Malang Melintang: Absensi Fungsi Ritual Kematian di Tengah Pandemi

Sumber Foto : tirto.id/Hafizh Maulana

Dalam menyikapi kematian akibat COVID-19, pemerintah mengeluarkan berbagai protokol yang mengatur prosesi pemakaman guna meminimalisir penyebaran virus. April yang lalu, Ketua Gugus Tugas COVID-19 Doni Monardo menyampaikan bahwa protokol pemakaman untuk jenazah yang meninggal dengan status positif COVID-19 juga berlaku terhadap Pasien Dalam Pengawasan, atau PDP.[1] PDP merupakan pengelompokan individu yang memperlihatkan gejala COVID-19, di antaranya demam dan gangguan pernapasan. Ini berarti, mereka mesti diawasi dan diisolasi sembari menunggu hasil tes untuk memastikan diagnosis. Bila pasien meninggal dengan status PDP, meski hasil tesnya belum keluar, mereka harus tetap dimakamkan sesuai dengan protokol untuk menghindari peluang dimakamkannya jenazah yang ternyata positif COVID-19 secara reguler.

Kalau bertandang ke Google lalu mengetikkan “tolak protokol pemakaman COVID-19” di kolom pencarian, akan banyak berita berkaitan yang muncul. Baru-baru ini, di Makassar, seorang jenazah pasien yang sebelumnya dirawat selama tiga hari dengan status PDP COVID-19 dijemput paksa oleh seratus orang ke ICU Rumah Sakit Khusus Dadi Makassar.[2] Di belahan Indonesia yang lain, keluarga dari seorang PDP yang meninggal di Rumah Sakit Badan Pengusahaan Batam juga menolak prosedur pemakaman sesuai protokol.[3]

Makna Kematian di Tengah Pandemi

Pandemi COVID-19 tidak tanggung-tanggung : ia menyerang seluruh sendi kehidupan, membuka kartu berbagai aktor, dan terus menerus menjalar tanpa pandang bulu. Per 22 Juni 2020 saja, kasus positif COVID-19 di dunia telah menyentuh angka 9 juta orang dan kasus kematian akibat virus ini sudah melampaui angka 400 ribu kematian. Ia merombak tatanan kehidupan banyak orang dan memaksa terjadinya perubahan ke kebiasaan masyarakat sehari-hari. Salah satu perubahan yang saat ini tampak adalah pada ritual kematian.

Kematian yang secara umum—mengutip Kiong dan Schiller—bersifat partikelir sekaligus publik, memiliki makna yang intim : ia kadang kala digambarkan sebagai daur ulang hidup, lain waktu ia digambarkan sebagai momentum memerdekakan sanubari yang telah mati, dan berbagai konstruksi sosial-budaya lainnya. Terhadap peristiwa sakral tersebut, terbentuk berbagai respons. Dalam kebanyakan kelompok masyarakat, ketika seseorang meninggal, orang-orang terdekatnya (seperti keluarga, kerabat, teman, maupun tetangga) akan merespons dengan cara yang terstruktur dan terpola terhadap kematian. Respons yang terpola dan dibarengi dengan konteks yang sakral disebut sebagai ritual kematian yang mengatur proses setelah kematian terjadi: tata cara penyikapan jenazah, masa berkabung, dan seterusnya (Cohen, 1981).

Cohen menyatakan bahwasanya ritual kematian memiliki dua fungsi, yaitu fungsi sosial dan fungsi psikologis. Menurut yang ia tuliskan, Robert Hertz memandang kematian sebagai tidak hanya sekadar ‘kepergian’ secara fisik, tetapi juga sebagai peristiwa pencabutan identitas sosial individu. Maka, kehadiran ritual kematian memiliki fungsi sosial sekaligus psikologis yang mengakomodir adaptasi diri dan kolektif terhadap perubahan signifikan yang terjadi ketika seseorang mati.

Dengan keintiman makna kematian dan pentingnya ritual kematian tersebut, di tengah-tengah krisis yang merombak tatanan kehidupan seperti pandemi saat ini, pemaknaannya menjadi berlipat ganda lebih krusial. Keterpaksaan untuk menghilangkan ritual kematian yang familiar dan menggantikannya dengan substitusi yang kurang mumpuni melahirkan lubang tak kasatmata dalam tatanan masyarakat – dan, hal ini dapat menjadi salah satu penyebab munculnya malapetaka yang mengekor implementasi protokol pemakaman COVID-19.

Koping Berupa Substitusi

Dijangkiti COVID-19 juga berarti ‘dijangkiti’ oleh isolasi secara fisik dan emosional karena diharuskan berjarak dengan dunia sekitar yang familiar. Isolasi ini akan terus dirasakan sampai kematian bila masih berstatus PDP atau pun pasien positif COVID-19. Tak hanya bagi pasien, rasa kehilangan yang dialami oleh kerabat yang ditinggalkan juga semakin diperparah akibat isolasi tersebut. Fungsi akomodasi kehilangan yang seharusnya dijalankan oleh ritual kematian juga ikut terisolasi akibat berbagai protokol.

Mau tidak mau, demi mengurangi berbagai ‘efek samping’ dari protokol pemakaman COVID-19, baiknya ritual kematian harus mengalami penyesuaian agar tetap menjalankan fungsinya di tengah-tengah kekacauan seperti ini. Penyesuaian tersebut dapat dilakukan melalui pengadaan berbagai substitusi dari ritual kematian yang pada akhirnya akan menjalankan fungsi yang sama. Saya menemukan beberapa kegiatan yang sekiranya dapat dijadikan contoh:

Di Beni, Noé Kasali mengetuai sebuah pembuatan program berisi kegiatan yang memberikan interpretasi baru dari upacara pemakaman tradisional yang merupakan bagian penting dari budaya Nande – kelompok etnis terbesar di Beni – tetapi tanpa tubuh almarhum yang meninggal akibat Ebola.[4] Di Chicago, Keuskupan Agung melatih beberapa pastor untuk menyelenggarakan ritual terakhir terhadap pasien COVID-19 di rumah sakit dengan berbagai penyesuaian, seperti pembatasan kontak fisik.[5] Di Kanada, Islamic Funeral Society membentuk sebuah tim yang dikepalai oleh Salwa Kadri untuk menangani kematian muslim akibat COVID-19. Dengan berkonsultasi ke berbagai ahli, Kadri dan timnya membentuk protokol untuk tetap menjaga ritual Islam tanpa melangkahi pembatasan.[6]

Dari contoh-contoh tersebut, secara sederhana dapat ditarik dua bentuk substitusi: yang pertama adalah pengadaan kegiatan yang menjadi wadah interpretasi baru atas ritual tradisional, yang kedua adalah pengadaan aktor yang dipercaya (dalam kasus kali ini adalah tokoh keagamaan) untuk melaksanakan pendampingan dan ritual terhadap para pasien COVID-19. Tim Antropolog dari London School of Economics melakukan penelitian soal bagaimana ‘a good death’ di tengah pandemi menurut para informan dari berbagai komunitas. Mereka menemukan bahwa ‘a good death’ berarti membiarkan pasien meninggal sembari ditemani oleh orang yang dipercayai akan memberikan dukungan spiritual dan memastikan bahwa tubuh pasien menjalankan ritual yang sesuai keagamaan (walau sudah dimodifikasi untuk pandemi). Maka, kedua bentuk substitusi yang disimpulkan di atas (interpretasi baru dan substitusi aktor) dapat memenuhi kualifikasi ‘a good death’ tersebut karena memberikan dukungan spiritual serta kepastian dalam terlaksananya (modifikasi) ritual kematian.

Kesimpulan

Pengadaan dua bentuk substitusi tersebut tidak berarti menafikan perlunya peran pemerintah untuk menumbuhkan kepercayaan masyarakat. Bahkan, pengadaan tersebut idealnya dilakukan oleh dan melalui pemerintah. Lewat laporan Tim Antropolog LSE, diketahui bahwa para informan tidak keberatan dengan protokol pembatasan pemakaman, tetapi pembatasan tersebut harus melalui konsultasi dengan warga masyarakat serta konsisten dan sesuai skala pandemi di daerah yang bersangkutan.

Sejauh ini, kebijakan yang pemerintah Indonesia tetapkan masih bikin geleng-geleng kepala. Misalnya, istilah PDP yang tak memberikan kejelasan terhadap pasien dan keluarga bersangkutan menandakan ketidaksigapan pemerintah dalam menindaklanjuti gejala dan keluhan pasien. Ketidakjelasan tersebut membuat para keluarga pasien ragu dengan apa yang ditetapkan Rumah Sakit, walau dilaksanakan sesuai dengan kebijakan pemerintah. Pun seringkali, hasil tes PDP yang sudah meninggal dan dimakamkan sesuai prosedur menunjukkan negatif COVID-19. Dari keraguan tersebut, muncul sentimen yang pada akhirnya mendorong berbagai perilaku petaka, salah satunya penolakan protokol pemakaman yang membahayakan banyak nyawa, termasuk pelaku itu sendiri.

Maka, ketepatan dan kejelasan kebijakan serta pengadaan substitusi yang memenuhi fungsi ritual kematian barangkali dapat mengurangi efek samping implementasi dari protokol pemakaman COVID-19. Walaupun tidak kasatmata, tetap perlu dilakukan tindakan penambalan terhadap jurang dalam tatanan masyarakat yang terjadi akibat hilangnya ritual kematian, sebab, kematian merupakan hal yang berat. Kematian di tengah krisis melipatgandakan kesengsaraan. Kematian di tengah krisis tanpa akomodasi psikologis dan sosial yang tepat merupakan nestapa yang menunjukkan tidak terpenuhinya kebutuhan dasar spiritual manusia — yaitu ruang untuk memulihkan luka. Pada akhirnya, bila lubang tersebut tidak ditambal, akan dapat mendorong ‘ketidakrasionalan’ dalam perilaku masyarakat.

Catatan Editor

Tulisan ini dikirim dan diterima oleh Tim Cergas di akhir bulan Juni tahun 2020, jauh sebelum penggantian penggunaan istilah terkait COVID-19 oleh Menteri Kesehatan. Informasi lebih lanjut terhadap penggantian istilah dapat dilihat melalui https://www.kompas.com/tren/read/2020/07/14/182800765/pemerintah-ganti-istilah-odp-pdp-dan-otg-covid-19-apakah-perlu-?page=all.

Catatan Kaki

[1] https://nasional.tempo.co/read/1333549/protokol-pemakaman-jenazah-pdp-sama-dengan-pasien-COVID-19

[2] https://health.grid.id/read/352181433/di-makassar-100-orang-membawa-senja-tajam-serbu-rumah-sakit-rujukan-COVID-19-ingin-membawa-pulang-jenazah-pasien-pdp?page=all

[3] https://www.suara.com/news/2020/06/10/102011/rebut-jenazah-corona-keluarga-tolak-dimakamkan-dengan-protokol-COVID-19

[4] https://www.npr.org/sections/goatsandsoda/2020/04/02/793951420/new-mourning-rituals-offer-comfort-and-closure-during-an-outbreak

[5] https://news.wttw.com/2020/04/14/pandemic-changes-rituals-life-and-death

[6] https://www.cbc.ca/news/canada/muslims-burial-rituals-covid-19-1.5529679

Daftar Pustaka

LSE Anthropology. 2020. ‘A Good Death’ During the Covid-19 Pandemic in the UK – A Report of Key Findings and Recommendations. London: London School of Economics.

Milton Cohen. 1981. Death Ritual: Anthropological Perspective. Dalam Perspective on Death & Dying. Philip A. Pecurino, eds. Queensborough Community College.

Tong Chee Kiong and Anne L. Schiller. 1993. The Anthropology of Death: A Preliminary Overview. Dalam Southeast Asian Journal of Social Science 21(2) hlm. 1-9.

Tentang Penulis

Annisa Tiara Putri. Merupakan seorang Mahasiswi Antropologi Budaya UGM angkatan 2018. Sedang belajar tipis-tipis lewat mendengarkan, berbincang, menulis, dan membaca (kadang jadi sinonim untuk menonton tubir di Twitter). Isi kepalanya bisa diintip sedikit melalui oddsandwords.wordpress.com.
Kontak: annisatiarapt@gmail.com.

Annisa Tiara Putri. Merupakan seorang Mahasiswi Antropologi Budaya UGM angkatan 2018. Sedang belajar tipis-tipis lewat mendengarkan, berbincang, menulis, dan membaca (kadang jadi sinonim untuk menonton tubir di Twitter). Isi kepalanya bisa diintip sedikit melalui oddsandwords.wordpress.com.

Kontak: annisatiarapt@gmail.com.