After Pandemic: Menimbang Fenomena Kemunculan Gaya Hidup Baru

Sumber: literallydarling.com

Separuh tahun sudah dunia disibukkan dengan pemberitaan mengenai pandemi Covid-19. Obrolan-obrolan tentang bagaimana mula virus ini berkembang hingga pertanyaan tentang kapan pandemi segera berakhir menghiasi ruang-ruang diskusi masyarakat. Banyak orang menganggap bahwa tragedi di sepanjang 2020 ini merupakan sebuah bencana gaib yang kepastian akan penyelesaiannya terus dalam perdebatan.

Berbagai narasi kehilangan pun menjadi cerita memilukan ketika seakan-akan kehidupan tiba-tiba mengalami revolusi dengan diiringi ketidaksiapan orang banyak dalam menanggapi persoalan ini. Orang-orang menjadi gamang tentang apa yang seharusnya dilakukan di dalam kondisi yang serba tertekan. Banyak insan yang merasa kehilangan. Kehilangan orang-orang terdekat, pekerjaan, arah hidup yang harus dirancang ulang, hingga persoalan-persoalan substantif akan kebutuhan.

Namun, dibalik persepsi publik yang berpikir tentang kehancuran peradaban di 2020, saya justru tertarik untuk menarasikan bagaimana pandemi Covid-19 ini secara tidak langsung menciptakan gaya hidup baru bagi masyarakat, khususnya di Indonesia. Mungkin terdengar sederhana. Namun, renungan-renungan saya berjalan pada sebuah logika yang berpikir bahwa ini meyangkut pola hidup komunal. Kemudian, ini juga tentang bagaimana ketika kompleksitas pemikiran masyarakat dibenturkan pada sebuah regulasi akan kebiasaan.

New Normal sebagai Konstruksi Kebiasaan Baru

Era new normal dapat dikatakan sebagai pemicu merebaknya kebiasaan-kebiasaan baru. Munculnya kebiasaan baru ini membuat pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kesehatan pun turut mengubah frasa new normal menjadi adaptasi kebiasaan baru [1]. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat dapat belajar untuk hidup di tengah kondisi yang serba berubah. Terlepas dari polemik ketepatan pemutusan kebijakan, kenormalan yang baru ini membawa kita kepada bentuk-bentuk upaya pencegahan penyebaran virus, sekaligus penormalan kembali aktivitas manusia.

Salah satu contoh kebiasaan yang paling ditekankan ialah soal penggunaan masker saat beranjak dari rumah. Masyarakat seakan-akan rela menutupi separuh wajahnya demi dapat menjalani aktivitas-aktivitas yang krusial seperti berangkat bekerja dan kebutuhan membeli bahan pangan. Bahkan, jauh sebelum itu, tindakan persuasif akan kebersihan diri dan lingkungan digalakkan guna mencegah penyebaran virus jahat nan tak nampak. Kebiasaan ini menjadi amat populer ketika satu sama lain saling mengingatkan bahwa tubuh kita harus tetap bersih.

Popularitas kegiatan bersepeda

Selain kebiasaan-kebiasaan kausalitas, masyarakat pun kini hadir dengan inisiatif baru guna menyiasati hidup di tengah kondisi pandemi. Salah satu yang populer ialah kegiatan bersepeda. Menurut Jonathan Ball, seorang ahli virologi dari University of Nottingham, kegiatan bersepeda di masa pandemi tidak lebih beresiko dibanding ketika kita melakukan jogging [2]. Hal tersebut dikarenakan bahwa interaksi orang ketika bersepeda tidak lebih sering dibanding mereka yang melakukan aktivitas jogging.

Terhitung hingga Juli 2020, kegiatan bersepeda di Jakarta meningkat 500-1000% [3]. Sebuah transformasi yang luar biasa mengingat penguasaan ruang publik di Jakarta didominasi kendaraan bermotor pada waktu sebelum pandemi. Hal tersebut kemudian menginisiasi Pemerintah DKI Jakarta untuk memasang jalur temporer yang ditujukan kepada penggowes kendaraan berpedal putar ini. Pesan positif terkonstruksi melalui narasi keberlanjutan akan lingkungan hidup. Namun, tentu saja, regulasi paten amat dibutuhkan guna mengakomodasi para pesepeda.

Kontroversi justru merebak ketika popularitas kegiatan bersepeda ini malah berimplikasi pada penumpukan manusia di satu titik. Di Jakarta, CFD Sudirman-Thamrin sempat menjadi perbincangan karena dipenuhi lautan manusia dengan sepedanya masing-masing [4]. Alih-alih menganggap kegiatan bersepeda sebagai kegiatan yang proporsional dengan anjuran physical distancing, kerap kali ketidaknalaran masyarakat tidak sampai pada tujuan semestinya ketika peleluasaan konsumsi ruang publik disalahgunakan dalam menanggapi aktivitas ini. Kegiatan bersepeda yang dianggap lebih tidak beresiko dibanding jogging ini justru dapat berpotensi menjadi hal yang sama saja ketika ada banyak interaksi antar satu sama lain.

Teknologi sebagai medium suportif

Bukan hanya soal aktivitas penyegaran diri dan hobi, perubahan akan iklim kerja pun tidak luput dari perhatian saya. Saya melihat dinamika tentang bagaimana orang-orang mulai membiasakan diri dengan keadaan. Di bawah tuntutan akan kewajiban, perubahan akan cara kerja menjadi sesuatu yang fundamental untuk manusia beradaptasi. Work From Home (WFH) kini menjadi solusi dalam keterbatasan akan ruang. Seseorang yang merumuskan urusan pekerjaan tidak lagi bertatap muka secara langsung, kini dipaksa untuk menatap layar gawai sebagai medium pertemuan.

Sumber: kantorkita.co.id

Institute for Global Environmental Studies turut mengamini dalam menyoal gaya kerja baru yang berpotensi memiliki nilai keberlanjutan. Hal ini menyangkut bagaimana masyarakat secara adaptif dapat menjalankan aktivitas kerja dari rumah. Iklim aktivitas yang demikian berpotensi menciptakan perubahan yang substansial dalam perubahan gaya hidup dan budaya bekerja [5].

Metode yang demikian pun juga berlaku pada institusi pendidikan. Secara tidak langsung saya tersadar bahwa ruang-ruang kelas seharusnya tidak memiliki batas spasial, sehingga akses yang seluas-luasnya dapat dimanfaatkan oleh civitas akademika. Bahkan, saya pun merefleksikan bahwa seharusnya pertemuan-pertemuan secara daring ini dapat dimanfaatkan sebagai sebuah sarana berbincang sebelum adanya pandemi. Ialah teknologi, salah satu wujud media yang membawa kita pada kultur baru.

Terdapat satu hal menarik bahwa teknologi yang menyokong kehidupan masyarakat dalam masa pandemi ini ternyata menghasilkan sebuah pandangan bahwa ‘teknologi ialah milik semua usia’ [6]. Hal tersebut dapat kita perhatikan ketika generasi tua berusaha untuk adaptif terhadap gawai mereka. Sebagai contoh, banyak tenaga didik yang mengakui bahwa mereka kurang paham akan penggunaan aplikasi pertemuan sebagai medium untuk menyampaikan materi, kemudian menjadi mahir. Lalu, kita juga dapat menyaksikan bagaimana orang tua kita meminta untuk diajarkan tentang bagaimana cara berbelanja secara daring.

Dari beberapa kasus kemunculan gaya hidup baru pada masa pandemi ini, saya bertanya pada diri sendiri tentang resistensi dari kebiasaan-kebiasaan anyar yang mungkin saja bertransformasi menjadi sebuah kultur baru. Akan sangat menarik ketika suatu saat pandemi Covid-19 angkat kaki dari bumi, kebiasaan-kebiasaan baru ini tidak hanya menjadi sebuah fenomena yang hanya dapat dikenang. Tentu, akan ada banyak penyesuaian mengingat kebiasaan-kebiasaan baru ini akan dihadapkan pada kultur dan nilai-nilai konvensional. Namun, setidaknya, peristiwa perubahan gaya hidup pada saat ini, dapat dijadikan parameter untuk menentukan arah kehidupan pasca pandemi.

Referensi

[1] The Jakarta Post. (2020, 11 Juli). Indonesia shifts from ‘new normal’ to ‘adapting to new habits’. https://www.thejakartapost.com/news/2020/07/11/indonesia-shifts-from-new-normal-to-adapting-to-new-habits.html.

[2] Reagan, Alex. (2020, 26 April). Coronavirus: Are cyclists being wrongly targeted during lockdown?. https://www.bbc.com/news/uk-england-derbyshire-52389245.

[3] Institute for Transportation and Development Studies. (2020, 10 July). During Coronavirus, Jakarta’s Cycling Grows as does Police Backlash. https://www.itdp.org/2020/07/10/during-coronavirus-cycling-grows-as-does-police-backlash/.

[4] Siregar, H., & Rikin, A.S. (2020, 22 Juni). Thousands Blow Off Steam at Jakarta’s CFD as National Covid-19 Cases Get Past 45,000. https://jakartaglobe.id/news/thousands-blow-off-steam-at-jakartas-cfd-as-national-covid19-cases-get-past-45000.

[5] Institute for Global Environmental Strategies. (2020). Implications of COVID-19 for the Environment and Sustainability. Institute for Global Environmental Strategies. [6] Airlangga, Matthew. (2020, 25 Juni). Adapting in the pandemic is a must. https://www.thejakartapost.com/life/2020/06/24/adapting-in-the-pandemic-is-a-must.html.

Tentang Penulis

Bias Baihaki Muhammad, S1 Antropologi Budaya UGM 2018.

Seorang mahasiswa yang sebagaimana semestinya seorang mahasiswa. Lagi senang membaca dan menonton film-film dokumenter yang berkaitan dengan isu-isu urban, lingkungan, dan kemiskinan. Hubungi saya di akun twitter @bungbias kalau ada apa-apa.