapat melangsungkan keturunan karena seks dikontruksikan untuk prokreasi. Dalam hubungan sejenis hal tersebut tidak memungkinkan, maka dari itu hubungan homoseksualitas dianggap berdosa. Anggapan dosa tadi bukan hanya karena seks yang tidak berorientasi dalam penciptaan keturunan, namun biasanya orang-orang mengacu pada cerita yang ada di kitab-kitab yang dijadikan alasan dalam menajiskan hubungan seks sesama jenis, terutama sepasang laki-laki, yang tak lain dan tak bukan adalah cerita Sodom dan Gamora dimana interpretasi umumnya yang diserap oleh banyak manusia bahwa kota tersebut dilaknat oleh Tuhan karena penduduknya yang melakukan hubungan seks sejenis dan sodomi.

Dari cerita Sodom dan Gomora sudah sangat sering dijadikan justifikasi bagi penghakiman kaum homoseksual. Orang-orang harusnya tahu untuk tidak menelan bulat-bulat interpretasi cerita di atas, mereka harusnya tahu bahwa agama dan dogma merupakan hasil intepretasi para pemuka dan otoritas agama terhadap kitab suci. Apa yang tertulis dalam kitab suci tidaklah bisa berbunyi tanpa tafsiran dan interpretasi kaum agamawan itu sendiri. Hendri Yulius mengatakan bahwa interpretasi dan tafsiran terhadap teks-teks suci itu seringkali bersifat literal dimana A dibaca A dan B dibaca B. Seharusnya kita bisa melihat makna dan konteks dari hal tersebut. Kelompok-kelompok agama yang berpikiran terbuka melakukan interpretasi yang berbeda, dimana menurut mereka pelaknatan di kota tersebut disebabkan oleh ketidakramahan penduduk Sodom terhadap pendatang, bukannya perilaku homoseksualitas mereka. Sebenarnya masih sangat banyak sekali tafsiran dari interpretasi tersebut. Dari sini seharusnya kita bisa sadar bahwa tidak ada yang memonopoli kebenaran atau menghakimi dosa seseorang yang hanya berbasis dengan teks atau keyakinan pribadi. Yulius juga berkata bahwa ketika kita mengkritisi sesuatu yang dianggap suci semacam hal “kitab”, kita sering kali dianggap sesat atau dianggap berbicara sesuatu yang amat sensitif dan ketika sebuah topik dianggap sensitif dan dilarang untuk didiskusikan secara kritis dan terbuka, maka pada saat yang sama terjadilah monopoli kebenaran oleh sekelompok orang yang berkuasa.

Mereka yang melakukan pendiskriminasian terhadap kaum gay dengan membawa nama agama adalah orang yang tidak mengerti akan arti dari sebuah agama itu sendiri. Menurut Yulius orang hanya mementingkan atribut tanpa mengindahkan esensi agama. Mereka mengaku beragama, hanya dengan memakai atribut tertentu. Tetapi, hatinya sendiri dikuasai oleh kebencian dan penghakiman sesuatu yang sebenarnya bertentangan dengan esensi agama itu sendiri. Dalam analoginya diibaratkan seperti lipstick. Digunakan hanya sebagai aksesoris pelengkap, sebagai media untuk mempercantik tampilan luar saja, tapi sebenarnya ia hanya menutupi emosi akan kebencian ia sendiri . Saya berandai-andai, mengapa kita setidaknya tidak bisa berpikir sederhana seperti: kalau Tuhan sempurna, maka ciptaannya jugalah sempurna. Semua ciptaan Tuhan itu adalah sempurna. Straight, gay, atau lesbian,…. Semuanya sempurna. Jadi, bila ada yang menghina atau mencaci maki gay, dengan sendirinya orang itu sudah meragukan kesempurnaan Tuhan sendiri. Kalau Tuhan tak mau ada gay, ia tidak akan menciptakan gay, kalau kita mau tetap mengamini bahwa semua berjalan sesuai dengan kehendaknya, berarti menjadi gay juga bagian dari kehendaknya. Sudah seharusnya perbedaan terhadap warna kulit, agama, atau orientasi seksual bukanlah untuk dilihat sebagai benar atau salah. Tetapi, kita harusnya melihatnya sebagai different shades of colours yang membuat hidup ini jadi kaya. Sebenarnya, dalam banyak hal, kita ini diciptakan berbeda dan bisa menerima satu sama lain.

Selama saya mengerjakan penugasan akhir, saya yakin bahwa sebagai manusia, tidak sepatutnya mengambil peran Tuhan untuk menghakimi orang lain, Tuhan menciptakan manusia dengan sempurna namun manusia sendiri membentuk dan mengkategorikan kesempurnaan itu dan hal tersebut melanggar ketetapan Tuhan. Ada dua kalimat dalam buku coming out yang saya sukai sampai-sampai saya jadikan quotes di layar kunci hp saya. “Pada dasarnya setiap orang itu berbeda dan memaksa seseorang untuk menjadi seragam hanya akan melahirkan kekerasan yang berkepanjangan” (Yulius, 2015: 7) “We are not simply gay, lesbian or transgender, but we are essentially humans.” (Yulius, 2015: 72).

Saya terbangun dari mimpi dengan emosi dan air mata yang berlinang. Mengusap dan menghapusnya dengan bulan sebagai saksinya. Saya memeluk diri ini dengan erat. Dan membisikkan sebuah kalimat kepada jiwa yang rapuh ini, “Sudah Adi, jangan bersedih kamu kuat ketika kamu menjadi kuat”. Entah ada angin apa saat itu. Saya merasa diberikan kekuatan. Saya bangkit dan bergegas mengambil air wudhu, dan menjadi yakin akan satu hal. Tepat di jam 00.00, di usia ke-18 saya bisa berdoa dengan khidmat. Saya coming out dengan menerima tubuh ini baik fisik maupun raga dengan secara utuh.

Coming out kepada sang maha kuasa…..

Aku lontarkan doa sekali lagi dengan khidmat:

Aku bersamamu, dan akan kuat bersamamu. Doakan aku, restui aku.

Referensi:

Boellstorff, T. D. (2005). TheGay archipelago: seksualitas dan bangsa di Indonesia. Princeton University Press.

Demartoto, A. (2013). Seks, Gender, Seksualitas Gay dan Lesbian. Retrieved from Dr. Argyo Demartoto, M. Si: http://www. argyo. staff. uns. ac. id.

Papilaya, J. O. (2016). Lesbian, gay, biseksual, transgender (LGBT) dan keadilan sosial. PAX HUMANA3(1), 025-034.

Yulius, H. (2015). Coming out. Kepustakaan Populer Gramedia [KPG].

Penulis

Figo Nugraha – Antropologi Budaya 2018

Hai, panggil aku Obi! Seorang manusia yang mengambil jurusan manusia. Seorang  yang mencintai kalimat puitis. Seorang yang haus akan keadilan. Seorang yang selalu tertarik dengan banyak isu seksualitas dan gender, kesehariannya dihabiskan untuk menjadi bermanfaat bagi sekitar! dan juga menangis.

Kontak: hi.nugrahabby@gmail.com

Laman Instagram: @figoburns