The Dream Family: Mengulik Resiliensi Keluarga Imigran Muslim di Italia Utara


Gelombang kedatangan imigran ke Eropa berdatangan begitu signifikan dan melonjak sangat dahsyat dalam kurun beberapa tahun belakangan ini. Mengutip pernyataan dari Benelli (2013), selama 30 tahun terakhir, Italia telah mengalami revolusi antropologis: dari negara imigrasi yang mengekspor jutaan orang Italia di seluruh dunia, dari Amerika Utara ke Australia, negara itu telah membalikkan panggilan historisnya dan telah menjadi negara imigrasi. Para imigran ini berdatangan dari berbagai negara dari Eropa Timur, sub-Sahara Afrika, Timur Tengah, dan Asia karena berbagai macam konflik. Salah satu sebab konflik yang terjadi adalah karena peristiwa Arabic Spring dan runtuhnya rezim di Tunisia dan Libya, menyebabkan peningkatan yang signifikan dalam jumlah pencari suaka (Scotto, Angelo. 2017. http://www.migrationpolicy.org, 24 Agustus 2017). Caritas-Migrantes “Immigration Report,” dirilis pada September, 2019 di Roma, mengungkapkan bahwa Italia memiliki jumlah penduduk asing tertinggi ketiga di Uni Eropa. Sekitar 5,3 juta warga asing secara hukum tinggal di negara ini. Itu hampir sembilan persen dari keseluruhan populasi penduduk (Ansa. 2019. http://www.infomigrants.net, 30 September 2019)

Sumber foto: Nabila Adinta

Fenomena baru yang masih terasa mengejutkan bagi orang-orang Eropa atas kedatangan imigran-imigran muslim ini telah memunculkan wajah baru di Eropa pada abad 21 ini. Posisi Italia sebagai semenanjung di tengah-tengah Mediterania menjadi jalur logis untuk kedatangan perjalanan migran melintasi laut yang sangat berbahaya sebelum bergerak semakin maju ke Jerman, Swedia, dan negara-negara Eropa Utara lainnya. Pola migrasi dari negara-negara Muslim sebelum pertengahan 1970-an biasanya mengikuti pola pria yang akan mencari pekerjaan di Eropa dan, setelah menetap, mengirim anggota keluarga perempuan lalu kembali ke negara asal mereka untuk menemukan pengantin wanita dan membawa mereka kembali ke Eropa atau sebagai alternatif, kembali secara permanen ke negara asal jika tujuan ekonomi tertentu telah tercapai (Pojmann, 2010: 236). Banyak sekali yang juga memutuskan untuk membangun hidup di Eropa, seperti kasus yang saya temui pada tahun 2017 lalu ketika menjalani pertukaran pelajar selama 10 bulan di kota kecil Longarone, Belluno, Italia Utara. Menjalin hubungan yang cukup dekat dengan keluarga muslim dari Maroko dan Aljazair membuat saya melihat dengan lebih jeli bagaimana keluarga-keluarga ini merawat dan mendidik anak-anak mereka yang tumbuh di tengah orang-orang Italia lainnya.


Kedua keluarga ini bisa dinyatakan menengah secara ekonomi dan berhasil menyekolahkan anak-anak mereka dari sekolah dasar hingga sebagian sedang menempuh pendidikan di universitas. Jurusan yang diambil pun cukup bergengsi, ilmu hubungan internasional dan kedokteran. Keluarga menjadi sistem pendukung yang terpenting pada imigran-imigran di Italia, seperti yang juga disampaikan oleh Stepien (2008), migrasi menciptakan tekanan khusus pada sistem keluarga dan bahkan dapat memiliki efek destabilisasi. Keluarga imigran mencoba mempertahankan norma peran sosial dan seks tradisional mereka sebagai pertahanan terhadap tekanan kuat untuk berakulturasi. Proses-proses akulturasi yang sulit terus diupayakan demi bertahan hidup di tengah masyarakat Eropa yang sebagian besar masih asing dengan imigran-imigran tersebut. Berdasarkan apa yang saya temui, upaya untuk mempertahankan tradisi salah satunya dengan tetap menjadikan bahasa Arab dalam komunikasi sehari-hari, namun dalam berbagai macam dialek bahasa Arab yang ada di negara mereka. Anak-anak mereka pun akhirnya tumbuh dengan mengadopsi dua bahasa, bahasa Arab sebagai bahasa ibu dan bahasa Italia untuk berkomunikasi dan bersosialisasi dengan orang-orang Italia lainnya.


Muslim generasi kedua di Italia merasa kesulitan untuk menegosiasikan ranah yang kompleks, dan mungkin pluralis, tentang asosiasionisme di negara tersebut. Salah seorang mahasiswa mengungkapkan frustrasi yang dirasakan oleh seorang Muslim generasi kedua yang disebut sebagai “an immigrant from another culture” atau “seorang imigran dari budaya lain,” meskipun ia dilahirkan dan dibesarkan di Italia (Pojmann, 2010: 235; Salih, 2004). Dalam tulisan Menin (2014) saat ia melakukan wawancara dengan Asmaa pada Januari 2006, seorang perempuan muda kelahiran Milan dari orang tua berkebangsaan Mesir, ia adalah bagian dari sekelompok anak muda muslim berusia 17-26 tahun yang keluarganya berasal dari Mesir dan Maroko. Asmaa mengalami “krisis identitas”, yang dalam pandangannya, terkait dengan pengalaman rumitnya “hidup di antara dua budaya”, ketika dia menyadari selama studinya di universitas dalam mediasi budaya. Dia menjelaskan, “Saya merasa saya milik dunia Arab, budaya Arab, tetapi ada perbedaan, masalah yang dihadapi orang tua saya berbeda dengan saya, karena kami memiliki dua pengalaman migrasi yang berbeda,” ia menghubungkan “krisis identitas”-nya dalam upaya untuk mendefinisikan dirinya melawan citra dan prasangka yang diberikan oleh orang-orang Italia sekitarnya.

Sumber foto: Nabila Adinta


Citra serta pandangan yang mengarah kepada anak-anak imigran ini menjadikan mereka tumbuh dan berupaya untuk membuktikan bahwa sebagai seorang imigran yang datang ke tanah mereka (re: Italia) juga dapat mengenyam pendidikan yang sama dan berkarya. Semangat ini saya lihat pada salah seorang muslim generasi kedua, Chaimaa Benaly, teman saya saat hidup di Italia yang saat itu sedang hobi menggeluti dunia fesyen, ia menceritakan mimpinya dalam bahasa Italia, “Nabila saya ingin berkarya pada dunia fesyen nantinya, kata kakak saya, anak-anak imigran atau muslim generasi kedua seperti saya ini belum ada yang menyentuh ranah itu. Saya ingin membuktikan bahwa kami tidak kolot dan kami juga punya selera dalam dunia fesyen muslim,” percakapan ini terjadi pada akhir bulan Juni, 2018 lalu.


Keluarga memainkan peran yang menentukan dan sangat penting dalam proses migrasi. Tekanan yang terus melayangkan pandangan para imigran sebagai orang asing ini menjadikan mereka terus berupaya untuk bertahan. Bertahan adalah satu-satunya pilihan karena kembali ke negara asal bukanlah solusi terbaik yang dapat dilakukan. Strategi-strategi untuk menjamin masa depan yang lebih baik untuk anak-anak mereka terus dilakukan dengan melakukan integrasi-integrasi kepada orang-orang lokal. Mereka menikmati pengakuan yang sudah mapan dan secara kultural sudah terbentuk. Di sisi lain mereka masih tetap dianggap sebagai imigran, bahkan meskipun mereka lahir di Italia, hal demikian tidak benar-benar membuat mereka merasa diterima dan merasa hidup di “rumah”. 


Referensi
Jurnal:
Benelli, E. (2013). Migration discourses in Italy. Conserveries mémorielles, n°13, pp.1. Retrieved May 14, 2020, from https://journals.openedition.org/cm/1419
Stepien, A. (2008). The Dream of Family: Muslim Migrants in Austria. In Grillo R. (Ed.), The Family in Question: Immigrant and Ethnic Minorities in Multicultural Europe (pp. 165-186). Amsterdam: Amsterdam University Press. doi:10.2307/j.ctt45kf6z.11
Pojmann, W. (2010). Muslim Women’s Organizing in France and Italy: Political Culture, Activism, and Performativity in the Public Sphere. Feminist Formations, 22(3), 229-251. Retrieved May 14, 2020, from http://www.jstor.org/stable/40980992
Menin, L. (2014). “Searching for my voice…” Intimacy, desire and fragmentation in the self-narrative of a young Italian Muslim woman. La Ricerca Folklorica, (69), 55-65. Retrieved May 14, 2020, from http://www.jstor.org/stable/43897026
Internet:
Migrationpolicy.org. (2017, 24 Agustus). Migration to Asylum Destination, Italy Navigates Shifting Migration Tides. Diakses pada 14 Mei 2020, dari https://www.migrationpolicy.org/article/emigration-asylum-destination-italy-navigates-shifting-migration-tides
Infomigrants.net. (2019, 30 September). Italy has third-largest migrant population in Europe: report. Diakses pada 14 Mei 2020, dari https://www.infomigrants.net/en/post/19852/italy-has-third-largest-migrant-population-in-europe-report

Tentang Penulis

Ulima Nabila Adinta, Antropologi 2019. Punya nama samaran Nabiloski De Pellegrini. Gemar berkawan, berpetualang dan bercerita. Catatan kecil perjalanannya bisa diintip di marvelouswalker.blogspot.com. Kerap berceloteh ria sembari merayakan kisah hidupnya di akun instagram: @nabiladinta, serta senang sekali berkirim surel kepada siapa saja. Just hit her up on ulimanabilaadinta@gmail.com! Let’s be friend.