Unity in Diversity, They Said

Sumber foto:Hasil jepretan kamera Rangga Nandiar

Indonesia, sebuah negara kepulauan yang membentang seluas 1.905 km² dan merupakan rumah bagi ribuan suku. Tiap suku tersebar di seluruh penjuru daratan Nusantara. Mereka hidup dalam budaya dan bahasanya masing-masing. Begitu kaya dan beragam. Semboyan “bhineka tunggal ika” menjadi pijakan merayakan perbedaan. Integrasi menjadi tujuan utama. Jargon unity in diversity semakin digaungkan. Namun dalam kenyataannya, seperti terjadi ketidakselarasan antara narasi-narasi yang dibangun mengenai integrasi nasional dengan apa yang terjadi di lapangan. Pergesekan antar entitas yang berbeda masih kerap terjadi. Contoh yang paling nyata sekarang ialah pembedaan terhadap ras atau agama tertentu dalam persyaratan memilih kos bagi mahasiswa yang merantau. Selain itu, tidak sedikit kos yang juga mencatumkan syarat agama dalam klasifikasi mereka. Jika dilihat secara garis besar mungkin hal ini bukanlah suatu fenomena yang dapat berdampak pada kestabilan negara. Tetapi jika terus dibiarkan dapat berujung pada diskriminasi yang tak berkesudahan.

Dilansir dari detik.com, tiga dari lima belas bentuk diskriminasi pendidikan berakar pada masalah keyakinan. Salah satunya berupa siswa tidak mendapat nilai agama karena orang tuanya penghayat aliran kepercayaan. Meskipun penghayat aliran kepercayaan tidak termasuk dalam agama yang diresmikan oleh negara, menurut saya sekolah tidak pantas untuk tidak memberikan nilai kepada murid tersebut. Ada banyak suku-suku di negeri ini yang memang pada dasarnya tidak menganut agama yang diresmikan oleh negara. Mereka masih berpegang teguh atas keyakinan dari para leluhurnya. Hal selanjutnya yang terjadi ialah pemaksaan kepada meraka untuk masuk ke salah satu agama yang sudah diresmikan negara. Contohnya ialah kasus Orang Rimba yang masuk islam demi bertahan hidup. Dikutip dari bbc.com, Muhammad Yusuf (dulu dikenal dengan nama Yuguk) selaku kepala desa Orang Rimba memaparkan bahwa alasan ia memeluk agama islam ialah karena tidak lagi memiliki pilihan. Ia menyatakan bahwa keputusannya memeluk agama islam lebih didasari oleh kebutuhan bertahan hidup. Ia ingin agar anak-anak Orang Rimba memiliki kesempatan yang sama seperi orang terang. Orang terang adalah sebutan dari Orang Rimba kepada masyarakat luar yang hidup di tempat terbuka, bukan di dalam hutan seperti mereka. Saya cukup geram melihat fenomena ini. Kebebasan yang dijanjikan oleh pemerintah pada kenyataannya ialah kebebasan yang direkonstruksi atas dasar pemahaman birokrasi.

Akar dari persoalan diskriminasi tentu memiliki banyak cabang. Tidak bisa dilihat dari satu kasus lantas menyimpulkannya secara general. Namun, salah satu solusi yang dapat mengurangi tingkat diskriminasi ialah melalui pendidikan. Menengok kembali atas ribuan suku dengan budaya dan bahasa yang beragam. Indonesia dirasa perlu menggali kembali makna toleransi. Tidak hanya menggembor-gemborkan jargon unity in diversity tapi juga mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya pendidikan. Guna menciptakan kesadaran pluralisme sejak dini, ranah pendidikan Indonesia seharusnya menerapkan sistem pendidikan multikultural. Pendidikan multikultural bisa dianggap sebagai solusi yang tepat karena memiliki konsep keberagaman kebudayaan yang sesuai dengan kondisi negeri Indonesia yang majemuk ini. Banks (1993: 3) memaparkan bahwa pendidikan multikultural sebagai pendidikan untuk people of color. Pendidikan multikultural ingin mengeksplorasi perbedaan sebagai keniscayaan. Ditekankan oleh Arifuddin (2007: 220-233) bahwa pendidikan multikultural merupakan suatu pendekatan progresif untuk melakukan transformasi pendidikan secara menyeluruh membongkar kekurangan, kegagalan, dan praktik-praktik diskriminasi dalam proses pendidikan.

Dalam mengimplementasikan konsep pendidikan multikultural tentu terdapat hambatan-hambatan. Salah satu hambatan yang dirangkum oleh Arifuddin (2007: 220-2033) ialah adanya kebijakan-kebijakan yang suka akan keseragaman. Hal ini tidak lepas dari pengaruh masa pemerintahan orde baru. Sistem sentralisasi dan kebijakan pada masa itu cenderung menjunjung tinggi keseragaman atas nama identitas nasional. Akibatnya menghargai sebuah perbedaan dalam dunia pendidikan mengalami sedikit kendala. Orang-orang dalam dunia pendidikan khususnya guru-guru senior di jenjang SD, SMP, atau SMA masih terbiasa dengan keseragaman yang diciptakan oleh orde baru.

Saya sendiri mengalami pengalaman cukup berkesan saat masih bersekolah yang terkait dengan keragaman di ranah pendidikan. Pada masa itu, saya merupakan murid pindahan dari Jakarta ke salah satu kota di Jawa Tengah. Membawa identitas ke-jakarta-an yang saat itu masih lekat dengan identitas yang dibangun oleh media, mengantarkan saya pada pengalaman diskriminasi. Identitas kolektif Jakarta yang dibangun oleh media seperti serial di TV atau sinetron ialah bahwa perempuan ibu kota berpenampilan cantik, putih, langsing, rambut yang indah, serta kehidupan yang mewah. Kemudian di tengah pergantian semester menuju semester dua, datanglah murid baru dari ibu kota, yaitu saya. Penampilan saya tentu jauh dari ciri-ciri di atas. Logat berbicara saya juga kental akan logat Betawi yang terkesan nyablak. Pada saat itu, saya cukup kesulitan menanggalkan kata pengganti “gue” dan “elo” sebab sudah terbiasa menggunakannya dari kecil. Saya dikucilkan karena munculnya suatu anggapan bahwa saya adalah orang yang angkuh karena menggunakan kata ganti tersebut. Butuh waktu sekitar enam bulan untuk saya berani menggunakan bahasa Jawa.

Selain diskriminasi dari teman, saya juga mendapat diskriminasi dari guru. Pada saat pelajaran agama, guru ini mendatangi meja saya lalu berkata “Orang Jakarta mah ndak bisa ngaji, ya. Setiap hari kerjaannya, kan, ke mall terus” Seorang guru yang memiliki peran penting dalam keberhasilan implementasi pendidikan multikultural, justru ikut andil dalam pelaku diskriminasi. Pada saat itu saya marah tapi saya tidak memiliki kuasa untuk menanggapinya.

Berangkat dari pengalaman tersebut, saya mulai tersadar akan pentingnya pendidikan multikultural guna mengingat kembali bahwa Indonesia ialah negara kepulauan dengan masyarakat yang majemuk. Ada banyak cara untuk mengajarkan keragaman di ranah pendidikan. Salah satu yang diusung oleh Banks (2010: 23) ialah content integration. Metode ini berupaya untuk menghadirkan aspek kultur dari berbagai kultur yang ada ke ruang-ruang kelas. Tujuannya adalah agar siswa mampu mengembangkan kesadaran akan kultur milik kelompok lain. Dalam contoh kasus di atas, mungkin bisa diatasi dengan guru memberikan ruang untuk sedikit berbagi kisah tentang latar belakang agar tidak terjadi kesalahpahaman. Juga untuk mendobrak stigma-stigma budaya Jakarta yang dibangun oleh media.

Saya yakin bukan hanya saya yang pernah mengalami diskriminasi. Dengan menegaskan dan mengimplementasikan pendidikan multikultural, saya harap tidak terjadi lagi pengalaman serupa di masa yang akan datang. Saya tutup tulisan ini dengan kutipan dari Ruth Benedict yang relevan dengan contoh kasus-kasus di atas bahwa “The purpose of anthropology is to make the world safe for human differences”.

REFERENSI

Arifudin, Iis. 2007.  “Urgensi Implementasi Pendidikan Multikultural di Sekolah” INSANIA. Vol.12 no. 2. pp. 220-233.

Arif, Syamsul. 2015. “Pendidikan Multikultural.” Jurnal Bahas Unimed, vol. 26, no. 1,

Banks, J. A. 1993. “Multicultural Education:Historical Development, Dimensions and Practice. American Education Research Assosiation. Vol 19. Pp. 3-46.

Banks, J, A. 2010. Multicultural Education: Issues and Perspektives. Needham Heihts, Massachusetts: Alyn and Bacon Inc.

Henschke, Rebecca. 2017. Orang Rimba masuk Islam demi KTP: ‘Kini mereka mengenal Tuhan’ kata Menteri Khofifah. Bbc News Indonesia. Diakses pada 14 Mei 2020. https://www.bbc.com/indonesia/majalah-41937911

Tfn/mpr. 2013. Ini Bentuk Diskriminasi Sekolah Terhadap Siswa Versi KPAI. detik.com. Diakses pada 14 Mei 2020. https://news.detik.com/berita/d-2402128/ini-15-bentuk-diskriminasi-sekolah-terhadap-siswa-versi-kpai

Tentang Penulis

Tabitha Raviola B I – Antropologi Budaya 2019
Sebut saja Unge, mahasiswi Antropologi. Menetapkan berpetualang sebagai hobi dan bercita-cita memiliki Panti. Mari berteman! Hubungi aku di Instagram @bungainezwara atau surel bungaraviola@gmail.com

Tabitha Raviola B I – Antropologi Budaya 2019

Sebut saja Unge, mahasiswi Antropologi. Menetapkan berpetualang sebagai hobi dan bercita-cita memiliki Panti. Mari berteman! Hubungi aku di Instagram @bungainezwara atau surel bungaraviola@gmail.com