One Night Stand: Benarkah Berakhir dalam Satu Malam?

Sumber: tumblr.com

Sejak kecil, sebagian besar dari kita telah diyakinkan bahwa aktifitas seksual hanya terjadi antara satu orang dengan pasangan tetapnya. Istilah “pasangan tetap” menciptakan sebuah keharusan kedua orang tersebut terikat oleh upacara pernikahan. Namun, dengan semakin berkembangnya jaman, masyarakat cenderung semakin permisif dengan hubungan seksual di luar ikatan pernikahan. Kini aktifitas seksual bisa saja tidak terbatas pada satu orang, ataupun harus berada dalam ikatan pernikahan.

Kebanyakan kaum millenial pasti tidak asing dengan istilah cinta satu malam, atau one-night stand. Istilah tersebut, salah satunya, dipopulerkan oleh Melinda dalam lagunya yang bertajuk Cinta Satu Malam. Lagu ini sempat populer di tahun 2000-an karena liriknya yang menggelitik. Selain itu, produk-produk kebudayaan populer seperti film juga turut membuat istilah ini akrab di telinga. Film berjudul One Night Stand pada tahun 1997 merupakan salah satunya.

Seperti namanya, one-night stand atau cinta satu malam seharusnya hanya berlangsung semalam. Dalam cinta satu malam, tidak diharapkan adanya “hubungan” setelah persetubuhan berakhir. Hal ini juga menuntut absennya perasaan lebih lanjut pada kedua belah pihak setelah hari berganti. Masalahnya, apakah benar bisa semudah itu?

One-Night Stand dan Keistimewaannya

Cinta satu malam merupakan salah satu bentuk casual sex. Casual sex biasanya dicirikan dengan ketiadaan hubungan romantis dan komitmen antar individu yang terlibat (Grello et al 2006:255). One-night stand bukan merupakan satu-satunya bentuk casual sex. Contoh lain dari casual sex, menurut Wentland dan Reissing (2014),diantaranya: fuck buddy, booty call, dan friend with benefit. Dari beberapa bentuk casual sex yang disebutkan oleh Wentland dan Reissing (2014) tersebut, one-night stand tergolong “istimewa” karena paling berisiko. Baik resiko secara fisik maupun emosional.

One-night stand atau cinta satu malam didefinisikan sebagai hubungan seksual yang terjadi diantara dua orang yang belum mengenal baik dan berlangsung hanya satu malam (Wentland dan Reissing 2014:171). Seringkali, saat itu merupakan kali pertama mereka bertemu kemudian memutuskan untuk berhubungan badan setelah beberapa saat bertukar obrolan. Situasi memanas begitu cepat karena salah satu, atau mungkin keduanya, berada dalam pengaruh alkohol dan/atau obat-obatan. Setelah terjadi aktifitas seksual, tidak diharapkan terjadi kontak lebih lanjut antar individu yang terlibat meskipun mungkin mereka sempat bertukar kontak (Wentland dan Reissing 2014:171)

Alkohol dan obat-obatan yang terlibat dalam praktik cinta satu malam menjadi salah satu alasan mengapa ia berisiko. Karena berada dibawah pengaruh alkohol dan/atau obat-obatan, para individu bisa tanpa sadar melakukan hubungan seks tanpa pengaman. Hubungan seksual ini tergolong berisiko karena dapat menyebabkan penularan penyakit menular seksual.   Selain itu, kondisi emosional dapat terpengaruh pula pasca berhubungan dengan partner one-night stand. Beberapa orang mungkin merasakan perasaan kecewa, alih-alih puas. Perasaan kecewa muncul karena hubungan seksual yang tidak sesuai dengan ekspektasi. Bagaimanapun, hal ini adalah lumrah. Berhubungan dengan seseorang yang baru saja dikenal tentu memiliki resiko dikecewakan. Selanjutnya, ada pula orang yang merasa “masih terhubung” dengan partner cinta satu malamnya. Hal ini merupakan anomali, meskipun cukup sering terjadi. Perasaan-perasaan ini menimbulkan kesan bahwa cinta satu malam belum benar-benar berakhir.

Perasaan yang Tertinggal di Ranjang

Sumber: pinterest.com

Menurut Campbell (2008), aktivitas cinta satu malam mendatangkan dampak yang lebih buruk secara psikologis kepada wanita daripada pria. Beberapa penelitian sebelumnya menyebutkan hal ini terjadi karena, berbeda dengan pria yang biasanya melihat casual sex dari dimensi seksual semata, wanita cenderung melihatnya dari dimensi emosional. Hal ini berujung pada perasaan menyesal yang lebih banyak dialami wanita daripada pria setelah berhubungan badan (Paul dan Hayes 2002). Bahkan, wanita dengan sejumlah casual sex bisa mencapai titik dimana terbit kesadaran bahwa persetubuhan itu sendiri hanya akan mendatangkan keterikatan dan perasaan rentan yang sulit diabaikan (Towsend et al 1995:38).

Keterlibatan emosional dalam cinta satu malam ini kemudian berpengaruh pada interaksi sosial kedua individu, terutama bagi mereka yang memiliki kemungkinan untuk bertemu kembali. Dalam penelitiannya, Campbell(2008) menyebutkan bahwa rata-rata pria ingin memceritakan pengalaman persetubuhannya dengan teman-temannya. Kisah persetubuhan ini memang akan mendatangkan kebanggan tersendiri pada pria, namun setelahnya yang tersisa hanyalah perasaan kosong dan kesepian. Perasaan kosong dan kesepian ini kemudian mendorong keinginan untuk kembali menikmati pengalaman cinta satu malam, menjadikannya sebagai siklus tanpa akhir (Campbell 2008:166).

Pada wanita, jika memang terdapat kesempatan untuk bertemu dengan pasangan cinta satu malamnya, memiliki kemungkinan untuk merasa terganggu ketika sang pasangan tidak menyapa dan bertingkah seolah-olah persetubuhan mereka tidak terjadi. Karena wanita melihat persetubuhan ini dari dimensi emosional, maka lebih mungkin bagi wanita untuk merasa marah apabila tidak ada kontak lebih lanjut dari si pria setelah malam berakhir. Para wanita memang menyadari bahwa persetubuhan ini hanya untuk semalam, tetapi mereka tetap mengharapkan, paling tidak, ucapan terima kasih dan panggilan telpon dari pasangannya di esok hari.

Kendati melakukan cinta satu malam lebih berisiko secara fisik maupun emosional daripada hubungan casual sex yang lain, toh hubungan ini tetap menjadi pilihan beberapa orang. Menurut Campbell (2008) dalam tulisannya , kedua gender memiliki alasan bervariasi kenapa memutuskan terlibat dalam cinta satu malam. Dari sisi pria, hubungan cinta satu malam memberikan mereka perasaan euforia dan untuk meningkatkan gairah seksual. Sedangkan pada wanita, hal ini dimaksudkan sebagai suatu bentuk “security”. Dalam hubungan cinta satu malam yang tidak mengingat, wanita berharap untuk dapat melepaskan batas-batas “nilai” yang selama ini dirasa membelenggu.

Mengakhiri Cinta Satu Malam dan Bayangannya

Cinta satu malam memang bisa mendatangkan dilema. Timbulnya keterlibatan perasaan memang lumrah dan sulit untuk diabaikan. Oleh karena itu, wikihow merangkum beberapa cara untuk menghindari “baper” setelah cinta satu malam berlangsung. Menurut wikihow, hal pertama yang harus disadari sebelum melakukan cinta satu malam adalah menghindari pikiran bahwa cinta satu malam adalah cara untuk mendapatkan pasangan. Ingatkan diri sendiri bahwa cinta satu malam hanyalah untuk “bersenang-senang”. Jika memang menginginkan sebuah hubungan dengan komitmen, hindarilah melakukan cinta satu malam untuk meminimalisir perasaan menyesal dan bingung yang mungkin terasa setelah malam berakhir.

Langkah kedua, masih menurut wikihow, adalah dengan membuat segalanya lebih mudah bagi diri sendiri. Hal ini bisa dilakukan dengan menjaga segala sesuatu tetap ringan dan santai. Artinya, tidak perlu terlalu mempertimbangkan kecocokan personality pasangan cinta satu malam, batasi hanya pada ketertarikan secara fisik saja. Hal ini untuk menghindari perasaan penasaran dan nyaman yang mungkin timbul pasca persetubuhan. Selanjutnya, penting untuk meninggalkan tempat kejadian pasca persetubuhan sesegera mungkin untuk meminimalisir jumlah kenangan dan perasaan terhubung yang mungkin timbul.

Langkah ketiga, ketika malam sudah berakhir sadarilah bahwa ia hanyalah tinggal imaji. Jangan sekali-kali mencoba berteman dengannya di media sosial, terutama jika perasaan baper terus berlanjut. Hapuslah segala macam informasi terkait kontak dengan orang tersebut. Sebenarnya, akan lebih baik apabila menghindari bertukar kontak sejak awal. Hal ini untuk menghindari keinginan untuk bertemu dan berhubungan kembali dengan mereka. Kembali ingatkan diri bahwa cinta satu malam hanya untuk bersenang-senang.

Berbagai macam resiko mengintai ketika seseorang memutuskan untuk melakoni cinta satu malam. Uraian di atas mungkin belum lengkap dan tidak dapat dikatakan mewakili seluruh populasi. Jika memang merasa tidak siap dengan resikonya, maka ada baiknya untuk tidak melakukannya sama sekali. Jika sudah terlanjur terjadi dan mengalami emotional hangover setelahnya, maka sembuhkanlah diri dengan beberapa tips di atas. Buatlah waktu untuk diri sendiri dan senangkan diri dengan melakukan hal lain yang lebih positif dan disenangi. Cinta satu malam mungkin menyenangkan, tapi apakah sepadan dengan resikonya?

Referensi

Wentland, Jocelyn J. dan Elke Reissing. 2014. Casual Sex Relationship: Identifying Definition for One Night Stands, Booty Calls, Fuck Buddies, and Friend With Benefits. The Canadian Journal of Human Sexuality 23(3):167-177

Grello, Catherine M., Deborah P. Welsh, dan Melinda S. Harper. 2006. No String Attached: The Nature of Casual Sex in College Student. The Journal of Sex Research 43(3):255-267

Campbell, Anne. 2008. The Morning After the Night Before: Affective Reactions to One-Night Stands among Mated and Unmated Women and Men. Hum Nat 19:157-173

Paul, E. L., dan K. A. Hayes. 2002. The Casualties of “Casual” Sex: A Qualitative Exploration of the Phenomenology of College Students’ Hookups. Journal of Social and Personal Relationships 19:639–661

Townsend, J. M., Kline, J., dan Wasserman, T. H. 1995. Low-Investment Copulation: Sex Differences in Motivations and Emotional Reactions. Ethology and Sociobiology 16:25–51

Chernyak, Paul. 2020. “How to Avoid Falling for a One Night Stand”. diakses 25 September 2020. https://www.wikihow.com/Avoid-Falling-for-a-One-Night-Stand

Tentang Penulis

Halo, saya Ni Putu Dessy P. Sari! Seorang Tukang khayal profesional yang suka bergaya sok-sok artsy. Saat ini berprofesi sebagai  mahasiswi fakultas ilmu budaya, tapi masih sering merasa kurang berbudaya. Baru-baru ini menemukan ketertarikannya pada topik seputar seksualitas, feminisme, mitologi, dan legenda urban. Kunjungi laman Instagram saya @dessmth untuk berkenalan lebih jauh.