Tagar Black Lives Matter Bukan Sekadar Tagar

Foto oleh JakaylaToney di Unsplash

Stories matter. Many stories matter. Stories have been used to dispossess and to malign, but stories can also be used to empower and to humanize. Stories can break the dignity of a people, but stories can also repair that broken dignity.” — Chimamanda Ngozi Adichie dalam ceramahnya berjudul The Danger of a Single Story

Chimamanda Ngozi Adichie pada tahun 2007 memberikan sebuah ceramah dengan judul The Danger of a Single Story(1). Di dalam ceramahnya, ia menegaskan bagaimana bahayanya untuk kita hanya mendengar suatu cerita dari satu sisi atau satu perspektif saja. Ide tersebut ia peroleh tidak lain dari pengalamannya pribadi, tentang bagaimana ia mengira keluarga pembantunya tidak bisa menghasilkan apa-apa, atau bagaimana respons teman-teman kampusnya di Amerika Serikat saat mengetahui ia berasal dari Nigeria namun dapat berbicara bahasa Inggris dengan lancar. Situasi yang ia terima adalah implikasi dari imaji akan adanya realitas tunggal yang dipercayai seseorang—dan tentunya seseorang akan kaget bukan main saat apa yang ia percayai tidak sejalan dengan realitas.

Chimamanda Ngozi Adichie adalah seorang perempuan berkulit hitam. Ceritanya adalah satu dari sekian cerita yang dialami orang-orang berkulit hitam lainnya. Adichie merupakan fragmen kecil dari sebuah masyarakat kulit hitam di dunia. Tanpa mendiskreditkan usaha dan kerja kerasnya, saya rasa bisa kita sepakati bahwa tidak semua orang kulit hitam mempunyai privilese yang Adichie temui. Lahir di keluarga yang cukup mapan, kedua orang tuanya memiliki latar belakang akademis, sampai memperoleh kesempatan kuliah di Amerika Serikat. Sebagian orang berkulit hitam yang lain harus hidup di bawah ketakutan, ancaman, hingga represi hanya karena warna kulit mereka.

Represi yang orang kulit hitam terima pada hari ini adalah warisan praktik perbudakan yang telah menancapkan akarnya di Benua Amerika sejak abad ke-17. Walaupun secara “hitam di atas putih” perbudakan telah dihapuskan lewat ratifikasi amandemen konstitusi ke-13 pada Desember 1865, namun menghapus sebuah praktik yang telah berlangsung selama ratusan tahun tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Tahun 1865 menjadi titik balik di mana orang kulit hitam secara perlahan menegaskan posisinya. Secara perlahan kisah-kisah perbudakan mulai diceritakan kembali.

Hampir satu setengah abad setelahnya, diskursus mengenai perbudakan kembali naik ke permukaan, bahkan hadir dalam ruang publik(2). Berbagai tulisan, penceritaan kembali lewat budaya populer (film, musik, dan lain-lain), hingga pembuatan monumen memorial kiranya belum cukup menggambarkan bagaimana terpuruknya orang berkulit hitam lewat sistem perbudakan. Kini, warisan sejarah tersebut menjelma dalam bentuk yang lain. Pemberian stigma, ketimpangan upah, minimnya aksesibilitas kebutuhan hidup dasar, bahkan tindak kekerasan tak jarang dilayangkan kepada orang-orang kulit hitam. Realitas demikianlah yang memantik gerakan #BlackLivesMatter semakin vokal dan mendapat banyak dukungan berbagai kalangan, terlepas apapun ras dan etnis mereka.

Tagar#BlackLivesMatter tidak dicetuskan secara intensional. Ia muncul sebagai respons atas pembebasan George Zimmerman di bulan Juni 2013 atas kasus pembunuhan Trayvon Martin. Martin merupakan seorang pemuda berkulit hitam berusia 17 tahun yang ditembak dalam sebuah perkelahian di pinggiran kota Florida. Ibarat pesan berantai, fakta tersebut mulanya membuat para aktivis meluapkan emosinya di internet, salah satunya Alicia Garza. Dari tulisan Garza, Patrisse Cullors menyusunnya menjadi sebuah tagar (tanda pagar) atau hashtag di Twitter. Pada akhirnya Garza bersama Cullors dan Opal Tometi memulai kampanye Black Lives Matter, yang mulanya masif di Amerika Serikat, Kanada, hingga menyerempet seluruh dunia.

Berawal dari sebuah tagar populer di media sosial Twitter, #BlackLivesMatter berkembang menjadi sebuah slogan protes dan akhirnya menjelma sebuah pergerakan politis. Kekuatan pergerakan ini pun terlihat dari bagaimana kuasanya mampu membuat aparat kepolisian yang diskriminatif dan rasis dipecat, memenangkan tuntutan hukum yang penting, hingga mengubah kampus menjadi sebuah kawah pergerakan sosial(3).

Kampanye #BlackLivesMatter yang masih dilakukan, bahkan hingga hari ini, menjadi fakta menyedihkan bahwa masih banyak represi terhadap orang berkulit hitam yang dilakukan masyarakat sipil, aparat polisi, juga entitas negara sendiri yang seharusnya melindungi warganya. Masing-masing cerita kehidupan orang kulit hitam yang telah tiada seolah-olah tak berarti, sehingga semakin melanggengkan diskriminasi yang sistematis. Terlepas dari kenyataan jika orang berkulit hitam saat ini termasuk minoritas di Amerika Serikat, bukan menjadi alasan bahwa hak mereka untuk memperoleh penghidupan lebih baik menjadi direnggut.

White supremacy menjadi salah satu faktor mengapa represi masih tumbuh subur. Ia mengacu pada anggapan jika orang kulit putih lebih superior dan seharusnya memiliki kontrol atas orang dari ras lain(4). Pemikiran demikian, jika dilihat dari ceramah Adichie, merupakan hasil dari single story yang terus direproduksi hingga secara tak sadar menjadi kognisi orang-orang kulit putih. Lanjutnya, kesemua hal tersebut termanifestasi dalam segala tindak semena-mena yang diterima oleh orang berkulit hitam. Kondisi tersebut menegasikan bagaimana sejarah orang kulit hitam yang menderita atas sistem perbudakan—terjadi di luar kuasa mereka—selama ratusan tahun. Orang kulit putih bertindak sekenanya, tanpa bertanggung jawab dan merefleksikan diri atas perlakuan pendahulu mereka.

Walau demikian, perlu disadari bahwa diskriminasi ini tak hanya dibentuk oleh orang kulit putih saja. Saya saja, misalnya, dapat ikut “berpartisipasi” dalam diskriminasi dan represi sistematis ini. Lewat sepakat dengan pemberian stigma orang berkulit hitam, ataupun kelompok minoritas lain, kita sama saja mengamini represi yang tengah terjadi. Kesadaran penuh dan edukasi menjadi dua kunci utama untuk menjauhkan diri dalam partisipasi dalam diskriminasi dan represi ini.

Pada akhir tulisan ini, saya mengajak untuk mengunjungi kembali isi ceramah Adichie. Bagaimana ia mengira bahwa keluarga pembantunya tidak bisa menghasilkan apa-apa karena orang tuanya berkata demikian. Atau bagaimana prasangka yang melekat pada dirinya sebagai orang Afrika tetap hadir di lingkungan menara gading yang lebih “intelek” yakni di perguruan tinggi. Single story tanpa disadari mempunyai kekuatan yang sangat besar dalam membentuk persepsi seseorang, baik disadari maupun tidak. Dalam kasus #BlackLivesMatter, single story yang dimiliki oleh orang berkulit putih melahirkan white supremacy. Contoh demikian menunjukkan bagaimana bahayanya jika kita hanya melihat satu hal dari satu perspektif saja, atau single story jika meminjam kamus Adichie.

Tingginya gelombang protes, demonstrasi, dan tuntutan yang menyebar di seluruh dunia menjadi bukti bahwa #BlackLivesMatter bukanlah sekadar tagar. #BlackLivesMatter hadir sebagai wake up call, bahwa kondisi dunia harus berubah. Pergerakan ini akan terus berjalan, dan klausul #AllLivesMatter tidak akan tercapai merata pun tak akan relevan selama fondasinya berdiri di atas gagasan yang merepresi #BlackLivesMatter. #AllLivesMatter juga tak akan terealisasikan selama semua kelompok-kelompok minoritas yang mengalami represi belum memperoleh haknya, untuk sekadar memperoleh kehidupan.

n.b. Informasi kompilasi terkait Black Lives Matter dapat diakses di sini.

Catatan Kaki

1.        TED. The danger of a single story – Chimamanda Ngozi Adichie [Internet]. Youtube. 2009 [cited 2020 Jun 7]. Available from: https://www.youtube.com/watch?v=D9Ihs241zeg

2.        Berlin I. American Slavery in History and Memory and the Search for Social Justice. J Am Hist. 2004;90(4):1251–68.

3.        Altman A. Black Lives Matter [Internet]. TIME. 2015 [cited 2020 Jun 5]. Available from: https://time.com/time-person-of-the-year-2015-runner-up-black-lives-matter/

4.        Merriam-Webster. white supremacist [Internet]. 2020. Available from: https://www.merriam-webster.com/dictionary/white supremacy

Tentang Penulis

M. Hilmi Reyhan | Antropologi Budaya angkatan 2018

Mahasiswa yang gak maha-maha amat. Hobi menonton film dan nge-scroll lini masa twitter. Sesekali menuangkan opini di medium.