Sahabat Lingkungan Cabang Sedotan Bambu

Beban moral untuk mengubah kondisi masa depan sekarang berada di tangan masing-masing dari kita, begitu teriak aktor-aktor aktivisme sosial yang kerap beredar di platform dunia daring. Dalam praktiknya, mungkin bisa dimulai dengan membeli segelas es teh manis di burjo tanpa sedotan plastik, dan membawa ke mana-mana sedotan bambu milik kita sendiri. Aksi nyata untuk mencegah makin banyaknya sampah sedotan plastik di laut. Sudah saatnya kita berkontribusi untuk mewujudkan dunia yang lebih baik. Karena perubahan dimulai dari kita.

Pemikiran di atas adalah diorama apik yang mudah untuk dipertontonkan dan disebarkan ke banyak orang, karena alur berpikirnya cenderung gampang dicerna. Mengubah kebiasaan minum dengan sedotan plastik menjadi minum dengan sedotan bambu merupakan aksi yang konkret dan berkesan bisa dengan mudah dilakukan oleh sekian banyak orang. Solutif sekali, hanya dengan mengubah kebiasaan kita bisa menihilkan sekitar 0,03% dari 8 juta ton sampah plastik yang dibuang ke laut setiap tahunnya[1]. Benar, gerakan kolektif untuk berhenti menggunakan sedotan plastik hanya akan mencegah kurang dari 1% sampah plastik yang masuk ke laut[2]. Namun, bagaimana langkah untuk menanggulangi 99% sampah plastik laut lainnya?

Dari 99% tersebut, ada banyak yang tidak bisa diselesaikan dengan gerakan kolektif oleh konsumen. Contohnya, jarang sekali kita mendengar gerakan antijaring, aktivisme yang berpusat di pelarangan dan pengelolalaan penggunaan jaring dalam industri perikanan. Padahal jaring yang tercecer di lautan alias ghost gear menyumbang sebesar 46% dari sampah plastik di lautan[3]. Lantas mengapa gerakan antijaring ini tidak semembumi gerakan antisedotan? Apa karena dalam kasus sedotan plastik beban moral disandarkan pada konsumen dan dalam kasus jaring ikan beban moral disandarkan pada industri?

Di sinilah analisis mengenai gerakan kolektif konsumen harus melihat dari gambar yang lebih besar. Gerakan kolektif konsumen cenderung gagal untuk menjadi gerakan yang berkesinambungan karena prosesnya yang selalu menelaah permasalahan sosial melalui kacamata moralitas individu[4]. Seakan hanya jejak karbon konsumenlah yang berujung pergi ke atmosfer, dan konsumerisme kitalah yang membawa kutukan apokaliptik perubahan iklim pada umat manusia, dus kita harus menahan diri dari nikmatnya menggunakan sedotan plastik atau mudahnya membungkus belanjaan dengan plastik kresek saat ke pasar. Contoh dari gerakan yang memusatkan beban moral pada konsumen ini adalah McDonald dengan gerakan greenwashing #MulaiTanpaSedotan khas perusahaan yang tidak ingin kehilangan kapital sosial saat dirundung aktivisme karbitan[5].

Menurut David Graeber, antropolog kondang asal Amerika, tidak seharusnya kenikmatan dan kemudahan yang dirasakan oleh konsumen menjadi kambing hitam dalam proses melawan perubahan iklim[6]. Perubahan iklim tidak seharusnya dibebankan kepada konsumen, terlebih lagi yang berasal dari kelompok berpenghasilan rendah. Kelompok masyarakat yang berpenghasilan rendah malah lebih rentan terkena efek samping dari perubahan iklim, walaupun hanya sedikit berkontribusi untuk mengakselerasi perubahan iklim itu sendiri[7]. Untuk perbandingan yang lebih jelas, data menuliskan bahwa Indonesia per kapita menghasilkan 2,21 ton emisi karbon di tahun 2017[8]. Bandingkan data per kapita dengan industri di Indonesia yang di tahun yang sama menghasilkan sebanyak 33,75 juta ton emisi karbon ke atmosfer kita[9]. Tidak adil rasanya apabila dalam aktivisme perubahan iklim kita bebankan sepenuhnya pada moral individu apabila melihat ketimpangan yang begitu nyata tersebut.

Memang, melabeli gerakan antisedotan sebagai gerakan yang sia-sia adalah suatu tindakan yang abai. Tidak ada gerakan kecil yang sia-sia, namun apabila gerakan kecil ini hanya muncul dalam intensitas sporadik dan tidak menjamah seluruh kalangan masyarakat, gerakan ini hanya akan menjadi gerakan kolektif konsumen yang akan hilang ditelan tren ‘gaya hidup hijau’ lainnya. Pertimbangan pemilik kapital yang justru lebih bermasalah juga seharusnya dapat dimasukkan dalam rangka membuat gerakan yang masif dan menggertak. Selebihnya, sekiranya mau minum, tinggal dikokop saja.

REFERENSI

[1] Jambeck, J.R. et al. (2015). Plastic waste inputs from land into the ocean. Science, 347, p. 768-771. doi: 10.1126/science.1260352

[2] Jordan, Rob. (2018, September 18). Do plastic straws really make a difference? Stanford Earth. https://earth.stanford.edu/news/do-plastic-straws-really-make-difference#gs.eyjyt7

[3] Lebreton, L. et al. (2018). Evidence that the Great Pacific Garbage Patch is rapidly accumulating plastic. Sci Rep 8(4666). doi: 10.1038/s41598-018-22939-w

[4] Graeber, David, (2020, Agustus 31). ‘If We Want to Save the World, We’re Going to Have to Stop Working’. The Big Issue (1425).

[5] Garner, Marina. (2020, Maret 26). Is greenwashing always a bad thing? Raconteur. https://www.raconteur.net/sustainability/sustainable-business-2020/greenwashing-really-bad

[6] Ibid

[7] McCarthy, Joe. (2020, Februari 19). Why Climate Change and Poverty are Inextricably Linked. Global Citizen. https://www.globalcitizen.org/en/content/climate-change-is-connected-to-poverty/

[8] Hannah Ritchie and Max Roser (2017). CO₂ and Greenhouse Gas Emissions. Publikasi Daring di OurWorldInData.org. https://ourworldindata.org/co2/country/indonesia?country=~IDN

[9] Ibid

Tentang Penulis

Alysia Noorma Dani, Antropologi 2019. Hobi berkelana, acap kali dalam pikiran, sesekali membawa serta raga. Dapat dihubungi melalui surel alysiamadani@gmail.com atau instagram @antoinettears